Tuesday, July 9, 2019

SEPERTI APA METODE PENYERAHAN KRISTUS KEPADA BANGSA AMERIKA LATIN?

Metode “penyerahan”
Bagaimana perebutan dan kristenisasi penduduk terjadi secara bersamaan dan bagaimana hal itu mempengaruhi pemberitaan Kristen, dapat dilihat dari contoh yang diberikan Francisco Pizarro dalam tindakannya. Ia seorang gembala babi dari Extra Madura yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi sebagai conquis­tador akhirnya dapat merebut Cuzco, pusat wilayah kekuasaan Inka di Peru. Tidal( ada tandingannya dalam hal is mempraktek­kan mengejar keuntungan bersamaan dengan hidup taat pada agama.
Penaklukan dimulai dari Panama dalam bulan Januari 1531. Francisco Pizarro diantar oleh beberapa imam, di antaranya Vincente Velverde dari Dominika. Para imam diikutsertakan untuk melaksanakan pertobatan “penduduk asli”.
Konon diceritakan, bahwa setiap kali, sebelum tentara masuk ke suatu wilayah untuk menaklukkannya, suatu pengumuman resmi yang panjang dalam bentuk pidato, dibacakan kepada orang­orang Indian tanpa seorang penerjemah (!) di hadapan seorang notaris.
Pengumuman tersebut menkak mereka untuk memeluk agama Katolik yang suci. Prajurit-prajurit Spanyol biasa mem­bacakan surat yang disebut requirimiento dengan teks dari Kredo (dalam bahasa Kastilia!) ini kepada suku Indian dan mints persetujuan mereka. Apabila mereka menolak, maka perang suci akan dinyatakan atas mereka dan dimulai.' “Bilamana kamu sekalian tidak melakukan itu dan menunda keputusan dengan maksud jahat, maka aku jamin, bahwa dengan pertolongan Tuhan aku akan menggunakan kekerasan dan akan memakai segala cara untuk melawan dan menaklukkan kamu sekalian agar kamu patuh kepada gereja dan para raja. Aku akan mengambil istri-istri dan anak-anakmu untuk dijadikan budak dan dijual. Aku akan menentukan nasib kamu dan akan bertindak sedemikian rupa, sehingga kamu akan mengalami segala macam penderitaan dan kerugian.”
Kira-kira demikian diceritakan tentang Pizarro, ketika is menangkap Raja Inka, Atahualpa. Dari Atahualpa diminta supaya tunduk kepada raja Spanyol dan memeluk agama Katolik. Cerita berikut menguraikan tentang peristiwa itu. Valverde yang adalah anggota. ordo Dominikan, menghampiri Raja Inka, Atahualpa, dengan menggenggam salib. Setelah membuat tanda salib pada diri tawanan kerajaan itu, is berkhotbah sebagai berikut, “Aku adalah imam Allah dan aku mengajar hal-hal ilahi kepada orang-orang Kristen. Aku datang untuk mengajar kamu demikian. Allah adalah sehakikat dan sekaligus merupakan Tritunggal dari tiga pribadi. Ia menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia menciptakan Adam, manusia pertama dari tanah fiat dan Hawa dari salah satu rusuk Adam. Dan kita semua keturunan mereka. Nenek moyang kita itu durhaka terhadap Penciptanya, karena itu mereka lahir dalam dosa. Dan tidak ada satu orang yang dapat diampuni Tuhan dan masuk ke dalam sorga, jikalau Yesus Kristus, Anak Allah, tidak dijelmakan dalam kandungan dara Maria dan menyelamatkan kita oleh kematian-Nya di kayu salib. Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan naik ke sorga. Ia menempatkan Rasul Petrus sebagai pengganti-Nya di dunia dan memberikan kepadanya kuasa peradilan atas seluruh dunia. Para Paus sebagai pengganti-pengganti Petrus, memerintah umat manusia dan seluruh bangsa di manapun mereka berada dan agama apapun mereka peluk dan mereka harus patuh kepada dia. Paus telah memberikan seluruh negeri ini kepada raja Spanyol, agar orang-orang kafir diamankan dan dibawa ke dalam pagar gereja, karena di luar itu tidak ada yang dapat diselamatkan (extra ecclesia nulla salus). Gubernur Pizarro telah datang dengan tugas itu, oleh karena itu Tuan berkewajiban untuk membayar upeti kepada Raja dan menghentikan penyembahan Matahari dan segala berhala yang membawa Tuan ke dalam neraka. Dan Tuan harus memeluk agama yang benar. Bilamana Tuan berbuat demikian, maka Tuhan akan memberi imbalan kepadamu dan orang-orang Spanyol akan melindungi Tuan terhadap serangan musuh” Pemimpin Inka menjawab, bahwa ia tidak akan mengakui raja manapun sebagai atasan. Ia membantah hak Paus untuk membagi­bagikan negeri yang bukan kepunyaannya. Ia menolak untuk menggantikan Dewa Matahari dengan Dewa yang dibunuh oleh makhluk yang ia ciptakan sendiri. Dan ia ingin tahu, dari manakah Valverde memperoleh pengetahuan itu. Ketika kepadanya disodor­kan Alkitab, orang Inka itu melemparkannya ke tanah.
Pemimpin Inka itu ditawan selama sembilan setengah bulan. Pada tahun 1534 suatu kiriman uang dalam jumlah besar, berupa emas sekamar dan perak dua kamar penuh, tiba di Sevilla. Uang itu ditagih oleh Francisco Pizarro dari pemimpin Inka itu sebagai uang tebusannya.'8 Namun ia tidak dibebaskan, sebagaimana dijanjikan orang-orang Spanyol itu, mereka melanggar janji mereka dan Atahualpa dikenakan hukuman mati dan akan dibakar! Valverde, yang adalah otak dari keputusan ini, mendekati dia dan berjanji, bahwa hukuman itu dapat berubah menjadi hukuman penjara, bilamana ia mau menjadi Kristen. Atahualpa menyetujui­nya, lalu ia dibaptis dan diberi nama Yohanes, sesuai dengan nama hari itu yang dibaktikan kepada Santo Yohanes. Kemudian mereka mencekik dia, sementara orang Spanyol lain yang berada di tempat itu melantunkan Pengakuan Iman, demikian John Mackay menggambarkan peristiwa itu.
Pada zaman itu juga orang sudah memprotes perlakuan demikian, walaupun tindakan ini tidak banyak mengubah keadaan.
Pada tahun 1511 dari atas mimbar di Hispaniola, Antonio de Montessino mengecam tindakan para penalduk-penakluk Spanyol dengan menunjuk kepada Yesaya dan Yohanes Pembaptis. Yang dikecam ialah keija paksa (encomienda) dan perbudakan orang Indian. Bartholome de las Casas semasa kecilnya telah melihat bagaimana Columbus menyuruh orang-orang Indian, yang ia bawa dari petualangannya yang pertama ke Spanyol, berbaris dalam tahun 1493 dan ia telah menulis tentang pembinasaan orang Indian di Hindia dan tentang lenyapnya kebudayaan Indian. la berpendapat bahwa tujuan utama penaklukan hanyalah menyebar­kan agama Kristen. Hanya atas dasar itulah, menurut dia, Pans telah menunjuk Spanyol sebagai pelindung negeri.
Untuk dapat mengerti mengapa orang dapat bertindak seperti orang Spanyol itu, perlu disadari pertanyaan pertanyaan apa saja yang didiskusikan pada zaman itu. “Apakah orang Indian makhluk yang dapat berpikir ataukah mereka makhluk yang bertaraf di antara manusia dan binatang? Apakah mereka orang kafir biasa atau orang yang dulu sudah bertobat namun kemudian menjadi kafir kembali? Apakah mereka orang yang setingkat di atas orang yang biadab atau anjing kudisan saja?” Jawaban atas pertanyaan­pertanyaan itu sangat penting untuk pelaksanaan tugas orang Spanyol itu. Tindakan mereka dapat disyahkan berdasarkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Bukankah, jika orang Indian itu makhluk yang dapat berpikir, mereka tidak boleh dijadikan budak dan dikenakan pajak. Akan tetapi, kalau mereka orang biadab, penaklukan mereka untuk sebagian besar dapat dibenarkan. Hampir tidak ada orang yang mendukung De las Casas ketika ia mempertahankan bahwa orang Indian adalah manusia sejati.
De las Casas menghendaki kolonisasi secara damai. Di Spanyol ia menuntut hak-hak asasi manusia bagi orang-orang Indian. Pada tahun 1550-1551 terjadi perdebatan yang sengit antara Bartholome de las Casas dan seorang yang bernama J.C. de Sepiilveda. De las Casas mengusulkan agar orang Indian sepenuhnya disamakan dengan orang lain, sebaliknya Sepulveda membela pendapatnya dengan menggunakan dalil-dalil Aristoteles, yakni bahwa orang Indian sebagai orang biadab, harus takluk kepada orang Spanyol yang beradab.

Francisco de Vitoria rupanya orang Spanyol pertama yang membantah bahwa pemberian negeri oleh Taus mempunyai makna politis. Dalam karya tulisnya Relection de 1 ndis sive de jure belli Hispaniorum in barbares (1546), ia menyebut serentetan motivasi yang membenarkan, berdasarkan syarat-syarat tertentu, perebutan dunia baru itu oleh Spanyol. Yaitu: adanya hambatan pada pelayaran bebas atau pada pekabaran            untuk melindungi kaum Kristen baru; membantu orang pribumi dalam peperangan yang adil; pemilihan bebas oleh penduduk asli. Nainun Francisco de Vitoria berpendapat bahwa sekalipun agama diberitakan kepada orang-orang biadab secara wajar, lalu kalau mereka tetap tidak mau menerimanya, itu bukan alasan untuk menghukum mereka dan merampas harta milik mereka.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...