Sunday, October 27, 2019
Thursday, October 10, 2019
Tuesday, September 10, 2019
TINJAUAN TENTANG PANDANGAN BANGSA ASIA PADA YESUS KRISTUS (Berry Mangowal S. Pd. K)

1. Kristus dan
penyangkalan diri
“Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya:
“setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16: 24
Penyangkalan diri bukanlah sebatas
lahiriah seperti yang tampak pada karakteristik kepercayaan kuno Asia maupun
kepercayaan Asia modern yang tampak pada Bhudisme, Hinduisme, dan kepercayaan
lainnya yang bersifat sukuisme. Namun kebanyakan agama juga menerjemahkan
penyangkalan diri sama halnya dengan cara agama sukuisme terjemahkan. Yaitu
dengan sikap menahan diri dari berbagai nafsu, nafsu makan, harta, dan badani. Menganggap
diri sudah melakukan penyangkalan diri jika sudah puasa, bertapa, meditasi,
peraturan dan pengasingan yang ketat dan sejenisnya. Padahal kata Firman Allah
lewat Paulus itu hanyalah bagian dari nafsu belaka juga yang diperuntukkan
kepuasaan manusia. Yah, PAulus telah menemukan inti batiniah manusia dalam
Kristus dan mendapati bahwa penyangkalan diri sejatai dan utuh itu ada di dalam
Kristus saja. Sifatnya tidak lahiriah seperti dunia dan agama dunia ajarkan
tetapi secara rohani batiniah diawali dari pemberian diri, penyangkalan diri kita,
kehendak kita apapun baiknya itu kepada kehendak Kristus atau pribadi Kristus
yang ada di dalam kita, yang hendak mengambil alaih diri dan hidup kita. Ini
bermuala dari dalam bukan usaha hati yang dianggap iman dan berimplementasi
keluar secara jasmaniah tetapi diawali dari ketundukkan pribadi kita kepada
RohNya di dalam kita baru nampak keluar lewat hidup kita. Ini bukan semata pada
perbuatan baik saja sebab dunia pun melakukan itu dalam apa yang mereka yakini
sebagai penyangkalan tetapi ini adalah soal adakah kita menikmati, mengakui,
dan menyatakan Kristus dalam segala apa yang kita perbuat.
Sangat menyedihkan gereja jaman ini juga
banyak yang menerjemahkan penyangkalan dan mengimani penyangkalan diri sebatas
secara lahiriah. Padahal perbuatan apapun itu jika tanpa dasar Kristus yang
ebnar di dalam diri pribadi kita maka hanya akan sia-sia, sebab tetap berada
pada tuntutan hukum taurat dan hukum dunia serta hukum dosa yang sebenarnya
sudah tidak berkuasa lagi atas mereka yang telah ada di dalam Kristus tetapi
seolah berkuasa sebab manusia itu sendiri yang masih banyak hidup searah dengan
tuntutan hukum itu. Padahal penyangkalan diri kepada Kristus seutuhnya akan
membuahkan kebebasan dan pembebasan sejati atas diri kita. Kita tidak lagi
melayani Dia dalam tuntutan hukum yang memberatkan diri terlebih jasmaniah
tetapi kita melayani Dia dalam kebebasan dan kebenaranNya yang telah menjadi
satu dengan kita, inilah Kristologi. Kristus yang bukan sebatas jadi ilmu bahan
keyakinan, bahan pembelajaran, bahan ujian, atau pendidikan tetapi menjadi
Kristus yang satu dengan kita. Ini yang dimaksud manusia Allah, anak Allah
dalam Kristus. Sebab berbeda antara anaka Allah dalam pembenaran yang masih
hidup dalam banyak tuntutan akibat belum masuk pada penyangkalan diri seutuhnya
dengan anak Allah yang sudah dalam Kebenaran yang membenarkan dan memerdekakan
dari segala tuntutan karena telah mengakui Kristus dan menyangkal diri untuk
Kristus, dari dalam batin/rohaniah dan bukan sebatas lahiriah/hati perasaan,
akal pikiran, dan jasmaniah perbuatan. Jika berawal murni dari Roh Kudus maka
Roh yang akan mengendalikan semua aspek diri manusia tersebut.
2. Kristus dan kesucian
diri
“Dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka,
supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17: 19
Dalam sebuah ibadah saya pernah memiliki
sebuah pengalaman di mana seorang pendeta sebelum masuk pada pemberitaan Firman
Tuhan menye,patkan untuk bertanya apakah ada di antara hadirin jemaat yang
sudah kudus atau suci. Ada dua orang menurut pendeta itu yang berani angkat
tangan, yaitu saya dan seorang lagi di sudut. Saya mendapati di mana-mana ketika
banyak orang Kristen yang masih lebih melihat ke arah diri sendiri saja dan
dalam pandangan dosa bukan pandangan Kristus padahal Kristus sudah ada di dalam
kita. Ini akibat dari tidak mengenal Kristus dengan benar dan dalam sebab tidak
mencari itu. Hanya sibuk dengan berbagai kepentingan dunia yang dibalut
ungkapan rohani dalam doa. Ini pula akibat dari tidak menikmati penyangkalan
diri secara batiniah dari dalam diri kepada Kristus, sebab jika kita telah
menikmati penyangkalan diri kepada Kristsu dan mengakui Dia maka kita akan
banyak berpandangan kepada Dia, bahkan seutuhnya kepada Dia. Dia yang
menguduskan kita sebagaimana tertera dalam ayat di atas dan banyak lagi ayat
Alkitab lainnya yang beberapa di antaranya saya uraikan di sini. Dari sini kita
mendapati bahwa kita jika sudah di dalam Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan
dan Juruselamat maka telah masuk dan menikmati hidup dalam pengudusan Allah.
Kita telah dikuduskanNya sebagai umatNya untuk melayani Dia dalam segala aspek
hidup kita. Kita tidak mungkin ada seperti saat ini dalam pengiringan akan Dia
jika tanpa dikuduskan terlebih dahulu olehNya. Imamat Rajani, umat pilihan, ini
jelas berbiacara dan mewakili pengudusanNya yang ada bagi kita sebagai
anak-anakNya. Kita disebut anak sebab telah dikuduskanNya. Namun manusia
duniawi dengan pikiran yang masih banyak lahiriah dosa, akan lebih memandang
kepada keadaan dosa dirinya padahal dia telah ada dan hidup dalam pengudusan.
Terlebih duniawi lagi dan terlebih bodoh lagi mereka yang lantas menerjemahkan
bahwa jika demikian kita dikuduskan maka sebebasnya berbuat dosa. Inilah
kedangkalan iman yang sebenarnya bukan iman. Ini akibat dari tidak adanya
penyangkalan diri kepada Kristus secara batiniah dalam Roh. Penyangkalan yang
hanya bersifat lahiriah yaitu berdasar pada perasaan hati, niat pikiran, dan
usaha lahiriah. Penyangkalan yang sungguh dan membebaskan adalah adanya Kristus
mengawali di dalam batin kita, RohNya menguasai diri kita, hati perasaan, akal
pikiran, dan tubuh perbuatan kita.
“Dan beberapa orang di antara kamu telah
memberi dirimu disucikan , kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam
nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
1 Korintus 6: 11
Ini jelas bahwa kita dikuduskanNya, sebab
tiada seorangpun di dunia ini yang oleh kehendak kemauan sendiri dan perbuatan
sendiri sebaik dan sebanyak apapun itu lalu sanggup menguduskan dirinya
sendiri. Adakah? Maka dari itu kita harus menerima Kristus, yang adalah Allah
yang menguduskan diriNya bagi kita, ini bukan Dia tidak Kudus tetapi sesuai
ayat di atas yang menulis demikian. Bahwa ini adalah dedikasi Allah yang
mempersembahkan diriNya bagi kita lewat Yesus Kristus. Yesus Kristus pula
adalah timbal balik dari manusia atau mewakili manusia kepada Allah, yaitu sebagai
Manusia yang menguduskan diriNya kepada Allah. Agar lewat Kristus manusia dapat
diterima di hadapan Allah dan Allah dapat diterima di hadapan manusia. Sebab
tanpa lewat Kristus maka Allah tidak bisa menjangkau manusia secara utuh dalam
penyelamatan. Inilah Kristologi, Kristus yang adalah kesinambungan serta
hubungan antara Allah dan manusia, yang nyta di dalam Dia.
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan
Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan,
kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”
Kolose 3: 12
“Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang
dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu
menyebut mereka saudara.
Ibrani 2:11
“Dan karena kehendakNya inilah kita telah
dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus
Kristus.”
Ibrani 10:10
“Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai
dengan rencana Allah, BApa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,supaya taat
kepada Yesus Kristus dan menerimapercikan darahNya. KiraNya kasih karunia dan
damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”
1 Petrus 1:2
Beberapa ayat di atas jelas menyatakan bahwa
Kristus yang menguduskan kita agar kita sudah kudus dan layak ada dalam area
penyertaan dan pelayanan akan Dia dan bukan sebaliknya. Langkah awalnya adalah
dari Dia yang berkenan mencari kita untuk menguduskan kita yang mau datang
menerima Dia. Bukan karena perbuatan baik kita tetapi kasih karuniaNya agar
tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Sebab Kekudusan sesuai standar
kebenaran Allah tidak akan ada manusia manapun yang sanggup memenuhinya dan
selamat kecuali Yesus Kristus yangs sudah mewakili manusia di hadapan Allah dan
mempersembahkan diriNya sebagai Korban yang kudus dan tidak bercacat cela. Di
dalam Dia kita dikuduskanNya dan kita sudah ada dalam kekudusan. Manusia yang
masih berorientasi pada dosa dan hukum taurat meskipun tampak rohaniah, mereka
sesungguhnya masih akan sulit mengakui dan menerima kekudusan Allah yang sudah
ada dan tinggal di dalam dia.
3. Kristus dan meditasi
atau ketenangan diri
“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena tu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
1 Petrus 4:7
“Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah
padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan.”
Matius 11: 29
“Ia pun bangun, menghardik angin itu dan
berkata kepada danau itu: “diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu
menjadi teduh sekali.”
Markus 4: 39
Kepercayaan banyak bangsa dan dalam hal
ini kepercayaan bangsa Asia menganggap bahwa ketenangan seutuhnya dan
semata-mata hanya didapati dalam semedi atau pertapaan. Suatu gaya hidup
mengasingkan diri dari keramaian dunia dan penuh perenungan dalam segenap tapa.
Ini nampak jelas dari perjalanan sang Budha dan para pendeta Hindu. Di Israel
terkenal kalangan essenis yang hidup mengikuti jejak rasul Yohanes secara
harfiah dan lahiriah. Mereka mengungsikan diri di gua-gua terpencil dan hidup
jauh dari keramaian. Sehari-hari membaca taurat dan merenungkan serta berdoa
dalam sajak kitab para nabi. Mereka melakukan berbagai puasa dan penyangkalan
diri yang ketat demi mencapai ketenangan.
Tao, zen, dan yoga adalah beberapa sistem
kepercayaan atau gaya kepercayaan Asia yang menonjolkan sisi ketenangan batin
yang dicapai dengan metode pengosongan diri dan pikiran untuk mencapai
ketenangan. Sebenarnya setenang apapun tampak pada diri manusia, adakah manusia
yangbenar-benar tenang dalam hidupnya? Manusia hanya sanggup menilai ketenangan
dari keadaan jiwa hati dan akal manusia yang tampak beristirahat dan diam.
Situasi yang melegakan dan hening dianggap sebagai kunci ketenangan. Tetapi
ketenangan sejati hanya ada dan nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Ketenangan
yang diwujudnyatakan Allah dalam Yesus itu nampak dalam segala aspek hidup.
Tidak hanya saat bermeditasi atau berdoa puasa dalam keheningan terus disebut
tenang, tidak pula hanya di saat beribadah, mengajar, atau sikap baik maka itu
disebut tenang, tetapi ini mengenai bagaimana Ketenangan itu adalah Dia itu
sendiri, Pribadi Allah yang hadir dalam ketenangan. Ini berbicara di mana kita
masuk untuk mengenal kesempurnaan Kristus yang memiliki segalanya dan sumber
segalanya. Dialah Kasih, Dialah Ketenangan, Dialah Keberanian, Dialah Iman.
Inilah kebenaran hakiki tentang pribadi Allah dalam Kristus. Banyak kali
ungkapan Allah sebagai sumber segalanya dan memiliki segalanya hanya
diterjemahkan sebatas lahiriah di mana Dia memiliki dunia ini, semua alam dan
langit, serta nafas hidup dan jalan hidup manusia. Tetapi karena gagal
mendapati Kristus secara pribadi secara utuh maka manusia lupa untuk mengakui
bahwa Dia juga sumber dan memiliki segala aspek kebenaran hidup dan kedamaian
hidup. Itulah hal paling utama dan hakiki sebagai Allah. Inilah bedanya antara
Allah dalam Yesus Kristus dan allah-alah berbagai kepercayaan dunia yang
ternyata hanya berisikan keyakinan yang bersifat lahiriah semata. Kekristenan
tanpa mau mendalami Kristus dan mengakui Kristus maka akan bersifat seperti
kepercayan allah-allah dunia yang sifat keyakinan dan ketuhanannya hanya
sebatas lahiriah. Memandang Tuhan hanya
sebatas lahiriah dan sebatas perasaan dan pikiran saja, tidak bermuara dari
batin dan roh.
4. Kristus dan kesatuan
kebenaran yang ada di dalam Dia
“Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5: 23
Saya beri contoh satu ayat yang amat
sering kit abaca seperti di atas seputar bagaimana menjelaskan suatu keutuhan
kebenaran Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Bagaimana itu sebenarnya
berbeda jauh dengan apa yang manusia miliki. Mari kita lihat saya jabarkan
satu-persatu kesembilan sikap yang dinyatakan sebagai buah Roh dalam kitab
Galatia.
1. Kasih
2. Sukacita
3. Damai sejahtera
4. Kesabaran
5. Kemurahan
6. Kebaikan
7. Kesetiaan
8. Kelemahlembutan
9. Penguasaan diri
Jika kasih milik manusia
maka belum tentu dalam kasih manusia itu ada tercakup sukacita, damai, ataupun
kesabaran dan kedelapan hal lainnya. Demikian pula dengan sukacita, jika itu
sukacita manusia maka belum tentu akan terdapat kasih dalam sukacita itu, belum
tentu terdapat sabar, ataupun kesetiaan dalam sukacita itu. Hal ini sama halnya
dengan buah-buah yang lain. Milik manusia itu bukan sejatinya, bukan kebenaran,
berasal dari hukum dosa, dari buah yang cemar, tidak berkesinambungan tetapi
terpisah. Ingatlah setan sejak membawa dosa ke dalam dunia terutama dosa itu
masuk dan merasuk dalam diri manusia sehingga kekacauan yang terjadi oleh
karena dosa bukan berinti atas apa yang terjadi di luar kita tetapi intinya
berawal dari apa yang terjadi di dalam diri kita di mana setiap aspek roh, jiwa
(perasaan dan pikiran), serta tubuh badaniah keinginan jasmani manusia menjadi
terpisah. Termasuk setiap sikap dan buah perbuatannya. Ini makanya dikatakan
tidak ada seorang pun benar sebab apapun sikap manusia itu bermula dari yang
cemar, yang kacau, yang terpisah. Kesabaran manusia bisa saja sebenarnya buah dari ketidaksabarannya namun muncul
dalam sikap yang seolah sabar. Kita butuh Pribadi yang kuat, yang utuh, dan
sempurna untuk dapat memurnikan setiap sikap dan aspek hidup kita dari dalam
batin. Kita butuh Yesus Kristus.
Milik Allah itu satu dan utuh, saling
berkesinambungan dan terikat satu dengan yang lain. Kasih Yesus sudah mencakup
kedelapan buah lainnya hanya sikap yang nampak secara jasmani erat dengan
kasih. Begitu pula untuk sukacita, di dalamnya berisi kasih, kelemahlembutan,
kesabaran, dan seluruh buah roh lainnya yang utuh dalam satu perbuatan tindakan
yang tampak jasmani berwujud sukacita. Pahamkah saudara? Inilah Buah Roh yang
sebenarnya yang diberikan Allah kepada kita lewat Yesus Kristus yang telah
menyatakannya bagi kita. Buah Roh ini sebenarnya menyatu dengan Kristus dan
adalah Kristus itu sendiri. Apa itu Kasih? Kasih itu Kristus. Apa itu Damai?
Damai itu Kristus. Begitu selanjutnya dengan buah-buah yang lain. Buah manusia
beda jauh dengan buahNya Allah yang ada di dalam Kristus. Makanya sempat saya
singgung sebelumnya bahwa ada perbuatan baik yang dalam pembenaran kasih
karunia karena sudah di dalam Kristus, dan ada saatnya jika kita mau masuk
lebih dalam dan menyatu dengan Kristus di mana perbuatan itu bukan lagi
perbuatan baik yang dibenarkan tetapi perbuatan Kebenaran, Buah Roh yang
sesungguhnya. Penjabaran di atas bukan hanya berlaku dalam buah Roh saja
melainkan dalam keseluruhan aspek nubuatan, perumpamaan, dan perbuatan hukum
yang tercantum dalam Alkitab, sebab kesemuanya itu ada dan satu di dalam
Kristus. Itulah sebabnya DIa kita yakini sebagai Pribadi yang sempurna dan
benar yang menyempurnakan segenap Firman Allah dan menggenapi segenap isi
Firman Allah. Inilah kedalaman dan keluasan Kristus, inilah Kristologi sejati.
PANDANGAN GANDHI TENTANG KRISTUS
Salah satu dari lagu-lagu
kegemaran Gandhi adalah “Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia ...” (When
I survey the wondrous cross on which the Prince of glory died). Konon
diceritakan, bahwa ia sangat terharu oleh gambar Kristus yang disalib, karena
ia memakai cawat yang melilit pinggang dan mirip sekali dengan seorang petani
India yang disalib.
Mahatma Gandhi melihat
Yesus sebagai satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang
tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus,” demikian kata Gandhi,
“tercakup dalam Khotbah di Bukit. Jiwa dari Khotbah di Bukit berpacu hampir
sama seperti Bhagavadgita untuk menawan hatiku. Khotbah itu yang membuat Yesus
Kristus sangat tercinta bagiku. Ketika saya membaca Khotbah di Bukit, terutama
pasal-pasal seperti 'Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu',
saya begitu bahagia, karena merasa pandanganku dikuatkan, justru di mana saya
tidak harapkan. Kitab Bhagavadgita memperdalam kesan itu dan karya tulis
Tolstoy yang beijudul Kerajaan Allah ada di antara kamu memberikannya
bentuk yang tetap. Tokoh Kristus yang lemah lembut, begitu ramah dan penuh
kasih, penuh pengampunan, sehingga Ia mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk
tidak membalas, jika mereka dihina atau dipukul, tetapi harus memberikan pipi
yang lain; suatu contoh yang indah dari manusia sempurna, pikirku.”
Ia mengakui Yesus sebagai
martir, penjelmaan dari pengorbanan sejati dan ia melihat salib sebagai
teladan yang agung bagi dunia. “Walaupun saya tidak berhak untuk menyebut
diriku Kristen dalam arti kata sektaris, toh contoh yang diberikan Yesus dengan
penderitaan-Nya, merupakan faktor yang penting dalam pembentukan dasar
kepercayaanku pada anti-kekerasan (ahimsa). Ia menguasai seluruh
tindak-tandukku, baik yang duniawi atau yang sementara. Hidup dan kematian
Yesus sia-sia, jikalau Ia tidak menkar kita, bahwa jalan hidup kita hendaknya
ditentukan oleh hukum kasih yang abadi.”
Dalam hal itu Gandhi
tidak merasa tertarik kepada Yesus yang historis. Ia tidak peduli, bilamana
kelak ternyata atau dibuktikan bahwa Yesus tidak pernah hidup. “Khotbah di
Bukit akan tetap merupakan kebenaran bagiku.” Ia melihat kelahiran, kematian
dan kehadiran Kristus yang tak henti-hentinya, tidak sebagai kejadian historis,
tetapi sebagai kejadian abadi yang berulangkali terjadi dalam kehidupan moral
setiap insan atau persekutuan yang terkait dengan kasih yang luau berkorban.
“Selama masih ada kerinduan yang tak terobati, selama Kristus belum dilahirkan,
kits harus menunggu kedatangan-Nya... Kita tidak akan memperingati suatu hari
tertentu sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi kita merenungkannya sebagai
suatu peristiwa yang berulangkali dapat terjadi dalam setiap kehidupan ...
Allah tidak hanya memikul salib 1900 tahun lalu, tetapi pada hari ini juga, dan
Ia mati dan bangkit pada hari ini juga, demikian juga dari hari ke hari.”
Gandhi menolak gagasan
pendamaian ilahi dan pengampunan melalui Yesus Kristus. Ia tidak bersedia
menerima dengan akal budinya bahwa secara harfiah Yesus menanggung dosa dunia
oleh karena kematian dan darah-Nya. Hatinya menolak untuk menerima bahwa dalam
kematian Yesus di kayu salib terkandung “suatu kebajikan yang misterius dan
ajaib”. Gandhi berpendapat bahwa gagasan anugerah Allah melalui Kristus, yang
membebaskan manusia dari hukum, merupakan sumber untuk hidup dalam percabulan.
Gagasan untuk memberikan tempat yang tunggal kepada pribadi dan pekerjaan Yesus
Kristus, dalam kemajuan umat manusia secara moral dan spiritual, tidak mungkin.
Ia bersedia memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak guru dan nabi
umat manusia, bahkan sebagai salah satu dari sekian banyak nama dan penjelmaan
Allah. Tetapi kedudukan itu tidak berarti bahwa sifat ilahi-Nya, tindakan
pendamaian-Nya atau perantaraanNya antara Allah dan umat manusia tiada
bandingannya. “Hanya Allah yang mutlak sempurna.” Gandhi percaya bahwa wahyu
bukan hak tunggal suatu bangsa atau suku. “Hanya ada satu Allah, tetapi banyak
jalan menuju kepada Dia.” Kebenaran yang tertinggi tidak memerlukan komunikasi,
karena ia bergerak maju dari tabiatnya sendiri. Dengan tenang ia memancarkan
pengaruhnya, seperti bunga mawar bau harumnya, tanpa perantaraan”. Ia tidak
percaya kepada orang-orang yang menceritakan kepada orang lain tentang iman
mereka, karena iman itu harus dihayati, dengan demikian akan menyebar sendiri.
Pemikiran Gandhi
bersumber terutama pada gagasan kesemestaan Kristen, sebagaimana ia menanggapi
Kristus sebagai lambang hukum abadi anti-kekerasan (ahimsa), yang
diungkapkan dalam Khotbah di Bukit. Oleh karena itu, menurut dia, agama Kristen
pada dasarnya adalah suatu cara hidup bare, bukan suatu agama Di mana hukum
kasih dilaksanakan di situlah agama Kristen berada. Bukan kristologinya, tetapi
etikanya menghantar pada kebenaran. Etika adalah dasar agama Kristen dan itu
sama halnya dengan semua agama.
Bukan orang yang berkata
Tuhan, Tuhan yang adalah orang Kristen (bnd. Mat 7:21), tetapi orang yang
melakukan kehendakNya. Dialah Kristen sejati. Apakah mungkin orang yang belum
mendengar nama Yesus Kristus dapat melakukan kehendak Tuhan? Adalah keyakinan
Gandhi, bahwa ketika gereja mendapat bantuan dari Kaisar Romawi, agama Kristen
berubah menjadi kepercayaan “imperialistis”. Ia berpendapat bahwa orang Kristen
India harus melepaskan diri dari kebudayaan Barat, yang didasarkan pada
kekerasan dan materialisme.
GAMBARAN AGAMA-AGAMA DI ASIA SAAT INJIL KRISTUS MASUK

Sebelum mempelajari lebih
lanjut gambaran Asia tentang Kristus dalam berbagai negeri di Asia, seperti
India dan Cina, ada baiknya jika diberikan beberapa penjelasan mengenai
batas-batas agama dan budaya yang ada di Asia. Dalam hubungan ini Aloysius
Pieris menunjuk pada tiga hal, yakni:
1.
Aneka ragam bahasa di Asia;
2.
Integrasi dari unsur-unsur kosmis dan metakosmis dalam agama-agama di Asia
(untuk ini dipakai pembedaan antara lokiya dan lok'uttara dalam
Buddhisme);
3.
Kehadiran ajaran-ajaran soteriologis non-Kristen (ajaranaran keselamatan)
yang mempunyai pengaruh luar biasa.
Pertama-tama Pieris
menyebut tujuh daerah bahasa besar yang berbeda, yaitu bahasa Semit, Ural-Alta,
Indo-Iran, Dravida, Sino Tibet, Melayu-Polinesia dan Jepang. Pieris melihat
bahasa sebagai cara baru untuk mengalami kebenaran. Ia berpendapat hal itu
mengandung arti, bahwa pluralisme bahasa merupakan petunjuk bagi
keaneka-ragaman agama-budaya dan sosial politik. Bahasa adalah pengalaman dari
kenyataan agamawi yang diungkapkan dengan agama. Ia kemudian mempertanyakan apa
sebenarnya keberadaan hakiki yang dikandung kebudayaan melalui bahasa dan
lambangnya sendiri. Ia menegaskan, bahwa bukan hanya kitab-kitab suci seperti
Kitab-kitab Veda harus diberi perhatian, tetapi terutama bahasa rakyat. Dengan
demikian akan ditemui dasar-dasar kebenaran yang digumuli oleh setiap agama.
Kerangka yang membatasi dunia keagamaan di Asia,
menurut pandangannya, terdiri dari dua unsur:
a. agama kosmis, yang
berfungsi sebagai dasar dan
b. soteriologi meta-kosmis
yang merupakan bangunan induk.
Yang disebut “agama
kosmis” adalah yang dulu dikenal dengan nama “animisme”. Yang dimaksudkan di
sini ialah pendirian dasar yang secara psikhologis dipegang manusia religius (homo
religiosus) menghadapi rahasia kehidupan. Dalam hubungan ini ditunjuk
kekuatan kosmos seperti panas, api, angin, badai, tanah, gempa bumi, lautan,
hujan, banjir, yang kita butuhkan dan kita takuti. Unsur-unsur yang membentuk
kepercayaan ini ialah ritus, upacara sekelompok perantara. Kepercayaan ini
boleh dikatakan sudah menetap di Asia dan sudah membaur dengan agama Hindu,
Buddha dan Tao, yang oleh Pieris disebut tiga agama meta-kosmis.
Menanamkan “agama-agama
yang mempunyai kitab” seperti agama Islam di Indonesia dan agama Katolik Roma
di Filipina, menurut Pieris agak lebih gampang karena kepercayaan-kepercayaan
kosmis di sini didapatkan hampir utuh seluruhnya. Kalau perkawinan antara
kepercayaan kosmis dan kepercayaan metakosmis dapat dilaksanakan seperti di
Sri Langka, India, Birma dan lain-lain, maka baik agama Islam maupun Kristen
tidak dapat menghapuskan kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Mengenai agama Buddha is
berpendapat bahwa agama tersebut tersebar di seluruh Asia dan telah masuk di
dalam hampir seluruh daerah bahasa (bahkan untuk beberapa waktu ke dalam daerah
bahasa Semit pada waktu Kaisar Asyoka mengadakan misi ke Siria dalam abad ke-3
sM.). Dalam 20 daerah di Asia, agama Buddha adalah agama resmi atau faktor
kultural yang sangat berpengaruh. Perkembangan agama Hindu dan Tao di pihak
lain, hanya terbatas pada satu kelompok linguistik yang sama.
Pieris kemudian - pokok
yang ketiga - menunjuk pada kehadiran dari ajaran-aran keselamatan
'non-Kristen' yang sangat berpengaruh. Ia berhenti pada citra pelembagaan agama
Buddha dengan penghayatan kepercayaan yang berdimensi kosmis dan meta-kosmis.
Menyelidiki sumbangan
pikiran dari lebih banyak teolog Kristen (bahkan juga dari yang “bukan
Kristen”) dan pemikir-pemikir mengenai citra Asia dari Yesus Kristus, tentu
akan merupakan suatu usaha yang sangat menarik. Dalam hubungan ini hendaknya
dipikirkan antara lain tentang Jepang.
Dalam tahun tahun yang
sulit, sesudah Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan, K. Kitamori
menulis tentang yang is sebut teologi penderitaan Allah. Belum lama berselang,
karya-karya tulis Kosuke Koyama menjadi terkenal. Menanggapi pandangan
Kitamori, Tsutomu Shoji menulis bahwa teologi ini selaras dengan perasaan
kepahitan hidup yang dialami bangsa Jepang selama masa pemerintahan para
Samurai dan militerisme yang berkepanjangan. Namun, katanya, pengertian dari
pemberitaan Injil seperti itu, terbatas terutama sampai pada taraf psikologis
dan pribadi serta tidak membuka mata orang Kristen terhadap keadaan sosial
sebenarnya, yakni penderitaan oleh rakyat. Oleh karena itu konsep pembebasan
juga terbatas hanya sampai pada tingkat itu. Teolog yang lain, Takizawa Katsumi
juga menjelaskan, bahwa peristiwa “Imanuel” yang ash meminta keterlibatan
teologis dan politis dalam menghadapi masalahmasalah masa kini.
Kemudian dapat saja
dibicarakan mengenai sumbangansumbangan pada “kristologi” Asia dari Korea dan
Indonesia. Di sini yang dibicarakan secara lebih rinci hanya mengenai
gambaran-gambaran Kristus di India dan dalam konteks “Cina”.
“Kristus pada Jalan Raya
India” (Christ of the Indian Road) adalah judul buku yang menarik, yang
ditulis oleh penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana Yesus ditanggapi
dan bagaimana Ia melalui jalan-jalan India?
Sidang Raya III Dewan
Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1961 di New Delhi, adalah sidang raya Dewan
Gereja-gereja se-Dunia yang pertama dan yang sampai sekarang satu-satunya
diadakan di Asia. Pada sidang itu dibicarakan mengenai kebutuhan yang mendesak
untuk berdialog kembali dengan agama-agama yang sedang berubah-ubah. “Kita
harus berbicara dengan mereka tentang Kristus dengan menyadari bahwa melalui
kita Kristus berbicara kepada mereka dan melalui mereka berbicara kepada
kita.”' Dalam hubungan dengan India sudah sejak lama ada respons terhadap
Kristus? Stanley Samartha membedakan tiga sikap, yaitu memberikan jawaban
kepada Kristus tanpa penyerahan diri, jawaban serta penyerahan diri oleh mereka
yang tetap tinggal di luar gereja-gereja yang dilembagakan, dan respons oleh
mereka yang menjadi anggota gereja.
Yang masuk kategori
pertama, yakni mereka yang memang menjawab panggilan Kristus, tetapi tetap
memeluk agama Hindu, antara lain Raja Mohan Roy (1772-1833). Ia menggarap suatu
kristologi tentang Kristus, yang bermoral serta berlatar belakang teisme India.
Selanjutnya dapat disebut juga “Kristus yang bersifat mistik” dari Sri
Ramakrishnan (1836-1886). Yang terakhir ini mendapat penglihatan dari Kristus.
Ia percaya bahwa Kristus adalah penjelmaan Allah, tetapi bukan satu-satunya
penjelmaan. Penjelmaan yang lain adalah Buddha dan Krishna. Contoh lain dari
“respons” tanpa “ikatan” seperti disebut Samartha, dalam arti kata tidak
terikat pada gereja, adalah Mahatma Gandhi.
SEPERTI APA GAMBARAN KRISTUS SAAT DIBERITAKAN PADA BANGSA ASIA?

Dalam
gambaran tentang Perjamuan Malam Terakhir, seniman Bengali Jamini Roy
(1887-1972), melukiskan Kristus dengan mata besar termangu-mangu bagaikan mata
ikan. Oleh beberapa pihak gambaran ini dihubungkan dengan ikan yang tidak
rnempunyai kelopak mata, jadi tidak pernah berkedip-kedip. Dengan demikian
melambangkan betapa Allah senantiasa siap sedia untuk melengkapi kebutuhan umat-Nya!
Dalam Bagian ini
pembahasan ditujukan kepada gambaran atau gambaran-gambaran Kristus di Asia.
Setelah diberikan suatu keterangan singkat mengenai gereja-gereja tua di sana,
disinggung sedikit mengenai “Kristus yang kolonial”, yang diserahkan kepada
Asia. Kami mengemukakan secara ringkas konteks agama Asia yang terutama
pluralistis (vii), setelah itu beberapa gambaran dipilih dari sekian banyak
kristologi dan gambaran tentang Kristus dibahas secara mendetail, yakni dari
seorang teolog Katolik-Roma [Raymond Panikkar] dan seorang teolog Protestan
[Stanley Samartha] (viii). Dalam bagian terakhir dibicarakan mengenai arti
Yesus dalam hubungan dengan ajaran Tao, menurut karya teolog Korea, Yang Young
Lee.
Yesus datang dari Asia.
Dan segera terdapat gereja-gereja Kristen di berbagai tempat di Asia. Gereja
yang paling misioner dalam abad-abad pertama ialah Gereja Nestorian, yang
berkembang sampai ke Cina. Namun dalam abad-abad kemudian gereja ini lenyap
juga dari bagian-bagian besar dari benua ini. Peristiwa ini juga disebut
“Gerhana matahari” dari agama Kristen di Asia. Di Asia Barat atau Timur Tengah
gereja-gereja purba tersisa dalam wujud yang disebut Gereja-gereja Ortodoks,
yaitu Gereja Ortodoks Siria (Siria, Libanon dan Turki), Gereja Nestorian atau
Assyria (terutama di Irak), kaum Maronit (Libanon) dan orang-orang Armenia.
Dari seluruh benua Asia,
tempat tinggal 60% dari penduduk dunia dan 75% dari orang miskin sedunia, hanya
2% dari penduduknya beragama “Kristen”. Bagian terbesar dari jumlah itu terdapat
di Filipina dan Indonesia, dua negara yang merupakan pengecualian dari “hal
yang lazim” di Asia. Dapat dikatakan bahwa penduduk Amerika Latin diperkirakan
seluruhnya beragama Kristen dan di Afrika, terutama sebelah selatan gurun
Sahara, yang adalah bagian terpenting, juga Kristen. Tetapi di Asia keadaannya
sama sekali lain. Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana Yesus
ditanggapi, sekaligus merupakan pertanyaan tentang bagaimana hubungan Yesus
Kristus dan gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lain di Asia. Yang
dimaksudkan terutama agama-agama “besar” seperti agama Hindu, Buddha dan ajaran
Tao, yakni “ajaran-ajaran keselamatan”, yang berbeda dengan agama Kristen.
Teolog Asia yang berasal
dari Sri Langka, Aloysius Pieris menulis: “Ke mana pun kita cari untuk mendapat
Kristus yang berwajah Asia, tidak akan berhasil, bilamana kita tidak ikut serta
dalam usaha pencarian bangsa Asia sendiri, dalam jurang yang amat dalam dari
mana agama dan kemiskinan sama-sama berasal: yaitu pada 'Allah yang telah
menyatakan Mammon sebagai musuhNya' (Mat 6:24).” Pada kesempatan yang lain
Aloysius Pieris menyatakan bahwa gereja di Asia hanya dapat menjadi
gereja milik Asia, jika dua kenyataan yang besar dari Asia ia perhatikan, yakni
kemiskinannya dan keberagamaannya. Ia berpendapat bahwa sumber kegagalan dari
agama Kristen di Asia - untuk jelasnya, usaha zending dan misi yang terakhir -
harus dicari dalam penggabungannya dengan Mammon itu, pemerasan komersial dan
kolonial serta penolakan gereja untuk menerobos ke dalam keberagamaan bersifat
kebiaraan yang ia sebut sebagai “soteriologisoteriologi (ajaran keselamatan)
bukan Kristen”.
Kristus
kolonial di Asia
Kristus yang dibawakan
para penginjil dan misionaris sering berhubungan erat dengan kolonialisme,
walaupun tidak senantiasa. Kebanyakan yang diberitakan adalah “Kristus yang
menentang kebudayaan dan agama” (a), mengutip ungkapan Niebuhr, dan Ia juga
Kristus yang menindas (b).
a. Dalam
era pengembangan gereja-gereja Eropa, Kristus “kolonial” bermusuhan dengan
agama agama dari Dunia Ketiga yang dianggap agama-agama palsu. Bahkan pekerjaan
Roberto de Nobili dan Mattheo Ricci tidak dikecualikan. Roberto de Nobili,
anggota ordo Yesuit, pada 1606 di India membela peran serta orang-orang Kristen
dalam perayaan-perayaan I lindu seperti Hari Raya Pongal. Ia mengusulkan agar
orang Kristen memasak nasi basil panen yang pertama, di kaki salib yang memang
dipasang untuk maksud itu. Namun pendekatannya itu hanya bertujuan agar agama
Kristen dalam bentuk-bentuknya yang nyata, tidak akan menimbulkan masalah. Ia
tidak berusaha untuk menyesuaikan teologinya. Bagi dia, hanya teologi dari
zaman itu, yakni teologi Trente, yang berlaku.
Pada tahun
1706 Bartholemeus Ziegenbalg, penginjil Protestan pertama tiba di India. Dalam
laporannya Remarkable Voyage (tidak dicetak) is menulis: “Saya tidak
menolak semua apa yang mereka peNari, tetapi lebih dari itu saya bergembira
karena mengetahui bahwa di antara orang kafir dahulu kala cahaya kecil dari
Injil sudah mulai bersinar”. Ia menghendaki agar pembaca di Eropa melihat:
“Betapa jauh mereka berkembang, karena diterangi oleh akal budi dalam
pengetahuan mengenai Allah dan tata alam, serta bagaimana mereka sering
mempermalukan banyak orang Kristen karena sifat kejujuran mereka, sebagai sikap
hidup mereka dan bagaimana mereka berhasrat besar untuk mencapai kehidupan yang
akan datang”.” Namun penghargaan terhadap “agama-agama alam” dan “akal budi”
semacam itu, sekalipun sangat dipengaruhi pandangan abad ke-17 dan ke-18, pada
zaman itu belum dimengerti orang. Apa yang dikatakan A.H. Francke (1663-1727)
tak dapat disangsikan lagi, yang adalah pandangan penginjil-penginjil Barat
pada umumnya untuk waktu yang cukup lama, “Para penginjil diutus untuk
memberantas agama kafir di India, bukan untuk menyebarkan kekafiran yang tidak
ada gunanya di Eropa.”
b.
Tidak dapat disangkal bahwa sering terjadi suatu
“persekutuan yang tidak suci antara para misionaris, tentara dan pedagang-pedagang”.
Agama Kristen “yang bersifat perdagangan” telah memasang salib di Asia dengan
bantuan penguasa-penguasa kolonial dari luar negeri.” Jikalau kaum Katolik Roma
telah membawa Kristus ke Asia, sebagaimana Ia dikenal oleh orang Spanyol, Portugis dan
kemudian orang Perancis, Italis, Belgia, Irlandia dan Amerika Utara, maka kaum
Protestan membawa serta versi Anglo-Saksis agama Kristen.” Kristus dibawa serta
ke Asia dalam hubungan dengan kolonialisme, oleh karena itu tentu saja tidak
banyak kritikan terhadap eksplotasi rakyat. Demikian teolog Katolik Roma dari
Sri Langka, Tissa Balasuriya. Orang bicara tentang rencana “pembebasan” Allah,
tetapi yang sebenarnya dimaksudkan ialah pesan bagi emansipasi atau pembebasan
secara pribadi saja. “Kristologi” dikembangkan ke arah individualisme. Yesus
mementingkan perubahan hati, bukan perombakan masyarakat. Tissa Balasuriya
menegaskan kemudian, bahwa teologi itu lebih memusatkan perhatian pada gereja
daripada Kristus, atau bahkan Allah. Dalam abad ke-19 para misionaris
menekankan bahwa hubungan pribadi dengan Yesus harus dihayati sebagai sobat.
Yesus dilihat sebagai tokoh yang harus membebaskan umat manusia dari dosa
warisan Adam. Tissa Balasuriya berpendapat bahwa hampir seluruh kehidupan Katolik
didasarkan pada pandangan individualistis tentang Yesus dan Maria. Dalam
hubungan ini ia menunjuk pada pengaruh besar dari Thomas a Kempis. Bukankah bab
pertama dari karyanya Imitatio Christi membahas mengapa dunia harus
dianggap hina. Thomas a Kempis hampir sepenuhnya bersikap negatif terhadap
alam, dunia, kehidupan dan cinta manusiawi. Menurut Tissa Balasuriya, karena
pandangannya begitu sempit, ia bertanggung jawab atas pemutarbalikan citra
Yesus Kristus, yang walaupun dengan maksud baik, berakibat fatal. “Keseluruhan
penggabungan teologi, kerohanian dan pengabdian cocok baik dengan latar
belakang feodalisme ketimuran, despotisme dan kepercayaan pada tahyul maupun
dengan kapitalisme Barat dalam tahap imperialisme.”
Sama seperti para teolog pembebasan dari Amerika
Latin, Tissa Balasuriya menandaskan bahwa penafsiran Yesus Kristus yang seperti
itu, mengandung arti bahwa kehidupan dan kematian Yesus hanya dilihat sebagai
tindakan ketaatan kepada Allah. Keputusan Yesus sendiri sebagai hasil pertimbangan
logis, yang Ia lakukan dalam konteks keadaan masyarakat pada waktu itu
diabaikan. Orang sama sekali mengabaikan kasih-Nya kepada umat manusia, yang
berada dalam keadaan tertindas dan proses pembebasan sebagai akibatnya.
Aloysius Pieris
mempertajam pernyataannya dengan mengatakan bahwa zending dan misi masa kini
membuat kesalahan yang sama, yakni melalui rencana-rencana pengembangan yang
padat menempatkan gereja-gereja Asia dalam oasis-oasis Barat, yaitu dalam
proyek-proyek besar bersifat pendidikan pribadi, atau pusatpusat teknologi
atau pertanian, yang dibiayai oleh bantuan dari luar negeri. Ia melihat adanya
kelangsungan dari suatu misiologi “perebutan” dan “kekuasaan” di dalamnya, yang
pada pendapatnya adalah ciri-ciri khas masa kolonialisme.
TINJAUAN ALKITABIAH ATAS GELAR-GELAR KRISTUS DARI BANGSA AFRIKA (Berry Mangowal S. Pd. K)

1. Kristus sebagai Pemenang dan
pembebas dari perbudakan
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan
yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang
menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya, Abba, ya Bapa!” Roh
itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Roma 8: 15-16
“Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan
kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia,
yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan Karena makhluk itu sendiri
juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam
kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 20-21.
“Dan kamu akan mengetahui Kebenaran, dan
kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Yohanes 8:32
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu,
kamu pun benar-benar merdeka.” Yohanes
8: 36
“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan
menjadi hamba kebenaran. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa
dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu
kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 18,
22.
Jika kita menilai perbudakan hanya sebatas
lahiriah maka kita akan menemui seolah hanya bangsa hitam atau bangsa Afrika
dan Asia yang mengalami perbudakan. Tetapi jika kita menilai dalam pandangan
Kristus yang jauh melihat batin iah setiap manusia maka kita akan mendapati
bahwa perbudakan dialami oleh setiap orang percaya di dalam diri mereka
masing-masing. Dan awal perbudakan itu berasal dari pribadi dosa atau hukum
dosa yang ada di dalam manusia. Itulah yang harus dipatahkan agar manusia
terbebas dari perbudakan yang sesungguhnya. Amat disayangkana saya banyak
menemui dewasa ini banyak orang yang justru ingin tetap lekat erat dengan dosa.
Mereka tanpa sadar membela kuasa dosa yang bekerja secara halus di dalam
pribadinya. Ketika Kristus hendak diberitakan dengan amat dalam untuk diakui
dari dalam batin, manusia bahkan yang sudah melayani sekian lama sulit untuk
rela menerima. Bahkan ada yang berusaha menghambat Kristus dalam pengajaran
yang disampaikan namun syukur kepada Tuhan sebagaimana pengalaman Paulus
demikian pula pengalaman saya dalam kekayaan dan kemuliaan Kristus yang
dinayakan kepada saya. Saya mendapati semakin Kristus dihambat, maka justru itu
semakin memperkuat dan memperkaya Dia yang ada di dalam saya untuk leluasa
bekerja dalam segala hal, bahkan dalam segala hambatan. Lihatlah orang Farisi
yang berusaha menghambat Yesus atau menjajah kebebasan Injil Allah yang hendak
diberitakan, mereka berusaha menghambat dan mengekang Yesus karena mereka
merasa tidak nyaman dan membela hukum dosa yang telah mereka pelihara sekian
lama menjadi jati diri mereka.
Jati diri manusia jika tanpa Kristus sesungguhnya
adalah jati diri dosa. Mengapa manusia merasa amat lekat dengan dosa sebab dosa
itu hukumnya telah menjadi bagian dalam diri dan sistem hukum hidup manusia,
baik perasaan, akal budi pikiran maupun jasmaniahnya. Seolah dosa itu adalah
diri manusia sendiri. Tapi kita yang sudah di dalam Kristus sebagaimana ayat di
atas telah menyatakan bahwa kita merdeka dari perbudakan, setiap orang dijajah
oleh segala keinginan dan perbuatan mereka sendiri, dan hanya satu yang tidak
pernah terjajah oleh apapun dan menang untuk kita, Dialah Yesus yang harus kita
akui dan ketika kita menemukan Dia dan keutuhanNya maka di sanalah kita
terbebas dan merdeka.
2. Kristus sebagai kepala suku
“Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di
bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai kepala dari
segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang
memenuhi segala sesuatu.” Efesus 1:22
“karena suami adalah kepala Isteri sama
seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Efesus
5: 23
“ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah
yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang
lebih utama dalam segala sesuatu.” Kolose 1:18
Kristus adalah juga Pribadi Kepala atau
Pemimpin yang hadir bagi kita. Pemimpin di sini bukan lebih berbicara hanya
kepada status memimpin secara umum, jika demikian itu sama halnya dengan
pemahaman dan keadaan pemimpin dunia. Pemimpin di sini atau kepemimpinan
Kristus dilihat dari KehadiranNya secara pribadi dan menguasai kita secara
pribadi dari dalam diri kita. Inilah kepemimpinan Kkristus atas diri kita, di
mana kuasa kepemimpinan dosa atas kita dihancurkan digantikan dengan Kristus
yang memimpin dan memiliki kita seutuhnya. Ini sifatnya amat dalam luas.
Banyak orang yang sudah di dalam Yesus
tapi tidak mau melangkah untuk masuk pada dipimpin oleh Yesus Kristus yang
berawal dari pemberian diri seutuhnya dan pemulihan atau perombakan diri
menjadi pribadi yang baru yang semakin menyatu dengan Kristus. Lihat ayat di
atas bagaimana segala sesuatu telah diletakkan di bawah Kristus dan jemaat
memiliki Dia sebagai kepala dan Dia memenuhi jemaat. Di mana setiap pribadi
orang percaya mau rela mengalami kepenuhan akan Dia. Sebab kepenuhan akan Dia
itu mengerjakan penyaliban diri kita untuk kita bebas. Kepala jemaat, dalam hal
ini berkorelasi dengan istilah “Kepala suku” sebagai yang sulung dan utama dari
segala sesuatu dan satu unutk jemaat yang menjadi satu pula di dalam Dia
sebagaimana selaras dengan doa Yesus dalam kitab Yohanes.
3. Kristus sebagai leluhur
“ia adalah gambar Allah yang tidak
kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di
dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di
bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun
kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia
dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu
ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah kepala tubuh, yaitu
jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati,
sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan
Allah berkenan dima di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala
sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan
pendamaian oleh darah salib Kristus.” Kolose 1: 15-20
Kristus sebagai Leluhur, yang awal dan
akhir, yang mana semua bermual dari Dia dan berakhir kepada Dia. Allah yang
memulai segala sesuatu dan mengakhiri segala sesuatu itu terwujud nyata dalam
Pribadi Yesus Kristus di mana Dia menyatakan bahwa Dia sudah ada sebelum
segalanya dan Dia menyatakan suatu ucapan Ilahi “sudah selesai” saat di kayu
salib. Itu adalah bukti nyata bagimana Keilahian Allah di dalam Kristus yang
mengawali karya Allah dan mengakhirinya dengan baik. Jika kita sudah mengawali
dengan Kristus maka kita akan mengakhiri dan berakhir bersama Kristus. Jika
kita tidak mengawali dengan Kristus dan tidak mau dimurnikan untuk sepenuhnya
mengakui Dia dalam diri dan hidup kita maka kita tentu tidak akan berakhir
dengan Dia dalam Kekekalan tetapi berakhir dengan dunia dalam kebinasaan.
4. Kristus sebagai Dukun (Pemberi
Kesembuhan dan petunjuk)
“Sebab seorang anak telah lahir untuk
kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di
atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat ajaib, Allah yang
perkasa, Raja damai.” Yesaya 9:6
“Tetapi dia tertikam oleh karena
pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
Baru-baru ini saat saya menyusun tesis,
saya melihat sebuah berita tentang gubernur Jakarta Basuki Tjahya Poernama atau
Ahok disantet oleh seorang dukun namun dukun penyantet malah tewas. Ini menjadi
berita yang cukup heboh di dunia maya. Namun yang muncul belakangan ada
beberapa opini dan polemic di masyarakat yang mengira Ahok memiliki dukun pula.
Saya yakin ia, jika Ahok benar orang percaya dan pengikut Kristus sejati maka
dia benar punya “Dukun”. Anda paham maksud saya? Dukun di atas segala dukun.
Ini bukan bicara dalam makna dunia yang berdosa dan cemar oleh dosa tetapi
dalam ungkapan dari iman yang telah diperbaharui oleh pikiran Kristus.
Sejak
dosa masuk dalam dunia dan secara utama dosa sebenarnya masuk dalam diri
manusia dan merusak segala dalam diri manusia baik rasa karsa jiwanya, perasaan
dan pikirannya maka sesuai Alkitab katakana manusia senantiasa menghasilkan
dosa. Ini bukan bicara sebatas perbuatan baik buruk lahiriah. Cara manusia
merasa, menilai, dan berpikiran dalam budi bahasanya dan tingkah lakunya
menjadi bersumber dari segala keterbatasan dan kecemaran dosa. Sebagai contoh dalam budi bahasa dan maknanya, karena
makna manusia akan kata dukun telah tercemar dengan pikiran dosa dan symbol
keadaan dunia maka kata dukun selalu diidentikan dengan dunia hitam dan gelap.
Padahal penyelamat sejati yang sesungguhnya itu, yang hidup dan matiNya adalah
karya kesembuhan yang juga tidak hanya secara jasmani saja tetapi secara Rohani
juga itu telah datang dan menyatakan Dia Penyembuh, Penasehat, Pembela, Dukun
di atas segala dukun yang dunia kenal dan puja.
Saya banyak mengalami di mana bertemu dan
sharing berdiskusi dengan rekan-rekan sepelayanan yang lebih tua dan pengalaman
secara usia. Salah satu pengalaman dari sekian banyak pengalaman itu dapat saya
contohkan di sini bagaimana pentingnya sebuah makna dibaharui dalam Kristus. Seorang
hamba Tuhan bertanya kepada saya apakah saya sudah memiliki pendamping atau
calon pendamping. Saya menjawab bahwa yang utama bukan pendamping tapi
penghibur. Ketika dia mendengar ini konotasi dan pemahamannya langsung buruk,
dengan berujar kalau penghibur cari di pub dan bar sana. Saya kaget dan merasa
lucu, hingga saya meluruskan apa yang dimaksud penghibur itu. Bukankah Roh
Kudus di dalam kita itu Penghibur, Roh Kristus, Roh Penghibur yang senantiasa
menghibur kita dalam segala hal? Apakah dia benar-benar membaca ayat itu
tentang kehadiran Penghibur bagi dia dan saya? Sekali lagi apakah dia
BENAR-BENAR MEMBACA tentang Penghibur bagi kita? Atau pikiran dan hati
manusiawi itulah yang masih banyak tertuju di dosa dan cemarnya makna dunia?
Inilah salah satu contoh akibat dari belum mengalami pikiran Kristus. Jika kita
BENAR-BENAR MEMBACA dalam hal ini diimani oleh Kristus yang sudah kita akui
dalam diri kita maka kita akan sadar betul siapa Penghibur itu. Karena
sebagaimana pengalama Yesus dulu, Dia juga mengalami ternyata murid-muridNya
yang sudah ada dengan Dia sekian lama masih belum mengenal siapa Dia
sesungguhnya. Inilah betapa pentingnya kita msuk pada diri yang mau
semakin meminta Dia dan mengakui Dia
sebagaimana ungkapanNya carilah, mintalah dan ketoklah pintu maka semua itu,
rahasia Allah dalam Kristus berkenan dibukakan kepada kita. Rahasia yang
berabad-abad lamanya yang dicari dunia, namun berkenan dibukakan kepada kita
oleh rahmat Allah dalam Kristus. Markus 4: 11, 22, Roma 16: 25, 1 Korintus 2:
7, 1 Korintus 4:1, Efesus 1:9, Efesus 3:4, 9, Kolose 1: 26-27, Kolose 2: 2,
Kolose 4: 3.
Monday, August 12, 2019
GELAR-GELAR KRISTUS BAGI BANGSA AFRIKA
Gelar-gelar
kristologis dari Afrika
Dalam
tahun 1967 pakar teologi yang berasal dari Kenya, John Mbiti, mengatakan bahwa
tidak ada kristologi yang bersifat Afrika.
Dalam
tahun 1974, pada suatu konsultasi antar teolog Afrika di Accra, Ghana, Dr. E.W.
Fashole-Luke mengemukakan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan para teolog
Afrika sedang bergumul dengan gagasan-gagasan kristologi. Menurut dia, aspek
dari teologi Kristen Afrika ini hendaknya diberikan prioritas utama.
Sepuluh
tahun sesudah pernyataan John Mbiti, Kofi AppiahKubi dari Ghana menyimpulkan,
bahwa belum banyak literatur mengenai kristologi Afrika. Di tahun 1979 Gabriel
Setiloane menyatakan, bahwa tugas yang harus diemban oleh teologi Afrika ialah
mengadakan penelitian intensif tentang kristologi. Yakni: Siapakah Yesus itu?
Apakah arti Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Sejak “himbauan” pertama
itu telah dibuat berbagai rancangan kristologis, yang ingin mengemukakan “Hoheitstitel”
atau “gelar kemuliaan” Yesus menurut kristologi Afrika. Mengenai hal itu dapat
dikatakan, bahwa ada terkandung sifat eksperimental terkandung di dalamnya.
Beberapa gelar di antaranya adalah sebagai berikut:
Kristus
sebagai “Pemenang”
Berdasarkan
penelitian terhadap khotbah-khotbah di Gereja Tuhan (Aladura) di Nigeria, John
Mbiti bercerita, bahwa orang-orang dari gereja tersebut menaruh perhatian
besar terhadap peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan Yesus, seperti
kelahiranNya, baptisan, kematian dan kebangkitan-Nya dan kebangkitan dan
mereka yang tercakup dalam tubuh Kristus. Pertama-tama Ia dilihat sebagai
pemenang. Ia melawan dan mengalahkan kuasa Iblis, penyakit, kebencian,
ketakutan, bahkan kematian itu sendiri.
Jika
ditanya mengapa orang Kristen Afrika sangat tertarik kepada Kristus sebagai
pemenang, maka jawabnya ialah bahwa orang Kristen Afrika sangat peka terhadap
berbagai kuasa yang bekerja dalam hidupnya seperti: roh-roh jahat, kekuatan
gaib, sihir, ketakutan, penyakit, kuasa kejahatan dan yang terutama dan
semuanya, kematian.
John
Mbiti menjelaskan bahwa keakraban gereja ini dengan saat-saat tersebut dapat
dihubungkan dengan antropologi Afrika. Allah menciptakan anak dan memberikannya
kepada suatu persekutuan. Sekarang tugas persekutuan itu adalah memasukkan anak
itu ke dalam masyarakat. Untuk itu manusia harus mengalami rites de
passages. Ada empat tahapan: kelahiran; penerimaan sebagai orang dewasa;
pernikahan dan kematian; peralihan ke dunia para leluhur. Menurut Mbiti, kaum
Kristen Afrika sangat tertarik pada kelahiran, baptisan dan kematian Yesus,
karena peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus manusia sempurna yang
telah mengalami rites de passages yang adalah kewajiban yang mutlak. Itu
sebabnya orang Afrika sangat menaruh minat pada silsilah-Nya yang terdapat
dalam Matius 1:117 dan Lukas 3:23-38.
Yesus
memenuhi semua syarat untuk menjadi anggota penuh, yang tergabung seutuhnya
dengan masyarakat. Dia manusia sempurna, lengkap, utuh, dewasa dan bertanggung
jawab. Oleh karena Ia manusia sempurna, Ia harus mati untuk membuktikan secara
lengkap, bahwa Ia sama dengan manusia lain. Salib bukanlah tanda aib dan
penghinaan, tetapi lambang dari kesempurnaan, selama itu berhubungan dengan
kehidupan Yesus. John Mbiti berpendapat bahwa penjelasan tentang kematian Yesus
seperti ini tidak menghilangkan ciri khas pengorbanan-Nya dan tidak melenyapkan
konsekuensi soteriologis. Ciri-ciri itu “justru lahir dari salib, lebih
daripada menyebabkannya.” Yesus mati sebagai manusia biasa. Perbedaan
“kristiani” ditentukan oleh kebangkitan-Nya yang adalah keyakinan mendasar dari
kepercayaan kaum Kristen. Apa yang terjadi sebelum Paskah adalah pengalaman
bagi banyak orang secara bersama. Apa yang terjadi sesudah Paskah adalah
keistimewaan Injil.
Kristus
sebagai “Kepala Suku”
Salah satu gelar yang
diusulkan di Afrika bagi Kristus adalah gelar chief, yang dapat
diartikan sebagai 'kepala suku' atau 'raja'. Paul de Fueter mengatakan, “Kami
memberitakan tentang Kristus yang sesungguhnya disebut 'chief, yaitu Raja
Afrika. Dia berkuasa, Dia yang datang dan oleh kehadiran-Nya segala sesuatu
dilupakan, dan pada-Nya semua orang selamat. Gelar ini diusulkan oleh para
penginjil. Namun ada pendapat bahwa pilihan itu tidak layak, karena manusia
yang menjadi 'chief adalah orang-orang yang sering jauh dari rakyat dan tidak
dapat didekati oleh mereka.” J.S. Pobee bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa
adalah berbahaya jika dinyatakan ada persamaan antara Kristus dan “chief',
sebab teologi seperti itu adalah teologi kemuliaan, yang tidak mengenal teologi
salib. Kewibawaan dan kuasa dalam teologi ini berasal dari sesuatu yang
berlainan dengan jalan penderitaan.
Kristus
sebagai “Leluhur”
Gelar lain yang dikenal
ialah Yesus sebagai leluhur yang besar, atau leluhur yang terbesar (Nana dalam
bahasa Anka). Menurut J.S. Pobee Yesus adalah Nana seperti leluhur lain yang
termasyhur. Ia adalah hakim yang tidak terlupakan, Ia mengungguli leluhur yang
lain, karena Dia yang terdekat dengan Allah. Di dalam pernyataan bahwa Yesus
adalah “Nana”, terkandung arti bahwa norma-norma-Nya berlaku dalam orientasi
pribadi, dalam struktur-struktur masyarakat, dalam perkembangan ekonomi dan
hubungan politik. Pernyataan itu berarti keadilan pribadi dan sosial. Orang
Afrika yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Nana”, harus menghubungkan pesan itu
dengan keadilan manusiawi dan keadilan sosial di Afrika dan bagian dunia lainnya.
Teolog Katolik Roma
berkebangsaan Afrika, Charles Nyamiti, memberikan pemecahan dogmatis lebih
lanjut atas pemikiran ini. Ia mencoba membuktikan, bahwa Allah Bapa secara
analogis adalah leluhur dari Logos dan Logos adalah keturunan Bapa. Allah
adalah Bapa kita dan Leluhur kita melalui Kristus. Oleh penjelmaan dan
penyelamatan-Nya Kristus menjadi Leluhur kita. Kedudukan-Nya sebagai Leluhur
kita serupa dengan hubungan antara individu Afrika yang mati dengan
saudara-saudara-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang dimaksudkan Nyamiti
dengan jenis kedudukan sebagai leluhur ialah sejenis hubungan keluarga antara
saudara-saudara yang telah meninggal dengan saudarasaudara perempuan dan
laki-laki yang hidup, karena jenis ini yang paling cocok untuk menggambarkan
secara analogis hubungan Kristus dengan kita. Kristus adalah saudara leluhur
kita. Nyamiti membandingkan hubungan antara saudara-bersaudara Afrika dengan
hubungan Kristus dengan umat manusia.
Kedudukan sebagai manusia
ilahi memberikan Dia kemampuan bertindak sebagai saudara dan perantara bagi
setiap insan, terlepas dari apakah Ia keturunan Adam atau tidak. Nyamiti
menyatakan bahwa kedudukan Kristus sebagai anak terhadap Bapa berbeda sama
sekali dengan kedudukan kita sebagai anak terhadap Bapa yang sama. Perantaraan
Kristus yang membawa keselamatan berhubungan erat dengan kesatuan
hypostatis-Nya atau sifat-Nya sebagai Manusia ilahi.
Kristus sebagai leluhur
adalah contoh bagi tingkah laku seseorang. Tetapi Ia jauh lebih sempurna. Dia
adalah sumber batiniah dan prinsip vital dari kehidupan Kristen. Kristus memberikan
kepada saudara-saudara-Nya bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi di atas
segalanya kebutuhan rohani, namun pemberian yang terbesar adalah diri-Nya
sendiri demi keselamatan abadi. Sebagai manusia ilahi Ia adalah saudara leluhur
dari semua insan. Charles Nyamiti menyatakan selanjutnya, bahwa kebangkitan sempurna dari Kristus seutuhnya masih akan
terjadi. Kedudukan-Nya sebagai leluhur belum terwujud secara lengkap. Tindakan
penyelamatan-Nya akan digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus (parusia), bilamana
kosmos menerima pahala penuh dari kebangkitan-Nya. Ini membuktikan, demikian
kata Nyamiti, betapa akrabnya hubungan antara penjelmaan Kristus, status-Nya
sebagai Leluhur dan penyelamatan.
Kristus
sebagai “Dukun”
Terutama
dalam gereja-gereja independen pelaksanaan penyembuhan melalui kepercayaan
mengambil peranan yang penting. Jawaban yang lazim diberikan atas pertanyaan
mengapa orang menjadi anggota dari gereja independen,
ialah, “Aku lama sekali menderita sakit. Aku sudah mencoba berbagai cara penyembuhan
tanpa hasil. Aku mendapat petunjuk untuk menemui nabi tertentu. Itu saya
lakukan dan sekarang aku sembuh. Puji Tuhan!” Praktek-praktek penyembuhan
melalui kepercayaan begitu besar pengaruhnya, sehingga dapat dipahami jika
-Kristus lebih dimengerti sebagai penyembuh, dukun atau pelindung terhadap
kuasa-kuasa jahat. Kalau demikian kristologi Afrika yang asli seharusnya
didasarkan pada dan disiapkan oleh penyembuh tradisional.”
Gereja-gereja
mandiri yang bersifat kenabian, lebih menonjolkan paradigma Kristus sebagai nganga
yang menyembuhkan, daripada gereja manapun di Afrika. Nabi yang
menyembuhkan itu memerankan pertolongan pembebasan dan penyembuhan sebagaimans diberikan oleh Kristus. Ia
berbicara tentang Kristus, Sang Penyembuh sepanjang ibadah, yang mendahului
kegiatan-kegiatan penyembuhan. Menurut Daneel, di dalam Kristus di satu pihak
tradisi “nganga” menemukan pusat kegiatannya, tetapi di pihak lain secara
radikal berubah mendapat bentuk Kristen. Dengan cara nganga meletakkan
tangannya, melalui perintah-perintah-Nya, dengan membagikan air suci dan
melakukan tanda-tanda lain yang melambangkan kuasa penyembuhan Allah, melalui
pengusiran rohroh jahat secara dramatis, maka Kristus dinyatakan kepada dunia
Afrika, sebagai Tokoh yang berbicara, memberi perlindungan, menyembuhkan dan
melenyapkan kekuatiran.
Dalam
sebuah karangan yang sangat memikat, dengan menggunakan laporan-laporan
mengenai Kultus-Bwiti dari Gabon dan Kultus Mbona di Malawi sebagai bahan pembantu, Schoffeleers
menulis tentang Kristus sebagai nganga yang is anggap sebagai contoh
utama bagi suatu kristologi Afrika.
Yang sangat seru dari
pemikiran t ntuk menggunakan nganga sebagai contoh dari citra Kristus,
ialah bahwa justru nganga atau dukun itu oleh zending dan misi secara
bersamaan dilihat sebagai lawan utama Kristus. Alasan ini menyebabkan keseganan
dari beberapa pihak di kalangan orang Afrika, untuk menggunakan contoh itu.
Mungkin hal itu dapat disamakan dengan keberatan yang timbul terhadap pemakaian
gelar “chief”. sebagaimana dikemukakan terdahulu.
Dalam kesimpulannya
Schoffeleers menyatakan bahwa baik pejabat-pejabat gerejawi maupun Kristus
sendiri dapat disebut nganga, namun sebaliknya juga para nganga sudah
mulai bersifat Kristen atau kristologis. Di satu pihak ada dorongan untuk
menciptakan bentuk-bentuk baru bagi kehidupan masyarakat: nganga berubah
seakan-akan menjadi Kristus; di pihak lain ada dorongan untuk menyesuaikan
bentuk tradisional dengan keadaan Kristus berubah menjadi nganga.
Subscribe to:
Posts (Atom)
DONASI DAN SPONSORSHIP
Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370
-
Agama Kristen lahir di suatu tempat dan pada suatu waktu di mana berbagai kebudayaan dan kepercayaan bertemu. Akarnya ada dalam agama ...
-
67 sm – Ribuan perompak menguasai laut tengah, akibatnya pelayaran amat terganggu dan...
Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.
Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...


