Tuesday, September 10, 2019

TINJAUAN TENTANG PANDANGAN BANGSA ASIA PADA YESUS KRISTUS (Berry Mangowal S. Pd. K)

1. Kristus dan penyangkalan diri
     “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Matius 16: 24
     Penyangkalan diri bukanlah sebatas lahiriah seperti yang tampak pada karakteristik kepercayaan kuno Asia maupun kepercayaan Asia modern yang tampak pada Bhudisme, Hinduisme, dan kepercayaan lainnya yang bersifat sukuisme. Namun kebanyakan agama juga menerjemahkan penyangkalan diri sama halnya dengan cara agama sukuisme terjemahkan. Yaitu dengan sikap menahan diri dari berbagai nafsu, nafsu makan, harta, dan badani. Menganggap diri sudah melakukan penyangkalan diri jika sudah puasa, bertapa, meditasi, peraturan dan pengasingan yang ketat dan sejenisnya. Padahal kata Firman Allah lewat Paulus itu hanyalah bagian dari nafsu belaka juga yang diperuntukkan kepuasaan manusia. Yah, PAulus telah menemukan inti batiniah manusia dalam Kristus dan mendapati bahwa penyangkalan diri sejatai dan utuh itu ada di dalam Kristus saja. Sifatnya tidak lahiriah seperti dunia dan agama dunia ajarkan tetapi secara rohani batiniah diawali dari pemberian diri, penyangkalan diri kita, kehendak kita apapun baiknya itu kepada kehendak Kristus atau pribadi Kristus yang ada di dalam kita, yang hendak mengambil alaih diri dan hidup kita. Ini bermuala dari dalam bukan usaha hati yang dianggap iman dan berimplementasi keluar secara jasmaniah tetapi diawali dari ketundukkan pribadi kita kepada RohNya di dalam kita baru nampak keluar lewat hidup kita. Ini bukan semata pada perbuatan baik saja sebab dunia pun melakukan itu dalam apa yang mereka yakini sebagai penyangkalan tetapi ini adalah soal adakah kita menikmati, mengakui, dan menyatakan Kristus dalam segala apa yang kita perbuat.
     Sangat menyedihkan gereja jaman ini juga banyak yang menerjemahkan penyangkalan dan mengimani penyangkalan diri sebatas secara lahiriah. Padahal perbuatan apapun itu jika tanpa dasar Kristus yang ebnar di dalam diri pribadi kita maka hanya akan sia-sia, sebab tetap berada pada tuntutan hukum taurat dan hukum dunia serta hukum dosa yang sebenarnya sudah tidak berkuasa lagi atas mereka yang telah ada di dalam Kristus tetapi seolah berkuasa sebab manusia itu sendiri yang masih banyak hidup searah dengan tuntutan hukum itu. Padahal penyangkalan diri kepada Kristus seutuhnya akan membuahkan kebebasan dan pembebasan sejati atas diri kita. Kita tidak lagi melayani Dia dalam tuntutan hukum yang memberatkan diri terlebih jasmaniah tetapi kita melayani Dia dalam kebebasan dan kebenaranNya yang telah menjadi satu dengan kita, inilah Kristologi. Kristus yang bukan sebatas jadi ilmu bahan keyakinan, bahan pembelajaran, bahan ujian, atau pendidikan tetapi menjadi Kristus yang satu dengan kita. Ini yang dimaksud manusia Allah, anak Allah dalam Kristus. Sebab berbeda antara anaka Allah dalam pembenaran yang masih hidup dalam banyak tuntutan akibat belum masuk pada penyangkalan diri seutuhnya dengan anak Allah yang sudah dalam Kebenaran yang membenarkan dan memerdekakan dari segala tuntutan karena telah mengakui Kristus dan menyangkal diri untuk Kristus, dari dalam batin/rohaniah dan bukan sebatas lahiriah/hati perasaan, akal pikiran, dan jasmaniah perbuatan. Jika berawal murni dari Roh Kudus maka Roh yang akan mengendalikan semua aspek diri manusia tersebut.

2. Kristus dan kesucian diri
    “Dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17: 19
     Dalam sebuah ibadah saya pernah memiliki sebuah pengalaman di mana seorang pendeta sebelum masuk pada pemberitaan Firman Tuhan menye,patkan untuk bertanya apakah ada di antara hadirin jemaat yang sudah kudus atau suci. Ada dua orang menurut pendeta itu yang berani angkat tangan, yaitu saya dan seorang lagi di sudut. Saya mendapati di mana-mana ketika banyak orang Kristen yang masih lebih melihat ke arah diri sendiri saja dan dalam pandangan dosa bukan pandangan Kristus padahal Kristus sudah ada di dalam kita. Ini akibat dari tidak mengenal Kristus dengan benar dan dalam sebab tidak mencari itu. Hanya sibuk dengan berbagai kepentingan dunia yang dibalut ungkapan rohani dalam doa. Ini pula akibat dari tidak menikmati penyangkalan diri secara batiniah dari dalam diri kepada Kristus, sebab jika kita telah menikmati penyangkalan diri kepada Kristsu dan mengakui Dia maka kita akan banyak berpandangan kepada Dia, bahkan seutuhnya kepada Dia. Dia yang menguduskan kita sebagaimana tertera dalam ayat di atas dan banyak lagi ayat Alkitab lainnya yang beberapa di antaranya saya uraikan di sini. Dari sini kita mendapati bahwa kita jika sudah di dalam Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat maka telah masuk dan menikmati hidup dalam pengudusan Allah. Kita telah dikuduskanNya sebagai umatNya untuk melayani Dia dalam segala aspek hidup kita. Kita tidak mungkin ada seperti saat ini dalam pengiringan akan Dia jika tanpa dikuduskan terlebih dahulu olehNya. Imamat Rajani, umat pilihan, ini jelas berbiacara dan mewakili pengudusanNya yang ada bagi kita sebagai anak-anakNya. Kita disebut anak sebab telah dikuduskanNya. Namun manusia duniawi dengan pikiran yang masih banyak lahiriah dosa, akan lebih memandang kepada keadaan dosa dirinya padahal dia telah ada dan hidup dalam pengudusan. Terlebih duniawi lagi dan terlebih bodoh lagi mereka yang lantas menerjemahkan bahwa jika demikian kita dikuduskan maka sebebasnya berbuat dosa. Inilah kedangkalan iman yang sebenarnya bukan iman. Ini akibat dari tidak adanya penyangkalan diri kepada Kristus secara batiniah dalam Roh. Penyangkalan yang hanya bersifat lahiriah yaitu berdasar pada perasaan hati, niat pikiran, dan usaha lahiriah. Penyangkalan yang sungguh dan membebaskan adalah adanya Kristus mengawali di dalam batin kita, RohNya menguasai diri kita, hati perasaan, akal pikiran, dan tubuh perbuatan kita.
     “Dan beberapa orang di antara kamu telah memberi dirimu disucikan , kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”
1 Korintus 6: 11
     Ini jelas bahwa kita dikuduskanNya, sebab tiada seorangpun di dunia ini yang oleh kehendak kemauan sendiri dan perbuatan sendiri sebaik dan sebanyak apapun itu lalu sanggup menguduskan dirinya sendiri. Adakah? Maka dari itu kita harus menerima Kristus, yang adalah Allah yang menguduskan diriNya bagi kita, ini bukan Dia tidak Kudus tetapi sesuai ayat di atas yang menulis demikian. Bahwa ini adalah dedikasi Allah yang mempersembahkan diriNya bagi kita lewat Yesus Kristus. Yesus Kristus pula adalah timbal balik dari manusia atau mewakili manusia kepada Allah, yaitu sebagai Manusia yang menguduskan diriNya kepada Allah. Agar lewat Kristus manusia dapat diterima di hadapan Allah dan Allah dapat diterima di hadapan manusia. Sebab tanpa lewat Kristus maka Allah tidak bisa menjangkau manusia secara utuh dalam penyelamatan. Inilah Kristologi, Kristus yang adalah kesinambungan serta hubungan antara Allah dan manusia, yang nyta di dalam Dia.
     “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”
Kolose 3: 12
     “Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara.
Ibrani 2:11
     “Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”
Ibrani 10:10
     “Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, BApa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh,supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerimapercikan darahNya. KiraNya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”
1 Petrus 1:2
     Beberapa ayat di atas jelas menyatakan bahwa Kristus yang menguduskan kita agar kita sudah kudus dan layak ada dalam area penyertaan dan pelayanan akan Dia dan bukan sebaliknya. Langkah awalnya adalah dari Dia yang berkenan mencari kita untuk menguduskan kita yang mau datang menerima Dia. Bukan karena perbuatan baik kita tetapi kasih karuniaNya agar tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Sebab Kekudusan sesuai standar kebenaran Allah tidak akan ada manusia manapun yang sanggup memenuhinya dan selamat kecuali Yesus Kristus yangs sudah mewakili manusia di hadapan Allah dan mempersembahkan diriNya sebagai Korban yang kudus dan tidak bercacat cela. Di dalam Dia kita dikuduskanNya dan kita sudah ada dalam kekudusan. Manusia yang masih berorientasi pada dosa dan hukum taurat meskipun tampak rohaniah, mereka sesungguhnya masih akan sulit mengakui dan menerima kekudusan Allah yang sudah ada dan tinggal di dalam dia.
  
3. Kristus dan meditasi atau ketenangan diri
     “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena tu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”
1 Petrus 4:7
     “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”
Matius 11: 29
     “Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.”
Markus 4: 39
     Kepercayaan banyak bangsa dan dalam hal ini kepercayaan bangsa Asia menganggap bahwa ketenangan seutuhnya dan semata-mata hanya didapati dalam semedi atau pertapaan. Suatu gaya hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia dan penuh perenungan dalam segenap tapa. Ini nampak jelas dari perjalanan sang Budha dan para pendeta Hindu. Di Israel terkenal kalangan essenis yang hidup mengikuti jejak rasul Yohanes secara harfiah dan lahiriah. Mereka mengungsikan diri di gua-gua terpencil dan hidup jauh dari keramaian. Sehari-hari membaca taurat dan merenungkan serta berdoa dalam sajak kitab para nabi. Mereka melakukan berbagai puasa dan penyangkalan diri yang ketat demi mencapai ketenangan.
     Tao, zen, dan yoga adalah beberapa sistem kepercayaan atau gaya kepercayaan Asia yang menonjolkan sisi ketenangan batin yang dicapai dengan metode pengosongan diri dan pikiran untuk mencapai ketenangan. Sebenarnya setenang apapun tampak pada diri manusia, adakah manusia yangbenar-benar tenang dalam hidupnya? Manusia hanya sanggup menilai ketenangan dari keadaan jiwa hati dan akal manusia yang tampak beristirahat dan diam. Situasi yang melegakan dan hening dianggap sebagai kunci ketenangan. Tetapi ketenangan sejati hanya ada dan nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Ketenangan yang diwujudnyatakan Allah dalam Yesus itu nampak dalam segala aspek hidup. Tidak hanya saat bermeditasi atau berdoa puasa dalam keheningan terus disebut tenang, tidak pula hanya di saat beribadah, mengajar, atau sikap baik maka itu disebut tenang, tetapi ini mengenai bagaimana Ketenangan itu adalah Dia itu sendiri, Pribadi Allah yang hadir dalam ketenangan. Ini berbicara di mana kita masuk untuk mengenal kesempurnaan Kristus yang memiliki segalanya dan sumber segalanya. Dialah Kasih, Dialah Ketenangan, Dialah Keberanian, Dialah Iman. Inilah kebenaran hakiki tentang pribadi Allah dalam Kristus. Banyak kali ungkapan Allah sebagai sumber segalanya dan memiliki segalanya hanya diterjemahkan sebatas lahiriah di mana Dia memiliki dunia ini, semua alam dan langit, serta nafas hidup dan jalan hidup manusia. Tetapi karena gagal mendapati Kristus secara pribadi secara utuh maka manusia lupa untuk mengakui bahwa Dia juga sumber dan memiliki segala aspek kebenaran hidup dan kedamaian hidup. Itulah hal paling utama dan hakiki sebagai Allah. Inilah bedanya antara Allah dalam Yesus Kristus dan allah-alah berbagai kepercayaan dunia yang ternyata hanya berisikan keyakinan yang bersifat lahiriah semata. Kekristenan tanpa mau mendalami Kristus dan mengakui Kristus maka akan bersifat seperti kepercayan allah-allah dunia yang sifat keyakinan dan ketuhanannya hanya sebatas lahiriah. Memandang  Tuhan hanya sebatas lahiriah dan sebatas perasaan dan pikiran saja, tidak bermuara dari batin dan roh.

4. Kristus dan kesatuan kebenaran yang ada di dalam Dia
     “Tetapi buah Roh ialah: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5: 23
     Saya beri contoh satu ayat yang amat sering kit abaca seperti di atas seputar bagaimana menjelaskan suatu keutuhan kebenaran Allah yang ada di dalam Yesus Kristus. Bagaimana itu sebenarnya berbeda jauh dengan apa yang manusia miliki. Mari kita lihat saya jabarkan satu-persatu kesembilan sikap yang dinyatakan sebagai buah Roh dalam kitab Galatia.
1. Kasih
2. Sukacita
3. Damai sejahtera
4. Kesabaran
5. Kemurahan
6. Kebaikan
7. Kesetiaan
8. Kelemahlembutan
9. Penguasaan diri
Jika kasih milik manusia maka belum tentu dalam kasih manusia itu ada tercakup sukacita, damai, ataupun kesabaran dan kedelapan hal lainnya. Demikian pula dengan sukacita, jika itu sukacita manusia maka belum tentu akan terdapat kasih dalam sukacita itu, belum tentu terdapat sabar, ataupun kesetiaan dalam sukacita itu. Hal ini sama halnya dengan buah-buah yang lain. Milik manusia itu bukan sejatinya, bukan kebenaran, berasal dari hukum dosa, dari buah yang cemar, tidak berkesinambungan tetapi terpisah. Ingatlah setan sejak membawa dosa ke dalam dunia terutama dosa itu masuk dan merasuk dalam diri manusia sehingga kekacauan yang terjadi oleh karena dosa bukan berinti atas apa yang terjadi di luar kita tetapi intinya berawal dari apa yang terjadi di dalam diri kita di mana setiap aspek roh, jiwa (perasaan dan pikiran), serta tubuh badaniah keinginan jasmani manusia menjadi terpisah. Termasuk setiap sikap dan buah perbuatannya. Ini makanya dikatakan tidak ada seorang pun benar sebab apapun sikap manusia itu bermula dari yang cemar, yang kacau, yang terpisah. Kesabaran manusia bisa saja sebenarnya  buah dari ketidaksabarannya namun muncul dalam sikap yang seolah sabar. Kita butuh Pribadi yang kuat, yang utuh, dan sempurna untuk dapat memurnikan setiap sikap dan aspek hidup kita dari dalam batin. Kita butuh Yesus Kristus.

     Milik Allah itu satu dan utuh, saling berkesinambungan dan terikat satu dengan yang lain. Kasih Yesus sudah mencakup kedelapan buah lainnya hanya sikap yang nampak secara jasmani erat dengan kasih. Begitu pula untuk sukacita, di dalamnya berisi kasih, kelemahlembutan, kesabaran, dan seluruh buah roh lainnya yang utuh dalam satu perbuatan tindakan yang tampak jasmani berwujud sukacita. Pahamkah saudara? Inilah Buah Roh yang sebenarnya yang diberikan Allah kepada kita lewat Yesus Kristus yang telah menyatakannya bagi kita. Buah Roh ini sebenarnya menyatu dengan Kristus dan adalah Kristus itu sendiri. Apa itu Kasih? Kasih itu Kristus. Apa itu Damai? Damai itu Kristus. Begitu selanjutnya dengan buah-buah yang lain. Buah manusia beda jauh dengan buahNya Allah yang ada di dalam Kristus. Makanya sempat saya singgung sebelumnya bahwa ada perbuatan baik yang dalam pembenaran kasih karunia karena sudah di dalam Kristus, dan ada saatnya jika kita mau masuk lebih dalam dan menyatu dengan Kristus di mana perbuatan itu bukan lagi perbuatan baik yang dibenarkan tetapi perbuatan Kebenaran, Buah Roh yang sesungguhnya. Penjabaran di atas bukan hanya berlaku dalam buah Roh saja melainkan dalam keseluruhan aspek nubuatan, perumpamaan, dan perbuatan hukum yang tercantum dalam Alkitab, sebab kesemuanya itu ada dan satu di dalam Kristus. Itulah sebabnya DIa kita yakini sebagai Pribadi yang sempurna dan benar yang menyempurnakan segenap Firman Allah dan menggenapi segenap isi Firman Allah. Inilah kedalaman dan keluasan Kristus, inilah Kristologi sejati.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...