Kristus
sebagai Pembebas
Untuk memahami citra
Yesus yang digambarkan para teolog Pembebasan Amerika Latin masa kini, harus
dimengerti bahwa latar belakang dari pemikiran ini ialah Yesus yang diserahkan
atau yang dibawa serta oleh para conquistador Spanyol dan yang telah
membatin berabad-abad dan yang kemudian diakui di Amerika Latin. Miguez Bonino
lebih suka menamakannya teologi dalam konteks pembebasan. Ia melihat
gerakan-gerakan pembebasan di Dunia Ketiga sebagai tindakan pembebasan oleh
Yahweh dan Yesus Kristus.
Seorang warga Kolumbia
yang bernama Everardo Ramirez Toro telah menulis sebuah buku Injil Kelima, di
mana Yesus digambarkan dalam konteks Amerika Latin. Berikut beberapa cuplikan.
Ketika Yesus lahir ... di
Macondo pada masa pemerintahan Presiden Nixon, datanglah beberapa ahli
falak dari negeri yang jauh di ibu kota kekaisaran Moneyland dan bertanya, “Di
mana penyelamat rakyat lahir? Kami telah melihat bintangnya di langit dan telah
datang untuk berkenalan dengan dia”. Ketika Nixon mendengar itu, is terkejut,
begitu pula para pemeras. Ia memanggil dan mengumpulkan para penguasa sipil,
militer serta pemimpin-pemimpin agama untuk menanyakan di mana penyelemat akan
lahir. Mereka berkata kepadanya, “Di dusun Macondo, karena telah tertulis dalam
kitab Nabi-nabi: 'Dan engkau Macondo, daerah pinggiran, engkau bukanlah yang
terkecil, tidak kurang dari semua kota dunia, karena daripadamulah akan lahir
seorang pemimpin yang akan membebaskan rakyat.”'
Lalu Nixon berbicara
dengan para ahli bintang tersendiri, lalu berdasarkan keterangan mereka ia
mengetahui sejak kapan bintang itu bersinar. Sesudah itu ia menyuruh mereka
pergi ke Macondo. Ia berkata, “Pergilah ke sana dan kumpulkan sebanyak mungkin
keterangan mengenai anak itu dan bilamana kamu telah menemukannya datanglah
kepadaku, karena akupun mau berkenalan dengan dia.” Pada waktu itu datanglah
Yohanes Allende, juga disebut pelopor pembebasan Yohanes Allende memakai
pakaian buruh dengan ikat pinggang dari kulit. Makanannya adalah nasi dan
pisang, sama dengan makanan petani dan pekerja pabrik. Dari segala penjuru
orang datang untuk mendengar dia berbicara tentang perubahan-perubahan besar
yang akan terjadi dan bagaimana Tuhan akan menghukum para penipu rakyat. Dan
mereka mendengar ia meminta agar mereka bertobat. Semua yang bertobat dibaptis
oleh dia dengan mencurahkan air ke atas mereka sebagai tanda pembebasan.
Banyak yang datang dengan
kesungguhan hati untuk bertobat, tetapi ada juga yang datang dengan hati penuh
kedengkian, hanya untuk menghindari hukuman yang telah diumumkan. Mereka adalah
para pemimpin politik dan agama, yang menindas rakyat. Kepada mereka Yohanes
Allende berkata: “Hai, kamu keturunan beludak. Apakah kamu melarikan diri dari
murka Allah? Perlihatkanlah dengan perbuatan nyata sesuai pertobatan yang
sungguh-sungguh. Dan janganlah salah tafsir dan mengulangi dalam hati, 'Kami
akan diselamatkan juga, karena kami taat pada ajaran tradisional dari gereja
Katolik.' Dengan pasti aku berkata kepadamu: Kapak berada pada akar pohon, dan
setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang, kemudian
dibakar.
Di tengah keramaian pesta
tiba-tiba Yesus berdiri di ambang pintu gereja dan berbicara dengan kefasihan
yang luar biasa. Para imam dan agen reaksioner dari rezim yang berkuasa, saling berkata dengan berang,
“Bagaimana ia bisa memiliki pengetahuan yang begitu luas tentang permasalahanpermasalahan
yang ada, tanpa studi akademis!” Yesus berkata, “Kabar baik tentang pembebasan
bukan penemuan-Ku sendiri, tetapi diajarkan oleh Allah yang adalah Bapa dari
seluruh rakyat. Allah telah berkata, 'Kasihilah sesamamu seperti dirimu
sendiri,' tetapi kamu tidak melaksanakan hukum itu, malahan kamu sebagai orang
kuat menindas yang lemah.” Ia melihat beberapa anggota. Dinas Keamanan berada
di antara khalayak ramai untuk mengintai Dia. Ia kemudian berkata, “Sekarang
Aku bertanya kepadamu, mengapa kalian mau membunuh Aku?” Mereka menjawab, “Kamu
gila, siapa yang mau membunuh-Mu?” Yesus menjawab, “Satu-satunya alasan mengapa
kalian mau membunuh Aku, ialah karena Aku memberitakan tentang kasih, persamaan
hak dan persaudaraan dan karena Aku menuntut penghentian pemerasan ...”
Sesudah
itu Yesus pergi ke ibu kota negeri itu. Ketika Ia mendekati kota itu, Ia
mengutus seorang pengikut-Nya untuk bertemu dengan kawan lama-Nya, seorang dari
golongan rakyat biasa, untuk menyampaikan pesan: “Kawan, pinjamkan keledaimu
kepada-Ku, karena Aku memerlukannya untuk memasuki kota”. Ini terjadi untuk
menggenapi apa yang telah dinubuatkan: Beritakanlah kepada rakyat yang
tertindas: Lihatlah, pembebasmu datang. Ia berhati lembut dan tidak berdaya. Ia
tidak datang dengan mobil mewah yang dilengkapi dengan kaca gelap anti peluru
seperti lazimnya kendaraan para penindas rakyat kalau bepergian, tanpa banyak
iringan, ia datang mengendarai seekor keledai biasa, binatang yang biasa
bekerja dan dicambuk. Pengikut-pengikut-Nya pergi, kemudian kembali dan membawa
keledai itu. Mereka meletakkan jas mereka di atas punggung binatang itu, lalu
Yesus menaikinya. Semakin dekat Ia menghampiri kota semakin banyak orang
mengikuti-Nya, sehingga menjadi suatu massa yang sangat besar, terdiri dari
orang-orang dari tempat-tempat kumuh, buruh, mahasiswa, sopir, orang-orang yang
ingin tahu dan mata-mata. Rakyat melambai-lambaikan saputangan, dahandahan,
yang mereka patahkan dari pohon-pohon dan dengan apa solo yang mereka dapat
gunakan, sambil bersorak-sorai penuh semangat: “Hidup pemimpin kita! Hidup Dia
yang datang membebaskan kita dari penindas-penindas dalam nama Tuhan, Bapak rakyat! Hidup pembebas
kita!”...
Karena
telah terjadi banyak insiden di katedral, make pemuka-pemuka agama mengadakan
kampanye melalui pers, radio dan tv, untuk mendesak penguasa sipil dan militer
menangkap Yesus. Namun di negeri itu banyak berbeda pendapat mengenai hal itu.
Ada yang berkata, “Dialah sesungguhnya sang Pembebas!” Ada pula yang berkata,
“Dia adalah unsur subversif dan penghasut profesional!” Beberapa kelompok yang
ekstrim kanan ingin menangkap Dia dan menyuruh satu detasemen polisi ke tempat-Nya.
Namun para polisi kembali kepada komandannya dengan tangan kosong. Ketika
ditanya, “Mengapa kalian tidak memborgol Dia, lalu membawa-Nya kemari?”, mereka
jawab, “Kami belum pernah mendengar orang lain berbicara seperti Dia.”
Lalu
atasan mereka berkata, “Kamu telah diperdayakan oleh orang subversif itu.
Pernahkah kamu lihat ada seorang anggota dari golongan atas atau dari hierarki
gereja yang percaya kepada Dia? Tetapi rakyat :rang lugu percaya segala
sesuatu”... Setelah Yesus menerangl:an secara panjang lebar tentang pembebasan,
Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “'Callan semua tahu bukan, bahwa da'am
beberapa hari akan diadakan pemilihan dan Putra rakyat akan dibunuh!”
Maka
kembali para penguasa bertemu dan berunding bersama para penasihat dari CIA,
lalu mereka memutuskan untuk “melikwidasikan” Yesus, sebagaimana hal itu
disebut dengan istilah bahasa mereka sendiri. Kemudian disepakati bersama untuk
tidak melakukan hal itu selama pemilihan berlangsung, agar rakyat yang percaya
kepada-Nya tidak menjadi resah ...”
Ada
dua teolog di Amerika Latin yang dengan sangat terbuka menggumuli “kristologi”,
yang namanya perlu disebut di sini. Yang pertama adalah Leonardo Boff yang
berasal dari Brasil. Pada tahun 1972 is menulis tentang Kristologi Amerika
Latin dengan judul Yesus Kristus Sang Pembebas, suatu kristologi yang sangat
tajam untuk masa kini.3 Karya tulis lain
tentang Yesus Kristus yang menjadi sangat terkenal adalah buku yang ditulis Jon
Sobrino; Kristologi dari Amerika Latin?
Bilamana
kristologi itu dipelajari secara sepintas lalu, mungkin akan timbul pertanyaan
apa sebenarnya yang menunjukkan ciri khas Amerika Latin pada gambaan-gambaran
tentang Kristus itu.
Bukankah para penulis itu
sangat mendukung penelitian teologis dari Eropa di bidang kristologi, dan
menimba ilmu daripadanya? Keistimewaan dari para teolog Pembebasan Amerika
Latin itu ialah, bahwa dalam mempermasalahkan tentang Yesus, mereka tidak
dipengaruhi oleh pandangan teoretis, historis-eksegetis, tetapi oleh pandangan
praktis. Yang penting bagi mereka ialah bagaimana mengkaji dimensi politis dari
tindakan-tindakan Yesus dan kepercayaan kepada-Nya. Semangat pembebasan yang
menerobos Amerika Latin menjadi kunci hermeneutis dalam mengkaji Yesus kembali.
Menurut Boff, merenungkan
dan menghayati kepercayaan kita kepada Yesus Kristus dalam konteks
sosio-historis yang ditandai dengan penguasaan dan penindasan, berarti
menyembah Yesus Kristus dan memproklamasikan Dia sebagai Pembebas. Yang
terutama perlu dipertanyakan di sini, menurut Boff, ialah siapa atau kepentingan
apakah yang dilayani oleh “ajaran” tertentu tentang Kristus. “Kristologi”
tentang Yesus sebagai Pembebas berhadapan dengan ajaran yang mendukung seluruh
proses kolonisasi dan dominasi: “Tokoh-tokoh Kristus yang menderita dan mati
dari tradisi Amerika Latin adalah tokoh-tokoh Kristus yang menjelaskan
'ketidakmampuan yang telah membatin' dari mereka yang tertindas. Perawan Suci
yang tertusuk oleh pedang penderitaan menggambarkan penaklukan dan dominasi
terhadap kaum wanita”. Kristologi Pembebasan memihak kepada orang yang
tertindas.39 Yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa bertentangan
dengan “ajaran tentang Kristus” yang dibawa dari Spanyol dan umumnya dianut,
yang hanya mementingkan peristiwa kelahiran dan kematian Yesus, gagasan ini
menonjolkan Yesus yang historis. Artinya, yang dititikberatkan di sini
ialah seluruh kehidupan Yesus dengan segala kegiatan dan perbuatan-Nya.
Perkembangan ini terjadi karena dirasakan ada suatu persamaan struktural antara
situasi semasa Yesus hidup dengan situasi orang yang hidup di Amerika Latin
masa kini. Yang dimaksudkan Boff dan kawankawan di sini ialah situasi
sosio-politik Amerika Latin. Kristologi Pembebasan Amerika Latin - menurut Boff
- mengutamakan “Yesus yang historis” di atas “Kristus yang diimani”.
Namun gagasan tentang
Yesus yang historis itu diberi anti dan penghayatan yang berbeda dengan yang
dipahami di Eropa. Dalam mempelajari Yesus yang historis itu di Eropa (Geschichte
der Leben Jesu Forschung) orang mempertanyakan kata-kata mana yang
merupakan ucapan Yesus sendiri, dan mana yang dibuat dan disuguhkan oleh
“jemaat” (teologi jemaat). Hal ini tidak dipermasalahkan dalam Teologi
Pembebasan.' Perbedaannya menurut Jon Sobrino, adalah bahwa kristologi Eropa
berkaitan dengan fase pertama dari zaman Pencerahan (yakni bahwa, iman harus
dipertanggungjawabkan di depan forum akal budi), sedangkan kristologi Amerika
Latin tertuju pada fase kedua: mengubah kenyataan.
Mereka tidak menaruh
minat pada “sejarah” seperti yang menjadi pokok penelitian di Eropa. Namun mereka
melanjutkan penelitian yang telah dilakukan di Eropa itu. Perbedaan-perbedaan
dalam pengakuan juga tidak merupakan hambatan dalam hal ini. Perhatian mereka
adalah, dan akan tetap bersifat praktis, refleksi teologis dalam konteks
masyarakat Amerika Latin. Cara membicarakan Yesus dan Kristus seperti ini
adalah demi melayani pembaruan dalam kehidupan Kristen dan juga hidup
kegerejaan. Adalah tidak adil jika kita berpraduga, bahwa mereka ingin
melepaskan “kepercayaan” mereka kepada Kristus. Para penulis adalah imam yang
berpegang sepenuhnya pada tradisi liturgis gereja mereka. Pembebasan Yesus
Kristus bukanlah suatu ajaran yang diproklamasikan, tetapi suatu praksis yang
hendak direalisasikan. Para teolog Pembebasan boleh dikatakan, dengan
sendirinya bertitik tolak dari pengakuan iman tradisional mengenai Yesus
Kristus. Namun mereka menafsirkan secara baru pengakuan yang tradisional itu:
“Yesus Kristus, Sang Pembebas”.
Teristimewa dalam
kristologi Jon Sobrino, segi kehidupan dari Yesus yang historis (berarti dalam
seluruh riwayat hidup-Nya) sangat ditonjolkan. Ia mengembangkannya bertolak
dari situasi di Amerika Latin, yakni penindasan, ketidakadilan dan pemerasan.
Kristologi tersebut mempunyai landasan dalam kehidupan Yesus yang historis dan
dalam sejarah bangsa yang menderita.
Satu-satunya jalan untuk
mengenal Yesus ialah mengikuti-Nya dalam kenyataan hidup-Nya, dan menghayati
apa yang Ia pertaruhkan dalam masa hidup-Nya, lalu mencoba membangun kerajaanNya
di tengah kita. Hanya melalui praksis Kristen kita dapat mendekati Yesus.”
Mengikut Yesus adalah syarat untuk mengenal Allah (Yer 22:16). Jon Sobrino
menyebut dua alasan untuk mulai pada Yesus yang historis itu. Pertama-tama ada
suatu persamaan antara situasi di Amerika Latin dan situasi di masa hidup Yesus.
Bukan hanya persamaan dalam situasi kemiskinan dan pemerasan, tetapi
tema-temanya juga sama. Kedua, yang dipentingkan dalam jemaatjemaat pertama
ialah berpegang pada kesaksian orang-orang yang menyatakan mereka telah melihat
Dia yang telah bangkit.
Menurut Boff dan Sobrino,
setiap generasi membawa serta kedatangan Kristus yang baru. Dalam kehidupan
beriman banyak orang Kristen di Amerika Latin yang melihat dan mengasihi Dia
sebagai “Pembebas”. Pasalnya di sini, menurut Sobrino, bukan untuk menjelaskan
permasalahan seperti dua kodrat, transsubstansiasi, kesatuan hypostasis
dan hubungan antara sifat ilahi dan sifat manusiawi. Yang merupakan
keberatan baginya ialah, bahwa penjelasan teologis dan pengalaman semacam itu
tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap bidang sosial. Ia sebaliknya ingin
menitikberatkan pada pokok-pokok dalam kristologi, yang membantu menjelaskan
pola pembebasan serta pengertian praktisnya dan bagaimana merealisasikannya:
misalnya kegiatan sosial-politik Yesus dan kewa,jiban untuk mengikuti
jejak-Nya. Maksud dari pengkajian tentang Yesus adalah meluruskan jalan untuk
secara efektif bekerja sama dengan Dia. Kerajaan Sorga menimbulkan kerinduan
yang bersifat utopis pada manusia, kerinduan akan pembebasan dari segala
sesuatu, dari ketakutan, kesakitan, kelaparan, ketidakadilan dan kematian,
bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh alam semesta.
“Kepada Kristus yang
diimani,” demikian kata Sobrino, “kepada Tuhan yang dibangkitkan, kita boleh
datang secara langsung dengan maksud terarah, baik melalui pengakuan iman,
maupun puji-pujian atau melalui doa dan ibadah. Akan tetapi dengan Yesus yang
historis, sebagaimana diajarkan Injil, kita terlibat hanya dalam cara hidup
(praksis) tertentu, yang dalam bahasa Injil tidak lain daripada mengikut Dia.”
Semakin jelaslah bahwa
dua kenyataan itu, yakni situasi historis mereka sendiri dan situasi semasa
Yesus hidup, oleh para teolog Pembebasan Amerika Latin dijadikan saling
berkaitan. “Jika kematian Yesus dan kematian itu sendiri tidak ditanggapi
serius sebagai suatu kenyataan, maka pembicaraan tentang Allah dirasakan
idealistis dan asing.” Di Amerika Latin kematian Tuhan dihayati seakan-akan
kematian-Nya kematian orang lain, vaitu kematian orang Indian dan para petani.
Penghayatan kepercayaan Kristen tidak boleh terbatas pada mistik salib saja,
tetapi harus nyata dalam tindakan meneladan Dia, sebagaimana Ia menempuh jalan
hidup-Nya.
Tuhan yang Bangkit tidak
pernah tanpa bentuk. Kini Yesus tetap bersekutu dengan umat manusia, yang
adalah tubuh-Nya. Yesus senantiasa mencari tubuh-Nya (Yoh 10:6: Aku mencari
domba yang bukan dari kandang ini). Domba-domba itu adalah orang-orang Indian.
Mereka milik Kristus. Oleh karena itu tidak ada orang yang dapat mengatakan,
bahwa ia mengasihi Yesus dan memuliakan-Nya, jika pada saat yang sama ia
memisahkan dombadomba milik Yesus daripada-Nya. Penindasan terhadap
orang-orang Indian, tidak memungkinkan bebas masuk jalan menuju Kristus.
Seorang Kristus tanpa orang Indian adalah makhluk gnostik, roh tanpa tubuh,
seorang Kristus yang diperdayakan. Ia bukan Kristus yang sungguh-sungguh
bangkit, yang dalam hidup baru-Nya justru bersekutu dengan orang-orang Indian
itu. Karena pemberitaan pembebasan sempurna bagi manusia, muncullah Kristus
yang telah bangkit sebagai pemenang atas segala kuasa maut.
Yang paling pokok dalam
teologi atau kristologi Pembebasan Amerika Latin adalah pemahaman Yesus sebagai
Pembebas. Yang diberi perhatian sebenarnya ialah seluruh kehidupan Yesus, apa
yang Ia lakukan dan katakan, ketika Ia tampil di depan umum dalam situasi
historis yang kongkret di abad yang pertama. Mengikut Yesus adalah hal yang
sangat ditekankan di sini, namun bukan hanya dalam pengertian “rohani” seperti
yang dimaksudkan Thomas a Kempis dengan Imitatio Christi. Tidak, tetapi
mengikuti jejak Yesus secara kongkret adalah syarat untuk dapat memahami
kebenaran-Nya.
Kesemuanya itu
dimaksudkan sebagai kebalikan dari citra Yesus yang hanya sebagai anak yang
tidak berdaya dalam pelukan ibu-Nya dan korban yang mati di pangkuannya (“Pieta”).
Hal ini merupakan pemberontakan terhadap kristologi yang hanya menaruh
perhatian pada Jumat Agung, tetapi tidak terhadap Paskah. Suatu kristologi
seperti itu hanya menawarkan kepada orang miskin ketabahan dalam penderitaan
dengan memperingati Jumat Agung, tetapi tidak dapat memberi harapan akan Kabar
Baik tentang kebangkitan untuk menempuh hidup yang baru, yang sekarang sudah
mau dimulai.

No comments:
Post a Comment