Sunday, February 24, 2019

Perkembangan gereja di beberapa daerah di Indonesia


1.       Ambon
     Dalam kehidupan jemaat di Ambon pengaruh agama suku dalam hal totalitas kehidupan atau totalisme nampak nyata pada kehidupan bergereja saat itu. Paham gereja tersebut menolak tindakan Belanda yang ingin memisahkan antara Gereja dengan sekolah. Inilah salah satu alasan pecahnya perang saparua oleh Patimura pada 1817. Gereja Ambon menempatkan benda-benda keagamaan sebagai barang suci dan sakti misalnya gedung gereja, air baptisan, roti, atau anggur perjamuan dll. Sisa air baptisan sering diperebutkan untuk diminum atau dibawa pulang karena dipercaya menjadi obat. Demikian pula dengan roti dan anggur perjamuan dianggap dapat memberi kesaktian pada jemaat. Selain itu gereja di Ambon berkembang menjadi gereja yang bersifat fanatic eksklusif sukuisme di mana mereka berang dan menentang pemerintah Belanda yang berencana mau menyebarkan agama Kristen kepada muslim. Mereka terlalu berpegnag bahwa Kristen hanyalah milik mereka dan tidak layak dibagikan kepada orang lain.
     Sebelum Joseph Kam datang, Jabez Carey (anak William Carey yang terkenal di gereja Baptis) telah lebih dulu terkenal di Ambon pada 1814-1818. Dia adalah pemrakarsa dari jemaat-jemaat Evangelical yang bersifat kelompok ibadah kecil yang tidak perlu menjadi gereja rakyat. Di mana menurutnya kelompok kecil justru akan membuat jemaat menjadi jemaat yang saleh dan lebih terarah kepada Kristus dan tidak terikat menjadi sukuisme dan fanatik agamawi. Dari sinilah salah satu cikal-bakal ibadah evanglisasi rumah ke rumah. Jabez Carey memang terkenal amat kental dengan corak revival di mana ia dibesarkan. Joseph Kam sama hal nya dengan Carey di mana ia bersedia untuk membangun iman jemaat meskipun perbedaannya adalah Kam lebih terbuka dengan pelayanan yang besar. Dia bahkan bersedia melakukan baptisan massal. Meski dianggap kegiatan itu akan mengurangi hikmah dari sakramen baptisan Karena waktu persediaan yang terbatas untuk banyak orang dilayani sekaligus namun hal itu tetap bertahan hingga saat ini.
2.       Jawa
     Pelayanan injil di Jawa terjadi dalam dua cara yaitu dilakukan oleh orang Eropa seperti Johanes Emde (1774-1859) dan Coenraad Coolen seorang Eropa yang lahir di Jawa yang memakai tenaga penginjil pribumi (1775-1873). Emde meyakini bahwa seorang Kristen harus meninggalkan kebudayaan aslinya dan menjalani kebudayaan Eropa yang dianggap Kristen. Jadi jemaat jawa diajarkan bahasa belanda, meninggalkan pakaian adat, dilarang menonton wayang dan harus berpakaian Eropa serta menunjukkan kebiasaan gaya hidup barat. Hal ini membuat gereja Kristen di Jawa menjadi tidak merakyat. Sebaliknya Coolen melakukan penginjilan dalam bentuk kebudayaan Jawa dengan memakai wayang, musik Jawa, dan tarian khas Jawa. Dia mengajarkan bahwa Kristen adalah ngelmu atau ilmu tertinggi yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus. Namun Coolen masuk amat jauh ke dalam kompromisasi budaya di mana ia akhirnya meringankan jemaat Jawa untuk tidak perlu mengikuti perjamuan kudus, tidak perlu dibaptis, dan beberapa sakramen lainnya yang menurutnya hanya bersifat kebarat-baratan saja. Dari usaha keduanya itulah maka didapati kesimpulan bahwa tidaklah mungkin menjadikan orang Jawa menjadi orang Belanda jika dia masuk Kristen serta tidak mungkin juga sepenuhnya menjawakan agama Kristen agar orang Jawa masuk Kristen.
     Tunggul Wulung adalah orang pribumi asli yang turut menyebarkan agama Kristen di Jawa (1803-1885). Dia bernama Kyai Abdulah sebelum akhirnya diberi nama Baptis Ibrahim. Dia amat giat menginjil terhadap penduduk Jawa hingga Belanda sendiri gelisah karena takut terjadi kericuhan antara muslim dan Kristen akibat usaha injili dari Tunggul Wulung. Namun herannya selama penginjilannya dia tidak mengahadapi tantangan dari penduduk pribumi. Dia mengajarkan Kristen sebagai Ilmu tertinggi yang disajikan lewat mujizat kesembuhan. Dia terkenal dengan lafal-lafal Kristen seperti doa Bapa kami yang dilafalkan dsb. Pada saat itu Tunggul Wulung menjadi pribadi Jawa yang unik dikarenakan kebiasaan orang Jawa yang merahasiakan ilmunya tapi Tunggul Wulung justru menyebarkannya. Pada masa ini penyebaran kekristenan di Jawa masuk pada era revival. Setelah meninggal penginjilan Tunggul Wulung diteruskan oleh Kyai Sadrach muridnya (1840-1924). Penginjil lainnya dari Pribumi adalah Paulus Tosari (1813-1882). Dia adalah murid Coolen yang memimpin jemaat-jemaat Jawa yang diusir oleh Coolen karena mereka menerima baptisan. Mereka lalu mendirikan sebuah desa di hutan dan menamainya Mojowarno pada 1884. Paulus Tosari menjadi guru jemaat mereka dengan ibadah yang memakai tatacara barat namun gaya hidup sehari-hari tetap beridentitas jawa.
3.       Batak

                     Penginijlan di Batak dilakukan oleh Ludwig Nomensen pada 1834-1918. Ia adalah seorang yang gigih dan pemberani yang menginjil pada suku batak yang amat keras. Dia tidak menginjil dari pinggiran wilayah seperti para penginjil lainnya tapi dia langsung ke pusat Tapanuli atau mulai dari tengah. Sekalipun berkali-kali menghadapi tantangan berat dan mengancam nyawa namun akhirnya Nomensen berhasil menaklukan suku batak kepada Kristus. Hingga kini Sumatera Utara adalah satu-satunya propinsi di Sumatera yang mayoritas Kristen hasil dari benih awal yang dibawakan oleh Nomensen. Nomensen memusatkan penginjilan pada pendidikan sekolah dan pendidikan pendeta bagi pribumi. Dia juga ahli dalam pengorganisasian gereja serta tata gereja. Dia menjadi Ephorus atau pemimpin gereja pertama bagi gereja Batak. Banyak orang Batak menyebutnya sebagai Rasul yang ditentukan bagi mereka seperti halnya orang katolik dan Protestan di Ambon yang meyakini Fransiskus Xaverius dan Joseph Kam sebagai Rasul yang dikhusukan Allah bagi mereka.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...