Tuesday, September 10, 2019

TINJAUAN TENTANG PANDANGAN BANGSA ASIA PADA YESUS KRISTUS (Berry Mangowal S. Pd. K)

1. Kristus dan penyangkalan diri
     “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16: 24
     Penyangkalan diri bukanlah sebatas lahiriah seperti yang tampak pada karakteristik kepercayaan kuno Asia maupun kepercayaan Asia modern yang tampak pada Bhudisme, Hinduisme, dan kepercayaan lainnya yang bersifat sukuisme. Namun kebanyakan agama juga menerjemahkan penyangkalan diri sama halnya dengan cara agama sukuisme terjemahkan. Yaitu dengan sikap menahan diri dari berbagai nafsu, nafsu makan, harta, dan badani. Menganggap diri sudah melakukan penyangkalan diri jika sudah puasa, bertapa, meditasi, peraturan dan pengasingan yang ketat dan sejenisnya. Padahal kata Firman Allah lewat Paulus itu hanyalah bagian dari nafsu belaka juga yang diperuntukkan kepuasaan manusia. Yah, PAulus telah menemukan inti batiniah manusia dalam Kristus dan mendapati bahwa penyangkalan diri sejatai dan utuh itu ada di dalam Kristus saja. Sifatnya tidak lahiriah seperti dunia dan agama dunia ajarkan tetapi secara rohani batiniah diawali dari pemberian diri, penyangkalan diri kita, kehendak kita apapun baiknya itu kepada kehendak Kristus atau pribadi Kristus yang ada di dalam kita, yang hendak mengambil alaih diri dan hidup kita. Ini bermuala dari dalam bukan usaha hati yang dianggap iman dan berimplementasi keluar secara jasmaniah tetapi diawali dari ketundukkan pribadi kita kepada RohNya di dalam kita baru nampak keluar lewat hidup kita. Ini bukan semata pada perbuatan baik saja sebab dunia pun melakukan itu dalam apa yang mereka yakini sebagai penyangkalan tetapi ini adalah soal adakah kita menikmati, mengakui, dan menyatakan Kristus dalam segala apa yang kita perbuat.
     Sangat menyedihkan gereja jaman ini juga banyak yang menerjemahkan penyangkalan dan mengimani penyangkalan diri sebatas secara lahiriah. Padahal perbuatan apapun itu jika tanpa dasar Kristus yang ebnar di dalam diri pribadi kita maka hanya akan sia-sia, sebab tetap berada pada tuntutan hukum taurat dan hukum dunia serta hukum dosa yang sebenarnya sudah tidak berkuasa lagi atas mereka yang telah ada di dalam Kristus tetapi seolah berkuasa sebab manusia itu sendiri yang masih banyak hidup searah dengan tuntutan hukum itu. Padahal penyangkalan diri kepada Kristus seutuhnya akan membuahkan kebebasan dan pembebasan sejati atas diri kita. Kita tidak lagi melayani Dia dalam tuntutan hukum yang memberatkan diri terlebih jasmaniah tetapi kita melayani Dia dalam kebebasan dan kebenaranNya yang telah menjadi satu dengan kita, inilah Kristologi. Kristus yang bukan sebatas jadi ilmu bahan keyakinan, bahan pembelajaran, bahan ujian, atau pendidikan tetapi menjadi Kristus yang satu dengan kita. Ini yang dimaksud manusia Allah, anak Allah dalam Kristus. Sebab berbeda antara anaka Allah dalam pembenaran yang masih hidup dalam banyak tuntutan akibat belum masuk pada penyangkalan diri seutuhnya dengan anak Allah yang sudah dalam Kebenaran yang membenarkan dan memerdekakan dari segala tuntutan karena telah mengakui Kristus dan menyangkal diri untuk Kristus, dari dalam batin/rohaniah dan bukan sebatas lahiriah/hati perasaan, akal pikiran, dan jasmaniah perbuatan. Jika berawal murni dari Roh Kudus maka Roh yang akan mengendalikan semua aspek diri manusia tersebut.

2. Kristus dan kesucian diri
    “Dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17: 19
     Dalam sebuah ibadah saya pernah memiliki sebuah pengalaman di mana seorang pendeta sebelum masuk pada pemberitaan Firman Tuhan menye,patkan untuk bertanya apakah ada di antara hadirin jemaat yang sudah kudus atau suci. Ada dua orang menurut pendeta itu yang berani angkat tangan, yaitu saya dan seorang lagi di sudut. Saya mendapati di mana-mana ketika banyak orang Kristen yang masih lebih melihat ke arah diri sendiri saja dan dalam pandangan dosa bukan pandangan Kristus padahal Kristus sudah ada di dalam kita. Ini akibat dari tidak mengenal Kristus dengan benar dan dalam sebab tidak mencari itu. Hanya sibuk dengan berbagai kepentingan dunia yang dibalut ungkapan rohani dalam doa. Ini pula akibat dari tidak menikmati penyangkalan diri secara batiniah dari dalam diri kepada Kristus, sebab jika kita telah menikmati penyangkalan diri kepada Kristsu dan mengakui Dia maka kita akan banyak berpandangan kepada Dia, bahkan seutuhnya kepada Dia. Dia yang menguduskan kita sebagaimana tertera dalam ayat di atas dan banyak lagi ayat Alkitab lainnya yang beberapa di antaranya saya uraikan di sini. Dari sini kita mendapati bahwa kita jika sudah di dalam Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat maka telah masuk dan menikmati hidup dalam pengudusan Allah. Kita telah dikuduskanNya sebagai umatNya untuk melayani Dia dalam segala aspek hidup kita. Kita tidak mungkin ada seperti saat ini dalam pengiringan akan Dia jika tanpa dikuduskan terlebih dahulu olehNya. Imamat Rajani, umat pilihan, ini jelas berbiacara dan mewakili pengudusanNya yang ada bagi kita sebagai anak-anakNya. Kita disebut anak sebab telah dikuduskanNya. Namun manusia duniawi dengan pikiran yang masih banyak lahiriah dosa, akan lebih memandang kepada keadaan dosa dirinya padahal dia telah ada dan hidup dalam pengudusan. Terlebih duniawi lagi dan terlebih bodoh lagi mereka yang lantas menerjemahkan bahwa jika demikian kita dikuduskan maka sebebasnya berbuat dosa. Inilah kedangkalan iman yang sebenarnya bukan iman. Ini akibat dari tidak adanya penyangkalan diri kepada Kristus secara batiniah dalam Roh. Penyangkalan yang hanya bersifat lahiriah yaitu berdasar pada perasaan hati, niat pikiran, dan usaha lahiriah. Penyangkalan yang sungguh dan membebaskan adalah adanya Kristus mengawali di dalam batin kita, RohNya menguasai diri kita, hati perasaan, akal pikiran, dan tubuh perbuatan kita.
     “Dan beberapa orang di antara kamu telah memberi dirimu disucikan , kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
1 Korintus 6: 11
     Ini jelas bahwa kita dikuduskanNya, sebab tiada seorangpun di dunia ini yang oleh kehendak kemauan sendiri dan perbuatan sendiri sebaik dan sebanyak apapun itu lalu sanggup menguduskan dirinya sendiri. Adakah? Maka dari itu kita harus menerima Kristus, yang adalah Allah yang menguduskan diriNya bagi kita, ini bukan Dia tidak Kudus tetapi sesuai ayat di atas yang menulis demikian. Bahwa ini adalah dedikasi Allah yang mempersembahkan diriNya bagi kita lewat Yesus Kristus. Yesus Kristus pula adalah timbal balik dari manusia atau mewakili manusia kepada Allah, yaitu sebagai Manusia yang menguduskan diriNya kepada Allah. Agar lewat Kristus manusia dapat diterima di hadapan Allah dan Allah dapat diterima di hadapan manusia. Sebab tanpa lewat Kristus maka Allah tidak bisa menjangkau manusia secara utuh dalam penyelamatan. Inilah Kristologi, Kristus yang adalah kesinambungan serta hubungan antara Allah dan manusia, yang nyta di dalam Dia.
     “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”
Kolose 3: 12
     “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.
Ibrani 2:11
     “Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”
Ibrani 10:10
     “Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, BApa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerimapercikan darahNya. KiraNya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”
1 Petrus 1:2
     Beberapa ayat di atas jelas menyatakan bahwa Kristus yang menguduskan kita agar kita sudah kudus dan layak ada dalam area penyertaan dan pelayanan akan Dia dan bukan sebaliknya. Langkah awalnya adalah dari Dia yang berkenan mencari kita untuk menguduskan kita yang mau datang menerima Dia. Bukan karena perbuatan baik kita tetapi kasih karuniaNya agar tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Sebab Kekudusan sesuai standar kebenaran Allah tidak akan ada manusia manapun yang sanggup memenuhinya dan selamat kecuali Yesus Kristus yangs sudah mewakili manusia di hadapan Allah dan mempersembahkan diriNya sebagai Korban yang kudus dan tidak bercacat cela. Di dalam Dia kita dikuduskanNya dan kita sudah ada dalam kekudusan. Manusia yang masih berorientasi pada dosa dan hukum taurat meskipun tampak rohaniah, mereka sesungguhnya masih akan sulit mengakui dan menerima kekudusan Allah yang sudah ada dan tinggal di dalam dia.
  
3. Kristus dan meditasi atau ketenangan diri
     “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena tu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
1 Petrus 4:7
     “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Matius 11: 29
     “Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”
Markus 4: 39
     Kepercayaan banyak bangsa dan dalam hal ini kepercayaan bangsa Asia menganggap bahwa ketenangan seutuhnya dan semata-mata hanya didapati dalam semedi atau pertapaan. Suatu gaya hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia dan penuh perenungan dalam segenap tapa. Ini nampak jelas dari perjalanan sang Budha dan para pendeta Hindu. Di Israel terkenal kalangan essenis yang hidup mengikuti jejak rasul Yohanes secara harfiah dan lahiriah. Mereka mengungsikan diri di gua-gua terpencil dan hidup jauh dari keramaian. Sehari-hari membaca taurat dan merenungkan serta berdoa dalam sajak kitab para nabi. Mereka melakukan berbagai puasa dan penyangkalan diri yang ketat demi mencapai ketenangan.
     Tao, zen, dan yoga adalah beberapa sistem kepercayaan atau gaya kepercayaan Asia yang menonjolkan sisi ketenangan batin yang dicapai dengan metode pengosongan diri dan pikiran untuk mencapai ketenangan. Sebenarnya setenang apapun tampak pada diri manusia, adakah manusia yangbenar-benar tenang dalam hidupnya? Manusia hanya sanggup menilai ketenangan dari keadaan jiwa hati dan akal manusia yang tampak beristirahat dan diam. Situasi yang melegakan dan hening dianggap sebagai kunci ketenangan. Tetapi ketenangan sejati hanya ada dan nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Ketenangan yang diwujudnyatakan Allah dalam Yesus itu nampak dalam segala aspek hidup. Tidak hanya saat bermeditasi atau berdoa puasa dalam keheningan terus disebut tenang, tidak pula hanya di saat beribadah, mengajar, atau sikap baik maka itu disebut tenang, tetapi ini mengenai bagaimana Ketenangan itu adalah Dia itu sendiri, Pribadi Allah yang hadir dalam ketenangan. Ini berbicara di mana kita masuk untuk mengenal kesempurnaan Kristus yang memiliki segalanya dan sumber segalanya. Dialah Kasih, Dialah Ketenangan, Dialah Keberanian, Dialah Iman. Inilah kebenaran hakiki tentang pribadi Allah dalam Kristus. Banyak kali ungkapan Allah sebagai sumber segalanya dan memiliki segalanya hanya diterjemahkan sebatas lahiriah di mana Dia memiliki dunia ini, semua alam dan langit, serta nafas hidup dan jalan hidup manusia. Tetapi karena gagal mendapati Kristus secara pribadi secara utuh maka manusia lupa untuk mengakui bahwa Dia juga sumber dan memiliki segala aspek kebenaran hidup dan kedamaian hidup. Itulah hal paling utama dan hakiki sebagai Allah. Inilah bedanya antara Allah dalam Yesus Kristus dan allah-alah berbagai kepercayaan dunia yang ternyata hanya berisikan keyakinan yang bersifat lahiriah semata. Kekristenan tanpa mau mendalami Kristus dan mengakui Kristus maka akan bersifat seperti kepercayan allah-allah dunia yang sifat keyakinan dan ketuhanannya hanya sebatas lahiriah. Memandang  Tuhan hanya sebatas lahiriah dan sebatas perasaan dan pikiran saja, tidak bermuara dari batin dan roh.

4. Kristus dan kesatuan kebenaran yang ada di dalam Dia
     “Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5: 23
     Saya beri contoh satu ayat yang amat sering kit abaca seperti di atas seputar bagaimana menjelaskan suatu keutuhan kebenaran Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Bagaimana itu sebenarnya berbeda jauh dengan apa yang manusia miliki. Mari kita lihat saya jabarkan satu-persatu kesembilan sikap yang dinyatakan sebagai buah Roh dalam kitab Galatia.
1. Kasih
2. Sukacita
3. Damai sejahtera
4. Kesabaran
5. Kemurahan
6. Kebaikan
7. Kesetiaan
8. Kelemahlembutan
9. Penguasaan diri
Jika kasih milik manusia maka belum tentu dalam kasih manusia itu ada tercakup sukacita, damai, ataupun kesabaran dan kedelapan hal lainnya. Demikian pula dengan sukacita, jika itu sukacita manusia maka belum tentu akan terdapat kasih dalam sukacita itu, belum tentu terdapat sabar, ataupun kesetiaan dalam sukacita itu. Hal ini sama halnya dengan buah-buah yang lain. Milik manusia itu bukan sejatinya, bukan kebenaran, berasal dari hukum dosa, dari buah yang cemar, tidak berkesinambungan tetapi terpisah. Ingatlah setan sejak membawa dosa ke dalam dunia terutama dosa itu masuk dan merasuk dalam diri manusia sehingga kekacauan yang terjadi oleh karena dosa bukan berinti atas apa yang terjadi di luar kita tetapi intinya berawal dari apa yang terjadi di dalam diri kita di mana setiap aspek roh, jiwa (perasaan dan pikiran), serta tubuh badaniah keinginan jasmani manusia menjadi terpisah. Termasuk setiap sikap dan buah perbuatannya. Ini makanya dikatakan tidak ada seorang pun benar sebab apapun sikap manusia itu bermula dari yang cemar, yang kacau, yang terpisah. Kesabaran manusia bisa saja sebenarnya  buah dari ketidaksabarannya namun muncul dalam sikap yang seolah sabar. Kita butuh Pribadi yang kuat, yang utuh, dan sempurna untuk dapat memurnikan setiap sikap dan aspek hidup kita dari dalam batin. Kita butuh Yesus Kristus.

     Milik Allah itu satu dan utuh, saling berkesinambungan dan terikat satu dengan yang lain. Kasih Yesus sudah mencakup kedelapan buah lainnya hanya sikap yang nampak secara jasmani erat dengan kasih. Begitu pula untuk sukacita, di dalamnya berisi kasih, kelemahlembutan, kesabaran, dan seluruh buah roh lainnya yang utuh dalam satu perbuatan tindakan yang tampak jasmani berwujud sukacita. Pahamkah saudara? Inilah Buah Roh yang sebenarnya yang diberikan Allah kepada kita lewat Yesus Kristus yang telah menyatakannya bagi kita. Buah Roh ini sebenarnya menyatu dengan Kristus dan adalah Kristus itu sendiri. Apa itu Kasih? Kasih itu Kristus. Apa itu Damai? Damai itu Kristus. Begitu selanjutnya dengan buah-buah yang lain. Buah manusia beda jauh dengan buahNya Allah yang ada di dalam Kristus. Makanya sempat saya singgung sebelumnya bahwa ada perbuatan baik yang dalam pembenaran kasih karunia karena sudah di dalam Kristus, dan ada saatnya jika kita mau masuk lebih dalam dan menyatu dengan Kristus di mana perbuatan itu bukan lagi perbuatan baik yang dibenarkan tetapi perbuatan Kebenaran, Buah Roh yang sesungguhnya. Penjabaran di atas bukan hanya berlaku dalam buah Roh saja melainkan dalam keseluruhan aspek nubuatan, perumpamaan, dan perbuatan hukum yang tercantum dalam Alkitab, sebab kesemuanya itu ada dan satu di dalam Kristus. Itulah sebabnya DIa kita yakini sebagai Pribadi yang sempurna dan benar yang menyempurnakan segenap Firman Allah dan menggenapi segenap isi Firman Allah. Inilah kedalaman dan keluasan Kristus, inilah Kristologi sejati.

PANDANGAN GANDHI TENTANG KRISTUS


Salah satu dari lagu-lagu kegemaran Gandhi adalah “Meman­dang salib Rajaku yang mati untuk dunia ...” (When I survey the wondrous cross on which the Prince of glory died). Konon diceritakan, bahwa ia sangat terharu oleh gambar Kristus yang disalib, karena ia memakai cawat yang melilit pinggang dan mirip sekali dengan seorang petani India yang disalib.
Mahatma Gandhi melihat Yesus sebagai satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus,” demikian kata Gandhi, “tercakup dalam Khotbah di Bukit. Jiwa dari Khotbah di Bukit berpacu hampir sama seperti Bhagavadgita untuk menawan hatiku. Khotbah itu yang membuat Yesus Kristus sangat tercinta bagiku. Ketika saya membaca Khotbah di Bukit, terutama pasal-pasal seperti 'Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu', saya begitu bahagia, karena merasa pandanganku dikuatkan, justru di mana saya tidak harapkan. Kitab Bhagavadgita memperdalam kesan itu dan karya tulis Tolstoy yang beijudul Kerajaan Allah ada di antara kamu memberikannya bentuk yang tetap. Tokoh Kristus yang lemah lembut, begitu ramah dan penuh kasih, penuh pengampunan, sehingga Ia mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk tidak mem­balas, jika mereka dihina atau dipukul, tetapi harus memberikan pipi yang lain; suatu contoh yang indah dari manusia sempurna, pikirku.”
Ia mengakui Yesus sebagai martir, penjelmaan dari pengor­banan sejati dan ia melihat salib sebagai teladan yang agung bagi dunia. “Walaupun saya tidak berhak untuk menyebut diriku Kristen dalam arti kata sektaris, toh contoh yang diberikan Yesus dengan penderitaan-Nya, merupakan faktor yang penting dalam pembentukan dasar kepercayaanku pada anti-kekerasan (ahimsa). Ia menguasai seluruh tindak-tandukku, baik yang duniawi atau yang sementara. Hidup dan kematian Yesus sia-sia, jikalau Ia tidak menkar kita, bahwa jalan hidup kita hendaknya ditentukan oleh hukum kasih yang abadi.”
Dalam hal itu Gandhi tidak merasa tertarik kepada Yesus yang historis. Ia tidak peduli, bilamana kelak ternyata atau dibuktikan bahwa Yesus tidak pernah hidup. “Khotbah di Bukit akan tetap merupakan kebenaran bagiku.” Ia melihat kelahiran, kematian dan kehadiran Kristus yang tak henti-hentinya, tidak sebagai kejadian historis, tetapi sebagai kejadian abadi yang berulangkali terjadi dalam kehidupan moral setiap insan atau persekutuan yang terkait dengan kasih yang luau berkorban. “Selama masih ada kerinduan yang tak terobati, selama Kristus belum dilahirkan, kits harus menunggu kedatangan-Nya... Kita tidak akan memperingati suatu hari tertentu sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi kita merenung­kannya sebagai suatu peristiwa yang berulangkali dapat terjadi dalam setiap kehidupan ... Allah tidak hanya memikul salib 1900 tahun lalu, tetapi pada hari ini juga, dan Ia mati dan bangkit pada hari ini juga, demikian juga dari hari ke hari.”
Gandhi menolak gagasan pendamaian ilahi dan pengampunan melalui Yesus Kristus. Ia tidak bersedia menerima dengan akal budinya bahwa secara harfiah Yesus menanggung dosa dunia oleh karena kematian dan darah-Nya. Hatinya menolak untuk mene­rima bahwa dalam kematian Yesus di kayu salib terkandung “suatu kebajikan yang misterius dan ajaib”. Gandhi berpendapat bahwa gagasan anugerah Allah melalui Kristus, yang membebas­kan manusia dari hukum, merupakan sumber untuk hidup dalam percabulan. Gagasan untuk memberikan tempat yang tunggal kepada pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus, dalam kemajuan umat manusia secara moral dan spiritual, tidak mungkin. Ia bersedia memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak guru dan nabi umat manusia, bahkan sebagai salah satu dari sekian banyak nama dan penjelmaan Allah. Tetapi kedudukan itu tidak berarti bahwa sifat ilahi-Nya, tindakan pendamaian-Nya atau perantaraan­Nya antara Allah dan umat manusia tiada bandingannya. “Hanya Allah yang mutlak sempurna.” Gandhi percaya bahwa wahyu bukan hak tunggal suatu bangsa atau suku. “Hanya ada satu Allah, tetapi banyak jalan menuju kepada Dia.” Kebenaran yang tertinggi tidak memerlukan komunikasi, karena ia bergerak maju dari tabiatnya sendiri. Dengan tenang ia memancarkan pengaruh­nya, seperti bunga mawar bau harumnya, tanpa perantaraan”. Ia tidak percaya kepada orang-orang yang menceritakan kepada orang lain tentang iman mereka, karena iman itu harus dihayati, dengan demikian akan menyebar sendiri.
Pemikiran Gandhi bersumber terutama pada gagasan kesemes­taan Kristen, sebagaimana ia menanggapi Kristus sebagai lambang hukum abadi anti-kekerasan (ahimsa), yang diungkapkan dalam Khotbah di Bukit. Oleh karena itu, menurut dia, agama Kristen pada dasarnya adalah suatu cara hidup bare, bukan suatu agama Di mana hukum kasih dilaksanakan di situlah agama Kristen berada. Bukan kristologinya, tetapi etikanya menghantar pada kebenaran. Etika adalah dasar agama Kristen dan itu sama halnya dengan semua agama.

Bukan orang yang berkata Tuhan, Tuhan yang adalah orang Kristen (bnd. Mat 7:21), tetapi orang yang melakukan kehendak­Nya. Dialah Kristen sejati. Apakah mungkin orang yang belum mendengar nama Yesus Kristus dapat melakukan kehendak Tuhan? Adalah keyakinan Gandhi, bahwa ketika gereja mendapat bantuan dari Kaisar Romawi, agama Kristen berubah menjadi kepercayaan “imperialistis”. Ia berpendapat bahwa orang Kristen India harus melepaskan diri dari kebudayaan Barat, yang didasar­kan pada kekerasan dan materialisme.

GAMBARAN AGAMA-AGAMA DI ASIA SAAT INJIL KRISTUS MASUK


Sebelum mempelajari lebih lanjut gambaran Asia tentang Kristus dalam berbagai negeri di Asia, seperti India dan Cina, ada baiknya jika diberikan beberapa penjelasan mengenai batas-batas agama dan budaya yang ada di Asia. Dalam hubungan ini Aloysius Pieris menunjuk pada tiga hal, yakni:
1.    Aneka ragam bahasa di Asia;
2.    Integrasi dari unsur-unsur kosmis dan metakosmis dalam agama-agama di Asia (untuk ini dipakai pembedaan antara lokiya dan lok'uttara dalam Buddhisme);
3.    Kehadiran ajaran-ajaran soteriologis non-Kristen (ajaran­aran keselamatan) yang mempunyai pengaruh luar biasa.
Pertama-tama Pieris menyebut tujuh daerah bahasa besar yang berbeda, yaitu bahasa Semit, Ural-Alta, Indo-Iran, Dravida, Sino Tibet, Melayu-Polinesia dan Jepang. Pieris melihat bahasa sebagai cara baru untuk mengalami kebenaran. Ia berpendapat hal itu mengandung arti, bahwa pluralisme bahasa merupakan petunjuk bagi keaneka-ragaman agama-budaya dan sosial politik. Bahasa adalah pengalaman dari kenyataan agamawi yang diungkapkan dengan agama. Ia kemudian mempertanyakan apa sebenarnya keberadaan hakiki yang dikandung kebudayaan melalui bahasa dan lambangnya sendiri. Ia menegaskan, bahwa bukan hanya kitab-kitab suci seperti Kitab-kitab Veda harus diberi perhatian, tetapi terutama bahasa rakyat. Dengan demikian akan ditemui dasar-dasar kebenaran yang digumuli oleh setiap agama.
Kerangka yang membatasi dunia keagamaan di Asia, menurut pandangannya, terdiri dari dua unsur:
a.       agama kosmis, yang berfungsi sebagai dasar dan
b.      soteriologi meta-kosmis yang merupakan bangunan induk.
Yang disebut “agama kosmis” adalah yang dulu dikenal dengan nama “animisme”. Yang dimaksudkan di sini ialah pendirian dasar yang secara psikhologis dipegang manusia religius (homo religiosus) menghadapi rahasia kehidupan. Dalam hubungan ini ditunjuk kekuatan kosmos seperti panas, api, angin, badai, tanah, gempa bumi, lautan, hujan, banjir, yang kita butuhkan dan kita takuti. Unsur-unsur yang membentuk kepercayaan ini ialah ritus, upacara sekelompok perantara. Kepercayaan ini boleh dikatakan sudah menetap di Asia dan sudah membaur dengan agama Hindu, Buddha dan Tao, yang oleh Pieris disebut tiga agama meta-kosmis.
Menanamkan “agama-agama yang mempunyai kitab” seperti agama Islam di Indonesia dan agama Katolik Roma di Filipina, menurut Pieris agak lebih gampang karena kepercayaan-keper­cayaan kosmis di sini didapatkan hampir utuh seluruhnya. Kalau perkawinan antara kepercayaan kosmis dan kepercayaan meta­kosmis dapat dilaksanakan seperti di Sri Langka, India, Birma dan lain-lain, maka baik agama Islam maupun Kristen tidak dapat menghapuskan kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Mengenai agama Buddha is berpendapat bahwa agama tersebut tersebar di seluruh Asia dan telah masuk di dalam hampir seluruh daerah bahasa (bahkan untuk beberapa waktu ke dalam daerah bahasa Semit pada waktu Kaisar Asyoka mengadakan misi ke Siria dalam abad ke-3 sM.). Dalam 20 daerah di Asia, agama Buddha adalah agama resmi atau faktor kultural yang sangat berpengaruh. Perkembangan agama Hindu dan Tao di pihak lain, hanya terbatas pada satu kelompok linguistik yang sama.
Pieris kemudian - pokok yang ketiga - menunjuk pada kehadiran dari ajaran-aran keselamatan 'non-Kristen' yang sangat berpengaruh. Ia berhenti pada citra pelembagaan agama Buddha dengan penghayatan kepercayaan yang berdimensi kosmis dan meta-kosmis.
Menyelidiki sumbangan pikiran dari lebih banyak teolog Kristen (bahkan juga dari yang “bukan Kristen”) dan pemikir-pemikir mengenai citra Asia dari Yesus Kristus, tentu akan merupakan suatu usaha yang sangat menarik. Dalam hubungan ini hendaknya dipikirkan antara lain tentang Jepang.
Dalam tahun tahun yang sulit, sesudah Perang Dunia II, di mana Jepang mengalami kekalahan, K. Kitamori menulis tentang yang is sebut teologi penderitaan Allah. Belum lama berselang, karya-karya tulis Kosuke Koyama menjadi terkenal. Menanggapi pandangan Kitamori, Tsutomu Shoji menulis bahwa teologi ini selaras dengan perasaan kepahitan hidup yang dialami bangsa Jepang selama masa pemerintahan para Samurai dan militerisme yang berkepanjangan. Namun, katanya, pengertian dari pem­beritaan Injil seperti itu, terbatas terutama sampai pada taraf psikologis dan pribadi serta tidak membuka mata orang Kristen terhadap keadaan sosial sebenarnya, yakni penderitaan oleh rakyat. Oleh karena itu konsep pembebasan juga terbatas hanya sampai pada tingkat itu. Teolog yang lain, Takizawa Katsumi juga menjelaskan, bahwa peristiwa “Imanuel” yang ash meminta keterlibatan teologis dan politis dalam menghadapi masalah­masalah masa kini.
Kemudian dapat saja dibicarakan mengenai sumbangan­sumbangan pada “kristologi” Asia dari Korea dan Indonesia. Di sini yang dibicarakan secara lebih rinci hanya mengenai gambaran-gambaran Kristus di India dan dalam konteks “Cina”.
“Kristus pada Jalan Raya India” (Christ of the Indian Road) adalah judul buku yang menarik, yang ditulis oleh penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana Yesus ditanggapi dan bagaimana Ia melalui jalan-jalan India?
Sidang Raya III Dewan Gereja-gereja se-Dunia pada tahun 1961 di New Delhi, adalah sidang raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia yang pertama dan yang sampai sekarang satu-satunya diadakan di Asia. Pada sidang itu dibicarakan mengenai kebutuhan yang mendesak untuk berdialog kembali dengan agama-agama yang sedang berubah-ubah. “Kita harus berbicara dengan mereka tentang Kristus dengan menyadari bahwa melalui kita Kristus berbicara kepada mereka dan melalui mereka berbicara kepada kita.”' Dalam hubungan dengan India sudah sejak lama ada respons terhadap Kristus? Stanley Samartha membedakan tiga sikap, yaitu memberikan jawaban kepada Kristus tanpa penyerahan diri, jawaban serta penyerahan diri oleh mereka yang tetap tinggal di luar gereja-gereja yang dilembagakan, dan respons oleh mereka yang menjadi anggota gereja.

Yang masuk kategori pertama, yakni mereka yang memang menjawab panggilan Kristus, tetapi tetap memeluk agama Hindu, antara lain Raja Mohan Roy (1772-1833). Ia menggarap suatu kristologi tentang Kristus, yang bermoral serta berlatar belakang teisme India. Selanjutnya dapat disebut juga “Kristus yang bersifat mistik” dari Sri Ramakrishnan (1836-1886). Yang terakhir ini mendapat penglihatan dari Kristus. Ia percaya bahwa Kristus adalah penjelmaan Allah, tetapi bukan satu-satunya penjelmaan. Penjelmaan yang lain adalah Buddha dan Krishna. Contoh lain dari “respons” tanpa “ikatan” seperti disebut Samartha, dalam arti kata tidak terikat pada gereja, adalah Mahatma Gandhi.

SEPERTI APA GAMBARAN KRISTUS SAAT DIBERITAKAN PADA BANGSA ASIA?


     Dalam gambaran tentang Perjamuan Malam Terakhir, seniman Bengali Jamini Roy (1887-1972), melukiskan Kristus dengan mata besar termangu-mangu bagaikan mata ikan. Oleh beberapa pihak gambaran ini dihubungkan dengan ikan yang tidak rnempunyai kelopak mata, jadi tidak pernah berkedip-kedip. Dengan demikian melambangkan betapa Allah senantiasa siap sedia untuk meleng­kapi kebutuhan umat-Nya!

Dalam Bagian ini pembahasan ditujukan kepada gambaran atau gambaran-gambaran Kristus di Asia. Setelah diberikan suatu keterangan singkat mengenai gereja-gereja tua di sana, disinggung sedikit mengenai “Kristus yang kolonial”, yang diserahkan kepada Asia. Kami mengemukakan secara ringkas konteks agama Asia yang terutama pluralistis (vii), setelah itu beberapa gambaran dipilih dari sekian banyak kristologi dan gambaran tentang Kristus dibahas secara mendetail, yakni dari seorang teolog Katolik-Roma [Raymond Panikkar] dan seorang teolog Protestan [Stanley Samartha] (viii). Dalam bagian terakhir dibicarakan mengenai arti Yesus dalam hubungan dengan ajaran Tao, menurut karya teolog Korea, Yang Young Lee.
Yesus datang dari Asia. Dan segera terdapat gereja-gereja Kristen di berbagai tempat di Asia. Gereja yang paling misioner dalam abad-abad pertama ialah Gereja Nestorian, yang berkembang sampai ke Cina. Namun dalam abad-abad kemudian gereja ini lenyap juga dari bagian-bagian besar dari benua ini. Peristiwa ini juga disebut “Gerhana matahari” dari agama Kristen di Asia. Di Asia Barat atau Timur Tengah gereja-gereja purba tersisa dalam wujud yang disebut Gereja-gereja Ortodoks, yaitu Gereja Ortodoks Siria (Siria, Libanon dan Turki), Gereja Nestorian atau Assyria (terutama di Irak), kaum Maronit (Libanon) dan orang-orang Armenia.
Dari seluruh benua Asia, tempat tinggal 60% dari penduduk dunia dan 75% dari orang miskin sedunia, hanya 2% dari penduduknya beragama “Kristen”. Bagian terbesar dari jumlah itu terdapat di Filipina dan Indonesia, dua negara yang merupakan pengecualian dari “hal yang lazim” di Asia. Dapat dikatakan bahwa penduduk Amerika Latin diperkirakan seluruhnya beragama Kristen dan di Afrika, terutama sebelah selatan gurun Sahara, yang adalah bagian terpenting, juga Kristen. Tetapi di Asia keadaannya sama sekali lain. Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana Yesus ditanggapi, sekaligus merupakan pertanyaan tentang bagaimana hubungan Yesus Kristus dan gereja-gereja Kristen dengan agama-agama lain di Asia. Yang dimaksudkan terutama agama-agama “besar” seperti agama Hindu, Buddha dan ajaran Tao, yakni “ajaran-ajaran keselamatan”, yang berbeda dengan agama Kristen.
Teolog Asia yang berasal dari Sri Langka, Aloysius Pieris menulis: “Ke mana pun kita cari untuk mendapat Kristus yang berwajah Asia, tidak akan berhasil, bilamana kita tidak ikut serta dalam usaha pencarian bangsa Asia sendiri, dalam jurang yang amat dalam dari mana agama dan kemiskinan sama-sama berasal: yaitu pada 'Allah yang telah menyatakan Mammon sebagai musuh­Nya' (Mat 6:24).” Pada kesempatan yang lain Aloysius Pieris menyatakan bahwa gereja di Asia hanya dapat menjadi gereja milik Asia, jika dua kenyataan yang besar dari Asia ia perhatikan, yakni kemiskinannya dan keberagamaannya. Ia berpendapat bahwa sumber kegagalan dari agama Kristen di Asia - untuk jelasnya, usaha zending dan misi yang terakhir - harus dicari dalam penggabungannya dengan Mammon itu, pemerasan komersial dan kolonial serta penolakan gereja untuk menerobos ke dalam keberagamaan bersifat kebiaraan yang ia sebut sebagai “soteriologi­soteriologi (ajaran keselamatan) bukan Kristen”.

Kristus kolonial di Asia
Kristus yang dibawakan para penginjil dan misionaris sering berhubungan erat dengan kolonialisme, walaupun tidak senantiasa. Kebanyakan yang diberitakan adalah “Kristus yang menentang kebudayaan dan agama” (a), mengutip ungkapan Niebuhr, dan Ia juga Kristus yang menindas (b).
a.       Dalam era pengembangan gereja-gereja Eropa, Kristus “kolonial” bermusuhan dengan agama agama dari Dunia Ketiga yang dianggap agama-agama palsu. Bahkan pekerjaan Roberto de Nobili dan Mattheo Ricci tidak dikecualikan. Roberto de Nobili, anggota ordo Yesuit, pada 1606 di India membela peran serta orang-orang Kristen dalam perayaan-perayaan I lindu seperti Hari Raya Pongal. Ia mengusulkan agar orang Kristen memasak nasi basil panen yang pertama, di kaki salib yang memang dipasang untuk maksud itu. Namun pendekatannya itu hanya bertujuan agar agama Kristen dalam bentuk-bentuknya yang nyata, tidak akan menimbulkan masalah. Ia tidak berusaha untuk menyesuai­kan teologinya. Bagi dia, hanya teologi dari zaman itu, yakni teologi Trente, yang berlaku.

Pada tahun 1706 Bartholemeus Ziegenbalg, penginjil Protestan pertama tiba di India. Dalam laporannya Remarkable Voyage (tidak dicetak) is menulis: “Saya tidak menolak semua apa yang mereka peNari, tetapi lebih dari itu saya bergembira karena mengetahui bahwa di antara orang kafir dahulu kala cahaya kecil dari Injil sudah mulai bersinar”. Ia menghendaki agar pembaca di Eropa melihat: “Betapa jauh mereka berkembang, karena diterangi oleh akal budi dalam pengetahuan mengenai Allah dan tata alam, serta bagaimana mereka sering mempermalukan banyak orang Kristen karena sifat kejujuran mereka, sebagai sikap hidup mereka dan bagaimana mereka berhasrat besar untuk mencapai kehidupan yang akan datang”.” Namun penghargaan terhadap “agama-agama alam” dan “akal budi” semacam itu, sekalipun sangat dipengaruhi pandangan abad ke-17 dan ke-18, pada zaman itu belum dimenger­ti orang. Apa yang dikatakan A.H. Francke (1663-1727) tak dapat disangsikan lagi, yang adalah pandangan penginjil-penginjil Barat pada umumnya untuk waktu yang cukup lama, “Para penginjil diutus untuk memberantas agama kafir di India, bukan untuk menyebarkan kekafiran yang tidak ada gunanya di Eropa.”

b.      Tidak dapat disangkal bahwa sering terjadi suatu “persekutu­an yang tidak suci antara para misionaris, tentara dan pedagang­-pedagang”. Agama Kristen “yang bersifat perdagangan” telah memasang salib di Asia dengan bantuan penguasa-penguasa kolonial dari luar negeri.” Jikalau kaum Katolik Roma telah membawa Kristus ke Asia, sebagaimana Ia dikenal oleh orang Spanyol, Portugis dan kemudian orang Perancis, Italis, Belgia, Irlandia dan Amerika Utara, maka kaum Protestan membawa serta versi Anglo-Saksis agama Kristen.” Kristus dibawa serta ke Asia dalam hubungan dengan kolonialisme, oleh karena itu tentu saja tidak banyak kritikan terhadap eksplotasi rakyat. Demikian teolog Katolik Roma dari Sri Langka, Tissa Balasuriya. Orang bicara tentang rencana “pembebasan” Allah, tetapi yang sebenarnya dimaksudkan ialah pesan bagi emansipasi atau pembebasan secara pribadi saja. “Kristologi” dikembangkan ke arah individualisme. Yesus mementingkan perubahan hati, bukan perombakan masyara­kat. Tissa Balasuriya menegaskan kemudian, bahwa teologi itu lebih memusatkan perhatian pada gereja daripada Kristus, atau bahkan Allah. Dalam abad ke-19 para misionaris menekankan bahwa hubungan pribadi dengan Yesus harus dihayati sebagai sobat. Yesus dilihat sebagai tokoh yang harus membebaskan umat manusia dari dosa warisan Adam. Tissa Balasuriya berpendapat bahwa hampir seluruh kehidupan Katolik didasarkan pada pandangan individualistis tentang Yesus dan Maria. Dalam hubungan ini ia menunjuk pada pengaruh besar dari Thomas a Kempis. Bukankah bab pertama dari karyanya Imitatio Christi membahas mengapa dunia harus dianggap hina. Thomas a Kempis hampir sepenuhnya bersikap negatif terhadap alam, dunia, kehidupan dan cinta manusiawi. Menurut Tissa Balasuriya, karena pandangannya begitu sempit, ia bertanggung jawab atas pemutar­balikan citra Yesus Kristus, yang walaupun dengan maksud baik, berakibat fatal. “Keseluruhan penggabungan teologi, kerohanian dan pengabdian cocok baik dengan latar belakang feodalisme ketimuran, despotisme dan kepercayaan pada tahyul maupun dengan kapitalisme Barat dalam tahap imperialisme.”

Sama seperti para teolog pembebasan dari Amerika Latin, Tissa Balasuriya menandaskan bahwa penafsiran Yesus Kristus yang seperti itu, mengandung arti bahwa kehidupan dan kematian Yesus hanya dilihat sebagai tindakan ketaatan kepada Allah. Keputusan Yesus sendiri sebagai hasil pertimbangan logis, yang Ia lakukan dalam konteks keadaan masyarakat pada waktu itu diabaikan. Orang sama sekali mengabaikan kasih-Nya kepada umat manusia, yang berada dalam keadaan tertindas dan proses pembebasan sebagai akibatnya.

Aloysius Pieris mempertajam pernyataannya dengan menga­takan bahwa zending dan misi masa kini membuat kesalahan yang sama, yakni melalui rencana-rencana pengembangan yang padat menempatkan gereja-gereja Asia dalam oasis-oasis Barat, yaitu dalam proyek-proyek besar bersifat pendidikan pribadi, atau pusat­pusat teknologi atau pertanian, yang dibiayai oleh bantuan dari luar negeri. Ia melihat adanya kelangsungan dari suatu misiologi “perebutan” dan “kekuasaan” di dalamnya, yang pada pendapatnya adalah ciri-ciri khas masa kolonialisme.

TINJAUAN ALKITABIAH ATAS GELAR-GELAR KRISTUS DARI BANGSA AFRIKA (Berry Mangowal S. Pd. K)


1. Kristus sebagai Pemenang dan pembebas dari perbudakan
     “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya, Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Roma 8: 15-16
     “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan Karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 20-21.
     “Dan kamu akan mengetahui Kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”  Yohanes 8:32
     “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”  Yohanes 8: 36
     “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 18, 22.
     Jika kita menilai perbudakan hanya sebatas lahiriah maka kita akan menemui seolah hanya bangsa hitam atau bangsa Afrika dan Asia yang mengalami perbudakan. Tetapi jika kita menilai dalam pandangan Kristus yang jauh melihat batin iah setiap manusia maka kita akan mendapati bahwa perbudakan dialami oleh setiap orang percaya di dalam diri mereka masing-masing. Dan awal perbudakan itu berasal dari pribadi dosa atau hukum dosa yang ada di dalam manusia. Itulah yang harus dipatahkan agar manusia terbebas dari perbudakan yang sesungguhnya. Amat disayangkana saya banyak menemui dewasa ini banyak orang yang justru ingin tetap lekat erat dengan dosa. Mereka tanpa sadar membela kuasa dosa yang bekerja secara halus di dalam pribadinya. Ketika Kristus hendak diberitakan dengan amat dalam untuk diakui dari dalam batin, manusia bahkan yang sudah melayani sekian lama sulit untuk rela menerima. Bahkan ada yang berusaha menghambat Kristus dalam pengajaran yang disampaikan namun syukur kepada Tuhan sebagaimana pengalaman Paulus demikian pula pengalaman saya dalam kekayaan dan kemuliaan Kristus yang dinayakan kepada saya. Saya mendapati semakin Kristus dihambat, maka justru itu semakin memperkuat dan memperkaya Dia yang ada di dalam saya untuk leluasa bekerja dalam segala hal, bahkan dalam segala hambatan. Lihatlah orang Farisi yang berusaha menghambat Yesus atau menjajah kebebasan Injil Allah yang hendak diberitakan, mereka berusaha menghambat dan mengekang Yesus karena mereka merasa tidak nyaman dan membela hukum dosa yang telah mereka pelihara sekian lama menjadi jati diri mereka.
     Jati diri manusia jika tanpa Kristus sesungguhnya adalah jati diri dosa. Mengapa manusia merasa amat lekat dengan dosa sebab dosa itu hukumnya telah menjadi bagian dalam diri dan sistem hukum hidup manusia, baik perasaan, akal budi pikiran maupun jasmaniahnya. Seolah dosa itu adalah diri manusia sendiri. Tapi kita yang sudah di dalam Kristus sebagaimana ayat di atas telah menyatakan bahwa kita merdeka dari perbudakan, setiap orang dijajah oleh segala keinginan dan perbuatan mereka sendiri, dan hanya satu yang tidak pernah terjajah oleh apapun dan menang untuk kita, Dialah Yesus yang harus kita akui dan ketika kita menemukan Dia dan keutuhanNya maka di sanalah kita terbebas dan merdeka.

2. Kristus sebagai kepala suku
     “Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi segala sesuatu.” Efesus 1:22
     “karena suami adalah kepala Isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Efesus 5: 23
    “ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Kolose 1:18
     Kristus adalah juga Pribadi Kepala atau Pemimpin yang hadir bagi kita. Pemimpin di sini bukan lebih berbicara hanya kepada status memimpin secara umum, jika demikian itu sama halnya dengan pemahaman dan keadaan pemimpin dunia. Pemimpin di sini atau kepemimpinan Kristus dilihat dari KehadiranNya secara pribadi dan menguasai kita secara pribadi dari dalam diri kita. Inilah kepemimpinan Kkristus atas diri kita, di mana kuasa kepemimpinan dosa atas kita dihancurkan digantikan dengan Kristus yang memimpin dan memiliki kita seutuhnya. Ini sifatnya amat dalam luas.
     Banyak orang yang sudah di dalam Yesus tapi tidak mau melangkah untuk masuk pada dipimpin oleh Yesus Kristus yang berawal dari pemberian diri seutuhnya dan pemulihan atau perombakan diri menjadi pribadi yang baru yang semakin menyatu dengan Kristus. Lihat ayat di atas bagaimana segala sesuatu telah diletakkan di bawah Kristus dan jemaat memiliki Dia sebagai kepala dan Dia memenuhi jemaat. Di mana setiap pribadi orang percaya mau rela mengalami kepenuhan akan Dia. Sebab kepenuhan akan Dia itu mengerjakan penyaliban diri kita untuk kita bebas. Kepala jemaat, dalam hal ini berkorelasi dengan istilah “Kepala suku” sebagai yang sulung dan utama dari segala sesuatu dan satu unutk jemaat yang menjadi satu pula di dalam Dia sebagaimana selaras dengan doa Yesus dalam kitab Yohanes.

3. Kristus sebagai leluhur
     “ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan dima di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” Kolose 1: 15-20
     Kristus sebagai Leluhur, yang awal dan akhir, yang mana semua bermual dari Dia dan berakhir kepada Dia. Allah yang memulai segala sesuatu dan mengakhiri segala sesuatu itu terwujud nyata dalam Pribadi Yesus Kristus di mana Dia menyatakan bahwa Dia sudah ada sebelum segalanya dan Dia menyatakan suatu ucapan Ilahi “sudah selesai” saat di kayu salib. Itu adalah bukti nyata bagimana Keilahian Allah di dalam Kristus yang mengawali karya Allah dan mengakhirinya dengan baik. Jika kita sudah mengawali dengan Kristus maka kita akan mengakhiri dan berakhir bersama Kristus. Jika kita tidak mengawali dengan Kristus dan tidak mau dimurnikan untuk sepenuhnya mengakui Dia dalam diri dan hidup kita maka kita tentu tidak akan berakhir dengan Dia dalam Kekekalan tetapi berakhir dengan dunia dalam kebinasaan.

4. Kristus sebagai Dukun (Pemberi Kesembuhan dan petunjuk)
     “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat ajaib, Allah yang perkasa, Raja damai.” Yesaya 9:6
     “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
     Baru-baru ini saat saya menyusun tesis, saya melihat sebuah berita tentang gubernur Jakarta Basuki Tjahya Poernama atau Ahok disantet oleh seorang dukun namun dukun penyantet malah tewas. Ini menjadi berita yang cukup heboh di dunia maya. Namun yang muncul belakangan ada beberapa opini dan polemic di masyarakat yang mengira Ahok memiliki dukun pula. Saya yakin ia, jika Ahok benar orang percaya dan pengikut Kristus sejati maka dia benar punya “Dukun”. Anda paham maksud saya? Dukun di atas segala dukun. Ini bukan bicara dalam makna dunia yang berdosa dan cemar oleh dosa tetapi dalam ungkapan dari iman yang telah diperbaharui oleh pikiran Kristus.
     Sejak dosa masuk dalam dunia dan secara utama dosa sebenarnya masuk dalam diri manusia dan merusak segala dalam diri manusia baik rasa karsa jiwanya, perasaan dan pikirannya maka sesuai Alkitab katakana manusia senantiasa menghasilkan dosa. Ini bukan bicara sebatas perbuatan baik buruk lahiriah. Cara manusia merasa, menilai, dan berpikiran dalam budi bahasanya dan tingkah lakunya menjadi bersumber dari segala keterbatasan dan kecemaran dosa. Sebagai  contoh dalam budi bahasa dan maknanya, karena makna manusia akan kata dukun telah tercemar dengan pikiran dosa dan symbol keadaan dunia maka kata dukun selalu diidentikan dengan dunia hitam dan gelap. Padahal penyelamat sejati yang sesungguhnya itu, yang hidup dan matiNya adalah karya kesembuhan yang juga tidak hanya secara jasmani saja tetapi secara Rohani juga itu telah datang dan menyatakan Dia Penyembuh, Penasehat, Pembela, Dukun di atas segala dukun yang dunia kenal dan puja.

     Saya banyak mengalami di mana bertemu dan sharing berdiskusi dengan rekan-rekan sepelayanan yang lebih tua dan pengalaman secara usia. Salah satu pengalaman dari sekian banyak pengalaman itu dapat saya contohkan di sini bagaimana pentingnya sebuah makna dibaharui dalam Kristus. Seorang hamba Tuhan bertanya kepada saya apakah saya sudah memiliki pendamping atau calon pendamping. Saya menjawab bahwa yang utama bukan pendamping tapi penghibur. Ketika dia mendengar ini konotasi dan pemahamannya langsung buruk, dengan berujar kalau penghibur cari di pub dan bar sana. Saya kaget dan merasa lucu, hingga saya meluruskan apa yang dimaksud penghibur itu. Bukankah Roh Kudus di dalam kita itu Penghibur, Roh Kristus, Roh Penghibur yang senantiasa menghibur kita dalam segala hal? Apakah dia benar-benar membaca ayat itu tentang kehadiran Penghibur bagi dia dan saya? Sekali lagi apakah dia BENAR-BENAR MEMBACA tentang Penghibur bagi kita? Atau pikiran dan hati manusiawi itulah yang masih banyak tertuju di dosa dan cemarnya makna dunia? Inilah salah satu contoh akibat dari belum mengalami pikiran Kristus. Jika kita BENAR-BENAR MEMBACA dalam hal ini diimani oleh Kristus yang sudah kita akui dalam diri kita maka kita akan sadar betul siapa Penghibur itu. Karena sebagaimana pengalama Yesus dulu, Dia juga mengalami ternyata murid-muridNya yang sudah ada dengan Dia sekian lama masih belum mengenal siapa Dia sesungguhnya. Inilah betapa pentingnya kita msuk pada diri yang mau semakin  meminta Dia dan mengakui Dia sebagaimana ungkapanNya carilah, mintalah dan ketoklah pintu maka semua itu, rahasia Allah dalam Kristus berkenan dibukakan kepada kita. Rahasia yang berabad-abad lamanya yang dicari dunia, namun berkenan dibukakan kepada kita oleh rahmat Allah dalam Kristus. Markus 4: 11, 22, Roma 16: 25, 1 Korintus 2: 7, 1 Korintus 4:1, Efesus 1:9, Efesus 3:4, 9, Kolose 1: 26-27, Kolose 2: 2, Kolose 4: 3. 

Monday, August 12, 2019

GELAR-GELAR KRISTUS BAGI BANGSA AFRIKA



Gelar-gelar kristologis dari Afrika
Dalam tahun 1967 pakar teologi yang berasal dari Kenya, John Mbiti, mengatakan bahwa tidak ada kristologi yang bersifat Afrika.
Dalam tahun 1974, pada suatu konsultasi antar teolog Afrika di Accra, Ghana, Dr. E.W. Fashole-Luke mengemukakan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan para teolog Afrika sedang ber­gumul dengan gagasan-gagasan kristologi. Menurut dia, aspek dari teologi Kristen Afrika ini hendaknya diberikan prioritas utama.
Sepuluh tahun sesudah pernyataan John Mbiti, Kofi Appiah­Kubi dari Ghana menyimpulkan, bahwa belum banyak literatur mengenai kristologi Afrika. Di tahun 1979 Gabriel Setiloane menyatakan, bahwa tugas yang harus diemban oleh teologi Afrika ialah mengadakan penelitian intensif tentang kristologi. Yakni: Siapakah Yesus itu? Apakah arti Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Sejak “himbauan” pertama itu telah dibuat berbagai rancangan kristologis, yang ingin mengemukakan “Hoheitstitel” atau “gelar kemuliaan” Yesus menurut kristologi Afrika. Mengenai hal itu dapat dikatakan, bahwa ada terkandung sifat eksperimental terkandung di dalamnya. Beberapa gelar di antaranya adalah sebagai berikut:

Kristus sebagai “Pemenang”
Berdasarkan penelitian terhadap khotbah-khotbah di Gereja Tuhan (Aladura) di Nigeria, John Mbiti bercerita, bahwa orang­-orang dari gereja tersebut menaruh perhatian besar terhadap peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan Yesus, seperti kelahiran­Nya, baptisan, kematian dan kebangkitan-Nya dan kebangkitan dan mereka yang tercakup dalam tubuh Kristus. Pertama-tama Ia dilihat sebagai pemenang. Ia melawan dan mengalahkan kuasa Iblis, penyakit, kebencian, ketakutan, bahkan kematian itu sendiri.
Jika ditanya mengapa orang Kristen Afrika sangat tertarik kepada Kristus sebagai pemenang, maka jawabnya ialah bahwa orang Kristen Afrika sangat peka terhadap berbagai kuasa yang bekerja dalam hidupnya seperti: roh-roh jahat, kekuatan gaib, sihir, ketakutan, penyakit, kuasa kejahatan dan yang terutama dan semuanya, kematian.
John Mbiti menjelaskan bahwa keakraban gereja ini dengan saat-saat tersebut dapat dihubungkan dengan antropologi Afrika. Allah menciptakan anak dan memberikannya kepada suatu persekutuan. Sekarang tugas persekutuan itu adalah memasukkan anak itu ke dalam masyarakat. Untuk itu manusia harus meng­alami rites de passages. Ada empat tahapan: kelahiran; penerimaan sebagai orang dewasa; pernikahan dan kematian; peralihan ke dunia para leluhur. Menurut Mbiti, kaum Kristen Afrika sangat tertarik pada kelahiran, baptisan dan kematian Yesus, karena peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus manusia sempurna yang telah mengalami rites de passages yang adalah kewajiban yang mutlak. Itu sebabnya orang Afrika sangat menaruh minat pada silsilah-Nya yang terdapat dalam Matius 1:1­17 dan Lukas 3:23-38.
Yesus memenuhi semua syarat untuk menjadi anggota penuh, yang tergabung seutuhnya dengan masyarakat. Dia manusia sempurna, lengkap, utuh, dewasa dan bertanggung jawab. Oleh karena Ia manusia sempurna, Ia harus mati untuk membuktikan secara lengkap, bahwa Ia sama dengan manusia lain. Salib bukanlah tanda aib dan penghinaan, tetapi lambang dari kesem­purnaan, selama itu berhubungan dengan kehidupan Yesus. John Mbiti berpendapat bahwa penjelasan tentang kematian Yesus seperti ini tidak menghilangkan ciri khas pengorbanan-Nya dan tidak melenyapkan konsekuensi soteriologis. Ciri-ciri itu “justru lahir dari salib, lebih daripada menyebabkannya.” Yesus mati sebagai manusia biasa. Perbedaan “kristiani” ditentukan oleh kebangkitan-Nya yang adalah keyakinan mendasar dari keper­cayaan kaum Kristen. Apa yang terjadi sebelum Paskah adalah pengalaman bagi banyak orang secara bersama. Apa yang terjadi sesudah Paskah adalah keistimewaan Injil.

Kristus sebagai “Kepala Suku”
Salah satu gelar yang diusulkan di Afrika bagi Kristus adalah gelar chief, yang dapat diartikan sebagai 'kepala suku' atau 'raja'. Paul de Fueter mengatakan, “Kami memberitakan tentang Kristus yang sesungguhnya disebut 'chief, yaitu Raja Afrika. Dia berkuasa, Dia yang datang dan oleh kehadiran-Nya segala sesuatu dilupakan, dan pada-Nya semua orang selamat. Gelar ini diusulkan oleh para penginjil. Namun ada pendapat bahwa pilihan itu tidak layak, karena manusia yang menjadi 'chief adalah orang-orang yang sering jauh dari rakyat dan tidak dapat didekati oleh mereka.” J.S. Pobee bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa adalah berbahaya jika dinyatakan ada persamaan antara Kristus dan “chief', sebab teologi seperti itu adalah teologi kemuliaan, yang tidak mengenal teologi salib. Kewibawaan dan kuasa dalam teologi ini berasal dari sesuatu yang berlainan dengan jalan penderitaan.

Kristus sebagai “Leluhur”
Gelar lain yang dikenal ialah Yesus sebagai leluhur yang besar, atau leluhur yang terbesar (Nana dalam bahasa Anka). Menurut J.S. Pobee Yesus adalah Nana seperti leluhur lain yang ter­masyhur. Ia adalah hakim yang tidak terlupakan, Ia mengungguli leluhur yang lain, karena Dia yang terdekat dengan Allah. Di dalam pernyataan bahwa Yesus adalah “Nana”, terkandung arti bahwa norma-norma-Nya berlaku dalam orientasi pribadi, dalam struktur-struktur masyarakat, dalam perkembangan ekonomi dan hubungan politik. Pernyataan itu berarti keadilan pribadi dan sosial. Orang Afrika yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Nana”, harus menghubungkan pesan itu dengan keadilan manusiawi dan keadilan sosial di Afrika dan bagian dunia lain­nya.
Teolog Katolik Roma berkebangsaan Afrika, Charles Nyamiti, memberikan pemecahan dogmatis lebih lanjut atas pemikiran ini. Ia mencoba membuktikan, bahwa Allah Bapa secara analogis adalah leluhur dari Logos dan Logos adalah keturunan Bapa. Allah adalah Bapa kita dan Leluhur kita melalui Kristus. Oleh penjel­maan dan penyelamatan-Nya Kristus menjadi Leluhur kita. Kedudukan-Nya sebagai Leluhur kita serupa dengan hubungan antara individu Afrika yang mati dengan saudara-saudara-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang dimaksudkan Nyamiti dengan jenis kedudukan sebagai leluhur ialah sejenis hubungan keluarga antara saudara-saudara yang telah meninggal dengan saudara­saudara perempuan dan laki-laki yang hidup, karena jenis ini yang paling cocok untuk menggambarkan secara analogis hubungan Kristus dengan kita. Kristus adalah saudara leluhur kita. Nyamiti membandingkan hubungan antara saudara-bersaudara Afrika dengan hubungan Kristus dengan umat manusia.
Kedudukan sebagai manusia ilahi memberikan Dia kemampuan bertindak sebagai saudara dan perantara bagi setiap insan, terlepas dari apakah Ia keturunan Adam atau tidak. Nyamiti menyatakan bahwa kedudukan Kristus sebagai anak terhadap Bapa berbeda sama sekali dengan kedudukan kita sebagai anak terhadap Bapa yang sama. Perantaraan Kristus yang membawa keselamatan berhubungan erat dengan kesatuan hypostatis-Nya atau sifat-Nya sebagai Manusia ilahi.
Kristus sebagai leluhur adalah contoh bagi tingkah laku seseorang. Tetapi Ia jauh lebih sempurna. Dia adalah sumber batiniah dan prinsip vital dari kehidupan Kristen. Kristus mem­berikan kepada saudara-saudara-Nya bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi di atas segalanya kebutuhan rohani, namun pemberian yang terbesar adalah diri-Nya sendiri demi keselamatan abadi. Sebagai manusia ilahi Ia adalah saudara leluhur dari semua insan. Charles Nyamiti menyatakan selanjutnya, bahwa kebangkitan sempurna dari Kristus seutuhnya masih akan terjadi. Keduduk­an-Nya sebagai leluhur belum terwujud secara lengkap. Tindakan penyelamatan-Nya akan digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus (parusia), bilamana kosmos menerima pahala penuh dari kebang­kitan-Nya. Ini membuktikan, demikian kata Nyamiti, betapa akrabnya hubungan antara penjelmaan Kristus, status-Nya sebagai Leluhur dan penyelamatan.

Kristus sebagai “Dukun”
Terutama dalam gereja-gereja independen pelaksanaan penyembuhan melalui kepercayaan mengambil peranan yang penting. Jawaban yang lazim diberikan atas pertanyaan mengapa orang menjadi anggota dari gereja independen, ialah, “Aku lama sekali menderita sakit. Aku sudah mencoba berbagai cara penyem­buhan tanpa hasil. Aku mendapat petunjuk untuk menemui nabi tertentu. Itu saya lakukan dan sekarang aku sembuh. Puji Tuhan!” Praktek-praktek penyembuhan melalui kepercayaan begitu besar pengaruhnya, sehingga dapat dipahami jika -Kristus lebih dimengerti sebagai penyembuh, dukun atau pelindung terhadap kuasa-kuasa jahat. Kalau demikian kristologi Afrika yang asli seharusnya didasarkan pada dan disiapkan oleh penyembuh tradisional.”
Gereja-gereja mandiri yang bersifat kenabian, lebih menon­jolkan paradigma Kristus sebagai nganga yang menyembuhkan, daripada gereja manapun di Afrika. Nabi yang menyembuhkan itu memerankan pertolongan pembebasan dan penyembuhan sebagai­mans diberikan oleh Kristus. Ia berbicara tentang Kristus, Sang Penyembuh sepanjang ibadah, yang mendahului kegiatan-kegiatan penyembuhan. Menurut Daneel, di dalam Kristus di satu pihak tradisi “nganga” menemukan pusat kegiatannya, tetapi di pihak lain secara radikal berubah mendapat bentuk Kristen. Dengan cara nganga meletakkan tangannya, melalui perintah-perintah-Nya, dengan membagikan air suci dan melakukan tanda-tanda lain yang melambangkan kuasa penyembuhan Allah, melalui pengusiran roh­roh jahat secara dramatis, maka Kristus dinyatakan kepada dunia Afrika, sebagai Tokoh yang berbicara, memberi perlindungan, menyembuhkan dan melenyapkan kekuatiran.
Dalam sebuah karangan yang sangat memikat, dengan menggunakan laporan-laporan mengenai Kultus-Bwiti dari Gabon dan Kultus Mbona di Malawi sebagai bahan pembantu, Schoffeleers menulis tentang Kristus sebagai nganga yang is anggap sebagai contoh utama bagi suatu kristologi Afrika.
Yang sangat seru dari pemikiran t ntuk menggunakan nganga sebagai contoh dari citra Kristus, ialah bahwa justru nganga atau dukun itu oleh zending dan misi secara bersamaan dilihat sebagai lawan utama Kristus. Alasan ini menyebabkan keseganan dari beberapa pihak di kalangan orang Afrika, untuk menggunakan contoh itu. Mungkin hal itu dapat disamakan dengan keberatan yang timbul terhadap pemakaian gelar “chief”. sebagaimana dikemukakan terdahulu.

Dalam kesimpulannya Schoffeleers menyatakan bahwa baik pejabat-pejabat gerejawi maupun Kristus sendiri dapat disebut nganga, namun sebaliknya juga para nganga sudah mulai bersifat Kristen atau kristologis. Di satu pihak ada dorongan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru bagi kehidupan masyarakat: nganga berubah seakan-akan menjadi Kristus; di pihak lain ada dorongan untuk menyesuaikan bentuk tradisional dengan keadaan Kristus berubah menjadi nganga.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...