Baca: Lukas 2:8-20Natal perdana Allah yang low-budget dan tidak
glamor ini pun terus berlanjut. Kembali Allah melakukan sesuatu yang
mengejutkan dan ironis. Berita tentang telah dipenuhinya janji akbar PL akan
kedatangan sang Mesias, yang sebenarnya adalah sukacita nasional Israel (ayat 10-11), disampaikan kepada para gembala.
Bahkan, kemuliaan Allah pun meliputi mereka pada saat itu (ayat 9)! Bagi masyarakat
Yahudi waktu itu, menjadi gembala upahan (orang yang menggembalakan ternak
hewan milik orang lain) sebenarnya adalah salah satu pekerjaan terendah. Tanda
yang menjadi pembukti kebenaran berita itu pun unik karena bersifat sangat
biasa; bukan suatu mukjizat, bukan pula tanda kemegahan dan kebesaran, tetapi sebuah
palungan (ayat 12, 16). Barang inilah yang dipakai Allah untuk menjadi bukti
bagi para gembala akan kebenaran dari berita yang disampaikan sang malaikat sebelumnya.
Para gembala upahan ini tidak hanya mendapatkan hak istimewa untuk menjadi
saksi kelahiran Tuhan Yesus, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan
teladan yang indah: pertama, antusiasme mereka dalam memberikan respons
terhadap berita para malaikat (ayat 16). Kedua, mereka menjadi saksi-saksi yang
efektif akan kelahiran Kristus (ayat 17). Ketiga, mereka memuji serta
memuliakan Allah atas semuanya (ayat 20). Apa yang dilakukan oleh para gembala
upahan (baca= rendahan) ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh para
malaikat. Mereka pun memuliakan Allah dan bersaksi tentang damai sejahtera yang
terjadi di antara umat Tuhan (ayat 14), setelah sebelumnya, salah satu dari
malaikat tersebut menjadi pemberita kepada para gembala (ayat 9). Perbedaan
status bukanlah hambatan bagi kita untuk merayakan kelahiran Kristus. Renungkan: Semangat Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk
mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah",
dan membuat mereka merasakan bahwa Allah pun peduli dan justru mencari
orang-orang seperti mereka. Mari saling mengasihi tanpa memandang perbedaan
kelas atau strata ekonomi dan sosial.
Thursday, December 14, 2017
Tiga fakta Natal
Baca: Lukas 2:1-7
Pertama, Tempat Kejadian Perkara (TKP) Natal
adalah daerah pinggiran. Jauh dari tempat Kaisar Agustus memerintah; jauh dari
tempat kediaman sang wali negeri di Siria, bahkan bukan juga Ibukota Yudea,
Yerusalem. Jauh dari pentas utama sejarah dunia, regional, maupun nasional.
Hanya kota kecil yang bernama Betlehem kebetulan kampung halaman raja Daud
(ayat 4). Kedua, para tokoh utamanya punya latar belakang yang (demi sopan
santun) "mencurigakan". Yusuf dan Maria baru bertunangan, tetapi
Maria sudah mengandung (ayat 5). Lagipula, orang yang cukup terhormat rasanya
masih akan mendapatkan tempat menginap yang cukup layak, apapun situasinya
(ayat 7b). Ketiga, cara terjadinya Natal. Peristiwa Natal itu mengambil
setting, dari berbagai tempat lain yang mungkin, dalam sebuah kandang. Belum
lagi melihat tindakan Maria kepada Sang Bayi Natal yang, jujur saja, tidak
mungkin dijadikan tindakan pascapersalinan teladan (ayat 7). Inilah kesimpulan
yang seharusnya timbul setelah kita membaca nas ini—jika kita melepaskan
sejenak gambaran Natal yang kita punyai selama ini, melalui hasil bentukan
berbagai lukisan, renungan, drama, lm, dll., tentang Natal yang romantis, menggugah,
sekaligus agung megah. Mungkin kesan ini pula yang timbul pada saat Teolus—yang kemungkinan punya
kedudukan cukup terhormat—membaca bagian ini. Namun, melalui pembacaan seperti,
justru kita (dan para Teolus di antara kita) lebih mudah untuk menangkap
berita Natal dalam cara yang dimaksudkan oleh Lukas. Melalui keremeh-temehan
seperti ini, rencana keselamatan Allah yang dahyat, yang telah dijanjikan
dengan dahsyat dalam PL, telah diwujudkan. Melaluinya, nyata bahwa karya
penyelamatan Allah tidak boleh diremehkan, dan berhak menerima pujian dan syukur
kita yang terdalam. Renungkan: Sama seperti Yesus Kristus yang datang dalam
kerendahan juga dalam kehinaan demikian juga kita dipanggil untuk bersukacita
dalam perendahan diri di hadapan Tuhan. Jagalah agar jangan sukacita Natal
justru hilang oleh kesibukan lahiriah ataupun sekedar kewajiban ibadah di saat
Natal tiba.
Kemuliaan Allah Bagi Damai Sejahtera Manusia
Baca:
Lukas 2:1-14
Peristiwa Natal akan
tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan
tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir
di kota Daud.” Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi
isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia
ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam
hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang
ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak
dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang
dari tempat yang mahatinggi. Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak
oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai
sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini
membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera.
Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan
penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang
memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang
menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina. Renungkan:Kemuliaan Allahlah yang
mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya
Kemuliaan Mengapa Bersukacita dan Memuji?
Baca: Lukas 1:57-80
Bagi sanak keluarga Zakharia dan Elisabet, jelas
karena kelahiran anak bagi pasangan tersebut yang menunjukkan rahmat Tuhan yang
besar kepada mereka (ayat 57-58). Namun, alasan mereka tidak hanya itu. Zakharia
dan Elisabet punya alasan yang lebih besar lagi. Alasan dari sukacita dan
pujian itu lah yang telah menyebabkan mereka melakukan dan mengalami hal-hal yang
membuat para sanak keluarganya heran (ayat 62), dan banyak orang
geger (ayat 65). Alasan itu tampak jelas melalui himne yang dinyatakan
oleh Zakharia. Pujian Zakharia yang didasari oleh kuasa Roh Kudus, di samping
berfungsi sebagai pujian kepada Tuhan (terutama 68-75, juga 78-79), juga
merupakan nubuat tentang Yohanes Pembaptis (ayat 76-77). Himne ini menunjukkan
karya penyelamatan Allah bagi Israel. Allah tidak pernah melupakan umat-Nya,
dan telah menjanjikan kepada Abraham dan mereka yang bertahan kedamaian yang
diisi dengan ibadah; kelepasan dari musuh tanpa rasa takut. Saat untuk ini
telah mendekat, ditandai dengan kelahiran anak Zakharia, Yohanes yang kemudian
disebut Pembaptis. Karena itu, sumber sukacita Zakharia tidaklah hanya
kelahiran anaknya, tetapi juga kedatangan Dia, yang jalan-Nya akan dipersiapkan
oleh Yohanes. Kedatangan-Nya, dan karya penyelamatan yang dilakukan-Nya, sudah
cukup untuk memicu pujian dan ucapan syukur dari Zakharia ini (ayat 64, 68).
Bagian ini ditutup dengan catatan bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi besar,
dan tinggal di padang gurun sampai saatnya ia mulai melayani Israel. Dengan
demikian, narasi Injil ini seakan-akan menahan nafas, menanti kemunculan sang
Mesias, Juruselamat, yang tinggal beberapa saat lagi. Kedatangan Mesias adalah
dasar lebih kuat lagi bagi sukacita sejati kita. Renungkan:
Apa yang sedang Anda siapkan menjadi dasar kegembiraan pada hari
Natal besok? Ada dua pilihan: semata karena Anda akan berlibur? Atau karena Anda
akan merenungkan kembali kebenaran kabar baik.
Jangan menyimpang dari Allah
Baca: Hosea 13:1-14:1
Allah sendiri mengingatkan Israel, bahwa Dialah
yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Tidak ada juruselamat lain (ayat
4). Artinya, hanya Allahlah yang memelihara dan yang memberi mereka makan dan minum.
Israel dengan mudah melupakan segala kebaikan yang telah Tuhan limpahkan atas
mereka.
Karena itu, ketika Israel membelakangi Allah, itu
tidak hanya berarti bahwa Israel menolak keselamatan dari Allah, tetapi juga
Israel telah memutuskan hubungan kasih dengan Sang Sumber kehidupan. Akibatnya,
murka Allah menimpa mereka. Bahkan, akibat dari sikap Israel itu, Allah tidak
akan membebaskan Israel dari maut. Israel tidak mengurangi kuantitas dan
kualitas kejahatan mereka, justru sikap Israel makin bertambah-tambah penyimpangannya
terhadap perjanjian kasih dengan Allah. Mereka harus mengalami maut yang datang
dari Allah. Allah sendiri tidak akan menyelamatkan Israel (ayat 14). Apakah
Allah telah kehabisan kesabaran? Tidak! Allah memutuskan tindakan ini justru
karena terlalu sabar. Juga, tindakan Allah ini diambil karena ketololan dan
kebodohan Israel sendiri. Artinya, Israel sendiri yang telah memutuskan
hubungan kasih Allah dengan Israel. Kehidupan yang didasarkan pada kasih Allah,
Sang Sumber Kehidupan, hanya akan terjalin kembali apabila Allah sendiri
berinisiatif penuh untuk memulihkan hubungan-Nya dengan umat. Pemulihan
hubungan itu telah sering Allah lakukan, tetapi Israel terus menerus menolak
Allah. Bila kita belajar dari sikap Israel terhadap Allah, maka kita pun harus
dengan penuh kesadaran mengakui bahwa kita tidak lebih baik daripada umat
Israel. Sebab seandainya ada seorang saja di bumi ini yang betul-betul setia
kepada Allah, maka Allah tidak perlu berinisiatif melalui Yesus Kristus, datang
ke dunia. Tetapi, karena satu orang saja tidak ditemukan, maka damai Natal itu harus
datang ke dunia, berada di antara kita, dan memulihkan kembali relasi manusia
dengan Allah.
Saturday, December 9, 2017
Pidato Benyamin Netanyahu atas pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota bangsa Yahudi
GREATEST SPEECHES NETANYAHU - PERDANA MENTERI ISRAEL !
Shalom Aleychem
Baru 70 tahun yang lalu! Orang-orang Yahudi dibawa ke pembantaian seperti domba.
60 tahun yang lalu! Kami tidak punya negara. Tidak ada tentara
Tujuh negara Arab mengumumkan perang terhadap negara Yahudi kecil kami, hanya beberapa jam setelah penciptaannya!
Kami hanya 650 orang Yahudi, melawan seluruh dunia Arab! TIDAK ADA IDF (Tentara Pertahanan Israel).
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, Libya, Arab Saudi semua menyerang kita pada saat bersamaan.
Negara yang diberikan PBB kepada kita adalah gurun 65%. Negara ini entah dari mana!
35 tahun yang lalu! Kami melawan tiga tentara terkuat di timur tengah, dan kami menyapu mereka ... ya ... dalam enam hari.
Kami bertempur melawan berbagai koalisi negara-negara Arab, yang memiliki tentara modern dan banyak senjata Soviet, dan kami selalu mengalahkan mereka!
Hari ini kita memiliki:
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
Kami membuat padang pasir mekar, dan menjual jeruk, bunga dan sayuran di seluruh dunia.
Israel telah mengirim satelitnya sendiri ke luar angkasa!
Tiga satelit sekaligus!
Tiga satelit sekaligus!
Kami bangga berada di peringkat yang sama dengan: Amerika Serikat, yang memiliki 250 juta penduduk,
Rusia, yang memiliki 200 juta jiwa
China yang memiliki 1,3 miliar jiwa
Eropa - Perancis, Inggris, Jerman - dengan 350 juta penduduk ..
Satu-satunya negara di dunia yang mengirim benda ke luar angkasa! Israel sekarang adalah bagian dari keluarga kekuatan nuklir, dengan Amerika Serikat, Rusia, China, India, Prancis, dan Inggris Raya.
Kami tidak pernah secara resmi mengakuinya, (tapi semua orang tahu itu) dan mengatakan bahwa hanya 60 tahun yang lalu, kami dipimpin, merasa malu dan tanpa harapan, untuk dibantai!
Kami telah menghancurkan reruntuhan eropa di Eropa, kami telah memenangkan peperangan kami di sini dengan tidak ada artinya. Kami membangun "Kekaisaran" kecil kami dari nol.
Siapa Hamas yang menakutiku? Menakutiku Anda membuat saya tertawa!
Paskah dirayakan; Jangan lupakan apa ini.
> Kami selamat dari Firaun.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
Pikirkan kapan saja dalam sejarah manusia! Pikirkanlah, bagi kita, orang-orang Yahudi, situasinya tidak pernah lebih baik! Lalu mari kita hadapi dunia.
Mari kita ingat: Semua bangsa atau budaya yang pernah mencoba untuk menghancurkan kita, sudah tidak ada lagi sekarang - sementara kita masih hidup!
Mesir?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Dan lihatlah kami,
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
Dan kita berbicara dalam bahasa yang sama, Bahasa Ibrani sejak dulu! dulu dan sekarang! Orang-orang Arab belum tahu, tapi mereka akan belajar bahwa ada Elohim / Tuhan.... selama kita menyimpan identitas kita, kita selamanya.
Jadi maafkan kami karena tidak mengkhawatirkan.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
Namun: Jangan percaya media, mereka tidak mengatakan kepada Anda bahwa pesta terus berlangsung, orang terus hidup, orang terus keluar, orang terus menemui teman.
Ya, semangat kita rendah. Terus? Hanya karena kita meratapi kematian kita, sementara yang lain bersukacita dalam gudang darah. Itulah sebabnya kita akan menang, pada akhirnya.
Dia tidak pernah tidur atau akan pernah tidur .... wali Israel .... YHWH / YAHWEH TUHAN Abraham, Ishak dan Yakub/ Israel.
We Aleychem Shalom
Friday, December 8, 2017
Iman Padang Gurun
Baca: Hosea 11
Ayat-ayat 1,3,4 tidak hanya secara jelas kembali menggambarkan
peristiwa keluaran dari Mesir tetapi juga menggambarkan kebahagiaan umat ketika
mereka masih di padang gurun. Hosea memang memandang bahwa masa keemasan relasi
antara umat dengan Allah adalah ketika mereka berada bersama Allah di padang gurun.
Di sana mereka tidak tergoda untuk menyembah dewa atau ilah manapun. Inilah
yang disebut iman padang gurun. Akan tetapi, kalau Hosea menekankan hal ini
tidak berarti bahwa Hosea menganggap Allah Israel hanyalah Allah padang gurun.
Justru dengan penekanan tersebut, Hosea bermaksud agar Israel tetap memelihara relasi
yang ideal dengan Allah ketika di padang gurun itu, meskipun mereka sudah
menetap di Kanaan. Sayangnya, Israel berubah total ketika mereka mulai mendiami
tanah Kanaan (ayat 2,7).Kasih Allah kepada Israel tidak pernah berhenti. Kecaman
dan penghukuman yang ditimpakan kepada Israel adalah juga bagian dari
perjalanan kasih Allah kepada Israel. Allah tidak sama dengan manusia yang suka
menghajar sesamanya dengan dendam yang tidak pernah berkesudahan (ayat 8-11).
Karena kasih-Nya, Allah menahan murkanya, dan menggantikannya dengan menyelamatkan.
Hal itulah yang dinyatakan dengan kata-kata, "Hati-Ku berbalik dalam
diri-Ku (ayat 8)." Allah
berubah pikiran, dari keinginan untuk menghukum kepada
keinginan untuk menyelamatkan. Keadaan manusia pada umumnya suka memberontak
dan terus memberontak, dan karenanya patut menerima penghukuman Allah. Tetapi
karena kasih-Nya kepada dunia, Ia mengutus Anak-Nya sebagai Juruselamat dunia (bdk.
Yoh. 3:16), sehingga dunia mengalami pengampunan Allah. Karena itu manusia
hanya hidup oleh pengampunan Allah. Tanpa pengampunan Allah, manusia pasti
binasa. Kebinasaan yang dimaksud tidak hanya dalam pengertian kematian kekal
pada masa yang akan datang, melainkan juga binasa dalam arti relasi yang tidak
sejahtera dengan sesama dan lingkungan di dunia kini dan di sini.
Sambutlah Sang Terang
Sebagian besar orang tidak suka berada di dalam kegelapan.
Itu ditandai dengan tindakan untuk mencari dan menyalakan alat penerang bila
tidak ada lampu, misalnya. Manusia memang membutuhkan terang karena terang
membuat manusia merasa nyaman dan aman. Demikian juga dengan kehidupan rohani
manusia. Dosa menguasai manusia, seperti kegelapan menguasai malam. Dalam
keadaan demikian, manusia membutuhkan terang agar tidak lagi hidup di dalam kegelapan
dosa. Yohanes mengaitkan terang itu dengan Firman. Firman itu ada sejak semula
bersama-sama dengan Allah (ayat 1). Firman itu kemudian datang ke dalam dunia
(ayat 9). Melalui Firman,
manusia beroleh hidup dan terang (ayat 4, band.
Mzm. 36:10). Di dalam terang tidak ada kegelapan dan kegelapan tidak dapat
menguasai terang (ayat5). Terang menyelamatkan hidup dari kekacauan,
mengungkapkan hal hal yang tak kelihatan, memperlihatkan segala sesuatu apa
adanya, dan juga membimbing. Tanpa terang, orang akan berjalan di dalam
kegelapan. Pemaparan Yohanes dengan jelas menunjukkan bahwa Firman itu ialah
Yesus (ayat 14), Seseorang yang ia kenal dan kasihi. Dialah Pencipta alam
semesta (ayat 3, band. Kol. 1:17). Hidup-Nya memberi terang pada manusia. Di dalam
terang-Nya, manusia dapat melihat diri sebagaimana adanya, yakni pendosa yang membutuhkan
Juruselamat. Ia memang datang untuk membebaskan manusia dari kehancuran akibat
dosa sehingga manusia memiliki kehidupan yang bermakna, yakni sesuai dengan kehendak
Allah. Natal mengingatkan kita akan kehadiran Terang itu ke dalam dunia.
Menyambut natal berarti menyambut Sang Terang. Memberi diri diterangi oleh
Yesus sama dengan menyambut hidup yang kekal. Orang yang mengikut Yesus tidak
akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan akan memiliki terang hidup. Marilah
kita mempersilakan Kristus mengusir kegelapan dosa yang menguasai kita.
Pengharapan itu Telah Datang
Baca: Yesaya 8:23-9:6
Sebagian besar umat kristiani merayakan hari ini
sebagai hari Natal. Apa yang kita ingat sewaktu merayakan Natal? Kelahiran
Yesus sebagai bayi? Atau Sang Mesias yang membawa pengharapan? Yesaya 8:23-9:6
berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan
Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur
dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena
dipimpin oleh raja yang tidak takut Tuhan. Allah menjanjikan Mesias. Ia akan
membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam
hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang yang
besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang
mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang
menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan
perseteruan (1-4). Janji Mesias ini telah digenapi dengan kelahiran Yesus. Dua
hal penting yang dikatakan Yesaya mengenai Yesus adalah bahwa Dia adalah
manusia sejati dan Allah sejati. Yesus adalah manusia sejati sesuai perkataan
'seorang anak telah lahir'. Yesus Kristus adalah Allah sejati nampak dari empat
nama Ilahi: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja
Damai. Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan kedatangan Yesus ke
dunia yang memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus sudah lahir
2000 tahun yang lalu, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan
damai? Bukankah Sang Raja Damai itu telah datang? Betul, dan itulah tugas kita
untuk memperkenalkan Yesus sang Raja Damai itu, dan momen natal adalah salah satu
kesempatan yang dapat kita pakai.
FIRMAN YANG MEMBELA MANUSIA
Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa
aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak
menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur
yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya
kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa
Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia.
Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih
Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas
didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton
utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci
yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau
pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong
hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab
suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan
memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak
dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4
November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya
hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat
was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam.
Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik
aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman
terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo
membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para
pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui
wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di
Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau
sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang
menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di
Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan
sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok.
Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab
sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok
dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu
hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo
berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan
percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang
hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam
bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi
manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal
di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu.
Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu
sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya.
Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman
Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita
umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman
Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga
terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman
kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari
Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan
memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk
mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman
yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan
kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus
lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.
“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu
kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di
lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang
mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.
Amsal 4: 20-22
Subscribe to:
Posts (Atom)
DONASI DAN SPONSORSHIP
Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370
-
Agama Kristen lahir di suatu tempat dan pada suatu waktu di mana berbagai kebudayaan dan kepercayaan bertemu. Akarnya ada dalam agama ...
-
67 sm – Ribuan perompak menguasai laut tengah, akibatnya pelayaran amat terganggu dan...
Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.
Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...





