Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa
aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak
menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur
yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya
kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa
Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia.
Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih
Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas
didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton
utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci
yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau
pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong
hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab
suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan
memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak
dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4
November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya
hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat
was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam.
Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik
aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman
terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo
membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para
pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui
wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di
Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau
sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang
menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di
Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan
sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok.
Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab
sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok
dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu
hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo
berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan
percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang
hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam
bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi
manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal
di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu.
Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu
sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya.
Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman
Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita
umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman
Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga
terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman
kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari
Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan
memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk
mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman
yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan
kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus
lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.
“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu
kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di
lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang
mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.
Amsal 4: 20-22

No comments:
Post a Comment