Tuesday, November 28, 2017

HIKMAH PERISTIWA



Mengenang banjir bandang di Manado
pada Januari 2014 lalu
Ayat penuntun: Mazmur 142 : 6

     Pada 15 January 2014 lalu kita tahu bersama ibukota Manado dilanda banjir bandang yang merupakan bencana banjir terbesar sepanjang sejarahnya. Banjir itu menghanyutkan kurang lebih 800 rumah dan merendam lebih dari 3000 pemukiman penduduk. Ada 15 korban meninggal beserta mereka yang meninggal akibat longsor di Tinoor, Tomohon.
     Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tentu menghikmati bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua, inilah bukan sebatas bicara tentang hal-hal lahiriah materi semata tetapi tentang kebenaran-kebenaran Allah  bagi kita. Musibah yang sesungguhnya adalah jika manusia sudah tanpa Allah dan terpisah seutuhnya dari Allah. Jika kita sudah ada di dalam Yesus maka tidak ada lagi musibah, yang ada adalah realita dunia dan realita hidup yang sifatnya fana, akan berlalu begitu saja, baik bencana dukacita maupun sukacitanya. Tetapi Yesus yang ada bagi kita itu tidak akan berlalu, Dialah yang membuat semua menjadi berarti dan berhikmah. Jika kita memiliki Kristus maka apapun keadaan susah yang kita alami itu tidak akan membuat kita larut dalam duka kefanaan dunia serta apapun keadaan senang yang kita alami itu tidak akan membawa kita larut dalam pesta kemabukan dunia. Kita menikmati dan menyikapi semua itu di dalam Kristus. Inilah berkat yang sesungguhnya yang tidak bisa diukur dengan harta materi apapun, yaitu Kristus di dalam kita. Dialah yang membuat kita tidak akan rugi oleh realita apapun melainkan kitalah yang akan mengendalikan dan menikmati  segala sesuatu menjaid berkat hidup oleh kuasaNya. Maju dan tetap semangat. Kita selalu saling menguatkan dan membantu di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.


KEBAIKAN YANG MEMENANGKAN

Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.
Roma 12:21

     Bagi sebagian besar orang ketika melakukan kebaikan di saat mengalami kejahatan terasa amat merugikan dan bahkan memalukan. Kehidupan seolah menuntut kita untuk membalas sesuai dengan apa yang kita terima. Ada banyak orang berpegangan bahwa jika dia bisa bersenang dan bahagia di atas kerugian orang lain maka itu adalah ciri keberhasilannya. Ada juga yang senang dan nanti merasa berhasil jika dia sudah menikmati hasil dengan memanfaatkan orang lain. Mereka yang merasa dirugikan tentu tidak senang dan ingin membalas. Padahal secara Rohani maka baik yang merugikan maupun yang membalas keduanya sama-sama rugi. Mereka rugi karena tidak menikmati Allah dalam hidup dan lakunya.Mereka rugi karena dibawa oleh keinginannya sendiri yang membebani hidupnya tanpa mereka sadari. Mereka rugi karena kehilangan kebaikan,damai,dan sejahtera. Ya,pangkal dari kejahatan manusia adalah karena kehilangan kebaikan, damai, dan perasaan sejahtera. Mereka lalu mencari hal-hal itu pada dunia dan bukan pada Allah. Mereka mencari semua itu dengan terfokus pada harta dan hasil dunia semata hingga meskipun mendapatkan, mereka cenderung tidak pernah dipuaskan. Pencarian dunia menghasilkan usaha yang fana dan saling merugikan adanya. Tapi syukur bagi kita yang tinggal dalam Kristus mulai belajar dan menikmati apa itu kebaikan Allah dalam segenap hidup kita.
     Alkitab berkata bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, namun di dalam Kristus kita dibenarkan dan diselamatkan,(roma:23-24). Kita semua telah kehilangan kemuliaan Allah,hingga kita mencari kemuliaan dengan cara kita sendiri agar kita bahagia. Kita semua berusaha mencarinya pada dunia ini dan yang kita temukan adalah harta dunia yang fana yaitu barang yang mudah rusak dan hilang, jabatan yang hanya dihargai saat kita pegang, dan kesenangan yang hanya bergantung dari suasana yang kita alami dari luar. Kemuliaan Allah adalah kebaikanNya. Kebaikan Allah adalah bagian juga dari KemulianNya. Kebaikan, damai, sejahtera, sukacita, semua itu adalah gambaran nyata kemuliaan Allah, semua itu adalah realita pribadi Allah. Semua itu ada dan hadir  secara nyata dalam wujud pribadi Kristus. Kristus adalah kebaikan Allah bagi kita. Kebaikan dan Kemulian yang telah lama dan penuh lelah dicari manusia dalam dunia namun tidak pernah didapati. Kini Kebaikan Allah itu sudah datang dan menjadi bagian hidup kita. Lewat Dia kita masuk pada kebaikan Allah yang akan terus mengajar dan membawa kita menikmati apa itu kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang bukan sebagai beban, sebagai usaha pamrih, sebagai balas jasa, sebagai jalan siasat, ataupun sebagai keharusan hidup tapi kebaikan yang menjadi hidup di dalam kita, yang akan kita nikmati dan muncul tanpa beban lewat berbagai motivasi. Kebaikan Allah beda jauh dari kebaikan dunia, sebab dunia pun memiliki kebaikannya sendiri di luar Allah. Kita memiliki pengetahuan sendiri tentang kebaikan dan kejahatan, dan itu bersumber dari buah pengetahuan baik dan jahat yang membuat kita berdosa. Kebaikan dan kejahatan kita itu intinya dari dosa, atau berinti dari pengetahuan di luar Allah. Oleh Kristus kita mulai menanggalkan kebaikan dan kejahatan kita kepada Dia dan menerima serta menikmati kebaikanNya sebagai hidup kita. Di dalam kebaikannya maka apapun usaha kita, keinginan kita, dan pencarian kita akan semakin dimurnikan dalam pembenaranNya, agar kita tidak lagi mencari sebatas materi duniawi tapi menemukan, menikmati, dan mensyukuri Allah dalam semua itu. Kebaikan Allah akan menyadarkan kita dari dosa dan kejahatan secara alami dan bukan dengan tuntutan paksaan hukum. Kita hanya perlu terbuka dalam segala hal menyerahkan di dalam Kristus apapun kondisi dan keinginan kita,apapun usaha kita.
     Pada masa revolusi industri di inggris dan eropa (1700-1900), banyak bermunculan penemuan-penemuan baru di bidang tehnologi pertanian, industri, dan meluas hingga alat-alat perang. Sebagai akibat perluasan wilayah industri, kebutuhan bahan baku dan pekerja maka revolusi itu secara tidak langsung membawa bangsa eropa pada usaha invasi dan menguasai daratan lain. Ini adalah awal dari sejarah panjang masa penjajahan bangsa-bangsa eropa di benua-benua lain. Kebaikan yang dimiliki dan dicapai dunia tidak sempurna dan berujung pada ketidakpuasan yang bisa saling memanfaatkan serta merugikan karena lebih berintikan untuk diri sendiri. Tapi kebaikan Kristus adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar kita tidak terjajah oleh segenap kebaikan kita yang tidak murni dan membebani serta tidak terjajah oleh kejahatan kita. Mereka yang berbuat jahat pun tanpa sadar sebenarnya sedang menjahati dirinya sendiri, dan sedang menunjukkan bahwa dirinya sedang teraniaya oleh kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang dijajah oleh kejahatan dosa.hanya Kebaikan Kristus yang sanggup menyadarkan betapa malangnya hidup mereka yang secara lahiriah mungkin tampak senang.
     Jika itu kebaikan dunia atau kita sendiri maka kebaikan itu bisa kalah dan memang kalah oleh kejahatan dunia. Tapi jika kebaikan kita diserahkan dalam Kristus agar dalam kebaikan kita, kita menikmati dan menyatakan Dia maka kebaikan itu adalah kebaikan yang mengalahkan kejahatan dunia. Sebab kejahatan dunia tidak akan sanggup lagi merugikan kita secara rohani meskipun secara lahiriah mungkin kita rugi. Tapi kemenangan sesungguhnya di hadapan Allah adalah kita tidak rugi kehilangan motivasi, damai, semangat hidup, kebenaran, dan sukacita walau hadapi segenap teror kejahatan dunia. Itulah kemenangan yang sesungguhnya,kebaikan yang menjadi kebahagiaan kita, kebaikan yang menjadi kekuatan kita, kebaikan yang menjadi kemuliaan kita. Kebaikan itu adalah kebaikan yang bukan nanti terima upah saat di surga atau saat sudah dapat berkat materi tapi kebaikan yang sudah menikmati upahnya saat menyatakan kebaikan itu sendiri. Itulah kebaikan Allah oleh Kristus yang menjadi bagian kita. Kebaikan itu membedakan kita dari kebaikan mereka yang di luar Kristus.Kebaikan dunia ini cemar, karena kejahatan pun bisa terselubung lewat perilaku baik secara lahiriah. Kebaikan dunia ini menipu, Kebaikan Allah adalah terang-terangan. Lihat Kristus, Dia sepenuhnya menunjukkan apa dan bagaimana itu kebaikan sejati. Ketika Dia membongkar pedagang di bait Allah, tegas terhadap kaum farisi, itu adalah wujud kebaikan. TindakanNya didasari kebaikan yang murni. Dia memberi kebaikan untuk kebaikan kita tapi motivasi dunia adalah memberi kebaikan belum tentu untuk kebaikan bagi yang diberi.
     Dalam segala realita keterbatasan kita, mari kita terus belajar dan masuk dalam kebaikan Allah yang sudah kita terima oleh Kristus. Apapun tindakan kita maka kita akan menikmati niat yang murni yang makin menyadarkan dan membebaskan serta menguntungkan kita. Respon kita terhadap kejahatan dunia pun intinya akan terus dimurnikan Allah. Jika kita baik, kita akan baik dalam kebaikan Kristus, jika kita merasa harus tegas dan seolah jahat di hadapan dunia oleh ketegasan itu, maka kita harus tegas oleh ketegasan Kristus, yaitu tegas dalam kasih, marah dalam kasih, oleh karena kasih. Kita tidak sendiri untuk belajar dan memaknai hidup ini bersama Allah,kita punya Roh Kudus di dalam kita, Dia dari Allah, juga wujud kebaikan Allah bagi kita. Dia pengajar, Penghibur, Penuntun kita dalam segala Kebaikan. Oleh Dia Kebaikan kita menjadi kemenangan dan bukan kekalahan. Lihatlah Kristus, bagi mata dunia yang tertutup secara rohani Kristus seolah kalah saat menderita disalib. Tapi Dia tidak kehilangan kemuliaanNya meski dalam hinaan dunia yang menghinakanNya. Dia tidak kehilangan kebaikan, damai sejahtera, keteguhan, dan pengampunanNya saat dirugikan dan dijahati dunia. Itu adalah kemenangan sesungguhnya, kemenangan sejati, suatu penyataan kemulianNya yang luar biasa besar. Syukur hal itu dibukakan bagi kita di dalam Dia. Oleh Dia kita menang, KebaikanNya di dalam kita memberi kita kemenangan hadapi dunia ini,amin

Insomnia, Penyakit Manusia Modern


Bacaan: Ayub 3:20-26

Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman, aku tidak mendapat istirahat,... - Ayub3:26

Sementara menulis artikel ini, saya ngantuk berat, jadi perlu ditemani secangkir kopi. Rasa kantuk yang menyerang bukan tanpa alasan. Ini terjadi karena kemarin malam saya mengalami insomnia (tidak bisa tidur). Masalahnya sih sebenarnya sederhana, saya terbangun gara-gara AC di kamar tiba-tiba mengeluarkan suara derik yang cukup berisik. Saya pun terjaga dan tak lagi bisa tidur. Segala cara saya coba agar cepat lelap, namun sia-sia saja. Tidak bisa tidur satu malam saja saya begitu tersiksa, itu sebabnya saya tidak bisa bayangkan pengidap insomnia yang tiap malam tidak bisa tidur. 
Jutaan orang mengalami insomnia. Lebih terkejut lagi ketika saya melihat kenyataan bahwa 30 ton aspirin, pil tidur dan obat penenang dikonsumsi manusia di dunia ini setiap harinya! Inilah penyakit manusia modern. Untuk menikmati tidur saja mereka sangat kesulitan dan perlu dibantu obat-obat penenang. Penyebab insomnia ini bermacam-macam. Namun semuanya bersumber pada pikiran dan jiwa kita. Pikiran dan hati yang diliputi rasa aman, damai, dan tenang tidak akan mengalami kesulitan untuk tidur. Namun sebaliknya, jika kita terus menerus dihantui kekuatiran, ketakutan dan kegelisahan, maka kita akan sulit untuk tidur. 
Bagaimana mungkin bisa tidur nyenyak kalau kita memikirkan fluktuasi nilai uang yang naik turun. Atau memikirkan sejumlah saham kita yang terus merosot. Atau memikirkan bagaimana prospek bisnis kita di masa yang akan datang. Belum lagi memikirkan masalah dan tekanan hidup yang datang silih berganti. Bukankah ini kegelisahan yang masuk akal? Namun apakah benar bahwa semua masalah dan tekanan hidup yang berat harus membuat kita tidak bisa tidur?
Kegelisahan tidak akan pernah bisa dijawab oleh aspirin, obat tenang atau obat tidur dalam dosis tinggi sekalipun. Kalau pun obat-obat ini bisa membantu, tentu sifatnya sementara saja. Lagipula, apakah kita mau kalau setiap hari harus menenggak beberapa butir obat tidur dulu sebelum akhirnya bisa memejamkan mata? Jiwa yang tenanglah jawabannya. Ini bisa kita dapatkan kalau kita berani menyerahkan semua kegelisahan, kekuatiran dan ketakutan kita kepada Tuhan. Allah yang adalah sumber damai sejahtera akan melimpahkan karuniaNya kepada kita. Termasuk karunia untuk tidur dalam rasa aman!
Seandainya Anda mengidap insomnia, saya tantang Anda untuk menghentikan obat-obat tidur itu,
sebaliknya membiarkan Tuhan yang memberi rasa tenang dan damai atas kegelisahan Anda.

Menggendong Sahabat Selama 8 Tahun

Ayat penuntun: Yesaya 46 : 4

Anda pasti sering mendengar berita mengenai kenakalan remaja, mulai dari tawuran, memakai narkoba, ikut gank motor, pergaulan bebas dan sebagainya yang membuat miris. Namun, tidak semua remaja memiliki kelakuan yang tidak baik atau hanya bisa menghamburkan uang orang tua. Dari banyaknya remaja di dunia, salah satu yang berhati emas adalah Di Hebei, Cina, seorang remaja bernama Lui Shi Ching.

Dilansir oleh ibtimes.com, Lui Shi Ching adalah remaja berhati emas. Usianya baru 16 tahun ketika banyak media memberitakan dirinya. Lui Shi Ching berasal dari Hebei, China. Yang membuat pemuda ini terkenal adalah ketulusan hati menggendong sahabatnya, Lu Shao. Lu Shao memiliki kelainan bawaan yang membuatnya sulit berjalan, karena itu, dia harus digendong.
Tidak pernah memamerkan kebaikan hatinya.
Sekitar sepuluh tahun lalu, Lu Shao terjebak hujan ketika pulang sekolah. Ibunya tidak dapat menjemput. Melihat hal itu Lui Shi Ching menawarkan dirinya untuk menggendong Lu Shao. Padahal, tubuh Lui Shi Ching lebih kecil dibanding Lu Shao. Namun hal itu tidak menyurutkan kebaikan hati Lui Shi Ching, dia tetap menggendong temannya pulang.
Sejak saat itu, Lui Shi Ching selalu menggendong Lu Shao. Pemuda berhati emas ini mengantar Lu Shao pergi dan pulang dari sekolah, bahkan saat sahabatnya ingin ke toilet. Semua hal ini sudah dilakukan selama 8 tahun. Yang hebat, Lui Shi Ching tidak pernah menceritakan kebaikan hatinya pada orang lain. Orang tuanya baru tahu kebaikan hati putra mereka setelah Lui Shi Ching menggendong Lu Shao selama 4 tahun.
Bantuannya bagai sinar matahari yang menyingkirkan awan gelap
Dalam sebuah wawancara, Lui Shi Ching ditanya bagaimana dia bisa menggendong teman yang badannya lebih besar. Lui Shi Ching mengatakan bahwa dia bahagia saat membantu Lu Shao, sehingga berat badannya tidak menjadi beban. “Saya sangat senang bisa membantunya, tidak terasa sudah delapan tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Lu Shao menuliskan dalam buku hariannya, bantuan yang diberikan Lui Shi Ching telah menyingkirkan awan gelap yang menyelimuti hidupnya. Kebaikan hati Lui Shi Ching diibaratkan seperti sinar matahari yang menyinari kehidupannya.
Itulah sekilas kisah persahabatan yang mengharukan. Semoga semakin banyak Lui Shi Ching lain, agar manusia belajar bahwa kebaikan hati. tidak hanya berupa uang dan materi. Banyak orang berani menyisihkan harta untuk orang lain, namun berapa banyak yang mau menggendong orang lain yang sedang kesusahan?
Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk Anda.

     Kisah di atas mengingatkan saya akan satu lagi sifat dari kepribadian Allah yang Agung. Sesungguhnya jika kita mendalami hingga kedalaman batin maka tiada satu pun manusia yang sanggup benar-benar bisa menanggung beban hidup sesamanya. Menggendong secara lahiriah tentu ada yang bisa sebagaimana kisah di atas dan kebaikan hati dari Lui Shi Cing pautu dipuji. Ada satu Pribadi yang benar-benar seutuhnya sanggup menanggung seluruh hidup kita dan beban kita. Dialah Yesus yang selalu setia menggendong kita. Sebab tanggunganNyabagi kita adalah keseluruhan diri kita dan hidup kita. Dia menanggung apa yang tidak bisa ditanggung oleh siapapun, yaitu dosa dan segala beban kita. Agar di dalam Dia kita dibebaskan dan berkemenangan.  Agar di dalam Dia pula barulah kita bisa saling senasib dan sepenanggunagn dengan sesama dengan benar…yaitu dalam Yesus dan oleh kuat kuasaNya dan kepedulianNya.

Proyek Terakhir Seorang Arsitek

Ada seorang arsitek yang bekerja di suatu perusahaan .
Setelah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan tersebut, si arsitek karena sudah berusia cukup tua berencana untuk pensiun. Namun karena dedikasi si arsitek tersebut kepada perusahaan amatlah tinggi dan posisinya sangat penting di perusahaan tersebut, si manajer perusahaan tidak mengizinkannya untuk pensiun.
Si Arsitek bersikeras untuk tetap pensiun. Karena ia merasa sudah saatnya untuk pensiun. mengingat usianya yang sudah lanjut, dan ingin segera manghabisi sisa hidupnya.
Akhirnya setelah berkali-kali membujuk si manajer, Si arsitek pun mendapatkan izin untuk pensiun, dengan syarat ia harus mengerjakan proyek istimewa yang diberikan oleh manajer.

Proyek istimewa tersebut adalah ia harus merancang sebuah bangunan rumah di atas tanah seluas 500m2 dengan dana yang akan disediakan oleh perusahaan. Jangka waktu yang ditentukan adalah empat bulan lamanya.“Baiklah saya akan mengerjakan proyek tersebut. Bahkan saya akan mengerjakannya hanya dalam waktu 2 bulan saja.” Ucap si arsitek tersebut.
Akhirnya si arsitek tersebut pun mulai mengerjakan proyek tersebut.
Ia membuat bangunannya hanya seluas seratus meter. Sisanya hanya ia biarkan saja menjadi halaman kosong.
“Untuk meminimal dana!” Pikirnya.
Bahan material bangunan tersebut ia gunakan yang kualitas tiganya. Karena ia pikir proyek ini haruslah dibuat seminimal mungkin biayanya. Agar perusahaan tidak banyak keluar dana. Perancangan keseluruhannya pun bisa terbilang biasa saja. Hanya dikerjakan “sejadinya’.
“Toh, ini hanya proyek biasa saja. Bukan proyek istimewa seperti yang dikatakan. Hanya membangun rumah sederhana saja.” pikirnya.
Akhirnya dua bulan kemudian, rumah tersebut pun jadi. dari luar bangunan rumah tersebut memang terlihat sangat istimewa. Namun bahan-bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan kualitas rendah. Bukan kualitas yang bagus.
Ia pun melapor kepada menajer perusahaannya bahwa ia telah memyelesaikan pekerjaan yang disebut “Proyek Istimewa” tersebut. Dan ia memohon diri untuk segera pensiun dan berhenti bekera.
“Baiklah kamu boleh pensiun. Dan hari ini kita akan mengadaan acara pelepasan kamu bersama seluruh staf dan karyawan di perusahaan ini.” Ucap si manajer.
Akhirnya berkumpulah seluruh staf dan karyawan perusahaan tersebut di sebuah ruangan untuk mengadakan pelepasan si arsitek yang ingin pensiun itu.
“Saudara-saudara sekalian, hari ini arsitek senior kita ini akan pensiun. Sebagai penghormatan perusahan atas jasa dan dedikasinya, maka kami memberikan hadiah sebuah rumah yang baru saja ia dirikan.”
Seluruh hadirin pun bertepuk tangan. Namun si arsitek terbengong-bengong mendengar pernyataan manajernya itu.
“Kalau saja saya lebih lama mengerjakan proyek pembangunan rumah tersebut…..
Kalau saja saya membuat rumah tersebut lebih bagus lagi….
Kalau saja bahan bagunan yang saya gunakan adalah bahan-bahan kualitas terbaik….
Kalau saja saya mendirikan bangunan rumahnya lebih besar lagi….
Kalau saja saya …..
Kalau saja ……
Kalau saja…..”Begitulah kehidupan di dunia ini. Hakikatnya apapun yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang kita berikan akan kembali ke diri kita sendiri. Semuanya akan bermanfaat dan berikan manfaat kepada diri kita sendiri kelak, begitu pula dengan keburukan yang kita kerjakan . Apa yang kita tabur, pasti akan kita tuai.

     Sebuah kisah yang memberi Hikmah, karena itu saudaraku marilah kita mengerjakan segala sesuatu seperti untuk Kristus. Sebab segala sesuatu jika ada di dalam Kristus maka itu Berkat adanya dan tidak sia-sia serta penyesalan.  Mereka yang hanya berusaha sebatas dunia akan mengalami sperti arsitek yang dalam kisah itu namun kita yang sudah ada di dalam Kristus semua yang kita kerjakan tidak sia-sia. Dia Allah Alfa dan Omega, kita mengawali di dalam Dia dan mengakhiri di dalam Dia pula. Awal dan Akhir sesungguhnya adalah satu kesatuan yang utuh di dalam Kristus. Mari kita dalami dan makin temukan keutuhan Pribadi Allah dalam Kristus yang membebaskan kita dari segala hukum dunia dan beban dunia. Jika Kristus harta kita, jika Kristus usaha kita dalam segala hal apapun yang kita usahakan maka Kristuslah yang akan kita terima sejak saat ini hingga kekal. Daud pernah berkata bahwa Allah bagiannya di Surga dan dalam hidup ini, demikian pula kita semua, (Mazmur 73 : 26).

PROFESOR DAN MAHASISWA


Suatu hari di sebuah kelas tampak seorang profesor dengan para mahasiswanya sedang bertanya jawab. Profesor itu bertanya pada mahasiswanya:
“Apakah semua yang ada adalah ciptaan Tuhan?”
Seorang mahasiswa yang duduk paling belakang spontan menjawab: “Ya, Profesor, Tuhan memang menciptakan semuanya. Saya rasa kita semua tidak meragukan hal itu.”
“Itu benar, keterangan tentang itu banyak terdapat di kitab-kitab suci,” sahut mahasiswa lainnya.
Sang Profesor hanya mengangguk. Sesaat beliau tampak setuju dengan jawaban mahasiswanya. Namun tiba-tiba beliau bertanya lagi, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan. Sebab kejahatan itu bukan sekedar khayalan, tapi benar-benar real. Kalian bisa melihatnya di surat-surat kabar kriminal. Nah, jika kejahatan itu ada dan setiap yang ada pasti ada penciptanya, maka Tuhanlah yang menciptakan kejahatan. Kalian yang bilang sendiri tadi bahwa Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan kejahatan.”
Kedua mahasiswa yang tadi menjawab kali ini cuma bengong. Beberapa mahasiswa lain juga kelihatan tercengang. Melihat mahasiswanya “kalah”, profesor itu kemudian tersenyum. Kedua matanya berbinar senang. “Nah, kini jelaslah bahwa agama hanyalah mitos. Bahkan mungkin Tuhan sendiri hanya ada dalam bayangan kalian, bukan di atas langit sana.”
Seorang mahasiswa tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor dengan senang.
Mahasiswa itu kemudian berdiri, “Profesor, apakah dingin itu ada?” ujarnya.
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apa selama ini kamu tinggal di gurun pasir?” sahut Profesor yang kemudian diiringi tawa mahasiswa lainnya.
“Kenyataannya Pak” jawab mahasiswa tersebut, “Dingin itu tidak ada.Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”
Kelas hening. Sesaat kemudian mahasiswa itu kembali berkata, “Profesor, apakah gelap itu ada?”
Profesor itu menjawab, “Tentu saja gelap itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”
Kelas makin hening. Sang Profesor diam-diam meringis. Tiba-tiba mahasiswa itu bertanya lagi, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
Dengan bimbang, profesor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah ku katakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”
Namun mahasiswa itu lagi-lagi membantahnya. “Sekali lagi Anda salah, Pak. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan kasih sayang Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”Profesor itu terdiam. Mahasiswa itu kembali duduk. Untuk sesaat ruang kuliah dipenuhi keheningan hingga suara profesor memecahnya. “Siapa namamu, Nak?”
“Albert, Sir. Albert Einstein.”
Ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita adalah penyebab dari munculnya kejahatan.
Yohanes 15:4,
“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.

Kisah Mengharukan Bocah dan Perampok


Ayat penuntun:
Efesus 1: 18 - 21
Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianati dia lari kepelukan lelaki lain, karena emosinya dia melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana, dia dipenjara selama 3 tahun.
Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain, karena statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan menjadi bahan ejekan dan penghinaan.


Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar di bagian selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya, para orang dewasa dirumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang kerumah, didalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.
Dia pergi kerumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk kedalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku.
Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku nanti malam baru sampai ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.
Yang membuat dia sangat terheran-heran adalah anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini.

Setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan didalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.
Paman, apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.
Paman, apa warna keemasan itu?” dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ketempat terik matahari, “Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan.
Anak buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.” Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.
Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay,
Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya.”
Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.
Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini, kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya, duduk disebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan musik indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.
Refleksi:
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.
Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan, sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika
mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.
Cahaya Harapan bagi bagi kita adalah Yesus Kristus. Dialah yang akan sanggup membukakan setiap hati yang telah tertutup kebencian dan kepahitan. Cinta Kasih Allah lebih kuat dari maut, demikian sebuah ayat dalam kitab Mazmur Daud. Ya  benar, Cinta Kasih Allah itu telah datang dalam wujud manusia dan diam di antara kita agar Dia menjadi bagian kita untuk kita bisa saling berbagi dalam hidup ini. Banyak orang telah buta oleh ketamakan dan kerakusan hidup, banyak orang
telah buta oleh kejahatan dan kebencian tetapi kita yang di dalam Yesus dicerahkanNya dalam kasihNya agar kita dapat benar-benar celik dan melihat. Sebab melihat jika tanpa bisa memaknai dengan benar, jika tanpa pandangan yang benar maka itu tidak benar-benar melihat. Kristuslah Penglihatan kita dalam segala hal agar kita bisa berbagi kasih dengan sesama.

Monday, November 27, 2017

KISAH AYAH TIRI


Ayah meninggal karena kanker paru-paru stadium akhir saat saya berusia 6 tahun. Beliau juga meninggalkan ibu dan adik saya yang masih berusia dua tahun. Sejak saat itu kehidupan kami sehari-hari sangat sulit. Setiap hari ibu bekerja membanting tulang di sawah hanya cukup menyelesaikan masalah perut saja.

Saat saya berusia 9 tahun, ibu menikah dengan seorang pria dan menyuruh kami memanggilnya ayah. Pria tersebut adalah ayah tiri saya. Untuk selanjutnya dia yang menopang keluarga kami.

Dalam ingatan masa kecil, ayah tiri saya seorang yang sangat rajin, dia juga sangat menyayangi ibu. Pekerjaan apa saja dalam keluarga yang membutuhkan tenaganya akan dia lakukan, selamanya tidak membiarkan ibu untuk campur tangan.
Sehari-hari ayah tiri adalah orang yang pendiam. Usianya kira-kira empat puluhan lebih, berperawakan tinggi dan kurus, tetapi bersemangat. Dahinya hitam, memiliki sepasang tangan besar yang kasar, di wajahnya yang kecoklatan terdapat sepasang mata kecil yang cekung.

Ayah tiri saya mempunyai suatu kebiasaan, tidak peduli pergi kemana pun, diatas pinggangnya selalu terselip sebatang pipa rokok antik berwarna coklat kehitaman. Setiap ada waktu senggang dia selalu menghisap rokok menggunakan pipa itu. Sejak dulu saya tidak suka dengan perokok, oleh karenanya saya juluki dia dengan sebutan “setan perokok”
.
Dalam ingatan saya, ayah tiri selalu tenang dalam menghadapi segala persoalan, tidak peduli besar kecilnya permasalahan selalu dihadapinya dengan santai. Namun hanya karena sebatang pipa rokok, ayah tiri telah memberikan saya sebuah tamparan yang sangat keras.

Teringat waktu itu ayah tiri baru saja menjadi anggota keluarga kurang lebih setengah tahun, suatu hari saya mencuri pipa rokoknya untuk saya sembunyikan. Hasilnya, ayah tiri selama beberapa hari merasa gelisah dan tak tenang, sepasang matanya merah laksana berdarah. Akhirnya karena saya diinterogasi dengan keras oleh ibu, dengan berat hati saya menyerahkan pipa rokok itu.
Ketika saya menyerahkan pipa itu kehadapan ayah tiri, dia menerimanya dengan tangan gemetaran dan tak lupa dia memberikan saya satu tamparan keras, kedua matanya berlinangan air mata.

Saya sangat ketakutan dan menangis, ibu menghampiri dan memeluk kepala saya lalu berkata, “Lain kali jangan pernah menyentuh pipa rokok itu, mengertikah kamu? Pipa itu adalah nyawanya!”

Setelah kejadian itu, pipa rokok itu menjadi penuh misteri bagiku. Saya berpikir, “Ada apa dengan pipa itu sehingga membuat ayah tiri bisa meneteskan air mata? Pasti ada sebuah kisah tentangnya.”

Mungkin tamparan itu telah menyebabkan dendam terhadap ayah tiri, tidak peduli bagaimanapun jerih payah pengorbanannya, saya tidak pernah menjadi terharu. Sejak usia belia, saya selalu berpendapat ayah tiri sama jahatnya seperti ibu tiri dalam dongeng Puteri Salju. Sikap saya terhadap ayah tiri sangat dingin, acuh tidak acuh, lebih-lebih jangan harap menyuruh saya memanggil dia “ayah”.
Tapi ada sebuah peristiwa yang membuat saya mulai ada sedikit kesan baik terhadap ayah tiri.

Suatu hari ketika saya baru pulang dari sekolah, begitu masuk rumah segera melihat kedua tangan ibu memegangi perut sambil berteriak kesakitan. Ibu bergulung-gulung di ranjang, butiran besar keringat dingin bercucuran di wajahnya yang pucat.

Celaka! Penyakit maag ibu kambuh lagi! Saya dan adik menangis mencari ayah tiri yang bekerja disawah. Mendengar penuturan kami, dia segera membuang cangkul ditangannya, sandal pun tak sempat dia pakai. Sesampai dirumah tanpa berkata apapun segera mengendong ibu kerumah sakit seperti orang sedang kesurupan. Ketika ibu dan ayah tiri kembali kerumah, hari sudah larut malam, ibu kelelahan tertidur pulas diatas pundak ayah tiri.

Melihat kami berdua, ayah tiri dengan nafas tersengal-sengal, tertawa dan berkata kepada kami, “Beres, sudah tidak ada masalah. Kalian pergilah tidur, besok masih harus bersekolah!” Saya melihat butiran keringat sebesar kacang berjatuhan bagai butiran mutiara yang terburai, jatuh pada sepasang kaki besarnya yang penuh tanah.
Kesengsaraan yang saya alami dimasa kecil, membuat saya memahami penderitaan seorang petani. Saya menumpahkan segala harapan saya pada ujian masuk ke Universitas. Tetapi pertama kali mengikuti ujian, saya mengalami kegagalan.

“Bu, saya sangat ingin mengulang satu tahun lagi,” pinta saya pada ibu.

“Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita, adikmu juga masih sekolah di SMA, kesehatan ibu juga tidak baik, pengeluaran dalam keluarga semua menggantungkan ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir orang di desa ini yang mengenyam pendidikan SMA? Ibu berpendapat kamu pulang kerumah untuk membantu ayahmu!”

Tetapi saya sudah menetapkan niat, bersikap teguh tidak mau mengalah. Saat itu ayah tiri tidak mengatakan apa-apa, dia duduk dihalaman luar menghisap rokok dengan pipa kesayangannya. Saya tak tahu didalam benaknya sedang memikirkan apa.        
Keesokan harinya ibu berkata kepada saya, “Ayah setuju kamu menuntut ilmu lagi selama satu tahun, giatlah belajar!”

Ayah tiri menjadi orang yang pertama kali menerima dan membaca surat penerimaan mahasiswa saya. “Bu, anakmu diterima diperguruan tinggi!” teriaknya.

Saya dan ibu berlari keluar dari dapur. Ibu melihat dan membolak-balik surat panggilan itu meski satu huruf pun dia tidak mengenalinya. Tetapi kegembiraan itu tersirat dari tingkah lakunya. Malam itu tak tahu mengapa ayah tiri sangat gembira hingga bicaranya juga banyak.

Saya mengambil poci teh dimeja makan dan dengan sikap sangat hormat menuangkan teh itu satu gelas penuh untuk ayah tiri. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih atas jerih payahnya selama satu tahun! Dengan takjub ayah tiri memandang kearah saya, wajahnya penuh dengan kegembiraan. Sekali mengangkat gelas dan meneguk habis, mulutnya tak henti-hentinya berkata, “Patut, sangat patut sekali!”
Tetapi untuk selanjutnya biaya uang sekolah perguruan tinggi sejumlah 4.000 yuan itu membuat keluarga cemas. Ibu mengeluarkan segenap uang tabungannya serta menjual dan meminjam kesana kemari, tetap masih kurang 500 yuan.

Bagaimana ini? Kuliah akan dimulai satu hari lagi. Saat makan malam, hidangan diatas meja tidak ada seorang pun yang menyentuhnya. Ibu menghela napas panjang sedangkan ayah tiri berada disampingnya sambil merokok, sibuk memperbaiki alat tani 
ditangannya, saya tidak tahu mengapa hatinya begitu tenang? Suara napas ibu membuat hati saya hancur luluh lantak.

“Sudahlah saya tidak mau kuliah! Apa kalian puas?” Saya berdiri dengan gusar, dan bergegas masuk kamar, merebahkan diri di ranjang lalu mulai menangis…….. Saat itu saya merasakan ada satu tangan besar yang keras menepuk-nepuk pundak saya, “Sudah dewasa masih menangis, besok ayah pergi berusaha, kamu pasti bisa kuliah.”
Malam itu ayah membawa pipa rokoknya, menghisap seorang diri dihalaman rumah hingga larut malam, percikan api rokok yang sekejap terang dan gelap menyinari wajahnya yang banyak mengalami pahit getir kehidupan. Dia memincingkan sepasang mata, raut wajahnya menyembunyikan perasaan dan sangat berat. Kepulan asap rokok dengan ringan menyebar didepan matanya, mengaburkan pandangan, tiada seorang pun tahu apa yang sedang dia pikirkan, tetapi yang pasti dalam hatinya tidak tenang.

Keesokan hari ibu memberitahu saya bahwa ayah tiri pergi ke kabupaten. “Pergi untuk apa?” Percikan bunga api dari harapan hati saya tersirat keluar.

“Dia bilang pergi kekota mencari teman menanyakan apakah bisa pinjami uang.”

“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan kepala, mulutnya bergumam, “Tidak tahu.”
Hari itu saya menunggu didepan desa, memandang kearah jalan kecil yang berkelok-kelok. Untuk kali pertama perasaan hati saya ada semacam dorongan ingin bertemu ayah tiri, dan untuk kali pertama saya merasakan berharganya sosok ayah tiri dalam jiwa saya, masa depan saya tergantung pada dirinya.

Hingga malam saya baru melihat ayah tiri pulang. Saat saya melihat wajahnya yang penuh senyuman, hati saya yang selalu cemas, akhirnya bisa merasa lega. Ibu bergegas mengambil seember air hangat untuk merendam kakinya. “Celupkanlah kakimu, berjalan pulang pergi 40 kilometer perjalanan cukup membuat lelah.” Dengan lembut ibu berkata kepada ayah tiri.

Saya mengamati wajah ayah tiri dengan saksama, dan menemukan bahwa dia bukan lagi seorang pria yang masih kuat dan kekar seperti dulu. Wajahnya pucat pasi dan bibir membiru, dahinya hitam penuh dengan kerutan, rambut pendek serta tangan kurus bagaikan kayu bakar, penuh dengan tonjolan urat hijau.
Memang benar, ayah tiri sudah tua. Dengan hati-hati ibu melepaskan sepasang sepatunya yang hampir rusak. Di bawah sinar temaram lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah besar yang sudah membiru masuk dalam pandangan saya, tak tertahankan hati saya merasa bersedih, air mata saya diam-diam menetes keluar…….

Keesokan hari ketika saya berangkat kuliah, ayah tiri mengatakan dia tidak enak badan, diluar dugaan dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dalam perjalanan mengantar saya kuliah ibu berkata, “Nak, kamu sudah dewasa, diluar sana semuanya tergantung pada diri sendiri. Sebenarnya ayah tirimu itu sangat menyayangimu, dia sangat mengharapkanmu memanggilnya ayah! Tetapi kamu……”

Suara ibu sesenggukan, saya menggigit bibir dengan suara lirih berkata, “Lain kali saja, Bu!” 

Setiap kali membayar uang kuliah, ayah tiri pasti pergi ke kota untuk meminjam uang. Ketika liburan musim dingin dan panas tiba, saya jarang berbicara dengan ayah tiri dirumah, dia sendiri juga jarang menanyakan keadaan saya. Tetapi kegembiraan ayah tiri bisa dirasakan setiap orang.
Setiap kali kembali ketempat kuliah, ayah tiri pasti akan mengantar sampai ketempat yang cukup jauh. Sepanjang perjalanan dia kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya. Semua kata-kata yang ingin saya utarakan kepadanya tidak tahu harus dimulai dari mana.

Sebenarnya dalam hati kecil sejak dulu sudah menerimanya seperti ayah kandung, cinta kasih kadang kala sangat sulit untuk diutarakan! Dengan demikian saya selalu tidak bisa merealisasikan janji saya terhadap ibu.

Pada liburan tahun baru, rumah terkesan ramai sekali. Saat itu saya sudah kuliah di semester-6. Adik meminta saya bercerita tentang hal-hal menarik di kota, ayah tiri duduk dibelakang ibu, sibuk mengeluarkan abu tembakau setelah itu memasukkan tembakau kedalam pipa, wajahnya penuh dengan senyum kebahagiaan. Saya bercerita tentang keadaan kota, adik membelalakkan mata dengan penuh rasa ingin tahu.

“Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sudah mempunyai ponsel dan laptop, sedangkan kakak sebuah arloji pun tidak punya.......” Pada akhirnya saya mengeluh dengan nada bergumam. Saat itu saya melihat wajah ayah tiri sedikit tegang, segera ada perasaan menyesal telah mengucapkan perkataan itu.
Saat liburan usai saya harus meninggalkan rumah kembali kuliah. Seperti biasa ayah tiri mengantar kepergian saya. Sepanjang perjalanan beberapa kali ayah tiri memanggil saya, tetapi ketika saya menanggapi, dia membatalkan berbicara, sepertinya mempunyai beban pikiran yang sangat berat. Saya sangat berharap ayah tiri bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dengannya, namun saya selalu kecewa.

Ketika berpisah, ayah tiri berkata dengan kaku, “Saya tidak mempunyai kepandaian apa-apa, tidak bisa membuat hidup kalian bahagia, saya sangat menyesalinya. Jika engkau sukses kelak, harus berbakti pada ibumu, biarkan dia bisa menikmati hari tua dengan bahagia…” Saya menerima koper baju yang disodorkannya.

Tiba-tiba saya melihat sepasang matanya berkaca-kaca. Hati saya menjadi trenyuh, mendadak merasakan ada semacam dorongan hati yang ingin memanggilnya “Ayah”, tetapi kata yang telah mengendap lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak tertelan kembali.
Ketika saya telah berjalan jauh, saya lihat ayah tiri masih berdiri ditempat itu sama sekali tak bergerak, bagaikan patung. Dalam hati saya berjanji: ketika pulang nanti, saya pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun kesempatan itu tak pernah saya dapatkan lagi. Saya tak mengira perpisahan kali ini untuk selamanya.

Dua bulan setelah itu saya mendapat kabar bahwa ayah tiri meninggal dunia. Bagaikan halilintar di siang bolong, benak saya menjadi kosong, serasa dunia ini sudah tiada lagi. Saya pulang dengan perasaan linglung, yang menyambut saya dirumah adalah pipa rokok berwarna coklat kehitaman yang tergantung di tembok.
“Satu-satunya hal yang paling disesali ayah adalah tidak seharusnya menamparmu, setiap kali mengantarmu kembali ke kampus, dia sangat ingin meminta maaf, tetapi ucapan itu selalu tak bisa keluar dari mulutnya. Sebenarnya masalah itu tidak bisa menyalahkan dirinya, kamu tidak tahu betapa sengsara hatinya, pipa itu adalah kesedihan seumur hidupnya!” Dengan hati pedih ibu bercerita.
Melihat benda peninggalan itu teringat pemiliknya, dengan hati-hati saya ambil pipa yang tergantung di tembok itu, pandangan mata saya kabur karena air mata, merasakan kesedihan yang menusuk hati. Ibu juga tergerak hatinya, dia lalu bercerita tentang misteri pipa rokok itu…


Tiga puluh tahun lalu, ayah tiri hidup saling bergantung dengan ayahnya. Ibu dengan ayah tiri adalah teman sepermainan sejak kanak-kanak. Setelah mereka tumbuh dewasa, mereka sudah tak terpisahkan lagi. Tetapi jalinan kasih mereka mendapatkan tentangan keras kakek, sebab keluarga ayah tiri terlalu miskin.

Karena ibu dan ayah tiri dengan tegas mempertahankan hubungan mereka, kakek terpaksa mengajukan sejumlah besar mas kawin kepada keluarga ayah tiri baru mau merestui pertunangan mereka.

Demi anak satu-satunya, ayah dari ayah tiri itu pergi bekerja di perusahaan penambangan batu bara. Malang tak dapat ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu. Dinding tambang runtuh dan menimbun sang ayah untuk selamanya. Barang peninggalan satu-satunya hanyalah pipa rokok kesayangannya semasa hidup.
Ayah tiri sangat sedih, seumur hidup orang yang paling dia hormati dan sayangi adalah ayahnya. Kemudian ayah tiri menyalahkan dirinya dan merasakan penyesalan yang mendalam hingga tak ingin hidup lagi.

Keesokan harinya dia diam-diam meninggalkan rumah dengan membawa pipa rokok itu, tak seorang pun tahu kemana perginya…

Dua tahun kemudian ayah tiri kembali lagi kekampung halamannya, tetapi ibu satu tahun sebelum ayah tiri kembali dipaksa untuk menikah dengan ayah kandung saya. Untuk selanjutnya ayah tiri tidak menikah, yang menemani hidupnya adalah sebatang pipa rokok yang tidak pernah lepas darinya.

Setelah ayah kandung saya meninggal, ayah tiri memberanikan diri menanggung segala tanggung jawab untuk menjaga ibu, saya dan adik. Sejak awal dia menolak mempunyai anak sendiri, dia berkata kami ini adalah anak kandungnya
.
Selesai mendengarkan penuturan ibu, tak terasa wajah saya penuh dengan air mata. Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan cinta mereka, namun juga mengandung ingatan yang amat berat bagi seumur hidup ayah tiri!
“Ayah meninggal dunia karena pendarahan otak, sebelumnya dia sudah tidak bisa berbicara, hanya memandang Ibu dengan tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu mengerti maksudnya hendak memberikan kotak kayu tersebut kepadamu. Didalam kotak itu terdapat beberapa lembar surat hutang, mungkin dia bermaksud menyuruhmu membayarkan hutangnya. Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang pada orang lain….”

Dengan sesenggukan saya menerima kotak kayu itu dan membukanya dengan perlahan. Ada delapan lembar kertas didalamnya. Saya membacanya dan terkejut bukan main, tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang.

Ibu saya buta huruf, kertas-kertas yang ada dalam kotak itu bukan surat hutang seperti yang dikatakannya, melainkan tanda terima jual darah! Ayah tiri telah menjual darahnya! Kepala saya terasa pusing dan tangan saya lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dari dalamnya menggelinding keluar sebuah alroji baru…
“Ayah! Ayah..” Berlutut didepan kuburan ayah tiri dengan air mata bercucuran, saya hanya bisa menepuk-nepuk onggokan tanah kuning yang ada dihadapan saya. Tetapi biar bagaimanapun saya berteriak-teriak, tetap tak akan memanggil kembali bayangannya.

Ketika saya pergi meninggalkan rumah, saya membawa pipa rokok coklat kehitaman itu, saya akan mendampingi pipa ini untuk seumur hidup saya, mengenang ayah tiri untuk selamanya.

.... "Jangan sampai menyesali perbuatan anda selama ini, lakukan semua yang terbaik kepada orang2 yang telah berkorban banyak bagi masa depan anda. Sayangi dan hargailah mereka." ...

Sekarang saatnya kawan, jangan tunggu nanti .. apalagi esok.

Siapapun dia, meski mungkin dia ayah atau ibu tirimu, jika dia membawa kebaikan dan apalagi membawakan Yesus untukmu, dia adalah ayah dan ibu yang sejati. Ingatlah akan Yesus yang secara jasmaniah bukan anak Yusuf tetapi diakui Allah sebagai ayah biologis dari Yesus, hal itu jelas tertera dalam suratan silsilah Yesus. Dedikasi Yusuf untuk keluarganya tentu amat besar. 

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...