Friday, July 19, 2019

Kristus dan ironi antara penindasan dan penaklukkan atas sesama manusia 2


Kristus sebagai penakluk
     Mari kita belajar dari Kristus sang penakluk sejati tentang apa itu sesungguhnya penakluk dan penaklukkan. Ayat-ayat di bawah ini akan menyingkapkan hal tersebut dan menunjukkan keutamaan Kristus dalam segala sesuatu lewat Pribadi Penakluk.
     “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita, sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahkluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 37-39
    Apapun kasih itu jika itu berasal dari dunia itu akan terpisahkan tetapi jika itu berasal dari Allah itu kekal dan menyatukan tidak terpisahkan. Allah yang mau mengasihi dan mengikat diriNya dengan manusia itu nyata dalam pribadi Kristus. Dan manusia yang mengikatkan dirinya dan manu mengasihi Allah itu terwujud nyata pula dalam Kristus inilah Kristus yang nyata dalam kita. Segala sesuatu bermula dari Dia sebagai dasar kita semenjak kita mau menerima Dia. Sayangnya jika belum masuk pada penerimaan keutuhan Kristus banyak orang yang sedang melayani pekerjaan Allah atau beraktifitas dalam kerohanian namun tidak sadar kalau sedang menolak Dia sebab belum mendasarkan dan mengakui segala sesuatu dari Dia dan oleh Dia. Semua akan terbuka ketika kita masuk pada fase selanjutnya dalam pengiringan akan Dia. Yang dibutuhkan di sini adalah kepekaaan diri kita untuk meminta yang utama kepadaNya dalam doa permohonan kita serta kerelaan diri kita untuk memberi diri kepadaNya. Hal ini akan semakin terbuka jika kita masuk pada pembahasan selanjutnya.
    
     “lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “jangan engkau menangis! Sesungguhnya, Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Wahyu 5:5
     Dalam ayat di atas kita menemukan penyataan  akan Kristus sebagai Singa dari Yehuda, Dia yang telah menang dari sekian banyak pendahulu. Pemenang di sini di mana Kristus mewakili dua, yaitu Dia sebagai Allah yang menang untuk manusia dan sebagai Manusia yang menang untuk Allah atau di hadapan Allah. Hanya Dia satu-satunya yang menang yang sanggup dan layak membuka gulungan kitab yang termeterai. Di dalam Dia dan oleh Dialah maka kita pun akan menikmati hidup yang termeterai dalam gulungan kitab kehidupanNya Allah. Dialah Kristus, Allah yang memeteraikan diriNya bagi manusia, mendedikasikan diriNya atau mempersembahkan DiriNya bagi manusia dan sebaliknya pula Dialah manusia yang seutuhnya benar dan mendedikasikan DiriNya untuk Allah. Makanya dalam segala hal Allah sangat meninggikan Dia dan sebagaimana Allah meninggikan Dia maka Dia harus dan layak ditinggikan oleh segenap umat manusia sebagai sumber kemenangan dan keselamatan. Inilah Kristologi sejati, kesatuan yang tersingkap jelas antara Allah dan manusia di dalam pribadi Yesus Kristus.     

     “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Korintus 15: 57
      Satu-satunya Allah yang sanggup mengalahkan dosa dan maut itu terwujudnyatakan di dalam pribadi Yesus Kristus agar di dalam Dia manusia yang percaya dapat beroleh kemenangan dan kelepasan yang sama. Sebab apapun setiap usaha manusia sebenarnya berujung pada keinginan untuk mencari kepuasan diri karena sejatinya manusia sejak jatuh dalam dosa kehilangan akan kemuliaan dan kepuasan hidup untuk menikmati hidupnya. Inilah Kehadiran Kristus bagi kita dimaksudkan agar kita mau menerima Dia semakin hari semakin luas di dalam diri kita dan menanggalkan segenap keinginan dan pribadi kita di dalam Dia. Agar keinginan dan kehendak Dia masuk dalam setiap sendi aspek hidup kita. Inilah kebebasan dan kemenangan orang percaya, kita tidak lagi berjalan sesuai kehendak kita dan meminta penyertaanNya untuk apa yang kita mau tetapi kita berjalan sesuai kehendak Dia dan meminta penyertaanNya untuk apa yang Dia mau di dalam kita. Jika manusia berjalan sesuai kehendak sendiri maka sebaik apapun itu, itu adalah penjajahan dan perbudakan sebab tanpa Allah diri manusia itu lekat dengan hukum dosa.
     Sewaktu saya masuk pada penyangkalan diri secara utuh dalam hal ini saya katakana utuh sebab ada satu titik di mana saya mengalami pengalaman rohani luar biasa. Saat di mana saya setelah sekian lama berdoa demikian: “ Ya Tuhan, ajar saya dalam segala hal untuk semakin mengenal Engkau, dan nyatakanlah PribadiMu yang ada di dalam saya”, maka akhirnya saya mengalami di mana Dia menyatakan diriNya bahwa benar-benar Dia ada di dalam kita secara pribadi lewat Roh KudusNya, saya tekankan di sini Roh Kudus itu Pribadi Allah dan ada di dalam kita makanya kiat di sebut anak-anak Allah. Pada saat itu saya diperhadapkan kenyataan untuk menerima bahwa hidup saya bukan milik saya tetapi milik Dia yang ada di dalam saya. Saya harus menerima kenyataan bahwa saya milik Dia tidak berhak lagi menentukan sendiri sejengkal pun jalan hidup saya dan keinginan saya. Satu hal yang saya pergumulkan sejak dahulu adalah tentang pelayanan dan pekerjaan. Saya tidak mau terjun dalam dunia pelayanan dalam hal ini secara umum terjemahkan sebagai pelayanan rohani atau jadi pendeta dan rohaniawan lainnya secara full. Namun di sisi lain saya memang lebih suka hendak memiliki pekerjaan yang dunia kategorikan sebaga pekerjaan sekuler yang dianggap tidak ada kaitannya sedikitpun dengan hal rohani.
     Hingga pada akhirnya saya berhasil melepaskan diri saya dari segala beban ketidakinginan untuk tunduk dan menyerahkannya kepada Dia yang ada di dalam saya, yang juga menguatkan saya untuk melakukan itu. Dan apa yang saya temui adalah luar biasa bebas, ketika saya memberi apa yang seolah hak saya, seolah hak di sini dalam arti diri saya secara utuh dalam segala keinginannya, ketikak saya serahkan itu dan tunduk kepada Dia maka Dia memenuhi saya secara utuh dalam setiap sendi kehendak saya hingga akhirnya Kristus kembali memberikan apa yang saya anggap hak saya itu kepada saya namun dalam keadaan diri saya yang sudah berbeda. “Karena engkau sudah memberi dirimu dan segala aspek kehendak di dalamnya maka Aku memberikannya kembali sebab yang di ubah bukan pada kehendak atau keinginan kita tetapi motivasi dan dasar dari mana kehendak itu muncul.” Yang dirombak di sini adalah dosa, sesungguhnya hukum atau pribadi dosa itu yang dirombak dan dihancurkan oleh Allah di dalam kita, Cuma karena diri manusia kita sudah lekat dan senyawa dengan dosa maka kita merasa diri inilah yang diambil atau dirombak. Tetapi sesungguhnya dosa di dalam diri kita, bukan sekedar perbuatannya, itu terlalu kecil tetapi akar hidupnya, hukumnya atau pribadinya, kuasanya yang dihancurkan hingga kita dapat menikmati kembali diri kita seturut kehendak Allah dan tanpa beban lagi dalam pengiringan akan Dia.
     “Berry, jika kamu pun bekerja sesuai keinginanmu dan tanpa adanya  Aku di sana, apakah kamu akan benar menikmatinya?” saya berkata tidak Tuhan. “Berry, jika kamupun melayani Aku dan kamu hanya melakukan karena  beban hukum tanpa adanya Aku di sana apakah kamu akan menikmatinya?” jawabku, tidak Tuhan. Ketika saya telah masuk pada penyerahan diri kepadanya maka Dia menunjukkan  suatu realita baru yang lebih bersifat batiniah, perombakan dan perubahan diri dari dalam nyata Dia kerjakan di dalam saya. “AnakKu, karena kamu telah menyerahkan dirimu dan segala kehendak di dalamnya maka apapun yang kamu kehendaki, apapun yang kamu inginkan, terjadilah sesuai rencanamu dan Aku menyertaimu.” Sebab yang diubah bukan kehendak rencana lahiriah kita tetapi dasar dari mana itu berasal. Yang diubah adalah batin kita, hati dan pikiran kita. Jika dahulu masih bersenyawa dengan dosa dan hanya hidup dalam kasih karunia pelayakanNya maka sekarang telah hidup dalam bersenyawa dengan Dia dan dalam kelayakanNya. Ini perbedaan yang amat jauh dalam fase hidup orang percaya. Hanya bisa diukur dan dinilai secara batiniah rohaniah dan tidak bisa diukur sebatas jasmaniah sebagaimana Paulus utarakan dalam 1 Korintus 5: 16-17.
     Terjadi perubahan atau peningkatan yang besar dalam cara pandang, iman, kekuatan dalam Kristus, menilai hidup dan segala sesuatu. Nyata benar bagaimana Kristus yang telah menaklukkan saya tidak bisa lagi ditaklukan oleh siapaun dan apapun juga. Sebab utamanya adalah bermula dari diri kita selama kita mnasih belum seutuhnya takluk atau mau takluk kepada Kristus maka dunia masih mudah menaklukan kita sebab kita masih banyak membawa diri kita saja dna Kristus hanaya labelnya. Tetapi jika kita  membawa Kristus sebagai Pribadi utuh, dunia pasti akan membenci tetapi mereka tidak akan sanggup membantah. Inilah yang saya alami dan nikmati sejak saat pengalaman hebat itu hingga sekarang.

     “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka.” Kolose 2: 15
     Apa sebab kita tidak bisa menilai Kristus sebatas lahiriah saja? Sebab kekayaan dan kemuliaan Allah tidak akan tergambar sepenuhnya secara lahiriah. Ayat di atas contohnya. Secara lahiriah mata jasmaniah, perasaan dan pikiran jiwani manusia akan menilai bahwa Kristuslah yang dilucuti dan dijadikan tontonan di kayu salib tetapi ayat di atas berbicara realita yang berlawanan bahwa sebaliknya pemerintah dunialah yang dilucuti dan menjadi tontonan umum dalam kemenangan Kristus. Manusia duniawi mengukur kemenangan secara jasmaniah semata, uang banyak, jabatan digapai, punya gedung baru, rumah baru, usaha baru maju, sukses dan lain-lain. Sangat menyedihkan juga iman dalam kehidupan rohaniah dinilai juga sebatas lahiriah semata. Iman digambarkan hanya dalam situasi jika mempercayai hal supranatural. Yakin sembuh, menyembuhkan sakit-sakit parah secara medis, meyakini berkat datang, dan lain-lain. Padahal iman bukanlah objek semata, tetapi jika kita masuk dalam Keutuhan Kristus atau Kristologi sejati kita akan menemukan Iman itu berbicara Pribadi dan semua kebenaran ungkapan Alkitab menunjuk dan menuju pada satu pribadi yang sempurna di mana semua kebenaran Alkitab itu sempurna di dalam Dia. Dialah Kristus, segala sesuatu tanpa hakekat Kristus itu bukan iman dan segala sesuatu yang dasarnya hakekat Kristus itu adalah Iman sebab Iman itu adalah Kristus, perhatikan Galatia 3:22-26.
     Amat menyedihkan dan tidak heran jika sekarang banyak pengajaran dan komunitas pelayanan yang akhirnya salah kaprah dalam menerjemahkan iman bagi jemaat. Dalam Galatia 3: 22-25 jelas menyatakan Iman itu adalah Pribadi Kristus. Apapun yyang kita lakukan tanpa Dia, sehebat apapun itu sebaik apapun itu itu bukan Iman, itu motivasi diri manusiawi, manusia alamiah yang akan berakhir dalam dunia. Jika iman Kristus yang kita miliki maka kita tidak akan berpandangan sesempit yang umumnya orang lakukan. Mengasihi sesama itu wujud iman, tidak hanya nanti menyembuhkan sakit ini dan itu. Menerima keberadaan diri dan sesama itu iman, bukan sembarang iman tidak hanya dinilai dari mengahdirkan mujisat supra natural ini dan itu. Iman itu Kristus di dalam kita.

     “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?” 1 Yohanes 5:4-5
     Kemenangan yang mengalahkan Dunia adalah Iman kita dan iman kita adalah Kristus bukan dari diri kita sendiri tetapi dari Allah untuk kita. Kita perlu mempercayai betul FirmanNya yang mengatakan semua dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, (Kolose 1:16). Untuk masuk pada percaya kepada Yesus adalah Anak Allah itupun bukan sebatas percaya kehadiranNya yang lahir  sebgai anak Allah dan anak Manusia sebagaimana Alkitab selalu nyatakan dengan jelas. Tetapi dalam hal ini kita harus menerima dan mengakui keberadaanNya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia di mana di dalam Dia Allah dan Manusia menjadi satu dan dipersatukan. Pribadi yang utuh mewakili Allah dan Manusia agar keduanya dipersatukan kembali di dalam Dia.
“demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Dan setiap roh, yang tidak mengaku (menolak, membenci, menghindari, menghalangi) Yesus, tidak berasal dari Alla.Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.”
1 Yohanes 4: 4-5
“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”
2 Yohanes 1: 7
“Maka kata Yesus: apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu.” Yohanes 8: 28
“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 14-15

Ingat kejadian bangsa Israel yang dipagut ular di padang gurun? Agar terlepas dan sembuh dari bisa ular maka Musa oleh perintah Allah memperlihatkan tongkat ular hingga mereka yang melihat tongkat ular itu selamat dan sembuh. Jika ingin sembuh dari racun dunia, pandang dan tinggikan Yesus Kristu, Anak Allah dan Anak Manusia. Perhatikan kata Anak Manusia yang oleh Alkitab di tulis dengan huruf capital. Jelas sudah bahwa kita tidak hanya bisa lebih mengakui Kristus hanya pada sisi Keilahian Dia atau sisi Ketuhanan Dia tetapi kita perlu mengakui sejajar dengan sisi kemanusiaan Dia yang sempurna. Sebab mengakui Tuhan dalam KetuhananNya itu semua manusia yang bahkan tidak percaya Kristus pun bisa lakukan meski tuhan mereka dalam hal ini berbeda dengan Tuhan kita. Namun mengakui Ketuhanan Allah dalam wujud manusia itu sulit. Hanya kemurahan Roh kudus yang membuat kita mampu beriman kepadaNya. Dan untuk masuk lebih dalam akan Kristus maka pengakuan akan kesempurnaanNya dalam wujud manusia itu akan banyak menemplak dosa di dalam batiniah setiap pribadi, itu akan menghancurkan dan menelanjangi pribadi dosa setiap orang. Ini yang membuat banyak orang marah dan geram akan pengajaran Kristus dalam hal ini Kristologi sejati sebab itu yang saya sudah alami selama memberitakan Dia secara pribadi. Namun  jika hati berani dan rela terbuka kepadaNya maka justru kehadiranNya secara utuh dalam diri kita lewat pengakuan diri kita kepada Dia yang sempurna dan satu-satunya itu akan membuat kita lega dan terbebas dari segala beban dunia. Dunia akan tunduk sebab kita terlebih dahulu telah tunduk kepadaNya. Diawali dari dalam batin, dalam RohNya yang ada dalam kita.

Kristus dan ironi antara penindasan dan penaklukkan atas sesama manusia 1


KRISTUS SEBAGAI WAKIL MEREKA YANG TERTINDAS
     Sejak manusia jatuh dalam dosa maka manusia yang semula harusnya memerintah atau berada pada posisi menaklukkan dunia akhirnya gagal menjalankan tugas tersebut. Manusia bahkan takluk pada keterbatasan dirinya sendiri akibat hukum dosa di dalam dia, (kej 1:28). Sejak saat itu pula manusia berusaha melakukan dan mencari penaklukan sesuai standar dan keinginannya sendiri yang justru mencelakakan searah dengan ayat Alkitab yang mengatakan seluruh keinginan kehendak manusia itu berasal dari dosa yang jahat, (kejadian 6: 5, roma 3: 10-12). Jadi dalam hal ini manusia mencari pemuasan diri dalam upaya penaklukan yang dia lakukan. Namun upaya itu sebenarnya berawal dari penindasan dosa yang dialami setiap manusia di dalam dirinya. Sebab setiap akal budi, perasaan, pikiran manusia telah lekat dengan dosa. Inilah yang akan sedikit demi sedikit disadarkan dan dilepaskan oleh Yesus di dalam kita jika kita sudah masuk dalam kepenuhanNya, atau saya sebutkan sebagai Kristologi sejati. Mengalami Kristus secara nyata dan pribadi. Secara Rohaniah dan bukan sebatas lahiriah semata.
     Sebenarnya jika kita mengkaji dengan Kristus sebagai dasar dan menilai secara batiniah dengan penglihatan Kristus, pikiran Kristus maka kita akan mendapati bahwa usaha penindasan dan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia, Afrika, ataupun Amerika itu adalah manifestasi dari ketertindasan dosa di dalam diri. Begitu pula dengan kita secara pribadi, manusia sesungguhnya ditindas oleh dosa yang ada di dalam dia. Setiap gerak-gerik upaya dan hasrat hidupnya berasal dari keinginan yang tertindas yang tidak pernah terpenuhi secara utuh dan benar. Hanya Yesus Kristus yang sanggup memuaskan dan melepaskan kita dari tindasan dosa itu. Jadi dengan Kristologi sejati kita nyata akan bisa melihat dan menilai segala sesuatu bukan hanya dari luarnya saja tetapi intinya kita tahu dan nilai, sumber dari segala sesuatu kejadian itu kita telaah dan ketahui karena kita memiliki pikiran Kristus yang menilai dan menyingkapkan segala sesuatu.
     Sebenarnya dosa yang lekat dalam diri manusia itu sifatnya menindas dan tertindas. Menindas manusia itu sendiri dan membuat manusia itu merasa tertindas dalam hidupnya baik secara nayat atau secara tidak langsung. Kembali hanya Kristus yang sanggup memberi kelepasan dan keasadaran bagi kita akan hal ini. Mari kita bahas bersama tentang kebenaran Kristus sebagai solusi pembebas bagi manusia atas segala penindasan dan ketertindasannya.

1. Kristus mewakili mereka yang tertindas
     Sebenarnya jika masuk dalam pikiran Kristus yang utuh menilai secara khusus hingga kedalaman batiniah perseorangan serta pikiran Kristus yang utuh menilai secara umum hingga seluas mungkin maka kita akan dapati, di bawah kolong langit ini adakah manusia yang benar-benar bebas dan tidak tertindas sama sekali baik secara jasmani ataupun batiniah? Jika kita akan membantahnya dan mengatakan ada manusia yang demikian maka kita sama halnya menyangkal iman kita kepada Kristus karena ternyata ada manusia yang bisa bebas tanpa Kristus dan itu berarti setiap kita punya kemampuan atau kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun pada kenyataannya kita harus akui pertama dalam diri kita dahulu bahwa kita sadar dalam diri yang terbatas dan dihidupi oleh hukum dosa ini maka manusia tidak ada yang tidak tertindas dalam dirinya. Baru kita sadar seutuhnya di dunia ini seluruh manusia mengalami hal yang sama walaupun dalam keadaan hidup lahiriah yang berbeda yaitu mengalami penindasan. Apa yang menindas manusia? Dosa dan maut, itu jelas. Namun syukurlah kepada Tuhan sebab Yesus Kristus telah hadir bagi kita untuk merasakan hidup manusia yang tertindas, Dia ditindas namun tidak tertindas, Dia ditekan namun tidak tertekan, satu-satunya manusia yang tidak terjajah oleh apapun meski Dia tunduk pada hukum taurat namun malah Dia sanggup menggenapinya dalam tubuh manusia yang terbatas secara jasmaniah. Inilah kemenangan di balik penindasan. Inilah Kristus, hidup ilahi Allah yang dinyatakan bagi kita.
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 7-11

     “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15
     Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi Ilahi yang turut merasakan bahkan lebih dulu merasakan segenap penderitaan manusia. Penderitaan atau penindasan yang dialami manusia intinya bukan pada peristiwa lahiriah semata yang nampak kasat mata. Itu hanyalah manifestasi atau hasil nyata yang tampak di luar. Penindasan yang sesungguhnya ada dalam setiap batin, hati perasaan dan akal pikiran setiap manusia. Dan penindasan itu adalah dosa atau inti hidup dosa yang ada dalam diri setiap manusia. Jika manusia hidup lebih berdasar dari hidup dosa atau hukum dosa yang ada dalam dia maka hidupnya berada dalam penindasan hukum dosa itu. Hukum dosa itu ada dan lekat erat dengan hati dan jiwa manusia serta daging jasmaninya tetapi roh kita yang berasal dari Allah tidak terjamah sedikitpun olehnya. Roh Kudus yang kita terima oleh Yesus Kristus, membangkitkan kembali roh kita agar dari situ terbangun suatu hubungan yang memerdekakan dalam Dia. Inilah kemenangan atas penindasan dosa. Hidup dalam Roh atau oleh Roh bukan sekedar tafsiran dan anjuran umum yang menitikberatkan pada perbuatan baik melulu. Tetapi ini bersifat lebih dalam dari itu di mana kehendak Roh hidup dan bekerja luas dalam diri kita serta kehendakNya menjadi kehendak kita, suatu kesatuan yang utuh antara kita dengan Allah dalam pekerjaan Roh Kristus atau Roh KudusNya di dalam diri kita yang mau rela diperbaharui dari hari ke hari.
     Jadi jelas di sini penindasan tidak hanya dialami oleh bangsa yang terjajah tetapi penindasan dialami pula oelh bangsa atau pihak yang menjajah dan menindas. Mengapa manusia menindas satu dengan yang lain dan mengapa manusia merasa tertindas? Karena ada hukumm penindasan di dalam manusia oleh karena dosa. Ada hukum dosa yang menindas di dalam diri manusia. Hanya oleh Yesus Kristus, Imam besar Agung itulah maka kita akan selamat dan terbebas dari penindasan. Kristus adalah pribadi Allah yang membebaskan manusia dan Kristus juga adalah pribadi Manusia yang mewakili manusia untuk menyatakan kebebasan di hadapan Allah, agar di dalam Dia manusia menikmati kembali kemerdekaan yang sesungguhnya. Ini bukan dinilai secara lahiriah dalam berbagai peristiwa sukses jasmaniah tetapi dinilai secara Rohaniah di dalam batin, kebebasan yang berawal dari dalam batin oleh Roh.

     “kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” Markus 8: 31

     Sejak saya memberitakan keutuhan Pribadi Kristus dalam keberadaanNya sebagai Allah sekaligus sebagai manusia sempurna yang harus kita akui dalam diri kita secara pribadi, saya mendapati banyak sekali penolakan bahkan terutama dari kalangan yang kelihatan sudah banyak melayani dan lama hidup dalam pengiringan akan Tuhan. Raut wajah mereka jelas tahu bahwa apa yang disampaikan benar adanya namun di hati mereka, mereka menolak kebenaran itu. Padahal dalam lubuk hati batiniah mereka, mereka tahu betapa benar pengajaran akan Kristus tersebut dan mereka mengakuiNya. Namun masih eratnya diri dan kiblat diri dengan pribadi dosa maka penolakan terjadi. Ini juga bisa terjadi karena pengajaran akan Kristus secara utuh akan amat bertentangan dengan pribadi dosa dan segala keinginannya di dalam diri kita. Ketidakmauan untuk mengakui Keakuan Kristus atau Kepribadian Kristus disebabkan masih kuatnya ego diri yang lekat dengan pribadi dosa di dalam diri. Padahal inilah sumber penindasan yang manusia alami. Lihatlah Kristus Tuhan kita yang sudah lebih dahulu ditolak. Sebenarnya para Imama farisi, dan ahli-ahli taurat sudah tahu akan keberadaanNya sebagai Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan itu namun kehadiranNya dalam rupa demikian dan dalam pribadi demikian tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ini membuat mereka menolak Dia meskipun mereka dalam hatinya tahu bahwa Dia benar. Jika mereka  tahu Dia tidak benar maka mereka tidak perlu menyalibkan Dia atau merasa begitu terusik oleh kehadiranNya dan pengajaranNya. Dari sini kita melihat bahwa keinginan manusia yang bersumber dan lekat dengan dosa itu melebihi kebenaran. Manusia sebenarnya mencari keinginannya dan kesenangan sesuai kemauannya, bukan mencari kebenaran. Sebab kebenaran yang dicari oleh manusia pun adalah untuk memusakan keinginannya masing-masing. Padahal itupun bukan Kebenaran sejati. Sebab Kebenaran sejati hanya ada dalam Yesus Kristus dan untuk mencari Kebenaran dengan sungguh, atau menginginkan Kebenaran dengan sungguh itu berawal dari penerimaan sepenuhnya terhadap Kristus.

KRISTUS DARI PENGINJILAN BANGSA SPANYOL II, KRISTUS SEBAGAI PEMBEBAS


Kristus sebagai Pembebas
Untuk memahami citra Yesus yang digambarkan para teolog Pembebasan Amerika Latin masa kini, harus dimengerti bahwa latar belakang dari pemikiran ini ialah Yesus yang diserahkan atau yang dibawa serta oleh para conquistador Spanyol dan yang telah membatin berabad-abad dan yang kemudian diakui di Amerika Latin. Miguez Bonino lebih suka menamakannya teologi dalam konteks pembebasan. Ia melihat gerakan-gerakan pembebasan di Dunia Ketiga sebagai tindakan pembebasan oleh Yahweh dan Yesus Kristus.
Seorang warga Kolumbia yang bernama Everardo Ramirez Toro telah menulis sebuah buku Injil Kelima, di mana Yesus digam­barkan dalam konteks Amerika Latin. Berikut beberapa cuplikan.
Ketika Yesus lahir ... di Macondo pada masa pemerintahan Presiden Nixon, datanglah beberapa ahli falak dari negeri yang jauh di ibu kota kekaisaran Moneyland dan bertanya, “Di mana penyelamat rakyat lahir? Kami telah melihat bintangnya di langit dan telah datang untuk berkenalan dengan dia”. Ketika Nixon mendengar itu, is terkejut, begitu pula para pemeras. Ia memanggil dan mengumpulkan para penguasa sipil, militer serta pemimpin-pemimpin agama untuk menanyakan di mana penyelemat akan lahir. Mereka berkata kepadanya, “Di dusun Macondo, karena telah tertulis dalam kitab Nabi-nabi: 'Dan engkau Macondo, daerah pinggiran, engkau bukanlah yang terkecil, tidak kurang dari semua kota dunia, karena daripada­mulah akan lahir seorang pemimpin yang akan membebaskan rakyat.”'
Lalu Nixon berbicara dengan para ahli bintang tersendiri, lalu berdasarkan keterangan mereka ia mengetahui sejak kapan bintang itu bersinar. Sesudah itu ia menyuruh mereka pergi ke Macondo. Ia berkata, “Pergilah ke sana dan kumpulkan sebanyak mungkin keterangan mengenai anak itu dan bilamana kamu telah menemukannya datanglah kepadaku, karena akupun mau berkenalan dengan dia.” Pada waktu itu datanglah Yohanes Allende, juga disebut pelopor pembebasan Yohanes Allende memakai pakaian buruh dengan ikat pinggang dari kulit. Makanannya adalah nasi dan pisang, sama dengan makanan petani dan pekerja pabrik. Dari segala penjuru orang datang untuk mendengar dia berbicara tentang perubahan-perubahan besar yang akan terjadi dan bagaimana Tuhan akan menghukum para penipu rakyat. Dan mereka mendengar ia meminta agar mereka bertobat. Semua yang bertobat dibaptis oleh dia dengan mencurahkan air ke atas mereka sebagai tanda pembebasan.
Banyak yang datang dengan kesungguhan hati untuk bertobat, tetapi ada juga yang datang dengan hati penuh kedengkian, hanya untuk menghindari hukuman yang telah diumumkan. Mereka adalah para pemimpin politik dan agama, yang menindas rakyat. Kepada mereka Yohanes Allende berkata: “Hai, kamu keturunan beludak. Apakah kamu melarikan diri dari murka Allah? Perlihatkanlah dengan perbuatan nyata sesuai pertobatan yang sungguh-sungguh. Dan janganlah salah tafsir dan mengulangi dalam hati, 'Kami akan diselamatkan juga, karena kami taat pada ajaran tradisional dari gereja Katolik.' Dengan pasti aku berkata kepadamu: Kapak berada pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang, kemudian dibakar.
Di tengah keramaian pesta tiba-tiba Yesus berdiri di ambang pintu gereja dan berbicara dengan kefasihan yang luar biasa. Para imam dan agen reaksioner dari rezim yang berkuasa, saling berkata dengan berang, “Bagaimana ia bisa memiliki pengetahuan yang begitu luas tentang permasalahan­permasalahan yang ada, tanpa studi akademis!” Yesus berkata, “Kabar baik tentang pembebasan bukan penemuan-Ku sendiri, tetapi diajarkan oleh Allah yang adalah Bapa dari seluruh rakyat. Allah telah berkata, 'Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,' tetapi kamu tidak melaksanakan hukum itu, malahan kamu sebagai orang kuat menindas yang lemah.” Ia melihat beberapa anggota. Dinas Keamanan berada di antara khalayak ramai untuk mengintai Dia. Ia kemudian berkata, “Sekarang Aku bertanya kepadamu, mengapa kalian mau membunuh Aku?” Mereka menjawab, “Kamu gila, siapa yang mau membunuh-Mu?” Yesus menjawab, “Satu-satunya alasan mengapa kalian mau membunuh Aku, ialah karena Aku memberitakan tentang kasih, persamaan hak dan persaudaraan dan karena Aku menuntut penghentian pemerasan ...”
Sesudah itu Yesus pergi ke ibu kota negeri itu. Ketika Ia mendekati kota itu, Ia mengutus seorang pengikut-Nya untuk bertemu dengan kawan lama-Nya, seorang dari golongan rakyat biasa, untuk menyampaikan pesan: “Kawan, pinjamkan keledaimu kepada-Ku, karena Aku memerlukannya untuk memasuki kota”. Ini terjadi untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan: Beritakanlah kepada rakyat yang tertindas: Lihatlah, pembebasmu datang. Ia berhati lembut dan tidak berdaya. Ia tidak datang dengan mobil mewah yang dilengkapi dengan kaca gelap anti peluru seperti lazimnya kendaraan para penindas rakyat kalau bepergian, tanpa banyak iringan, ia datang mengendarai seekor keledai biasa, binatang yang biasa bekerja dan dicambuk. Pengikut-pengikut-Nya pergi, kemudian kembali dan membawa keledai itu. Mereka meletakkan jas mereka di atas punggung binatang itu, lalu Yesus menaikinya. Semakin dekat Ia menghampiri kota semakin banyak orang mengikuti-Nya, sehingga menjadi suatu massa yang sangat besar, terdiri dari orang-orang dari tempat-tempat kumuh, buruh, mahasiswa, sopir, orang-orang yang ingin tahu dan mata-mata. Rakyat melambai-lambaikan saputangan, dahan­dahan, yang mereka patahkan dari pohon-pohon dan dengan apa solo yang mereka dapat gunakan, sambil bersorak-sorai penuh semangat: “Hidup pemimpin kita! Hidup Dia yang datang membebaskan kita dari penindas-penindas dalam nama Tuhan, Bapak rakyat! Hidup pembebas kita!”...
Karena telah terjadi banyak insiden di katedral, make pemuka-pemuka agama mengadakan kampanye melalui pers, radio dan tv, untuk mendesak penguasa sipil dan militer menangkap Yesus. Namun di negeri itu banyak berbeda pendapat mengenai hal itu. Ada yang berkata, “Dialah sesungguhnya sang Pembebas!” Ada pula yang berkata, “Dia adalah unsur subversif dan penghasut profesional!” Beberapa kelompok yang ekstrim kanan ingin menangkap Dia dan menyuruh satu detasemen polisi ke tempat-Nya. Namun para polisi kembali kepada komandannya dengan tangan kosong. Ketika ditanya, “Mengapa kalian tidak memborgol Dia, lalu membawa-Nya kemari?”, mereka jawab, “Kami belum pernah mendengar orang lain berbicara seperti Dia.”
Lalu atasan mereka berkata, “Kamu telah diperdayakan oleh orang subversif itu. Pernahkah kamu lihat ada seorang anggota dari golongan atas atau dari hierarki gereja yang percaya kepada Dia? Tetapi rakyat :rang lugu percaya segala sesuatu”... Setelah Yesus menerangl:an secara panjang lebar tentang pembebasan, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “'Callan semua tahu bukan, bahwa da'am beberapa hari akan diadakan pemilihan dan Putra rakyat akan dibunuh!”
Maka kembali para penguasa bertemu dan berunding bersama para penasihat dari CIA, lalu mereka memutuskan untuk “melikwidasikan” Yesus, sebagaimana hal itu disebut dengan istilah bahasa mereka sendiri. Kemudian disepakati bersama untuk tidak melakukan hal itu selama pemilihan berlangsung, agar rakyat yang percaya kepada-Nya tidak menjadi resah ...”
Ada dua teolog di Amerika Latin yang dengan sangat terbuka menggumuli “kristologi”, yang namanya perlu disebut di sini. Yang pertama adalah Leonardo Boff yang berasal dari Brasil. Pada tahun 1972 is menulis tentang Kristologi Amerika Latin dengan judul Yesus Kristus Sang Pembebas, suatu kristologi yang sangat tajam untuk masa kini.3 Karya tulis lain tentang Yesus Kristus yang menjadi sangat terkenal adalah buku yang ditulis Jon Sobrino; Kristologi dari Amerika Latin?
Bilamana kristologi itu dipelajari secara sepintas lalu, mungkin akan timbul pertanyaan apa sebenarnya yang menunjukkan ciri khas Amerika Latin pada gambaan-gambaran tentang Kristus itu.
Bukankah para penulis itu sangat mendukung penelitian teologis dari Eropa di bidang kristologi, dan menimba ilmu daripadanya? Keistimewaan dari para teolog Pembebasan Amerika Latin itu ialah, bahwa dalam mempermasalahkan tentang Yesus, mereka tidak dipengaruhi oleh pandangan teoretis, historis-eksegetis, tetapi oleh pandangan praktis. Yang penting bagi mereka ialah bagaimana mengkaji dimensi politis dari tindakan-tindakan Yesus dan kepercayaan kepada-Nya. Semangat pembebasan yang menerobos Amerika Latin menjadi kunci hermeneutis dalam mengkaji Yesus kembali.
Menurut Boff, merenungkan dan menghayati kepercayaan kita kepada Yesus Kristus dalam konteks sosio-historis yang ditandai dengan penguasaan dan penindasan, berarti menyembah Yesus Kristus dan memproklamasikan Dia sebagai Pembebas. Yang terutama perlu dipertanyakan di sini, menurut Boff, ialah siapa atau kepentingan apakah yang dilayani oleh “ajaran” tertentu tentang Kristus. “Kristologi” tentang Yesus sebagai Pembebas berhadapan dengan ajaran yang mendukung seluruh proses kolonisasi dan dominasi: “Tokoh-tokoh Kristus yang menderita dan mati dari tradisi Amerika Latin adalah tokoh-tokoh Kristus yang menjelaskan 'ketidakmampuan yang telah membatin' dari mereka yang tertindas. Perawan Suci yang tertusuk oleh pedang penderita­an menggambarkan penaklukan dan dominasi terhadap kaum wanita”. Kristologi Pembebasan memihak kepada orang yang tertindas.39 Yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa bertentang­an dengan “ajaran tentang Kristus” yang dibawa dari Spanyol dan umumnya dianut, yang hanya mementingkan peristiwa kelahiran dan kematian Yesus, gagasan ini menonjolkan Yesus yang historis. Artinya, yang dititikberatkan di sini ialah seluruh kehidupan Yesus dengan segala kegiatan dan perbuatan-Nya. Perkembangan ini terjadi karena dirasakan ada suatu persamaan struktural antara situasi semasa Yesus hidup dengan situasi orang yang hidup di Amerika Latin masa kini. Yang dimaksudkan Boff dan kawan­kawan di sini ialah situasi sosio-politik Amerika Latin. Kristologi Pembebasan Amerika Latin - menurut Boff - mengutamakan “Yesus yang historis” di atas “Kristus yang diimani”.
Namun gagasan tentang Yesus yang historis itu diberi anti dan penghayatan yang berbeda dengan yang dipahami di Eropa. Dalam mempelajari Yesus yang historis itu di Eropa (Geschichte der Leben Jesu Forschung) orang mempertanyakan kata-kata mana yang merupakan ucapan Yesus sendiri, dan mana yang dibuat dan disuguhkan oleh “jemaat” (teologi jemaat). Hal ini tidak diper­masalahkan dalam Teologi Pembebasan.' Perbedaannya menurut Jon Sobrino, adalah bahwa kristologi Eropa berkaitan dengan fase pertama dari zaman Pencerahan (yakni bahwa, iman harus dipertanggungjawabkan di depan forum akal budi), sedangkan kristologi Amerika Latin tertuju pada fase kedua: mengubah kenyataan.
Mereka tidak menaruh minat pada “sejarah” seperti yang menjadi pokok penelitian di Eropa. Namun mereka melanjutkan penelitian yang telah dilakukan di Eropa itu. Perbedaan-perbedaan dalam pengakuan juga tidak merupakan hambatan dalam hal ini. Perhatian mereka adalah, dan akan tetap bersifat praktis, refleksi teologis dalam konteks masyarakat Amerika Latin. Cara mem­bicarakan Yesus dan Kristus seperti ini adalah demi melayani pembaruan dalam kehidupan Kristen dan juga hidup kegerejaan. Adalah tidak adil jika kita berpraduga, bahwa mereka ingin melepaskan “kepercayaan” mereka kepada Kristus. Para penulis adalah imam yang berpegang sepenuhnya pada tradisi liturgis gereja mereka. Pembebasan Yesus Kristus bukanlah suatu ajaran yang diproklamasikan, tetapi suatu praksis yang hendak direalisasi­kan. Para teolog Pembebasan boleh dikatakan, dengan sendirinya bertitik tolak dari pengakuan iman tradisional mengenai Yesus Kristus. Namun mereka menafsirkan secara baru pengakuan yang tradisional itu: “Yesus Kristus, Sang Pembebas”.
Teristimewa dalam kristologi Jon Sobrino, segi kehidupan dari Yesus yang historis (berarti dalam seluruh riwayat hidup-Nya) sangat ditonjolkan. Ia mengembangkannya bertolak dari situasi di Amerika Latin, yakni penindasan, ketidakadilan dan pemerasan. Kristologi tersebut mempunyai landasan dalam kehidupan Yesus yang historis dan dalam sejarah bangsa yang menderita.
Satu-satunya jalan untuk mengenal Yesus ialah mengikuti-Nya dalam kenyataan hidup-Nya, dan menghayati apa yang Ia pertaruh­kan dalam masa hidup-Nya, lalu mencoba membangun kerajaan­Nya di tengah kita. Hanya melalui praksis Kristen kita dapat mendekati Yesus.” Mengikut Yesus adalah syarat untuk mengenal Allah (Yer 22:16). Jon Sobrino menyebut dua alasan untuk mulai pada Yesus yang historis itu. Pertama-tama ada suatu persamaan antara situasi di Amerika Latin dan situasi di masa hidup Yesus. Bukan hanya persamaan dalam situasi kemiskinan dan pemerasan, tetapi tema-temanya juga sama. Kedua, yang dipentingkan dalam jemaat­jemaat pertama ialah berpegang pada kesaksian orang-orang yang menyatakan mereka telah melihat Dia yang telah bangkit.
Menurut Boff dan Sobrino, setiap generasi membawa serta kedatangan Kristus yang baru. Dalam kehidupan beriman banyak orang Kristen di Amerika Latin yang melihat dan mengasihi Dia sebagai “Pembebas”. Pasalnya di sini, menurut Sobrino, bukan untuk menjelaskan permasalahan seperti dua kodrat, transsubstan­siasi, kesatuan hypostasis dan hubungan antara sifat ilahi dan sifat manusiawi. Yang merupakan keberatan baginya ialah, bahwa penjelasan teologis dan pengalaman semacam itu tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap bidang sosial. Ia sebaliknya ingin menitikberatkan pada pokok-pokok dalam kristologi, yang memban­tu menjelaskan pola pembebasan serta pengertian praktisnya dan bagaimana merealisasikannya: misalnya kegiatan sosial-politik Yesus dan kewa,jiban untuk mengikuti jejak-Nya. Maksud dari pengkajian tentang Yesus adalah meluruskan jalan untuk secara efektif bekerja sama dengan Dia. Kerajaan Sorga menimbulkan kerinduan yang bersifat utopis pada manusia, kerinduan akan pembebasan dari segala sesuatu, dari ketakutan, kesakitan, kelaparan, ketidakadilan dan kematian, bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh alam semesta.
“Kepada Kristus yang diimani,” demikian kata Sobrino, “kepada Tuhan yang dibangkitkan, kita boleh datang secara langsung dengan maksud terarah, baik melalui pengakuan iman, maupun puji-pujian atau melalui doa dan ibadah. Akan tetapi dengan Yesus yang historis, sebagaimana diajarkan Injil, kita terlibat hanya dalam cara hidup (praksis) tertentu, yang dalam bahasa Injil tidak lain daripada mengikut Dia.”
Semakin jelaslah bahwa dua kenyataan itu, yakni situasi historis mereka sendiri dan situasi semasa Yesus hidup, oleh para teolog Pembebasan Amerika Latin dijadikan saling berkaitan. “Jika kematian Yesus dan kematian itu sendiri tidak ditanggapi serius sebagai suatu kenyataan, maka pembicaraan tentang Allah dirasakan idealistis dan asing.” Di Amerika Latin kematian Tuhan dihayati seakan-akan kematian-Nya kematian orang lain, vaitu kematian orang Indian dan para petani. Penghayatan kepercayaan Kristen tidak boleh terbatas pada mistik salib saja, tetapi harus nyata dalam tindakan meneladan Dia, sebagaimana Ia menempuh jalan hidup-Nya.
Tuhan yang Bangkit tidak pernah tanpa bentuk. Kini Yesus tetap bersekutu dengan umat manusia, yang adalah tubuh-Nya. Yesus senantiasa mencari tubuh-Nya (Yoh 10:6: Aku mencari domba yang bukan dari kandang ini). Domba-domba itu adalah orang-orang Indian. Mereka milik Kristus. Oleh karena itu tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa ia mengasihi Yesus dan memuliakan-Nya, jika pada saat yang sama ia memisahkan domba­domba milik Yesus daripada-Nya. Penindasan terhadap orang-orang Indian, tidak memungkinkan bebas masuk jalan menuju Kristus. Seorang Kristus tanpa orang Indian adalah makhluk gnostik, roh tanpa tubuh, seorang Kristus yang diperdayakan. Ia bukan Kristus yang sungguh-sungguh bangkit, yang dalam hidup baru-Nya justru bersekutu dengan orang-orang Indian itu. Karena pemberitaan pembebasan sempurna bagi manusia, muncullah Kristus yang telah bangkit sebagai pemenang atas segala kuasa maut.
Yang paling pokok dalam teologi atau kristologi Pembebasan Amerika Latin adalah pemahaman Yesus sebagai Pembebas. Yang diberi perhatian sebenarnya ialah seluruh kehidupan Yesus, apa yang Ia lakukan dan katakan, ketika Ia tampil di depan umum dalam situasi historis yang kongkret di abad yang pertama. Mengikut Yesus adalah hal yang sangat ditekankan di sini, namun bukan hanya dalam pengertian “rohani” seperti yang dimaksudkan Thomas a Kempis dengan Imitatio Christi. Tidak, tetapi mengikuti jejak Yesus secara kongkret adalah syarat untuk dapat memahami kebenaran-Nya.
Kesemuanya itu dimaksudkan sebagai kebalikan dari citra Yesus yang hanya sebagai anak yang tidak berdaya dalam pelukan ibu-Nya dan korban yang mati di pangkuannya (“Pieta”). Hal ini merupakan pemberontakan terhadap kristologi yang hanya menaruh perhatian pada Jumat Agung, tetapi tidak terhadap Paskah. Suatu kristologi seperti itu hanya menawarkan kepada orang miskin ketabahan dalam penderitaan dengan memperingati Jumat Agung, tetapi tidak dapat memberi harapan akan Kabar Baik tentang kebangkitan untuk menempuh hidup yang baru, yang sekarang sudah mau dimulai.

Tuesday, July 9, 2019

SEPERTI APA PENGGAMBARAN KRISTUS MENURUT METODE PENGINJILAN BANGSA SPANYOL DI AMERIKA LATIN?

Kristus Spanyol
Di Cuzco, ibu kota lama bangsa Inka, ada sebuah gereja dari zaman kolonial. Pada pintunya tertulis: “Datanglah kepada Maria semua yang letih lesu dan ia akan memberi ketenangan kepada­mu.” Kutipan seperti itu menurut John Mackay, menggambarkan secara khusus betapa besar peranan Maria dalam ketaatan agama rakyat Amerika Latin dan Spanyol. Betapa Kristus tersaingi oleh ibu-Nya datang ke Amerika, katanya. “Dari Betlehem dan Kalvari Dia melalui Afrika dan Spanyol menempuh perjalanan yang panjang ke pampas (padang rumput) dan cordilleras (pegunungan). Akan tetapi apakah benar Dia yang datang atau suatu tokoh agama yang memakai nama-Nya dan beberapa ciri khasnya? Saya rasa ketika Kristus pergi ke Barat Ia ditangkap di Spanyol, sedangkan orang lain yang memakai nama-Nya ikut berlayar bersama bangsa Spanyol yang ber-Perang Salib. Seorang Kristus yang tidak lahir di Betlehem, tetapi di Afrika Utara.25 Kristus inilah yang “dinaturalisasikan” di koloni Iberia, sedangkan anak dan Tuhan Maria tidak lebih daripada orang asing dan seorang penonton di negeri ini, sejak zaman Columbus sampai sekarang.”
Apa yang merupakan ciri khas dari Kristus dalam pandangan orang Spanyol, menurut Mackay? Dalam hal ini ia menunjuk pada kepekaan orang Spanyol terhadap tragedi dan perasaan yang sangat emosional terhadap kehidupan abadi, hal yang berulangkali timbul dalam kepercayaan rakyat Spanyol. Sehubungan dengan itu Mackay menunjuk kepada ahli filsafat Spanyol Miguel de Unamuno (1864­1936). Karya tulisnya El-Christo de Velazques (pada 1920) terdiri dari empat bagian. Patung Kristus terkenal, ciptaan Velazques, rupanya mempengaruhi Unamuno, sebagaimana patung ciptaan Grunewald dengan tangan Yohanes Pembaptis yang menunjuk kepada Dia yang di Salib itu, mempengaruhi pemikiran Karl Barth.
Unamuno mengomentari ciptaan Velazques, Kristus yang di Salib atau Kristus yang Telentang yang terdapat di kota Palencia (Iglesia de la Cruz). Katanya, “Kristus ini, abadi seperti kematian, tidak bangkit lagi. Betapa tidak. Bagi Dia hanya tersedia kematian Kristus Spanyol ini tidak pernah hidup, hitam sebagai selubung bumi, tergelimpang horisontal Artinya, di dalam kepercayaan orang Spanyol Kristus adalah pusat kultus kematian. Kristus yang mati ini menjadi korban. Yang mencolok sekali di sini ialah bahwa segi-segi istimewa dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, tidak penting dan agaknya kurang menarik perhatian.”
Dalam pandangan Spanyol, Kristus dianggap sebagai makhluk supra-alami, yang kemanusiaan-Nya tidak mempunyai daya tank etis bagi kita. Kristus yang asketis ini, mati sebagai korban dari kebencian manusia dan juga untuk members kehidupan kekal kepada mereka yang percaya. Artinya, Ia memberikan kelangsung­an keberadaan jasmaniah. Dengan “menghayati penderitaan-Nya” terjadilah suatu kelegaan dalam jiwa orang berdoa, hal mana juga terjadi pada orang yang menonton adu banteng, suatu kreasi serupa, ungkapan jiwa Spanyol, demikian menurut Mackay. Orang Spanyol melihat dan merasakan kematian dalam kenyataannya yang menakutkan dalam nasib korban itu. Seluruh pengalaman yang menggemparkan itu mempertebal kepekaan terhadap kenyataan dan kengerian kematian itu, sebab is merangsang kegairahan akan kehidupan. Namun kehidupan bukan dalam arti kata keinginan untuk dilahirkan kembali, tetapi untuk mencapai kehidupan yang abadi. Ia ikut serta dalam komuni bukan untuk memperbaiki hidupnya. Dalam Ekaristi Kristus dipakai untuk kepentingan pribadi. Sakramen ini membuat kehidupan bertambah ta.npa mengubahnya.
Kristus yang “diserahkan”, Kristus Spanyol ini, adalah Kristus yang terutama dikenal sebagai anak dalam pelukan ibu-Nya sebagai tubuh yang mati, sekujur mayat dalam pangkuan ibu-Nya. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini, perlu kiranya diingat patung karya Michelangelo yang terkenal, yaitu Pieta di Roma. Thu itu menangani sifat kanak-kanak Yesus yang tak berdaya dan nasib­Nya yang menyedihkan itu. Dengan tidak mengalami kematian, ibu yang perawan itu menjadi ratu kehidupan. Kristus dan Maria ini dibawa ke Amerika. “Ia datang sebagai penguasa kematian dan kehidupan yang akan datang. Maria datang sebagai wanita yang memerintah atas kehidupan yang sekarang,” demikian kata J. Mackay.”
Dari sekian banyak gambaran Kristus di Amerika Latin, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Kristus seperti disebut di atas itulah yang dibawa ke benua ini. Para misionaris Spanyol menggambarkan Kristus sebagai korban yang tragis, memar, legam dan pucat pasi; yakni gambar-gambar Kristus yang penuh darah; Kristus-Kristus dengan wajah menyeringai bergumul dengan maut; Kristus-Kristus yang telentang dan menyerah.
Menurut John Mackay, justru Kristus yang berasal dari tradisi Spanyol populer inilah (“Kristus Spanyol”) yang “dinaturali­sasikan” di Amerika Latin. Yang mungkin sangat menonjol di sini ialah, bahwa riwayat hidup-Nya tidak dibawakan. Adapun peranan Yesus selama di dunia dilihat semata-mata dalam dua peranan dramatis saja, yaitu: 1. Sebagai anak dalam pelukan ibu-Nya; 2. Sebagai korban berdarah, penuh penderitaan.
Gambaran ini menyangkut Kristus yang lahir dan mati, tetapi tidak pernah hidup. Yang mengherankan ialah, bahwa kurun waktu yang berarti dan menentukan dalam kehidupan Yesus, yakni sesudah masa kanak-kanak-Nya, ketika Ia tanpa beban mental serta memerlukan perlindungan sampai pada keputusan yang diambil-Nya dengan “penuh keberanian” untuk mati, sambil menanggung penderitaan yang tak terhingga, dihilangkan saja, kata Mackay.
Sifat kemanusiaan Kristus hampir tidak dihiraukan, pun di Amerika Latin, demikian Mackay. Sebabnya adalah karena mereka tidak mengenal Yesus selain Dia yang mereka pakai sebagai alasan untuk mengadakan “hari-hari raya”. Ia diingat sebagai anak dan sebagai korban yang menderita. Ia dijadikan “pelindung suci” pada perayaan hari kelahiran-Nya, yang dirayakan secara besar-besaran dan kemudian pada peringatan Minggu-minggu Sengsara yang ditandai suasana suram. Yesus Kristus berfungsi sebagai suatu katharsis, semacam kelegaan emosional untuk melepaskan ketegangan, tetapi secara etis Dia tidak mempunyai arti. Bangsa Amerika Selatan memberi perhatian khusus pada arti Yesus bagi kematian dan hidup abadi, sehingga mereka tidak dapat melihat Dia sebagai orang yang telah mengajar bagaimana kita harus hidup; yang telah berkata: Ikutlah Aku!
Pandangan mengenai Kristus yang bangkit sudah sama kaburnya dengan pandangan mengenai tokoh historis itu. Kristus telah kehilangan prestise sebagai penyelamat dalam perkara­perkara kehidupan! Ia hidup seolah-olah dalam pengasingan, sedangkan Sang Perawan, para orang suci, didekati setiap hari untuk kebutuhan hidup. Sang Perawan adalah dewi sejati agama rakyat itu.

Bagaimana ()rang Amerika Latin memandang Yesus, dapat dinilai dari patung-patung-Nya yang dibuat dan bagaimana mereka memperingati penderitaan-Nya. Sama seperti di Spanyol, di Amerika Latin diselenggarakan prosesi-prosesi selama Minggu Sengsara. Konon diceritakan tentang adegan-adegan yang mengeri­kan, penuh penyiksaan dith, yang dilakukan secara kolektif. Orang memikul kayu-kayu salib yang berat. Penderitaan Kristus dijadikan suatu kultus kematian dan penguburan diri sendiri. Masa itu merupakan minggu yang sepi yang tidak diakhiri dengan perayaan Paskah. Pengakuan kepercayaan agama Katolik rakyat Brasilia masa kini membuktikan bahwa kepercayaan kepada Kristus tidak dialami sebagai suatu panggilan, bukan juga sebagai kepercayaan yang mengubah hati dan pikiran, yang memberi harapan dan kebahagiaan. Kepercayaan pada kultus dilihat sebagai suatu ulangan mistik dari kehidupan diri sendiri, yang terganggu dan menyedihkan, demikian Luis Alberto de Boni.

SEPERTI APA METODE PENYERAHAN KRISTUS KEPADA BANGSA AMERIKA LATIN?

Metode “penyerahan”
Bagaimana perebutan dan kristenisasi penduduk terjadi secara bersamaan dan bagaimana hal itu mempengaruhi pemberitaan Kristen, dapat dilihat dari contoh yang diberikan Francisco Pizarro dalam tindakannya. Ia seorang gembala babi dari Extra Madura yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi sebagai conquis­tador akhirnya dapat merebut Cuzco, pusat wilayah kekuasaan Inka di Peru. Tidal( ada tandingannya dalam hal is mempraktek­kan mengejar keuntungan bersamaan dengan hidup taat pada agama.
Penaklukan dimulai dari Panama dalam bulan Januari 1531. Francisco Pizarro diantar oleh beberapa imam, di antaranya Vincente Velverde dari Dominika. Para imam diikutsertakan untuk melaksanakan pertobatan “penduduk asli”.
Konon diceritakan, bahwa setiap kali, sebelum tentara masuk ke suatu wilayah untuk menaklukkannya, suatu pengumuman resmi yang panjang dalam bentuk pidato, dibacakan kepada orang­orang Indian tanpa seorang penerjemah (!) di hadapan seorang notaris.
Pengumuman tersebut menkak mereka untuk memeluk agama Katolik yang suci. Prajurit-prajurit Spanyol biasa mem­bacakan surat yang disebut requirimiento dengan teks dari Kredo (dalam bahasa Kastilia!) ini kepada suku Indian dan mints persetujuan mereka. Apabila mereka menolak, maka perang suci akan dinyatakan atas mereka dan dimulai.' “Bilamana kamu sekalian tidak melakukan itu dan menunda keputusan dengan maksud jahat, maka aku jamin, bahwa dengan pertolongan Tuhan aku akan menggunakan kekerasan dan akan memakai segala cara untuk melawan dan menaklukkan kamu sekalian agar kamu patuh kepada gereja dan para raja. Aku akan mengambil istri-istri dan anak-anakmu untuk dijadikan budak dan dijual. Aku akan menentukan nasib kamu dan akan bertindak sedemikian rupa, sehingga kamu akan mengalami segala macam penderitaan dan kerugian.”
Kira-kira demikian diceritakan tentang Pizarro, ketika is menangkap Raja Inka, Atahualpa. Dari Atahualpa diminta supaya tunduk kepada raja Spanyol dan memeluk agama Katolik. Cerita berikut menguraikan tentang peristiwa itu. Valverde yang adalah anggota. ordo Dominikan, menghampiri Raja Inka, Atahualpa, dengan menggenggam salib. Setelah membuat tanda salib pada diri tawanan kerajaan itu, is berkhotbah sebagai berikut, “Aku adalah imam Allah dan aku mengajar hal-hal ilahi kepada orang-orang Kristen. Aku datang untuk mengajar kamu demikian. Allah adalah sehakikat dan sekaligus merupakan Tritunggal dari tiga pribadi. Ia menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia menciptakan Adam, manusia pertama dari tanah fiat dan Hawa dari salah satu rusuk Adam. Dan kita semua keturunan mereka. Nenek moyang kita itu durhaka terhadap Penciptanya, karena itu mereka lahir dalam dosa. Dan tidak ada satu orang yang dapat diampuni Tuhan dan masuk ke dalam sorga, jikalau Yesus Kristus, Anak Allah, tidak dijelmakan dalam kandungan dara Maria dan menyelamatkan kita oleh kematian-Nya di kayu salib. Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga. Ia menempatkan Rasul Petrus sebagai pengganti-Nya di dunia dan memberikan kepadanya kuasa peradilan atas seluruh dunia. Para Paus sebagai pengganti-pengganti Petrus, memerintah umat manusia dan seluruh bangsa di manapun mereka berada dan agama apapun mereka peluk dan mereka harus patuh kepada dia. Paus telah memberikan seluruh negeri ini kepada raja Spanyol, agar orang-orang kafir diamankan dan dibawa ke dalam pagar gereja, karena di luar itu tidak ada yang dapat diselamatkan (extra ecclesia nulla salus). Gubernur Pizarro telah datang dengan tugas itu, oleh karena itu Tuan berkewajiban untuk membayar upeti kepada Raja dan menghentikan penyembahan Matahari dan segala berhala yang membawa Tuan ke dalam neraka. Dan Tuan harus memeluk agama yang benar. Bilamana Tuan berbuat demikian, maka Tuhan akan memberi imbalan kepadamu dan orang-orang Spanyol akan melindungi Tuan terhadap serangan musuh” Pemimpin Inka menjawab, bahwa ia tidak akan mengakui raja manapun sebagai atasan. Ia membantah hak Paus untuk membagi­bagikan negeri yang bukan kepunyaannya. Ia menolak untuk menggantikan Dewa Matahari dengan Dewa yang dibunuh oleh makhluk yang ia ciptakan sendiri. Dan ia ingin tahu, dari manakah Valverde memperoleh pengetahuan itu. Ketika kepadanya disodor­kan Alkitab, orang Inka itu melemparkannya ke tanah.
Pemimpin Inka itu ditawan selama sembilan setengah bulan. Pada tahun 1534 suatu kiriman uang dalam jumlah besar, berupa emas sekamar dan perak dua kamar penuh, tiba di Sevilla. Uang itu ditagih oleh Francisco Pizarro dari pemimpin Inka itu sebagai uang tebusannya.'8 Namun ia tidak dibebaskan, sebagaimana dijanjikan orang-orang Spanyol itu, mereka melanggar janji mereka dan Atahualpa dikenakan hukuman mati dan akan dibakar! Valverde, yang adalah otak dari keputusan ini, mendekati dia dan berjanji, bahwa hukuman itu dapat berubah menjadi hukuman penjara, bilamana ia mau menjadi Kristen. Atahualpa menyetujui­nya, lalu ia dibaptis dan diberi nama Yohanes, sesuai dengan nama hari itu yang dibaktikan kepada Santo Yohanes. Kemudian mereka mencekik dia, sementara orang Spanyol lain yang berada di tempat itu melantunkan Pengakuan Iman, demikian John Mackay menggambarkan peristiwa itu.
Pada zaman itu juga orang sudah memprotes perlakuan demikian, walaupun tindakan ini tidak banyak mengubah keadaan.
Pada tahun 1511 dari atas mimbar di Hispaniola, Antonio de Montessino mengecam tindakan para penalduk-penakluk Spanyol dengan menunjuk kepada Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Yang dikecam ialah keija paksa (encomienda) dan perbudakan orang Indian. Bartholome de las Casas semasa kecilnya telah melihat bagaimana Columbus menyuruh orang-orang Indian, yang ia bawa dari petualangannya yang pertama ke Spanyol, berbaris dalam tahun 1493 dan ia telah menulis tentang pembinasaan orang Indian di Hindia dan tentang lenyapnya kebudayaan Indian. la berpendapat bahwa tujuan utama penaklukan hanyalah menyebar­kan agama Kristen. Hanya atas dasar itulah, menurut dia, Pans telah menunjuk Spanyol sebagai pelindung negeri.
Untuk dapat mengerti mengapa orang dapat bertindak seperti orang Spanyol itu, perlu disadari pertanyaan pertanyaan apa saja yang didiskusikan pada zaman itu. “Apakah orang Indian makhluk yang dapat berpikir ataukah mereka makhluk yang bertaraf di antara manusia dan binatang? Apakah mereka orang kafir biasa atau orang yang dulu sudah bertobat namun kemudian menjadi kafir kembali? Apakah mereka orang yang setingkat di atas orang yang biadab atau anjing kudisan saja?” Jawaban atas pertanyaan­pertanyaan itu sangat penting untuk pelaksanaan tugas orang Spanyol itu. Tindakan mereka dapat disyahkan berdasarkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bukankah, jika orang Indian itu makhluk yang dapat berpikir, mereka tidak boleh dijadikan budak dan dikenakan pajak. Akan tetapi, kalau mereka orang biadab, penaklukan mereka untuk sebagian besar dapat dibenarkan. Hampir tidak ada orang yang mendukung De las Casas ketika ia mempertahankan bahwa orang Indian adalah manusia sejati.
De las Casas menghendaki kolonisasi secara damai. Di Spanyol ia menuntut hak-hak asasi manusia bagi orang-orang Indian. Pada tahun 1550-1551 terjadi perdebatan yang sengit antara Bartholome de las Casas dan seorang yang bernama J.C. de Sepiilveda. De las Casas mengusulkan agar orang Indian sepenuhnya disamakan dengan orang lain, sebaliknya Sepulveda membela pendapatnya dengan menggunakan dalil-dalil Aristoteles, yakni bahwa orang Indian sebagai orang biadab, harus takluk kepada orang Spanyol yang beradab.

Francisco de Vitoria rupanya orang Spanyol pertama yang membantah bahwa pemberian negeri oleh Taus mempunyai makna politis. Dalam karya tulisnya Relection de 1 ndis sive de jure belli Hispaniorum in barbares (1546), ia menyebut serentetan motivasi yang membenarkan, berdasarkan syarat-syarat tertentu, perebutan dunia baru itu oleh Spanyol. Yaitu: adanya hambatan pada pelayaran bebas atau pada pekabaran            untuk melindungi kaum Kristen baru; membantu orang pribumi dalam peperangan yang adil; pemilihan bebas oleh penduduk asli. Nainun Francisco de Vitoria berpendapat bahwa sekalipun agama diberitakan kepada orang-orang biadab secara wajar, lalu kalau mereka tetap tidak mau menerimanya, itu bukan alasan untuk menghukum mereka dan merampas harta milik mereka.

KRISTOLOGI LANJUTAN, SEPERTI APA GAMBARAN YESUS KRISTUS BAGI BANGSA AMERIKA LATIN?

YESUS DALAM BANGSA AMERIKA LATIN
“Penderitaan Kristus, Tuhan, tercermin pada wqjah-wqjah rakyat yang menderita karena penindasan” (Puebla).

Kali ini membahas bagaimana “Kristus Spanyol” diserahkan kepada Amerika Latin mulai dari Christophorus Columbus dan Francisco Pizarro. Berhadapan dengan itu Kristus digambarkan sebagai “Pembebas” yang adalah ciptaan para teolog pembebasan sebagai reaksi terhadap “Kristus Spanyol itu” (Leonardo Boff, Jon Sobrino demikian juga Everardo Ramirez Toro).
Adalah sangat penting untuk menyadari, bahwa petualangan­petualangan yang dilakukan orang-orang Portugis dan Spanyol sejak abad ke-15 itu, bertepatan dengan perebutan kembali atau reconquista seluruh semenanjung Iberia. Sejak berabad-abad telah teijadi di Spanyol, al-Andalus bagi orang Muslim, suatu kehidupan masyarakat yang semakin berkembang - simbiose' - antara orang Yahudi, Kristen dan Muslim.
Dalam tahun 1492, dengan jatuhnya Granada, lengkaplah perebutan kembali Spanyol dari tangan orang-orang Moro. Peristiwa ini menandai berakhirnya kuasa Islam di semenanjung Iberia. Selama periode “reconquista” yang berselang berabad-abad tidak hanya orang-orang Muslim yang diusir dari wilayah itu, tetapi juga orang Yahudi. Dari Spanyol yang “paling Kristen”, di bawah pemerintahan Ferdinand dan Isabella, ada sekitar 150.000 orang Yahudi “dikeluarkan”.2 Banyak dari golongan yang terakhir ini mencari perlindungan pada wilayah Islam di Afrika Utara dan bagian-bagian lain dari dunia Arab sebelah Timur. Maimonides, ahli filsafat Yahudi terkenal yang berasal dari Cordoba, akhirnya meninggal di Fosfat dekat Kairo, Mesir dalam tahun 1204. Christophorus (“Penjunjung Kristus”) Columbus.
Berakhirnya “reconquista” dalam tahun 1492 bertepatan dengan “penemuan” Amerika oleh Christophorus Columbus, orang Genoa itu, bukanlah suatu hal yang kebetulan terjadi. Orang orang seperti Columbus melakukan petualangan-petualangan seperti ini, digerakkan oleh suatu kombinasi dari “nafsu untuk mengejar keuntungan dan kesalehan”3, dengan bertekanan pada urutan yang seperti ini. “Don Quixote rohani dan Sancho Pancha materialis itu naik kapal dengan tujuan 'Hindia'. Akan tetapi sanak saudara dari yang terakhir jauh lebih banyak dari yang pertama”.4 Salah satu penyebab yang mendorong orang untuk memprakarsai usaha seperti itu adalah suatu pengetahuan yang pada saat itu belum lama ditemukan, yakni bahwa bumi bukan berbentuk dataran yang ceper, melainkan berbentuk bulat, sehingga dapat dikelilingi dengan kapal. Apapun motivasi tambahannya (mungkin semata­mata hanya hasrat untuk bertualang saja), tetapi keinginan dasariah “mengelilingi” dunia Islam. Dengan cara demikian mereka ingin merebut rintangan dari dunia Islam yang telah begitu lama diperangi di berbagai front.
Terdapat suatu legenda mengenai seorang imam Johannes, seorang raja Kristen yang konon tinggal di “seberang” dunia Islam. Legenda ini memainkan peran yang penting sepanjang Abad Pertengahan. Kalau orang-orang Kristen dapat mengikat peijanjian persekutuan dengan dia, maka inereka bersama-sama mampu mengalahkan orang-orang Muslim, dan dengan demikian masih dapat merealisirkan tujuan asli dari Penang Salib.5 Tentang Columbus dikatakan, bahwa ia sadar akan anti nama depannya, Christophorus, yakni “Penjunjung Kristus”.
Seiring dengan itu, timbullah pertanyaan bagaimana ia telah menghayati tugas yang terkandung dalam namanya itu? Apakah ia menyampaikan atau mengkhianati Kristus? Dan bagaimana Kristus disambut, ditemukan dan dililiat oleh orang-orang Indian? Columbus sendiri menulis: “Aku berlayar dalam nama Tritunggal yang kudus dan di dalam-Nya aku berharap memperoleh keme­nangan”. Ia melihat penemuannya yang besar itu sebagai wujud yang nyata dari nubuat Yesaya 60:9. “Kapal-kapal dari Tarsis mengangkut perak dan emasnya demi kemuliaan nama Tuhan”.
Anggapannya bahwa petualangannya ada kaitan dengan gagasan Perang Salib, dapat disimpulkan dari ambisinya untuk mengambil sejumlah uang dari negeri-negeri yang baru ditemukan itu. Uang itu dimaksudkan untuk membiayai suatu ekspedisi yang terdiri dari 10.000 anggota kavaleri dan 100.000 infanteri yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci untuk membebaskan Yerusa­lem dari orang-orang Turki.
Pada tanggal 2 Oktober 1492 Columbus mendarat di pulau Guanahani, salah satu pulau dari kepulauan Bahama, yang ia beri nama San Salvador. Apakah pulau itu dan penduduknya mem­punyai nama sendiri, tidak dipedulikan. Yang akan kami bicarakan selaajutnya ialah bagaimana pertemuan “Salvador”, yaitu “Sang Pembebas”, dengan apa yang kemudian dikenal dengan nama Amerika Latin akan berlangsung. Setelah terjadi “reconquista” selama delapan abad, orang-orang Spanyol yang ikut Columbus berpegang pada tiga prinsip, yakni:
1.    Bahwa Tuhan berkenan atas dibunuhnya dan dirampoknya orang kafir.
2.    Bahwa para prajurit dan para imam adalah golongan sosial yang mulia.
3.    Bahwa bekerja adalah hina dan negeri yang direbutitu adalah milik kerajaan dan kaum bangsawan yang merebut­nya. Gereja membenarkan perebutan ini dan memperoleh bagian dari harta milik negeri itu.
Gagasan-gagasan inilah yang sangat mempengaruhi kolonisasi dan usaha untuk mengkristenkan penduduk.
Tidak disangsikan lagi bahwa perebutan Amerika Latin berlangsung secara bengis dan kejam. Pada tahun 1552, setahun sesudah Francisco Pizarro merebut Peru, Barth°lome de las Casas menulis kepada raja Spanyol, Charles I, yang dalam kedudukannya sebagai Kaisar dari Kekaisaran Romawi yang Suci, bernama Charles V.
“Di negeri Castilia Baru terjadi kebengisan setiap hari Hukuman dari sorga akan turun atas orang yang bersalah, yakni mereka yang telah melakukannya. Tuhan kita, Yesus Kristus, disalib kembali setiap jam di Castilia Baru ... Wanita­wanita muda bangsa Indian direnggut dari keluarga mereka dan dipaksa untuk melayani nafsu birahi orang Spanyol. Banyak orang Spanyol memelihara harem, tempat tinggal selir­selir. Menurut pendapatku, kelakuan itu lebih cocok dengan tanda Bulan Sabit daripada Salib yang tidak bernoda.”' (Tidak perlu dikemukakan lagi bahwa kritiknya terhadap orang-orang Spanyol cukup beralasan. Secara sepintas lalu ia juga menyerang orang-orang Muslim. Hal ini lebih memperjelas bagaimana orang-orang Spanyol menilai orang-orang Moro dan tidak mengenai kenyataan orang-orang Moro itu sendiri).
Bartolome de las Casas, penulis dari Brevisima Relackin de la destruciOn de las Indias occidentales (1552) membuka rahasia tentang pemerasan yang kejam dan kematian “sebelum waktunya” dari orang-orang Indian yang malang itu. Ia menyebut orang-orang Spanyol penindas-penindas yang menyebut dirinya orang Kristen. Ia berpendapat, bahwa mereka mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka sendiri dengan memperlakukan orang-orang Indian demikian. Apabila orang-orang Spanyol itu tidak menghentikan penghinaan, perkosaan dan pemerasan terhadap orang Indian, maka menurut de las Casas, mereka pasti akan kena kutuk. Karena adalah mustahil bagi orang yang berbuat tidak benar untuk diselamatkan. Bagi de las Casas jelaslah, bahwa keselamatan orang-orang Kristen lebih terancam daripada keselamatan orang­-orang kafir! “Orang Indian yang masih kafir tetapi hidup, lebih baik nasibnya daripada orang Indian yang sudah Kristen tetapi mati” Ia lebih cenderung melihat orang Indian sebagai orang “miskin” - dalam arti kata injili - daripada orang “kafir”. Dalam suratnya kepada kaisar, Las Casas mengemukakan lebih jauh bahwa bilamana pertobatan orang Indian tidak dapat berlaku tanpa kematian dan pembinasaan, maka adalah lebih baik bagi mereka untuk tidak menjadi Kristen sama sekali. Bagi Las Casas, Kristus berbicara dari antara orang-orang Indian. Di Hindia, demikian tulis Las Casas, aku melihat Yesus Kristus, Tuhan kita, dicambuk, dihancurkan, bukan satu kali, tetapi beduta kali.
Dari surat yang pertama itu nyata, apa yang menjadi ciri khas dari sejarah Amerika Latin, yakni:
-    keterpautan pekabaran Injil dengan penaklukan dan pendudukan.
-    perasaan lebih unggul dari orang-orang Eropa terhadap orang-orang Indian.
Dengan kata lain, sejarah orang Indian di Amerika Latin sejak tahun 1492 dapat dinilai sebagai sejarah penderitaan, atau seperti dikatakan Galeano: pemerasan dari suatu benua selama lima abad. Mereka dikenakan pemerasan ekonomi, terganggu dan terasing dalam kehidupan kultural dan ditaklukkan dalam hal keagamaan.

Para raja Katolik menerima dari Paus Alexander VI suatu Motu proprio (surat keputusan Paus) yang menurut perhitungan dikarang tanggal 4 Mei 1493, yang berjudul: Inter cetera. Menurut Prien, surat keputusan ini tidak boleh disalahtafsirkan sebagai surat wasiat hibah. Makna surat ini ialah bahwa Paus secara hukum internasional mengakui hak milik para raja tersebut atas wilayah-wilayah di Hindia Barat, yang pada kenyataannya sudah lebih dulu direbut. Pengakuan dari Paus sebagai penguasa tertinggi kaum Kristen mensyahkan pemilikan itu dan menyatakan bawahannya berkewkjiban untuk menyebarkan agama.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...