Menyerahkan atau mengkhianati?
Yang menggugah hati ialah
bagaimana Perjanjian Baru menguraikan tugas rasuli dengan menggunakan kata
“menyerahkan” (paradidomi). Kata ini mempunyai arti ganda dalam bahasa
Yunani. Itu dapat berarti penyerahan dalam pengertian penyampaian, yaitu
penyerahan (turun-temurun) suatu tradisi, tetapi dapat pula berarti
pengkhianatan. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menggunakan
kata itu dengan kedua pengertian termaksud, dalam hubungan yang sama: “Sebab
aku serahkan kepada Saudara-saudara apa yang diserahkan Tuhan kepadaku,
yaitu bahwa Tuhan Yesus pada malam waktu Ia diserahkan (dikhianati),
mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia
memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu;
perbuatlah ini menjadi peringatan akan Akur Jelaslah di sini bahwa seorang
rasul adalah atau dapat menjadi oknum yang menyerahkan (sesuatu), juga dalam
arti pengkhianatan seperti apa yang diceritakan tentang Yudas.
Apakah para rasul dan
gereja-gereja sesudah itu, yaitu para penginjil dan para misionaris, telah
dengan setia menyampaikan dan memberitakan apa yang telah mereka lihat dan
dengar, atau mengkhianati Yesus dan Injil-Nya? (bnd. 1 Yoh 1:1-3). Hal itu
perlu dipersoalkan dalam hubungan dengan “penyerahan” Yesus di Eropa selama
berabad-abad. Apakah penyerahan itu diartikan pengkhianatan, bilamana Kristus
diperkenalkan seakan-akan Ia penguasa yang memberi kekuasaan kepada gereja dan
pemerintah? Apakah masuknya Konstantinus Agung ke dalam gereja Kristen bukan
suatu cara untuk mengintegrasikan kerajaan Romawi? Gambaran orang Byzantium
dari Kristus sebagai Pantokrator sendiri bisa dilihat sebagai ungkapan dari
kata-kata Matins 28:18, “KepadaKu diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.”
Akan tetapi bukankah tafsiran yang ada sesudah Konstantinus mengubah pengakuan
bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Jesos Khristos Kurios) itu, menjadi
gagasan yang membuat Kristus seorang Kaisar, yang rupanya mengakui keabsahan
kekuasaan seorang kaisar Kristen? Apakah kaisar menjadi lambang kemenangan
Kristus' di bawah pengaruh tafsiran Eusebius dan terjadikah sejak abad keempat
apa yang Heering sebut “kejatuhan agama Kristen ke dalam dosa”?' Bukankah
dengan demikian sudah tercipta suatu perbedaan besar antara Yesus yang dikenal
dari Kitab-kitab Injil, yaitu yang memberitakan Injil kepada orang miskin dan
Yesus dari kemenangan Konstantinus ini? Siapa yang menang, Yesus Kristus atau
kaisar itu? Bukankah yang dilupakan ialah bahwa dalam pengakuan yang asli,
yaitu “Yesus Kristus Tuhan”, yang dipentingkan adalah Tuhan (Kurios) yang
telah menjadi hamba (doulos) dan dengan demikian diberikan segala kuasa
di sorga dan di bumi dan akan menyertai murid-murid-Nya sampai kesudahan alam?
Oleh Choan Seng Song
ditunjukkan bagaimana pax romana diganti dengan pax christiana dan
bagaimana Yesus disampaikan bukan sebagai sahabat semua orang, terutama orang
miskin dan yang tertindas, melainkan sebagai kaisar dan penguasa, hakim,
filsuf, penguasa semesta alam dan yang memerintah segala-galanya. Demikianlah -
kembali hal itu dapat dilihat dalam karya-karya kesenian - menjadi jelas
bagaimana kandang yang hina diubah menjadi istana dan perawan yang suci itu dan
Yusuf yang baik budi menjadi kerabat istana.
Apakah “Kristus zaman
kolonial” yang “diserahkan” oleh orang Eropa dalam abad ke-15 kepada benua
Afrika, Amerika dan Asia tidak sering setaraf dengan “kejatuhan ke dalam dosa”
tadi?
Bukankah orang terlalu sering pergi ke sana dalam nama
Yesus Kristus bukan untuk melayani, tetapi untuk berkuasa? Bukankah itu yang
terutama dilakukan orang Spanyol dan Portugis, kemudian diikuti oleh bangsa
Eropa lain?
Dalam sebuah lukisan
Vicente Manansala dari Filipina tergambar peristiwa penanaman salib pertama di
Filipina. Pelukis itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana hubungan antara
“misi” dan “imperialisme”. Seorang imam memberkati suatu salib yang besar, yang
baru solo ditanam oleh buruh pribumi, sementara prajurit Spanyol memerintah
mereka dengan menggunakan senjata tombak. Bukankah pada waktu itu dan juga
sesudah itu, mereka dan banyak orang lain memutarbalikkan Injil Yesus Kristus
dan gambaran-Nya? Salib yang adalah tanda hukuman mati orang yang tidak
bersalah, disalahgunakan dan berfungsi sebagai pedang untuk melawan orang
Yahudi (yang memuncak dalam aksi pembantaian “Holocaust” oleh rezim Hitler),
melawan kaum Muslim (Perang Salib), melawan orang Indian dan orang kulit hitam
(perbudakan).
Leonardo da Vinci membuat
lukisan dari Perjamuan Malam Terakhir, yang kemudian menjadi sangat terkenal.
Apabila ada yang bertanya, “Yang mana Yudas dalam lukisan itu?”, tidak mudah
akan terjawab pertanyaan itu, kecuali kalau sudah terlebih dahulu diberikan
petunjuk-petunjuk tertentu. Lain halnya dengan lukisan-lukisan terdahulu dari
peristiwa tersebut, yang dibuat oleh pelukis-pelukis lain. Pertanyaan tadi akan
mudah terjawab, karena dengan jelas sekali Yudas digambarkan duduk terpisah
dari yang lain. Tidak demikian halnya dengan lukisan Leonardo. Ia telah
mengungkapkan peristiwa itu pada saat Yesus Kristus mengatakan, “Seorang di
antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu semua murid berkata, “Bukan aku, ya
Tuhan?” (Mat 26:22). Ternyata semua rasul, “yang pada hakikatnya memang yang
menyerahkan” (!), menganggap dirinya “pengkhianat” yang potensial. Dari
mulanya penyerahan dan pengkhianatan berkaitan erat.
Sebenarnya masih
merupakan suatu keajaiban bahwa Yesus Kristus tetap diberitakan (“diserahkan”),
walaupun Ia sudah banyak kali dikhianati. Namun apakah pernah ada penyerahan
tanpa pengkhianatan?
Dalam hal menelusuri
bagaimana Yesus disampaikan (“diserahkan”), diberitakan, diterjemahkan atau
juga dikhianati di luar Eropa, teristimewa sejak orang (yang dimaksud orang
Eropal menjelajahi bumi pada abad ke-15, maka ada dua hal yang perlu
dipermasalahkan. Pertama bagaimana Yesus digambarkan dan disampaikan
pembawa-pembawa Injil ke bagian-bagian dunia lain itu, dan yang kedua,
bagaimana Yesus disambut, dimengerti atau juga ditemukan oleh mereka yang
menerima Injil itu.
Siapa yang mempersoalkan
bagaimana Yesus disampaikan ke dalam berbagai kebudayaan, bagaimana Ia
melintasi bermacammacam perbatasan, pertama-tama harus menyadari satu fakta
bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Hal yang penting dan mendasar bagi orang
Kristen masa kini, dari kebudayaan manapun ia berasal, ialah bagaimana ia dapat
memahami Yesus dalam konteks keyahudian-Nya itu. Banyak sumbangan pikiran
berharga dari orang Yahudi kini mencoba untuk “memulangkan” Yesus (Heimhohlung
Jesu) (Bab I), yang ditinjau dari banyak segi, sudah terasing dari latar
belakang asli-Nya, yakni Yahudi.
Dalam dunia Islam Yesus
bukan orang asing dan sangatlah penting jika disadari bahwa nama-Nya - juga di
luar jangkauan pengaruh agama Kristen - di sebagian besar dunia Islam dikenal
melalui gambaran “Kristus dari kaum Muslim ini” (Bab II).
Sejak abad ke-15 orang
mulai menjelajahi bumi, maka Afrika (beberapa bagian baru untuk pertama
kalinya) dan yang kemudian dinamakan Amerika Latin seakan-akan “dikunjungi”
Kristus. Yesus yang bagaimana disampaikan kepada “dunia baru”, yaitu dunia
orang Indian, dan bagaimana Ia disambut. Bagaimana “Kristus Spanyol”
dibandingkan dengan “Yesus sebagai Pembebas” (Bab ini)? Dalam kurun waktu yang
sama orang Eropa menerobos “kontinen hitam”. Perdagangan budak dimulai dan
orang Afrika berkulit hitam dikapalkan ke “dunia baru”. Apakah Yesus “berkulit
hitam” (Bab IV)? Bagaimana Ia dimengerti dalam konteks Afrika (Bab V)?
Bagaimana Yesus yang “diserahkan” dari Eropa dibandingkan dengan Kwaku (di
Suriname)? Suatu pertanyaan yang menarik, karena banyak orang “Kristen Afrika”
itu kini tinggal di Belanda dan dikenal sebagai orang Suriname (Bab VI). Bagaimana rupa Yesus berwajah
Asia (Bab VII) yang sebenarnya juga negeri asal-Nya sendiri? Hal itu juga
dipersoalkan dalam hubungan bagaimana Yesus dihubungkan dengan agama-agama yang
terbesar di Asia, seperti Agama Hindu, Buddha dan Tao.
Bagaimana
Yesus menempuh Jalan Raya India (Bab VIII), mengutip judul buku penginjil terkenal
E. Stanley Jones. Bagaimana hubungan Yesus dengan dunia Tao (Bab IX)?
Jelaslah
bahwa tiap bab merupakan pokok bahasan tersendiri
yang sangat luas. Dengan cara bagaimanapun tidak mungkin tercapai kesempurnaan.
Namun diharapkan bahwa bahan yang dikemukakan dari ketiga benua, yakni Amerika
Latin, Afrika dan Asia, cukup untuk sedikit banyak dapat menjawab pertanyaan,
“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15) (Bab X). Di Kaisarea Filipi
Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “Menurut kata orang, Anak Manusia itu
siapa?” Bermacam-macam jawaban diberikan, bervariasi dari Yohanes Pembaptis,
Elia sampai Yeremia atau salah seorang nabi. Lalu Yesus bertanya: “Tetapi apa
katamu, siapakah Aku ini?” Maka Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak
Allah yang hidup!” (Mat 16:13-16).”
Dari cerita yang sama
menjadi jelas bahwa Petrus, yang karena pengakuannya itu
dinyatakan bahagia, merasa kecewa atas pemberitahuan Yesus, bahwa Ia harus
menderita - Enyahlah Iblis (Mat 16:23). Petrus kemudian menyangkal-Nya tiga
kali (Mat. 26:69-75). Siapakah Yesus? Albert Schweitzer mengakhiri hasil
penelitian yang sangat mendetail tentang sejarah penelaahan kehidupan Yesus
dengan menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: “Sebagai orang yang tak
dikenal dan tak ternama Ia datang kepada kita, sama seperti ketika Ia berdiri
di tepi danau dan berbicara kepada orang-orang yang tidak tahu siapa Dia. Iapun
kini berkata sama, “Ikutlah Aku!” Dan memberikan kepada kita tugas yang hendak
Ia genapi dalam zaman kita ini. Ia memerintah. Dan kepada mereka yang patuh
kepada-Nya, baik yang bijaksana maupun yang kurang bijaksana, Ia akan
menyatakan diri di dalam perdamaian, pekerjaan, pergumulan dan penderitaan yang
mereka boleh alami dalam persekutuan dengan Dia dan sebagai rahasia yang tak
terkatakan mereka akan mengetahui siapa Dia.”
No comments:
Post a Comment