Baca: Lukas 2:8-20Natal perdana Allah yang low-budget dan tidak
glamor ini pun terus berlanjut. Kembali Allah melakukan sesuatu yang
mengejutkan dan ironis. Berita tentang telah dipenuhinya janji akbar PL akan
kedatangan sang Mesias, yang sebenarnya adalah sukacita nasional Israel (ayat 10-11), disampaikan kepada para gembala.
Bahkan, kemuliaan Allah pun meliputi mereka pada saat itu (ayat 9)! Bagi masyarakat
Yahudi waktu itu, menjadi gembala upahan (orang yang menggembalakan ternak
hewan milik orang lain) sebenarnya adalah salah satu pekerjaan terendah. Tanda
yang menjadi pembukti kebenaran berita itu pun unik karena bersifat sangat
biasa; bukan suatu mukjizat, bukan pula tanda kemegahan dan kebesaran, tetapi sebuah
palungan (ayat 12, 16). Barang inilah yang dipakai Allah untuk menjadi bukti
bagi para gembala akan kebenaran dari berita yang disampaikan sang malaikat sebelumnya.
Para gembala upahan ini tidak hanya mendapatkan hak istimewa untuk menjadi
saksi kelahiran Tuhan Yesus, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan
teladan yang indah: pertama, antusiasme mereka dalam memberikan respons
terhadap berita para malaikat (ayat 16). Kedua, mereka menjadi saksi-saksi yang
efektif akan kelahiran Kristus (ayat 17). Ketiga, mereka memuji serta
memuliakan Allah atas semuanya (ayat 20). Apa yang dilakukan oleh para gembala
upahan (baca= rendahan) ini paralel dengan apa yang dilakukan oleh para
malaikat. Mereka pun memuliakan Allah dan bersaksi tentang damai sejahtera yang
terjadi di antara umat Tuhan (ayat 14), setelah sebelumnya, salah satu dari
malaikat tersebut menjadi pemberita kepada para gembala (ayat 9). Perbedaan
status bukanlah hambatan bagi kita untuk merayakan kelahiran Kristus. Renungkan: Semangat Natal sejati adalah semangat yang berupaya untuk
mengangkat harkat mereka yang secara sosio-ekonomi berada "di bawah",
dan membuat mereka merasakan bahwa Allah pun peduli dan justru mencari
orang-orang seperti mereka. Mari saling mengasihi tanpa memandang perbedaan
kelas atau strata ekonomi dan sosial.
Thursday, December 14, 2017
Tiga fakta Natal
Baca: Lukas 2:1-7
Pertama, Tempat Kejadian Perkara (TKP) Natal
adalah daerah pinggiran. Jauh dari tempat Kaisar Agustus memerintah; jauh dari
tempat kediaman sang wali negeri di Siria, bahkan bukan juga Ibukota Yudea,
Yerusalem. Jauh dari pentas utama sejarah dunia, regional, maupun nasional.
Hanya kota kecil yang bernama Betlehem kebetulan kampung halaman raja Daud
(ayat 4). Kedua, para tokoh utamanya punya latar belakang yang (demi sopan
santun) "mencurigakan". Yusuf dan Maria baru bertunangan, tetapi
Maria sudah mengandung (ayat 5). Lagipula, orang yang cukup terhormat rasanya
masih akan mendapatkan tempat menginap yang cukup layak, apapun situasinya
(ayat 7b). Ketiga, cara terjadinya Natal. Peristiwa Natal itu mengambil
setting, dari berbagai tempat lain yang mungkin, dalam sebuah kandang. Belum
lagi melihat tindakan Maria kepada Sang Bayi Natal yang, jujur saja, tidak
mungkin dijadikan tindakan pascapersalinan teladan (ayat 7). Inilah kesimpulan
yang seharusnya timbul setelah kita membaca nas ini—jika kita melepaskan
sejenak gambaran Natal yang kita punyai selama ini, melalui hasil bentukan
berbagai lukisan, renungan, drama, lm, dll., tentang Natal yang romantis, menggugah,
sekaligus agung megah. Mungkin kesan ini pula yang timbul pada saat Teolus—yang kemungkinan punya
kedudukan cukup terhormat—membaca bagian ini. Namun, melalui pembacaan seperti,
justru kita (dan para Teolus di antara kita) lebih mudah untuk menangkap
berita Natal dalam cara yang dimaksudkan oleh Lukas. Melalui keremeh-temehan
seperti ini, rencana keselamatan Allah yang dahyat, yang telah dijanjikan
dengan dahsyat dalam PL, telah diwujudkan. Melaluinya, nyata bahwa karya
penyelamatan Allah tidak boleh diremehkan, dan berhak menerima pujian dan syukur
kita yang terdalam. Renungkan: Sama seperti Yesus Kristus yang datang dalam
kerendahan juga dalam kehinaan demikian juga kita dipanggil untuk bersukacita
dalam perendahan diri di hadapan Tuhan. Jagalah agar jangan sukacita Natal
justru hilang oleh kesibukan lahiriah ataupun sekedar kewajiban ibadah di saat
Natal tiba.
Kemuliaan Allah Bagi Damai Sejahtera Manusia
Baca:
Lukas 2:1-14
Peristiwa Natal akan
tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan
tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir
di kota Daud.” Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi
isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia
ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam
hari. Tenang, hening dan hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang
ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak
dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang
dari tempat yang mahatinggi. Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak
oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai
sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Pernyataan ini
membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera.
Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan
penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang
memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang
menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina. Renungkan:Kemuliaan Allahlah yang
mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah Anda sudah menerima Sang Cahaya
Kemuliaan Mengapa Bersukacita dan Memuji?
Baca: Lukas 1:57-80
Bagi sanak keluarga Zakharia dan Elisabet, jelas
karena kelahiran anak bagi pasangan tersebut yang menunjukkan rahmat Tuhan yang
besar kepada mereka (ayat 57-58). Namun, alasan mereka tidak hanya itu. Zakharia
dan Elisabet punya alasan yang lebih besar lagi. Alasan dari sukacita dan
pujian itu lah yang telah menyebabkan mereka melakukan dan mengalami hal-hal yang
membuat para sanak keluarganya heran (ayat 62), dan banyak orang
geger (ayat 65). Alasan itu tampak jelas melalui himne yang dinyatakan
oleh Zakharia. Pujian Zakharia yang didasari oleh kuasa Roh Kudus, di samping
berfungsi sebagai pujian kepada Tuhan (terutama 68-75, juga 78-79), juga
merupakan nubuat tentang Yohanes Pembaptis (ayat 76-77). Himne ini menunjukkan
karya penyelamatan Allah bagi Israel. Allah tidak pernah melupakan umat-Nya,
dan telah menjanjikan kepada Abraham dan mereka yang bertahan kedamaian yang
diisi dengan ibadah; kelepasan dari musuh tanpa rasa takut. Saat untuk ini
telah mendekat, ditandai dengan kelahiran anak Zakharia, Yohanes yang kemudian
disebut Pembaptis. Karena itu, sumber sukacita Zakharia tidaklah hanya
kelahiran anaknya, tetapi juga kedatangan Dia, yang jalan-Nya akan dipersiapkan
oleh Yohanes. Kedatangan-Nya, dan karya penyelamatan yang dilakukan-Nya, sudah
cukup untuk memicu pujian dan ucapan syukur dari Zakharia ini (ayat 64, 68).
Bagian ini ditutup dengan catatan bagaimana Yohanes Pembaptis menjadi besar,
dan tinggal di padang gurun sampai saatnya ia mulai melayani Israel. Dengan
demikian, narasi Injil ini seakan-akan menahan nafas, menanti kemunculan sang
Mesias, Juruselamat, yang tinggal beberapa saat lagi. Kedatangan Mesias adalah
dasar lebih kuat lagi bagi sukacita sejati kita. Renungkan:
Apa yang sedang Anda siapkan menjadi dasar kegembiraan pada hari
Natal besok? Ada dua pilihan: semata karena Anda akan berlibur? Atau karena Anda
akan merenungkan kembali kebenaran kabar baik.
Jangan menyimpang dari Allah
Baca: Hosea 13:1-14:1
Allah sendiri mengingatkan Israel, bahwa Dialah
yang telah membawa mereka keluar dari Mesir. Tidak ada juruselamat lain (ayat
4). Artinya, hanya Allahlah yang memelihara dan yang memberi mereka makan dan minum.
Israel dengan mudah melupakan segala kebaikan yang telah Tuhan limpahkan atas
mereka.
Karena itu, ketika Israel membelakangi Allah, itu
tidak hanya berarti bahwa Israel menolak keselamatan dari Allah, tetapi juga
Israel telah memutuskan hubungan kasih dengan Sang Sumber kehidupan. Akibatnya,
murka Allah menimpa mereka. Bahkan, akibat dari sikap Israel itu, Allah tidak
akan membebaskan Israel dari maut. Israel tidak mengurangi kuantitas dan
kualitas kejahatan mereka, justru sikap Israel makin bertambah-tambah penyimpangannya
terhadap perjanjian kasih dengan Allah. Mereka harus mengalami maut yang datang
dari Allah. Allah sendiri tidak akan menyelamatkan Israel (ayat 14). Apakah
Allah telah kehabisan kesabaran? Tidak! Allah memutuskan tindakan ini justru
karena terlalu sabar. Juga, tindakan Allah ini diambil karena ketololan dan
kebodohan Israel sendiri. Artinya, Israel sendiri yang telah memutuskan
hubungan kasih Allah dengan Israel. Kehidupan yang didasarkan pada kasih Allah,
Sang Sumber Kehidupan, hanya akan terjalin kembali apabila Allah sendiri
berinisiatif penuh untuk memulihkan hubungan-Nya dengan umat. Pemulihan
hubungan itu telah sering Allah lakukan, tetapi Israel terus menerus menolak
Allah. Bila kita belajar dari sikap Israel terhadap Allah, maka kita pun harus
dengan penuh kesadaran mengakui bahwa kita tidak lebih baik daripada umat
Israel. Sebab seandainya ada seorang saja di bumi ini yang betul-betul setia
kepada Allah, maka Allah tidak perlu berinisiatif melalui Yesus Kristus, datang
ke dunia. Tetapi, karena satu orang saja tidak ditemukan, maka damai Natal itu harus
datang ke dunia, berada di antara kita, dan memulihkan kembali relasi manusia
dengan Allah.
Saturday, December 9, 2017
Pidato Benyamin Netanyahu atas pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota bangsa Yahudi
GREATEST SPEECHES NETANYAHU - PERDANA MENTERI ISRAEL !
Shalom Aleychem
Baru 70 tahun yang lalu! Orang-orang Yahudi dibawa ke pembantaian seperti domba.
60 tahun yang lalu! Kami tidak punya negara. Tidak ada tentara
Tujuh negara Arab mengumumkan perang terhadap negara Yahudi kecil kami, hanya beberapa jam setelah penciptaannya!
Kami hanya 650 orang Yahudi, melawan seluruh dunia Arab! TIDAK ADA IDF (Tentara Pertahanan Israel).
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Tidak ada Angkatan Udara yang kuat, hanya orang pemberani yang tidak memiliki tempat untuk pergi.
Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, Libya, Arab Saudi semua menyerang kita pada saat bersamaan.
Negara yang diberikan PBB kepada kita adalah gurun 65%. Negara ini entah dari mana!
35 tahun yang lalu! Kami melawan tiga tentara terkuat di timur tengah, dan kami menyapu mereka ... ya ... dalam enam hari.
Kami bertempur melawan berbagai koalisi negara-negara Arab, yang memiliki tentara modern dan banyak senjata Soviet, dan kami selalu mengalahkan mereka!
Hari ini kita memiliki:
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
*Negara*
* Tentara *
* Sebuah angkatan udara yang kuat *
* Ekonomi Negara-of-the-Art yang mengekspor jutaan dolar *
* Intel - Microsoft - IBM mengembangkan produk di rumah *
* Dokter kami menerima penghargaan untuk penelitian medis *
Kami membuat padang pasir mekar, dan menjual jeruk, bunga dan sayuran di seluruh dunia.
Israel telah mengirim satelitnya sendiri ke luar angkasa!
Tiga satelit sekaligus!
Tiga satelit sekaligus!
Kami bangga berada di peringkat yang sama dengan: Amerika Serikat, yang memiliki 250 juta penduduk,
Rusia, yang memiliki 200 juta jiwa
China yang memiliki 1,3 miliar jiwa
Eropa - Perancis, Inggris, Jerman - dengan 350 juta penduduk ..
Satu-satunya negara di dunia yang mengirim benda ke luar angkasa! Israel sekarang adalah bagian dari keluarga kekuatan nuklir, dengan Amerika Serikat, Rusia, China, India, Prancis, dan Inggris Raya.
Kami tidak pernah secara resmi mengakuinya, (tapi semua orang tahu itu) dan mengatakan bahwa hanya 60 tahun yang lalu, kami dipimpin, merasa malu dan tanpa harapan, untuk dibantai!
Kami telah menghancurkan reruntuhan eropa di Eropa, kami telah memenangkan peperangan kami di sini dengan tidak ada artinya. Kami membangun "Kekaisaran" kecil kami dari nol.
Siapa Hamas yang menakutiku? Menakutiku Anda membuat saya tertawa!
Paskah dirayakan; Jangan lupakan apa ini.
> Kami selamat dari Firaun.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
> Kami bertahan dari orang-orang Yunani.
> Kami bertahan dari Roma.
> Kami bertahan dari inkuisisi di Spanyol.
> Kami memiliki pogrom di Rusia.
> Kami bertahan dari Hitler.
> Kami bertahan dari Jerman.
> Kami selamat dari Holocaust.
> Kami bertahan dari tentara tujuh negara Arab.
> Kami selamat dari Saddam.
> Kami akan terus bertahan dari musuh yang hadir hari ini juga.
Pikirkan kapan saja dalam sejarah manusia! Pikirkanlah, bagi kita, orang-orang Yahudi, situasinya tidak pernah lebih baik! Lalu mari kita hadapi dunia.
Mari kita ingat: Semua bangsa atau budaya yang pernah mencoba untuk menghancurkan kita, sudah tidak ada lagi sekarang - sementara kita masih hidup!
Mesir?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Orang Yunani?
Alexander dari Makedonia?
Orang Roma (apakah ada yang masih berbicara bahasa Latin akhir-akhir ini?)
Reich Ketiga?
Dan lihatlah kami,
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
> Bangsa Arab
> Budak Mesir
> Kita masih di sini
Dan kita berbicara dalam bahasa yang sama, Bahasa Ibrani sejak dulu! dulu dan sekarang! Orang-orang Arab belum tahu, tapi mereka akan belajar bahwa ada Elohim / Tuhan.... selama kita menyimpan identitas kita, kita selamanya.
Jadi maafkan kami karena tidak mengkhawatirkan.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
> Jangan menangis
> Jangan takut
> Hal baik di sini
> Mereka pasti bisa menjadi lebih baik.
Namun: Jangan percaya media, mereka tidak mengatakan kepada Anda bahwa pesta terus berlangsung, orang terus hidup, orang terus keluar, orang terus menemui teman.
Ya, semangat kita rendah. Terus? Hanya karena kita meratapi kematian kita, sementara yang lain bersukacita dalam gudang darah. Itulah sebabnya kita akan menang, pada akhirnya.
Dia tidak pernah tidur atau akan pernah tidur .... wali Israel .... YHWH / YAHWEH TUHAN Abraham, Ishak dan Yakub/ Israel.
We Aleychem Shalom
Friday, December 8, 2017
Iman Padang Gurun
Baca: Hosea 11
Ayat-ayat 1,3,4 tidak hanya secara jelas kembali menggambarkan
peristiwa keluaran dari Mesir tetapi juga menggambarkan kebahagiaan umat ketika
mereka masih di padang gurun. Hosea memang memandang bahwa masa keemasan relasi
antara umat dengan Allah adalah ketika mereka berada bersama Allah di padang gurun.
Di sana mereka tidak tergoda untuk menyembah dewa atau ilah manapun. Inilah
yang disebut iman padang gurun. Akan tetapi, kalau Hosea menekankan hal ini
tidak berarti bahwa Hosea menganggap Allah Israel hanyalah Allah padang gurun.
Justru dengan penekanan tersebut, Hosea bermaksud agar Israel tetap memelihara relasi
yang ideal dengan Allah ketika di padang gurun itu, meskipun mereka sudah
menetap di Kanaan. Sayangnya, Israel berubah total ketika mereka mulai mendiami
tanah Kanaan (ayat 2,7).Kasih Allah kepada Israel tidak pernah berhenti. Kecaman
dan penghukuman yang ditimpakan kepada Israel adalah juga bagian dari
perjalanan kasih Allah kepada Israel. Allah tidak sama dengan manusia yang suka
menghajar sesamanya dengan dendam yang tidak pernah berkesudahan (ayat 8-11).
Karena kasih-Nya, Allah menahan murkanya, dan menggantikannya dengan menyelamatkan.
Hal itulah yang dinyatakan dengan kata-kata, "Hati-Ku berbalik dalam
diri-Ku (ayat 8)." Allah
berubah pikiran, dari keinginan untuk menghukum kepada
keinginan untuk menyelamatkan. Keadaan manusia pada umumnya suka memberontak
dan terus memberontak, dan karenanya patut menerima penghukuman Allah. Tetapi
karena kasih-Nya kepada dunia, Ia mengutus Anak-Nya sebagai Juruselamat dunia (bdk.
Yoh. 3:16), sehingga dunia mengalami pengampunan Allah. Karena itu manusia
hanya hidup oleh pengampunan Allah. Tanpa pengampunan Allah, manusia pasti
binasa. Kebinasaan yang dimaksud tidak hanya dalam pengertian kematian kekal
pada masa yang akan datang, melainkan juga binasa dalam arti relasi yang tidak
sejahtera dengan sesama dan lingkungan di dunia kini dan di sini.
Sambutlah Sang Terang
Sebagian besar orang tidak suka berada di dalam kegelapan.
Itu ditandai dengan tindakan untuk mencari dan menyalakan alat penerang bila
tidak ada lampu, misalnya. Manusia memang membutuhkan terang karena terang
membuat manusia merasa nyaman dan aman. Demikian juga dengan kehidupan rohani
manusia. Dosa menguasai manusia, seperti kegelapan menguasai malam. Dalam
keadaan demikian, manusia membutuhkan terang agar tidak lagi hidup di dalam kegelapan
dosa. Yohanes mengaitkan terang itu dengan Firman. Firman itu ada sejak semula
bersama-sama dengan Allah (ayat 1). Firman itu kemudian datang ke dalam dunia
(ayat 9). Melalui Firman,
manusia beroleh hidup dan terang (ayat 4, band.
Mzm. 36:10). Di dalam terang tidak ada kegelapan dan kegelapan tidak dapat
menguasai terang (ayat5). Terang menyelamatkan hidup dari kekacauan,
mengungkapkan hal hal yang tak kelihatan, memperlihatkan segala sesuatu apa
adanya, dan juga membimbing. Tanpa terang, orang akan berjalan di dalam
kegelapan. Pemaparan Yohanes dengan jelas menunjukkan bahwa Firman itu ialah
Yesus (ayat 14), Seseorang yang ia kenal dan kasihi. Dialah Pencipta alam
semesta (ayat 3, band. Kol. 1:17). Hidup-Nya memberi terang pada manusia. Di dalam
terang-Nya, manusia dapat melihat diri sebagaimana adanya, yakni pendosa yang membutuhkan
Juruselamat. Ia memang datang untuk membebaskan manusia dari kehancuran akibat
dosa sehingga manusia memiliki kehidupan yang bermakna, yakni sesuai dengan kehendak
Allah. Natal mengingatkan kita akan kehadiran Terang itu ke dalam dunia.
Menyambut natal berarti menyambut Sang Terang. Memberi diri diterangi oleh
Yesus sama dengan menyambut hidup yang kekal. Orang yang mengikut Yesus tidak
akan berjalan di dalam kegelapan, melainkan akan memiliki terang hidup. Marilah
kita mempersilakan Kristus mengusir kegelapan dosa yang menguasai kita.
Pengharapan itu Telah Datang
Baca: Yesaya 8:23-9:6
Sebagian besar umat kristiani merayakan hari ini
sebagai hari Natal. Apa yang kita ingat sewaktu merayakan Natal? Kelahiran
Yesus sebagai bayi? Atau Sang Mesias yang membawa pengharapan? Yesaya 8:23-9:6
berkonteks kehidupan Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan
Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur
dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena
dipimpin oleh raja yang tidak takut Tuhan. Allah menjanjikan Mesias. Ia akan
membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam
hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang yang
besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang
mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa yang
menindas dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengenyahkan perang dan
perseteruan (1-4). Janji Mesias ini telah digenapi dengan kelahiran Yesus. Dua
hal penting yang dikatakan Yesaya mengenai Yesus adalah bahwa Dia adalah
manusia sejati dan Allah sejati. Yesus adalah manusia sejati sesuai perkataan
'seorang anak telah lahir'. Yesus Kristus adalah Allah sejati nampak dari empat
nama Ilahi: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja
Damai. Natal bukan perayaan ulang tahun Yesus, melainkan kedatangan Yesus ke
dunia yang memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus sudah lahir
2000 tahun yang lalu, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan
damai? Bukankah Sang Raja Damai itu telah datang? Betul, dan itulah tugas kita
untuk memperkenalkan Yesus sang Raja Damai itu, dan momen natal adalah salah satu
kesempatan yang dapat kita pakai.
FIRMAN YANG MEMBELA MANUSIA
Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa
aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak
menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur
yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya
kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa
Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia.
Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih
Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas
didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton
utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci
yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau
pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong
hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab
suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan
memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak
dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4
November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya
hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat
was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam.
Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik
aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman
terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo
membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para
pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui
wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di
Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau
sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang
menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di
Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan
sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok.
Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab
sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok
dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu
hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo
berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan
percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang
hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam
bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi
manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal
di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu.
Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu
sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya.
Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman
Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita
umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman
Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga
terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman
kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari
Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan
memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk
mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman
yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan
kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus
lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.
“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu
kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di
lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang
mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.
Amsal 4: 20-22
Tuesday, November 28, 2017
HIKMAH PERISTIWA
Mengenang banjir bandang di Manado
pada Januari 2014 lalu
Ayat penuntun: Mazmur 142 : 6
Pada
15 January 2014 lalu kita tahu bersama ibukota Manado dilanda banjir bandang
yang merupakan bencana banjir terbesar sepanjang sejarahnya. Banjir itu
menghanyutkan kurang lebih 800 rumah dan merendam lebih dari 3000 pemukiman
penduduk. Ada 15 korban meninggal beserta mereka yang meninggal akibat longsor
di Tinoor, Tomohon.
Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus
Kristus tentu menghikmati bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi kita semua, inilah bukan sebatas bicara tentang
hal-hal lahiriah materi semata tetapi tentang kebenaran-kebenaran Allah bagi kita. Musibah yang sesungguhnya adalah
jika manusia sudah tanpa Allah dan terpisah seutuhnya dari Allah. Jika kita
sudah ada di dalam Yesus maka tidak ada lagi musibah, yang ada adalah realita
dunia dan realita hidup yang sifatnya fana, akan berlalu begitu saja, baik
bencana dukacita maupun sukacitanya. Tetapi Yesus yang ada bagi kita itu tidak
akan berlalu, Dialah yang membuat semua menjadi berarti dan berhikmah. Jika
kita memiliki Kristus maka apapun keadaan susah yang kita alami itu tidak akan
membuat kita larut dalam duka kefanaan dunia serta apapun keadaan senang yang
kita alami itu tidak akan membawa kita larut dalam pesta kemabukan dunia. Kita
menikmati dan menyikapi semua itu di dalam Kristus. Inilah berkat yang
sesungguhnya yang tidak bisa diukur dengan harta materi apapun, yaitu Kristus
di dalam kita. Dialah yang membuat kita tidak akan rugi oleh realita apapun
melainkan kitalah yang akan mengendalikan dan menikmati segala sesuatu menjaid berkat hidup oleh kuasaNya.
Maju dan tetap semangat. Kita selalu saling menguatkan dan membantu di dalam
Yesus Kristus Tuhan kita.
KEBAIKAN YANG MEMENANGKAN
Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah
kejahatan dengan kebaikan.
Roma 12:21
Bagi sebagian besar
orang ketika melakukan kebaikan di saat mengalami kejahatan terasa amat
merugikan dan bahkan memalukan. Kehidupan seolah menuntut kita untuk membalas
sesuai dengan apa yang kita terima. Ada banyak orang berpegangan bahwa jika dia
bisa bersenang dan bahagia di atas kerugian orang lain maka itu adalah ciri
keberhasilannya. Ada juga yang senang dan nanti merasa berhasil jika dia sudah
menikmati hasil dengan memanfaatkan orang lain. Mereka yang merasa dirugikan
tentu tidak senang dan ingin membalas. Padahal secara Rohani maka baik yang
merugikan maupun yang membalas keduanya sama-sama rugi. Mereka rugi karena
tidak menikmati Allah dalam hidup dan lakunya.Mereka rugi karena dibawa oleh
keinginannya sendiri yang membebani hidupnya tanpa mereka sadari. Mereka rugi
karena kehilangan kebaikan,damai,dan sejahtera. Ya,pangkal dari kejahatan
manusia adalah karena kehilangan kebaikan, damai, dan perasaan sejahtera. Mereka
lalu mencari hal-hal itu pada dunia dan bukan pada Allah. Mereka mencari semua
itu dengan terfokus pada harta dan hasil dunia semata hingga meskipun
mendapatkan, mereka cenderung tidak pernah dipuaskan. Pencarian dunia
menghasilkan usaha yang fana dan saling merugikan adanya. Tapi syukur bagi kita
yang tinggal dalam Kristus mulai belajar dan menikmati apa itu kebaikan Allah
dalam segenap hidup kita.
Alkitab berkata bahwa
semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, namun di dalam
Kristus kita dibenarkan dan diselamatkan,(roma:23-24). Kita semua telah
kehilangan kemuliaan Allah,hingga kita mencari kemuliaan dengan cara kita
sendiri agar kita bahagia. Kita semua berusaha mencarinya pada dunia ini dan
yang kita temukan adalah harta dunia yang fana yaitu barang yang mudah rusak
dan hilang, jabatan yang hanya dihargai saat kita pegang, dan kesenangan yang
hanya bergantung dari suasana yang kita alami dari luar. Kemuliaan Allah adalah
kebaikanNya. Kebaikan Allah adalah bagian juga dari KemulianNya. Kebaikan, damai,
sejahtera, sukacita, semua itu adalah gambaran nyata kemuliaan Allah, semua itu
adalah realita pribadi Allah. Semua itu ada dan hadir secara nyata dalam wujud pribadi Kristus. Kristus
adalah kebaikan Allah bagi kita. Kebaikan dan Kemulian yang telah lama dan
penuh lelah dicari manusia dalam dunia namun tidak pernah didapati. Kini
Kebaikan Allah itu sudah datang dan menjadi bagian hidup kita. Lewat Dia kita
masuk pada kebaikan Allah yang akan terus mengajar dan membawa kita menikmati
apa itu kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang bukan sebagai beban, sebagai
usaha pamrih, sebagai balas jasa, sebagai jalan siasat, ataupun sebagai
keharusan hidup tapi kebaikan yang menjadi hidup di dalam kita, yang akan kita
nikmati dan muncul tanpa beban lewat berbagai motivasi. Kebaikan Allah beda
jauh dari kebaikan dunia, sebab dunia pun memiliki kebaikannya sendiri di luar
Allah. Kita memiliki pengetahuan sendiri tentang kebaikan dan kejahatan, dan
itu bersumber dari buah pengetahuan baik dan jahat yang membuat kita berdosa. Kebaikan
dan kejahatan kita itu intinya dari dosa, atau berinti dari pengetahuan di luar
Allah. Oleh Kristus kita mulai menanggalkan kebaikan dan kejahatan kita kepada
Dia dan menerima serta menikmati kebaikanNya sebagai hidup kita. Di dalam
kebaikannya maka apapun usaha kita, keinginan kita, dan pencarian kita akan
semakin dimurnikan dalam pembenaranNya, agar kita tidak lagi mencari sebatas
materi duniawi tapi menemukan, menikmati, dan mensyukuri Allah dalam semua itu.
Kebaikan Allah akan menyadarkan kita dari dosa dan kejahatan secara alami dan
bukan dengan tuntutan paksaan hukum. Kita hanya perlu terbuka dalam segala hal
menyerahkan di dalam Kristus apapun kondisi dan keinginan kita,apapun
usaha kita.
Pada masa revolusi
industri di inggris dan eropa (1700-1900), banyak bermunculan penemuan-penemuan
baru di bidang tehnologi pertanian, industri, dan meluas hingga alat-alat
perang. Sebagai akibat perluasan wilayah industri, kebutuhan bahan baku dan
pekerja maka revolusi itu secara tidak langsung membawa bangsa eropa pada usaha
invasi dan menguasai daratan lain. Ini adalah awal dari sejarah panjang masa
penjajahan bangsa-bangsa eropa di benua-benua lain. Kebaikan yang dimiliki dan
dicapai dunia tidak sempurna dan berujung pada ketidakpuasan yang bisa saling
memanfaatkan serta merugikan karena lebih berintikan untuk diri sendiri. Tapi
kebaikan Kristus adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar kita tidak
terjajah oleh segenap kebaikan kita yang tidak murni dan membebani serta tidak terjajah
oleh kejahatan kita. Mereka yang berbuat jahat pun tanpa sadar sebenarnya
sedang menjahati dirinya sendiri, dan sedang menunjukkan bahwa dirinya sedang
teraniaya oleh kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang dijajah oleh kejahatan
dosa.hanya Kebaikan Kristus yang sanggup menyadarkan betapa malangnya hidup
mereka yang secara lahiriah mungkin tampak senang.
Jika itu kebaikan
dunia atau kita sendiri maka kebaikan itu bisa kalah dan memang kalah oleh
kejahatan dunia. Tapi jika kebaikan kita diserahkan dalam Kristus agar dalam
kebaikan kita, kita menikmati dan menyatakan Dia maka kebaikan itu adalah
kebaikan yang mengalahkan kejahatan dunia. Sebab kejahatan dunia tidak akan
sanggup lagi merugikan kita secara rohani meskipun secara lahiriah mungkin kita
rugi. Tapi kemenangan sesungguhnya di hadapan Allah adalah kita tidak rugi
kehilangan motivasi, damai, semangat hidup, kebenaran, dan sukacita walau
hadapi segenap teror kejahatan dunia. Itulah kemenangan yang
sesungguhnya,kebaikan yang menjadi kebahagiaan kita, kebaikan yang menjadi
kekuatan kita, kebaikan yang menjadi kemuliaan kita. Kebaikan itu adalah
kebaikan yang bukan nanti terima upah saat di surga atau saat sudah dapat
berkat materi tapi kebaikan yang sudah menikmati upahnya saat menyatakan kebaikan
itu sendiri. Itulah kebaikan Allah oleh Kristus yang menjadi bagian kita. Kebaikan
itu membedakan kita dari kebaikan mereka yang di luar Kristus.Kebaikan dunia
ini cemar, karena kejahatan pun bisa terselubung lewat perilaku baik secara
lahiriah. Kebaikan dunia ini menipu, Kebaikan Allah adalah terang-terangan. Lihat
Kristus, Dia sepenuhnya menunjukkan apa dan bagaimana itu kebaikan sejati. Ketika
Dia membongkar pedagang di bait Allah, tegas terhadap kaum farisi, itu adalah
wujud kebaikan. TindakanNya didasari kebaikan yang murni. Dia memberi kebaikan
untuk kebaikan kita tapi motivasi dunia adalah memberi kebaikan belum tentu
untuk kebaikan bagi yang diberi.
Dalam segala realita
keterbatasan kita, mari kita terus belajar dan masuk dalam kebaikan Allah yang
sudah kita terima oleh Kristus. Apapun tindakan kita maka kita akan menikmati
niat yang murni yang makin menyadarkan dan membebaskan serta menguntungkan
kita. Respon kita terhadap kejahatan dunia pun intinya akan terus dimurnikan
Allah. Jika kita baik, kita akan baik dalam kebaikan Kristus, jika kita merasa
harus tegas dan seolah jahat di hadapan dunia oleh ketegasan itu, maka kita
harus tegas oleh ketegasan Kristus, yaitu tegas dalam kasih, marah dalam kasih,
oleh karena kasih. Kita tidak sendiri untuk belajar dan memaknai hidup ini
bersama Allah,kita punya Roh Kudus di dalam kita, Dia dari Allah, juga wujud
kebaikan Allah bagi kita. Dia pengajar, Penghibur, Penuntun kita dalam segala
Kebaikan. Oleh Dia Kebaikan kita menjadi kemenangan dan bukan kekalahan. Lihatlah
Kristus, bagi mata dunia yang tertutup secara rohani Kristus seolah kalah saat
menderita disalib. Tapi Dia tidak kehilangan kemuliaanNya meski dalam hinaan
dunia yang menghinakanNya. Dia tidak kehilangan kebaikan, damai sejahtera, keteguhan,
dan pengampunanNya saat dirugikan dan dijahati dunia. Itu adalah kemenangan
sesungguhnya, kemenangan sejati, suatu penyataan kemulianNya yang luar biasa
besar. Syukur hal itu dibukakan bagi kita di dalam Dia. Oleh Dia kita menang, KebaikanNya
di dalam kita memberi kita kemenangan hadapi dunia ini,amin
Insomnia, Penyakit Manusia Modern
Bacaan: Ayub 3:20-26
Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat,... - Ayub3:26
Sementara menulis artikel ini, saya ngantuk berat, jadi perlu ditemani secangkir kopi. Rasa kantuk yang menyerang bukan tanpa alasan. Ini terjadi karena kemarin malam saya mengalami insomnia (tidak bisa tidur). Masalahnya sih sebenarnya sederhana, saya terbangun gara-gara AC di kamar tiba-tiba mengeluarkan suara derik yang cukup berisik. Saya pun terjaga dan tak lagi bisa tidur. Segala cara saya coba agar cepat lelap, namun sia-sia saja. Tidak bisa tidur satu malam saja saya begitu tersiksa, itu sebabnya saya tidak bisa bayangkan pengidap insomnia yang tiap malam tidak bisa tidur.
Jutaan orang mengalami insomnia. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat kenyataan bahwa 30 ton aspirin, pil tidur dan obat penenang dikonsumsi manusia di dunia ini setiap harinya! Inilah penyakit manusia modern. Untuk menikmati tidur saja mereka sangat kesulitan dan perlu dibantu obat-obat penenang. Penyebab insomnia ini bermacam-macam. Namun semuanya bersumber pada pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan hati yang diliputi rasa aman, damai, dan tenang tidak akan mengalami kesulitan untuk tidur. Namun sebaliknya, jika kita terus menerus dihantui kekuatiran, ketakutan dan kegelisahan, maka kita akan sulit untuk tidur.
Bagaimana mungkin bisa tidur nyenyak kalau kita memikirkan fluktuasi nilai uang yang naik turun. Atau memikirkan sejumlah saham kita yang terus merosot. Atau memikirkan bagaimana prospek bisnis kita di masa yang akan datang. Belum lagi memikirkan masalah dan tekanan hidup yang datang silih berganti. Bukankah ini kegelisahan yang masuk akal? Namun apakah benar bahwa semua masalah dan tekanan hidup yang berat harus membuat kita tidak bisa tidur?
Kegelisahan tidak akan pernah bisa dijawab oleh aspirin, obat tenang atau obat tidur dalam dosis tinggi sekalipun. Kalau pun obat-obat ini bisa membantu, tentu sifatnya sementara saja. Lagipula, apakah kita mau kalau setiap hari harus menenggak beberapa butir obat tidur dulu sebelum akhirnya bisa memejamkan mata? Jiwa yang tenanglah jawabannya. Ini bisa kita dapatkan kalau kita berani menyerahkan semua kegelisahan, kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Allah yang adalah sumber damai sejahtera akan melimpahkan karuniaNya kepada kita. Termasuk karunia untuk tidur dalam rasa aman!
Seandainya Anda mengidap insomnia, saya tantang Anda untuk menghentikan obat-obat tidur itu,
sebaliknya membiarkan Tuhan yang memberi rasa tenang dan damai atas kegelisahan Anda.
Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat,... - Ayub3:26
Sementara menulis artikel ini, saya ngantuk berat, jadi perlu ditemani secangkir kopi. Rasa kantuk yang menyerang bukan tanpa alasan. Ini terjadi karena kemarin malam saya mengalami insomnia (tidak bisa tidur). Masalahnya sih sebenarnya sederhana, saya terbangun gara-gara AC di kamar tiba-tiba mengeluarkan suara derik yang cukup berisik. Saya pun terjaga dan tak lagi bisa tidur. Segala cara saya coba agar cepat lelap, namun sia-sia saja. Tidak bisa tidur satu malam saja saya begitu tersiksa, itu sebabnya saya tidak bisa bayangkan pengidap insomnia yang tiap malam tidak bisa tidur.
Jutaan orang mengalami insomnia. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat kenyataan bahwa 30 ton aspirin, pil tidur dan obat penenang dikonsumsi manusia di dunia ini setiap harinya! Inilah penyakit manusia modern. Untuk menikmati tidur saja mereka sangat kesulitan dan perlu dibantu obat-obat penenang. Penyebab insomnia ini bermacam-macam. Namun semuanya bersumber pada pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan hati yang diliputi rasa aman, damai, dan tenang tidak akan mengalami kesulitan untuk tidur. Namun sebaliknya, jika kita terus menerus dihantui kekuatiran, ketakutan dan kegelisahan, maka kita akan sulit untuk tidur.
Bagaimana mungkin bisa tidur nyenyak kalau kita memikirkan fluktuasi nilai uang yang naik turun. Atau memikirkan sejumlah saham kita yang terus merosot. Atau memikirkan bagaimana prospek bisnis kita di masa yang akan datang. Belum lagi memikirkan masalah dan tekanan hidup yang datang silih berganti. Bukankah ini kegelisahan yang masuk akal? Namun apakah benar bahwa semua masalah dan tekanan hidup yang berat harus membuat kita tidak bisa tidur?
Kegelisahan tidak akan pernah bisa dijawab oleh aspirin, obat tenang atau obat tidur dalam dosis tinggi sekalipun. Kalau pun obat-obat ini bisa membantu, tentu sifatnya sementara saja. Lagipula, apakah kita mau kalau setiap hari harus menenggak beberapa butir obat tidur dulu sebelum akhirnya bisa memejamkan mata? Jiwa yang tenanglah jawabannya. Ini bisa kita dapatkan kalau kita berani menyerahkan semua kegelisahan, kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Allah yang adalah sumber damai sejahtera akan melimpahkan karuniaNya kepada kita. Termasuk karunia untuk tidur dalam rasa aman!
Seandainya Anda mengidap insomnia, saya tantang Anda untuk menghentikan obat-obat tidur itu,
sebaliknya membiarkan Tuhan yang memberi rasa tenang dan damai atas kegelisahan Anda.
Menggendong Sahabat Selama 8 Tahun
Ayat penuntun: Yesaya 46 : 4
Anda pasti sering mendengar berita mengenai kenakalan remaja,
mulai dari tawuran, memakai narkoba, ikut gank motor, pergaulan bebas dan
sebagainya yang membuat miris. Namun, tidak semua remaja memiliki kelakuan yang
tidak baik atau hanya bisa menghamburkan uang orang tua. Dari banyaknya remaja
di dunia, salah satu yang berhati emas adalah Di Hebei, Cina, seorang remaja
bernama Lui Shi Ching.
Dilansir oleh ibtimes.com, Lui Shi Ching adalah remaja berhati emas. Usianya
baru 16 tahun ketika banyak media memberitakan dirinya. Lui Shi Ching berasal
dari Hebei, China. Yang membuat pemuda ini terkenal adalah ketulusan hati
menggendong sahabatnya, Lu Shao. Lu Shao memiliki kelainan bawaan yang
membuatnya sulit berjalan, karena itu, dia harus digendong.
Tidak pernah memamerkan kebaikan hatinya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao
terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal
itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh
Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan
kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.
Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu
menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang
dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah
dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan
kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra
mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.
Bantuannya bagai sinar matahari yang menyingkirkan awan gelap
Dalam sebuah wawancara, Lui Shi
Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar.
Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga
berat badannya tidak menjadi beban. “Saya sangat senang bisa membantunya, tidak
terasa sudah delapan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Lu Shao menuliskan
dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan
awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan
seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya.
Itulah sekilas kisah persahabatan
yang mengharukan. Semoga semakin banyak Lui Shi Ching lain, agar manusia
belajar bahwa kebaikan hati. tidak hanya berupa uang dan materi. Banyak orang
berani menyisihkan harta untuk orang lain, namun berapa banyak yang mau
menggendong orang lain yang sedang kesusahan?
Semoga
kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk Anda.
Anda pasti sering mendengar berita mengenai kenakalan remaja,
mulai dari tawuran, memakai narkoba, ikut gank motor, pergaulan bebas dan
sebagainya yang membuat miris. Namun, tidak semua remaja memiliki kelakuan yang
tidak baik atau hanya bisa menghamburkan uang orang tua. Dari banyaknya remaja
di dunia, salah satu yang berhati emas adalah Di Hebei, Cina, seorang remaja
bernama Lui Shi Ching.
Dilansir oleh ibtimes.com, Lui Shi Ching adalah remaja berhati emas. Usianya baru 16 tahun ketika banyak media memberitakan dirinya. Lui Shi Ching berasal dari Hebei, China. Yang membuat pemuda ini terkenal adalah ketulusan hati menggendong sahabatnya, Lu Shao. Lu Shao memiliki kelainan bawaan yang membuatnya sulit berjalan, karena itu, dia harus digendong.
Tidak pernah memamerkan kebaikan hatinya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao
terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal
itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh
Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan
kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.
Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu
menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang
dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah
dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan
kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra
mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.
Bantuannya bagai sinar matahari yang menyingkirkan awan gelap
Dalam sebuah wawancara, Lui Shi
Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar.
Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga
berat badannya tidak menjadi beban. “Saya sangat senang bisa membantunya, tidak
terasa sudah delapan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Lu Shao menuliskan
dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan
awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan
seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya.
Itulah sekilas kisah persahabatan
yang mengharukan. Semoga semakin banyak Lui Shi Ching lain, agar manusia
belajar bahwa kebaikan hati. tidak hanya berupa uang dan materi. Banyak orang
berani menyisihkan harta untuk orang lain, namun berapa banyak yang mau
menggendong orang lain yang sedang kesusahan?
Semoga
kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk Anda.
Kisah di atas
mengingatkan saya akan satu lagi sifat dari kepribadian Allah yang Agung.
Sesungguhnya jika kita mendalami hingga kedalaman batin maka tiada satu pun
manusia yang sanggup benar-benar bisa menanggung beban hidup sesamanya.
Menggendong secara lahiriah tentu ada yang bisa sebagaimana kisah di atas dan
kebaikan hati dari Lui Shi Cing pautu dipuji. Ada satu Pribadi yang benar-benar
seutuhnya sanggup menanggung seluruh hidup kita dan beban kita. Dialah Yesus
yang selalu setia menggendong kita. Sebab tanggunganNyabagi kita adalah
keseluruhan diri kita dan hidup kita. Dia menanggung apa yang tidak bisa
ditanggung oleh siapapun, yaitu dosa dan segala beban kita. Agar di dalam Dia
kita dibebaskan dan berkemenangan. Agar
di dalam Dia pula barulah kita bisa saling senasib dan sepenanggunagn dengan
sesama dengan benar…yaitu dalam Yesus dan oleh kuat kuasaNya dan kepedulianNya.
Proyek Terakhir Seorang Arsitek
Setelah bertahun-tahun mengabdi pada
perusahaan tersebut, si arsitek karena sudah berusia cukup tua berencana untuk
pensiun. Namun karena dedikasi si arsitek tersebut kepada perusahaan amatlah
tinggi dan posisinya sangat penting di perusahaan tersebut, si manajer
perusahaan tidak mengizinkannya untuk pensiun.
Si Arsitek bersikeras untuk tetap pensiun.
Karena ia merasa sudah saatnya untuk pensiun. mengingat usianya yang sudah
lanjut, dan ingin segera manghabisi sisa hidupnya.
Akhirnya setelah berkali-kali membujuk si
manajer, Si arsitek pun mendapatkan izin untuk pensiun, dengan syarat ia harus
mengerjakan proyek istimewa yang diberikan oleh manajer.
Proyek istimewa tersebut adalah ia harus
merancang sebuah bangunan rumah di atas tanah seluas 500m2 dengan dana yang
akan disediakan oleh perusahaan. Jangka waktu yang ditentukan adalah empat
bulan lamanya. “Baiklah saya akan mengerjakan proyek
tersebut. Bahkan saya akan mengerjakannya hanya dalam waktu 2 bulan saja.” Ucap
si arsitek tersebut.
Akhirnya si arsitek tersebut pun mulai
mengerjakan proyek tersebut.
Ia membuat bangunannya hanya seluas seratus
meter. Sisanya hanya ia biarkan saja menjadi halaman kosong.
“Untuk meminimal dana!” Pikirnya.
Bahan material bangunan tersebut ia gunakan
yang kualitas tiganya. Karena ia pikir proyek ini haruslah dibuat seminimal
mungkin biayanya. Agar perusahaan tidak banyak keluar dana. Perancangan
keseluruhannya pun bisa terbilang biasa saja. Hanya dikerjakan “sejadinya’.
“Toh, ini hanya proyek biasa saja. Bukan
proyek istimewa seperti yang dikatakan. Hanya membangun rumah sederhana saja.”
pikirnya.
Akhirnya dua bulan kemudian, rumah tersebut
pun jadi. dari luar bangunan rumah tersebut memang terlihat sangat istimewa.
Namun bahan-bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan kualitas rendah.
Bukan kualitas yang bagus.
Ia pun melapor kepada menajer perusahaannya
bahwa ia telah memyelesaikan pekerjaan yang disebut “Proyek Istimewa” tersebut.
Dan ia memohon diri untuk segera pensiun dan berhenti bekera.
“Baiklah kamu boleh pensiun. Dan hari ini
kita akan mengadaan acara pelepasan kamu bersama seluruh staf dan karyawan di
perusahaan ini.” Ucap si manajer.
Akhirnya berkumpulah seluruh staf dan
karyawan perusahaan tersebut di sebuah ruangan untuk mengadakan pelepasan si
arsitek yang ingin pensiun itu.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini arsitek
senior kita ini akan pensiun. Sebagai penghormatan perusahan atas jasa dan
dedikasinya, maka kami memberikan hadiah sebuah rumah yang baru saja ia
dirikan.”
Seluruh hadirin pun bertepuk tangan. Namun
si arsitek terbengong-bengong mendengar pernyataan manajernya itu.
“Kalau saja saya lebih lama mengerjakan
proyek pembangunan rumah tersebut…..
Kalau saja saya membuat rumah tersebut
lebih bagus lagi….
Kalau saja bahan bagunan yang saya gunakan
adalah bahan-bahan kualitas terbaik….
Kalau saja saya mendirikan bangunan
rumahnya lebih besar lagi….
Kalau saja saya …..
Kalau saja ……
Kalau saja…..” Begitulah kehidupan di dunia ini.
Hakikatnya apapun yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang kita
berikan akan kembali ke diri kita sendiri. Semuanya akan bermanfaat dan berikan
manfaat kepada diri kita sendiri kelak, begitu pula dengan keburukan yang kita
kerjakan . Apa yang kita tabur, pasti akan kita tuai.
Sebuah kisah yang memberi Hikmah, karena itu saudaraku
marilah kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Kristus. Sebab segala
sesuatu jika ada di dalam Kristus maka itu Berkat adanya dan tidak sia-sia
serta penyesalan. Mereka yang hanya berusaha sebatas dunia akan
mengalami sperti arsitek yang dalam kisah itu namun kita yang sudah ada di
dalam Kristus
semua yang kita kerjakan tidak sia-sia. Dia Allah Alfa dan Omega, kita
mengawali di dalam Dia dan mengakhiri di dalam Dia pula. Awal dan Akhir
sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh di dalam Kristus. Mari kita dalami
dan makin temukan keutuhan Pribadi Allah dalam Kristus yang membebaskan kita
dari segala hukum dunia dan beban dunia. Jika Kristus harta kita, jika Kristus
usaha kita dalam segala hal apapun yang kita usahakan maka Kristuslah yang akan
kita terima sejak saat ini hingga kekal. Daud pernah berkata bahwa Allah
bagiannya di Surga dan dalam hidup ini, demikian pula kita semua, (Mazmur 73 :
26).
PROFESOR DAN MAHASISWA
“Apakah semua yang ada adalah
ciptaan Tuhan?”
Seorang mahasiswa yang duduk paling
belakang spontan menjawab: “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya.
Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.”
“Itu benar, keterangan tentang itu
banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.
Sang Profesor hanya
mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun
tiba-tiba beliau bertanya lagi, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan,
tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya di surat-surat kabar kriminal.
Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka
Tuhanlah yang menciptakan kejahatan.
Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti
Tuhan juga menciptakan kejahatan.”
Kedua mahasiswa yang tadi menjawab
kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang.
Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya
berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri
hanya ada dalam bayangan kalian, bukan di atas langit sana.”
Seorang mahasiswa tiba-tiba
mengacungkan tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor
dengan senang.
Mahasiswa itu kemudian berdiri,
“Profesor, apakah dingin itu ada?” ujarnya.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu
saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?”
sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya.
“Kenyataannya Pak” jawab mahasiswa
tersebut, “Dingin itu tidak ada.Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin
adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan
semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita
menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Kelas hening. Sesaat kemudian
mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja
gelap itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi
anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada
cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma
Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai
panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa
gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Kelas makin hening. Sang Profesor
diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah
kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang, profesor itu
menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat
setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara
manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Namun mahasiswa itu lagi-lagi
membantahnya. “Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap,
kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan
kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil
dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari
ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.” Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu
kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara
profesor memecahnya. “Siapa namamu, Nak?”
“Albert, Sir. Albert Einstein.”
Ketidakhadiran Tuhan dalam
hidup kita adalah penyebab dari munculnya kejahatan.
Yohanes 15:4,
“Tinggallah
di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah
dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga
kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Subscribe to:
Posts (Atom)
DONASI DAN SPONSORSHIP
Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370
-
Agama Kristen lahir di suatu tempat dan pada suatu waktu di mana berbagai kebudayaan dan kepercayaan bertemu. Akarnya ada dalam agama ...
-
67 sm – Ribuan perompak menguasai laut tengah, akibatnya pelayaran amat terganggu dan...
Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.
Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...










