Friday, September 14, 2018

Belajar mengasihi dalam Kristus

“Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.”
1 Yohanes 2 : 10.



      Ketika saya menjalani tugas kerja sebagai wartawan lepas di beberapa buletin dan media cetak lokal, saya menimba begitu banyak pengalaman di jalan-jalan dan lingkungan umum. Ada banyak kali saya bertemu orang dari latar belakang sosial dan ekonomi yang jauh berbeda. Saya benar-benar merasa terjun langsung dalam kenyataan dunia yang keras dan realita kesenjangan sosial yang begitu renggang. Di kota besar berkembang seperti manado hal itu sudah mulai nyata terasa dan nampak.
     Pada suatu kali saat saya berada di lingkungan Sekolah tinggi Unsrat Manado saya melihat seorang bapak setengah baya dengan badan renta mengais-ngais tumpukan sampah yang menggunung di bak pinggir jalan. Dia lalu merogoh sebongkah kue panada yang masih terbungkus plastik dan memakannya. Pakaiannya nampak amat kotor dan dia berjalan dengan sebuah karung untuk menaruh apa-apa yang dapat diambilnya. Saya merasa iba, merogoh sejumlah uang dan memberikan kepadanya lalu bergegas pergi tanpa mau dilihat orang.
     Pada suatu malam ketika saya hendak pulang dan menanti mobil penumpang jurusan Karombasan, saya bertemu seorang ibu di ruas jalan Samrat-Wanea tepat di pertigaan dekat Ruko Golden. Di situ ibu tersebut duduk dengan menggendong balita dan di sampingnya ada seorang anak perempuan berusia 8-9 tahunan. Ini adalah malam kedua saya melihat ibu tersebut di situ namun baru kali ini saya berkesempatan untuk berbincang dengan dia. Dia bercerita tentang orang tua dari anak-anak yang adalah cucunya itu. Ayah mereka meninggalkan mereka tanpa kabar hingga bertahun-tahun. Ibu mereka pun demikian juga, pergi ke luar pulau bekerja dan tiada lagi kabar dan kiriman uang sepeser pun. Ibu itu sendiri tinggal dikontrakan dengan kedua cucunya dan telah menunggak bayaran selama beberapa bulan hingga dikeluarkan oleh pemilik rumah. Prihatinnya lagi adalah dia bekerja sebagai pencuci baju gajinya tidak dibayar beberapa kali. Putus asa dan tak tahu harus kemana dan bagaimana membuat dia akhirnya duduk di pinggir jalan. Terlepas dari gumaman banyak orang seputar kegiatan menipu dari orang-orang tertentu, saya merasa iba dan tergerak memberikan sejumlah uang yang setidaknya bisa meringankan keadaan ibu tersebut. Terlalu bodoh jika ada orang yang tidak benar-benar susah lalu mau melakukan tindakan sememalukan itu. Keesokan malamnya saya sudah tidak melihat ibu tersebut di tempat biasanya. Semoga dia telah menikmati keadaan yang lebih baik dan mengalami solusi.
     Saya pernah juga bertemu seorang lelaki tua yang berpakaian compang-camping dan mengemis. Beberapa orang menyebut dia setengah tidak waras, namun karena dia menatap terus pada bungkusan plastik milik saya yang baru saya beli berisi kue, maka saya memberikan itu kepadanya beserta sejumlah uang. Bekerja di tengah kehidupan jalanan yang keras dan penuh tantangan membuat saya merasa peka dengan kesusahan orang lain. Saya masih ingat dengan  undang-undang negara kita pada pasal 34 ayat 1 yang berbunyi fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Amin, mari doakan agar itu benar bisa terlaksana.
     Setiap orang punya rasa iba. Mari kita sertakan Yesus dan serahkan pada Yesus rasa iba tersebut sebab jika tanpa adanya Dia maka rasa manusiawi kita akan sia-sia. Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Ini artinya kita memberi dalam Yesus. Jika kita hendak memberi baik berupa materi ataupun moril hendaklah kita menikmati Kristus di dalamnya. Sebab segala sesuatu akan fana jika tanpa adanya Yesus. Ingat peristiwa saat Petrus ada di serambi Salomo? Di situ dia menyembuhkan seorang pengemis yang lumpuh. Petrus berkata bahwa emas dan perak dia tidak punya tapi dia memberikan Yesus orang Nazareth itu kepada pengemis tersebut. Pengemis itu sembuh dan pergi dari sana, sejak itu dia tidak mengemis lagi.
     Kita ada di dalam terang Kristus. TerangNya menerangi diri kita, ini yang pertama dan inti dari segala aspek hidup kita. Semua berawal dari diri kita sendiri, di mana Dia hadir di dalam kita dan semakin hari semakin menerangi kita secara pribadi. Kita semakin mengenali diri kita dan menguasai diri kita. Semua hal yang sifatnya di luar itu akan nampak jelas dengan sendirinya, sebab diri kita sendiri telah jelas nampak bagi kita karena Kristus.
       Terang tanpa mengasihi itu bukan terang, dan kasih tanpa menerangi itu bukanlah kasih sejati. Keduanya satu di dalam Yesus. Yesus mengasihi dalam terang dan menerangi dalam Kasih. KasihNya adalah terang dan terangNya adalah Kasih. Itu satu dalam Yesus dan tidak terpisah. Kita yang menerima Yesus menikmati itu pula dan makin mendalaminya dan melakukannya. Kasih tidak diukur sebatas pemberian harta, uang, atau materi, itu hanya satu bagian dari kasih dan pemberian. Kasih dan pemberian itu utuh dalam keseluruhan hidup kita dalam Yesus. Pemberian diri kepada Allah, kepada keluarga dan sesama. Berbagai dukungan moril, kepedulian, saling menguatkan, saling melengkapi, itu semua adalah kasih. Hingga akhirnya kita mendapati bahwa semua yang dilakukan dalam Yesus adalah kasih dan berarti mengasihi. Bukankah alkitab menulis dalam surat Yohanes bahwa Allah adalah Kasih? Ya itu bicara keutuhan pribadiNya. Jadi kita yang tinggal di dalam Allah berarti ada di dalam kasih. Seluruh aspek hidup kita berarti mengasihi. Kasih itu bukan bicara sebatas sikap memberi, sikap menyayang, sikap halus menghibur tetapi bicara segala sesuatu dalam Yesus. Berhikmat dalam kasih, bertindak dalam Kasih, beriman dalam kasih, tegas dalam kasih, mendidik dalam kasih, berencana dalam kasih, dan sebagainya. Seluruh aspek hidup kita menjadi kasih di dalam Yesus. Jika kita selalu menempatkan ukuran kasih sebatas materi ataupun hal-hal lahiriah semata maka kita akan temui bahwa dunia pun memiliki kasih meskipun  di mata Allah itu bukan benar-benar kasih, tetapi kasih imitasi, kasih yang palsu. Kasih sejati sudah datang dan tinggal di dalam kita, Dialah Yesus Kristus bagi kita. Kita mengasihi bukan lagi sebatas dengan diri sendiri melainkan dengan kasihNya dan kehadiranNya.
     Ayat di atas berkata dia yang mengasihi saudaranya berarti berada di dalam terang dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Pertama kita tahu bersama dan harus kita akui bahwa yang utuh mengasihi saudaraNya dan sesamaNya adalah Yesus. Itulah mengapa Dia disebut terang dunia, dan di dalam Dia tidak ada penyesatan sebab kasihNya mendidik dan menguatkan dalam kebenaran dan bukan sebatas kasih dunia yang buta dan fana. Kita yang sudah menerima Yesus dan tinggal di dalam Yesus menikmati hidup dalam kasih akan sesama, berada dalam terang.
    Kasih jika tanpa sebagai menerangi itu bukan kasih melainkan penyesatan, dan itulah milik dunia yang tersesat. Terang tanpa mengasihi, itu bukan menerangi melainkan itu menghakimi dan menuduh, itu bukanlah terang yang sesungguhnya. Inilah akibatnya jika kedua hal itu terpisah dan tidak satu. Yang ada adalah dosa dan beban. Hasilnya adalah perpecahan dan saling menyakiti. Tetapi kita sudah menerima Yesus, telah menerima keutuhan Firman dan Kesatuan Firman hidup di dalam kita.

     Kita hanya perlu makin memberi diri kita dalam segala kelemahan dan keterbatasan kita agar kita semakin menikmati terang Kristus di dalam kasih dan menikmati Kaish Kristus di dalam terang. Kita semakin menikmati Kristus saat kita mengasihi dan semakin menikmati Kristus saat kita menerangi sesama. Hingga yang muncul bukanlah penyesatan dan menghakimi melainkan Kebenaran. Saya ingat ada seorang teman dosen pernah berkata kepada saya menanggapi apa yang kami perbincangkan dengan sebuah kesimpulan indah. Dia berkata; “Kita semakin memberi diri di dalam Dia hingga akhirnya kitta melewati keterbatasan.”  Inilah penyempurnaan Allah yang dikerjakanNya di dalam kita, di mana di dalamNya semua adalah Satu dan utuh.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...