“Sebab aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang
sembarangan saja memukul.”
1 Korintus 9 : 26
Kita pasti ingat dan
tahu tentang kejadian tentang hilangnya pesawat Malaysia Airlines yaitu
MH 370 pada Maret 2014 silam. Pesawat jenis Boeing yang perkasa
itu entah mengalami kecelakaan udara ataupun dibajak secara tiba-tiba
menghilang dari pantauan radar dan lenyap beserta 239 penumpang dan awak yang
dibawanya. Pencarian terhadap pesawat ini menjadi operasi pencarian pesawat
terbesar sepanjang sejarah yang melibatkan 29 negara yang terus bertambah
secara bertahap seiring dengan semakin luasnya daerah pencarian.
Di berita nampak
sekali betapa keluarga para korban merasa amat kehilangan dan frustasi. Ada
yang marah dan ada yang pingsan karena ketidakjelasan nasib kerabat mereka.
Hubungan Malaysia dan China pun merenggang karena peristiwa ini. Sebagian besar
penumpang adalah warga China. Meskipun pihak Malaysia telah berusaha semaksimal
mungkin dalam pencarian dan dibantu negara-negara lainnya namun hasilnya belum
jelas dan nihil. Berkali-kali pertemuan dengan keluarga korban diadakan oleh
pihak Malaysia Airlines namun kericuhan yang terjadi pada setiap penghujungnya.
Betapa mengherankan melihat keluarga korban yang tidak bisa menerima usaha
keras pencarian yang dilakukan. Protes demi protes terus mengalir.
Berbagai spekulasi
akhirnya bermunculan, baik dari pemerintah Malaysia secara resmi maupun dari
orang-orang tertentu yang hendak memperkeruh suasana atau hanya sekedar menebar
sensasi. Ada yang mengatakan pesawat itu kemungkinan besar dibajak oleh
penumpang gelap, ada yang bilang mungkin juga dibajak oleh pilotnya sendiri.
Pihak Malaysia tidak main-main dengan hal itu, mereka menginstruksikan untuk
memeriksa rumah dari semua awak dan penumpang dalam pesawat tersebut.
Dugaan kuat tentang
lokasi pesawat itu jatuh terdapat di samudera Hindia yang terkenal sebagai
samudera paling ganas dan jarang dilewati kapal laut manapun. Puing-puing
mencurigakan ditangkap oleh berbagai citra satelit, beberapa di antaranya
adalah satelit milik Australia, Prancis, dan Thailand. Namun awal tahun 2016
ini akhirnya titik terang didapati setelah puing-puing pesawat yang diduga kuat
milik MH 370 ditemukan di pantai Mozambique Afrika.
Di dalam pesawat itu
terdapat beberapa pasangan suami istri yang justru baru pulang dari bulan madu
dan ada yang baru akan berbulan madu. Ada banyak pengusah terkenal di dalam
pesawat itu dan ada 23 artis China turut serta di dalamnya termasuk seorang
pemeran pengganti dari Aktor Jet Lee.
Selain itu pihak
Amerika mengkonfirmasi bahwa ada beberapa pegawai perusahaan militer mereka
yang turut serta dalam pesawat itu. Para pegawai itu berwarga negara Malaysia
dan China namun mereka bekerja di sebuah perusahan militer di Amerika. Ini
memunculkan dugaan kuat akan adanya kemungkinan campur tangan usaha terorisme
dalam kecelakaan pesawat tersebut.
Apa yang dapat kita timba dan hikmati dari
peristriwa itu? Berkaitan dengan pembacaan ayat di atas, yaitu Paulus
mengatakan bahwa dalam Kristus dia berlari dalam suatu tujuan. Tujuan ilahi
yang benar, tujuan ilahi yang pasti yaitu keselamatan dan hidup kekal dengan
Allah. Inilah tujuan kita yaitu bersama dengan Allah sejak sekarang hingga
nanti di kekekalan. Inialh tujuan kita, menikmati Kristus dalam hidup kita ini.
Sebab tujuan manusia rohani bukan semata sebatas dunia dan materi atau
kesuksesan jabatan melainkan kesuksesan Rohani. Semakin melekat dan menyatu
dengan Kristus. Itulah yang kita kejar dalam Kristus yaitu Dia sebagaimana
Paulus pun berkata bahwa dia semakin berlari pada tujuab panggilan Kristus
dalam hidupnya.
Banyak
orang terhilang arah tujuan hidup, dalam hal ini karena mereka sebatas hanya
mencari apa yang ada dalam dunia. Dalam hal ini karena mereka hanya mencari
segala sesuatu tanpa adanya Pribadi Kristus yang harus dimuliakan di dalamnya.
Padahal betapa nikmatnya jika kita selalu meminta pengenalan akan Dia dalam
segala hal, baik lewat apa yang kita minta dan rencanakan maupun lewat apa saja
yang kita alami dan hadapi.
Jika
tanpa adanya tuntunan Kristus dalam setiap usaha dan pencarian kita maka kita
akan kehilangan arah tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu Keselamatan Kekal
dalam Kristus. Kita akan fana dan terhilang seperti dunia ini. Sebagaimana
Yakobus berkata bahwa hidup manusia seperti uap layaknya, hanya sesaat lalu
hilang lenyap beserta segala kemuliaannya. Padahal adakah kemuliaan yang tidak
kekal itu adalah kemuliaan sejati? Tentu tidak bukan?
Kita yang sudah di
dalam Yesus belajar menikmati hidup yang penuh kemuliaan itu dalam segala
pemberian diri kita untuk semakin mengenal Dia dan menemukan keutuhanNya, mengejar
Dia selalu sebagai panggilan sorgawi kita, tujuan hidup kita. Orang yang
mengejar tujuan sorgawi tidak akan pernah terhilang dalam dunia ini. Berkat
lahiriah itu hanya mengikuti semata dan tidak bersusah-susah kita mencarinya
dalam berbagai beban, sebaba Allah menyediakan segala sesuatu yang kita
butuhkan dalam kasihNya.
Oleh karena Kristus
kita mengalami hidup baru, hidup yang tidak lagi tersesat dan terhilang tanpa
tujuan jelas. Mereka yang tanpa Kristus tujuannya tidak pasti dan terhilang. Dalam
hal ini mengalami kefanaan bersama dunia yang tidak menentu arah tujuannya
serta akan lenyap berlalu. Tetapi Firman Allah
itu tinggal tetap, itulah arah tujuan kita yang sejati dan tidak akan pernah
hilang dan menyesatkan. Kristus yang sudah menjadi Firman yang hidup dan tingal
di dalam kita.
Apapun tujuanmu dalam dunia ini, serahkan dan nikmati itu dalam
pendidikan Allah yaitu mengenal Kristus semakin dalam hingga kita memahami Dia
yang lebih dulu memahami kita. Apapun rencana dnan cita-cita kita, serahkan dan
kerjakan kebenaran Kristus di dalamnya maka kita akan menikmati bahwa tujuanNya
ada dalam segenap usaha kerja kita. Inilah yang disebut mengerjakan
keselamatan, bukan lagi mengusahakan untuk masuk surga tetapi karena kita telah
berada dalam lingkungan kerajaan Allah dan hendak menikmati, mengusahakan,
mengejar, dan mengenal Kristus dalam segala hal. Inilah satu tujuan
dengan Allah di dalam Kristus.

No comments:
Post a Comment