Thursday, February 21, 2019

Pendidikan agama pada anak Yahudi dan Kristen


          Mazmur 78:5 telah ditetapkanNya peringatan kepada Yakub dan hukum Taurat diberiNya di Israel, nenek moyang kita diperintahkanNya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka. Pembinaan anak dalam taurat sangat jelas tergambar dalam Mazmur 78 dengan tujuan sangat jelas, yaitu:
1.        78:6, Supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak yang akan lahir kelak bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka.
2.        78:7, Supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintahNya.
3.        78:8, Dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
          Pengajaran anak dalam hukum Taurat berbeda dengan konsep yang diajarkan dalam Talmud. Menurut Rabbi Lev Baesh dalam bukunya “The resource center for Jewish clergy of interfaith family”, berdasarkan Talmud maka orang tua diminta untuk mengajar anak mereka Taurat Musa untuk dunia sekuler seperti dalam perdagangan dan pelayaran. Hal ini membuat pengajaran Talmud telah melebar dan keluar dari nilai-nilainya yang murni. Hal yang membuat sudah tidak lagi fokus mendidik anak kepada amanat Tuhan dan kepada hukum Tuhan tapi akhirnya lebih focus kepada pendidikan menjalani bisnis kehidupan. Pandangan Taurat menurutnya juga telah dibatasi hingga Taurat menjadi tidak lebih dari sekedar buku dalam sejarah mereka. Taurat menjadi semacam panduan moral bagi Israel serta pembelajaran etika hidup seperti yang tersedia dalam teks Yahudi, sejarah, dan masyarakat. Pengajaran Taurat adalah mengajar tentang perilaku yang benar. Ini termasuk perawatan diri, perawatan orang lain, dan perawatan bumi. Perawatan cerita sejarah dan perjuangan, dan perawatan generasi mendatang. Taurat adalah tentang mengakses kebijaksanaan kuno dan terlibat dalam dialog modern untuk menemukan pembelajaran yang dalam dan paling relevan untuk hari ini.
          Namun bangsa Yahudi kehilangan esensi sesungguhnya dari Taurat yaitu konsep penebusan dan pengampunan dosa dari Dia yang penuh rahmat sehingga Dia datang menjadi jalan keluar dan penggenapan yang sempurna atas TauratNya sendiri dalam kehidupan Yesus Kristus Anak Domba Allah yang tidak bercacat cela sebagai korban yang kekal. Sangat diharapkan agar pelajaran agama Kristen pada anak-anak kita tidak sama halnya dengan Yahudi yang kehilangan tujuan Allah dalam pembelajaran itu yaitu menerima keselamatan dan meyakini keselamatan itu di dalam Kristus. Sebab soal ilmu agama maka Yahudi amat fasih dan taat beribadah tapi mereka tidak mendapati Pribadi Allah yang nyata di dalam Kristus sebagai penggenapan dari apa yang mereka pelajari dan dalami. Demikian pula PAK di sekolah hendaknya menjadi jalan bagi siswa untuk menemukan Kristus secara pribadi dalam keberimanan mereka masing-masing.
          Pengajaran Kristen sebenarnya lebih terbuka terhadap sekulerisasi daripada pengajaran Yahudi dalam Talmud dan Taurat. Namun titik lemahnya Taurat dan Talmud adalah jika semakin dibawa ke dalam dunia sekuler maka keilahiannya akan semakin berkurang dan tampak seperti menyalahi Allah. Itulah sebabnya Yahudi sejati sebenarnya membedakan antara hukum agama dan hukum dunia. Iman Kristen kita di dalam Kristus memiliki keutuhan dari kegenapan hukum Taurat yaitu Kristus itu sendiri. Dialah yang menjadi dasar dan landasan Kitab suci dan hidup kita. Hingga dalam Dia segenap firman Allah tidak akan tercemar jika dibawa dalam ranah sekuler. Justru itulah yang Dia mau, yaitu Dia semakin dinyatakan dalam dunia. Hukum yang benar dan sejati tidak akan tercemar tapi justru akan menyucikan dan memurnikan. Tapi hukum lahiriah terbatas sifatnya dan mudah tercemar oleh keberdosaan dan keterbatasan manusia sebagaimana Rasul Paulus mengatakan justru oleh Taurat dia mengenal dosa dan dosa giat bekerja dalam tubuhnya. Namun Hukum yang memerdekakan sudah datang yaitu Kristus, agar di dalam Dia kita semakin mendalami Allah dan menikmati Hukum yang membebaskan dari dosa. Bukan lagi bersandar pada daya upaya kita dalam menaati, tapi dalam penyerahan kita untuk pekerjaan Allah di dalam kita untuk menyatakan hukum itu menjadi hidup dalam hidup kita. Inilah Hukum yang mengalahkan dosa.
          Pada abad pertengahan gereja sempat tidak lagi mendapatkan pengajaran firman Allah dengan baik. Barulah pada masa reformasi gereja maka gerakan pengembalian pada pengajaran Alkitab yang baik dibangkitkan kembali. Pendidikan Kristen terhadap anak-anak mulai digalakkan kembali khususnya dalam katekismus (Katekisasi). Namun kurangnya orang yang terlatih sebagai pekerja gereja atau pelayan dalam jemaat membuat pengajaran itu mundur. Kegiatan itu hanya menjadi simbolisasi dari prasyarat bagi anak-anak untuk menerima konfirmasi (baptisan sidi dan baptisan selam). Hingga kini gereja-gereja masih banyak yang mengabaikan atau tidak begitu peduli pada sistem pendidikan Alkitab bagi jemaatnya secara umum. Mereka meyakini pembagian firman secara berkala lewat ibadah rutin sudah cukup untuk memperkuat dan memperkaya jemaat dalam Firman. Padahal ada banyak hal terperinci dan khas yang hanya didapati dalam sistem pengajaran gereja. Oleh pengajaran yang berkelanjutan baik di sekolah, di gereja, dan bahkan di rumah bagi anak-anak, maka jemaat tidak akan menjadi jemaat yang awam tapi fasih Alkitab dan bertumbuh iman di dalam Kristus. Setidaknya pada awal abad 18 setelah masa-masa reformasi gereja barulah Robert Raikes seorang wartawan Inggris menggalakan kembali pengajaran Firman pada anak-anak lewat gereja-gereja yang ada. Pelayanan anak itulah yang sampai kini kita kenal dengan nama sekolah minggu atau Sunday School.
          Pada saat itu Eropa mengalami masa-masa haus  dalam memberi pengajaran pada anak-anak Kristen. Mereka mengajari anak-anak mereka bukan hanya di gereja tapi di rumah mereka masing-masing (Ulangan 6:4-7). Selaras dengan keluarga-keluarga Yahudi yang mengajari anak-anak mereka di dalam ruang lingkup keluarga sebagai tempat pendidikan agama yang paling utama bagi anak. Sejak sebelum usia 5 tahun anak mereka telah dididk oleh orang tuanya untuk mengenal Allah  yang mereka sembah. Pada masa pembuangan di Babilonia (500 sm), ketika Tuhan menggerakkan Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan bangsa Israel kepada  Taurat Tuhan maka dibukalah sinagoge di mana mereka dapat belajar firman Tuhan secara bersama. Orang tua wajib mengirimkan anak-anak mereka sejak usia di bawah 5 tahun. Di sana mereka diajari oleh guru-guru ahli Taurat dan dikelompokkan dalam jumlah 25 orang untuk saling bertanya jawab dengan guru mereka. Sangat menarik jika anak-anak Kristen dalam sistem pelajaran Alkitab di sekolah minggu dapat dibangun pembelajaran seperti ini dan tidak melulu dengan cerita-cerita Alkitab yang diulang-ulang. Sebagaimana anak Yahudi yang lain Yesus pun melewati masa-masa Dia harus mendalami agama di sinagoge. Bahkan di usia 12 tahun Dia sudah bisa bersoal jawab dengan para ahli Taurat dan orang Farisi. Tradisi yahudi dalam mendidik anak dengan ketat terus berlangsung hingga saman Rasul-Rasul (Timotius 3:16).
          Seiring perkembangan saat ini kita kaum Kristen mulai enggan memberi pengajaran Alkitab kepada anak di rumah sendiri sebab berpikir bahwa pengajaran di gereja sudah cukup. Ini amat keliru sebab pengajaran Alkitab dalam rumah membuat keluarga memiliki hubungan yang akrab tidak hanya dalam kegiatan sehari-hari tapi dalam hubungan yang erat dengan Tuhan yang mempersatukan keluarga tersebut dalam FirmanNya yang dibagikan setiap hari. Pada masa gencarnya pengajaran Alkitab dalam keluarga di Eropa, mereka memiliki kebiasaan membagikan Firman tiap selesai makan malam. Biasanya seorang ayah yang akan membuka Alkitab dan menjelaskannya pada seisi rumah untuk didalami bersama. Kita tidak perlu mengikuti gaya pengajaran seperti itu dalam hal ini penerapan lahiriahnya. Tapi setiap keluarga dapat menyesuaikan waktu dan cara membagikan firman secara bersama sesuai dengan keadaan kesibukan mereka. Dalam pembelajaran Firman secara berkala meski tidak setiap hari, maka keluarga Kristen memiliki tali ikatan yang erat sebagai anggota keluarga Kristus yang bertumbuh dan dibangun di dalam Kristus.
          Berikut ini adalah faktor positif yang umum yang menjadi ciri khas bangsa Yahudi karena mereka berusaha mentaati Taurat dan Talmud serta memelihara pengajarannya.
1.        Mereka menjadi bangsa yang penuh misteri, kecil tapi kuat, sedikit tapi menyebar di seluruh dunia sebagai bangsa yang ada di mana saja. Meski menyebar tapi kemurnian keagamaannya tetap terjaga. Tidak bertanah air dan tak punya raja tapi selalu menonjol di negeri mereka berada dan memberi pengaruh yang kuat. Dianiaya tapi tetap bertahan dan berkembang serta berkelimpahan. Uniknya mereka tetap memiliki identitas yang kuat bukan dari kesukuan dan budaya bahasanya tapi terletak pada keagamaannya. Hal yang tidak ada pada bangsa lain di muka bumi ini.
2.        Bagi para penganut Yudaisme yang taat yaitu mereka yang pernah ditantang Paulus dalam kitab Galatia karena mengajarkan sunat pada kaum Kristen, kehidupan harus berpegang teguh pada Taurat dan tradisi agamawi. Tingkah laku mereka amat tertata dalam hukum dan amat taat secara lahiriah melebihi ketaatan umat beragama manapun juga di dunia.
3.        Budaya mereka adalah satu-satunya budaya bangsa yang paling mengedepankan pendidikan dibanding bangsa-bangsa lain yang ciri khas budayanya terletak pada kesenian dan bahasanya. Ciri khas budayanya terletak pada pengetahuan agamanya itulah yang menjadi dasar mereka mendalami pengatahuan lainnya. Selaras dengan Firman “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.”
          Seharusnya prinsip Kristiani dalam menjalankan pengajaran dan keteguhan imannya dalam Firman sama halnya dengan Yahudi. Meski mereka hanya taat secara lahiriah dan bersandar pada hukum tertulis yang membawa pada kebinasaan karena fana sifatnya namun kita justru yang sudah dalam Kebenaran dan kegenapan hukum Allah dalam Yesus Kristus harusnya lebih giat dalam memperhatikan kelangsungan Firman yang kita miliki. Jika setiap keluarga peka akan hal ini maka tidak akan  ada anak-anak Kristen yang menyangkal iman dan berpindah keyakinannya. Sebab Israel lahiriah hanya memelihara hukum lahiriah dan mendapat berkat lahiriah pula, keduanya cemar dan fana sifatnya, setaat apapun ujungnya pada ketidaksempurnaan karena tanpa Hukum hidup yang menjadi kegenapannya. Tapi kita Israel Rohani masuk dalam pemeliharaan hukum Rohani yang memelihara kita untuk kita dimampukan memeliharanya.Sebab Hukum itu adalah Pribadi yang menggenapkan dan utuh di dalam Kristus. Di dalam Dia sebagai kegenapan Hukum Allah yang kita terima maka kita memelihara dan menerima berkat Rohani dan tidak hanya berkat jasmani. Inilah kelebihan kita dibanding Israel lahiriah yang menolak Kristus sebagai Hukum Rohani dan Berkat Rohani bagi mereka. Alangkah malangnya jika gereja hanya peka terhadap Firman sebagai surat atau hukum tertulis yang harus ditaati tanpa menyadari dan membagikan bahwa Firman yang kita miliki itu adalah Pribadi Kristus lewat Roh Kudus sebagai Firman Hidup yang memperhidup kita untuk saling menghidupi. Dalam hal ini gereja membina anak-anak dan  jemaat dalam pengajaran yang mengarahkan mereka kepada Kristus sebagai Pengajar pribadi di dalam mereka yang hadir dalam wujud Roh kudus yang ada pada setiap orang percaya. Ini adalah pemberdayaan dan kemandirian iman yang meski sebagai jemaat saling berinteraksi dalam persekutuan iman namun secara pribadi menjadi umat Kristen yang kuat dalam iman kepada Kristus.
          Berikut ini adalah konsep dan prinsip dari pendidikan agama Yahudi:
1.        Seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah.
2.        Menurut konsep yahudi modern tidak ada perbedaan nilai antar duniawi dan rohani, semuanya ada dalam wilayah Tuhan. Itulah Yahudi percaya dalam kebergantungan mereka terhadap Taurat maka seluruh hidup adalah suci meski hati nurani mereka tidak dapat menyangkal bahwa mereka tidak utuh dalam kesanggupan menggenapinya. Yang unik adalah mereka sendiri sering melanggar prinsip ini jika mereka mau menonjolkan keagamaan mereka dan kesucian mereka yang mereka yakini melebihi bangsa lain. Mereka akan menyatakan bahwa hukum agamawi mereka tidak bisa dinilai secara dunia.
3.        Pendidikan berpusatkan kepada Allah. Kegagalan campur tangan Allah adalah kegagalan bangsa, (Habakuk 2:10). Bagi anak Yahudi tidak ada buku lain yang memiliki keharusan dipelajari selain Taurat untuk menjadi pegangan dan pelajaran tentang Allah dan karyaNya serta bekal hidup yang amat berharga. Taurat tidak hanya sebagai pelajaran agama, tapi menjadi semacam dasar dari bangsa Yahudi dan negara Israel. Taurat menjadi budaya dan ciri khas mereka. Taurat adalah hidup mereka. Mereka percaya teguh bahwa Taurat satu-satunya jalan berhubungan dengan Allah dan sesama dengan benar. Suatu sistem atau tata kehidupan yang tidak hanya mengatur keagamaan tapi aspek sosial, kesehatan, dan moral.
4.        Pendidikan adalah nilai utama dan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kitab Talmud dikatakan kalau ingin menghancurkan bangsa Yahudi kita harus membinasakan guru-gurunya. Bangsa Yahudi adalah bangsa pertama yang memiliki sistem pendidikan nasional (Ulangan 6:4-9).
Tinjauan:
1.        Jika kita meletakkan dan percaya dasar Iman kita adalah yang seluruh kebenarannya terletak di dalam Allah, maka kita harus mengimaninya di dalam Kristus. Sebab keutuhan kebenaran Allah itu adalah Kristus. Seluruh kebenaran Allah yang tercakup dalam Taurat Israel digenapi Allah di dalam Kristus.
2.        Di dalam Kristus sebagai dasar kebenaran dan iman percaya kita maka kita yang dahulu tinggal dalam dosa kini berpindah pada KerajaanNya yang terang dan suci. Kita masuk pada penyucian Allah yang berlangsung setiap hari dan menjadi Hidup di dalam hidup kita. Dahulu kita ada dalam wilayah dosa kini seluruh hidup kita ada dalam wilayah Allah dan kebenaranNya. Perbuatan kita bukan untuk membenarkan diri di hadapan Allah tapi untuk menyatakan kebenaran Allah di mana kita sudah tinggal di dalamNya. Hidup sesuci apapun yang ditempuh dan yang tampak secara lahiriah dalam berbagai moral penyangkalan diri manusia itu sia-sia adanya dan kotor di hadapan Allah jika di luar Kristus. Melainkan di dalam Kristus kini seluruh hidup kita dan apa yang kita kerjakan dan perbuat jika dibawa di dalam Dia dan menikmati Dia sebagai dasarnya maka akan berolah penyucianNya dan pemurnianNya, itulah KebenaranNya bagi kita hingga kita akan menikmati dalam hal ini tidak ada lagi duniawi, yang ada adalah hidup yang telah menjadi ibadah sejati di dalam Dia.
3.        Sangat penting untuk sejak dini kita memperkuat anak-anak kita dalam keberimanannya terhadap Kristus dan Alkitab yang adalah bagian dari Kristus sebagai Firman yang Hidup dan yang utuh. Sebagaimana anak-anak Israel sejak kecil telah dididik dengan kuat dan ketat untuk berpegang teguh pada Taurat yang justru sulit dan membebani dan tidak mungkin tergenapi oleh manusia maka anak-anak Kristen selayaknya dididik untuk kuat dan mencintai Kristus sebagai Firman yang hidup bagi mereka dengan Alkitab sebagai landasannya.
4.        Jika bangsa Yahudi bisa hancur jika guru-gurunya dibinasakan maka kita memiliki Guru Sejati yang tidak akan binasa oleh apapun yaitu Kristus. Dia adalah Allah yang perkasa dalam FirmanNya yang bahkan dalam rupa Roh Kudus tinggal diam di dalam kita orang percaya hingga kita tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Jika dalam Taurat pengajarannya hanya terpusat dari guru-guru manusia sebagai pengajarnya maka dalam Kristus kita tidak hanya memiliki guru-guru sebagai pengajar. Mereka hanyalah sarana Allah untuk kita dapat saling berbagi dan tahu bahwa ada Pengajar di dalam setiap kita yang harus kita nikmati secara pribadi. Jika setiap orang Kristen mencapai tahap perjumpaan pribadi dengan Allah dalam Kristus dan menikmati pengajaranNya secara pribadi setiap hari, maka kita memiliki betul Pengajaran dan Pengajar yang abadi yaitu Dia sendiri di dalam kita dalam wujud Roh Kudus.

“Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari padaNya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapanNya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaranNya itu benar, dan tidak dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” (1 Yohanes 2:27).

Sangat indah dan kuat jika setiap kita mencapai tahap ini. Inilah perbedaan antara pendidikan Agama Kristen dengan pendidikan agama dari agama-agama lain termasuk Yahudi. Kepercayaan lain bersandar pada pengajar-pengajar manusia tapi kita tidak bersandar pada pengajar manusia sebab mereka adalah sarana Allah untuk saling memperlengkapi dan saling membukakan secara bersama-sama dalam Roh Kudus sebagai Pengajar sejati kita akan Kebenaran Allah yang mengurapi kita semua untuk menjadi pengajar dalam hidup ini. Sejak masa kanak-kanak orang Kristen hendaknya dididik mengarah kepada kedewasaan ini.

          Dalam pendidikan Yahudi juga menerapkan pembagian tahap usia. Pada usia sekitar 5 tahun anak-anak diberi pelajaran dasar membaca Taurat. Bahkan mereka belajar membaca dari kitab Taurat. Pada usia 10 tahun mereka mulai diberi pengajaran dan pemahaman lewat sistem Misyna yang berarti bahan ulangan yang perlu dihafalkan. Pada usia 12-13 tahun anak-anak bahkan sudah wajib mentaati hukum taurat dan peraturan Yahudi yang disebut Mitswoth. Pada tahap ini anak laki-laki Yahudi yang baru menanjak remaja di sebut “Anak-anak hukum Taurat” atau Bar-Mitswa, yaitu pada usia 13 tahun tambah 1 hari. Selain itu pada masa setelah pembuangan di babel, orang Israel menambahkan satu sistem baru yang unik dalam pendidikan mereka yaitu Syemone Esre yang adalah doa yang terdiri dari 18 pengucapan dan diucapkan setiap hari (Pagi, sore, malam) dalam ibadah di Sinagoge. Dalam sesi pembacaan Taurat dan pengajarannya kepada kaum dewasa, anak-anak mendalami sesi Syema Yisrael yaitu pengakuan iman dan pengucapan syukur yang dibaca setiap hari (pagi dan malam) dalam ibadah di sinagoge.

          Pada tahun 75 sebelum Masehi yakni sebelum Kristus lahir, bangsa Yahudi mengadakan semacam sekolah dasar yang disebut Beth-ha-sefer artinya rumah sang kitab (Bet=Rumah, Sefer=Kitab). Di sekolah ini pengetahuan tentang taurat dibaca berulang-ulang dan harus dihafalkan oleh anak-anak Yahudi. Sejak usia 6-7 tahun murid sudah mulai dibawa oleh orang tua mereka ke sekolah ini. Sekolah ini tujuannya hanya murni Taurat. Setelah anak masuk pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu di usia 10-11 tahun mereka dikirim ke Beth-ha-Midrasy (Beth=Rumah, Midrash=Pengajaran). Tujuan sekolah ini adalah selain mempelajari isi harafiah Taurat tapi juga mempelajari manfaat dan maknanya. Sejalan dengan timbulnya sekolah timbul pula pentingnya jabatan guru. Dalam kebudayaan Yahudi seorang guru begitu dihormati, sehingga murid patut menunjukkan pengabdian kepada guru sama seperti budak kepada majikannya kecuali pada hal yang paling rendah yaitu membuka tali kasut.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...