Wednesday, June 5, 2019

APAKAH GEREJA EROPA SUKSES MENYERAHKAN (MEMBERITAKAN) YESUS ATAU MALAH MENGKHIANATI YESUS?

Menyerahkan atau mengkhianati?

Dari  atas garis-garis besar tentang gambar-gambar Yesus yang berubah-ubah di Eropa, dengan pembatasan seper­lunya, dapat dilihat dengan jelas bahwa dalam gambar-gambar Yesus yang berubah-ubah ini, sebagaimana dapat disimak dari bidang seni rupa, tercermin berbagai pandangan teologis dan aksen dari kurun waktu dan daerah yang berbeda-beda. Namun per­tanyaan yang timbul di sini seperti dalam sambungannya nanti, ialah: adakah yang dipentingkan dalam penggambaran Yesus ini aspek-aspek karya dan makna-Nya secara bertanggung jawab, atau apakah Ia kadang-kadang malahan lebih seiring digambarkan salah, cacat, bahkan dikhianati?
Yang menggugah hati ialah bagaimana Perjanjian Baru menguraikan tugas rasuli dengan menggunakan kata “menye­rahkan” (paradidomi). Kata ini mempunyai arti ganda dalam bahasa Yunani. Itu dapat berarti penyerahan dalam pengertian penyampaian, yaitu penyerahan (turun-temurun) suatu tradisi, tetapi dapat pula berarti pengkhianatan. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menggunakan kata itu dengan kedua pengertian termaksud, dalam hubungan yang sama: “Sebab aku serahkan kepada Saudara-saudara apa yang diserahkan Tuhan kepadaku, yaitu bahwa Tuhan Yesus pada malam waktu Ia diserahkan (dikhianati), mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Akur Jelaslah di sini bahwa seorang rasul adalah atau dapat menjadi oknum yang menyerahkan (sesuatu), juga dalam arti pengkhianatan seperti apa yang dicerita­kan tentang Yudas.
Apakah para rasul dan gereja-gereja sesudah itu, yaitu para penginjil dan para misionaris, telah dengan setia menyampaikan dan memberitakan apa yang telah mereka lihat dan dengar, atau mengkhianati Yesus dan Injil-Nya? (bnd. 1 Yoh 1:1-3). Hal itu perlu dipersoalkan dalam hubungan dengan “penyerahan” Yesus di Eropa selama berabad-abad. Apakah penyerahan itu diartikan pengkhianatan, bilamana Kristus diperkenalkan seakan-akan Ia penguasa yang memberi kekuasaan kepada gereja dan pemerintah? Apakah masuknya Konstantinus Agung ke dalam gereja Kristen bukan suatu cara untuk mengintegrasikan kerajaan Romawi? Gambaran orang Byzantium dari Kristus sebagai Pantokrator sendiri bisa dilihat sebagai ungkapan dari kata-kata Matins 28:18, “KepadaKu diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Akan tetapi bukankah tafsiran yang ada sesudah Konstantinus mengubah pengakuan bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Jesos Khristos Kurios) itu, menjadi gagasan yang membuat Kristus seorang Kaisar, yang rupanya mengakui keabsahan kekuasaan seorang kaisar Kristen? Apakah kaisar menjadi lambang kemenangan Kristus' di bawah pengaruh tafsiran Eusebius dan terjadikah sejak abad keempat apa yang Heering sebut “kejatuhan agama Kristen ke dalam dosa”?' Bukankah dengan demikian sudah tercipta suatu perbedaan besar antara Yesus yang dikenal dari Kitab-kitab Injil, yaitu yang memberitakan Injil kepada orang miskin dan Yesus dari kemenangan Konstantinus ini? Siapa yang menang, Yesus Kristus atau kaisar itu? Bukankah yang dilupakan ialah bahwa dalam pengakuan yang asli, yaitu “Yesus Kristus Tuhan”, yang dipen­tingkan adalah Tuhan (Kurios) yang telah menjadi hamba (doulos) dan dengan demikian diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi dan akan menyertai murid-murid-Nya sampai kesudahan alam?
Oleh Choan Seng Song ditunjukkan bagaimana pax romana diganti dengan pax christiana dan bagaimana Yesus disampaikan bukan sebagai sahabat semua orang, terutama orang miskin dan yang tertindas, melainkan sebagai kaisar dan penguasa, hakim, filsuf, penguasa semesta alam dan yang memerintah segala-galanya. Demikianlah - kembali hal itu dapat dilihat dalam karya-karya kesenian - menjadi jelas bagaimana kandang yang hina diubah menjadi istana dan perawan yang suci itu dan Yusuf yang baik budi menjadi kerabat istana.
Apakah “Kristus zaman kolonial” yang “diserahkan” oleh orang Eropa dalam abad ke-15 kepada benua Afrika, Amerika dan Asia tidak sering setaraf dengan “kejatuhan ke dalam dosa” tadi?
Bukankah orang terlalu sering pergi ke sana dalam nama Yesus Kristus bukan untuk melayani, tetapi untuk berkuasa? Bukankah itu yang terutama dilakukan orang Spanyol dan Portugis, kemudi­an diikuti oleh bangsa Eropa lain?
Dalam sebuah lukisan Vicente Manansala dari Filipina tergambar peristiwa penanaman salib pertama di Filipina. Pelukis itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana hubungan antara “misi” dan “imperialisme”. Seorang imam memberkati suatu salib yang besar, yang baru solo ditanam oleh buruh pribumi, sementara prajurit Spanyol memerintah mereka dengan menggunakan senjata tombak. Bukankah pada waktu itu dan juga sesudah itu, mereka dan banyak orang lain memutarbalikkan Injil Yesus Kristus dan gambaran-Nya? Salib yang adalah tanda hukuman mati orang yang tidak bersalah, disalahgunakan dan berfungsi sebagai pedang untuk melawan orang Yahudi (yang memuncak dalam aksi pembantaian “Holocaust” oleh rezim Hitler), melawan kaum Muslim (Perang Salib), melawan orang Indian dan orang kulit hitam (perbudakan).
Leonardo da Vinci membuat lukisan dari Perjamuan Malam Terakhir, yang kemudian menjadi sangat terkenal. Apabila ada yang bertanya, “Yang mana Yudas dalam lukisan itu?”, tidak mudah akan terjawab pertanyaan itu, kecuali kalau sudah terlebih dahulu diberikan petunjuk-petunjuk tertentu. Lain halnya dengan lukisan-lukisan terdahulu dari peristiwa tersebut, yang dibuat oleh pelukis-pelukis lain. Pertanyaan tadi akan mudah terjawab, karena dengan jelas sekali Yudas digambarkan duduk terpisah dari yang lain. Tidak demikian halnya dengan lukisan Leonardo. Ia telah mengungkapkan peristiwa itu pada saat Yesus Kristus mengatakan, “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu semua murid berkata, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Mat 26:22). Ternyata semua rasul, “yang pada hakikatnya memang yang menyerah­kan” (!), menganggap dirinya “pengkhianat” yang potensial. Dari mulanya penyerahan dan pengkhianatan berkaitan erat.
Sebenarnya masih merupakan suatu keajaiban bahwa Yesus Kristus tetap diberitakan (“diserahkan”), walaupun Ia sudah banyak kali dikhianati. Namun apakah pernah ada penyerahan tanpa pengkhianatan?
Dalam hal menelusuri bagaimana Yesus disampaikan (“diserahkan”), diberitakan, diterjemahkan atau juga dikhianati di luar Eropa, teristimewa sejak orang (yang dimaksud orang Eropal menjelajahi bumi pada abad ke-15, maka ada dua hal yang perlu dipermasalahkan. Pertama bagaimana Yesus digambarkan dan disampaikan pembawa-pembawa Injil ke bagian-bagian dunia lain itu, dan yang kedua, bagaimana Yesus disambut, dimengerti atau juga ditemukan oleh mereka yang menerima Injil itu.
Siapa yang mempersoalkan bagaimana Yesus disampaikan ke dalam berbagai kebudayaan, bagaimana Ia melintasi bermacam­macam perbatasan, pertama-tama harus menyadari satu fakta bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Hal yang penting dan mendasar bagi orang Kristen masa kini, dari kebudayaan manapun ia berasal, ialah bagaimana ia dapat memahami Yesus dalam konteks keyahudian-Nya itu. Banyak sumbangan pikiran berharga dari orang Yahudi kini mencoba untuk “memulangkan” Yesus (Heim­hohlung Jesu) (Bab I), yang ditinjau dari banyak segi, sudah terasing dari latar belakang asli-Nya, yakni Yahudi.
Dalam dunia Islam Yesus bukan orang asing dan sangatlah penting jika disadari bahwa nama-Nya - juga di luar jangkauan pengaruh agama Kristen - di sebagian besar dunia Islam dikenal melalui gambaran “Kristus dari kaum Muslim ini” (Bab II).
Sejak abad ke-15 orang mulai menjelajahi bumi, maka Afrika (beberapa bagian baru untuk pertama kalinya) dan yang kemudian dinamakan Amerika Latin seakan-akan “dikunjungi” Kristus. Yesus yang bagaimana disampaikan kepada “dunia baru”, yaitu dunia orang Indian, dan bagaimana Ia disambut. Bagaimana “Kristus Spanyol” dibandingkan dengan “Yesus sebagai Pembebas” (Bab ini)? Dalam kurun waktu yang sama orang Eropa menerobos “kontinen hitam”. Perdagangan budak dimulai dan orang Afrika berkulit hitam dikapalkan ke “dunia baru”. Apakah Yesus “berkulit hitam” (Bab IV)? Bagaimana Ia dimengerti dalam konteks Afrika (Bab V)? Bagaimana Yesus yang “diserahkan” dari Eropa dibandingkan dengan Kwaku (di Suriname)? Suatu pertanyaan yang menarik, karena banyak orang “Kristen Afrika” itu kini tinggal di Belanda dan dikenal sebagai orang Suriname      (Bab VI). Bagaimana rupa Yesus berwajah Asia (Bab VII) yang sebenarnya juga negeri asal-Nya sendiri? Hal itu juga dipersoalkan dalam hubungan bagaimana Yesus dihubungkan dengan agama-agama yang terbesar di Asia, seperti Agama Hindu, Buddha dan Tao.
Bagaimana Yesus menempuh Jalan Raya India (Bab VIII), mengutip judul buku penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana hubungan Yesus dengan dunia Tao (Bab IX)?
Jelaslah bahwa tiap bab merupakan pokok bahasan tersendiri yang sangat luas. Dengan cara bagaimanapun tidak mungkin tercapai kesempurnaan. Namun diharapkan bahwa bahan yang dikemukakan dari ketiga benua, yakni Amerika Latin, Afrika dan Asia, cukup untuk sedikit banyak dapat menjawab pertanyaan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15) (Bab X). Di Kaisarea Filipi Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “Menurut kata orang, Anak Manusia itu siapa?” Bermacam-macam jawaban diberikan, bervariasi dari Yohanes Pembaptis, Elia sampai Yeremia atau salah seorang nabi. Lalu Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:13-16).”
Dari cerita yang sama menjadi jelas bahwa Petrus, yang karena pengakuannya itu dinyatakan bahagia, merasa kecewa atas pemberitahuan Yesus, bahwa Ia harus menderita - Enyahlah Iblis (Mat 16:23). Petrus kemudian menyangkal-Nya tiga kali (Mat. 26:69-75). Siapakah Yesus? Albert Schweitzer mengakhiri hasil penelitian yang sangat mendetail tentang sejarah penelaahan kehidupan Yesus dengan menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: “Sebagai orang yang tak dikenal dan tak ternama Ia datang kepada kita, sama seperti ketika Ia berdiri di tepi danau dan berbicara kepada orang-orang yang tidak tahu siapa Dia. Iapun kini berkata sama, “Ikutlah Aku!” Dan memberikan kepada kita tugas yang hendak Ia genapi dalam zaman kita ini. Ia memerintah. Dan kepada mereka yang patuh kepada-Nya, baik yang bijaksana maupun yang kurang bijaksana, Ia akan menyatakan diri di dalam perdamaian, pekerjaan, pergumulan dan penderitaan yang mereka boleh alami dalam persekutuan dengan Dia dan sebagai rahasia yang tak terkatakan mereka akan mengetahui siapa Dia.”

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...