Salah satu fungsi orang tua di rumah
adalah sebagai pendidik. Oleh sebab itu sebagai pendidik mereka juga harus
berupaya mengetahui prinsip-prinsip peningkatan kualitas belajar dan mengajar
seperti dimiliki para pendidik dalam hal ini guru, rohaniawan, dan orang tua. Pendidik
bukan hanya bertugas untuk menyampaikan informasi atau bahan ajaran kepada
peserta didik, tapi harus berupaya agar peserta didik menjadi mengerti,
memahami makna dan menerima apa yang diajarkan bahkan mempraktekannya dalam
kehidupan. Pendidik harus mendorong peserta didik memahami secara berkelanjutan
karena belajar merupakan proses yang dinamis dan mengarah pada terjadinya
perubahan. Perubahan akibat hasil belajar menyangkut ranah kognitiv (memperoleh
pengetahuan dalam pengalaman sendiri), efektif, dan psikomotoris. Untuk
mencapai semua ranah itu, maka proses belajar mengajar harus memperhatikan
teori belajar dan gaya belajar, yaitu belajar sebagai kemampuan manusia
menyimak apa yang diminati dan dipelajarinya. Belajar sebagai pengembangan daya
dalam diri manusia dan pembentukan tingkah laku.
Sebab tidak ada manusia di dunia ini
yang benar-benar sukses belajar maka satu-satunya yang sukses itu datang. Dia
adalah Kristus, Pribadi yang sukses belajar tentang Allah dalam KemanusiaanNya
dan yang sukses mengajarkan Allah dalam KeAllahanNya. Keduanya satu di dalam
Dia sebagai Manusia Allah, Anak Allah dan Anak Manusia. Dalam Dia barulah
manusia bisa belajar dan mengajar dengan benar. Oleh Dia kita menerima Roh
Kudus yaitu Dia sendiri dalam Wujud Roh yang tinggal di dalam kita. Dia menjadi
Pengajar di dalam kita, agar kita belajar dalam segala hal oleh karena Dia dan
kita juga bisa mengajar dalam segala hal oleh karena Dia. Saat kita belajar
kita tahu bahwa kita turut mengajar diri dalam ajaran yang kita terima, itulah
murid yang benar. Saat kita mengajar kita juga menikmati ajaran kita sebagai
pengajar bagi kita yang turut diajari oleh ajaran itu sebab ajaran itu adalah
Kristus. Pengajar yang benar adalah dia yang juga menjadi murid dalam
ajarannya. Kita mengajar dan diajar dalam Ajaran kita sebab Ajaran itu adalah
Kristus dalam hal PribadiNya yang kita nyatakan. Ini bukan sebatas hikmat
pikiran atau akal kemampuan otak manusia lahiriah semata, tapi Ajaran dan
Hikmat Allah sejatinya berbicara tentang keutuhan diri kita dan Dia yang ada di
dalam kita. Ini menyangkut batiniah kita
yang merasakan dan mengimani Hikmat Ajaran itu dari dalam diri. Jika demikian
Pengajaran itu bersifat kekal sebab bersumber dari Pribadi yang kekal yang
tinggal di dalam kita dan berkarya di dalam kita serta nyata kita rasakan.
Pengajaran itu tidak akan pernah habis dan usang dan tidak muncul oleh hikmat
kepintaran otak dan akal kita tapi muncul secara alami oleh karya Roh Kudus dari
dalam batin dan hati yang sudah diperbaharui dari hari ke hari di dalam Kristus
sebagai sang Pengajar.
“Sebab di dalam diri kamu tetap ada
pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu
diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang
segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu,
demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia”. (1 Yohanes 2:27).
“Karena kamu telah mendengar tentang
Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam
Yesus,” (Efesus 4:21).
“Dan Ialah yang memberikan baik
rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun
gembala-gembala da pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus
bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua
mencapai kesatuan iman dan pengethuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan
penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga
kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran,
oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi
dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam
segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” (Efesus 4:11-15).
Secara profesi dalam pelayanan memang
ada orang-orang yang ditetapkanNya menjadi Rohaniawan bagi jemaatNya. Tapi
dalam Keutuhan Allah yang ada di dalam setiap orang yang percaya maka kita
semua meiliki Roh Kudus dan mendalami hidup dalam Dia sebagai rasul, nabi,
penginjil, gembala, dan pengajar. Sebab Roh Kudus di dalam kita adalah pribadi
yang mencakup kelima jawatan itu dan bekerja di dalam kita dalam kelima
pekerjaan tersebut. Oleh Dialah kita menjadi rasul, nabi, penginjil, gembala,
dan pengajar Allah bagi dunia lewat seluruh hidup kita dan di manapun kita
berada. Keutuhan dari semua jawatan Allah itu sudah terwujud dan terbukti
secara sempurna di dalam Kristus. Kelimanya terwujudnyatakan dalam satu kesatuan
yang utuh, itulah kesejatian dan kekekalan dari kelima jawatan itu. Saat Yesus
menunjukkan diriNya sebagai Mesias utusan Allah atau Rasul Allah, Dia juga
telah menyatakan keempat jawatan itu di dalamnya. Demikian pula halnya dengan
keempat jawatan yang lain. Berbeda pekerjaan yang tampak tapi satu hakekat dan
maknanya sebab berasal dari satu Inti yaitu Allah dan satu tujuan yaitu kembali
kepada Allah. Sungguh luar biasa kemuliaan kekayaan Allah dalam Yesus yang
dinyatakan bagi kita yang terus mau menikmati dan mendalami Dia secara pribadi.
Oleh karena itu PAK sangat berguna
dalam hal menyatakan fungsinya untuk membuat siswa masuk pada pengenalan Allah
secara pribadi di dalam Kristus. Mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang
teguh, cakap, berhikmat, berwawasan luas dan berkebangsaan yang beriman dan
berdasar kepada Allah. Mereka tidak akan digoncangkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran manapun. Tugas para guru dan pendidik baik di sekolah, gereja, atau
di rumah adalah membawa mereka pada pengenalan itu lewat berbagai kurikulum,
metode, atau sarana yang ada.

No comments:
Post a Comment