Thursday, December 14, 2017

Menjadi Pemberita Karena Natal



Baca: Lukas 2:8-20Natal perdana Allah yang low-budget dan tidak glamor ini pun terus berlanjut. Kembali Allah melakukan sesuatu yang mengejutkan dan ironis. Berita tentang telah dipenuhinya janji akbar PL akan kedatangan sang Mesias, yang sebenarnya adalah sukacita nasional Israel  (ayat 10-11), disampaikan kepada para gembala. Bahkan, kemuliaan Allah pun meliputi mereka pada saat itu (ayat 9)! Bagi masyarakat Yahudi waktu itu, menjadi gembala upahan (orang yang menggembalakan ternak hewan milik orang lain) sebenarnya adalah salah satu pekerjaan terendah. Tanda yang menjadi pembukti kebenaran berita itu pun unik karena bersifat sangat biasa; bukan suatu mukjizat, bukan pula tanda kemegahan dan kebesaran, tetapi sebuah palungan (ayat 12, 16). Barang inilah yang dipakai Allah untuk menjadi bukti bagi para gembala akan kebenaran dari berita yang disampaikan sang malaikat sebelumnya. Para gembala upahan ini tidak hanya mendapatkan hak istimewa untuk menjadi saksi kelahiran Tuhan Yesus, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan teladan yang indah: pertama, antusiasme mereka dalam memberikan respons terhadap berita para malaikat (ayat 16). Kedua, mereka menjadi saksi-saksi yang efektif akan kelahiran Kristus (ayat 17). Ketiga, mereka memuji serta memuliakan Allah atas semuanya (ayat 20). Apa yang dilakukan oleh para gembala upahan (baca= rendahan) ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh para malaikat. Mereka pun memuliakan Allah dan bersaksi tentang damai sejahtera yang terjadi di antara umat Tuhan (ayat 14), setelah sebelumnya, salah satu dari malaikat tersebut menjadi pemberita kepada para gembala (ayat 9). Perbedaan status bukanlah hambatan bagi kita untuk merayakan kelahiran Kristus. Renungkan: Semangat Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah", dan membuat mereka merasakan bahwa Allah pun peduli dan justru mencari orang-orang seperti mereka. Mari saling mengasihi tanpa memandang perbedaan kelas atau strata ekonomi dan sosial.

Tiga fakta Natal


Baca: Lukas 2:1-7

Pertama, Tempat Kejadian Perkara (TKP) Natal adalah daerah pinggiran. Jauh dari tempat Kaisar Agustus memerintah; jauh dari tempat kediaman sang wali negeri di Siria, bahkan bukan juga Ibukota Yudea, Yerusalem. Jauh dari pentas utama sejarah dunia, regional, maupun nasional. Hanya kota kecil yang bernama Betlehem kebetulan kampung halaman raja Daud (ayat 4). Kedua, para tokoh utamanya punya latar belakang yang (demi sopan santun) "mencurigakan". Yusuf dan Maria baru bertunangan, tetapi Maria sudah mengandung (ayat 5). Lagipula, orang yang cukup terhormat rasanya masih akan mendapatkan tempat menginap yang cukup layak, apapun situasinya (ayat 7b). Ketiga, cara terjadinya Natal. Peristiwa Natal itu mengambil setting, dari berbagai tempat lain yang mungkin, dalam sebuah kandang. Belum lagi melihat tindakan Maria kepada Sang Bayi Natal yang, jujur saja, tidak mungkin dijadikan tindakan pascapersalinan teladan (ayat 7). Inilah kesimpulan yang seharusnya timbul setelah kita membaca nas ini—jika kita melepaskan sejenak gambaran Natal yang kita punyai selama ini, melalui hasil bentukan berbagai lukisan, renungan, drama, 􀀼lm, dll., tentang Natal yang romantis, menggugah, sekaligus agung megah. Mungkin kesan ini pula yang timbul pada saat Teo􀀼lus—yang kemungkinan punya kedudukan cukup terhormat—membaca bagian ini. Namun, melalui pembacaan seperti, justru kita (dan para Teo􀀼lus di antara kita) lebih mudah untuk menangkap berita Natal dalam cara yang dimaksudkan oleh Lukas. Melalui keremeh-temehan seperti ini, rencana keselamatan Allah yang dahyat, yang telah dijanjikan dengan dahsyat dalam PL, telah diwujudkan. Melaluinya, nyata bahwa karya penyelamatan Allah tidak boleh diremehkan, dan berhak menerima pujian dan syukur kita yang terdalam. Renungkan: Sama seperti Yesus Kristus yang datang dalam kerendahan juga dalam kehinaan demikian juga kita dipanggil untuk bersukacita dalam perendahan diri di hadapan Tuhan. Jagalah agar jangan sukacita Natal justru hilang oleh kesibukan lahiriah ataupun sekedar kewajiban ibadah di saat Natal tiba. 

Kemuliaan Allah Bagi Damai Sejahtera Manusia


Baca: Lukas 2:1-14
Peristiwa Natal akan tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir di kota Daud.” Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang dari tempat yang mahatinggi. Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina. Renungkan:Kemuliaan Allahlah yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya Kemuliaan 
Allah dalam hidup Anda?

Mengapa Bersukacita dan Memuji?


Baca: Lukas 1:57-80

Bagi sanak keluarga Zakharia dan Elisabet, jelas karena kelahiran anak bagi pasangan tersebut yang menunjukkan rahmat Tuhan yang besar kepada mereka (ayat 57-58). Namun, alasan mereka tidak hanya itu. Zakharia dan Elisabet punya alasan yang lebih besar lagi. Alasan dari sukacita dan pujian itu lah yang telah menyebabkan mereka melakukan dan mengalami hal-hal yang membuat para sanak keluarganya heran (ayat 62), dan banyak orang geger (ayat 65). Alasan itu tampak jelas melalui himne yang dinyatakan oleh Zakharia. Pujian Zakharia yang didasari oleh kuasa Roh Kudus, di samping berfungsi sebagai pujian kepada Tuhan (terutama 68-75, juga 78-79), juga merupakan nubuat tentang Yohanes Pembaptis (ayat 76-77). Himne ini menunjukkan karya penyelamatan Allah bagi Israel. Allah tidak pernah melupakan umat-Nya, dan telah menjanjikan kepada Abraham dan mereka yang bertahan kedamaian yang diisi dengan ibadah; kelepasan dari musuh tanpa rasa takut. Saat untuk ini telah mendekat, ditandai dengan kelahiran anak Zakharia, Yohanes yang kemudian disebut Pembaptis. Karena itu, sumber sukacita Zakharia tidaklah hanya kelahiran anaknya, tetapi juga kedatangan Dia, yang jalan-Nya akan dipersiapkan oleh Yohanes. Kedatangan-Nya, dan karya penyelamatan yang dilakukan-Nya, sudah cukup untuk memicu pujian dan ucapan syukur dari Zakharia ini (ayat 64, 68). Bagian ini ditutup dengan catatan bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi besar, dan tinggal di padang gurun sampai saatnya ia mulai melayani Israel. Dengan demikian, narasi Injil ini seakan-akan menahan nafas, menanti kemunculan sang Mesias, Juruselamat, yang tinggal beberapa saat lagi. Kedatangan Mesias adalah dasar lebih kuat lagi bagi sukacita sejati kita. Renungkan: Apa yang sedang Anda siapkan menjadi dasar kegembiraan pada hari Natal besok? Ada dua pilihan: semata karena Anda akan berlibur? Atau karena Anda akan merenungkan kembali kebenaran kabar baik.

Jangan menyimpang dari Allah


Baca: Hosea 13:1-14:1
Allah sendiri mengingatkan Israel, bahwa Dialah yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Tidak ada juruselamat lain (ayat 4). Artinya, hanya Allahlah yang memelihara dan yang memberi mereka makan dan minum. Israel dengan mudah melupakan segala kebaikan yang telah Tuhan limpahkan atas mereka.

Karena itu, ketika Israel membelakangi Allah, itu tidak hanya berarti bahwa Israel menolak keselamatan dari Allah, tetapi juga Israel telah memutuskan hubungan kasih dengan Sang Sumber kehidupan. Akibatnya, murka Allah menimpa mereka. Bahkan, akibat dari sikap Israel itu, Allah tidak akan membebaskan Israel dari maut. Israel tidak mengurangi kuantitas dan kualitas kejahatan mereka, justru sikap Israel makin bertambah-tambah penyimpangannya terhadap perjanjian kasih dengan Allah. Mereka harus mengalami maut yang datang dari Allah. Allah sendiri tidak akan menyelamatkan Israel (ayat 14). Apakah Allah telah kehabisan kesabaran? Tidak! Allah memutuskan tindakan ini justru karena terlalu sabar. Juga, tindakan Allah ini diambil karena ketololan dan kebodohan Israel sendiri. Artinya, Israel sendiri yang telah memutuskan hubungan kasih Allah dengan Israel. Kehidupan yang didasarkan pada kasih Allah, Sang Sumber Kehidupan, hanya akan terjalin kembali apabila Allah sendiri berinisiatif penuh untuk memulihkan hubungan-Nya dengan umat. Pemulihan hubungan itu telah sering Allah lakukan, tetapi Israel terus menerus menolak Allah. Bila kita belajar dari sikap Israel terhadap Allah, maka kita pun harus dengan penuh kesadaran mengakui bahwa kita tidak lebih baik daripada umat Israel. Sebab seandainya ada seorang saja di bumi ini yang betul-betul setia kepada Allah, maka Allah tidak perlu berinisiatif melalui Yesus Kristus, datang ke dunia. Tetapi, karena satu orang saja tidak ditemukan, maka damai Natal itu harus datang ke dunia, berada di antara kita, dan memulihkan kembali relasi manusia dengan Allah.

Saturday, December 9, 2017

Pidato Benyamin Netanyahu atas pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota bangsa Yahudi


GREATEST SPEECHES NETANYAHU - PERDANA MENTERI ISRAEL !
Shalom Aleychem
Baru 70 tahun yang lalu! Orang-orang Yahudi dibawa ke pembantaian seperti domba.
60 tahun yang lalu! Kami tidak punya negara. Tidak ada tentara
Tujuh negara Arab mengumumkan perang terhadap negara Yahudi kecil kami, hanya beberapa jam setelah penciptaannya!
Kami hanya 650 orang Yahudi, melawan seluruh dunia Arab! TIDAK ADA IDF (Tentara Pertahanan Israel).
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, Libya, Arab Saudi semua menyerang kita pada saat bersamaan.
Negara yang diberikan PBB kepada kita adalah gurun 65%. Negara ini entah dari mana!
35 tahun yang lalu! Kami melawan tiga tentara terkuat di timur tengah, dan kami menyapu mereka ... ya ... dalam enam hari.
Kami bertempur melawan berbagai koalisi negara-negara Arab, yang memiliki tentara modern dan banyak senjata Soviet, dan kami selalu mengalahkan mereka!
Hari ini kita memiliki:
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
Kami membuat padang pasir mekar, dan menjual jeruk, bunga dan sayuran di seluruh dunia.
Israel telah mengirim satelitnya sendiri ke luar angkasa!
Tiga satelit sekaligus!
Kami bangga berada di peringkat yang sama dengan: Amerika Serikat, yang memiliki 250 juta penduduk,
Rusia, yang memiliki 200 juta jiwa
China yang memiliki 1,3 miliar jiwa
Eropa - Perancis, Inggris, Jerman - dengan 350 juta penduduk ..
Satu-satunya negara di dunia yang mengirim benda ke luar angkasa! Israel sekarang adalah bagian dari keluarga kekuatan nuklir, dengan Amerika Serikat, Rusia, China, India, Prancis, dan Inggris Raya.
Kami tidak pernah secara resmi mengakuinya, (tapi semua orang tahu itu) dan mengatakan bahwa hanya 60 tahun yang lalu, kami dipimpin, merasa malu dan tanpa harapan, untuk dibantai!
Kami telah menghancurkan reruntuhan eropa di Eropa, kami telah memenangkan peperangan kami di sini dengan tidak ada artinya. Kami membangun "Kekaisaran" kecil kami dari nol.
Siapa Hamas yang menakutiku? Menakutiku Anda membuat saya tertawa!
Paskah dirayakan; Jangan lupakan apa ini.
> Kami selamat dari Firaun.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
Pikirkan kapan saja dalam sejarah manusia! Pikirkanlah, bagi kita, orang-orang Yahudi, situasinya tidak pernah lebih baik! Lalu mari kita hadapi dunia.
Mari kita ingat: Semua bangsa atau budaya yang pernah mencoba untuk menghancurkan kita, sudah tidak ada lagi sekarang - sementara kita masih hidup!
Mesir?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Dan lihatlah kami,
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
Dan kita berbicara dalam bahasa yang sama, Bahasa Ibrani sejak dulu! dulu dan sekarang! Orang-orang Arab belum tahu, tapi mereka akan belajar bahwa ada Elohim / Tuhan.... selama kita menyimpan identitas kita, kita selamanya.
Jadi maafkan kami karena tidak mengkhawatirkan.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
Namun: Jangan percaya media, mereka tidak mengatakan kepada Anda bahwa pesta terus berlangsung, orang terus hidup, orang terus keluar, orang terus menemui teman.
Ya, semangat kita rendah. Terus? Hanya karena kita meratapi kematian kita, sementara yang lain bersukacita dalam gudang darah. Itulah sebabnya kita akan menang, pada akhirnya.
Dia tidak pernah tidur atau akan pernah tidur .... wali Israel .... YHWH / YAHWEH TUHAN Abraham, Ishak dan Yakub/ Israel.
We Aleychem Shalom

Friday, December 8, 2017

Iman Padang Gurun


Baca: Hosea 11
Ayat-ayat 1,3,4 tidak hanya secara jelas kembali menggambarkan peristiwa keluaran dari Mesir tetapi juga menggambarkan kebahagiaan umat ketika mereka masih di padang gurun. Hosea memang memandang bahwa masa keemasan relasi antara umat dengan Allah adalah ketika mereka berada bersama Allah di padang gurun. Di sana mereka tidak tergoda untuk menyembah dewa atau ilah manapun. Inilah yang disebut iman padang gurun. Akan tetapi, kalau Hosea menekankan hal ini tidak berarti bahwa Hosea menganggap Allah Israel hanyalah Allah padang gurun. Justru dengan penekanan tersebut, Hosea bermaksud agar Israel tetap memelihara relasi yang ideal dengan Allah ketika di padang gurun itu, meskipun mereka sudah menetap di Kanaan. Sayangnya, Israel berubah total ketika mereka mulai mendiami tanah Kanaan (ayat 2,7).Kasih Allah kepada Israel tidak pernah berhenti. Kecaman dan penghukuman yang ditimpakan kepada Israel adalah juga bagian dari perjalanan kasih Allah kepada Israel. Allah tidak sama dengan manusia yang suka menghajar sesamanya dengan dendam yang tidak pernah berkesudahan (ayat 8-11). Karena kasih-Nya, Allah menahan murkanya, dan menggantikannya dengan menyelamatkan. Hal itulah yang dinyatakan dengan kata-kata, "Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku (ayat 8)." Allah

berubah pikiran, dari keinginan untuk menghukum kepada keinginan untuk menyelamatkan. Keadaan manusia pada umumnya suka memberontak dan terus memberontak, dan karenanya patut menerima penghukuman Allah. Tetapi karena kasih-Nya kepada dunia, Ia mengutus Anak-Nya sebagai Juruselamat dunia (bdk. Yoh. 3:16), sehingga dunia mengalami pengampunan Allah. Karena itu manusia hanya hidup oleh pengampunan Allah. Tanpa pengampunan Allah, manusia pasti binasa. Kebinasaan yang dimaksud tidak hanya dalam pengertian kematian kekal pada masa yang akan datang, melainkan juga binasa dalam arti relasi yang tidak sejahtera dengan sesama dan lingkungan di dunia kini dan di sini.

Sambutlah Sang Terang


Sebagian besar orang tidak suka berada di dalam kegelapan. Itu ditandai dengan tindakan untuk mencari dan menyalakan alat penerang bila tidak ada lampu, misalnya. Manusia memang membutuhkan terang karena terang membuat manusia merasa nyaman dan aman. Demikian juga dengan kehidupan rohani manusia. Dosa menguasai manusia, seperti kegelapan menguasai malam. Dalam keadaan demikian, manusia membutuhkan terang agar tidak lagi hidup di dalam kegelapan dosa. Yohanes mengaitkan terang itu dengan Firman. Firman itu ada sejak semula bersama-sama dengan Allah (ayat 1). Firman itu kemudian datang ke dalam dunia (ayat 9). Melalui Firman,

manusia beroleh hidup dan terang (ayat 4, band. Mzm. 36:10). Di dalam terang tidak ada kegelapan dan kegelapan tidak dapat menguasai terang (ayat5). Terang menyelamatkan hidup dari kekacauan, mengungkapkan hal hal yang tak kelihatan, memperlihatkan segala sesuatu apa adanya, dan juga membimbing. Tanpa terang, orang akan berjalan di dalam kegelapan. Pemaparan Yohanes dengan jelas menunjukkan bahwa Firman itu ialah Yesus (ayat 14), Seseorang yang ia kenal dan kasihi. Dialah Pencipta alam semesta (ayat 3, band. Kol. 1:17). Hidup-Nya memberi terang pada manusia. Di dalam terang-Nya, manusia dapat melihat diri sebagaimana adanya, yakni pendosa yang membutuhkan Juruselamat. Ia memang datang untuk membebaskan manusia dari kehancuran akibat dosa sehingga manusia memiliki kehidupan yang bermakna, yakni sesuai dengan kehendak Allah. Natal mengingatkan kita akan kehadiran Terang itu ke dalam dunia. Menyambut natal berarti menyambut Sang Terang. Memberi diri diterangi oleh Yesus sama dengan menyambut hidup yang kekal. Orang yang mengikut Yesus tidak akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan akan memiliki terang hidup. Marilah kita mempersilakan Kristus mengusir kegelapan dosa yang menguasai kita.

Pengharapan itu Telah Datang


Baca: Yesaya 8:23-9:6

Sebagian besar umat kristiani merayakan hari ini sebagai hari Natal. Apa yang kita ingat sewaktu merayakan Natal? Kelahiran Yesus sebagai bayi? Atau Sang Mesias yang membawa pengharapan? Yesaya 8:23-9:6 berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena dipimpin oleh raja yang tidak takut Tuhan. Allah menjanjikan Mesias. Ia akan membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang yang besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan perseteruan (1-4). Janji Mesias ini telah digenapi dengan kelahiran Yesus. Dua hal penting yang dikatakan Yesaya mengenai Yesus adalah bahwa Dia adalah manusia sejati dan Allah sejati. Yesus adalah manusia sejati sesuai perkataan 'seorang anak telah lahir'. Yesus Kristus adalah Allah sejati nampak dari empat nama Ilahi: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai. Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan kedatangan Yesus ke dunia yang memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus sudah lahir 2000 tahun yang lalu, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan damai? Bukankah Sang Raja Damai itu telah datang? Betul, dan itulah tugas kita untuk memperkenalkan Yesus sang Raja Damai itu, dan momen natal adalah salah satu kesempatan yang dapat kita pakai.

FIRMAN YANG MEMBELA MANUSIA


Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci  dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia. Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4 November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam. Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok. Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu. Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya. Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.

“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.

Amsal 4: 20-22

Tuesday, November 28, 2017

HIKMAH PERISTIWA



Mengenang banjir bandang di Manado
pada Januari 2014 lalu
Ayat penuntun: Mazmur 142 : 6

     Pada 15 January 2014 lalu kita tahu bersama ibukota Manado dilanda banjir bandang yang merupakan bencana banjir terbesar sepanjang sejarahnya. Banjir itu menghanyutkan kurang lebih 800 rumah dan merendam lebih dari 3000 pemukiman penduduk. Ada 15 korban meninggal beserta mereka yang meninggal akibat longsor di Tinoor, Tomohon.
     Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tentu menghikmati bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua, inilah bukan sebatas bicara tentang hal-hal lahiriah materi semata tetapi tentang kebenaran-kebenaran Allah  bagi kita. Musibah yang sesungguhnya adalah jika manusia sudah tanpa Allah dan terpisah seutuhnya dari Allah. Jika kita sudah ada di dalam Yesus maka tidak ada lagi musibah, yang ada adalah realita dunia dan realita hidup yang sifatnya fana, akan berlalu begitu saja, baik bencana dukacita maupun sukacitanya. Tetapi Yesus yang ada bagi kita itu tidak akan berlalu, Dialah yang membuat semua menjadi berarti dan berhikmah. Jika kita memiliki Kristus maka apapun keadaan susah yang kita alami itu tidak akan membuat kita larut dalam duka kefanaan dunia serta apapun keadaan senang yang kita alami itu tidak akan membawa kita larut dalam pesta kemabukan dunia. Kita menikmati dan menyikapi semua itu di dalam Kristus. Inilah berkat yang sesungguhnya yang tidak bisa diukur dengan harta materi apapun, yaitu Kristus di dalam kita. Dialah yang membuat kita tidak akan rugi oleh realita apapun melainkan kitalah yang akan mengendalikan dan menikmati  segala sesuatu menjaid berkat hidup oleh kuasaNya. Maju dan tetap semangat. Kita selalu saling menguatkan dan membantu di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.


KEBAIKAN YANG MEMENANGKAN

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.
Roma 12:21

     Bagi sebagian besar orang ketika melakukan kebaikan di saat mengalami kejahatan terasa amat merugikan dan bahkan memalukan. Kehidupan seolah menuntut kita untuk membalas sesuai dengan apa yang kita terima. Ada banyak orang berpegangan bahwa jika dia bisa bersenang dan bahagia di atas kerugian orang lain maka itu adalah ciri keberhasilannya. Ada juga yang senang dan nanti merasa berhasil jika dia sudah menikmati hasil dengan memanfaatkan orang lain. Mereka yang merasa dirugikan tentu tidak senang dan ingin membalas. Padahal secara Rohani maka baik yang merugikan maupun yang membalas keduanya sama-sama rugi. Mereka rugi karena tidak menikmati Allah dalam hidup dan lakunya.Mereka rugi karena dibawa oleh keinginannya sendiri yang membebani hidupnya tanpa mereka sadari. Mereka rugi karena kehilangan kebaikan,damai,dan sejahtera. Ya,pangkal dari kejahatan manusia adalah karena kehilangan kebaikan, damai, dan perasaan sejahtera. Mereka lalu mencari hal-hal itu pada dunia dan bukan pada Allah. Mereka mencari semua itu dengan terfokus pada harta dan hasil dunia semata hingga meskipun mendapatkan, mereka cenderung tidak pernah dipuaskan. Pencarian dunia menghasilkan usaha yang fana dan saling merugikan adanya. Tapi syukur bagi kita yang tinggal dalam Kristus mulai belajar dan menikmati apa itu kebaikan Allah dalam segenap hidup kita.
     Alkitab berkata bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, namun di dalam Kristus kita dibenarkan dan diselamatkan,(roma:23-24). Kita semua telah kehilangan kemuliaan Allah,hingga kita mencari kemuliaan dengan cara kita sendiri agar kita bahagia. Kita semua berusaha mencarinya pada dunia ini dan yang kita temukan adalah harta dunia yang fana yaitu barang yang mudah rusak dan hilang, jabatan yang hanya dihargai saat kita pegang, dan kesenangan yang hanya bergantung dari suasana yang kita alami dari luar. Kemuliaan Allah adalah kebaikanNya. Kebaikan Allah adalah bagian juga dari KemulianNya. Kebaikan, damai, sejahtera, sukacita, semua itu adalah gambaran nyata kemuliaan Allah, semua itu adalah realita pribadi Allah. Semua itu ada dan hadir  secara nyata dalam wujud pribadi Kristus. Kristus adalah kebaikan Allah bagi kita. Kebaikan dan Kemulian yang telah lama dan penuh lelah dicari manusia dalam dunia namun tidak pernah didapati. Kini Kebaikan Allah itu sudah datang dan menjadi bagian hidup kita. Lewat Dia kita masuk pada kebaikan Allah yang akan terus mengajar dan membawa kita menikmati apa itu kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang bukan sebagai beban, sebagai usaha pamrih, sebagai balas jasa, sebagai jalan siasat, ataupun sebagai keharusan hidup tapi kebaikan yang menjadi hidup di dalam kita, yang akan kita nikmati dan muncul tanpa beban lewat berbagai motivasi. Kebaikan Allah beda jauh dari kebaikan dunia, sebab dunia pun memiliki kebaikannya sendiri di luar Allah. Kita memiliki pengetahuan sendiri tentang kebaikan dan kejahatan, dan itu bersumber dari buah pengetahuan baik dan jahat yang membuat kita berdosa. Kebaikan dan kejahatan kita itu intinya dari dosa, atau berinti dari pengetahuan di luar Allah. Oleh Kristus kita mulai menanggalkan kebaikan dan kejahatan kita kepada Dia dan menerima serta menikmati kebaikanNya sebagai hidup kita. Di dalam kebaikannya maka apapun usaha kita, keinginan kita, dan pencarian kita akan semakin dimurnikan dalam pembenaranNya, agar kita tidak lagi mencari sebatas materi duniawi tapi menemukan, menikmati, dan mensyukuri Allah dalam semua itu. Kebaikan Allah akan menyadarkan kita dari dosa dan kejahatan secara alami dan bukan dengan tuntutan paksaan hukum. Kita hanya perlu terbuka dalam segala hal menyerahkan di dalam Kristus apapun kondisi dan keinginan kita,apapun usaha kita.
     Pada masa revolusi industri di inggris dan eropa (1700-1900), banyak bermunculan penemuan-penemuan baru di bidang tehnologi pertanian, industri, dan meluas hingga alat-alat perang. Sebagai akibat perluasan wilayah industri, kebutuhan bahan baku dan pekerja maka revolusi itu secara tidak langsung membawa bangsa eropa pada usaha invasi dan menguasai daratan lain. Ini adalah awal dari sejarah panjang masa penjajahan bangsa-bangsa eropa di benua-benua lain. Kebaikan yang dimiliki dan dicapai dunia tidak sempurna dan berujung pada ketidakpuasan yang bisa saling memanfaatkan serta merugikan karena lebih berintikan untuk diri sendiri. Tapi kebaikan Kristus adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar kita tidak terjajah oleh segenap kebaikan kita yang tidak murni dan membebani serta tidak terjajah oleh kejahatan kita. Mereka yang berbuat jahat pun tanpa sadar sebenarnya sedang menjahati dirinya sendiri, dan sedang menunjukkan bahwa dirinya sedang teraniaya oleh kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang dijajah oleh kejahatan dosa.hanya Kebaikan Kristus yang sanggup menyadarkan betapa malangnya hidup mereka yang secara lahiriah mungkin tampak senang.
     Jika itu kebaikan dunia atau kita sendiri maka kebaikan itu bisa kalah dan memang kalah oleh kejahatan dunia. Tapi jika kebaikan kita diserahkan dalam Kristus agar dalam kebaikan kita, kita menikmati dan menyatakan Dia maka kebaikan itu adalah kebaikan yang mengalahkan kejahatan dunia. Sebab kejahatan dunia tidak akan sanggup lagi merugikan kita secara rohani meskipun secara lahiriah mungkin kita rugi. Tapi kemenangan sesungguhnya di hadapan Allah adalah kita tidak rugi kehilangan motivasi, damai, semangat hidup, kebenaran, dan sukacita walau hadapi segenap teror kejahatan dunia. Itulah kemenangan yang sesungguhnya,kebaikan yang menjadi kebahagiaan kita, kebaikan yang menjadi kekuatan kita, kebaikan yang menjadi kemuliaan kita. Kebaikan itu adalah kebaikan yang bukan nanti terima upah saat di surga atau saat sudah dapat berkat materi tapi kebaikan yang sudah menikmati upahnya saat menyatakan kebaikan itu sendiri. Itulah kebaikan Allah oleh Kristus yang menjadi bagian kita. Kebaikan itu membedakan kita dari kebaikan mereka yang di luar Kristus.Kebaikan dunia ini cemar, karena kejahatan pun bisa terselubung lewat perilaku baik secara lahiriah. Kebaikan dunia ini menipu, Kebaikan Allah adalah terang-terangan. Lihat Kristus, Dia sepenuhnya menunjukkan apa dan bagaimana itu kebaikan sejati. Ketika Dia membongkar pedagang di bait Allah, tegas terhadap kaum farisi, itu adalah wujud kebaikan. TindakanNya didasari kebaikan yang murni. Dia memberi kebaikan untuk kebaikan kita tapi motivasi dunia adalah memberi kebaikan belum tentu untuk kebaikan bagi yang diberi.
     Dalam segala realita keterbatasan kita, mari kita terus belajar dan masuk dalam kebaikan Allah yang sudah kita terima oleh Kristus. Apapun tindakan kita maka kita akan menikmati niat yang murni yang makin menyadarkan dan membebaskan serta menguntungkan kita. Respon kita terhadap kejahatan dunia pun intinya akan terus dimurnikan Allah. Jika kita baik, kita akan baik dalam kebaikan Kristus, jika kita merasa harus tegas dan seolah jahat di hadapan dunia oleh ketegasan itu, maka kita harus tegas oleh ketegasan Kristus, yaitu tegas dalam kasih, marah dalam kasih, oleh karena kasih. Kita tidak sendiri untuk belajar dan memaknai hidup ini bersama Allah,kita punya Roh Kudus di dalam kita, Dia dari Allah, juga wujud kebaikan Allah bagi kita. Dia pengajar, Penghibur, Penuntun kita dalam segala Kebaikan. Oleh Dia Kebaikan kita menjadi kemenangan dan bukan kekalahan. Lihatlah Kristus, bagi mata dunia yang tertutup secara rohani Kristus seolah kalah saat menderita disalib. Tapi Dia tidak kehilangan kemuliaanNya meski dalam hinaan dunia yang menghinakanNya. Dia tidak kehilangan kebaikan, damai sejahtera, keteguhan, dan pengampunanNya saat dirugikan dan dijahati dunia. Itu adalah kemenangan sesungguhnya, kemenangan sejati, suatu penyataan kemulianNya yang luar biasa besar. Syukur hal itu dibukakan bagi kita di dalam Dia. Oleh Dia kita menang, KebaikanNya di dalam kita memberi kita kemenangan hadapi dunia ini,amin

Insomnia, Penyakit Manusia Modern


Bacaan: Ayub 3:20-26

Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat,... - Ayub3:26

Sementara menulis artikel ini, saya ngantuk berat, jadi perlu ditemani secangkir kopi. Rasa kantuk yang menyerang bukan tanpa alasan. Ini terjadi karena kemarin malam saya mengalami insomnia (tidak bisa tidur). Masalahnya sih sebenarnya sederhana, saya terbangun gara-gara AC di kamar tiba-tiba mengeluarkan suara derik yang cukup berisik. Saya pun terjaga dan tak lagi bisa tidur. Segala cara saya coba agar cepat lelap, namun sia-sia saja. Tidak bisa tidur satu malam saja saya begitu tersiksa, itu sebabnya saya tidak bisa bayangkan pengidap insomnia yang tiap malam tidak bisa tidur. 
Jutaan orang mengalami insomnia. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat kenyataan bahwa 30 ton aspirin, pil tidur dan obat penenang dikonsumsi manusia di dunia ini setiap harinya! Inilah penyakit manusia modern. Untuk menikmati tidur saja mereka sangat kesulitan dan perlu dibantu obat-obat penenang. Penyebab insomnia ini bermacam-macam. Namun semuanya bersumber pada pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan hati yang diliputi rasa aman, damai, dan tenang tidak akan mengalami kesulitan untuk tidur. Namun sebaliknya, jika kita terus menerus dihantui kekuatiran, ketakutan dan kegelisahan, maka kita akan sulit untuk tidur. 
Bagaimana mungkin bisa tidur nyenyak kalau kita memikirkan fluktuasi nilai uang yang naik turun. Atau memikirkan sejumlah saham kita yang terus merosot. Atau memikirkan bagaimana prospek bisnis kita di masa yang akan datang. Belum lagi memikirkan masalah dan tekanan hidup yang datang silih berganti. Bukankah ini kegelisahan yang masuk akal? Namun apakah benar bahwa semua masalah dan tekanan hidup yang berat harus membuat kita tidak bisa tidur?
Kegelisahan tidak akan pernah bisa dijawab oleh aspirin, obat tenang atau obat tidur dalam dosis tinggi sekalipun. Kalau pun obat-obat ini bisa membantu, tentu sifatnya sementara saja. Lagipula, apakah kita mau kalau setiap hari harus menenggak beberapa butir obat tidur dulu sebelum akhirnya bisa memejamkan mata? Jiwa yang tenanglah jawabannya. Ini bisa kita dapatkan kalau kita berani menyerahkan semua kegelisahan, kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Allah yang adalah sumber damai sejahtera akan melimpahkan karuniaNya kepada kita. Termasuk karunia untuk tidur dalam rasa aman!
Seandainya Anda mengidap insomnia, saya tantang Anda untuk menghentikan obat-obat tidur itu,
sebaliknya membiarkan Tuhan yang memberi rasa tenang dan damai atas kegelisahan Anda.

Menggendong Sahabat Selama 8 Tahun

Ayat penuntun: Yesaya 46 : 4

Anda pasti sering mendengar berita mengenai kenakalan remaja, mulai dari tawuran, memakai narkoba, ikut gank motor, pergaulan bebas dan sebagainya yang membuat miris. Namun, tidak semua remaja memiliki kelakuan yang tidak baik atau hanya bisa menghamburkan uang orang tua. Dari banyaknya remaja di dunia, salah satu yang berhati emas adalah Di Hebei, Cina, seorang remaja bernama Lui Shi Ching.

Dilansir oleh ibtimes.com, Lui Shi Ching adalah remaja berhati emas. Usianya baru 16 tahun ketika banyak media memberitakan dirinya. Lui Shi Ching berasal dari Hebei, China. Yang membuat pemuda ini terkenal adalah ketulusan hati menggendong sahabatnya, Lu Shao. Lu Shao memiliki kelainan bawaan yang membuatnya sulit berjalan, karena itu, dia harus digendong.
Tidak pernah memamerkan kebaikan hatinya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.
Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.
Bantuannya bagai sinar matahari yang menyingkirkan awan gelap
Dalam sebuah wawancara, Lui Shi Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar. Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga berat badannya tidak menjadi beban. “Saya sangat senang bisa membantunya, tidak terasa sudah delapan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Lu Shao menuliskan dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya.
Itulah sekilas kisah persahabatan yang mengharukan. Semoga semakin banyak Lui Shi Ching lain, agar manusia belajar bahwa kebaikan hati. tidak hanya berupa uang dan materi. Banyak orang berani menyisihkan harta untuk orang lain, namun berapa banyak yang mau menggendong orang lain yang sedang kesusahan?
Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk Anda.

     Kisah di atas mengingatkan saya akan satu lagi sifat dari kepribadian Allah yang Agung. Sesungguhnya jika kita mendalami hingga kedalaman batin maka tiada satu pun manusia yang sanggup benar-benar bisa menanggung beban hidup sesamanya. Menggendong secara lahiriah tentu ada yang bisa sebagaimana kisah di atas dan kebaikan hati dari Lui Shi Cing pautu dipuji. Ada satu Pribadi yang benar-benar seutuhnya sanggup menanggung seluruh hidup kita dan beban kita. Dialah Yesus yang selalu setia menggendong kita. Sebab tanggunganNyabagi kita adalah keseluruhan diri kita dan hidup kita. Dia menanggung apa yang tidak bisa ditanggung oleh siapapun, yaitu dosa dan segala beban kita. Agar di dalam Dia kita dibebaskan dan berkemenangan.  Agar di dalam Dia pula barulah kita bisa saling senasib dan sepenanggunagn dengan sesama dengan benar…yaitu dalam Yesus dan oleh kuat kuasaNya dan kepedulianNya.

Proyek Terakhir Seorang Arsitek

Ada seorang arsitek yang bekerja di suatu perusahaan .
Setelah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan tersebut, si arsitek karena sudah berusia cukup tua berencana untuk pensiun. Namun karena dedikasi si arsitek tersebut kepada perusahaan amatlah tinggi dan posisinya sangat penting di perusahaan tersebut, si manajer perusahaan tidak mengizinkannya untuk pensiun.
Si Arsitek bersikeras untuk tetap pensiun. Karena ia merasa sudah saatnya untuk pensiun. mengingat usianya yang sudah lanjut, dan ingin segera manghabisi sisa hidupnya.
Akhirnya setelah berkali-kali membujuk si manajer, Si arsitek pun mendapatkan izin untuk pensiun, dengan syarat ia harus mengerjakan proyek istimewa yang diberikan oleh manajer.

Proyek istimewa tersebut adalah ia harus merancang sebuah bangunan rumah di atas tanah seluas 500m2 dengan dana yang akan disediakan oleh perusahaan. Jangka waktu yang ditentukan adalah empat bulan lamanya.“Baiklah saya akan mengerjakan proyek tersebut. Bahkan saya akan mengerjakannya hanya dalam waktu 2 bulan saja.” Ucap si arsitek tersebut.
Akhirnya si arsitek tersebut pun mulai mengerjakan proyek tersebut.
Ia membuat bangunannya hanya seluas seratus meter. Sisanya hanya ia biarkan saja menjadi halaman kosong.
“Untuk meminimal dana!” Pikirnya.
Bahan material bangunan tersebut ia gunakan yang kualitas tiganya. Karena ia pikir proyek ini haruslah dibuat seminimal mungkin biayanya. Agar perusahaan tidak banyak keluar dana. Perancangan keseluruhannya pun bisa terbilang biasa saja. Hanya dikerjakan “sejadinya’.
“Toh, ini hanya proyek biasa saja. Bukan proyek istimewa seperti yang dikatakan. Hanya membangun rumah sederhana saja.” pikirnya.
Akhirnya dua bulan kemudian, rumah tersebut pun jadi. dari luar bangunan rumah tersebut memang terlihat sangat istimewa. Namun bahan-bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan kualitas rendah. Bukan kualitas yang bagus.
Ia pun melapor kepada menajer perusahaannya bahwa ia telah memyelesaikan pekerjaan yang disebut “Proyek Istimewa” tersebut. Dan ia memohon diri untuk segera pensiun dan berhenti bekera.
“Baiklah kamu boleh pensiun. Dan hari ini kita akan mengadaan acara pelepasan kamu bersama seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini.” Ucap si manajer.
Akhirnya berkumpulah seluruh staf dan karyawan perusahaan tersebut di sebuah ruangan untuk mengadakan pelepasan si arsitek yang ingin pensiun itu.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini arsitek senior kita ini akan pensiun. Sebagai penghormatan perusahan atas jasa dan dedikasinya, maka kami memberikan hadiah sebuah rumah yang baru saja ia dirikan.”
Seluruh hadirin pun bertepuk tangan. Namun si arsitek terbengong-bengong mendengar pernyataan manajernya itu.
“Kalau saja saya lebih lama mengerjakan proyek pembangunan rumah tersebut…..
Kalau saja saya membuat rumah tersebut lebih bagus lagi….
Kalau saja bahan bagunan yang saya gunakan adalah bahan-bahan kualitas terbaik….
Kalau saja saya mendirikan bangunan rumahnya lebih besar lagi….
Kalau saja saya …..
Kalau saja ……
Kalau saja…..”Begitulah kehidupan di dunia ini. Hakikatnya apapun yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang kita berikan akan kembali ke diri kita sendiri. Semuanya akan bermanfaat dan berikan manfaat kepada diri kita sendiri kelak, begitu pula dengan keburukan yang kita kerjakan . Apa yang kita tabur, pasti akan kita tuai.

     Sebuah kisah yang memberi Hikmah, karena itu saudaraku marilah kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Kristus. Sebab segala sesuatu jika ada di dalam Kristus maka itu Berkat adanya dan tidak sia-sia serta penyesalan.  Mereka yang hanya berusaha sebatas dunia akan mengalami sperti arsitek yang dalam kisah itu namun kita yang sudah ada di dalam Kristus semua yang kita kerjakan tidak sia-sia. Dia Allah Alfa dan Omega, kita mengawali di dalam Dia dan mengakhiri di dalam Dia pula. Awal dan Akhir sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh di dalam Kristus. Mari kita dalami dan makin temukan keutuhan Pribadi Allah dalam Kristus yang membebaskan kita dari segala hukum dunia dan beban dunia. Jika Kristus harta kita, jika Kristus usaha kita dalam segala hal apapun yang kita usahakan maka Kristuslah yang akan kita terima sejak saat ini hingga kekal. Daud pernah berkata bahwa Allah bagiannya di Surga dan dalam hidup ini, demikian pula kita semua, (Mazmur 73 : 26).

PROFESOR DAN MAHASISWA


Suatu hari di sebuah kelas tampak seorang profesor dengan para mahasiswanya sedang bertanya jawab. Profesor itu bertanya pada mahasiswanya:
“Apakah semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?”
Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang spontan menjawab: “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya. Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.”
“Itu benar, keterangan tentang itu banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.
Sang Profesor hanya mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan, tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya di surat-surat kabar kriminal. Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka Tuhanlah yang menciptakan kejahatan. Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”
Kedua mahasiswa yang tadi menjawab kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang. Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri hanya ada dalam bayangan kalian, bukan di atas langit sana.”
Seorang mahasiswa tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor dengan senang.
Mahasiswa itu kemudian berdiri, “Profesor, apakah dingin itu ada?” ujarnya.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?” sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya.
“Kenyataannya Pak” jawab mahasiswa tersebut, “Dingin itu tidak ada.Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Kelas hening. Sesaat kemudian mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Kelas makin hening. Sang Profesor diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang, profesor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Namun mahasiswa itu lagi-lagi membantahnya. “Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara profesor memecahnya. “Siapa namamu, Nak?”
“Albert, Sir. Albert Einstein.”
Ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita adalah penyebab dari munculnya kejahatan.
Yohanes 15:4,
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...