Friday, December 8, 2017

FIRMAN YANG MEMBELA MANUSIA


Saat menulis renungan ini saya sedang memperhatikan peristiwa aksi damai 4 November tahun lalu di mana begitu banyak ormas sebuah agama yang hendak menyerukan untuk memproses gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Gubernur yang adalah juga calon petahana itu dituduh telah melecehkan sebuah kitab suci  dan memicu emosi banyak orang. Sebenarnya kisahnya bermula dari kunjungannya ke pulau Seribu, Gubernur yang akrab disapa Ahok itu sempat menyinggung soal isu dari para pemuka agama yang anti akan dia. Mereka memakai ayat kitab mereka untuk mempengaruhi umatnya agar tidak memilih Ahok. Menurut penjelasan Ahok bahwa para pemuka agama tersebut tidak pantas didengar dan pembodoh rakyat, serta anti keberagaman. Sebenarnya jika ditonton utuh maka video penjelasan Ahook tersebut yang mengutip ayat sebuah kitab suci yang sering dipakai untuk mengkafirkan dia, itu tidak bermuatan ejekan atau pelecehan agama. Namun oleh seorang yang bernama Buni Yani video itu dipotong hingga bagi para penontonnya akan merasa tersinggung seolah agama dan kitab suci merekalah yang dilecehkan. Hingga akhirnya video ini tersebar luas dan memancing amarah beberapa golongan dan ormas masyarakat yang memang sejak dahulu sudah membenci Ahok karena alasan agama ataupun ras.
Bukan main situasi gentingnya, hari-hari sebelum aksi demo 4 November presiden Jokowi bahkan bertemu Prabowo untuk membahas salah satunya hal ini. Beberapa petinggi negara dan tokoh negara pun bertemu. Masyarakat was-was dan takut jangan sampai terjadi seperti kerusuhan Mei 1998 silam. Bahkan lewat BIN Presiden mensinyalir adanya gerakan tokoh-tokoh besar di balik aksi itu. Hingga akhrnya 4 November tiba dan aksi berjalan. Semula tampak aman terkendali, bahkan para polisi yang berjaga khusyuk berdoa bersama para pendemo membuat mata terharu. Namun karena lepas jam 6 saat waktu demo harusnya usai sesuai kesepakatan bersama para pendemo justru tersulut amarah sebab perwakilan mereka hanya berkenan ditemui wakil prseiden dan Menkopolhukam. Presiden sendiri sedang tidak berada di Istana dan lebih memilih kerja blusukan ke Bandara Soekarno Hatta meninjau sebuah proyek rel di sana. Malam hari unjuk rasa berlangsung rusuh, berkembang menjadi pelemparan, saling pukul, dan pembakaran. Bahkan dua mini market di Jakarta Utara dijarah oleh mereka yang
memanfaatkan situasi. Para pendemo berkeras menentang Ahok dan sepertinya tidak terima klarifikasi dan ungkapan permohonan maaf Ahok. Sebenarnya jika mau jujur aksi itu lebih karena sentimisme pada agama sebab sudah sejak dulu kelompok-kelompok itu justru yang selalu mendiskreditkan Ahok dan Kristen. Namun tiada jua pernah dilaporkan sebagai penistaan agama. Lalu hikmah dan perenungan apa yang dapat kita ambil dari peristiwa itu?
Mereka yang berdemo berujar aksi mereka adalah untuk membela kitab suci. Kita yang tinggal dan percaya di dalam Yesus Kristus tentu mengimani bahwa Dia adalah Firman yang hidup yang dihadirkan Allah bagi kita. Sebab firman yang bersifat jasmani dalam bentuk fisik sebuah buku tidaklah menjamin keselamatan dan perubahan hidup bagi manusia. Dia sendiri, Allah itu yang datang dan hidup sebagai Manusia, tinggal di antara manusia, memberi contoh seperti apa Firman yang memberi hidup itu. Memberi contoh bahwa Firman yang benar adalah Dia sendiri. Kini Firman itu sudah datang dan tinggal di dalam setiap kita yang mengaku percaya kepadaNya. Firman itulah yang membela kita, bukan manusia yang sanggup membela Firman Allah. Sebab Firman yang Benar adalah Firman yang menghidupi dan membela kita umatNya yang memberi diri kepadaNya. Inilah kebesaran Allah yang ada dalam Iman Kristen yang kita pegang. Hingga kita tahu bahwa hinaan seperti apapun juga terhadap Firman yang kita percayai itu tidak berpengaruh apapun terhadap iman kita dan damai sejahtera yang kita miliki dalam Dia.
Damai sejahtera dari Firman Hidup itulah yang menjaga kita agar tidak mudah membenci, arogan, dan memusuhi orang lain. Firman yang benar dan hidup mengajarkan kita untuk mengasihi sesama tanpa melihat keyakinan apapun yang dianutnya. Inilah Firman yang sesungguhnya. Bangga punya Kristus, bangga punya Alkitab yang mengajarkan kita untuk tidak arogan atau mengkafirkan orang yang berbeda dengan kita. Yesus lahir sebagai Firman hidup bagi kita untuk menghidupkan dan membela kita.

“hai anakKu, perhatikanlah perkataanKu, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.

Amsal 4: 20-22

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...