Mazmur 78:5 telah ditetapkanNya peringatan
kepada Yakub dan hukum Taurat diberiNya di Israel, nenek moyang kita
diperintahkanNya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka. Pembinaan
anak dalam taurat sangat jelas tergambar dalam Mazmur 78 dengan tujuan sangat
jelas, yaitu:
1.
78:6,
Supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak yang akan lahir
kelak bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka.
2.
78:7,
Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan
Allah, tetapi memegang perintah-perintahNya.
3.
78:8,
Dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak,
angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
Pengajaran anak dalam hukum Taurat
berbeda dengan konsep yang diajarkan dalam Talmud. Menurut Rabbi Lev Baesh
dalam bukunya “The resource center for
Jewish clergy of interfaith family”, berdasarkan Talmud maka orang tua
diminta untuk mengajar anak mereka Taurat Musa untuk dunia sekuler seperti
dalam perdagangan dan pelayaran. Hal ini membuat pengajaran Talmud telah
melebar dan keluar dari nilai-nilainya yang murni. Hal yang membuat sudah tidak
lagi fokus mendidik anak kepada amanat Tuhan dan kepada hukum Tuhan tapi
akhirnya lebih focus kepada pendidikan menjalani bisnis kehidupan. Pandangan
Taurat menurutnya juga telah dibatasi hingga Taurat menjadi tidak lebih dari
sekedar buku dalam sejarah mereka. Taurat menjadi semacam panduan moral bagi
Israel serta pembelajaran etika hidup seperti yang tersedia dalam teks Yahudi,
sejarah, dan masyarakat. Pengajaran Taurat adalah mengajar tentang perilaku
yang benar. Ini termasuk perawatan diri, perawatan orang lain, dan perawatan
bumi. Perawatan cerita sejarah dan perjuangan, dan perawatan generasi
mendatang. Taurat adalah tentang mengakses kebijaksanaan kuno dan terlibat
dalam dialog modern untuk menemukan pembelajaran yang dalam dan paling relevan
untuk hari ini.
Namun bangsa Yahudi
kehilangan esensi sesungguhnya dari Taurat yaitu konsep penebusan dan
pengampunan dosa dari Dia yang penuh rahmat sehingga Dia datang menjadi jalan
keluar dan penggenapan yang sempurna atas TauratNya sendiri dalam kehidupan
Yesus Kristus Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela sebagai korban yang
kekal. Sangat diharapkan agar pelajaran agama Kristen pada anak-anak kita tidak
sama halnya dengan Yahudi yang kehilangan tujuan Allah dalam pembelajaran itu
yaitu menerima keselamatan dan meyakini keselamatan itu di dalam Kristus. Sebab
soal ilmu agama maka Yahudi amat fasih dan taat beribadah tapi mereka tidak
mendapati Pribadi Allah yang nyata di dalam Kristus sebagai penggenapan dari
apa yang mereka pelajari dan dalami. Demikian pula PAK di sekolah hendaknya
menjadi jalan bagi siswa untuk menemukan Kristus secara pribadi dalam
keberimanan mereka masing-masing.
Pengajaran Kristen sebenarnya lebih
terbuka terhadap sekulerisasi daripada pengajaran Yahudi dalam Talmud dan
Taurat. Namun titik lemahnya Taurat dan Talmud adalah jika semakin dibawa ke
dalam dunia sekuler maka keilahiannya akan semakin berkurang dan tampak seperti
menyalahi Allah. Itulah sebabnya Yahudi sejati sebenarnya membedakan antara
hukum agama dan hukum dunia. Iman Kristen kita di dalam Kristus memiliki
keutuhan dari kegenapan hukum Taurat yaitu Kristus itu sendiri. Dialah yang
menjadi dasar dan landasan Kitab suci dan hidup kita. Hingga dalam Dia segenap
firman Allah tidak akan tercemar jika dibawa dalam ranah sekuler. Justru itulah
yang Dia mau, yaitu Dia semakin dinyatakan dalam dunia. Hukum yang benar dan
sejati tidak akan tercemar tapi justru akan menyucikan dan memurnikan. Tapi
hukum lahiriah terbatas sifatnya dan mudah tercemar oleh keberdosaan dan
keterbatasan manusia sebagaimana Rasul Paulus mengatakan justru oleh Taurat dia
mengenal dosa dan dosa giat bekerja dalam tubuhnya. Namun Hukum yang
memerdekakan sudah datang yaitu Kristus, agar di dalam Dia kita semakin
mendalami Allah dan menikmati Hukum yang membebaskan dari dosa. Bukan lagi
bersandar pada daya upaya kita dalam menaati, tapi dalam penyerahan kita untuk
pekerjaan Allah di dalam kita untuk menyatakan hukum itu menjadi hidup dalam
hidup kita. Inilah Hukum yang mengalahkan dosa.
Pada abad pertengahan gereja sempat
tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Allah dengan baik. Barulah pada masa
reformasi gereja maka gerakan pengembalian pada pengajaran Alkitab yang baik
dibangkitkan kembali. Pendidikan Kristen terhadap anak-anak mulai digalakkan
kembali khususnya dalam katekismus (Katekisasi). Namun kurangnya orang yang
terlatih sebagai pekerja gereja atau pelayan dalam jemaat membuat pengajaran
itu mundur. Kegiatan itu hanya menjadi simbolisasi dari prasyarat bagi
anak-anak untuk menerima konfirmasi (baptisan sidi dan baptisan selam). Hingga
kini gereja-gereja masih banyak yang mengabaikan atau tidak begitu peduli pada
sistem pendidikan Alkitab bagi jemaatnya secara umum. Mereka meyakini pembagian
firman secara berkala lewat ibadah rutin sudah cukup untuk memperkuat dan
memperkaya jemaat dalam Firman. Padahal ada banyak hal terperinci dan khas yang
hanya didapati dalam sistem pengajaran gereja. Oleh pengajaran yang
berkelanjutan baik di sekolah, di gereja, dan bahkan di rumah bagi anak-anak,
maka jemaat tidak akan menjadi jemaat yang awam tapi fasih Alkitab dan
bertumbuh iman di dalam Kristus. Setidaknya pada awal abad 18 setelah masa-masa
reformasi gereja barulah Robert Raikes seorang wartawan Inggris menggalakan
kembali pengajaran Firman pada anak-anak lewat gereja-gereja yang ada.
Pelayanan anak itulah yang sampai kini kita kenal dengan nama sekolah minggu
atau Sunday School.
Pada saat itu Eropa mengalami
masa-masa haus dalam memberi pengajaran
pada anak-anak Kristen. Mereka mengajari anak-anak mereka bukan hanya di gereja
tapi di rumah mereka masing-masing (Ulangan 6:4-7). Selaras dengan
keluarga-keluarga Yahudi yang mengajari anak-anak mereka di dalam ruang lingkup
keluarga sebagai tempat pendidikan agama yang paling utama bagi anak. Sejak
sebelum usia 5 tahun anak mereka telah dididk oleh orang tuanya untuk mengenal
Allah yang mereka sembah. Pada masa
pembuangan di Babilonia (500 sm), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli
kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada Taurat Tuhan maka dibukalah sinagoge di mana
mereka dapat belajar firman Tuhan secara bersama. Orang tua wajib mengirimkan
anak-anak mereka sejak usia di bawah 5 tahun. Di sana mereka diajari oleh
guru-guru ahli Taurat dan dikelompokkan dalam jumlah 25 orang untuk saling
bertanya jawab dengan guru mereka. Sangat menarik jika anak-anak Kristen dalam
sistem pelajaran Alkitab di sekolah minggu dapat dibangun pembelajaran seperti
ini dan tidak melulu dengan cerita-cerita Alkitab yang diulang-ulang. Sebagaimana
anak Yahudi yang lain Yesus pun melewati masa-masa Dia harus mendalami agama di
sinagoge. Bahkan di usia 12 tahun Dia sudah bisa bersoal jawab dengan para ahli
Taurat dan orang Farisi. Tradisi yahudi dalam mendidik anak dengan ketat terus
berlangsung hingga saman Rasul-Rasul (Timotius 3:16).
Seiring perkembangan saat ini kita kaum
Kristen mulai enggan memberi pengajaran Alkitab kepada anak di rumah sendiri
sebab berpikir bahwa pengajaran di gereja sudah cukup. Ini amat keliru sebab
pengajaran Alkitab dalam rumah membuat keluarga memiliki hubungan yang akrab
tidak hanya dalam kegiatan sehari-hari tapi dalam hubungan yang erat dengan
Tuhan yang mempersatukan keluarga tersebut dalam FirmanNya yang dibagikan
setiap hari. Pada masa gencarnya pengajaran Alkitab dalam keluarga di Eropa,
mereka memiliki kebiasaan membagikan Firman tiap selesai makan malam. Biasanya
seorang ayah yang akan membuka Alkitab dan menjelaskannya pada seisi rumah
untuk didalami bersama. Kita tidak perlu mengikuti gaya pengajaran seperti itu
dalam hal ini penerapan lahiriahnya. Tapi setiap keluarga dapat menyesuaikan
waktu dan cara membagikan firman secara bersama sesuai dengan keadaan kesibukan
mereka. Dalam pembelajaran Firman secara berkala meski tidak setiap hari, maka
keluarga Kristen memiliki tali ikatan yang erat sebagai anggota keluarga
Kristus yang bertumbuh dan dibangun di dalam Kristus.
Berikut ini adalah faktor positif yang
umum yang menjadi ciri khas bangsa Yahudi karena mereka berusaha mentaati
Taurat dan Talmud serta memelihara pengajarannya.
1.
Mereka
menjadi bangsa yang penuh misteri, kecil tapi kuat, sedikit tapi menyebar di
seluruh dunia sebagai bangsa yang ada di mana saja. Meski menyebar tapi kemurnian
keagamaannya tetap terjaga. Tidak bertanah air dan tak punya raja tapi selalu
menonjol di negeri mereka berada dan memberi pengaruh yang kuat. Dianiaya tapi
tetap bertahan dan berkembang serta berkelimpahan. Uniknya mereka tetap
memiliki identitas yang kuat bukan dari kesukuan dan budaya bahasanya tapi
terletak pada keagamaannya. Hal yang tidak ada pada bangsa lain di muka bumi
ini.
2.
Bagi
para penganut Yudaisme yang taat yaitu mereka yang pernah ditantang Paulus
dalam kitab Galatia karena mengajarkan sunat pada kaum Kristen, kehidupan harus
berpegang teguh pada Taurat dan tradisi agamawi. Tingkah laku mereka amat
tertata dalam hukum dan amat taat secara lahiriah melebihi ketaatan umat
beragama manapun juga di dunia.
3.
Budaya
mereka adalah satu-satunya budaya bangsa yang paling mengedepankan pendidikan
dibanding bangsa-bangsa lain yang ciri khas budayanya terletak pada kesenian
dan bahasanya. Ciri khas budayanya terletak pada pengetahuan agamanya itulah yang
menjadi dasar mereka mendalami pengatahuan lainnya. Selaras dengan Firman
“takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
Seharusnya prinsip Kristiani dalam
menjalankan pengajaran dan keteguhan imannya dalam Firman sama halnya dengan
Yahudi. Meski mereka hanya taat secara lahiriah dan bersandar pada hukum
tertulis yang membawa pada kebinasaan karena fana sifatnya namun kita justru
yang sudah dalam Kebenaran dan kegenapan hukum Allah dalam Yesus Kristus harusnya
lebih giat dalam memperhatikan kelangsungan Firman yang kita miliki. Jika
setiap keluarga peka akan hal ini maka tidak akan ada anak-anak Kristen yang menyangkal iman
dan berpindah keyakinannya. Sebab Israel lahiriah hanya memelihara hukum
lahiriah dan mendapat berkat lahiriah pula, keduanya cemar dan fana sifatnya,
setaat apapun ujungnya pada ketidaksempurnaan karena tanpa Hukum hidup yang
menjadi kegenapannya. Tapi kita Israel Rohani masuk dalam pemeliharaan hukum Rohani
yang memelihara kita untuk kita dimampukan memeliharanya.Sebab Hukum itu adalah
Pribadi yang menggenapkan dan utuh di dalam Kristus. Di dalam Dia sebagai
kegenapan Hukum Allah yang kita terima maka kita memelihara dan menerima berkat
Rohani dan tidak hanya berkat jasmani. Inilah kelebihan kita dibanding Israel
lahiriah yang menolak Kristus sebagai Hukum Rohani dan Berkat Rohani bagi
mereka. Alangkah malangnya jika gereja hanya peka terhadap Firman sebagai surat
atau hukum tertulis yang harus ditaati tanpa menyadari dan membagikan bahwa
Firman yang kita miliki itu adalah Pribadi Kristus lewat Roh Kudus sebagai
Firman Hidup yang memperhidup kita untuk saling menghidupi. Dalam hal ini
gereja membina anak-anak dan jemaat
dalam pengajaran yang mengarahkan mereka kepada Kristus sebagai Pengajar
pribadi di dalam mereka yang hadir dalam wujud Roh kudus yang ada pada setiap
orang percaya. Ini adalah pemberdayaan dan kemandirian iman yang meski sebagai
jemaat saling berinteraksi dalam persekutuan iman namun secara pribadi menjadi
umat Kristen yang kuat dalam iman kepada Kristus.
Berikut ini adalah konsep dan prinsip
dari pendidikan agama Yahudi:
1.
Seluruh
kebenaran adalah kebenaran Allah.
2.
Menurut
konsep yahudi modern tidak ada perbedaan nilai antar duniawi dan rohani,
semuanya ada dalam wilayah Tuhan. Itulah Yahudi percaya dalam kebergantungan
mereka terhadap Taurat maka seluruh hidup adalah suci meski hati nurani mereka
tidak dapat menyangkal bahwa mereka tidak utuh dalam kesanggupan menggenapinya.
Yang unik adalah mereka sendiri sering melanggar prinsip ini jika mereka mau
menonjolkan keagamaan mereka dan kesucian mereka yang mereka yakini melebihi
bangsa lain. Mereka akan menyatakan bahwa hukum agamawi mereka tidak bisa
dinilai secara dunia.
3.
Pendidikan
berpusatkan kepada Allah. Kegagalan campur tangan Allah adalah kegagalan
bangsa, (Habakuk 2:10). Bagi anak Yahudi tidak ada buku lain yang memiliki
keharusan dipelajari selain Taurat untuk menjadi pegangan dan pelajaran tentang
Allah dan karyaNya serta bekal hidup yang amat berharga. Taurat tidak hanya
sebagai pelajaran agama, tapi menjadi semacam dasar dari bangsa Yahudi dan
negara Israel. Taurat menjadi budaya dan ciri khas mereka. Taurat adalah hidup
mereka. Mereka percaya teguh bahwa Taurat satu-satunya jalan berhubungan dengan
Allah dan sesama dengan benar. Suatu sistem atau tata kehidupan yang tidak
hanya mengatur keagamaan tapi aspek sosial, kesehatan, dan moral.
4.
Pendidikan
adalah nilai utama dan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kitab Talmud
dikatakan kalau ingin menghancurkan bangsa Yahudi kita harus membinasakan
guru-gurunya. Bangsa Yahudi adalah bangsa pertama yang memiliki sistem
pendidikan nasional (Ulangan 6:4-9).
Tinjauan:
1.
Jika
kita meletakkan dan percaya dasar Iman kita adalah yang seluruh kebenarannya
terletak di dalam Allah, maka kita harus mengimaninya di dalam Kristus. Sebab
keutuhan kebenaran Allah itu adalah Kristus. Seluruh kebenaran Allah yang
tercakup dalam Taurat Israel digenapi Allah di dalam Kristus.
2.
Di
dalam Kristus sebagai dasar kebenaran dan iman percaya kita maka kita yang
dahulu tinggal dalam dosa kini berpindah pada KerajaanNya yang terang dan suci.
Kita masuk pada penyucian Allah yang berlangsung setiap hari dan menjadi Hidup
di dalam hidup kita. Dahulu kita ada dalam wilayah dosa kini seluruh hidup kita
ada dalam wilayah Allah dan kebenaranNya. Perbuatan kita bukan untuk
membenarkan diri di hadapan Allah tapi untuk menyatakan kebenaran Allah di mana
kita sudah tinggal di dalamNya. Hidup sesuci apapun yang ditempuh dan yang
tampak secara lahiriah dalam berbagai moral penyangkalan diri manusia itu
sia-sia adanya dan kotor di hadapan Allah jika di luar Kristus. Melainkan di
dalam Kristus kini seluruh hidup kita dan apa yang kita kerjakan dan perbuat
jika dibawa di dalam Dia dan menikmati Dia sebagai dasarnya maka akan berolah
penyucianNya dan pemurnianNya, itulah KebenaranNya bagi kita hingga kita akan
menikmati dalam hal ini tidak ada lagi duniawi, yang ada adalah hidup yang
telah menjadi ibadah sejati di dalam Dia.
3.
Sangat
penting untuk sejak dini kita memperkuat anak-anak kita dalam keberimanannya
terhadap Kristus dan Alkitab yang adalah bagian dari Kristus sebagai Firman
yang Hidup dan yang utuh. Sebagaimana anak-anak Israel sejak kecil telah
dididik dengan kuat dan ketat untuk berpegang teguh pada Taurat yang justru
sulit dan membebani dan tidak mungkin tergenapi oleh manusia maka anak-anak
Kristen selayaknya dididik untuk kuat dan mencintai Kristus sebagai Firman yang
hidup bagi mereka dengan Alkitab sebagai landasannya.
4.
Jika
bangsa Yahudi bisa hancur jika guru-gurunya dibinasakan maka kita memiliki Guru
Sejati yang tidak akan binasa oleh apapun yaitu Kristus. Dia adalah Allah yang
perkasa dalam FirmanNya yang bahkan dalam rupa Roh Kudus tinggal diam di dalam
kita orang percaya hingga kita tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang
kekal. Jika dalam Taurat pengajarannya hanya terpusat dari guru-guru manusia
sebagai pengajarnya maka dalam Kristus kita tidak hanya memiliki guru-guru
sebagai pengajar. Mereka hanyalah sarana Allah untuk kita dapat saling berbagi
dan tahu bahwa ada Pengajar di dalam setiap kita yang harus kita nikmati secara
pribadi. Jika setiap orang Kristen mencapai tahap perjumpaan pribadi dengan
Allah dalam Kristus dan menikmati pengajaranNya secara pribadi setiap hari,
maka kita memiliki betul Pengajaran dan Pengajar yang abadi yaitu Dia sendiri
di dalam kita dalam wujud Roh Kudus.
“Sebab di dalam diri kamu tetap ada
pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar
oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala
sesuatu dan pengajaranNya itu benar, dan tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu
telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” (1
Yohanes 2:27).
Sangat indah dan kuat jika setiap kita
mencapai tahap ini. Inilah perbedaan antara pendidikan Agama Kristen dengan
pendidikan agama dari agama-agama lain termasuk Yahudi. Kepercayaan lain
bersandar pada pengajar-pengajar manusia tapi kita tidak bersandar pada
pengajar manusia sebab mereka adalah sarana Allah untuk saling memperlengkapi
dan saling membukakan secara bersama-sama dalam Roh Kudus sebagai Pengajar
sejati kita akan Kebenaran Allah yang mengurapi kita semua untuk menjadi
pengajar dalam hidup ini. Sejak masa kanak-kanak orang Kristen hendaknya
dididik mengarah kepada kedewasaan ini.
Dalam pendidikan Yahudi juga
menerapkan pembagian tahap usia. Pada usia sekitar 5 tahun anak-anak diberi
pelajaran dasar membaca Taurat. Bahkan mereka belajar membaca dari kitab
Taurat. Pada usia 10 tahun mereka mulai diberi pengajaran dan pemahaman lewat
sistem Misyna yang berarti bahan
ulangan yang perlu dihafalkan. Pada usia 12-13 tahun anak-anak bahkan sudah
wajib mentaati hukum taurat dan peraturan Yahudi yang disebut Mitswoth. Pada tahap ini anak laki-laki
Yahudi yang baru menanjak remaja di sebut “Anak-anak hukum Taurat” atau Bar-Mitswa, yaitu pada usia 13 tahun
tambah 1 hari. Selain itu pada masa setelah pembuangan di babel, orang Israel
menambahkan satu sistem baru yang unik dalam pendidikan mereka yaitu Syemone Esre yang adalah doa yang
terdiri dari 18 pengucapan dan diucapkan setiap hari (Pagi, sore, malam) dalam
ibadah di Sinagoge. Dalam sesi pembacaan Taurat dan pengajarannya kepada kaum
dewasa, anak-anak mendalami sesi Syema
Yisrael yaitu pengakuan iman dan pengucapan syukur yang dibaca setiap hari
(pagi dan malam) dalam ibadah di sinagoge.
Pada tahun 75 sebelum Masehi yakni
sebelum Kristus lahir, bangsa Yahudi mengadakan semacam sekolah dasar yang
disebut Beth-ha-sefer artinya rumah sang kitab (Bet=Rumah, Sefer=Kitab). Di
sekolah ini pengetahuan tentang taurat dibaca berulang-ulang dan harus
dihafalkan oleh anak-anak Yahudi. Sejak usia 6-7 tahun murid sudah mulai dibawa
oleh orang tua mereka ke sekolah ini. Sekolah ini tujuannya hanya murni Taurat.
Setelah anak masuk pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu di usia
10-11 tahun mereka dikirim ke Beth-ha-Midrasy
(Beth=Rumah, Midrash=Pengajaran). Tujuan sekolah ini adalah selain mempelajari
isi harafiah Taurat tapi juga mempelajari manfaat dan maknanya. Sejalan dengan
timbulnya sekolah timbul pula pentingnya jabatan guru. Dalam kebudayaan Yahudi
seorang guru begitu dihormati, sehingga murid patut menunjukkan pengabdian
kepada guru sama seperti budak kepada majikannya kecuali pada hal yang paling
rendah yaitu membuka tali kasut.