Monday, August 12, 2019

GELAR-GELAR KRISTUS BAGI BANGSA AFRIKA



Gelar-gelar kristologis dari Afrika
Dalam tahun 1967 pakar teologi yang berasal dari Kenya, John Mbiti, mengatakan bahwa tidak ada kristologi yang bersifat Afrika.
Dalam tahun 1974, pada suatu konsultasi antar teolog Afrika di Accra, Ghana, Dr. E.W. Fashole-Luke mengemukakan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan para teolog Afrika sedang ber­gumul dengan gagasan-gagasan kristologi. Menurut dia, aspek dari teologi Kristen Afrika ini hendaknya diberikan prioritas utama.
Sepuluh tahun sesudah pernyataan John Mbiti, Kofi Appiah­Kubi dari Ghana menyimpulkan, bahwa belum banyak literatur mengenai kristologi Afrika. Di tahun 1979 Gabriel Setiloane menyatakan, bahwa tugas yang harus diemban oleh teologi Afrika ialah mengadakan penelitian intensif tentang kristologi. Yakni: Siapakah Yesus itu? Apakah arti Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Sejak “himbauan” pertama itu telah dibuat berbagai rancangan kristologis, yang ingin mengemukakan “Hoheitstitel” atau “gelar kemuliaan” Yesus menurut kristologi Afrika. Mengenai hal itu dapat dikatakan, bahwa ada terkandung sifat eksperimental terkandung di dalamnya. Beberapa gelar di antaranya adalah sebagai berikut:

Kristus sebagai “Pemenang”
Berdasarkan penelitian terhadap khotbah-khotbah di Gereja Tuhan (Aladura) di Nigeria, John Mbiti bercerita, bahwa orang­-orang dari gereja tersebut menaruh perhatian besar terhadap peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan Yesus, seperti kelahiran­Nya, baptisan, kematian dan kebangkitan-Nya dan kebangkitan dan mereka yang tercakup dalam tubuh Kristus. Pertama-tama Ia dilihat sebagai pemenang. Ia melawan dan mengalahkan kuasa Iblis, penyakit, kebencian, ketakutan, bahkan kematian itu sendiri.
Jika ditanya mengapa orang Kristen Afrika sangat tertarik kepada Kristus sebagai pemenang, maka jawabnya ialah bahwa orang Kristen Afrika sangat peka terhadap berbagai kuasa yang bekerja dalam hidupnya seperti: roh-roh jahat, kekuatan gaib, sihir, ketakutan, penyakit, kuasa kejahatan dan yang terutama dan semuanya, kematian.
John Mbiti menjelaskan bahwa keakraban gereja ini dengan saat-saat tersebut dapat dihubungkan dengan antropologi Afrika. Allah menciptakan anak dan memberikannya kepada suatu persekutuan. Sekarang tugas persekutuan itu adalah memasukkan anak itu ke dalam masyarakat. Untuk itu manusia harus meng­alami rites de passages. Ada empat tahapan: kelahiran; penerimaan sebagai orang dewasa; pernikahan dan kematian; peralihan ke dunia para leluhur. Menurut Mbiti, kaum Kristen Afrika sangat tertarik pada kelahiran, baptisan dan kematian Yesus, karena peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus manusia sempurna yang telah mengalami rites de passages yang adalah kewajiban yang mutlak. Itu sebabnya orang Afrika sangat menaruh minat pada silsilah-Nya yang terdapat dalam Matius 1:1­17 dan Lukas 3:23-38.
Yesus memenuhi semua syarat untuk menjadi anggota penuh, yang tergabung seutuhnya dengan masyarakat. Dia manusia sempurna, lengkap, utuh, dewasa dan bertanggung jawab. Oleh karena Ia manusia sempurna, Ia harus mati untuk membuktikan secara lengkap, bahwa Ia sama dengan manusia lain. Salib bukanlah tanda aib dan penghinaan, tetapi lambang dari kesem­purnaan, selama itu berhubungan dengan kehidupan Yesus. John Mbiti berpendapat bahwa penjelasan tentang kematian Yesus seperti ini tidak menghilangkan ciri khas pengorbanan-Nya dan tidak melenyapkan konsekuensi soteriologis. Ciri-ciri itu “justru lahir dari salib, lebih daripada menyebabkannya.” Yesus mati sebagai manusia biasa. Perbedaan “kristiani” ditentukan oleh kebangkitan-Nya yang adalah keyakinan mendasar dari keper­cayaan kaum Kristen. Apa yang terjadi sebelum Paskah adalah pengalaman bagi banyak orang secara bersama. Apa yang terjadi sesudah Paskah adalah keistimewaan Injil.

Kristus sebagai “Kepala Suku”
Salah satu gelar yang diusulkan di Afrika bagi Kristus adalah gelar chief, yang dapat diartikan sebagai 'kepala suku' atau 'raja'. Paul de Fueter mengatakan, “Kami memberitakan tentang Kristus yang sesungguhnya disebut 'chief, yaitu Raja Afrika. Dia berkuasa, Dia yang datang dan oleh kehadiran-Nya segala sesuatu dilupakan, dan pada-Nya semua orang selamat. Gelar ini diusulkan oleh para penginjil. Namun ada pendapat bahwa pilihan itu tidak layak, karena manusia yang menjadi 'chief adalah orang-orang yang sering jauh dari rakyat dan tidak dapat didekati oleh mereka.” J.S. Pobee bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa adalah berbahaya jika dinyatakan ada persamaan antara Kristus dan “chief', sebab teologi seperti itu adalah teologi kemuliaan, yang tidak mengenal teologi salib. Kewibawaan dan kuasa dalam teologi ini berasal dari sesuatu yang berlainan dengan jalan penderitaan.

Kristus sebagai “Leluhur”
Gelar lain yang dikenal ialah Yesus sebagai leluhur yang besar, atau leluhur yang terbesar (Nana dalam bahasa Anka). Menurut J.S. Pobee Yesus adalah Nana seperti leluhur lain yang ter­masyhur. Ia adalah hakim yang tidak terlupakan, Ia mengungguli leluhur yang lain, karena Dia yang terdekat dengan Allah. Di dalam pernyataan bahwa Yesus adalah “Nana”, terkandung arti bahwa norma-norma-Nya berlaku dalam orientasi pribadi, dalam struktur-struktur masyarakat, dalam perkembangan ekonomi dan hubungan politik. Pernyataan itu berarti keadilan pribadi dan sosial. Orang Afrika yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Nana”, harus menghubungkan pesan itu dengan keadilan manusiawi dan keadilan sosial di Afrika dan bagian dunia lain­nya.
Teolog Katolik Roma berkebangsaan Afrika, Charles Nyamiti, memberikan pemecahan dogmatis lebih lanjut atas pemikiran ini. Ia mencoba membuktikan, bahwa Allah Bapa secara analogis adalah leluhur dari Logos dan Logos adalah keturunan Bapa. Allah adalah Bapa kita dan Leluhur kita melalui Kristus. Oleh penjel­maan dan penyelamatan-Nya Kristus menjadi Leluhur kita. Kedudukan-Nya sebagai Leluhur kita serupa dengan hubungan antara individu Afrika yang mati dengan saudara-saudara-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang dimaksudkan Nyamiti dengan jenis kedudukan sebagai leluhur ialah sejenis hubungan keluarga antara saudara-saudara yang telah meninggal dengan saudara­saudara perempuan dan laki-laki yang hidup, karena jenis ini yang paling cocok untuk menggambarkan secara analogis hubungan Kristus dengan kita. Kristus adalah saudara leluhur kita. Nyamiti membandingkan hubungan antara saudara-bersaudara Afrika dengan hubungan Kristus dengan umat manusia.
Kedudukan sebagai manusia ilahi memberikan Dia kemampuan bertindak sebagai saudara dan perantara bagi setiap insan, terlepas dari apakah Ia keturunan Adam atau tidak. Nyamiti menyatakan bahwa kedudukan Kristus sebagai anak terhadap Bapa berbeda sama sekali dengan kedudukan kita sebagai anak terhadap Bapa yang sama. Perantaraan Kristus yang membawa keselamatan berhubungan erat dengan kesatuan hypostatis-Nya atau sifat-Nya sebagai Manusia ilahi.
Kristus sebagai leluhur adalah contoh bagi tingkah laku seseorang. Tetapi Ia jauh lebih sempurna. Dia adalah sumber batiniah dan prinsip vital dari kehidupan Kristen. Kristus mem­berikan kepada saudara-saudara-Nya bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi di atas segalanya kebutuhan rohani, namun pemberian yang terbesar adalah diri-Nya sendiri demi keselamatan abadi. Sebagai manusia ilahi Ia adalah saudara leluhur dari semua insan. Charles Nyamiti menyatakan selanjutnya, bahwa kebangkitan sempurna dari Kristus seutuhnya masih akan terjadi. Keduduk­an-Nya sebagai leluhur belum terwujud secara lengkap. Tindakan penyelamatan-Nya akan digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus (parusia), bilamana kosmos menerima pahala penuh dari kebang­kitan-Nya. Ini membuktikan, demikian kata Nyamiti, betapa akrabnya hubungan antara penjelmaan Kristus, status-Nya sebagai Leluhur dan penyelamatan.

Kristus sebagai “Dukun”
Terutama dalam gereja-gereja independen pelaksanaan penyembuhan melalui kepercayaan mengambil peranan yang penting. Jawaban yang lazim diberikan atas pertanyaan mengapa orang menjadi anggota dari gereja independen, ialah, “Aku lama sekali menderita sakit. Aku sudah mencoba berbagai cara penyem­buhan tanpa hasil. Aku mendapat petunjuk untuk menemui nabi tertentu. Itu saya lakukan dan sekarang aku sembuh. Puji Tuhan!” Praktek-praktek penyembuhan melalui kepercayaan begitu besar pengaruhnya, sehingga dapat dipahami jika -Kristus lebih dimengerti sebagai penyembuh, dukun atau pelindung terhadap kuasa-kuasa jahat. Kalau demikian kristologi Afrika yang asli seharusnya didasarkan pada dan disiapkan oleh penyembuh tradisional.”
Gereja-gereja mandiri yang bersifat kenabian, lebih menon­jolkan paradigma Kristus sebagai nganga yang menyembuhkan, daripada gereja manapun di Afrika. Nabi yang menyembuhkan itu memerankan pertolongan pembebasan dan penyembuhan sebagai­mans diberikan oleh Kristus. Ia berbicara tentang Kristus, Sang Penyembuh sepanjang ibadah, yang mendahului kegiatan-kegiatan penyembuhan. Menurut Daneel, di dalam Kristus di satu pihak tradisi “nganga” menemukan pusat kegiatannya, tetapi di pihak lain secara radikal berubah mendapat bentuk Kristen. Dengan cara nganga meletakkan tangannya, melalui perintah-perintah-Nya, dengan membagikan air suci dan melakukan tanda-tanda lain yang melambangkan kuasa penyembuhan Allah, melalui pengusiran roh­roh jahat secara dramatis, maka Kristus dinyatakan kepada dunia Afrika, sebagai Tokoh yang berbicara, memberi perlindungan, menyembuhkan dan melenyapkan kekuatiran.
Dalam sebuah karangan yang sangat memikat, dengan menggunakan laporan-laporan mengenai Kultus-Bwiti dari Gabon dan Kultus Mbona di Malawi sebagai bahan pembantu, Schoffeleers menulis tentang Kristus sebagai nganga yang is anggap sebagai contoh utama bagi suatu kristologi Afrika.
Yang sangat seru dari pemikiran t ntuk menggunakan nganga sebagai contoh dari citra Kristus, ialah bahwa justru nganga atau dukun itu oleh zending dan misi secara bersamaan dilihat sebagai lawan utama Kristus. Alasan ini menyebabkan keseganan dari beberapa pihak di kalangan orang Afrika, untuk menggunakan contoh itu. Mungkin hal itu dapat disamakan dengan keberatan yang timbul terhadap pemakaian gelar “chief”. sebagaimana dikemukakan terdahulu.

Dalam kesimpulannya Schoffeleers menyatakan bahwa baik pejabat-pejabat gerejawi maupun Kristus sendiri dapat disebut nganga, namun sebaliknya juga para nganga sudah mulai bersifat Kristen atau kristologis. Di satu pihak ada dorongan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru bagi kehidupan masyarakat: nganga berubah seakan-akan menjadi Kristus; di pihak lain ada dorongan untuk menyesuaikan bentuk tradisional dengan keadaan Kristus berubah menjadi nganga.

YESUS KRISTUS BAGI GEREJA DI AFRIKA


Yesus dalam apa yang disebut “Gereja-gereja Mandiri”
Gereja-gereja yang lahir dari pekerjaan zending sering menolak adat-istiadat Afrika. Oleh karena itu di beberapa bagian di Afrika lahirlah apa yang disebut “Gereja-gereja independen” atau “Gereja­gereja mandiri”. Nama ini sebenarnya tidak dipakai oleh orang­orang Afrika sendiri. Yang dimaksudkan dengan independen atau mandiri ialah keinginan mereka untuk melepaskan diri dari apa yang disebut Gereja-gereja Zending. Menurut perkiraan orang, ada kurang lebih 7.000 Gereja mandiri di Afrika saat ini.
Di Afrika Selatan saja sudah ada 3.000. Diperkirakan kurang lebih 25% dari seluruh kaum Kristen Afrika adalah anggotanya. Jumlah pengikut dari gereja-gereja mandiri masing-masing berkisar antara beberapa orang saja dan ribuan, ya bahkan jutaan orang. Salah satu gereja mandiri yang terbesar adalah Gereja Kimbangu di Zaire. Simon Kimbangu, orang Afrika dari “Kongo Belgia”, mempunyai latar belakang Baptis. Pada tahun 1921 ia merasa suara Kristus memanggilnya. Setelah ia tampil di depan umum selama beberapa bulan, is dipenjara oleh penguasa Belgic. Ia tetap dipenjara selama tiga puluh tahun (!) sampai ia meninggal pada tahun 1951.
Sekarang “Gereja Yesus Kristus di dunia yang didirikan Nabi Simon Kimbangu” salah satu gereja yang terbesar di Zaire. Jumlah anggotanya diperkirakan 5 juta. Kini anaknya Joseph Diangienda memimpin gereja itu. Pada tahun 1969 gereja itu menjadi anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia.
Gereja-gereja mandiri dapat dikelompokkan dengan berbagai­bagai ragam. Yang paling dikenal adalah pembagian atas gereja gaya Etiopia dan gereja gaya “rohani atau kenabian”. Yang dimaksudkan dengan nama pertama ialah sifat yang khas Afrika, untuk menitikberatkan asal-usul agama Kristen Afrika, sebelum dipengaruhi oleh zending. Dalam hubungan ini orang suka mengutip bagian Kitab Suci di mana negeri Etiopia disebut, misalnya: “Orang-orang akan mengulurkan tangan kepada Etiopia” (Mzm 68:32). Cara hidup berjemaat dan ajaran gereja-gereja gaya Etiopia tidak berbeda jauh dari Gereja-gereja Zending. Yang dipentingkan di sini adalah kepemimpinan bangsa Afrika. Dalam gereja-gereja gaya “rohani” dititikberatkan pada “roh”, yaitu sifat kenabian. Mereka adalah persekutuan orang-orang percaya, seperti jemaat-jemaat Kristus pertama dan mereka mempunyai suatu pusat, yang mereka sebut Sion, yang adalah perwujudan sebagian dari Kerajaan Allah di dunia.”

“Aku orang Afrika”
Oleh karena agama Kristen dibawa ke Afrika dalam berbagai tahap, maka bukan hanya satu gambar dari Kristus dikenal di sana. “Kristus orang-orang Portugis” lain dengan Kristus, yang - katakanlah - terdampar bersama Aedesius dan Frumentius di Etiopia.
Pandangan Kristen Afrika masa kini terhadap Yesus Kristus, sekarang telah merdeka dan berlawanan dengan Kristus “kulit putih” yang dibawa kepadanya. Ini adalah kemajaun iman di mana Kristus diterima sebagai keutuhan Pribadi yang menyatu dengan keadaan sosial dan budaya bangsa. Di sini nyata kekhasan respons orang Afrika terhadap Yesus Kristus. Perhatikan baik-baik penggalan sajak tentang penerimaan Yesus dan pembauran Yesus dengan bangsa Afrika di bawah ini yang dibuat oleh para penginjil di sana dalam pewahyuan Roh.
Mereka memanggil aku orang Afrika:
Memang aku orang Afrika;
Putra yang gagah dari negeri Afrika,
Hitam seperti ayahku,
dan kakekku sebelum ayahku;
Seperti ibuku, saudara dan saudariku
Baik yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal dunia ini.
Mereka bertanya apa yang aku yakini - apa kepercayaanku
Sebagian malah mengira aku tak punya agama.
Melainkan hidup seperti binatang liar di padang rumput.
“Bagaimana dengan Allah,
Sang Pencipta
Yang Dinyatakan kepada umat manusia melalui orang Yahudi
di masa lampau:
YEHOVAH: ARTINYA AKU ADALAH
Yang ada di masa lampau dan kekal selamanya?
Apakah engkau mengakui Dia?”
Nenek moyangku dan nenek moyang mereka,
dan generasi-generasi sebelum mereka mengenal Dia
Mereka berlutut menyembah Dia
Namun demikian Dia Esa dan satu-satunya Allah
Mereka menyebut Dia
UVELINGAKI:
Yang Pertama
yang datang sebelum yang lainnya ada
UNKULUNKULU:
Yang Maha Besar, Besar Sekali
Begitu besar,
sehingga tidak ada ruangan yang dapat memuat Dia
MODIMO:
Karena Ia tinggal jauh di surga
Mereka juga mengenal Dia sebagai MODIRI
Karena Ia telah menciptakan semuanya
Dan  LESA
Roh, yang tanpa itu nafas manusia tak mungkin ada.
“Katakan selanjutnya, engkau orang Afrika:
Bagaimana kepercayaanmu terhadap Yesus Kristus,
yang lahir di Betlehem:
Anak Manusia, Anak Allah
Percayakah engkau kepada-Nya?”

Menurut Gabriel Setiloane, tugas teologi Afrika adalah menggumuli secara serius masalah kristologi, yakni “Siapakah Yesus itu?” Bagaimana Ia dapat menjadi penjelmaan manusiawi yang tertinggi dari ke-Allah-an, Mesias dari kaum Yahudi, Kristus dari kaum Kristen helenis? Apa artinya Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Menurut Setiloane, suatu kristologi Afrika yang berlaku sah dapat ditemukan dalam hu.)ungan dengan Bangaka Afrika dan pribadi-pribadi yang kemasuk an ilahi. Istilah Bangaka menunjuk kepada dukun Afrika tradisimal, sering diberi nama ejekan “dukun sihir” atau jujuman.
Hasting berpendapat, bahwa sekalipun ada usaha keras untuk menjurus pada konteks Afrika, namun anehnya para teolog Afrika seperti Mbiti, Nyamiti, Idowu, Fashole-Luke, Tshibangu dan Agosson, dalam bahasa dan metodik tetap dipengaruhi oleh Eropa dan pusat-pusat akademis di mana mereka beNar.” Berlawanan dengan itu is menunjuk kepada teologi gereja-gereja mandiri. Yang terakhir ini, menurut keyakinan M.L. Daneel, mengembangkan suatu kristologi yang sangat berarti. “Pengalaman mereka me­ngenai Kristus dalam kehidupan gerejawi yang kaya upacara dan persepsi mereka akan kehadiran-Nya, adalah kunci untuk memaha­mi kristologi. Sekalipun sering masih samar-samar dan kurang tepat dilafalkan, namun kristologi itu diandaikan asli.”24 Gereja­gereja mandiri memiliki suatu “teologi lisan”, artinya “bukan rumusan, melainkan gambaran; bukan keterangan, melainkan cerita; bukan kitab, melainkan manusia; bukan pokok-pokok dogmatik, melainkan nyanyian yang merupakan pusat perhatian”.
“Kemandirian” ini telah nyata dalam gereja sebelum abad ke-19, yang didirikan seorang gadis yang bernama Vita Kempa. Dalam gereja itu Kristus “hitam” menjadi pusat; Ia membela orang-orang Afrika yang tertindas. Dalam tahun 1706 Vita Kempa dibakar di Kongo.
Orang mengatakan bahwa Nabi Shembe adalah penyataan din dari Yehovah di antara orang Zulu, sama seperti Yesus di antara orang Yahudi. Shembe ini, di samping dinyatakan sebagai mesias orang Zulu, juga dilihat sebagai orang yang akan menghidupkan kejayaan Kerajaan Zulu semula. Anaknya yang juga penggantinya, Galilee Shembe, memang menetapkan Kristus sebagai pusat gereja, namun dalam liturgi dan lagu-lagu gereja Shembe-lah dan bukan Kristus yang menjadi tokoh utama.

Tentu pertanyaan yang timbul dalam hubungan ini ialah, apakah dalam gereja-gereja mandiri masa kini tidak ada di antara pendiri atau pemimpin gereja yang merampas kedudukan Yesus. Itu diperkirakan terjadi pada tokoh-tokoh seperti Shembe. Kini pada umumnya disimpulkan bahwa yang disebut mesias-mesias hitam itu tidak mengurangi kedudukan Kristus dari Alkitab, tetapi melukiskan kehidupan-Nya dengan cara tertentu.27 Maka adalah lebih tepat jika misalnya Simon Kimbangu, dibandingkan dengan Simon dari Kirene, yang membantu Kristus memikul salib menuju ke tempat penyaliban. Atau perlu melihat Shembe berperan sebagai topeng dari mesias hitam, agar mesias itu dapat dikenal oleh orang-orang Zulu.

RENUNGAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI, YESUS BAGI PERBUDAKAN BANGSA HITAM 2

Keterangan foto tidak tersedia.

Kedatangan Yesus Kristus di Afrika
Yesus sudah berada di Afrika sebelum ada agama Kristen. Bukankah Keluarga Suci itu mengungsi ke Mesir dan menurut cerita yang diturunkan, mereka tinggal selama enam bulan di sana. Sampai sekarang di Mesir orang dapat menunjukkan tempat mereka pernah tinggal. Orang Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8, yang dibaptis oleh penginjil Filipus, kemungkinan seorang bangsa Afrika yang berasal dari KeiAjaan Meroa. Asal-mula berdirinya gereja di Mesir dianggap basil karya Markus, yang digantikan oleh pemimpin tertinggi Gereja Kopti. Oleh usaha dua saudara kandung, Frumentius dan Aedesius dari Tyrus di Libanon, yang kapalnya karam di Laut Merah, agama Kristen masuk Etiopia. Atas prakarsa Frumentius gereja ini bergabung dengan Gereja Kopti di Mesir. Dalam abad ke-6 agama Kristen menyebar ke Nubia.
Dengan berdirinya dan tersebarnya agama Islam pada per­mulaan abad ke-7 terjadi pula kemunduran dalam agama Kristen. Sampai tahap tertentu agama Islam merintangi pengembangan agama Kristen. Campur tangan bangsa Eropa sewaktu Perang Salib, ketika orang Nubia bersekutu dengan orang Kristen “Barat”, mengakibatkan kekacauan yang tidak teratasi dalam agama Kristen Nubia. Akibatnya agama itu akhirnya menjadi korban dari agresi pihak Islam.”
Di Afrika Utara bagian Barat, daerah di mana sekali waktu terdapat gereja-gereja yang didirikan oleh Tertulianus, Cyprianus dan Augustinus, kemunduran gereja telah terjadi sebelum penyebaran agama Islam. Pada waktu Afrika Utara melepaskan warna “latinnya”, ia boleh dikatakan juga melepaskan Kekristenan­nya. Artinya, sejak saat itu tidak ada gereja pribumi lagi di situ. Namun pihak orang-orang Afrika kini mengemukakan, bahwa tokoh seperti Cyprianus adalah sangat aktual pada diskusi teologis yang kini teijadi di Afrika.
Agama Kristen diperkenalkan kembali kepada Afrika, ketika lalu lintas perdagangan dimulai. Orang Portugis mulai merintisnya. Pada umumnya ekspedisi misi pada tahun 1490 dianggap sebagai angkatan pertama para misionaris yang berhasil di Kongo. Pada tahun 1491 raja dan ratu dibaptis, mereka diberi nama dari raja dan ratu Portugal, yakni Joan dan Eleonara. Anak mereka, Muemba Nzinga mulai saat itu diberi nama baptis Don Alfonso dan mulai tahun 1507 ia menja& raja Kristen terkemuka di Kongo (meninggal 1534).
Telah dikemukakan lebih dahulu bahwa karena perdagangan budak, penyebaran agama Kristen akhirnya dihalang-halangi sampai abad ke-19. Ketika perbudakan dihapus, orang-orang Arab meneruskannya, terutama perbudakan untuk keperluan rumah tangga. Budak-budak itu dipekerjakan di rumah tangga-rumah tangga atau di balai-balai istri yang terdapat di Mesir, Arab dan Persia. Jumlah budak per tahun diperkirakan sampai empat juta.
Laporan-laporan David Livingstone (meninggal 1874) tentang perjalanan-perjalanannya, menyebabkan perdagangan budak dicemooh di seluruh dunia. Ia ingin merintis jalan bagi “agama Kristen dan perdagangan”, karena menurut dia, hanya hubungan dagang secara teratur dan pengembangan pertanian dapat menga­khiri perdagangan manusia.
Ketika zending (Barat) kembali memusatkan perhatian pada Afrika, kaum Protestan lebih dulu mulai bekerja daripada kaum Katolik. Dalam tahun 1792 kaum Baptislah yang lebih dahulu mulai bekerja di Afrika di antara kaum Protestan. Kaum Katolik menyusul kemudian. Sejak tahun 1868 peranan penting dimainkan “Imam-imam Putih” di bawah pimpinan Kardinal Lavigerie.
Penyebaran agama Kristen secara massal di sebelah selatan Sahara baru dimulai pada abad ke-19, yang secara khusus disebut abad zending. Sampai saat ini penyebaran itu dilanjutkan, sehingga diperkirakan bahwa pada akhir abad ini, gereja-gereja Afrika akan melebihi gereja-gereja di Eropa dalam jumlah angka.
Para penyebar Injil yang pergi ke Afrika menetap baik di pesisir maupun di pedalaman. Mereka membentuk kelompok­kelompok kecil sekeliling mereka. Kelompok-kelompok itu sering terdiri dari budak-budak yang dibebaskan oleh mereka dan yang menjadi orang-orang pertama yang bertobat. Ada pendapat bahwa kita harus membedakan penginjil dari periode awal sebelum tahun 1884 - jadi mereka seperti Livingstone - dari penginjil setelah tahun 1885. Pada tahun itu berlangsung Kongres Berlin, di mana Afrika dibagi-bagikan antara negara-negara Eropa, yakni di-”scramble” atau diperebutkan.
Penginjil-penginjil yang pertama datang pada umumnya orang terpeNar, belajar menguasai bahasa dan kebiasaan dari negeri­negeri yang bersangkutan. Sedangkan penginjil-penginjil dalam tahap kemudian kebanyakan tinggal jauh dari orang-orang Afrika, hidup menurut cara Barat dengan menggunakan bahan dan barang impor, tinggal di suatu halaman tertutup (compound), sering harus dibantu oleh seorang peneijemah dan selalu dapat minta bantuan dan perlindungan dari penguasa-penguasa kolonia1.
Peranan para penginjil dan para misionaris yang belakangan datang, sering dirasa asing sekali oleh orang-orang Afrika. Hal itu disebabkan oleh banyaknya di antara penginjil tersebut mem­beritakan Injil tetapi tidak mengindahkan kebudayaan serta latar belakang keagamaan orang-orang Afrika itu sendiri. Bagaimana caranya hal itu berlangsung, diungkapkan dan dicemooh dalam literatur Afrika modern. Satu contoh dikemukakan di sini, sekalipun tujuannya bukan untuk menimbulkan kesan bahwa contoh itu berlaku untuk semua penginjil dan misionaris. Penulis bangsa Kamerun, Beti Mongo, menggambarkan dalam karyanya Kristus yang Miskin dari Bomba, apa yang dialami seorang misionaris pada perjalanan safari selama empat belas hari. Agaknya hal itu diceritakan oleh seorang “pembantu laki-laki dari misionaris itu, yang beragama Katolik yang setia”. Tokoh sentral dalam cerita itu adalah Pater Drummond, yang sudah tinggal dan bekerja di Kamerun kurang lebih 20 tahun. Lama kelamaan ternyata misionaris itu menemui jalan buntu dalam pekerjaannya dan ia mulai meragukan tujuan misinya. Akhirnya ia kembali ke Perancis. Dan orang bertanya:

“Untuk apa ia kembali lagi kepada kita?” Hampir tidak ada kasih sedikitpun antara dia dan kami, karena kami merasa dia lain daripada kami, karena dia bukan salah satu dari kami.”

RENUNGAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI, YESUS BAGI PERBUDAKAN BANGSA HITAM 1


Sekali waktu aku
Sekali waktu aku berkulit merah Orang kulit putih datang.
Sekali waktu aku berkulit hitam Orang kulit putih datang.
Mereka mengusir aku dari hutan.
Mereka menghalau aku dari mimpiku.
Lalu aku tidak melihat bulan-bulan perakku lagi. Demikian juga pohon-pohon yang rindang.
Aku terjerat dalam sistem-sistem mereka. Aku mulai mengenal nilai-nilai mereka. Bersama banyak orang aku terjerat. Kami tidak dapat betah.
(Langston Hughes)

Babak ini terdiri dari tiga bagian. Dalam bagian pertama (iv) dibicarakan dalam hubungan sejarah dramatis bangsa kulit hitam (perdagangan budak); tentang “Kristus kulit putih” yang telah diserahkan, dan bagaimana orang yang berhadapan dengan itu mengaku “mesias kulit hitam” (“teologi hitam”), baik di Amerika Serikat (J. Cone, G. Wilmore) maupun di Afrika bagian Selatan (Canaan Banana). Dalam bagian kedua (v) pembahasan lebih dikhususkan pada benua Afrika saja, baik mengenai latar belakang religius Afrika itu sendiri maupun tahapan-tahapan di mana Yesus masuk Afrika (zaman Pedanjian Baru, “Orang Moro” atau “Sida­sida dari Etiopia”; Gereja-gereja “kuno” di Nubia dan Etiopia; Kristus yang disampaikan oleh zending dan mini Barat). Di sini diselidiki bagaimana Yesus ditanggapi dalam apa yang disebut gereja-gereja independen dan bagaimana para teolog Afrika mencoba merancang kristologi-kristologi Afrika sendiri. Dalam bagian ketiga (vi) pembahasan dititik-beratkan pada Kristus, sebagaimana is disampaikan oleh Kaum Hernhut ke Suriname, dan bagaimana orang-orang Kreol Suriname “menerima” Kristus ini (Kwakoe dan Kristus).

Kristus kulit putih dan Mesias kulit hitam
Anak cucu dari budak-budak kulit hitam, yang dulu diangkut dari Afrika ke benua Amerika itu, dalam puluhan tahun terakhir ini menyadari bahwa Yesus yang diberitakan kepada mereka dijadikan “orang kulit putih”, yang menjadi semakin putih. Hal itu mereka tentang untuk membela sifat “kulit hitamnya” Yesus. Hal yang pertama tidak hanya diartikan secara harfiah, malahan juga lebih secara kiasan. Gayraud Wilmore menyatakan betapa semakin putih dan pucat Kristus digambarkan oleh dunia seni lukis Barat. Menurut dia, maksudnya ialah mengubah Kristus dari keturunan Semit menjadi orang Arya. Rambut-Nya yang hitam diubah menjadi rambut pirang, mata-Nya yang hitam menjadi biru Usaha untuk menjadikan Kristus orang Arya dimulai pada waktu orang-orang Eropa mulai berhubungan erat dengan ras-ras lain.”
Di Amerika Serikat pada tahun enampuluhan mulai berkem­bang apa yang disebut Teologi Hitam. Yang dititikberatkan teologi ini ialah, melepaskan diri dari “teologi kulit putih”, yang telah menciptakan seorang Allah sesuai gambar seorang bangsa Barat yang berkulit putih. Gambar Allah ini menjadi landasan, demikian pengamatan mereka, dari ideologi Kristen dunia Barat dan penindasan yang telah dialami orang-orang kulit hitam dan bangsa minoritas lain yang bukan kulit putih.
Berlawanan dengan agama Kristen yang telah menjadikan Tuhan sama dengan kebudayaan penjajahan bangsa kulit putih, maka Teologi Hitam mengaku Tuhan yang setia kawan dengan setiap insan yang tertindas dari ras dan bangsa apapun, dan yang berada di tengah penderitaan, penghinaan dan kematian mereka. Para teolog kulit hitam berbicara tentang Mesias kulit hitam, Allah yang ditindas dan dibunuh ini, yang bangkit untuk memberi kehidupan dan harapan kepada semua yang tertindas. Mesias kulit hitam ini, yang adalah orang yang tertindas dari Allah, kelihatan pada wajah-wajah orang miskin dan tertindas, yang berkulit hitam.
Kematian dan kebangkitan-Nya dalam kebangkitan mereka, menuju hidup dan kuasa baru, adalah arti dari Injil pembebasan. Yesus Kristus dapat dilepaskan dari sifat Amerika tanpa meng­hapus arty sebenarnya dari diri-Nya sebagai Anak Allah yang telah menjelma. Mereka melihat Mesias yang tertindas dan dibunuh dalam simbol-simbol yang aktual, yang berlainan dengan orang­orang yang berkulit putih dari dunia Barat.
Teolog berkulit hitam, James Cone, orang yang pertama memperkenalkan dan menyebarluaskan apa yang disebut “Teologi Hitam”, menulis: Kristus Amerika itu tidak memiliki ciri-ciri rasial, Ia berkulit langsat, berambut ikal warna coklat dan kadang­kadang sungguh ajaib - memiliki mata biru. Orang-orang kulit putih berkeberatan jika ia berbibir tebal, sama seperti orang Farisi berkeberatan, jika mereka melihat Dia di suatu “pesta” bersama orang-orang pemungut cukai. Namun apakah orang kulit putih setuju atau tidak, Kristus berkulit hitam “Nak', dengan raut muka yang menjijikkan bagi masyarakat kulit putih. Memperkirakan, bahwa Kristus memilih kulit hitam, bukanlah suatu gagasan teologi emosional, ... membayangkan Kristus tidak berkulit hitam dalam abad ke-20, secara teologis sama mustahilnya dengan bila Ia dibayangkan bukan orang Yahudi di abad pertama.
James Cone mempertanyakan kembali apa artinya keputusan Konsili Nicea pada tahun 325, yang menyatakan bahwa Kristus adalah sehakikat - homoousios - dengan Bapa dan keputusan Konsili Chalcedon pada tahun 451, yang menyatakan bahwa kedua kodrat yang ilahi dan manusiawi, tidak terbagi dan terpisah dan tidak tercampur dan tidak berubah. Apa artinya bagi mereka yang melihat Yesus bukan sebagai suatu gagasan dalam pemikiran, tetapi Yesus yang mereka kenal sebagai Juruselamat dan Saha­bat.” Oleh karena itu, demikian katanya, ia kembali mendengarkan suara denyut jantung dari kehidupan yang hitam, sebagaimana ia bergema dalam nyanyian dan pemberitaan Firman orang kulit hitam.
Pokok ini diuraikan oleh Cone dalam bukunya The Spirituals and Blues. Menurut dia, lagu Negro Spirituals itu bersifat cerita mengenai daya upaya historis orang kulit hitam untuk memperoleh kebebasan duniawi, dan bukan suatu proyeksi orang Afrika yang tidak mempunyai harapan dan yang telah melupakan “tanah air” mereka, atas dunia lain. Dalam lagu-lagu “Spirituals” itu Yesus dilihat sebagai raja yang membebaskan umat manusia dari penderitaan yang tidak adil. Ia penghibur dalam waktu-waktu susah, “bunga bakung yang di lembah” dan bintang terang di waktu menjelang pagi. “Spirituals” itu tidak mengungkapkan spekulasi teologis (sebetulnya mana ada nyanyian yang demikian? Yesus bukanlah pokok-pokok permasalahan teologis. Ia dilihat dalam kenyataan pengalaman kaum kulit hitam. Spirituals itu berbicara jelas dan tuntas tentang sifat ilahi Yesus. Berbicara mengenai Bapa dan Anak adalah dua cara untuk berbicara tentang kenyataan kehadiran ilahi dalam masyarakat budak. Yang menjadi pusat keberadaan mereka adalah lambang dari penderitaan mereka. Yesus berada di tengahnya, sehingga Ia adalah Sahabat dan Teman sependeritaan dalam perbudakan, “Spirituals” itu tidak hanya berbicara tentang apa yang telah dilakukan oleh Yesus dan sedang dilakukan bagi orang kulit hitam dalam perbudakan. Ia dianggap sebagai orang yang memegang kunci penghakiman. Yesus adalah Allah sendiri, yang menerobos ke dalam masa lampau historis umat manusia dan mengubahnya sesuai dengan pengharapan ilahi.”
Cone menegaskan bahwa Yesus Kristus harus diakui ber­dasarkan keberadaan-Nya kini, dalam masa lampau dan dalam waktu yang akan datang. “Kita baru dapat memahami riwayat hidup Yesus di masa lampau dan anti keselamatan-Nya (soterio­logis), jika hidup-Nya di masa lampau dikaitkan secara logis dan teratur (dialektis) dengan kehadiran-Nya di masa kini dan kedatangan-Nya di masa yang akan datang.” Dalam menganalisa hidup Yesus di masa lampau, kita tidak dapat menyangkal nilai soteriologis-Nya di masa kini sebagai Tuhan dari pergumulan kita sekarang. Pandangan terhadap masa depan Kristus, yang menero­bos kehidupan mereka sebagai budak, mengubah pandangan mereka terhadap masa depan mereka sendiri. Para teolog kulit hitam harus dapat membuktikan, bahwa sifat hitam Yesus bukan hanya bakat psikologis dari orang kulit hitam, tetapi berasal dari penelitian yang dapat dipercaya, dari sumber-sumber yang menyoroti riwayat hidup Yesus di masa lampau, masa kini dan masa depan. Kalau kita tidak berhasil dalam hal ini, demikian Cone berkata, maka kita akan kena tuduhan, bahwa “Kristus yang hitam” adalah suatu pemutar-balikan ideologic dari Perjanjian Baru untuk tujuan-tujuan politis.
Kristus hitam, karena Dia orang Yahudi. Pernyataan mengenai “Yesus berkulit hitam” dapat dipahami, jika arti Keyahudian-Nya di masa lampau, dikaitkan secara dialektis dengan sifat hitam-Nya sekarang. Keyahudian Yesus menempatkan Dia dalam konteks keluaran (exodus), dan kedatangan-Nya di Palestina dihubungkan dengan pembebasan orang-orang Israel oleh Allah, ke luar dari Mesir (Yes 42:6,7).
Salib Yesus adalah perubahan radikal oleh Allah dari keadaan manusia, ketika yang terpilih untuk menggantikan Israel sebagai Hamba yang Menderita dan dengan demikian mengungkapkan kesediaan Allah untuk menderita, agar umat manusia dibebaskan secara sempurna. Salib adalah penderitaan Allah secara pribadi, menggantikan Israel ... Kebangkitan berarti, bahwa identifikasi Allah dengan orang miskin dalam Yesus tidak terbatas pada kepribadian Yahudi-Nya, tetapi berlaku bagi semua orang yang berjuang demi pembebasan umat manusia di dunia ini.
Cone menyatakan, is menyadari bahwa sifat hitam sebagai sifat kristologis dalam masa depan, yang sangat mungkin tidak dapat dibenarkan, bahkan untuk sekarang juga tidak berlaku dalam setiap konteks. Menurut dia, demikian juga halnya dengan beberapa gelar dari Peijanjian Baru seperti “Anak Allah” dan “Anak Daud” dan gambaran lain tentang Kristus sepanjang sejarah Kristen. Kewajaran dari suatu gelar ditentukan berdasarkan pertimbangan, apa sifat gelar itu pada suatu ketika, secara khas menunjuk pada kehendak Allah, untuk membebaskan seluruh umat manusia dari penindasan yang tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu, ungkapan bahwa Kristus adalah hitam bukan hanya menerangkan tentang warna kulit-Nya, tetapi lebih dari itu adalah pernyataan transenden, bahwa Allah tidak pernah mening­galkan orang-orang yang tertindas. Ia berada di antara mereka di Mesir yang diperintah Firaun, Ia pun berada di Amerika, Afrika dan Amerika Latin dan akan ada pada akhir zaman untuk menggenapi kebebasan umat manusia secara sempurna.

Menurut Cone, tidak ada kebenaran dalam Kristus yang tidak terlepas dari orang yang tertindas, dari sejarah dan kebudayaan mereka. Kristus adalah suatu peristiwa pembebasan, suatu “kejadian” (happening) dalam hidup mereka yang tertindas dan yang berjuang untuk kebebasan politik.

“Mesias yang hitam” di Afrika
Teologi hitam tidak hanya terdapat di Amerika Serikat, tetapi juga di Afrika sendiri. Teologi tersebut terutama terdapat dalam bagian-bagian Afrika, yang pernah atau yang masih dilanda rasisme kulit putih atau penjajahan kulit putih. Tentu yang dimaksudkan di sini ialah, apa yang terjadi di Afrika Selatan dan yang dulu disebut Rhodesia.
Dalam hubungan dengan negara yang terakhir ini, yang kini bernama Zimbabwe, Pendeta Canaan Banana, sekarang Presiden Zimbabwe, pernah menulis Injil menurut Ghetto. Menurut dia, sudah terlalu lama Injil dipersembahkan kepada khalayak ramai sebagai suatu khayalan tentang hidup akhirat (pie in the sky). Akan tetapi Tuhan mau menjumpai kita dalam kekuatan kita, bukan kelemahan kita. Ia menghendaki pertama-tams dari mereka yang kecewa, agar mereka sadar kembali, bahwa Allah yang kita sembah tidak mati atau lemah, tetapi hidup secara aktif dan menciptakan kembali manusia dan lingkungannya.
Ia menuangkan pengakuannya dalam kata-kata sebagai berikut:
Injil Yesus Kristus
berkuasa untuk menyembuhkan.
Luka-luka berdarah disebabkan oleh
penyakit-penyakit moral, sosial, ekonomi
dan politik masa kini.
Injil Yesus Kristus
menentukan harga diri setiap manusia.
Ia mencemooh mitos tentang rasisme ilahi
yang sedang merajalela
Ia mengamanatkan persaudaraan
di antara seluruh umat manusia
sebagai harapan satu-satunya dari dunia.

Ia memberikan contoh lain dari pengakuan iman rakyat:
Aku percaya kepada Allah yang tidak buta warna...
Aku percaya kepada Yesus Kristus
Lahir dari seorang perempuan biasa,
yang diejek, dicederai dan diadili,
yang bangkit pada hari yang ketiga
dan memukul kembali.
Ia menyerbu sidang-sidang dewan pertimbangan agung,
tempat Ia menggulingkan pemerintah yang
dengan tangan besi mempertahankan ketidakadilan.
Mulai sekarang Ia akan melanjutkan peradilan
terhadap kebencian dan keangkuhan orang.
Aku percaya kepada roh pendamaian
Tubuh yang mempersatukan orang-orang miskin.
Persekutuan massa yang menderita.
Kuasa yang mengalahkan kebengisan
yang ada dalam diri manusia.
Kebangkitan dari perikemanusiaan,
keadilan serta persamaan
dan kemenangan terakhir persaudaraan.”

Ia memberikan suatu versi sajak dari doa “Bapa Kami”:
Bapa kami yang ada dalam ghetto
Namamu dihina
Perbudakanmu terdapat di mana-mana
Kehendakmu dicela
sebagai imbalan di dunia akhirat (pie in the sky)
Ajarlah kami meminta.
Bagian kami dalam harta emas.
Ampunilah sifat penurut kami
Seperti kami mohon bagian kami dalam keadilan.
jangan membawa kami ke dalam persekongkolan.
Bebaskanlah kami dari kegelisahan kami
karena kamilah pemilik kedaulatan-mu
Kuasa dan pembebasan
Untuk selama-lamanya.

Amin.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...