Sunday, February 24, 2019

Awal Gerakan Pantekosta di Indonesia


Kisah 2:1-4 “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidahlidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” 
HARI kenaikan Isa Almasih diikuti dengan hari Pentakosta yang ditandai dengan pencurahan Roh Kudus. Murid-murid Tuhan Yesus yang menjadi rasulrasul menunggu selama 10 hari di Yerusalem.
Dan pada hari ke-10 bersamaan dengan hari ke-50 sejak Yesus bangkit dari kematian, sekitar 120 orang murid-murid mengalami baptisan Roh Kudus di sebuah kamar loteng yang ditumpangi oleh mereka di Yerusalem. Terjadi perubahan drastis, Petrus yang tadinya pengecut menjadi pemberani dan khotbahnya di serambi Salomo menyebabkan 3000 orang bertobat dan memberi diri dibaptis.
Fenomena ini berlanjut terus, rasul-rasul memberitakan Injil dengan kuasa Roh Kudus sehingga Injil terus merambah sampai ke seantero dunia. Dan kalau kita menjadi pengkikut Kristus hari ini, tidak terlepas dari peristiwa yang melanda murid-murid pada masa itu.
Awal abad ke-20, Kebangunan Rohani terjadi di Wales, Inggris tahun 1904, Kebangunan Rohani di Topeka Kansas, Amerika tahun 1906 menandai berkobarnya pekabaran Injil oleh kuasa Roh Kudus sampai kini bahkan sampai kepada Kedatangan Yesus Kristus kembali ke bumi ini.
Gerakan Pantekosta atau Pentakosta di Indonesia diawali dengan datangnya dua keluarga misionaris dari Amerika Serikat pada tahun 1921. Dari Pelabuhan Seattle, Washington, tanggal 4 Januari 1921, sebuah kapal berbendera Jepang, Suwa Maru, melepas jangkar untuk tujuan yang amat jauh, membelah samudera Pasifik. Seperti biasanya Suwa Maru mengangkut penumpang dan barang. Namun hari itu, kapal ini mengangkut enam penumpang yang sedang menuju Pelabuhan Internasional Batavia, kini Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Keenam penumpang itu sedang membuat sejarah penting untuk suatu gerakan besar di Indonesia. Mereka adalah Cornelis Groesbeek (46 tahun) dan istrinya Marie Groesbeek serta dua anaknya Jinny (8 tahun) dan Corrie (6 tahun), dan Dirk Richard Van Klaveren (43 tahun) bersama istrinya (40 tahun).
Mereka sedang dalam perjalanan misi penginjilan ke Indonesia menyebarkan pengajaran yang dalam 15 tahun terakhir amat menggetarkan Amerika, sejak kebangunan rohani di Azusa Street.
Perjalanan misi dua keluarga penginjil ini berawal dari sangat rajinnya mereka mengikuti kebaktian di Gereja Bethel Temple, Seattle. Bukan kebaktian biasa, memang. Di sana mereka menyaksikan banyak orang dibaptis Roh Kudus, di sembuhkan dari bermacam-macam penyakit, orang-orang bertobat dan menyerahkan diri dibaptis air.
Ketika mereka yakin dengan penglihatan yang diterima, mereka menyampaikannya kepada Gembala Sidang Rev. W.H. Offiler. Sang gembala mendapat konfirmasi bahwa perjalanan misi ke Indonesia adalah kehendak Tuhan.
Maka dikerahkannya seluruh anggota jemaat untuk mendukung misi tersebut.
Program pengiriman misionaris pun didukung para anggota jemaat. Di saat program pencarĂ­an dana sudah berhasil mengumpulkan 1.700 Dollar AS, bantuan yang datang berhenti.
Padahal tim misi membutuhkan 2.200 Dollar AS. Masih kurang 500 Dollar AS.
“Dalam beberapa waktu tak ada satu dollar pun yang kami terima, karena itu kami pun mulai ragu jangan-jangan kami keliru merestui dan merencanakan perjalanan misi ini,” kata Rev. Offiler.
Mereka pun bergumul, berusaha mencari tahu kehendak Tuhan. “Kami menyerahkan persoalan ini kepada Tuhan dan menunggu jawabannya, sementara waktu keberangkatan sudah semakin dekat. Keuangan tetap suram dan tidak berubah,” seperti dikutip Pdt.
Dr. Nicky J. Sumual dari malalah The Voice of Healing, Dallas, Texas, tahun 1952, untuk bukunya Sejarah Gereja Pentakosta. Angka 500 Dollar AS menjadi ganjalan, tapi itu membuat mereka banyak bertanya soal misi penginjilan ke Indonesia itu kepada Tuhan.
Suatu hari selesai kebaktian, ada seorang wanita penderita tumor ganas datang meminta pelayanan doa kepada Rev. Offiler. Menurut wanita itu ia diberitahu dokter yang sudah merawatnya selama lima tahun bahwa ia harus segera dioperasi. Jika dalam tiga hari tumor itu tidak diangkat dari tubuhnya, dokter sudah tidak mau bertanggung jawab lagi atasnya. Rev. Offiler pun mendoakannya.
Setelah didoakan wanita itu pulang karena dia mulai merasa ada perubahan yang baik di tubuhnya yang selama ini sakit.
Setelah beberapa saat ia di rumahnya, pada waktu dia berjalan tanpa ia sadari ada gumpalan daging yang jatuh dari tubuhnya. Ia kemudia sadar bahwa ia telah disembuhkan. Ia berdoa dan berkata, “Tuhan, saya akan pergi lagi ke dokter bedah yang menangai saya selam ini. Jika dokter itu membenarkan bahwa saya telah sembuh, saya akan memberikan 500 Dollar AS kepada Rev.

Offiler.” Memang wanita itu benar-benar sembuh, dan ia menunaikan nazarnya, memberikan 500 Dollar AS kepada Rev. Offiler. Dengan dicukupinya kebutuhan dana untuk rencana perjalanan misi ke Indonesia, keluarga Groesbeek dan Van Klaveren pun berangkat ke Indonesia dengan kapal Suwa Maru. Mereka tiba di Jakarta sekitar dua bulan kemudian, awal Maret 1921. Mereka memulai misinya di Jawa dan Bali dengan ditandai mujizat kesembuhan dan melalui murid-muridnya seterusnya ke seluruh nusantara.

Perkembangan gereja di beberapa daerah di Indonesia


1.       Ambon
     Dalam kehidupan jemaat di Ambon pengaruh agama suku dalam hal totalitas kehidupan atau totalisme nampak nyata pada kehidupan bergereja saat itu. Paham gereja tersebut menolak tindakan Belanda yang ingin memisahkan antara Gereja dengan sekolah. Inilah salah satu alasan pecahnya perang saparua oleh Patimura pada 1817. Gereja Ambon menempatkan benda-benda keagamaan sebagai barang suci dan sakti misalnya gedung gereja, air baptisan, roti, atau anggur perjamuan dll. Sisa air baptisan sering diperebutkan untuk diminum atau dibawa pulang karena dipercaya menjadi obat. Demikian pula dengan roti dan anggur perjamuan dianggap dapat memberi kesaktian pada jemaat. Selain itu gereja di Ambon berkembang menjadi gereja yang bersifat fanatic eksklusif sukuisme di mana mereka berang dan menentang pemerintah Belanda yang berencana mau menyebarkan agama Kristen kepada muslim. Mereka terlalu berpegnag bahwa Kristen hanyalah milik mereka dan tidak layak dibagikan kepada orang lain.
     Sebelum Joseph Kam datang, Jabez Carey (anak William Carey yang terkenal di gereja Baptis) telah lebih dulu terkenal di Ambon pada 1814-1818. Dia adalah pemrakarsa dari jemaat-jemaat Evangelical yang bersifat kelompok ibadah kecil yang tidak perlu menjadi gereja rakyat. Di mana menurutnya kelompok kecil justru akan membuat jemaat menjadi jemaat yang saleh dan lebih terarah kepada Kristus dan tidak terikat menjadi sukuisme dan fanatik agamawi. Dari sinilah salah satu cikal-bakal ibadah evanglisasi rumah ke rumah. Jabez Carey memang terkenal amat kental dengan corak revival di mana ia dibesarkan. Joseph Kam sama hal nya dengan Carey di mana ia bersedia untuk membangun iman jemaat meskipun perbedaannya adalah Kam lebih terbuka dengan pelayanan yang besar. Dia bahkan bersedia melakukan baptisan massal. Meski dianggap kegiatan itu akan mengurangi hikmah dari sakramen baptisan Karena waktu persediaan yang terbatas untuk banyak orang dilayani sekaligus namun hal itu tetap bertahan hingga saat ini.
2.       Jawa
     Pelayanan injil di Jawa terjadi dalam dua cara yaitu dilakukan oleh orang Eropa seperti Johanes Emde (1774-1859) dan Coenraad Coolen seorang Eropa yang lahir di Jawa yang memakai tenaga penginjil pribumi (1775-1873). Emde meyakini bahwa seorang Kristen harus meninggalkan kebudayaan aslinya dan menjalani kebudayaan Eropa yang dianggap Kristen. Jadi jemaat jawa diajarkan bahasa belanda, meninggalkan pakaian adat, dilarang menonton wayang dan harus berpakaian Eropa serta menunjukkan kebiasaan gaya hidup barat. Hal ini membuat gereja Kristen di Jawa menjadi tidak merakyat. Sebaliknya Coolen melakukan penginjilan dalam bentuk kebudayaan Jawa dengan memakai wayang, musik Jawa, dan tarian khas Jawa. Dia mengajarkan bahwa Kristen adalah ngelmu atau ilmu tertinggi yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus. Namun Coolen masuk amat jauh ke dalam kompromisasi budaya di mana ia akhirnya meringankan jemaat Jawa untuk tidak perlu mengikuti perjamuan kudus, tidak perlu dibaptis, dan beberapa sakramen lainnya yang menurutnya hanya bersifat kebarat-baratan saja. Dari usaha keduanya itulah maka didapati kesimpulan bahwa tidaklah mungkin menjadikan orang Jawa menjadi orang Belanda jika dia masuk Kristen serta tidak mungkin juga sepenuhnya menjawakan agama Kristen agar orang Jawa masuk Kristen.
     Tunggul Wulung adalah orang pribumi asli yang turut menyebarkan agama Kristen di Jawa (1803-1885). Dia bernama Kyai Abdulah sebelum akhirnya diberi nama Baptis Ibrahim. Dia amat giat menginjil terhadap penduduk Jawa hingga Belanda sendiri gelisah karena takut terjadi kericuhan antara muslim dan Kristen akibat usaha injili dari Tunggul Wulung. Namun herannya selama penginjilannya dia tidak mengahadapi tantangan dari penduduk pribumi. Dia mengajarkan Kristen sebagai Ilmu tertinggi yang disajikan lewat mujizat kesembuhan. Dia terkenal dengan lafal-lafal Kristen seperti doa Bapa kami yang dilafalkan dsb. Pada saat itu Tunggul Wulung menjadi pribadi Jawa yang unik dikarenakan kebiasaan orang Jawa yang merahasiakan ilmunya tapi Tunggul Wulung justru menyebarkannya. Pada masa ini penyebaran kekristenan di Jawa masuk pada era revival. Setelah meninggal penginjilan Tunggul Wulung diteruskan oleh Kyai Sadrach muridnya (1840-1924). Penginjil lainnya dari Pribumi adalah Paulus Tosari (1813-1882). Dia adalah murid Coolen yang memimpin jemaat-jemaat Jawa yang diusir oleh Coolen karena mereka menerima baptisan. Mereka lalu mendirikan sebuah desa di hutan dan menamainya Mojowarno pada 1884. Paulus Tosari menjadi guru jemaat mereka dengan ibadah yang memakai tatacara barat namun gaya hidup sehari-hari tetap beridentitas jawa.
3.       Batak

                     Penginijlan di Batak dilakukan oleh Ludwig Nomensen pada 1834-1918. Ia adalah seorang yang gigih dan pemberani yang menginjil pada suku batak yang amat keras. Dia tidak menginjil dari pinggiran wilayah seperti para penginjil lainnya tapi dia langsung ke pusat Tapanuli atau mulai dari tengah. Sekalipun berkali-kali menghadapi tantangan berat dan mengancam nyawa namun akhirnya Nomensen berhasil menaklukan suku batak kepada Kristus. Hingga kini Sumatera Utara adalah satu-satunya propinsi di Sumatera yang mayoritas Kristen hasil dari benih awal yang dibawakan oleh Nomensen. Nomensen memusatkan penginjilan pada pendidikan sekolah dan pendidikan pendeta bagi pribumi. Dia juga ahli dalam pengorganisasian gereja serta tata gereja. Dia menjadi Ephorus atau pemimpin gereja pertama bagi gereja Batak. Banyak orang Batak menyebutnya sebagai Rasul yang ditentukan bagi mereka seperti halnya orang katolik dan Protestan di Ambon yang meyakini Fransiskus Xaverius dan Joseph Kam sebagai Rasul yang dikhusukan Allah bagi mereka.

Sejarah Gereja Protestan di Indonesia

1.       

Latar Belakang
     Pada 1550 di Belanda saat itu Negeri tersebut mengalami penjajahan dari Spanyol yang beragama Katolik. Sementara di Belanda muncullah kaum-kaum Calvinis. Kaum Calvinis yang beraliran protestan ini ditindas oleh raja Spanyol. Dengan demikian terjadilah pemberontakan dan akhirnya Belanda Utara dapat merdeka pada 1590. Saat itu perang di Belanda masih berlangsung selama setengah abad lamanya. Portugal yang saat itu turut menjadi jajahan Spanyol turut terjun dalam perang tersebut sebagai rekan Spanyol. Di Belanda Utara yang sudah lebih dulu merdeka agama Katolik menyusut sebab ditekan karena dicurigai menjadi mata-mata Spanyol.Jadi ketika awal Belanda tiba di Indonesia pada 1596 di Belanda masih berkecamuk perang melawan penjajah Spanyol dan Portugal.
     Saat tiba di Indonesia ternyata Portugal sudah lebih dahulu menjejakan kakinya di sini. semangat perlawanan kedua kubu di Eropa tersulut dan berlanjut di Indonesia. Hal ini turut berimbas pada persaingan agama kedua belah pihak. Di mana Portugal menyebarkan Katolik dan Belanda menyebarkan Protestan. Satu kemenangan bersejarah Belanda atas Portugal terjadi di Ambon. Di mana Belanda di bawah pimpinan Admiral Stephen Van der Haghen berhasil menumbangkan Portugal di Ambon dan merayakan kemenangan itu pada hari minggu tanggal 27 Februari 1605 dalam sebuah Ibadah syukuran. Dalam ibadah tersebutlah untuk pertama kali tata cara ibadah Protestan diperkenalkan di Indonesia.
     Pada 1602 Belanda membentuk VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) sebagai lembaga perdagangan dan pemerintahan yang wilayahnya meliputi Madagaskar hingga Magelhaes, wilayah itu mencakup Indonesia dan VOC bertanggung jawab penuh atas misi penginjilan Protestan di negeri-negeri jajahan Belanda. Lembaga inilah yang akhirnya menanamkan Kekristenan Calvinis di Indonesia. Ketika VOC dibubarkan pada 31 desember 1799 maka dengan sendirinya nusantara berada langsung di bawah jajahan pemerintah Belanda. Jadi periode 1605-1799 adalah periode di mana gereja protestan Indonesia berada di bawah kepengurusan VOC. Pada saat VOC mengurus sistem penginjilan dia menerapkan caranya dalam monopoli perdagangan. Siapa punya wilayah maka agamanya yang berlaku. Oleh karena itu Katolik merosot jauh saat Belanda menguasai Indonesia di mana para Imamnya diusir dan warga dipaksa memeluk protestan. Alasan para Imam katolik diusir karena dicurigai sebagai mata-mata musuh yaitu Portugal dan Spanyol.
2.       Hal yang menonjol
     Beberapa pendeta yang terkenal saat itu adalah Sebastian Danckaerts, Adrian Huselbos, dan Heurnius. Danckaerts selain pandai bahasa melayu juga memeperhatikan dunia sekolah. Atas usulnya setiap hari setiap murid sekolah mendapat jatah beras dari pemerintah Belanda. Dia membuka sekolah guru untuk melatih “penolong” yang cocok bagi pekerjaan di sekolah dan di jemaat. Di sinilah asal-usul kepengurusan gereja atau para pelayan pembantu. Huselbos adalah pendeta pertama yang membentuk Majelis Gereja di Jakarta. Di sinilah cikal-bakal Majelis dalam jemaat. Sementara Heurnius satu-satunya pendeta yang bekerja keras menginjil pada kaum tiong hoa di Indonesia, bahkan dia menerjemahkan pengakuan iman rasuli dan tulisan-tulisan Kristen ke dalam bahasa tiong hoa. Inilah cikal-bakal mengapa banyak orang tiong hoa Indonesia yang memeluk agama Kristen.
     Pada tahun 1733 terjemahan Alkitab ke dalam bahasa melayu secara utuh selesai dicetak. Alkitab bahasa melayu itu adalah terjemahan Melchior Leijdeker seorang pendeta Batavia  tahun 1678-1701. Gaya bahasanya amat tinggi sehingga perlu ditambahkan daftar kata-kata yang tidak dipahami. Sebelumnya sudah ada terjemahan Valentijn yang memakai bahasa sederhana namun banyak mengalami kesalahan dalam penerjemahannya karena mengikuti gaya bahasa sehari-hari. Terjemahan ini tidak diterima untuk dicetak, namun saat Valentijn berusaha menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa melayu, tidak ada pendeta lain yang giat menerjemahkan seperti halnya dia.


3.       Perbedaan tujuan
     Dalam naungan VOC yang lebih mengutamakan kepentingan dagang dan bisnis negara maka gereja akhirnya harus tunduk misi penginjilannya kepada misi perdagangan VOC. Para pendeta yang menginjil diawasi agar tidak ada yang sampai kegiatan kerohaniannya bisa menyulut pemberontakan terhadap Belanda. Para pendeta harus berhati-hati dan menempatkan kepentingan VOC di atas penginjilan. Hal itu nampak pada pemecatan dan pemulangan para pendeta yang dinilai VOC telah membahayakan dan menegur gaya hidup VOC yang berfoya-foya, menindas, dan bergelimang dosa. Dalam hal ini VOC memiliki kewenangan untuk memecat dan mengganti pendeta. Dalam kebaktian para pendeta diharuskan untuk memuji tindakan VOC dan berdoa memohonkan berkat Tuhan atas senjata-senjata mereka. Hal ini membuat para pendeta Belanda enggan datang ke Indonesia karena hanya akan menjadi budak VOC dan tidak bebas dalam memberitakan Injil. Mungkin hal inilah yang mnenyebabkan mengapa Belanda mendatangkan banyak penginjil dari Jerman. VOC juga menolak membangun suatu lembaga pendidikan Teologi dengan alasan keuangan. Selain itu VOC juga menolak mengangkat pendeta dari pribumi. Cornelis senen seorang tokoh penginjilan asal Banda tidak pernah ditahbiskan menjadi pendeta karena  ia tidak bisa lulus test menurut metodologi barat meskipun sepanjang hidupnya dia membaktikan diri dalam pelayanan. Akibatnya selama VOC berkuasa di Indonesia kekristenan mengalami kekurangan tenaga penginjil dan pengajar sehingga pengenalan Allah hanya seperti baju luar tanpa memahamai isi di dalamnya. Hal itu membuat jemaat masih terpengaruh tahyul kepercayaan leluhur dalam kekristenan mereka. Gereja Indonesia di bagian barat akhirnya menjadi gereja benteng dalam arti gereja yang dibentengi VOC dari penduduk mayoritas muslim. Di mana gereja tersebut menjadi Eropa Sentris sehingga dianggap umum sebagai rakyat yang terpisah dari pribumi yang seolah-olah kodratnya sebagai orang Indonesia asli pudar karena menganut agama barat. Sementara gereja di Indonesia timur menjadi gereja benteng pula dalam arti yang lain yaitu menjadi salah satu benteng kekuatan VOC untuk memperkuat dirinya dan kepentingannya dalam petualangannya di Indonesia.
Sesudah saman VOC
     Akibat kerugian terus-menerus oleh karena berbagai perlawanan dan ongkos perang serta para pejabat yang korupsi akhirnya VOC bubar pada 31 desember 1799. Sejak 1 Januari gereja yang tadinya diasuh VOC akhirnya dipegang oleh pemerintah Belanda secara langsung. Pemerintah lalu menyerahkan penginjilan kepada para lembaga swasta dan organisasi lingkungan Gereja Protestan di Indonesia atau GPI. Pada era ini munculah tokoh-tokoh Zendeling atau penginjil di Indonesia yang bersifat pietis atau revival.
1.       Para Zendeling (Pietis)
     Para Zendeling lebih kritis dan merdeka dalam menyampaikan suara Tuhan. Mereka bahkan berani menunjukan sikap kritis terhadap gereja, negara, dan kebudayaan setempat. Pemahaman mereka adalah sebagai berikut:
1.       Usaha penginjilan tidak perlu terikat dengan gereja sebagai lembaga yang mapan.
2.       Gereja tidak perlu terikat dengan negara.
3.       Kebudayaan setempat umumnya buruk karena itu perlu dijauhkan dari gereja.
4.       Bersifat individualistis di mana seseorang dicabut dari kolektifitas lingkungannya (keselamatan pribadi).
5.       Paternalistis, merasa lebih tinggi terhadap penduduk pribumi termasuk bagi mereka yang telah masuk Kristen.
6.       Mutu iman lebih bergantung pada manusia itu sendiri dan bukan lebih kepada kasih karunia Allah. Hal ini membuat banyak pelayan jemaat pribumi yang kompetensinya dalam pelayanan dan pengetahuan Firman dianggap rendah. Kalau sebelumnya para pelayan pribumi disepelekan karena ras maka sekarang mereka disepelekan karena ilmu dan keimanan.

2.       Dua wadah penginjilan
     Ada dua wadah penginjilan saat itu:
1.       GPI atau Indische Kerk, yaitu gereja negeri yang meliputi orang Kristen berkebangsaan Eropa dan kemudian turut bergabung orang Kristen pribumi.
2.       Lembaga-lembaga penginjilan swasta yang melakukan kegiatan di sejumlah daerah atas isin Belanda.
Ada dua hal alasan Belanda membentuk dua wadah penginjilan ini:
1.       Di Indonesia terdapat jemaat bekas asuhan VOC. Sebagai ahli waris VOC maka jemaat itu harus dipelihara dalam sebuah wadah gereja yang tertata baik yaitu GPI.
2.       Pemerintah Belanda sadar bahwa muslim umumnya memusuhi Belanda daripada memusuhi Kristen hingga ingin secepatnya agar daerah-daerah yang masih beragama suku dapat diinjili dan masuk Kristen bukannya islam. Karena itu Belanda meluaskan pekabaran injil lembaga-lembaga lain yang tidak di bawah pemerintah Belanda.

     Pada saat itu GPI terdiri dari gereja-gereja yang sudah mapan dalam struktur organisasi yaitu GPM Gereja Protestan Maluku, GMIM Gereja Masehi Injili di Minahasa, GMIT Gereja Masehi Injili Di Timor, GPIB Gereja Protestan Indonesia Barat, dsb. Selain wadah GPI ada juga gereja-gereja yang lain yang terbentuk secara sukuisme yaitu HKBP Huria Kristen Batak Protestan di Sumatera Utara, GKJW Gereja Kristen Jawi Wetan dan gereja-gereja minoritas hasil pekerjaan para Zendeling.

Thursday, February 21, 2019

Melayani Allah dalam pekerjaan


Lalu kata Yesus kepada mereka: “kalau begitu berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Lukas 20: 25

Ayat di atas sering kita pakai dalam hal menghikmati soal pajak kepada pemerintah dan persembahan kepada Allah. Tetapi jika kita bicara lebih luas soal apa yang wajib kita berikan kepada Allah ataupun pemerintah (bangsa dan negara) maka kiat akan menemukan kebenaran yang sejati dari pemberian diri kepada Allah dan bangsa itu sebenarnya adalah satu. Tidak ada satupun manusia yanga akn benar-benar melayani bangsanya ataupun pemerintahnya jika dia tanpa mau melayani Allah di dalamnya. Melayani dalam tugas kewajiban apapun terhadap pekerjaan dan pemerintah kita haruslah kita nikmati sebagai pelayanan dan ibadah kepada Allah hingga di sinilah kita meyakini bahwa segala seuatu adalah benar-benar ibadah di dalam Yesus. Jika itu adalah ibadah maka kita tentu akan sangat menjaga kebenaran di dalam usaha kita tersebut.
Memberi kepada Allah dengan benar berarti kita juga akan sadar bahwa kita harus melayani pemerintah dengan benar. Pemerintah dalam hal ini tidak hanya tertuju pada satu tatanan mereka yang sedang berkuasa dan mengatur keadaan negara tetapi menyangkut keseluruhan bangsa di mana manusia di dalamnya adalah suatu pemerintahan bersama yang bergotong-royong dalam apapun profesi mereka. Ya, kiat akhirnya sadar bahwa kita hendaknya melayani sesama dengan benar. Memberi kepada pemerintah ataupun kehidupan kebersamaan dalam suatu pemerintahan bersama dengan benar itupun berarti kita harus melakukannya seperti kita turut juga memberikan itu kepada Allah. Ya, pembaktian diri kita kepada Allah itu nyata tidak hanya lewat kegiatan rohani tetapi lewat seluruh hidup kita termasuk kegiatan kita dalam bersosial di manapun kita berada. Pemberian diri kita kepada pemerintah ataupun sesama itu akan benar dan baik adanya jika kita lakukan pula sebagai pemberian dir kepada Allah. Jika kesatuan dari kedua hal ini semakin erat maka kita tidak akan mudah terbebani oleh tanggung jawab melainkan menikmati banyak kepuasan sebab itu adalah ibadah dan ibadah memberikan kelegaan dan kepuasdan batin.
Di tengah keadaan dunia yang semakin pelik dan serba ingin cepat kita diperhadapkan dengan berbagai tuntutan tanggung jawab. Jika tanpa hikmat dan pemberian diir yang benar maka kita akan kelabakan. Jika kita telaah dan dalami renungkan secara cermat coba kita telusuri adakah manusia di kolong langit ini yang sanggup melakukan pembaktian diri dengan benar sepenuhnya dalam setiap tanggung jawab hidupnya? Kita tentu sadar bahwa kita semua dalam tahap belajar dan sepertinya untuk mencapai kesempurnaan tidak akan bisa. Ya, makanya kita butuh Yesus dan kita terima Dia dalam diri kita. Dia adalah Allah, satu –satunya Allah yang utuh sempurna dalam pemberian diri kepad manusia dan Dia juga dalam Pribadi Manusia Yesus telah menjadi Manusia utuh yang sempurna dalam pembaktian diri kepada Allah. Inilah mengapa kita dapat belajar memberi diri dalam hidup ini sebab kita memiliki Yesus yang sudah terlebih tahu bagaimana harus membaktikan diri dengan benar dalam segala tanggung jawab yang ada. Manusia duniawi yang tanpa Yesus sesungguhnya akan sulit menikmati kebahagiaan hidup dalam segala tanggung jawabnya. Tapi syuku bagi Allah bahwa kita dapat menikmati hidup ini dengan baik walaupun ada dalam berbagai tanggung jawab sebab Yesuslah yang memampukan kita. Mari kita tidak hanya membaca saja dan bertambah wawasan menjadi tahu akan hal ini tetapi mendoakannya setiap hari agar kita menikmati kebenaran ini dalam diri kita masing-masing. Merasakan bahwa Yesus itu sungguh nyata menguatkan kita dan menghibur kita secara pribadi. Amin

Pendidikan agama pada anak Yahudi dan Kristen


          Mazmur 78:5 telah ditetapkanNya peringatan kepada Yakub dan hukum Taurat diberiNya di Israel, nenek moyang kita diperintahkanNya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka. Pembinaan anak dalam taurat sangat jelas tergambar dalam Mazmur 78 dengan tujuan sangat jelas, yaitu:
1.        78:6, Supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak yang akan lahir kelak bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka.
2.        78:7, Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintahNya.
3.        78:8, Dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
          Pengajaran anak dalam hukum Taurat berbeda dengan konsep yang diajarkan dalam Talmud. Menurut Rabbi Lev Baesh dalam bukunya “The resource center for Jewish clergy of interfaith family”, berdasarkan Talmud maka orang tua diminta untuk mengajar anak mereka Taurat Musa untuk dunia sekuler seperti dalam perdagangan dan pelayaran. Hal ini membuat pengajaran Talmud telah melebar dan keluar dari nilai-nilainya yang murni. Hal yang membuat sudah tidak lagi fokus mendidik anak kepada amanat Tuhan dan kepada hukum Tuhan tapi akhirnya lebih focus kepada pendidikan menjalani bisnis kehidupan. Pandangan Taurat menurutnya juga telah dibatasi hingga Taurat menjadi tidak lebih dari sekedar buku dalam sejarah mereka. Taurat menjadi semacam panduan moral bagi Israel serta pembelajaran etika hidup seperti yang tersedia dalam teks Yahudi, sejarah, dan masyarakat. Pengajaran Taurat adalah mengajar tentang perilaku yang benar. Ini termasuk perawatan diri, perawatan orang lain, dan perawatan bumi. Perawatan cerita sejarah dan perjuangan, dan perawatan generasi mendatang. Taurat adalah tentang mengakses kebijaksanaan kuno dan terlibat dalam dialog modern untuk menemukan pembelajaran yang dalam dan paling relevan untuk hari ini.
          Namun bangsa Yahudi kehilangan esensi sesungguhnya dari Taurat yaitu konsep penebusan dan pengampunan dosa dari Dia yang penuh rahmat sehingga Dia datang menjadi jalan keluar dan penggenapan yang sempurna atas TauratNya sendiri dalam kehidupan Yesus Kristus Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela sebagai korban yang kekal. Sangat diharapkan agar pelajaran agama Kristen pada anak-anak kita tidak sama halnya dengan Yahudi yang kehilangan tujuan Allah dalam pembelajaran itu yaitu menerima keselamatan dan meyakini keselamatan itu di dalam Kristus. Sebab soal ilmu agama maka Yahudi amat fasih dan taat beribadah tapi mereka tidak mendapati Pribadi Allah yang nyata di dalam Kristus sebagai penggenapan dari apa yang mereka pelajari dan dalami. Demikian pula PAK di sekolah hendaknya menjadi jalan bagi siswa untuk menemukan Kristus secara pribadi dalam keberimanan mereka masing-masing.
          Pengajaran Kristen sebenarnya lebih terbuka terhadap sekulerisasi daripada pengajaran Yahudi dalam Talmud dan Taurat. Namun titik lemahnya Taurat dan Talmud adalah jika semakin dibawa ke dalam dunia sekuler maka keilahiannya akan semakin berkurang dan tampak seperti menyalahi Allah. Itulah sebabnya Yahudi sejati sebenarnya membedakan antara hukum agama dan hukum dunia. Iman Kristen kita di dalam Kristus memiliki keutuhan dari kegenapan hukum Taurat yaitu Kristus itu sendiri. Dialah yang menjadi dasar dan landasan Kitab suci dan hidup kita. Hingga dalam Dia segenap firman Allah tidak akan tercemar jika dibawa dalam ranah sekuler. Justru itulah yang Dia mau, yaitu Dia semakin dinyatakan dalam dunia. Hukum yang benar dan sejati tidak akan tercemar tapi justru akan menyucikan dan memurnikan. Tapi hukum lahiriah terbatas sifatnya dan mudah tercemar oleh keberdosaan dan keterbatasan manusia sebagaimana Rasul Paulus mengatakan justru oleh Taurat dia mengenal dosa dan dosa giat bekerja dalam tubuhnya. Namun Hukum yang memerdekakan sudah datang yaitu Kristus, agar di dalam Dia kita semakin mendalami Allah dan menikmati Hukum yang membebaskan dari dosa. Bukan lagi bersandar pada daya upaya kita dalam menaati, tapi dalam penyerahan kita untuk pekerjaan Allah di dalam kita untuk menyatakan hukum itu menjadi hidup dalam hidup kita. Inilah Hukum yang mengalahkan dosa.
          Pada abad pertengahan gereja sempat tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Allah dengan baik. Barulah pada masa reformasi gereja maka gerakan pengembalian pada pengajaran Alkitab yang baik dibangkitkan kembali. Pendidikan Kristen terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali khususnya dalam katekismus (Katekisasi). Namun kurangnya orang yang terlatih sebagai pekerja gereja atau pelayan dalam jemaat membuat pengajaran itu mundur. Kegiatan itu hanya menjadi simbolisasi dari prasyarat bagi anak-anak untuk menerima konfirmasi (baptisan sidi dan baptisan selam). Hingga kini gereja-gereja masih banyak yang mengabaikan atau tidak begitu peduli pada sistem pendidikan Alkitab bagi jemaatnya secara umum. Mereka meyakini pembagian firman secara berkala lewat ibadah rutin sudah cukup untuk memperkuat dan memperkaya jemaat dalam Firman. Padahal ada banyak hal terperinci dan khas yang hanya didapati dalam sistem pengajaran gereja. Oleh pengajaran yang berkelanjutan baik di sekolah, di gereja, dan bahkan di rumah bagi anak-anak, maka jemaat tidak akan menjadi jemaat yang awam tapi fasih Alkitab dan bertumbuh iman di dalam Kristus. Setidaknya pada awal abad 18 setelah masa-masa reformasi gereja barulah Robert Raikes seorang wartawan Inggris menggalakan kembali pengajaran Firman pada anak-anak lewat gereja-gereja yang ada. Pelayanan anak itulah yang sampai kini kita kenal dengan nama sekolah minggu atau Sunday School.
          Pada saat itu Eropa mengalami masa-masa haus  dalam memberi pengajaran pada anak-anak Kristen. Mereka mengajari anak-anak mereka bukan hanya di gereja tapi di rumah mereka masing-masing (Ulangan 6:4-7). Selaras dengan keluarga-keluarga Yahudi yang mengajari anak-anak mereka di dalam ruang lingkup keluarga sebagai tempat pendidikan agama yang paling utama bagi anak. Sejak sebelum usia 5 tahun anak mereka telah dididk oleh orang tuanya untuk mengenal Allah  yang mereka sembah. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 sm), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada  Taurat Tuhan maka dibukalah sinagoge di mana mereka dapat belajar firman Tuhan secara bersama. Orang tua wajib mengirimkan anak-anak mereka sejak usia di bawah 5 tahun. Di sana mereka diajari oleh guru-guru ahli Taurat dan dikelompokkan dalam jumlah 25 orang untuk saling bertanya jawab dengan guru mereka. Sangat menarik jika anak-anak Kristen dalam sistem pelajaran Alkitab di sekolah minggu dapat dibangun pembelajaran seperti ini dan tidak melulu dengan cerita-cerita Alkitab yang diulang-ulang. Sebagaimana anak Yahudi yang lain Yesus pun melewati masa-masa Dia harus mendalami agama di sinagoge. Bahkan di usia 12 tahun Dia sudah bisa bersoal jawab dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Tradisi yahudi dalam mendidik anak dengan ketat terus berlangsung hingga saman Rasul-Rasul (Timotius 3:16).
          Seiring perkembangan saat ini kita kaum Kristen mulai enggan memberi pengajaran Alkitab kepada anak di rumah sendiri sebab berpikir bahwa pengajaran di gereja sudah cukup. Ini amat keliru sebab pengajaran Alkitab dalam rumah membuat keluarga memiliki hubungan yang akrab tidak hanya dalam kegiatan sehari-hari tapi dalam hubungan yang erat dengan Tuhan yang mempersatukan keluarga tersebut dalam FirmanNya yang dibagikan setiap hari. Pada masa gencarnya pengajaran Alkitab dalam keluarga di Eropa, mereka memiliki kebiasaan membagikan Firman tiap selesai makan malam. Biasanya seorang ayah yang akan membuka Alkitab dan menjelaskannya pada seisi rumah untuk didalami bersama. Kita tidak perlu mengikuti gaya pengajaran seperti itu dalam hal ini penerapan lahiriahnya. Tapi setiap keluarga dapat menyesuaikan waktu dan cara membagikan firman secara bersama sesuai dengan keadaan kesibukan mereka. Dalam pembelajaran Firman secara berkala meski tidak setiap hari, maka keluarga Kristen memiliki tali ikatan yang erat sebagai anggota keluarga Kristus yang bertumbuh dan dibangun di dalam Kristus.
          Berikut ini adalah faktor positif yang umum yang menjadi ciri khas bangsa Yahudi karena mereka berusaha mentaati Taurat dan Talmud serta memelihara pengajarannya.
1.        Mereka menjadi bangsa yang penuh misteri, kecil tapi kuat, sedikit tapi menyebar di seluruh dunia sebagai bangsa yang ada di mana saja. Meski menyebar tapi kemurnian keagamaannya tetap terjaga. Tidak bertanah air dan tak punya raja tapi selalu menonjol di negeri mereka berada dan memberi pengaruh yang kuat. Dianiaya tapi tetap bertahan dan berkembang serta berkelimpahan. Uniknya mereka tetap memiliki identitas yang kuat bukan dari kesukuan dan budaya bahasanya tapi terletak pada keagamaannya. Hal yang tidak ada pada bangsa lain di muka bumi ini.
2.        Bagi para penganut Yudaisme yang taat yaitu mereka yang pernah ditantang Paulus dalam kitab Galatia karena mengajarkan sunat pada kaum Kristen, kehidupan harus berpegang teguh pada Taurat dan tradisi agamawi. Tingkah laku mereka amat tertata dalam hukum dan amat taat secara lahiriah melebihi ketaatan umat beragama manapun juga di dunia.
3.        Budaya mereka adalah satu-satunya budaya bangsa yang paling mengedepankan pendidikan dibanding bangsa-bangsa lain yang ciri khas budayanya terletak pada kesenian dan bahasanya. Ciri khas budayanya terletak pada pengetahuan agamanya itulah yang menjadi dasar mereka mendalami pengatahuan lainnya. Selaras dengan Firman “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
          Seharusnya prinsip Kristiani dalam menjalankan pengajaran dan keteguhan imannya dalam Firman sama halnya dengan Yahudi. Meski mereka hanya taat secara lahiriah dan bersandar pada hukum tertulis yang membawa pada kebinasaan karena fana sifatnya namun kita justru yang sudah dalam Kebenaran dan kegenapan hukum Allah dalam Yesus Kristus harusnya lebih giat dalam memperhatikan kelangsungan Firman yang kita miliki. Jika setiap keluarga peka akan hal ini maka tidak akan  ada anak-anak Kristen yang menyangkal iman dan berpindah keyakinannya. Sebab Israel lahiriah hanya memelihara hukum lahiriah dan mendapat berkat lahiriah pula, keduanya cemar dan fana sifatnya, setaat apapun ujungnya pada ketidaksempurnaan karena tanpa Hukum hidup yang menjadi kegenapannya. Tapi kita Israel Rohani masuk dalam pemeliharaan hukum Rohani yang memelihara kita untuk kita dimampukan memeliharanya.Sebab Hukum itu adalah Pribadi yang menggenapkan dan utuh di dalam Kristus. Di dalam Dia sebagai kegenapan Hukum Allah yang kita terima maka kita memelihara dan menerima berkat Rohani dan tidak hanya berkat jasmani. Inilah kelebihan kita dibanding Israel lahiriah yang menolak Kristus sebagai Hukum Rohani dan Berkat Rohani bagi mereka. Alangkah malangnya jika gereja hanya peka terhadap Firman sebagai surat atau hukum tertulis yang harus ditaati tanpa menyadari dan membagikan bahwa Firman yang kita miliki itu adalah Pribadi Kristus lewat Roh Kudus sebagai Firman Hidup yang memperhidup kita untuk saling menghidupi. Dalam hal ini gereja membina anak-anak dan  jemaat dalam pengajaran yang mengarahkan mereka kepada Kristus sebagai Pengajar pribadi di dalam mereka yang hadir dalam wujud Roh kudus yang ada pada setiap orang percaya. Ini adalah pemberdayaan dan kemandirian iman yang meski sebagai jemaat saling berinteraksi dalam persekutuan iman namun secara pribadi menjadi umat Kristen yang kuat dalam iman kepada Kristus.
          Berikut ini adalah konsep dan prinsip dari pendidikan agama Yahudi:
1.        Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah.
2.        Menurut konsep yahudi modern tidak ada perbedaan nilai antar duniawi dan rohani, semuanya ada dalam wilayah Tuhan. Itulah Yahudi percaya dalam kebergantungan mereka terhadap Taurat maka seluruh hidup adalah suci meski hati nurani mereka tidak dapat menyangkal bahwa mereka tidak utuh dalam kesanggupan menggenapinya. Yang unik adalah mereka sendiri sering melanggar prinsip ini jika mereka mau menonjolkan keagamaan mereka dan kesucian mereka yang mereka yakini melebihi bangsa lain. Mereka akan menyatakan bahwa hukum agamawi mereka tidak bisa dinilai secara dunia.
3.        Pendidikan berpusatkan kepada Allah. Kegagalan campur tangan Allah adalah kegagalan bangsa, (Habakuk 2:10). Bagi anak Yahudi tidak ada buku lain yang memiliki keharusan dipelajari selain Taurat untuk menjadi pegangan dan pelajaran tentang Allah dan karyaNya serta bekal hidup yang amat berharga. Taurat tidak hanya sebagai pelajaran agama, tapi menjadi semacam dasar dari bangsa Yahudi dan negara Israel. Taurat menjadi budaya dan ciri khas mereka. Taurat adalah hidup mereka. Mereka percaya teguh bahwa Taurat satu-satunya jalan berhubungan dengan Allah dan sesama dengan benar. Suatu sistem atau tata kehidupan yang tidak hanya mengatur keagamaan tapi aspek sosial, kesehatan, dan moral.
4.        Pendidikan adalah nilai utama dan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kitab Talmud dikatakan kalau ingin menghancurkan bangsa Yahudi kita harus membinasakan guru-gurunya. Bangsa Yahudi adalah bangsa pertama yang memiliki sistem pendidikan nasional (Ulangan 6:4-9).
Tinjauan:
1.        Jika kita meletakkan dan percaya dasar Iman kita adalah yang seluruh kebenarannya terletak di dalam Allah, maka kita harus mengimaninya di dalam Kristus. Sebab keutuhan kebenaran Allah itu adalah Kristus. Seluruh kebenaran Allah yang tercakup dalam Taurat Israel digenapi Allah di dalam Kristus.
2.        Di dalam Kristus sebagai dasar kebenaran dan iman percaya kita maka kita yang dahulu tinggal dalam dosa kini berpindah pada KerajaanNya yang terang dan suci. Kita masuk pada penyucian Allah yang berlangsung setiap hari dan menjadi Hidup di dalam hidup kita. Dahulu kita ada dalam wilayah dosa kini seluruh hidup kita ada dalam wilayah Allah dan kebenaranNya. Perbuatan kita bukan untuk membenarkan diri di hadapan Allah tapi untuk menyatakan kebenaran Allah di mana kita sudah tinggal di dalamNya. Hidup sesuci apapun yang ditempuh dan yang tampak secara lahiriah dalam berbagai moral penyangkalan diri manusia itu sia-sia adanya dan kotor di hadapan Allah jika di luar Kristus. Melainkan di dalam Kristus kini seluruh hidup kita dan apa yang kita kerjakan dan perbuat jika dibawa di dalam Dia dan menikmati Dia sebagai dasarnya maka akan berolah penyucianNya dan pemurnianNya, itulah KebenaranNya bagi kita hingga kita akan menikmati dalam hal ini tidak ada lagi duniawi, yang ada adalah hidup yang telah menjadi ibadah sejati di dalam Dia.
3.        Sangat penting untuk sejak dini kita memperkuat anak-anak kita dalam keberimanannya terhadap Kristus dan Alkitab yang adalah bagian dari Kristus sebagai Firman yang Hidup dan yang utuh. Sebagaimana anak-anak Israel sejak kecil telah dididik dengan kuat dan ketat untuk berpegang teguh pada Taurat yang justru sulit dan membebani dan tidak mungkin tergenapi oleh manusia maka anak-anak Kristen selayaknya dididik untuk kuat dan mencintai Kristus sebagai Firman yang hidup bagi mereka dengan Alkitab sebagai landasannya.
4.        Jika bangsa Yahudi bisa hancur jika guru-gurunya dibinasakan maka kita memiliki Guru Sejati yang tidak akan binasa oleh apapun yaitu Kristus. Dia adalah Allah yang perkasa dalam FirmanNya yang bahkan dalam rupa Roh Kudus tinggal diam di dalam kita orang percaya hingga kita tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Jika dalam Taurat pengajarannya hanya terpusat dari guru-guru manusia sebagai pengajarnya maka dalam Kristus kita tidak hanya memiliki guru-guru sebagai pengajar. Mereka hanyalah sarana Allah untuk kita dapat saling berbagi dan tahu bahwa ada Pengajar di dalam setiap kita yang harus kita nikmati secara pribadi. Jika setiap orang Kristen mencapai tahap perjumpaan pribadi dengan Allah dalam Kristus dan menikmati pengajaranNya secara pribadi setiap hari, maka kita memiliki betul Pengajaran dan Pengajar yang abadi yaitu Dia sendiri di dalam kita dalam wujud Roh Kudus.

“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, dan tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” (1 Yohanes 2:27).

Sangat indah dan kuat jika setiap kita mencapai tahap ini. Inilah perbedaan antara pendidikan Agama Kristen dengan pendidikan agama dari agama-agama lain termasuk Yahudi. Kepercayaan lain bersandar pada pengajar-pengajar manusia tapi kita tidak bersandar pada pengajar manusia sebab mereka adalah sarana Allah untuk saling memperlengkapi dan saling membukakan secara bersama-sama dalam Roh Kudus sebagai Pengajar sejati kita akan Kebenaran Allah yang mengurapi kita semua untuk menjadi pengajar dalam hidup ini. Sejak masa kanak-kanak orang Kristen hendaknya dididik mengarah kepada kedewasaan ini.

          Dalam pendidikan Yahudi juga menerapkan pembagian tahap usia. Pada usia sekitar 5 tahun anak-anak diberi pelajaran dasar membaca Taurat. Bahkan mereka belajar membaca dari kitab Taurat. Pada usia 10 tahun mereka mulai diberi pengajaran dan pemahaman lewat sistem Misyna yang berarti bahan ulangan yang perlu dihafalkan. Pada usia 12-13 tahun anak-anak bahkan sudah wajib mentaati hukum taurat dan peraturan Yahudi yang disebut Mitswoth. Pada tahap ini anak laki-laki Yahudi yang baru menanjak remaja di sebut “Anak-anak hukum Taurat” atau Bar-Mitswa, yaitu pada usia 13 tahun tambah 1 hari. Selain itu pada masa setelah pembuangan di babel, orang Israel menambahkan satu sistem baru yang unik dalam pendidikan mereka yaitu Syemone Esre yang adalah doa yang terdiri dari 18 pengucapan dan diucapkan setiap hari (Pagi, sore, malam) dalam ibadah di Sinagoge. Dalam sesi pembacaan Taurat dan pengajarannya kepada kaum dewasa, anak-anak mendalami sesi Syema Yisrael yaitu pengakuan iman dan pengucapan syukur yang dibaca setiap hari (pagi dan malam) dalam ibadah di sinagoge.

          Pada tahun 75 sebelum Masehi yakni sebelum Kristus lahir, bangsa Yahudi mengadakan semacam sekolah dasar yang disebut Beth-ha-sefer artinya rumah sang kitab (Bet=Rumah, Sefer=Kitab). Di sekolah ini pengetahuan tentang taurat dibaca berulang-ulang dan harus dihafalkan oleh anak-anak Yahudi. Sejak usia 6-7 tahun murid sudah mulai dibawa oleh orang tua mereka ke sekolah ini. Sekolah ini tujuannya hanya murni Taurat. Setelah anak masuk pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu di usia 10-11 tahun mereka dikirim ke Beth-ha-Midrasy (Beth=Rumah, Midrash=Pengajaran). Tujuan sekolah ini adalah selain mempelajari isi harafiah Taurat tapi juga mempelajari manfaat dan maknanya. Sejalan dengan timbulnya sekolah timbul pula pentingnya jabatan guru. Dalam kebudayaan Yahudi seorang guru begitu dihormati, sehingga murid patut menunjukkan pengabdian kepada guru sama seperti budak kepada majikannya kecuali pada hal yang paling rendah yaitu membuka tali kasut.

Wednesday, February 13, 2019

Akibat dari pendidikan agama yang salah


          Pendidikan agama yang salah atau keliru tidak memberdayakan siswa untuk bernalar dan terlalu doktriner, menyebabkan orang menjadi fanatik dan radikal buta demikian menurut direktur Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Lebih lanjut dia berkata bahwa metode pendidikan di sekolah bermasalah karena anak-anak dipaksa untuk menghafal dan bukannya bernalar. Itu akan menimbulkan kefanatikan yang salah dan jika di sulut dengan api semangat kebencian akan menimbulkan radikalisme. Jika sudah begini maka tujuan pendidikan agama di Indonesia gagal.
          Pendeta Albertus Patty ketua Gereja Kristen Indonesia mengatakan pendidikan agama di sekolah terlalu dogmatis dan tidak sesuai konteks di Indonesia. Menurutnya dogmatika tersebut hanya akan menimbulkan sekat-sekat teologis di kalangan Kristen sendiri dan antar agama lain. Dogmatika hanya berlaku di gereja masing-masing dan PAK di sekolah hanyalah pengenalan umum. Di kalangan antara organisasi gereja saling menuduh kafir dan saling melakukan “kristenisasi”. Ironisnya ini terjadi hingga saat ini lanjutnya. Hal itu menyebabkan umat berpikir bahwa kristenisasi sudah menjadi sebuah ideologi gereja. Menurutnya undang-undang sistem pendidikan nasional yang menimbulkan sekat-sekat agama akan membuat orang menjadi eksklusif dan primordialis. Mereka akan menganggap diri sebagai yang paling benar di hadapan Tuhan dan bisa berlaku apa saja atas dasar keyakinan bahwa dia berhak melakukannya karena dia berkenan kepada Tuhan dan yang lain tidak. Penting sekali adanya pemberdayaan pendeta dan tokoh agama lainnya hingga mereka berwawasan plural.
          Ungkapan kedua tokoh di atas terjadi dalam diskusi pendidikan agama di sebuah sekolah pada tahun 2010. Secara pribadi saya melakukan peninjauan tentang akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh pendidikan agama Kristen yang salah. Baik yang berpengaruh lebih ke arah pribadi dari orang tersebut maupun yang jelas berdampak ke luar.

1.        Gagal mengenal Allah dengan benar.
Seorang kehilangan gambaran yang benar tentang Allah sebab pendidik atau sistem dan bahan  pendidikan yang salah. Peserta didik gagal menemukan pribadi Kristus dalam KeutuhanNya yang sempurna dan satu kesatuan sebagai Manusia Allah dikarenakan peserta didik tidak dimotivasi atau diperkenalkan untuk  masuk pada pengenalan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan lewat pendidikan yang dia terima.
2.        Gagal mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.
Seorang pada akhirnya hanya dapat mengenal Kristus lebih dari pendidikan dari luar yang selalu dia terima dan tidak pernah sanggup atau mau untuk masuk pada pendalaman pengenalan akan Allah secara pribadi dalam dirinya dan hidupnya hingga dia benar-benar teguh dan mengenal Allahnya dalam iman. Hal ini biasanya timbul jika gereja dan sekolah tempat dia dididik agama Kristen hanya lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran yang baku. Gereja hanya  menjadi tempat dia berkegiatan secara sosial selaku warga jemaat di mana secara lahiriah dia tampak rajin beribadah dan melakukan kegiatan gerejawi tapi secara batiniah dia tidak benar-benar kuat di dalam iman. Mereka tidak mengenal jelas dan dalam tentang Kristus serta mengimaninya. Secara pribadi saya amat sering bertemu orang-orang dan teman seperti ini. Mereka bisa saja fasih berbicara tentang gereja dan Tuhan tapi tidak mengalami Dia secara batiniah dalam iman.
3.        Fanatisme buta terhadap agama atau gerejanya.
Seorang yang gagal mencintai Allah dengan benar sebab secara langsung atau tidak langsung dan sadar atau tidak sadar mereka terbawa pendidikan yang membuat mereka menjadi pribadi yang lebih mencintai gereja dan agamanya dengan pandangan yang salah. Sikap ini membuat mereka merasa yang paling benar dan bahkan ada yang tidak sadar kalau dia sedang memusuhi gereja atau agama yang lain. Padahal Kristus datang lebih untuk menjadikan kita gereja secara pribadi dan bukan mendirikan agama secara organisasi atau kelompok pemercaya. Dia datang dan berkenan diterima oleh kita untuk menjadikan kita pribadi yang mengasihi Allah dengan benar. Jika kita semakin mengasihi Allah dalam pengenalan yang benar akan Dia maka kita akan mencintai dan bangga kepada agama dan gereja kita dalam konteks dan paham yang benar, yaitu dalam iman kepada Kristus dan bukan bersandar pada dogmatika dan pemahaman manusia.
4.        Memperuncing perbedaan agama dan perbedaan denominasi gereja.

Pengajaran yang salah dari pihak gereja adalah ketika jemaatnya justru menjadi pribadi yang amat terikat dengan gerejanya dalam hal keimanan. Maksudnya bahwa mereka lebih percaya kalau hanya gereja mereka yang berhak selamat dan paling benar. Gereja berusaha mengikat jemaatnya untuk setia dan tidak berpindah ke gereja lain dengan membawa jemaat untuk bangga dengan gereja sendiri, cinta dan yakin akan gerejanya sendiri hingga tanpa sadar jemaat justru dibawa untuk cinta dan beriman akan gerejanya lebih dari cinta dan beriman kepada Kristus. Padahal jika jemaat mencapai kedewasan Kristus dalam diri mereka maka mereka akan menjadi pribadi yang berwawasan luas dan pluralisme tapi tetap setia dan bangga akan gerejanya di mana ia berada dan bertumbuh.

Pendidikan Agama Kristen sebagai salah satu alat untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.


          Salah satu fungsi orang tua di rumah adalah sebagai pendidik. Oleh sebab itu sebagai pendidik mereka juga harus berupaya mengetahui prinsip-prinsip peningkatan kualitas belajar dan mengajar seperti dimiliki para pendidik dalam hal ini guru, rohaniawan, dan orang tua. Pendidik bukan hanya bertugas untuk menyampaikan informasi atau bahan ajaran kepada peserta didik, tapi harus berupaya agar peserta didik menjadi mengerti, memahami makna dan menerima apa yang diajarkan bahkan mempraktekannya dalam kehidupan. Pendidik harus mendorong peserta didik memahami secara berkelanjutan karena belajar merupakan proses yang dinamis dan mengarah pada terjadinya perubahan. Perubahan akibat hasil belajar menyangkut ranah kognitiv (memperoleh pengetahuan dalam pengalaman sendiri), efektif, dan psikomotoris. Untuk mencapai semua ranah itu, maka proses belajar mengajar harus memperhatikan teori belajar dan gaya belajar, yaitu belajar sebagai kemampuan manusia menyimak apa yang diminati dan dipelajarinya. Belajar sebagai pengembangan daya dalam diri manusia dan pembentukan tingkah laku.
          Sebab tidak ada manusia di dunia ini yang benar-benar sukses belajar maka  satu-satunya yang sukses itu datang. Dia adalah Kristus, Pribadi yang sukses belajar tentang Allah dalam KemanusiaanNya dan yang sukses mengajarkan Allah dalam KeAllahanNya. Keduanya satu di dalam Dia sebagai Manusia Allah, Anak Allah dan Anak Manusia. Dalam Dia barulah manusia bisa belajar dan mengajar dengan benar. Oleh Dia kita menerima Roh Kudus yaitu Dia sendiri dalam Wujud Roh yang tinggal di dalam kita. Dia menjadi Pengajar di dalam kita, agar kita belajar dalam segala hal oleh karena Dia dan kita juga bisa mengajar dalam segala hal oleh karena Dia. Saat kita belajar kita tahu bahwa kita turut mengajar diri dalam ajaran yang kita terima, itulah murid yang benar. Saat kita mengajar kita juga menikmati ajaran kita sebagai pengajar bagi kita yang turut diajari oleh ajaran itu sebab ajaran itu adalah Kristus. Pengajar yang benar adalah dia yang juga menjadi murid dalam ajarannya. Kita mengajar dan diajar dalam Ajaran kita sebab Ajaran itu adalah Kristus dalam hal PribadiNya yang kita nyatakan. Ini bukan sebatas hikmat pikiran atau akal kemampuan otak manusia lahiriah semata, tapi Ajaran dan Hikmat Allah sejatinya berbicara tentang keutuhan diri kita dan Dia yang ada di dalam kita.  Ini menyangkut batiniah kita yang merasakan dan mengimani Hikmat Ajaran itu dari dalam diri. Jika demikian Pengajaran itu bersifat kekal sebab bersumber dari Pribadi yang kekal yang tinggal di dalam kita dan berkarya di dalam kita serta nyata kita rasakan. Pengajaran itu tidak akan pernah habis dan usang dan tidak muncul oleh hikmat kepintaran otak dan akal kita tapi muncul secara alami oleh karya Roh Kudus dari dalam batin dan hati yang sudah diperbaharui dari hari ke hari di dalam Kristus sebagai sang Pengajar.
“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia”. (1 Yohanes 2:27).
“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,” (Efesus 4:21).
“Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala da pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengethuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:11-15).
          Secara profesi dalam pelayanan memang ada orang-orang yang ditetapkanNya menjadi Rohaniawan bagi jemaatNya. Tapi dalam Keutuhan Allah yang ada di dalam setiap orang yang percaya maka kita semua meiliki Roh Kudus dan mendalami hidup dalam Dia sebagai rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar. Sebab Roh Kudus di dalam kita adalah pribadi yang mencakup kelima jawatan itu dan bekerja di dalam kita dalam kelima pekerjaan tersebut. Oleh Dialah kita menjadi rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar Allah bagi dunia lewat seluruh hidup kita dan di manapun kita berada. Keutuhan dari semua jawatan Allah itu sudah terwujud dan terbukti secara sempurna di dalam Kristus. Kelimanya terwujudnyatakan dalam satu kesatuan yang utuh, itulah kesejatian dan kekekalan dari kelima jawatan itu. Saat Yesus menunjukkan diriNya sebagai Mesias utusan Allah atau Rasul Allah, Dia juga telah menyatakan keempat jawatan itu di dalamnya. Demikian pula halnya dengan keempat jawatan yang lain. Berbeda pekerjaan yang tampak tapi satu hakekat dan maknanya sebab berasal dari satu Inti yaitu Allah dan satu tujuan yaitu kembali kepada Allah. Sungguh luar biasa kemuliaan kekayaan Allah dalam Yesus yang dinyatakan bagi kita yang terus mau menikmati dan mendalami Dia secara pribadi.

          Oleh karena itu PAK sangat berguna dalam hal menyatakan fungsinya untuk membuat siswa masuk pada pengenalan Allah secara pribadi di dalam Kristus. Mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang teguh, cakap, berhikmat, berwawasan luas dan berkebangsaan yang beriman dan berdasar kepada Allah. Mereka tidak akan digoncangkan oleh rupa-rupa angin pengajaran manapun. Tugas para guru dan pendidik baik di sekolah, gereja, atau di rumah adalah membawa mereka pada pengenalan itu lewat berbagai kurikulum, metode, atau sarana yang ada.

Pendidikan Agama Kristen sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional


          Bangsa Indonesia memiliki banyak perbedaan kemajemukkan tidak sebagaimana bangsa-bangsa yang lain. Kita punya banyak suka, sub suku, etnis, golongan dan agama. Semua perbedaan itu seringkali menjadikan pertentangan yang menjurus pada perpecahan dan permusuhan, bahkan pertikaian serta pertumpahan darah. Oleh sebab itu PAK di Indonesia selayaknya meminimalisir semua hal tersebut dengan berbagai cara lewat pendidikan itu sendiri. PAK harus membimbing peserta didik agar mampu memahami adanya bermacam-macam agama yang meski siswa meyakini dalam Kristus bahwa keselamatan ada di dalam Dia, tapi oleh karena itulah maka siswa dapat belajar wawasan yang luas yang senggup memandang perbedaan sebagai satu realita akibat dosa dunia. Siswa sanggup berdiri sebagai pribadi yang teguh dalam Kristus yang justru oleh keteguhannya itu dia sanggup menerima berbagai kepercayaan dan pandangan yang ada di sekelilingnya dalam ruang lingkup pergaulan sosial yang merata dan saling berbagi. Dalam tahap yang paling dalam jika siswa telah sanggup masuk pada perjumpaan pribadi dengan Kristus dalam hidupnya maka dia akan menikmati kenyataan dan penyataan firman Allah dari dalam dirinya. Ini hal yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan orang Kristen dalam pengenalan dan hubungannya dengan Allah. Jika itu telah dinikmati maka siswa Kristen menjadi pribadi yang benar-benar teguh dan mampu memberitakan Kristus dalam berbagai cara tanpa harus menonjolkan perbedaan agama sebab sejatinya Kristus bukanlah agama tapi kebenaran dalam kepercayaan dan hubungan manusia dengan Allah. Sebagaimana ada ayat yang berbunyi bahwa sebagai anak-anak Allah bagi dunia yang majemuk kita harus cerdik seperti ular tapi tulus seperti merpati. Dia yang cerdik dan tulus sudah datang. Dalam Dia kita belajar bagaimana kecerdikan dan ketulusan yang benar. Sebab cerdik tanpa ketulusan itu licik dan menipu, sementara tulus tanpa kecerdikan itu pongah dan bodoh. Kristus adalah Pribadi yang sudah nyata menunjukkan kesempurnaan dalam kecerdikan dan ketulusan. Dalam cerdikNya Dia tulus, dalam tulusNya Dia cerdik. Keduanya menjadi satu di dalam Dia.
          Siswa dengan demikian mampu mencapai kedewasaan iman sesuai terang injil Kristus dan menerapkannya dalam setiap aspek kehidupannya sehari-hari untuk semakin membentuk jati dirinya sebagai manusia Indonesia yang berwawasan kebangsaan, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, serta mewujudnyatakan kesetiakawanan sosial. Sebab Kristus telah lebih dahulu menyatakan semua sifat tersebut dalam hidupNya sebagai Manusia Allah dan Dia sukses. Dalam pengenalan akan Dia baru kita belajar berwawasan luas dalam berkebangsaan, tahu menjunjung arti dari suatu persatuan, dan kesetiakawanan sosial. Tanpa Kristus semua itu sia-sia sebab yang kita pelajari hanya dunia sifatnya dan fana adanya. Tidak ada kesejatian, kebenaran, dan kekekalan di dalamnya.

          Ini berarti PAK harus diberlakukan dari SD sampai perguruan tinggi karena memperhatikan aspek-aspek di atas dengan memperhatikan hal-hal yang menyangkut kehidupan berbangsa, kurikulum pendidikan nasional, kemajemukan masyarakat, dan tidak lepas dari situasi politik dan budaya bangsa. PAK di Indonesia tidak boleh menjadikan peserta didik menjadi anti nasional yang tidak merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan negara kesatuan republic Indonesia. Justru lewat PAK yang mengarahkan kepada Kristus maka kita akan memiliki rasa nasioanlis yang benar dalam iman. Sebab Kristus adalah wujud dari Allah yang mengasihi bangsaNya yaitu manusia yang diciptakanNya serupa dan segambar dengan Dia. Ini berarti pula bahwa kita dalam karakter penciptaan itu adalah mahluk mulia dalam kapasitas bangsaNya Allah. Kini Kebangsaan Allah itu terbukti dalam Kristus. Dia menyatakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita sebagai bangsaNya dan dalam KemanusiaaNya Dia pun telah menunjukkan bagaimana manusia harus berbangsa dengan Allah. Jika demikian adanya maka kita akan tahu berbangsa dan bernegara dengan benar dalam jiwa nasioanalis yang benar yaitu dalam Kristus sebagai Kebangsaan kita dengan Allah dan kebangsaan kita di dunia dengan manusia dalam hal ini berbangsa Indonesia.

Fungsi Pendidikan Agama Kristen di Indonesia


          Alkitab mengungkapkan bahwa Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu dengan bersabda. Ia menciptakan dari tidak ada menjadi ada, atau secara Cretio ex nihilo. Sedangkan manusia diciptakan Tuhan Allah dengan TanganNya, kemudian Ia menghembuskan nafas hidup kepadanya. Kejadian 1:1-27, 2:18-25, Menunjukkan Tuhan Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. Manusia diciptakan dengan perbedaan kemuliaan dengan maksud berbeda dari mahluk-mahluk lain; sebagai pribadi yang mempunyai hubungan denganNya, sebagai mitra kerja Allah dalam menatalayani dunia, memiliki kebebasan dan tanggung jawab penuh terhadap pengelolaan hidupnya kepada Tuhan Allah.
          Akan tetapi segala kemudahan dan keindahan yang dimiliki manusia tersebut menjadi rusak ketika mereka jatuh dalam dosa. Dosa menjadikan semua manusia berdosa (Roma 3:26, 5:12, 6:23). Hanya Yesus yang tidak berdosa, Ibrani 4:15. Akibat dosa dalam hubungan dengan Tuhan Allah manusia tidak layak lagi menghadap Dia, manusia tidak sanggup melakukan kehendak Tuhan. Maka dari itu hanya dalam Yesuslah kita manusia dapat kembali masuk dalam hubungan dengan Allah untuk menatalayani dunia sebab Dia sudah lebih dulu menunjukkan seperti apa itu penatalayanan yang benar. Dalam Yesus kita baru bisa belajar menatalayani Allah dan dunia dengan benar sebagaimana yang Dia lakukan bagi Allah dan bagi kita.
          Setelah peristiwa menara Babel, manusia terpisah satu dengan yang lain sesuai kesamaan bahasanya. Mereka mengembara dan menemukan wilayah untuk membangun komunitas serta mengembangkan hidup dan kehidupan masing-masing kelompok. Keadaan itu terus berlangsung sampai akhirnya manusia di dunia terbagi atau terpisah secara geografis dan politik, secara kebudayaan, adat, tradisi, bangsa, suku bangsa, suku, sub suku, golongan, dan etnis. Dalam perkembangan selanjutnya manusia membentuk dan membangun kerajaan atau pemerintahannya masing-masing dengan raja sebagai pusat kekuasaan. Seiring berkembangnya kemampuan tehnologi manusia maka secara perlahan tapi pasti manusia sedang diarahkan pada penyatuan kembali antar bangsa untuk menjadi satu dalam satu pemerintahan dunia global. Bahasa pemersatu, budaya yang saling berkenalan, politik yang saling bersinggungan kian erat, dunia sosial yang semakin mengarahkan manusia untuk saling membutuhkan, dan ekonomi yang stabil dalam suatu kesatuan ekonomi global adalah factor-faktor penting yang sedang membawa kita pada persatuan kembali bangsa-bangsa.
          Kristus adalah Raja dan Juruselamat dari Allah. Persatuan secara dunia itu tidak ada artinya jika tanpa Allah. Itu menjadi sia-sia dan tidak membawa keselamatan dan kepuasan pada manusia, tapi akan memunculkan tirani kekuasaan yang bisa menjauhi Allah dan bahkan tidak mengakui Allah. Tapi Persatuan dari Allah membawa pendamaian dan keselamatan. Kristuslah wujud nyata dari Kesatuan dan Persatuan Allah bagi dunia. Dalam Dia kita dipersatukan kembali dengan Allah dan dalam Dia juga Allah dipersatukan kembali dengan kita. Dia adalah Anak Allah sebagai wakil Allah bagi manusia, dan Anak Manusia sebagai wakil manusia kepada Allah. Kedua belah pihak menjadi satu dan dipersatukan di dalam PribadiNya. Dalam Yesus Kristus barulah manusia dapat menjalian persatuan antar sesama dalam dasar Allah yang benar. Tanpa Kristus tidak ada Persatuan, yang ada adalah persatuan fana dan sia-sia tanpa keselamatan.

     Sangat menarik dan suatu keharusan jika hal ini sejak dini diberlakukan bagi anak-anak Kristen lewat pendidikan Kristen luar sekolah dan dalam sekolah yaitu lewat PAK. Sebab setiap orang Kristen tidak hanya berorientasi dengan dunia dalam arti sekuleritas, tapi berorientasi dengan Allah dalam dunia ini sebagai hal yang utama di atas segala-galanya. Itu hanya akan terwujud di dalam pendalaman akan Kristus sebagai Orientasi Allah bagi dunia. Jika Dia sudah menang dan berhasil menunjukkan orientasi yang benar bagi kita maka kini kita yang di dalam Dia belajar untuk berorientasi dengan benar dan mengorientasikan Allah dalam dunia lewat hidup kita. Hal yang amat luar biasa jika dibukakan bagi anak-anak sejak dini.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...