
1. Kristus dan
penyangkalan diri
“Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya:
“setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16: 24
Penyangkalan diri bukanlah sebatas
lahiriah seperti yang tampak pada karakteristik kepercayaan kuno Asia maupun
kepercayaan Asia modern yang tampak pada Bhudisme, Hinduisme, dan kepercayaan
lainnya yang bersifat sukuisme. Namun kebanyakan agama juga menerjemahkan
penyangkalan diri sama halnya dengan cara agama sukuisme terjemahkan. Yaitu
dengan sikap menahan diri dari berbagai nafsu, nafsu makan, harta, dan badani. Menganggap
diri sudah melakukan penyangkalan diri jika sudah puasa, bertapa, meditasi,
peraturan dan pengasingan yang ketat dan sejenisnya. Padahal kata Firman Allah
lewat Paulus itu hanyalah bagian dari nafsu belaka juga yang diperuntukkan
kepuasaan manusia. Yah, PAulus telah menemukan inti batiniah manusia dalam
Kristus dan mendapati bahwa penyangkalan diri sejatai dan utuh itu ada di dalam
Kristus saja. Sifatnya tidak lahiriah seperti dunia dan agama dunia ajarkan
tetapi secara rohani batiniah diawali dari pemberian diri, penyangkalan diri kita,
kehendak kita apapun baiknya itu kepada kehendak Kristus atau pribadi Kristus
yang ada di dalam kita, yang hendak mengambil alaih diri dan hidup kita. Ini
bermuala dari dalam bukan usaha hati yang dianggap iman dan berimplementasi
keluar secara jasmaniah tetapi diawali dari ketundukkan pribadi kita kepada
RohNya di dalam kita baru nampak keluar lewat hidup kita. Ini bukan semata pada
perbuatan baik saja sebab dunia pun melakukan itu dalam apa yang mereka yakini
sebagai penyangkalan tetapi ini adalah soal adakah kita menikmati, mengakui,
dan menyatakan Kristus dalam segala apa yang kita perbuat.
Sangat menyedihkan gereja jaman ini juga
banyak yang menerjemahkan penyangkalan dan mengimani penyangkalan diri sebatas
secara lahiriah. Padahal perbuatan apapun itu jika tanpa dasar Kristus yang
ebnar di dalam diri pribadi kita maka hanya akan sia-sia, sebab tetap berada
pada tuntutan hukum taurat dan hukum dunia serta hukum dosa yang sebenarnya
sudah tidak berkuasa lagi atas mereka yang telah ada di dalam Kristus tetapi
seolah berkuasa sebab manusia itu sendiri yang masih banyak hidup searah dengan
tuntutan hukum itu. Padahal penyangkalan diri kepada Kristus seutuhnya akan
membuahkan kebebasan dan pembebasan sejati atas diri kita. Kita tidak lagi
melayani Dia dalam tuntutan hukum yang memberatkan diri terlebih jasmaniah
tetapi kita melayani Dia dalam kebebasan dan kebenaranNya yang telah menjadi
satu dengan kita, inilah Kristologi. Kristus yang bukan sebatas jadi ilmu bahan
keyakinan, bahan pembelajaran, bahan ujian, atau pendidikan tetapi menjadi
Kristus yang satu dengan kita. Ini yang dimaksud manusia Allah, anak Allah
dalam Kristus. Sebab berbeda antara anaka Allah dalam pembenaran yang masih
hidup dalam banyak tuntutan akibat belum masuk pada penyangkalan diri seutuhnya
dengan anak Allah yang sudah dalam Kebenaran yang membenarkan dan memerdekakan
dari segala tuntutan karena telah mengakui Kristus dan menyangkal diri untuk
Kristus, dari dalam batin/rohaniah dan bukan sebatas lahiriah/hati perasaan,
akal pikiran, dan jasmaniah perbuatan. Jika berawal murni dari Roh Kudus maka
Roh yang akan mengendalikan semua aspek diri manusia tersebut.
2. Kristus dan kesucian
diri
“Dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka,
supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17: 19
Dalam sebuah ibadah saya pernah memiliki
sebuah pengalaman di mana seorang pendeta sebelum masuk pada pemberitaan Firman
Tuhan menye,patkan untuk bertanya apakah ada di antara hadirin jemaat yang
sudah kudus atau suci. Ada dua orang menurut pendeta itu yang berani angkat
tangan, yaitu saya dan seorang lagi di sudut. Saya mendapati di mana-mana ketika
banyak orang Kristen yang masih lebih melihat ke arah diri sendiri saja dan
dalam pandangan dosa bukan pandangan Kristus padahal Kristus sudah ada di dalam
kita. Ini akibat dari tidak mengenal Kristus dengan benar dan dalam sebab tidak
mencari itu. Hanya sibuk dengan berbagai kepentingan dunia yang dibalut
ungkapan rohani dalam doa. Ini pula akibat dari tidak menikmati penyangkalan
diri secara batiniah dari dalam diri kepada Kristus, sebab jika kita telah
menikmati penyangkalan diri kepada Kristsu dan mengakui Dia maka kita akan
banyak berpandangan kepada Dia, bahkan seutuhnya kepada Dia. Dia yang
menguduskan kita sebagaimana tertera dalam ayat di atas dan banyak lagi ayat
Alkitab lainnya yang beberapa di antaranya saya uraikan di sini. Dari sini kita
mendapati bahwa kita jika sudah di dalam Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan
dan Juruselamat maka telah masuk dan menikmati hidup dalam pengudusan Allah.
Kita telah dikuduskanNya sebagai umatNya untuk melayani Dia dalam segala aspek
hidup kita. Kita tidak mungkin ada seperti saat ini dalam pengiringan akan Dia
jika tanpa dikuduskan terlebih dahulu olehNya. Imamat Rajani, umat pilihan, ini
jelas berbiacara dan mewakili pengudusanNya yang ada bagi kita sebagai
anak-anakNya. Kita disebut anak sebab telah dikuduskanNya. Namun manusia
duniawi dengan pikiran yang masih banyak lahiriah dosa, akan lebih memandang
kepada keadaan dosa dirinya padahal dia telah ada dan hidup dalam pengudusan.
Terlebih duniawi lagi dan terlebih bodoh lagi mereka yang lantas menerjemahkan
bahwa jika demikian kita dikuduskan maka sebebasnya berbuat dosa. Inilah
kedangkalan iman yang sebenarnya bukan iman. Ini akibat dari tidak adanya
penyangkalan diri kepada Kristus secara batiniah dalam Roh. Penyangkalan yang
hanya bersifat lahiriah yaitu berdasar pada perasaan hati, niat pikiran, dan
usaha lahiriah. Penyangkalan yang sungguh dan membebaskan adalah adanya Kristus
mengawali di dalam batin kita, RohNya menguasai diri kita, hati perasaan, akal
pikiran, dan tubuh perbuatan kita.
“Dan beberapa orang di antara kamu telah
memberi dirimu disucikan , kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam
nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
1 Korintus 6: 11
Ini jelas bahwa kita dikuduskanNya, sebab
tiada seorangpun di dunia ini yang oleh kehendak kemauan sendiri dan perbuatan
sendiri sebaik dan sebanyak apapun itu lalu sanggup menguduskan dirinya
sendiri. Adakah? Maka dari itu kita harus menerima Kristus, yang adalah Allah
yang menguduskan diriNya bagi kita, ini bukan Dia tidak Kudus tetapi sesuai
ayat di atas yang menulis demikian. Bahwa ini adalah dedikasi Allah yang
mempersembahkan diriNya bagi kita lewat Yesus Kristus. Yesus Kristus pula
adalah timbal balik dari manusia atau mewakili manusia kepada Allah, yaitu sebagai
Manusia yang menguduskan diriNya kepada Allah. Agar lewat Kristus manusia dapat
diterima di hadapan Allah dan Allah dapat diterima di hadapan manusia. Sebab
tanpa lewat Kristus maka Allah tidak bisa menjangkau manusia secara utuh dalam
penyelamatan. Inilah Kristologi, Kristus yang adalah kesinambungan serta
hubungan antara Allah dan manusia, yang nyta di dalam Dia.
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan
Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan,
kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”
Kolose 3: 12
“Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang
dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu
menyebut mereka saudara.
Ibrani 2:11
“Dan karena kehendakNya inilah kita telah
dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus
Kristus.”
Ibrani 10:10
“Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai
dengan rencana Allah, BApa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,supaya taat
kepada Yesus Kristus dan menerimapercikan darahNya. KiraNya kasih karunia dan
damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”
1 Petrus 1:2
Beberapa ayat di atas jelas menyatakan bahwa
Kristus yang menguduskan kita agar kita sudah kudus dan layak ada dalam area
penyertaan dan pelayanan akan Dia dan bukan sebaliknya. Langkah awalnya adalah
dari Dia yang berkenan mencari kita untuk menguduskan kita yang mau datang
menerima Dia. Bukan karena perbuatan baik kita tetapi kasih karuniaNya agar
tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Sebab Kekudusan sesuai standar
kebenaran Allah tidak akan ada manusia manapun yang sanggup memenuhinya dan
selamat kecuali Yesus Kristus yangs sudah mewakili manusia di hadapan Allah dan
mempersembahkan diriNya sebagai Korban yang kudus dan tidak bercacat cela. Di
dalam Dia kita dikuduskanNya dan kita sudah ada dalam kekudusan. Manusia yang
masih berorientasi pada dosa dan hukum taurat meskipun tampak rohaniah, mereka
sesungguhnya masih akan sulit mengakui dan menerima kekudusan Allah yang sudah
ada dan tinggal di dalam dia.
3. Kristus dan meditasi
atau ketenangan diri
“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena tu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
1 Petrus 4:7
“Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah
padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan.”
Matius 11: 29
“Ia pun bangun, menghardik angin itu dan
berkata kepada danau itu: “diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu
menjadi teduh sekali.”
Markus 4: 39
Kepercayaan banyak bangsa dan dalam hal
ini kepercayaan bangsa Asia menganggap bahwa ketenangan seutuhnya dan
semata-mata hanya didapati dalam semedi atau pertapaan. Suatu gaya hidup
mengasingkan diri dari keramaian dunia dan penuh perenungan dalam segenap tapa.
Ini nampak jelas dari perjalanan sang Budha dan para pendeta Hindu. Di Israel
terkenal kalangan essenis yang hidup mengikuti jejak rasul Yohanes secara
harfiah dan lahiriah. Mereka mengungsikan diri di gua-gua terpencil dan hidup
jauh dari keramaian. Sehari-hari membaca taurat dan merenungkan serta berdoa
dalam sajak kitab para nabi. Mereka melakukan berbagai puasa dan penyangkalan
diri yang ketat demi mencapai ketenangan.
Tao, zen, dan yoga adalah beberapa sistem
kepercayaan atau gaya kepercayaan Asia yang menonjolkan sisi ketenangan batin
yang dicapai dengan metode pengosongan diri dan pikiran untuk mencapai
ketenangan. Sebenarnya setenang apapun tampak pada diri manusia, adakah manusia
yangbenar-benar tenang dalam hidupnya? Manusia hanya sanggup menilai ketenangan
dari keadaan jiwa hati dan akal manusia yang tampak beristirahat dan diam.
Situasi yang melegakan dan hening dianggap sebagai kunci ketenangan. Tetapi
ketenangan sejati hanya ada dan nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Ketenangan
yang diwujudnyatakan Allah dalam Yesus itu nampak dalam segala aspek hidup.
Tidak hanya saat bermeditasi atau berdoa puasa dalam keheningan terus disebut
tenang, tidak pula hanya di saat beribadah, mengajar, atau sikap baik maka itu
disebut tenang, tetapi ini mengenai bagaimana Ketenangan itu adalah Dia itu
sendiri, Pribadi Allah yang hadir dalam ketenangan. Ini berbicara di mana kita
masuk untuk mengenal kesempurnaan Kristus yang memiliki segalanya dan sumber
segalanya. Dialah Kasih, Dialah Ketenangan, Dialah Keberanian, Dialah Iman.
Inilah kebenaran hakiki tentang pribadi Allah dalam Kristus. Banyak kali
ungkapan Allah sebagai sumber segalanya dan memiliki segalanya hanya
diterjemahkan sebatas lahiriah di mana Dia memiliki dunia ini, semua alam dan
langit, serta nafas hidup dan jalan hidup manusia. Tetapi karena gagal
mendapati Kristus secara pribadi secara utuh maka manusia lupa untuk mengakui
bahwa Dia juga sumber dan memiliki segala aspek kebenaran hidup dan kedamaian
hidup. Itulah hal paling utama dan hakiki sebagai Allah. Inilah bedanya antara
Allah dalam Yesus Kristus dan allah-alah berbagai kepercayaan dunia yang
ternyata hanya berisikan keyakinan yang bersifat lahiriah semata. Kekristenan
tanpa mau mendalami Kristus dan mengakui Kristus maka akan bersifat seperti
kepercayan allah-allah dunia yang sifat keyakinan dan ketuhanannya hanya
sebatas lahiriah. Memandang Tuhan hanya
sebatas lahiriah dan sebatas perasaan dan pikiran saja, tidak bermuara dari
batin dan roh.
4. Kristus dan kesatuan
kebenaran yang ada di dalam Dia
“Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5: 23
Saya beri contoh satu ayat yang amat
sering kit abaca seperti di atas seputar bagaimana menjelaskan suatu keutuhan
kebenaran Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Bagaimana itu sebenarnya
berbeda jauh dengan apa yang manusia miliki. Mari kita lihat saya jabarkan
satu-persatu kesembilan sikap yang dinyatakan sebagai buah Roh dalam kitab
Galatia.
1. Kasih
2. Sukacita
3. Damai sejahtera
4. Kesabaran
5. Kemurahan
6. Kebaikan
7. Kesetiaan
8. Kelemahlembutan
9. Penguasaan diri
Jika kasih milik manusia
maka belum tentu dalam kasih manusia itu ada tercakup sukacita, damai, ataupun
kesabaran dan kedelapan hal lainnya. Demikian pula dengan sukacita, jika itu
sukacita manusia maka belum tentu akan terdapat kasih dalam sukacita itu, belum
tentu terdapat sabar, ataupun kesetiaan dalam sukacita itu. Hal ini sama halnya
dengan buah-buah yang lain. Milik manusia itu bukan sejatinya, bukan kebenaran,
berasal dari hukum dosa, dari buah yang cemar, tidak berkesinambungan tetapi
terpisah. Ingatlah setan sejak membawa dosa ke dalam dunia terutama dosa itu
masuk dan merasuk dalam diri manusia sehingga kekacauan yang terjadi oleh
karena dosa bukan berinti atas apa yang terjadi di luar kita tetapi intinya
berawal dari apa yang terjadi di dalam diri kita di mana setiap aspek roh, jiwa
(perasaan dan pikiran), serta tubuh badaniah keinginan jasmani manusia menjadi
terpisah. Termasuk setiap sikap dan buah perbuatannya. Ini makanya dikatakan
tidak ada seorang pun benar sebab apapun sikap manusia itu bermula dari yang
cemar, yang kacau, yang terpisah. Kesabaran manusia bisa saja sebenarnya buah dari ketidaksabarannya namun muncul
dalam sikap yang seolah sabar. Kita butuh Pribadi yang kuat, yang utuh, dan
sempurna untuk dapat memurnikan setiap sikap dan aspek hidup kita dari dalam
batin. Kita butuh Yesus Kristus.
Milik Allah itu satu dan utuh, saling
berkesinambungan dan terikat satu dengan yang lain. Kasih Yesus sudah mencakup
kedelapan buah lainnya hanya sikap yang nampak secara jasmani erat dengan
kasih. Begitu pula untuk sukacita, di dalamnya berisi kasih, kelemahlembutan,
kesabaran, dan seluruh buah roh lainnya yang utuh dalam satu perbuatan tindakan
yang tampak jasmani berwujud sukacita. Pahamkah saudara? Inilah Buah Roh yang
sebenarnya yang diberikan Allah kepada kita lewat Yesus Kristus yang telah
menyatakannya bagi kita. Buah Roh ini sebenarnya menyatu dengan Kristus dan
adalah Kristus itu sendiri. Apa itu Kasih? Kasih itu Kristus. Apa itu Damai?
Damai itu Kristus. Begitu selanjutnya dengan buah-buah yang lain. Buah manusia
beda jauh dengan buahNya Allah yang ada di dalam Kristus. Makanya sempat saya
singgung sebelumnya bahwa ada perbuatan baik yang dalam pembenaran kasih
karunia karena sudah di dalam Kristus, dan ada saatnya jika kita mau masuk
lebih dalam dan menyatu dengan Kristus di mana perbuatan itu bukan lagi
perbuatan baik yang dibenarkan tetapi perbuatan Kebenaran, Buah Roh yang
sesungguhnya. Penjabaran di atas bukan hanya berlaku dalam buah Roh saja
melainkan dalam keseluruhan aspek nubuatan, perumpamaan, dan perbuatan hukum
yang tercantum dalam Alkitab, sebab kesemuanya itu ada dan satu di dalam
Kristus. Itulah sebabnya DIa kita yakini sebagai Pribadi yang sempurna dan
benar yang menyempurnakan segenap Firman Allah dan menggenapi segenap isi
Firman Allah. Inilah kedalaman dan keluasan Kristus, inilah Kristologi sejati.
No comments:
Post a Comment