Wednesday, February 13, 2019

Akibat dari pendidikan agama yang salah


          Pendidikan agama yang salah atau keliru tidak memberdayakan siswa untuk bernalar dan terlalu doktriner, menyebabkan orang menjadi fanatik dan radikal buta demikian menurut direktur Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Lebih lanjut dia berkata bahwa metode pendidikan di sekolah bermasalah karena anak-anak dipaksa untuk menghafal dan bukannya bernalar. Itu akan menimbulkan kefanatikan yang salah dan jika di sulut dengan api semangat kebencian akan menimbulkan radikalisme. Jika sudah begini maka tujuan pendidikan agama di Indonesia gagal.
          Pendeta Albertus Patty ketua Gereja Kristen Indonesia mengatakan pendidikan agama di sekolah terlalu dogmatis dan tidak sesuai konteks di Indonesia. Menurutnya dogmatika tersebut hanya akan menimbulkan sekat-sekat teologis di kalangan Kristen sendiri dan antar agama lain. Dogmatika hanya berlaku di gereja masing-masing dan PAK di sekolah hanyalah pengenalan umum. Di kalangan antara organisasi gereja saling menuduh kafir dan saling melakukan “kristenisasi”. Ironisnya ini terjadi hingga saat ini lanjutnya. Hal itu menyebabkan umat berpikir bahwa kristenisasi sudah menjadi sebuah ideologi gereja. Menurutnya undang-undang sistem pendidikan nasional yang menimbulkan sekat-sekat agama akan membuat orang menjadi eksklusif dan primordialis. Mereka akan menganggap diri sebagai yang paling benar di hadapan Tuhan dan bisa berlaku apa saja atas dasar keyakinan bahwa dia berhak melakukannya karena dia berkenan kepada Tuhan dan yang lain tidak. Penting sekali adanya pemberdayaan pendeta dan tokoh agama lainnya hingga mereka berwawasan plural.
          Ungkapan kedua tokoh di atas terjadi dalam diskusi pendidikan agama di sebuah sekolah pada tahun 2010. Secara pribadi saya melakukan peninjauan tentang akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh pendidikan agama Kristen yang salah. Baik yang berpengaruh lebih ke arah pribadi dari orang tersebut maupun yang jelas berdampak ke luar.

1.        Gagal mengenal Allah dengan benar.
Seorang kehilangan gambaran yang benar tentang Allah sebab pendidik atau sistem dan bahan  pendidikan yang salah. Peserta didik gagal menemukan pribadi Kristus dalam KeutuhanNya yang sempurna dan satu kesatuan sebagai Manusia Allah dikarenakan peserta didik tidak dimotivasi atau diperkenalkan untuk  masuk pada pengenalan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan lewat pendidikan yang dia terima.
2.        Gagal mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.
Seorang pada akhirnya hanya dapat mengenal Kristus lebih dari pendidikan dari luar yang selalu dia terima dan tidak pernah sanggup atau mau untuk masuk pada pendalaman pengenalan akan Allah secara pribadi dalam dirinya dan hidupnya hingga dia benar-benar teguh dan mengenal Allahnya dalam iman. Hal ini biasanya timbul jika gereja dan sekolah tempat dia dididik agama Kristen hanya lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran yang baku. Gereja hanya  menjadi tempat dia berkegiatan secara sosial selaku warga jemaat di mana secara lahiriah dia tampak rajin beribadah dan melakukan kegiatan gerejawi tapi secara batiniah dia tidak benar-benar kuat di dalam iman. Mereka tidak mengenal jelas dan dalam tentang Kristus serta mengimaninya. Secara pribadi saya amat sering bertemu orang-orang dan teman seperti ini. Mereka bisa saja fasih berbicara tentang gereja dan Tuhan tapi tidak mengalami Dia secara batiniah dalam iman.
3.        Fanatisme buta terhadap agama atau gerejanya.
Seorang yang gagal mencintai Allah dengan benar sebab secara langsung atau tidak langsung dan sadar atau tidak sadar mereka terbawa pendidikan yang membuat mereka menjadi pribadi yang lebih mencintai gereja dan agamanya dengan pandangan yang salah. Sikap ini membuat mereka merasa yang paling benar dan bahkan ada yang tidak sadar kalau dia sedang memusuhi gereja atau agama yang lain. Padahal Kristus datang lebih untuk menjadikan kita gereja secara pribadi dan bukan mendirikan agama secara organisasi atau kelompok pemercaya. Dia datang dan berkenan diterima oleh kita untuk menjadikan kita pribadi yang mengasihi Allah dengan benar. Jika kita semakin mengasihi Allah dalam pengenalan yang benar akan Dia maka kita akan mencintai dan bangga kepada agama dan gereja kita dalam konteks dan paham yang benar, yaitu dalam iman kepada Kristus dan bukan bersandar pada dogmatika dan pemahaman manusia.
4.        Memperuncing perbedaan agama dan perbedaan denominasi gereja.

Pengajaran yang salah dari pihak gereja adalah ketika jemaatnya justru menjadi pribadi yang amat terikat dengan gerejanya dalam hal keimanan. Maksudnya bahwa mereka lebih percaya kalau hanya gereja mereka yang berhak selamat dan paling benar. Gereja berusaha mengikat jemaatnya untuk setia dan tidak berpindah ke gereja lain dengan membawa jemaat untuk bangga dengan gereja sendiri, cinta dan yakin akan gerejanya sendiri hingga tanpa sadar jemaat justru dibawa untuk cinta dan beriman akan gerejanya lebih dari cinta dan beriman kepada Kristus. Padahal jika jemaat mencapai kedewasan Kristus dalam diri mereka maka mereka akan menjadi pribadi yang berwawasan luas dan pluralisme tapi tetap setia dan bangga akan gerejanya di mana ia berada dan bertumbuh.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...