Thursday, December 14, 2017

Menjadi Pemberita Karena Natal



Baca: Lukas 2:8-20Natal perdana Allah yang low-budget dan tidak glamor ini pun terus berlanjut. Kembali Allah melakukan sesuatu yang mengejutkan dan ironis. Berita tentang telah dipenuhinya janji akbar PL akan kedatangan sang Mesias, yang sebenarnya adalah sukacita nasional Israel  (ayat 10-11), disampaikan kepada para gembala. Bahkan, kemuliaan Allah pun meliputi mereka pada saat itu (ayat 9)! Bagi masyarakat Yahudi waktu itu, menjadi gembala upahan (orang yang menggembalakan ternak hewan milik orang lain) sebenarnya adalah salah satu pekerjaan terendah. Tanda yang menjadi pembukti kebenaran berita itu pun unik karena bersifat sangat biasa; bukan suatu mukjizat, bukan pula tanda kemegahan dan kebesaran, tetapi sebuah palungan (ayat 12, 16). Barang inilah yang dipakai Allah untuk menjadi bukti bagi para gembala akan kebenaran dari berita yang disampaikan sang malaikat sebelumnya. Para gembala upahan ini tidak hanya mendapatkan hak istimewa untuk menjadi saksi kelahiran Tuhan Yesus, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan teladan yang indah: pertama, antusiasme mereka dalam memberikan respons terhadap berita para malaikat (ayat 16). Kedua, mereka menjadi saksi-saksi yang efektif akan kelahiran Kristus (ayat 17). Ketiga, mereka memuji serta memuliakan Allah atas semuanya (ayat 20). Apa yang dilakukan oleh para gembala upahan (baca= rendahan) ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh para malaikat. Mereka pun memuliakan Allah dan bersaksi tentang damai sejahtera yang terjadi di antara umat Tuhan (ayat 14), setelah sebelumnya, salah satu dari malaikat tersebut menjadi pemberita kepada para gembala (ayat 9). Perbedaan status bukanlah hambatan bagi kita untuk merayakan kelahiran Kristus. Renungkan: Semangat Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah", dan membuat mereka merasakan bahwa Allah pun peduli dan justru mencari orang-orang seperti mereka. Mari saling mengasihi tanpa memandang perbedaan kelas atau strata ekonomi dan sosial.

Tiga fakta Natal


Baca: Lukas 2:1-7

Pertama, Tempat Kejadian Perkara (TKP) Natal adalah daerah pinggiran. Jauh dari tempat Kaisar Agustus memerintah; jauh dari tempat kediaman sang wali negeri di Siria, bahkan bukan juga Ibukota Yudea, Yerusalem. Jauh dari pentas utama sejarah dunia, regional, maupun nasional. Hanya kota kecil yang bernama Betlehem kebetulan kampung halaman raja Daud (ayat 4). Kedua, para tokoh utamanya punya latar belakang yang (demi sopan santun) "mencurigakan". Yusuf dan Maria baru bertunangan, tetapi Maria sudah mengandung (ayat 5). Lagipula, orang yang cukup terhormat rasanya masih akan mendapatkan tempat menginap yang cukup layak, apapun situasinya (ayat 7b). Ketiga, cara terjadinya Natal. Peristiwa Natal itu mengambil setting, dari berbagai tempat lain yang mungkin, dalam sebuah kandang. Belum lagi melihat tindakan Maria kepada Sang Bayi Natal yang, jujur saja, tidak mungkin dijadikan tindakan pascapersalinan teladan (ayat 7). Inilah kesimpulan yang seharusnya timbul setelah kita membaca nas ini—jika kita melepaskan sejenak gambaran Natal yang kita punyai selama ini, melalui hasil bentukan berbagai lukisan, renungan, drama, 􀀼lm, dll., tentang Natal yang romantis, menggugah, sekaligus agung megah. Mungkin kesan ini pula yang timbul pada saat Teo􀀼lus—yang kemungkinan punya kedudukan cukup terhormat—membaca bagian ini. Namun, melalui pembacaan seperti, justru kita (dan para Teo􀀼lus di antara kita) lebih mudah untuk menangkap berita Natal dalam cara yang dimaksudkan oleh Lukas. Melalui keremeh-temehan seperti ini, rencana keselamatan Allah yang dahyat, yang telah dijanjikan dengan dahsyat dalam PL, telah diwujudkan. Melaluinya, nyata bahwa karya penyelamatan Allah tidak boleh diremehkan, dan berhak menerima pujian dan syukur kita yang terdalam. Renungkan: Sama seperti Yesus Kristus yang datang dalam kerendahan juga dalam kehinaan demikian juga kita dipanggil untuk bersukacita dalam perendahan diri di hadapan Tuhan. Jagalah agar jangan sukacita Natal justru hilang oleh kesibukan lahiriah ataupun sekedar kewajiban ibadah di saat Natal tiba. 

Kemuliaan Allah Bagi Damai Sejahtera Manusia


Baca: Lukas 2:1-14
Peristiwa Natal akan tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir di kota Daud.” Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang dari tempat yang mahatinggi. Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina. Renungkan:Kemuliaan Allahlah yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya Kemuliaan 
Allah dalam hidup Anda?

Mengapa Bersukacita dan Memuji?


Baca: Lukas 1:57-80

Bagi sanak keluarga Zakharia dan Elisabet, jelas karena kelahiran anak bagi pasangan tersebut yang menunjukkan rahmat Tuhan yang besar kepada mereka (ayat 57-58). Namun, alasan mereka tidak hanya itu. Zakharia dan Elisabet punya alasan yang lebih besar lagi. Alasan dari sukacita dan pujian itu lah yang telah menyebabkan mereka melakukan dan mengalami hal-hal yang membuat para sanak keluarganya heran (ayat 62), dan banyak orang geger (ayat 65). Alasan itu tampak jelas melalui himne yang dinyatakan oleh Zakharia. Pujian Zakharia yang didasari oleh kuasa Roh Kudus, di samping berfungsi sebagai pujian kepada Tuhan (terutama 68-75, juga 78-79), juga merupakan nubuat tentang Yohanes Pembaptis (ayat 76-77). Himne ini menunjukkan karya penyelamatan Allah bagi Israel. Allah tidak pernah melupakan umat-Nya, dan telah menjanjikan kepada Abraham dan mereka yang bertahan kedamaian yang diisi dengan ibadah; kelepasan dari musuh tanpa rasa takut. Saat untuk ini telah mendekat, ditandai dengan kelahiran anak Zakharia, Yohanes yang kemudian disebut Pembaptis. Karena itu, sumber sukacita Zakharia tidaklah hanya kelahiran anaknya, tetapi juga kedatangan Dia, yang jalan-Nya akan dipersiapkan oleh Yohanes. Kedatangan-Nya, dan karya penyelamatan yang dilakukan-Nya, sudah cukup untuk memicu pujian dan ucapan syukur dari Zakharia ini (ayat 64, 68). Bagian ini ditutup dengan catatan bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi besar, dan tinggal di padang gurun sampai saatnya ia mulai melayani Israel. Dengan demikian, narasi Injil ini seakan-akan menahan nafas, menanti kemunculan sang Mesias, Juruselamat, yang tinggal beberapa saat lagi. Kedatangan Mesias adalah dasar lebih kuat lagi bagi sukacita sejati kita. Renungkan: Apa yang sedang Anda siapkan menjadi dasar kegembiraan pada hari Natal besok? Ada dua pilihan: semata karena Anda akan berlibur? Atau karena Anda akan merenungkan kembali kebenaran kabar baik.

Jangan menyimpang dari Allah


Baca: Hosea 13:1-14:1
Allah sendiri mengingatkan Israel, bahwa Dialah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Tidak ada juruselamat lain (ayat 4). Artinya, hanya Allahlah yang memelihara dan yang memberi mereka makan dan minum. Israel dengan mudah melupakan segala kebaikan yang telah Tuhan limpahkan atas mereka.

Karena itu, ketika Israel membelakangi Allah, itu tidak hanya berarti bahwa Israel menolak keselamatan dari Allah, tetapi juga Israel telah memutuskan hubungan kasih dengan Sang Sumber kehidupan. Akibatnya, murka Allah menimpa mereka. Bahkan, akibat dari sikap Israel itu, Allah tidak akan membebaskan Israel dari maut. Israel tidak mengurangi kuantitas dan kualitas kejahatan mereka, justru sikap Israel makin bertambah-tambah penyimpangannya terhadap perjanjian kasih dengan Allah. Mereka harus mengalami maut yang datang dari Allah. Allah sendiri tidak akan menyelamatkan Israel (ayat 14). Apakah Allah telah kehabisan kesabaran? Tidak! Allah memutuskan tindakan ini justru karena terlalu sabar. Juga, tindakan Allah ini diambil karena ketololan dan kebodohan Israel sendiri. Artinya, Israel sendiri yang telah memutuskan hubungan kasih Allah dengan Israel. Kehidupan yang didasarkan pada kasih Allah, Sang Sumber Kehidupan, hanya akan terjalin kembali apabila Allah sendiri berinisiatif penuh untuk memulihkan hubungan-Nya dengan umat. Pemulihan hubungan itu telah sering Allah lakukan, tetapi Israel terus menerus menolak Allah. Bila kita belajar dari sikap Israel terhadap Allah, maka kita pun harus dengan penuh kesadaran mengakui bahwa kita tidak lebih baik daripada umat Israel. Sebab seandainya ada seorang saja di bumi ini yang betul-betul setia kepada Allah, maka Allah tidak perlu berinisiatif melalui Yesus Kristus, datang ke dunia. Tetapi, karena satu orang saja tidak ditemukan, maka damai Natal itu harus datang ke dunia, berada di antara kita, dan memulihkan kembali relasi manusia dengan Allah.

Saturday, December 9, 2017

Pidato Benyamin Netanyahu atas pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota bangsa Yahudi


GREATEST SPEECHES NETANYAHU - PERDANA MENTERI ISRAEL !
Shalom Aleychem
Baru 70 tahun yang lalu! Orang-orang Yahudi dibawa ke pembantaian seperti domba.
60 tahun yang lalu! Kami tidak punya negara. Tidak ada tentara
Tujuh negara Arab mengumumkan perang terhadap negara Yahudi kecil kami, hanya beberapa jam setelah penciptaannya!
Kami hanya 650 orang Yahudi, melawan seluruh dunia Arab! TIDAK ADA IDF (Tentara Pertahanan Israel).
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, Libya, Arab Saudi semua menyerang kita pada saat bersamaan.
Negara yang diberikan PBB kepada kita adalah gurun 65%. Negara ini entah dari mana!
35 tahun yang lalu! Kami melawan tiga tentara terkuat di timur tengah, dan kami menyapu mereka ... ya ... dalam enam hari.
Kami bertempur melawan berbagai koalisi negara-negara Arab, yang memiliki tentara modern dan banyak senjata Soviet, dan kami selalu mengalahkan mereka!
Hari ini kita memiliki:
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
Kami membuat padang pasir mekar, dan menjual jeruk, bunga dan sayuran di seluruh dunia.
Israel telah mengirim satelitnya sendiri ke luar angkasa!
Tiga satelit sekaligus!
Kami bangga berada di peringkat yang sama dengan: Amerika Serikat, yang memiliki 250 juta penduduk,
Rusia, yang memiliki 200 juta jiwa
China yang memiliki 1,3 miliar jiwa
Eropa - Perancis, Inggris, Jerman - dengan 350 juta penduduk ..
Satu-satunya negara di dunia yang mengirim benda ke luar angkasa! Israel sekarang adalah bagian dari keluarga kekuatan nuklir, dengan Amerika Serikat, Rusia, China, India, Prancis, dan Inggris Raya.
Kami tidak pernah secara resmi mengakuinya, (tapi semua orang tahu itu) dan mengatakan bahwa hanya 60 tahun yang lalu, kami dipimpin, merasa malu dan tanpa harapan, untuk dibantai!
Kami telah menghancurkan reruntuhan eropa di Eropa, kami telah memenangkan peperangan kami di sini dengan tidak ada artinya. Kami membangun "Kekaisaran" kecil kami dari nol.
Siapa Hamas yang menakutiku? Menakutiku Anda membuat saya tertawa!
Paskah dirayakan; Jangan lupakan apa ini.
> Kami selamat dari Firaun.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
Pikirkan kapan saja dalam sejarah manusia! Pikirkanlah, bagi kita, orang-orang Yahudi, situasinya tidak pernah lebih baik! Lalu mari kita hadapi dunia.
Mari kita ingat: Semua bangsa atau budaya yang pernah mencoba untuk menghancurkan kita, sudah tidak ada lagi sekarang - sementara kita masih hidup!
Mesir?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Dan lihatlah kami,
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
Dan kita berbicara dalam bahasa yang sama, Bahasa Ibrani sejak dulu! dulu dan sekarang! Orang-orang Arab belum tahu, tapi mereka akan belajar bahwa ada Elohim / Tuhan.... selama kita menyimpan identitas kita, kita selamanya.
Jadi maafkan kami karena tidak mengkhawatirkan.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
Namun: Jangan percaya media, mereka tidak mengatakan kepada Anda bahwa pesta terus berlangsung, orang terus hidup, orang terus keluar, orang terus menemui teman.
Ya, semangat kita rendah. Terus? Hanya karena kita meratapi kematian kita, sementara yang lain bersukacita dalam gudang darah. Itulah sebabnya kita akan menang, pada akhirnya.
Dia tidak pernah tidur atau akan pernah tidur .... wali Israel .... YHWH / YAHWEH TUHAN Abraham, Ishak dan Yakub/ Israel.
We Aleychem Shalom

Friday, December 8, 2017

Iman Padang Gurun


Baca: Hosea 11
Ayat-ayat 1,3,4 tidak hanya secara jelas kembali menggambarkan peristiwa keluaran dari Mesir tetapi juga menggambarkan kebahagiaan umat ketika mereka masih di padang gurun. Hosea memang memandang bahwa masa keemasan relasi antara umat dengan Allah adalah ketika mereka berada bersama Allah di padang gurun. Di sana mereka tidak tergoda untuk menyembah dewa atau ilah manapun. Inilah yang disebut iman padang gurun. Akan tetapi, kalau Hosea menekankan hal ini tidak berarti bahwa Hosea menganggap Allah Israel hanyalah Allah padang gurun. Justru dengan penekanan tersebut, Hosea bermaksud agar Israel tetap memelihara relasi yang ideal dengan Allah ketika di padang gurun itu, meskipun mereka sudah menetap di Kanaan. Sayangnya, Israel berubah total ketika mereka mulai mendiami tanah Kanaan (ayat 2,7).Kasih Allah kepada Israel tidak pernah berhenti. Kecaman dan penghukuman yang ditimpakan kepada Israel adalah juga bagian dari perjalanan kasih Allah kepada Israel. Allah tidak sama dengan manusia yang suka menghajar sesamanya dengan dendam yang tidak pernah berkesudahan (ayat 8-11). Karena kasih-Nya, Allah menahan murkanya, dan menggantikannya dengan menyelamatkan. Hal itulah yang dinyatakan dengan kata-kata, "Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku (ayat 8)." Allah

berubah pikiran, dari keinginan untuk menghukum kepada keinginan untuk menyelamatkan. Keadaan manusia pada umumnya suka memberontak dan terus memberontak, dan karenanya patut menerima penghukuman Allah. Tetapi karena kasih-Nya kepada dunia, Ia mengutus Anak-Nya sebagai Juruselamat dunia (bdk. Yoh. 3:16), sehingga dunia mengalami pengampunan Allah. Karena itu manusia hanya hidup oleh pengampunan Allah. Tanpa pengampunan Allah, manusia pasti binasa. Kebinasaan yang dimaksud tidak hanya dalam pengertian kematian kekal pada masa yang akan datang, melainkan juga binasa dalam arti relasi yang tidak sejahtera dengan sesama dan lingkungan di dunia kini dan di sini.

Sambutlah Sang Terang


Sebagian besar orang tidak suka berada di dalam kegelapan. Itu ditandai dengan tindakan untuk mencari dan menyalakan alat penerang bila tidak ada lampu, misalnya. Manusia memang membutuhkan terang karena terang membuat manusia merasa nyaman dan aman. Demikian juga dengan kehidupan rohani manusia. Dosa menguasai manusia, seperti kegelapan menguasai malam. Dalam keadaan demikian, manusia membutuhkan terang agar tidak lagi hidup di dalam kegelapan dosa. Yohanes mengaitkan terang itu dengan Firman. Firman itu ada sejak semula bersama-sama dengan Allah (ayat 1). Firman itu kemudian datang ke dalam dunia (ayat 9). Melalui Firman,

manusia beroleh hidup dan terang (ayat 4, band. Mzm. 36:10). Di dalam terang tidak ada kegelapan dan kegelapan tidak dapat menguasai terang (ayat5). Terang menyelamatkan hidup dari kekacauan, mengungkapkan hal hal yang tak kelihatan, memperlihatkan segala sesuatu apa adanya, dan juga membimbing. Tanpa terang, orang akan berjalan di dalam kegelapan. Pemaparan Yohanes dengan jelas menunjukkan bahwa Firman itu ialah Yesus (ayat 14), Seseorang yang ia kenal dan kasihi. Dialah Pencipta alam semesta (ayat 3, band. Kol. 1:17). Hidup-Nya memberi terang pada manusia. Di dalam terang-Nya, manusia dapat melihat diri sebagaimana adanya, yakni pendosa yang membutuhkan Juruselamat. Ia memang datang untuk membebaskan manusia dari kehancuran akibat dosa sehingga manusia memiliki kehidupan yang bermakna, yakni sesuai dengan kehendak Allah. Natal mengingatkan kita akan kehadiran Terang itu ke dalam dunia. Menyambut natal berarti menyambut Sang Terang. Memberi diri diterangi oleh Yesus sama dengan menyambut hidup yang kekal. Orang yang mengikut Yesus tidak akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan akan memiliki terang hidup. Marilah kita mempersilakan Kristus mengusir kegelapan dosa yang menguasai kita.

Pengharapan itu Telah Datang


Baca: Yesaya 8:23-9:6

Sebagian besar umat kristiani merayakan hari ini sebagai hari Natal. Apa yang kita ingat sewaktu merayakan Natal? Kelahiran Yesus sebagai bayi? Atau Sang Mesias yang membawa pengharapan? Yesaya 8:23-9:6 berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena dipimpin oleh raja yang tidak takut Tuhan. Allah menjanjikan Mesias. Ia akan membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang yang besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (1-4). Janji Mesias ini telah digenapi dengan kelahiran Yesus. Dua hal penting yang dikatakan Yesaya mengenai Yesus adalah bahwa Dia adalah manusia sejati dan Allah sejati. Yesus adalah manusia sejati sesuai perkataan 'seorang anak telah lahir'. Yesus Kristus adalah Allah sejati nampak dari empat nama Ilahi: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai. Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan kedatangan Yesus ke dunia yang memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus sudah lahir 2000 tahun yang lalu, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan damai? Bukankah Sang Raja Damai itu telah datang? Betul, dan itulah tugas kita untuk memperkenalkan Yesus sang Raja Damai itu, dan momen natal adalah salah satu kesempatan yang dapat kita pakai.

FIRMAN YANG MEMBELA MANUSIA


Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci  dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia. Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4 November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam. Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok. Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu. Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya. Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.

“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.

Amsal 4: 20-22

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...