Wednesday, June 5, 2019

BAGAIMANA PANDANGAN TEOLOGIS GEREJA EROPA MULA-MULA TENTANG PRIBADI KRISTUS?

KRISTUS YANG DISERAHKAN

“Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”  Matius 16:13
Memberitakan Kristus kepada bangsa-bangsa sedunia adalah judul pidato pengukuhan J.H. Bavinck pada tahun 1939, ketika ia menerima jabatan sebagai guru besar dalam Ilmu Pekabaran Injil pada Sekolah Tinggi Teologi di Kampen dan pada Vrije Universiteit di Amsterdam. Yang menjadi pokok pembahasan buku ini adalah bagaimana Yesus ditafsirkan dan disampaikan di Eropa dan dalam kebudayaan-kebudayaan lain di luar Eropa. Bagaimana Ia “diserah­kan”, diterjemahkan dan diberitakan dari abad ke abad? Bagaima­na la disambut, diterima dan dimengerti dalam konteks Ia diberitakan dan “menjadi nampak”? Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan bagaimana Ia disampaikan dalam kebudayaan-kebu­dayaan lain selain kebudayaan-kebudayaan Eropa, adalah perlu merenungkan terlebih dahulu bahwa di Eropa sendiri gambaran mengenai Yesus telah dan masih tetap berubah-ubah. Pertanyaan yang senantiasa timbul dalam hubungan ini adalah apakah telah teijadi pengkhianatan dalam penyampaian (“penyerahan”) berita itu? Apakah si penerjemah (traductor) di sini juga si pengkhianat (traditor)? Pernahkah ada penyampaian berita tanpa pengkhianat­an?

Gambar Yesus yang berubah-ubah di Eropa
Apabila ditanyakan gambar Yesus yang bagaimana disampaikan dari Eropa kepada kebudayaan-kebudayaan lain, maka perlu disadari betapa di Eropa sendiri gambaran itu berubah-ubah sejak dulu sampai sekarang. Rupanya sudah sering terjadi perubahan­-perubahan perspektif. Salah satu cara untuk mengilustrasikan hal tersebut adalah dengan melihat bagaimana Yesus Kristus diung­kapkan dalam kesenian. Di situ tercermin kepercayaan, ketaatan serta pandangan teologis selama berabad-abad.

Ikan
Dalam abad-abad pertama tarikh Masehi belum ada gambar dari Yesus Kristus. Cara yang mula-mula dipakai adalah menggambarkan-Nya secara simbolis.
Salah satu simbol yang terkenal yang terdapat di katakombe-katakombe adalah gambar ikan. Kata Yunani untuk ikan adalah ikhthus, yang dianggap sebagai kependekan dari: Iesous Khristus Theou Huios Soter, yaitu Yesus Kristus Anak Allah, Juruselamat.
Dalam gambar ini simbol tersebut dibuat anak-anak pada kuburan “orang tua mereka yang tercinta, yang beristirahat di situ sampai pada Hari Kebangkitan nanti.”
Walaupun ada dongeng yang menyatakan bahwa ada potret otentik dari Yesus yang tidak dibuat oleh tangan manusia (akhei­ropoila), sesungguhnya tidak ada uraian yang rinci bagaimana rupa Yesus sebenarnya. Pada abad ke-5 Augustinus dari Hippo menyatakan hal terakhir ini, ketika ia berkata bahwa kita tidak tahu secara rinci bagaimana rupa-Nya (qua fuerit facie non penitus ignoramus)
Sejak semula Yesus digambarkan secara simbolis atau alegoris. Salah satu gambar yang paling digemari adalah gambar ikan dan juga gambar anak domba. Alpha dan omega,    A dan W, dipakai sebagai monogram Kristus. Rupanya dalam abad-abad pertama tanda salib masih tetap tersembunyi, karena pertimbangan keamanan. Baru sesudah Konstantinus Agung mendapat suatu penglihatan dalam tahun 312 - yaitu “dengan tanda ini engkau akan menang” - tanda salib itu muncul secara terbuka.
Dalam tanggapan simbolis atau alegoris itu terutama ditekan­kan arti Yesus bagi keselamatan, halnya sama dengan banyak tanggapan sesudah itu. “Gambaran-gambaran” tertua dari Yesus dalam bentuk manusia terdapat dalam katakombe-katakombe di Roma dan dalam gereja di Doura Europos, sebuah benteng di tepi sungai Efrat. Di sana Ia dilukiskan sebagai seorang “Gembala yang Baik” yang masih muda dan tampan, suatu gambaran yang menjadi sangat populer dan digemari orang. Sering Ia menanggul seekor binatang, yaitu seekor domba jantan pada bahu-Nya, hal rnana dapat dihubungkan baik dengan Lukas 15:5: “Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira”, maupun dengan Mazmur 23: “TUHAN adalah gembalaku” dan Yohanes 10:11: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya!” “Gembala yang baik”, yang melambangkan Yesus Kristus, selanjutnya dikembangkan bukan hanya menjadi gembala namun sekaligus guru - bagi Clemens dari Iskandaria (± 215), Yesus adalah “pendidik” dan “guru” - tetapi juga menjadi gembala yang dapat bermain musik. Dalam hal terakhir ini, sebagaimana diungkapkan juga oleh banyak dari penjelasan-penjelasan di bawah gambar­gambar termaksud, yang dipentingkan ialah Kristus-Orpheus, yaitu Yesus sebagai Orpheus sejati. Ia sering dilukiskan dengan kecapi.
Bagi Clemens dari Iskandaria, bukan Orpheus penyanyi ilahi sejati, tetapi Kristus yang telah membawa nyanyian baru ke dalam dunia. Demikian kata Clemens “Lihatlah apa yang telah dijadikan oleh nyanyian baru itu. Dari batu dan binatang telah diciptakannya manusia. Dan mereka yang sebenarnya sudah mati dan tidak memperoleh bagian dalam hidup yang benar, hidup kembali pada waktu mereka mendengar nyanyian itu. Hanya Dia, di antara mereka yang pernah hidup, telah dapat menjinakkan binatang yang paling buas      Nyanyian... sorgawi itu telah mengubah sekalian binatang liar itu dan batu-batu keras menjadi manusia yang lembut hati” (Proteptikos). Menurut Eusebius dari Kaisarea, Kristus telah mempesonakan orang berdosa yang keras hati, seperti yang dilakukan Orpheus pada binatang-binatang liar.
Mula-mula kepada tokoh gembala itu dikenakan paras muka yang muda belia. Christus iuvenis, dengan muka yang bulat tanpa janggut dan berambut pendek. Ia digambarkan berpakaian bukan seperti seorang gembala, tetapi seperti orang dari golongan masyarakat yang lebih tinggi, teristimewa dengan jubah (tunik), mantel (pallium) dan sandal seperti seorang bangsawan muda. Yesus ini tidak kelihatan sebagai orang Timur, tetapi lebih mirip orang Romawi. Alasan yang diberikan sebagai motivasi pembelaan mengapa Ia dilukiskan tampan ialah: “Bilamana Kristus tidak tampan, Ia tidak akan dipandang sebagai Tuhan,” demikian dikatakan Origenes dalam tulisannya melawan si “kafir” Celsus.
Perubahan-perubahan atau variasi yang terjadi pertama-tama adalah sehubungan dengan umur Yang Dilukiskan itu. Muka-Nya menjadi lebih panjang. Panjang rambut-Nya sampai bahu dan terbelah di tengah. Yesus dilukiskan juga berjanggut. Kini mukanya menampakkan sifat ketimuran dan warna mukanya kecoklatan. Maka terciptalah gambar-gambar dari “Tuhan yang dimuliakan”, yakni sebagai guru dan pemberi hukum. Kadang-­kadang Yesus yang berkeliling di dunia digambarkan tanpa janggut, sedangkan Yesus yang berjanggut merefleksikan “Tuhan yang dimuliakan”. Ia dilukiskan sebagai orang dewasa, berumur tiga puluh tiga tahun. Demikian mungkin Ia dikenal oleh orang banyak dan dapat ditemukan misalnya pada mosaik-mosaik di gereja St. Apollinare Nuova di Ravenna (Italia), yang lama menjadi tempat kedudukan pemerintah kerajaan Romawi Barat. Mosaik-mosaik dari Ravenna itu disebut ilustrasi peralihan dari kristologi teofani, yakni kristologi yang menekankan Allah yang menyatakan diri, ke kristologi yang menekankan Allah yang menjadi daging.
Akan tetapi gambar-gambar yang beragam itu baik yang berjanggut ataupun tidak, berambut panjang atau pendek, tidak boleh dilihat seluruhnya sebagai hasil karya fantasi seorang seniman. Gambar-gambar tersebut menceritakan sesuatu mengenai kepercayaan pada abad-abad pertama dan mengenai sikap gereja muda sejak permulaan masa penganiayaan: “Dalam tokoh yang penuh kegairahan seorang pemuda yang murah hati itu semua gagasan, yang menghubungkan seniman-seniman Kristen tertua dan mereka yang seangkatan dengan diri dan karya Anak Allah dan Anak Manusia, dikristalisasikan. Tanpa disadari zaman itu mengidentifikasikan diri dengan tokoh Kristus muda yang didam­bakan. Bilamana penganiayaan-penganiayaan itu dihentikan dan gagasan mengenai kedatangan Kristus kembali tidak mengambil peranan yang penting lagi, gereja menjadi gereja negara dan menyesuaikan diri dengan dunia, maka iapun sudah menjadi dewasa”. “Kemenangan” Konstantinus Agung berarti juga kemenangan agama Kristen atas agama kafir. Hal itu juga tercermin dalam kesenian. Maka muncullah gambar-gambar Yesus yang diambil-alih dari kultus kekaisaran dari zaman antik yang terakhir, yang harus melambangkan kemenangan Kristus: Christus Victor, yaitu Kristus Pemenang yang dinobatkan oleh tangan Allah, menjadi Kosmoskrator atau Pantokrator, yaitu Raja Alam Semesta.
Dalam Abad Pertengahan segi kemanusiaan Yesus atau Yesus sebagai manusia sangat dititikberatkan. Sekitar tahun 1.000 terciptalah karya-karya seni rupa berbentuk salib (crucifix), seperti “salib Gero” di Köln. Dalam katedral-katedral gaya Romawi, Kristus dilukiskan sebagai hakim dunia yang menakutkan. Ungkapan terakhir ini mengingatkan orang pada gambar Kristus sebagai hakim yang murka yang mengadili orang yang hidup dan yang mati, seperti yang dilukiskan Michelangelo di atas altar kapel Sistin. Walaupun dalam periode Gotik abad ketigabelas Yesus semakin banyak dilukiskan sebagai makhluk dunia, namun tema “raja” dan “pemenang” juga dipertahankan. Dalam gaya Gotik­tinggi sifat kemurkaan yang angker dari gambar-gambar dan patung-patung berubah dan diganti dengan wajah manusiawi yang agung, hal mana dapat dilihat di katedral Chartres dan katedral Amiens. Yang menarik pada lukisan Kristus dalam ruangan pintu masuk katedral Chartres adalah sifat keningratannya yang agung, yang menggantikan kemuliaan asketis.
Di bawah pengaruh Bernard dari Clairvaux dan Fransiskus dari Asisi perhatian yang khidmat diberikan kepada Yesus duniawi yang menderita. Kristus yang menang (Christus triumphans) berubah menjadi Kristus yang tahan derita (Christus patiens). Akhir Abad Pertengahan dipengaruhi oleh tematik penderitaan. Pada waktu itu hal mencapai pembebasan pribadi adalah hal yang paling penting: Kristus yang menderita itu membawa “keadilan yang sempurna”. Itu mencakup suatu seruan untuk mengikuti “orang yang sengsara” ini, yang oleh penderitaan-Nya menjadi sama dengan manusia. Maka pada altar-altar di waktu itu muncullah apa yang disebut “Andachtbilder” (gambar-gambar untuk mengarahkan meditasi khidmat), yang mengajak untuk menjadi serupa dengan Dia dalam penderitaan-Nya (conformitas) dan mengadakan penyatuan mistik (unio mystica).
Contoh yang tertua dari suatu pieta, atau gambar Yesus berbaring mati di pangkuan Maria, berasal dari abad ketigabelas. Akan tetapi menurut gambaran yang diberikan R. Koning pada saat itu, “Tubuh itu sudah menjadi sebuah tumpukan sengsara yang sangat mengerikan: gumpalan darah beku yang tebal melekat pada luka-lukanya, tangan dan kakinya terkulai. Kepala dengan mata tertutup dan mulut agak terbuka, karena baru saja meng­hembuskan nafas yang terakhir, jatuh telentang ... Maria yang berduka mendampingi-Nya dan demikianlah tercipta sebuah patung ungkapan derita yang sangat mendalam dan perasaan terpukul yang amat besar. Suatu gambaran realistis yang sangat mengeri­kan, yang dalam keadaan memilukan menjadi jeritan yang menyayat seluruh batin.”
Akan tetapi dalam “pieta” yang dipahat Michelangelo dan yang kini terdapat di Gereja Santo Pietro di Roma, Kristus merupakan contoh asli dari manusia ideal aliran “renaissance”, di mana dalam kesempurnaan-Nya hakikat alamiah dimuliakan dan sifat transen­den nampak. Bagi idealisme naturalistis ini keilahan Sang Penebus menjadi nyata dalam sifat jasmaniah yang disempurnakan sesuai gagasan tentang keindahan yang klasik. Dalam abad kelimabelas Yesus dilukiskan sebagai orang yang hidup dalam lingkungan historis si pelukis, misalnya di Vlaanderen. Pieter Breughel “yang Tua” menempatkan peristiwa pemikulan salib pada tahun 1564 dalam zaman dan lingkungannya sendiri: “Pengorbanan di Golgota adalah sesuatu yang menyangkut seluruh umat manusia dari segala waktu dan tempat, demikian juga Vlaanderen di mana ia melukis.”
Tanggapan Matthias Grunewald (1516) di Colmar telah diungkapkannya secara mengharukan dan mengejutkan pada gambaran pada altar Isenheimer, yang melukiskan manusia yang dengan cara mengerikan disiksa pada kayu salib, hal mana justru sekarang mengingatkan orang pada gambar di gereja-gereja masa kini di Amerika Latin, yang sering dihiasi gambar orang yang disiksa pada kayu salib.
Dalam gambar Matthias Griinewald itu Yohanes Pembaptis menunjuk dengan jari yang (agak) panjang kepada mereka yang harus menjadi besar sedangkan ia harus menjadi semakin kecil (Yoh 3:30). Betapa jauh gambaran ini menjaraki zaman “gembala yang baik” yang tampan seperti Apollo, ketika belum ada gam­baran dari “manusia penuh sengsara” dan belum ada gagasan mengenai kayu salib? Dalam lukisan dan gambar-gambar Albrecht Diirer “manusia penuh sengsara” itu diungkapkan sangat realistis. Dalam sebuah lukisan yang terdapat di Wina, gagasan ke-Tritung­galan diungkapkannya dengan menempatkan manusia yang disalibkan itu di tengah selubung Allah Bapa yang sedang terbuka: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darahNya” (Roma 3:25). Ditinjau dari pandangan Abad Pertengahan tindakan Albrecht Durer sangat revolusioner, ketika di tahun 1622 ia melukis potret dirinya sendiri sebagai “manusia yang penuh sengsara”, yang memberi kesan seolah-olah “gambar Kristus” dapat ditukar dengan “gambar manusia”.
El-Greco berhasil memberi anti rohani yang sangat mendalam pada lukisan-lukisannya, yang memperlihatkan pengaruh aliran mistik Yohanes dari Kayu Salib dan Theresa dari Avila. Begitu pula Velazques, “guru gaya Barok Spanyol”, yang mengemukakan tema-tema mistik: “Ia mempesonakan jiwa dan makna dengan gayanya yang dalam prinsipnya sama dengan gaya Ignatius dari Loyola”. Ciri khas dari gambar Kristus gaya aliran Barok adalah sifat emosionalnya dan penglihatan khayalan (visioner). Justru gambar-gambar inilah yang mengambil peranan penting dalam “penyerahan” Kristus ke bagian-bagian dunia yang baru “ditemu­kan”, yang menjadi tujuan utama dari misi. Baik patung-patung tertentu di Jepang, maupun patung yang disebut “santos” (gambar kayu berukuran sebesar (orang) di New Meksiko menjembatani tema-tema penderitaan dan tema Barok Spanyol dengan ciptaan­ciptaan yang diterapkan sesuai dengan tradisi pribumi di situ.
Dari gambar-gambar Kristus ya.ig dibuat oleh Petrus Paulus Rubens, yang juga disebut sang pelukis dari aliran kontra-refor­masi, di bagian Belanda yang dijajah Spanyol, terungkap kesalehan orang Spanyol dan kemenangan dari Gereja Kristus. Dalam penderitaan-Nya pun Kristus menyerukan kepada umat manusia, supaya mengandalkan keberanian.
Di pihak Protestan tentu terutama perlu diingat pada tanggap­an Rembrandt tentang Kristus, yang dalam jumlah besar is refleksikan dalam lukisan dan ukiran.
Dalam abad kesembilanbelas (sekitar tahun 1822) terwujudlah gambar Kristus (dengan domba di atas bahu-Nya) yang mem­berkati, ciptaan seorang penduduk Kopenhagen yang bernama Chr. von Thorwaldsen. Sampai jauh ke dalam abad keduapuluh gambar tersebut menghiasi banyak ruangan keluarga Protestan di Eropa, bahkan banyak rumah dan gereja di Afrika(!). Dahulu Soren Kierkegaard pernah mengecam gambar itu, karena sifat batu sandungan dari kayu salib ditiadakan dalam gambar itu.
“Tiruan” yang dibuat Vincent van Gogh di tahun 1890 dari lukisan agung “Pembangkitan Lazarus” ciptaan Rembrandt, tidak menggambarkan din Kristus sendiri, tetapi Ia hanya digambarkan secara simbolis, hal mans juga telah terjadi pada periode awal. Seperti dalam abad-abad pertama arti Yesus Kristus bagi kesela­matan ditonjolkan juga di sini. Oleh karena itu seberkas cahaya menyinari sekeliling Lazarus dan saudara-saudaranya.
Dari berbagai periode dapat dikatakan, bahwa “tujuan utama dari kesenian itu adalah penjelmaan dari karya keselamatan Kristus”.5 Sampai pada abad keduapuluh Yesus masih digambarkan dalam kesenian Eropa. Dalam banyak variasi Ia dilukiskan, misalnya oleh pelukis George Rouault, antara lain dalam lukisan­nya yang berjudul “Manusia yang Penuh Sengsara” yang dibuatnya pada tahun 1932.
Pada akhir kata pengantar bukunya De beelden van Christus (Gambaran-gambaran tentang Kristus) Van der Meer mengatakan, bahwa dalam dunia seni pahat tidak ada tempat lagi bagi Kristus.

Ia melanjutkan, “Mengapa kita harus merasa heran akan hal itu? Ketidakhadiran ini juga terjadi dalam hati sanubari. Siapa yang tidak percaya lagi pada penampakan diri dari hikmat yang tidak diciptakan itu, lambat laun akan sama sekali kehiiangan perhatian terhadap manusia Yesus yang ajaib itu. Orang yang buta sejak lahir itu tidak dapat melihat sampai pada saat is tiba-tiba percaya kepada orang yang tidak dikenalnya.”

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...