KRISTUS YANG DISERAHKAN
“Kata orang, siapakah
Anak Manusia itu?” Matius 16:13
Memberitakan Kristus
kepada bangsa-bangsa sedunia adalah judul pidato pengukuhan J.H. Bavinck pada tahun
1939, ketika ia menerima jabatan sebagai guru besar dalam Ilmu Pekabaran Injil
pada Sekolah Tinggi Teologi di Kampen dan pada Vrije Universiteit di Amsterdam.
Yang menjadi pokok pembahasan buku ini adalah bagaimana Yesus ditafsirkan dan
disampaikan di Eropa dan dalam kebudayaan-kebudayaan lain di luar Eropa.
Bagaimana Ia “diserahkan”, diterjemahkan dan diberitakan dari abad ke abad?
Bagaimana la disambut, diterima dan dimengerti dalam konteks Ia diberitakan dan “menjadi nampak”?
Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan bagaimana Ia disampaikan dalam
kebudayaan-kebudayaan lain selain kebudayaan-kebudayaan Eropa, adalah perlu merenungkan
terlebih dahulu bahwa di Eropa sendiri gambaran mengenai Yesus telah dan masih
tetap berubah-ubah. Pertanyaan yang senantiasa timbul dalam hubungan ini adalah
apakah telah teijadi pengkhianatan dalam penyampaian (“penyerahan”) berita itu?
Apakah si penerjemah (traductor) di sini juga si pengkhianat (traditor)?
Pernahkah ada penyampaian berita tanpa pengkhianatan?
Gambar Yesus yang
berubah-ubah di Eropa
Apabila ditanyakan gambar Yesus yang bagaimana
disampaikan dari Eropa kepada kebudayaan-kebudayaan lain, maka perlu disadari
betapa di Eropa sendiri gambaran itu berubah-ubah sejak dulu sampai sekarang.
Rupanya sudah sering terjadi perubahan-perubahan perspektif. Salah satu cara
untuk mengilustrasikan hal tersebut adalah dengan melihat bagaimana Yesus
Kristus diungkapkan dalam kesenian. Di situ tercermin kepercayaan, ketaatan
serta pandangan teologis selama berabad-abad.
Ikan
Dalam abad-abad pertama tarikh Masehi belum ada gambar
dari Yesus Kristus. Cara yang mula-mula dipakai adalah menggambarkan-Nya secara
simbolis.
Salah satu simbol yang terkenal yang terdapat di
katakombe-katakombe adalah gambar ikan. Kata Yunani untuk ikan adalah ikhthus, yang dianggap sebagai
kependekan dari: Iesous Khristus
Theou Huios Soter, yaitu Yesus Kristus Anak Allah, Juruselamat.
Dalam gambar ini simbol tersebut dibuat anak-anak pada
kuburan “orang tua mereka yang tercinta, yang beristirahat di situ sampai pada
Hari Kebangkitan nanti.”
Walaupun ada dongeng yang
menyatakan bahwa ada potret otentik dari Yesus yang tidak dibuat oleh tangan
manusia (akheiropoila), sesungguhnya tidak ada uraian yang rinci
bagaimana rupa Yesus sebenarnya. Pada abad ke-5 Augustinus dari Hippo
menyatakan hal terakhir ini, ketika ia berkata bahwa kita tidak tahu secara
rinci bagaimana rupa-Nya (qua fuerit facie non penitus ignoramus)
Sejak semula Yesus
digambarkan secara simbolis atau alegoris. Salah satu gambar yang paling
digemari adalah gambar ikan dan juga gambar anak domba. Alpha dan omega, A dan W, dipakai sebagai
monogram Kristus. Rupanya dalam abad-abad pertama tanda salib masih tetap
tersembunyi, karena pertimbangan keamanan. Baru sesudah Konstantinus Agung
mendapat suatu penglihatan dalam tahun 312 - yaitu “dengan tanda ini engkau
akan menang” - tanda salib itu muncul secara terbuka.
Dalam tanggapan simbolis
atau alegoris itu terutama ditekankan arti Yesus bagi keselamatan, halnya sama
dengan banyak tanggapan sesudah itu. “Gambaran-gambaran” tertua dari Yesus
dalam bentuk manusia terdapat dalam katakombe-katakombe di Roma dan dalam gereja
di Doura Europos, sebuah benteng di tepi sungai Efrat. Di sana Ia dilukiskan
sebagai seorang “Gembala yang Baik” yang masih muda dan tampan, suatu gambaran
yang menjadi sangat populer dan digemari orang. Sering Ia menanggul seekor
binatang, yaitu seekor domba jantan pada bahu-Nya, hal rnana dapat dihubungkan
baik dengan Lukas 15:5: “Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di
atas bahunya dengan gembira”, maupun dengan Mazmur 23: “TUHAN adalah gembalaku”
dan Yohanes 10:11: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan
nyawanya bagi domba-dombanya!” “Gembala yang baik”, yang melambangkan Yesus
Kristus, selanjutnya dikembangkan bukan hanya menjadi gembala namun sekaligus
guru - bagi Clemens dari Iskandaria (± 215), Yesus adalah “pendidik” dan “guru”
- tetapi juga menjadi gembala yang dapat bermain musik. Dalam hal terakhir ini,
sebagaimana diungkapkan juga oleh banyak dari penjelasan-penjelasan di bawah
gambargambar termaksud, yang dipentingkan ialah Kristus-Orpheus, yaitu Yesus
sebagai Orpheus sejati. Ia sering dilukiskan dengan kecapi.
Bagi Clemens dari
Iskandaria, bukan Orpheus penyanyi ilahi sejati, tetapi Kristus yang telah
membawa nyanyian baru ke dalam dunia. Demikian kata Clemens “Lihatlah apa yang
telah dijadikan oleh nyanyian baru itu. Dari batu dan binatang telah
diciptakannya manusia. Dan mereka yang sebenarnya sudah mati dan tidak
memperoleh bagian dalam hidup yang benar, hidup kembali pada waktu mereka
mendengar nyanyian itu. Hanya Dia, di antara mereka yang pernah hidup, telah
dapat menjinakkan binatang yang paling buas Nyanyian...
sorgawi itu telah mengubah sekalian binatang liar itu dan batu-batu keras
menjadi manusia yang lembut hati” (Proteptikos). Menurut Eusebius dari
Kaisarea, Kristus telah mempesonakan orang berdosa yang keras hati, seperti
yang dilakukan Orpheus pada binatang-binatang liar.
Mula-mula kepada tokoh
gembala itu dikenakan paras muka yang muda belia. Christus iuvenis, dengan
muka yang bulat tanpa janggut dan berambut pendek. Ia digambarkan berpakaian bukan
seperti seorang gembala, tetapi seperti orang dari golongan masyarakat yang
lebih tinggi, teristimewa dengan jubah (tunik), mantel (pallium) dan sandal
seperti seorang bangsawan muda. Yesus ini tidak kelihatan sebagai orang Timur,
tetapi lebih mirip orang Romawi. Alasan yang diberikan sebagai motivasi
pembelaan mengapa Ia dilukiskan tampan ialah: “Bilamana Kristus tidak tampan,
Ia tidak akan dipandang sebagai Tuhan,” demikian dikatakan Origenes dalam
tulisannya melawan si “kafir” Celsus.
Perubahan-perubahan atau
variasi yang terjadi pertama-tama adalah sehubungan dengan umur Yang Dilukiskan
itu. Muka-Nya menjadi lebih panjang. Panjang rambut-Nya sampai bahu dan
terbelah di tengah. Yesus dilukiskan juga berjanggut. Kini mukanya menampakkan
sifat ketimuran dan warna mukanya kecoklatan. Maka terciptalah gambar-gambar
dari “Tuhan yang dimuliakan”, yakni sebagai guru dan pemberi hukum. Kadang-kadang
Yesus yang berkeliling di dunia digambarkan tanpa janggut, sedangkan Yesus yang
berjanggut merefleksikan “Tuhan yang dimuliakan”. Ia dilukiskan sebagai orang
dewasa, berumur tiga puluh tiga tahun. Demikian mungkin Ia dikenal oleh orang
banyak dan dapat ditemukan misalnya pada mosaik-mosaik di gereja St. Apollinare
Nuova di Ravenna (Italia), yang lama menjadi tempat kedudukan pemerintah
kerajaan Romawi Barat. Mosaik-mosaik dari Ravenna itu disebut ilustrasi
peralihan dari kristologi teofani, yakni kristologi yang menekankan Allah yang menyatakan
diri, ke kristologi yang menekankan Allah yang menjadi daging.
Akan tetapi gambar-gambar
yang beragam itu baik yang berjanggut ataupun tidak, berambut panjang atau
pendek, tidak boleh dilihat seluruhnya sebagai hasil karya fantasi seorang
seniman. Gambar-gambar tersebut menceritakan sesuatu mengenai kepercayaan pada
abad-abad pertama dan mengenai sikap gereja muda sejak permulaan masa
penganiayaan: “Dalam tokoh yang penuh kegairahan seorang pemuda yang murah hati
itu semua gagasan, yang menghubungkan seniman-seniman Kristen tertua dan mereka
yang seangkatan dengan diri dan karya Anak Allah dan Anak Manusia,
dikristalisasikan. Tanpa disadari zaman itu mengidentifikasikan diri dengan
tokoh Kristus muda yang didambakan. Bilamana penganiayaan-penganiayaan itu
dihentikan dan gagasan mengenai kedatangan Kristus kembali tidak mengambil
peranan yang penting lagi, gereja menjadi gereja negara dan menyesuaikan diri
dengan dunia, maka iapun sudah menjadi dewasa”. “Kemenangan” Konstantinus Agung
berarti juga kemenangan agama Kristen atas agama kafir. Hal itu juga tercermin
dalam kesenian. Maka muncullah gambar-gambar Yesus yang diambil-alih dari
kultus kekaisaran dari zaman antik yang terakhir, yang harus melambangkan
kemenangan Kristus: Christus Victor, yaitu Kristus Pemenang yang
dinobatkan oleh tangan Allah, menjadi Kosmoskrator atau Pantokrator, yaitu
Raja Alam Semesta.
Dalam Abad Pertengahan
segi kemanusiaan Yesus atau Yesus sebagai manusia sangat dititikberatkan.
Sekitar tahun 1.000 terciptalah karya-karya seni rupa berbentuk salib (crucifix),
seperti “salib Gero” di Köln. Dalam katedral-katedral gaya Romawi, Kristus
dilukiskan sebagai hakim dunia yang menakutkan. Ungkapan terakhir ini
mengingatkan orang pada gambar Kristus sebagai hakim yang murka yang mengadili
orang yang hidup dan yang mati, seperti yang dilukiskan Michelangelo di atas
altar kapel Sistin. Walaupun dalam periode Gotik abad ketigabelas Yesus semakin
banyak dilukiskan sebagai makhluk dunia, namun tema “raja” dan “pemenang” juga
dipertahankan. Dalam gaya Gotiktinggi sifat kemurkaan yang angker dari
gambar-gambar dan patung-patung berubah dan diganti dengan wajah manusiawi yang
agung, hal mana dapat dilihat di katedral Chartres dan katedral Amiens. Yang
menarik pada lukisan Kristus dalam ruangan pintu masuk katedral Chartres adalah
sifat keningratannya yang agung, yang menggantikan kemuliaan asketis.
Di bawah pengaruh Bernard
dari Clairvaux dan Fransiskus dari Asisi perhatian yang khidmat diberikan
kepada Yesus duniawi yang menderita. Kristus yang menang (Christus
triumphans) berubah menjadi Kristus yang tahan derita (Christus
patiens). Akhir Abad Pertengahan dipengaruhi oleh tematik penderitaan. Pada
waktu itu hal mencapai pembebasan pribadi adalah hal yang paling penting:
Kristus yang menderita itu membawa “keadilan yang sempurna”. Itu mencakup suatu
seruan untuk mengikuti “orang yang sengsara” ini, yang oleh penderitaan-Nya
menjadi sama dengan manusia. Maka pada altar-altar di waktu itu muncullah apa
yang disebut “Andachtbilder” (gambar-gambar untuk mengarahkan meditasi
khidmat), yang mengajak untuk menjadi serupa dengan Dia dalam penderitaan-Nya (conformitas)
dan mengadakan penyatuan mistik (unio mystica).
Contoh yang tertua dari
suatu pieta, atau gambar Yesus berbaring mati di pangkuan Maria, berasal
dari abad ketigabelas. Akan tetapi menurut gambaran yang diberikan R. Koning
pada saat itu, “Tubuh itu sudah menjadi sebuah tumpukan sengsara yang sangat
mengerikan: gumpalan darah beku yang tebal melekat pada luka-lukanya, tangan
dan kakinya terkulai. Kepala dengan mata tertutup dan mulut agak terbuka,
karena baru saja menghembuskan nafas yang terakhir, jatuh telentang ... Maria
yang berduka mendampingi-Nya dan demikianlah tercipta sebuah patung ungkapan
derita yang sangat mendalam dan perasaan terpukul yang amat besar. Suatu
gambaran realistis yang sangat mengerikan, yang dalam keadaan memilukan
menjadi jeritan yang menyayat seluruh batin.”
Akan tetapi dalam “pieta”
yang dipahat Michelangelo dan yang kini terdapat di Gereja Santo Pietro di
Roma, Kristus merupakan contoh asli dari manusia ideal aliran “renaissance”, di
mana dalam kesempurnaan-Nya hakikat alamiah dimuliakan dan sifat transenden
nampak. Bagi idealisme naturalistis ini keilahan Sang Penebus menjadi nyata
dalam sifat jasmaniah yang disempurnakan sesuai gagasan tentang keindahan yang
klasik. Dalam abad kelimabelas Yesus dilukiskan sebagai orang yang hidup dalam
lingkungan historis si pelukis, misalnya di Vlaanderen. Pieter Breughel “yang
Tua” menempatkan peristiwa pemikulan salib pada tahun 1564 dalam zaman dan
lingkungannya sendiri: “Pengorbanan di Golgota adalah sesuatu yang menyangkut
seluruh umat manusia dari segala waktu dan tempat, demikian juga Vlaanderen di
mana ia melukis.”
Tanggapan Matthias
Grunewald (1516) di Colmar telah diungkapkannya secara mengharukan dan
mengejutkan pada gambaran pada altar Isenheimer, yang melukiskan manusia yang
dengan cara mengerikan disiksa pada kayu salib, hal mana justru sekarang
mengingatkan orang pada gambar di gereja-gereja masa kini di Amerika Latin,
yang sering dihiasi gambar orang yang disiksa pada kayu salib.
Dalam gambar Matthias
Griinewald itu Yohanes Pembaptis menunjuk dengan jari yang (agak) panjang
kepada mereka yang harus menjadi besar sedangkan ia harus menjadi semakin kecil
(Yoh 3:30). Betapa jauh gambaran ini menjaraki zaman “gembala yang baik” yang
tampan seperti Apollo, ketika belum ada gambaran dari “manusia penuh sengsara”
dan belum ada gagasan mengenai kayu salib? Dalam lukisan dan gambar-gambar
Albrecht Diirer “manusia penuh sengsara” itu diungkapkan sangat realistis.
Dalam sebuah lukisan yang terdapat di Wina, gagasan ke-Tritunggalan
diungkapkannya dengan menempatkan manusia yang disalibkan itu di tengah
selubung Allah Bapa yang sedang terbuka: “Kristus Yesus telah ditentukan Allah
menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darahNya” (Roma 3:25). Ditinjau dari
pandangan Abad Pertengahan tindakan Albrecht Durer sangat revolusioner, ketika
di tahun 1622 ia melukis potret dirinya sendiri sebagai “manusia yang penuh
sengsara”, yang memberi kesan seolah-olah “gambar Kristus” dapat ditukar dengan
“gambar manusia”.
El-Greco berhasil memberi
anti rohani yang sangat mendalam pada lukisan-lukisannya, yang memperlihatkan
pengaruh aliran mistik Yohanes dari Kayu Salib dan Theresa dari Avila. Begitu
pula Velazques, “guru gaya Barok Spanyol”, yang mengemukakan tema-tema mistik:
“Ia mempesonakan jiwa dan makna dengan gayanya yang dalam prinsipnya sama
dengan gaya Ignatius dari Loyola”. Ciri khas dari gambar Kristus gaya aliran
Barok adalah sifat emosionalnya dan penglihatan khayalan (visioner). Justru
gambar-gambar inilah yang mengambil peranan penting dalam “penyerahan” Kristus
ke bagian-bagian dunia yang baru “ditemukan”, yang menjadi tujuan utama dari
misi. Baik patung-patung tertentu di Jepang, maupun patung yang disebut
“santos” (gambar kayu berukuran sebesar (orang) di New Meksiko menjembatani
tema-tema penderitaan dan tema Barok Spanyol dengan ciptaanciptaan yang
diterapkan sesuai dengan tradisi pribumi di situ.
Dari gambar-gambar
Kristus ya.ig dibuat oleh Petrus Paulus Rubens, yang juga disebut sang pelukis
dari aliran kontra-reformasi, di bagian Belanda yang dijajah Spanyol,
terungkap kesalehan orang Spanyol dan kemenangan dari Gereja Kristus. Dalam
penderitaan-Nya pun Kristus menyerukan kepada umat manusia, supaya mengandalkan
keberanian.
Di pihak Protestan tentu
terutama perlu diingat pada tanggapan Rembrandt tentang Kristus, yang dalam
jumlah besar is refleksikan dalam lukisan dan ukiran.
Dalam abad
kesembilanbelas (sekitar tahun 1822) terwujudlah gambar Kristus (dengan domba
di atas bahu-Nya) yang memberkati, ciptaan seorang penduduk Kopenhagen yang
bernama Chr. von Thorwaldsen. Sampai jauh ke dalam abad keduapuluh gambar
tersebut menghiasi banyak ruangan keluarga Protestan di Eropa, bahkan banyak
rumah dan gereja di Afrika(!). Dahulu Soren Kierkegaard pernah mengecam gambar
itu, karena sifat batu sandungan dari kayu salib ditiadakan dalam gambar itu.
“Tiruan” yang dibuat
Vincent van Gogh di tahun 1890 dari lukisan agung “Pembangkitan Lazarus”
ciptaan Rembrandt, tidak menggambarkan din Kristus sendiri, tetapi Ia hanya
digambarkan secara simbolis, hal mans juga telah terjadi pada periode awal.
Seperti dalam abad-abad pertama arti Yesus Kristus bagi keselamatan
ditonjolkan juga di sini. Oleh karena itu seberkas cahaya menyinari sekeliling
Lazarus dan saudara-saudaranya.
Dari berbagai periode
dapat dikatakan, bahwa “tujuan utama dari kesenian itu adalah penjelmaan dari
karya keselamatan Kristus”.5 Sampai pada abad keduapuluh Yesus masih
digambarkan dalam kesenian Eropa. Dalam banyak variasi Ia dilukiskan, misalnya
oleh pelukis George Rouault, antara lain dalam lukisannya yang berjudul
“Manusia yang Penuh Sengsara” yang dibuatnya pada tahun 1932.
Pada akhir kata pengantar
bukunya De beelden van Christus (Gambaran-gambaran tentang Kristus) Van
der Meer mengatakan, bahwa dalam dunia seni pahat tidak ada tempat lagi bagi
Kristus.
Ia melanjutkan, “Mengapa
kita harus merasa heran akan hal itu? Ketidakhadiran ini juga terjadi dalam
hati sanubari. Siapa yang tidak percaya lagi pada penampakan diri dari hikmat
yang tidak diciptakan itu, lambat laun akan sama sekali kehiiangan perhatian
terhadap manusia Yesus yang ajaib itu. Orang yang buta sejak lahir itu tidak
dapat melihat sampai pada saat is tiba-tiba percaya kepada orang yang tidak
dikenalnya.”
No comments:
Post a Comment