1. Ambon
Dalam kehidupan jemaat di Ambon pengaruh
agama suku dalam hal totalitas kehidupan atau totalisme nampak nyata pada kehidupan
bergereja saat itu. Paham gereja tersebut menolak tindakan Belanda yang ingin
memisahkan antara Gereja dengan sekolah. Inilah salah satu alasan pecahnya
perang saparua oleh Patimura pada 1817. Gereja Ambon menempatkan benda-benda
keagamaan sebagai barang suci dan sakti misalnya gedung gereja, air baptisan,
roti, atau anggur perjamuan dll. Sisa air baptisan sering diperebutkan untuk diminum
atau dibawa pulang karena dipercaya menjadi obat. Demikian pula dengan roti dan
anggur perjamuan dianggap dapat memberi kesaktian pada jemaat. Selain itu gereja
di Ambon berkembang menjadi gereja yang bersifat fanatic eksklusif sukuisme di
mana mereka berang dan menentang pemerintah Belanda yang berencana mau
menyebarkan agama Kristen kepada muslim. Mereka terlalu berpegnag bahwa Kristen
hanyalah milik mereka dan tidak layak dibagikan kepada orang lain.
Sebelum Joseph Kam datang, Jabez Carey
(anak William Carey yang terkenal di gereja Baptis) telah lebih dulu terkenal
di Ambon pada 1814-1818. Dia adalah pemrakarsa dari jemaat-jemaat Evangelical
yang bersifat kelompok ibadah kecil yang tidak perlu menjadi gereja rakyat. Di
mana menurutnya kelompok kecil justru akan membuat jemaat menjadi jemaat yang
saleh dan lebih terarah kepada Kristus dan tidak terikat menjadi sukuisme dan
fanatik agamawi. Dari sinilah salah satu cikal-bakal ibadah evanglisasi rumah
ke rumah. Jabez Carey memang terkenal amat kental dengan corak revival di mana
ia dibesarkan. Joseph Kam sama hal nya dengan Carey di mana ia bersedia untuk
membangun iman jemaat meskipun perbedaannya adalah Kam lebih terbuka dengan
pelayanan yang besar. Dia bahkan bersedia melakukan baptisan massal. Meski
dianggap kegiatan itu akan mengurangi hikmah dari sakramen baptisan Karena
waktu persediaan yang terbatas untuk banyak orang dilayani sekaligus namun hal
itu tetap bertahan hingga saat ini.
2. Jawa
Pelayanan injil di Jawa terjadi dalam dua
cara yaitu dilakukan oleh orang Eropa seperti Johanes Emde (1774-1859) dan
Coenraad Coolen seorang Eropa yang lahir di Jawa yang memakai tenaga penginjil
pribumi (1775-1873). Emde meyakini bahwa seorang Kristen harus meninggalkan
kebudayaan aslinya dan menjalani kebudayaan Eropa yang dianggap Kristen. Jadi
jemaat jawa diajarkan bahasa belanda, meninggalkan pakaian adat, dilarang
menonton wayang dan harus berpakaian Eropa serta menunjukkan kebiasaan gaya
hidup barat. Hal ini membuat gereja Kristen di Jawa menjadi tidak merakyat.
Sebaliknya Coolen melakukan penginjilan dalam bentuk kebudayaan Jawa dengan
memakai wayang, musik Jawa, dan tarian khas Jawa. Dia mengajarkan bahwa Kristen
adalah ngelmu atau ilmu tertinggi
yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus. Namun Coolen masuk amat jauh
ke dalam kompromisasi budaya di mana ia akhirnya meringankan jemaat Jawa untuk
tidak perlu mengikuti perjamuan kudus, tidak perlu dibaptis, dan beberapa
sakramen lainnya yang menurutnya hanya bersifat kebarat-baratan saja. Dari
usaha keduanya itulah maka didapati kesimpulan bahwa tidaklah mungkin
menjadikan orang Jawa menjadi orang Belanda jika dia masuk Kristen serta tidak
mungkin juga sepenuhnya menjawakan agama Kristen agar orang Jawa masuk Kristen.
Tunggul Wulung adalah orang pribumi asli
yang turut menyebarkan agama Kristen di Jawa (1803-1885). Dia bernama Kyai
Abdulah sebelum akhirnya diberi nama Baptis Ibrahim. Dia amat giat menginjil
terhadap penduduk Jawa hingga Belanda sendiri gelisah karena takut terjadi
kericuhan antara muslim dan Kristen akibat usaha injili dari Tunggul Wulung.
Namun herannya selama penginjilannya dia tidak mengahadapi tantangan dari
penduduk pribumi. Dia mengajarkan Kristen sebagai Ilmu tertinggi yang disajikan
lewat mujizat kesembuhan. Dia terkenal dengan lafal-lafal Kristen seperti doa
Bapa kami yang dilafalkan dsb. Pada saat itu Tunggul Wulung menjadi pribadi
Jawa yang unik dikarenakan kebiasaan orang Jawa yang merahasiakan ilmunya tapi
Tunggul Wulung justru menyebarkannya. Pada masa ini penyebaran kekristenan di
Jawa masuk pada era revival. Setelah meninggal penginjilan Tunggul Wulung
diteruskan oleh Kyai Sadrach muridnya (1840-1924). Penginjil lainnya dari
Pribumi adalah Paulus Tosari (1813-1882). Dia adalah murid Coolen yang memimpin
jemaat-jemaat Jawa yang diusir oleh Coolen karena mereka menerima baptisan.
Mereka lalu mendirikan sebuah desa di hutan dan menamainya Mojowarno pada 1884.
Paulus Tosari menjadi guru jemaat mereka dengan ibadah yang memakai tatacara
barat namun gaya hidup sehari-hari tetap beridentitas jawa.
3. Batak

No comments:
Post a Comment