Metode
“penyerahan”

Bagaimana
perebutan dan kristenisasi penduduk terjadi secara bersamaan dan bagaimana hal
itu mempengaruhi pemberitaan Kristen, dapat dilihat dari contoh yang diberikan
Francisco Pizarro dalam tindakannya. Ia seorang gembala babi dari Extra Madura
yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi sebagai conquistador akhirnya
dapat merebut Cuzco, pusat wilayah kekuasaan Inka di Peru. Tidal( ada
tandingannya dalam hal is mempraktekkan mengejar keuntungan bersamaan dengan hidup
taat pada agama.
Penaklukan
dimulai dari Panama dalam bulan Januari 1531. Francisco Pizarro diantar oleh
beberapa imam, di antaranya Vincente Velverde dari Dominika. Para imam
diikutsertakan untuk melaksanakan pertobatan “penduduk asli”.
Konon
diceritakan, bahwa setiap kali, sebelum tentara masuk ke suatu wilayah untuk
menaklukkannya, suatu pengumuman resmi yang panjang dalam bentuk pidato,
dibacakan kepada orangorang Indian tanpa seorang penerjemah (!) di hadapan
seorang notaris.
Pengumuman
tersebut menkak mereka untuk memeluk agama Katolik yang suci. Prajurit-prajurit
Spanyol biasa membacakan surat yang disebut requirimiento dengan teks
dari Kredo (dalam bahasa Kastilia!) ini kepada suku Indian dan mints
persetujuan mereka. Apabila mereka menolak, maka perang suci akan dinyatakan
atas mereka dan dimulai.' “Bilamana kamu sekalian tidak melakukan itu dan
menunda keputusan dengan maksud jahat, maka aku jamin, bahwa dengan pertolongan
Tuhan aku akan menggunakan
kekerasan dan akan memakai segala cara untuk melawan dan menaklukkan kamu
sekalian agar kamu patuh kepada gereja dan para raja. Aku akan mengambil
istri-istri dan anak-anakmu untuk dijadikan budak dan dijual. Aku akan
menentukan nasib kamu dan akan bertindak sedemikian rupa, sehingga kamu akan
mengalami segala macam penderitaan dan kerugian.”
Kira-kira demikian
diceritakan tentang Pizarro, ketika is menangkap Raja Inka, Atahualpa. Dari
Atahualpa diminta supaya tunduk kepada raja Spanyol dan memeluk agama Katolik.
Cerita berikut menguraikan tentang peristiwa itu. Valverde yang adalah anggota.
ordo Dominikan, menghampiri Raja Inka, Atahualpa, dengan menggenggam salib.
Setelah membuat tanda salib pada diri tawanan kerajaan itu, is berkhotbah
sebagai berikut, “Aku adalah imam Allah dan aku mengajar hal-hal ilahi kepada
orang-orang Kristen. Aku datang untuk mengajar kamu demikian. Allah adalah
sehakikat dan sekaligus merupakan Tritunggal dari tiga pribadi. Ia menciptakan
langit dan bumi dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Ia menciptakan Adam,
manusia pertama dari tanah fiat dan Hawa dari salah satu rusuk Adam. Dan kita
semua keturunan mereka. Nenek moyang kita itu durhaka terhadap Penciptanya,
karena itu mereka lahir dalam dosa. Dan tidak ada satu orang yang dapat
diampuni Tuhan dan masuk ke dalam sorga, jikalau Yesus Kristus, Anak Allah,
tidak dijelmakan dalam kandungan dara Maria dan menyelamatkan kita oleh
kematian-Nya di kayu salib. Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan
naik ke sorga. Ia menempatkan Rasul Petrus sebagai pengganti-Nya di dunia dan
memberikan kepadanya kuasa peradilan atas seluruh dunia. Para Paus sebagai
pengganti-pengganti Petrus, memerintah umat manusia dan seluruh bangsa di
manapun mereka berada dan agama apapun mereka peluk dan mereka harus patuh
kepada dia. Paus telah memberikan seluruh negeri ini kepada raja Spanyol, agar
orang-orang kafir diamankan dan dibawa ke dalam pagar gereja, karena di luar
itu tidak ada yang dapat diselamatkan (extra ecclesia nulla salus). Gubernur
Pizarro telah datang dengan tugas itu, oleh karena itu Tuan berkewajiban untuk
membayar upeti kepada Raja dan menghentikan penyembahan Matahari dan segala
berhala yang membawa Tuan ke dalam neraka. Dan Tuan harus memeluk agama yang
benar. Bilamana Tuan berbuat demikian, maka Tuhan akan memberi imbalan kepadamu
dan orang-orang Spanyol akan melindungi Tuan terhadap serangan musuh” Pemimpin
Inka menjawab, bahwa ia tidak akan mengakui raja manapun sebagai atasan. Ia
membantah hak Paus untuk membagibagikan negeri yang bukan kepunyaannya. Ia
menolak untuk menggantikan Dewa Matahari dengan Dewa yang dibunuh oleh makhluk
yang ia ciptakan sendiri. Dan ia ingin tahu, dari manakah Valverde memperoleh
pengetahuan itu. Ketika kepadanya disodorkan Alkitab, orang Inka itu
melemparkannya ke tanah.
Pemimpin Inka itu ditawan
selama sembilan setengah bulan. Pada tahun 1534 suatu kiriman uang dalam jumlah
besar, berupa emas sekamar dan perak dua kamar penuh, tiba di Sevilla. Uang itu
ditagih oleh Francisco Pizarro dari pemimpin Inka itu sebagai uang tebusannya.'8
Namun ia tidak dibebaskan, sebagaimana dijanjikan orang-orang Spanyol itu,
mereka melanggar janji mereka dan Atahualpa dikenakan hukuman mati dan akan
dibakar! Valverde, yang adalah otak dari keputusan ini, mendekati dia dan
berjanji, bahwa hukuman itu dapat berubah menjadi hukuman penjara, bilamana ia
mau menjadi Kristen. Atahualpa menyetujuinya, lalu ia dibaptis dan diberi nama
Yohanes, sesuai dengan nama hari itu yang dibaktikan kepada Santo Yohanes.
Kemudian mereka mencekik dia, sementara orang Spanyol lain yang berada di
tempat itu melantunkan Pengakuan Iman, demikian John Mackay menggambarkan
peristiwa itu.
Pada zaman itu juga orang
sudah memprotes perlakuan demikian, walaupun tindakan ini tidak banyak mengubah
keadaan.
Pada tahun 1511 dari atas
mimbar di Hispaniola, Antonio de Montessino mengecam tindakan para
penalduk-penakluk Spanyol dengan menunjuk kepada Yesaya dan Yohanes Pembaptis.
Yang dikecam ialah keija paksa (encomienda) dan perbudakan orang Indian.
Bartholome de las Casas semasa kecilnya telah melihat bagaimana Columbus
menyuruh orang-orang Indian, yang ia bawa dari petualangannya yang pertama ke
Spanyol, berbaris dalam tahun 1493 dan ia telah menulis tentang pembinasaan
orang Indian di Hindia dan tentang lenyapnya kebudayaan Indian. la berpendapat
bahwa tujuan utama penaklukan hanyalah menyebarkan agama Kristen. Hanya atas
dasar itulah, menurut dia, Pans telah menunjuk Spanyol sebagai pelindung
negeri.
Untuk dapat mengerti
mengapa orang dapat bertindak seperti orang Spanyol itu, perlu disadari
pertanyaan pertanyaan apa saja yang didiskusikan pada zaman itu. “Apakah orang
Indian makhluk yang dapat berpikir ataukah mereka makhluk yang bertaraf di
antara manusia dan binatang? Apakah mereka orang kafir biasa atau orang yang
dulu sudah bertobat namun kemudian menjadi kafir kembali? Apakah mereka orang
yang setingkat di atas orang yang biadab atau anjing kudisan saja?” Jawaban
atas pertanyaanpertanyaan itu sangat penting untuk pelaksanaan tugas orang
Spanyol itu. Tindakan mereka dapat disyahkan berdasarkan jawaban-jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan di atas. Bukankah, jika orang Indian itu makhluk yang
dapat berpikir, mereka tidak boleh dijadikan budak dan dikenakan pajak. Akan
tetapi, kalau mereka orang biadab, penaklukan mereka untuk sebagian besar dapat
dibenarkan. Hampir tidak ada orang yang mendukung De las Casas ketika ia
mempertahankan bahwa orang Indian adalah manusia sejati.
De las Casas menghendaki
kolonisasi secara damai. Di Spanyol ia menuntut hak-hak asasi manusia bagi
orang-orang Indian. Pada tahun 1550-1551 terjadi perdebatan yang sengit antara
Bartholome de las Casas dan seorang yang bernama J.C. de Sepiilveda. De las
Casas mengusulkan agar orang Indian sepenuhnya disamakan dengan orang lain,
sebaliknya Sepulveda membela pendapatnya dengan menggunakan dalil-dalil
Aristoteles, yakni bahwa orang Indian sebagai orang biadab, harus takluk kepada
orang Spanyol yang beradab.
Francisco de Vitoria
rupanya orang Spanyol pertama yang membantah bahwa pemberian negeri oleh Taus
mempunyai makna politis. Dalam karya tulisnya Relection de 1 ndis sive de
jure belli Hispaniorum in barbares (1546), ia menyebut serentetan motivasi
yang membenarkan, berdasarkan syarat-syarat tertentu, perebutan dunia baru itu
oleh Spanyol. Yaitu: adanya hambatan pada pelayaran bebas atau pada pekabaran untuk melindungi kaum Kristen baru;
membantu orang pribumi dalam peperangan yang adil; pemilihan bebas oleh
penduduk asli. Nainun Francisco de Vitoria berpendapat bahwa sekalipun agama
diberitakan kepada orang-orang biadab secara wajar, lalu kalau mereka tetap
tidak mau menerimanya, itu bukan alasan untuk menghukum mereka dan merampas
harta milik mereka.
No comments:
Post a Comment