Bangsa Indonesia memiliki banyak
perbedaan kemajemukkan tidak sebagaimana bangsa-bangsa yang lain. Kita punya
banyak suka, sub suku, etnis, golongan dan agama. Semua perbedaan itu
seringkali menjadikan pertentangan yang menjurus pada perpecahan dan
permusuhan, bahkan pertikaian serta pertumpahan darah. Oleh sebab itu PAK di
Indonesia selayaknya meminimalisir semua hal tersebut dengan berbagai cara
lewat pendidikan itu sendiri. PAK harus membimbing peserta didik agar mampu
memahami adanya bermacam-macam agama yang meski siswa meyakini dalam Kristus
bahwa keselamatan ada di dalam Dia, tapi oleh karena itulah maka siswa dapat
belajar wawasan yang luas yang senggup memandang perbedaan sebagai satu realita
akibat dosa dunia. Siswa sanggup berdiri sebagai pribadi yang teguh dalam
Kristus yang justru oleh keteguhannya itu dia sanggup menerima berbagai kepercayaan
dan pandangan yang ada di sekelilingnya dalam ruang lingkup pergaulan sosial
yang merata dan saling berbagi. Dalam tahap yang paling dalam jika siswa telah
sanggup masuk pada perjumpaan pribadi dengan Kristus dalam hidupnya maka dia
akan menikmati kenyataan dan penyataan firman Allah dari dalam dirinya. Ini hal
yang sangat penting dalam perjalanan kehidupan orang Kristen dalam pengenalan dan
hubungannya dengan Allah. Jika itu telah dinikmati maka siswa Kristen menjadi
pribadi yang benar-benar teguh dan mampu memberitakan Kristus dalam berbagai
cara tanpa harus menonjolkan perbedaan agama sebab sejatinya Kristus bukanlah
agama tapi kebenaran dalam kepercayaan dan hubungan manusia dengan Allah. Sebagaimana
ada ayat yang berbunyi bahwa sebagai anak-anak Allah bagi dunia yang majemuk
kita harus cerdik seperti ular tapi tulus seperti merpati. Dia yang cerdik dan
tulus sudah datang. Dalam Dia kita belajar bagaimana kecerdikan dan ketulusan
yang benar. Sebab cerdik tanpa ketulusan itu licik dan menipu, sementara tulus
tanpa kecerdikan itu pongah dan bodoh. Kristus adalah Pribadi yang sudah nyata menunjukkan
kesempurnaan dalam kecerdikan dan ketulusan. Dalam cerdikNya Dia tulus, dalam
tulusNya Dia cerdik. Keduanya menjadi satu di dalam Dia.
Siswa dengan demikian mampu mencapai
kedewasaan iman sesuai terang injil Kristus dan menerapkannya dalam setiap
aspek kehidupannya sehari-hari untuk semakin membentuk jati dirinya sebagai
manusia Indonesia yang berwawasan kebangsaan, menjunjung tinggi persatuan dan
kesatuan, serta mewujudnyatakan kesetiakawanan sosial. Sebab Kristus telah
lebih dahulu menyatakan semua sifat tersebut dalam hidupNya sebagai Manusia
Allah dan Dia sukses. Dalam pengenalan akan Dia baru kita belajar berwawasan
luas dalam berkebangsaan, tahu menjunjung arti dari suatu persatuan, dan
kesetiakawanan sosial. Tanpa Kristus semua itu sia-sia sebab yang kita pelajari
hanya dunia sifatnya dan fana adanya. Tidak ada kesejatian, kebenaran, dan
kekekalan di dalamnya.
Ini berarti PAK harus
diberlakukan dari SD sampai perguruan tinggi karena memperhatikan aspek-aspek
di atas dengan memperhatikan hal-hal yang menyangkut kehidupan berbangsa,
kurikulum pendidikan nasional, kemajemukan masyarakat, dan tidak lepas dari
situasi politik dan budaya bangsa. PAK di Indonesia tidak boleh menjadikan
peserta didik menjadi anti nasional yang tidak merasa dirinya sebagai bagian
dari masyarakat dan negara kesatuan republic Indonesia. Justru lewat PAK yang mengarahkan
kepada Kristus maka kita akan memiliki rasa nasioanlis yang benar dalam iman.
Sebab Kristus adalah wujud dari Allah yang mengasihi bangsaNya yaitu manusia
yang diciptakanNya serupa dan segambar dengan Dia. Ini berarti pula bahwa kita
dalam karakter penciptaan itu adalah mahluk mulia dalam kapasitas bangsaNya
Allah. Kini Kebangsaan Allah itu terbukti dalam Kristus. Dia menyatakan bahwa
Allah tidak pernah meninggalkan kita sebagai bangsaNya dan dalam KemanusiaaNya
Dia pun telah menunjukkan bagaimana manusia harus berbangsa dengan Allah. Jika
demikian adanya maka kita akan tahu berbangsa dan bernegara dengan benar dalam
jiwa nasioanalis yang benar yaitu dalam Kristus sebagai Kebangsaan kita dengan
Allah dan kebangsaan kita di dunia dengan manusia dalam hal ini berbangsa
Indonesia.

No comments:
Post a Comment