Pendidikan agama yang
salah atau keliru tidak memberdayakan siswa untuk bernalar dan terlalu
doktriner, menyebabkan orang menjadi fanatik dan radikal buta demikian menurut
direktur Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla. Lebih lanjut dia berkata
bahwa metode pendidikan di sekolah bermasalah karena anak-anak dipaksa untuk
menghafal dan bukannya bernalar. Itu akan menimbulkan kefanatikan yang salah
dan jika di sulut dengan api semangat kebencian akan menimbulkan radikalisme.
Jika sudah begini maka tujuan pendidikan agama di Indonesia gagal.
Pendeta Albertus Patty
ketua Gereja Kristen Indonesia mengatakan pendidikan agama di sekolah terlalu
dogmatis dan tidak sesuai konteks di Indonesia. Menurutnya dogmatika tersebut
hanya akan menimbulkan sekat-sekat teologis di kalangan Kristen sendiri dan
antar agama lain. Dogmatika hanya berlaku di gereja masing-masing dan PAK di
sekolah hanyalah pengenalan umum. Di kalangan antara organisasi gereja saling
menuduh kafir dan saling melakukan “kristenisasi”. Ironisnya ini terjadi hingga
saat ini lanjutnya. Hal itu menyebabkan umat berpikir bahwa kristenisasi sudah
menjadi sebuah ideologi gereja. Menurutnya undang-undang sistem pendidikan
nasional yang menimbulkan sekat-sekat agama akan membuat orang menjadi
eksklusif dan primordialis. Mereka akan menganggap diri sebagai yang paling
benar di hadapan Tuhan dan bisa berlaku apa saja atas dasar keyakinan bahwa dia
berhak melakukannya karena dia berkenan kepada Tuhan dan yang lain tidak.
Penting sekali adanya pemberdayaan pendeta dan tokoh agama lainnya hingga
mereka berwawasan plural.
Ungkapan kedua tokoh di
atas terjadi dalam diskusi pendidikan agama di sebuah sekolah pada tahun 2010.
Secara pribadi saya melakukan peninjauan tentang akibat-akibat buruk yang
ditimbulkan oleh pendidikan agama Kristen yang salah. Baik yang berpengaruh
lebih ke arah pribadi dari orang tersebut maupun yang jelas berdampak ke luar.
1.
Gagal
mengenal Allah dengan benar.
Seorang kehilangan gambaran yang benar
tentang Allah sebab pendidik atau sistem dan bahan pendidikan yang salah. Peserta didik gagal
menemukan pribadi Kristus dalam KeutuhanNya yang sempurna dan satu kesatuan
sebagai Manusia Allah dikarenakan peserta didik tidak dimotivasi atau
diperkenalkan untuk masuk pada
pengenalan dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan lewat pendidikan yang dia terima.
2.
Gagal
mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.
Seorang pada akhirnya hanya dapat
mengenal Kristus lebih dari pendidikan dari luar yang selalu dia terima dan
tidak pernah sanggup atau mau untuk masuk pada pendalaman pengenalan akan Allah
secara pribadi dalam dirinya dan hidupnya hingga dia benar-benar teguh dan
mengenal Allahnya dalam iman. Hal ini biasanya timbul jika gereja dan sekolah tempat
dia dididik agama Kristen hanya lebih menekankan pada kegiatan pembelajaran
yang baku. Gereja hanya menjadi tempat
dia berkegiatan secara sosial selaku warga jemaat di mana secara lahiriah dia
tampak rajin beribadah dan melakukan kegiatan gerejawi tapi secara batiniah dia
tidak benar-benar kuat di dalam iman. Mereka tidak mengenal jelas dan dalam
tentang Kristus serta mengimaninya. Secara pribadi saya amat sering bertemu
orang-orang dan teman seperti ini. Mereka bisa saja fasih berbicara tentang
gereja dan Tuhan tapi tidak mengalami Dia secara batiniah dalam iman.
3.
Fanatisme
buta terhadap agama atau gerejanya.
Seorang yang gagal mencintai Allah
dengan benar sebab secara langsung atau tidak langsung dan sadar atau tidak
sadar mereka terbawa pendidikan yang membuat mereka menjadi pribadi yang lebih
mencintai gereja dan agamanya dengan pandangan yang salah. Sikap ini membuat mereka
merasa yang paling benar dan bahkan ada yang tidak sadar kalau dia sedang
memusuhi gereja atau agama yang lain. Padahal Kristus datang lebih untuk
menjadikan kita gereja secara pribadi dan bukan mendirikan agama secara
organisasi atau kelompok pemercaya. Dia datang dan berkenan diterima oleh kita
untuk menjadikan kita pribadi yang mengasihi Allah dengan benar. Jika kita
semakin mengasihi Allah dalam pengenalan yang benar akan Dia maka kita akan
mencintai dan bangga kepada agama dan gereja kita dalam konteks dan paham yang
benar, yaitu dalam iman kepada Kristus dan bukan bersandar pada dogmatika dan
pemahaman manusia.
4.
Memperuncing
perbedaan agama dan perbedaan denominasi gereja.
Pengajaran yang salah dari pihak
gereja adalah ketika jemaatnya justru menjadi pribadi yang amat terikat dengan
gerejanya dalam hal keimanan. Maksudnya bahwa mereka lebih percaya kalau hanya
gereja mereka yang berhak selamat dan paling benar. Gereja berusaha mengikat
jemaatnya untuk setia dan tidak berpindah ke gereja lain dengan membawa jemaat
untuk bangga dengan gereja sendiri, cinta dan yakin akan gerejanya sendiri
hingga tanpa sadar jemaat justru dibawa untuk cinta dan beriman akan gerejanya
lebih dari cinta dan beriman kepada Kristus. Padahal jika jemaat mencapai
kedewasan Kristus dalam diri mereka maka mereka akan menjadi pribadi yang
berwawasan luas dan pluralisme tapi tetap setia dan bangga akan gerejanya di
mana ia berada dan bertumbuh.

No comments:
Post a Comment