Friday, July 19, 2019

KRISTUS DARI PENGINJILAN BANGSA SPANYOL II, KRISTUS SEBAGAI PEMBEBAS


Kristus sebagai Pembebas
Untuk memahami citra Yesus yang digambarkan para teolog Pembebasan Amerika Latin masa kini, harus dimengerti bahwa latar belakang dari pemikiran ini ialah Yesus yang diserahkan atau yang dibawa serta oleh para conquistador Spanyol dan yang telah membatin berabad-abad dan yang kemudian diakui di Amerika Latin. Miguez Bonino lebih suka menamakannya teologi dalam konteks pembebasan. Ia melihat gerakan-gerakan pembebasan di Dunia Ketiga sebagai tindakan pembebasan oleh Yahweh dan Yesus Kristus.
Seorang warga Kolumbia yang bernama Everardo Ramirez Toro telah menulis sebuah buku Injil Kelima, di mana Yesus digam­barkan dalam konteks Amerika Latin. Berikut beberapa cuplikan.
Ketika Yesus lahir ... di Macondo pada masa pemerintahan Presiden Nixon, datanglah beberapa ahli falak dari negeri yang jauh di ibu kota kekaisaran Moneyland dan bertanya, “Di mana penyelamat rakyat lahir? Kami telah melihat bintangnya di langit dan telah datang untuk berkenalan dengan dia”. Ketika Nixon mendengar itu, is terkejut, begitu pula para pemeras. Ia memanggil dan mengumpulkan para penguasa sipil, militer serta pemimpin-pemimpin agama untuk menanyakan di mana penyelemat akan lahir. Mereka berkata kepadanya, “Di dusun Macondo, karena telah tertulis dalam kitab Nabi-nabi: 'Dan engkau Macondo, daerah pinggiran, engkau bukanlah yang terkecil, tidak kurang dari semua kota dunia, karena daripada­mulah akan lahir seorang pemimpin yang akan membebaskan rakyat.”'
Lalu Nixon berbicara dengan para ahli bintang tersendiri, lalu berdasarkan keterangan mereka ia mengetahui sejak kapan bintang itu bersinar. Sesudah itu ia menyuruh mereka pergi ke Macondo. Ia berkata, “Pergilah ke sana dan kumpulkan sebanyak mungkin keterangan mengenai anak itu dan bilamana kamu telah menemukannya datanglah kepadaku, karena akupun mau berkenalan dengan dia.” Pada waktu itu datanglah Yohanes Allende, juga disebut pelopor pembebasan Yohanes Allende memakai pakaian buruh dengan ikat pinggang dari kulit. Makanannya adalah nasi dan pisang, sama dengan makanan petani dan pekerja pabrik. Dari segala penjuru orang datang untuk mendengar dia berbicara tentang perubahan-perubahan besar yang akan terjadi dan bagaimana Tuhan akan menghukum para penipu rakyat. Dan mereka mendengar ia meminta agar mereka bertobat. Semua yang bertobat dibaptis oleh dia dengan mencurahkan air ke atas mereka sebagai tanda pembebasan.
Banyak yang datang dengan kesungguhan hati untuk bertobat, tetapi ada juga yang datang dengan hati penuh kedengkian, hanya untuk menghindari hukuman yang telah diumumkan. Mereka adalah para pemimpin politik dan agama, yang menindas rakyat. Kepada mereka Yohanes Allende berkata: “Hai, kamu keturunan beludak. Apakah kamu melarikan diri dari murka Allah? Perlihatkanlah dengan perbuatan nyata sesuai pertobatan yang sungguh-sungguh. Dan janganlah salah tafsir dan mengulangi dalam hati, 'Kami akan diselamatkan juga, karena kami taat pada ajaran tradisional dari gereja Katolik.' Dengan pasti aku berkata kepadamu: Kapak berada pada akar pohon, dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang, kemudian dibakar.
Di tengah keramaian pesta tiba-tiba Yesus berdiri di ambang pintu gereja dan berbicara dengan kefasihan yang luar biasa. Para imam dan agen reaksioner dari rezim yang berkuasa, saling berkata dengan berang, “Bagaimana ia bisa memiliki pengetahuan yang begitu luas tentang permasalahan­permasalahan yang ada, tanpa studi akademis!” Yesus berkata, “Kabar baik tentang pembebasan bukan penemuan-Ku sendiri, tetapi diajarkan oleh Allah yang adalah Bapa dari seluruh rakyat. Allah telah berkata, 'Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri,' tetapi kamu tidak melaksanakan hukum itu, malahan kamu sebagai orang kuat menindas yang lemah.” Ia melihat beberapa anggota. Dinas Keamanan berada di antara khalayak ramai untuk mengintai Dia. Ia kemudian berkata, “Sekarang Aku bertanya kepadamu, mengapa kalian mau membunuh Aku?” Mereka menjawab, “Kamu gila, siapa yang mau membunuh-Mu?” Yesus menjawab, “Satu-satunya alasan mengapa kalian mau membunuh Aku, ialah karena Aku memberitakan tentang kasih, persamaan hak dan persaudaraan dan karena Aku menuntut penghentian pemerasan ...”
Sesudah itu Yesus pergi ke ibu kota negeri itu. Ketika Ia mendekati kota itu, Ia mengutus seorang pengikut-Nya untuk bertemu dengan kawan lama-Nya, seorang dari golongan rakyat biasa, untuk menyampaikan pesan: “Kawan, pinjamkan keledaimu kepada-Ku, karena Aku memerlukannya untuk memasuki kota”. Ini terjadi untuk menggenapi apa yang telah dinubuatkan: Beritakanlah kepada rakyat yang tertindas: Lihatlah, pembebasmu datang. Ia berhati lembut dan tidak berdaya. Ia tidak datang dengan mobil mewah yang dilengkapi dengan kaca gelap anti peluru seperti lazimnya kendaraan para penindas rakyat kalau bepergian, tanpa banyak iringan, ia datang mengendarai seekor keledai biasa, binatang yang biasa bekerja dan dicambuk. Pengikut-pengikut-Nya pergi, kemudian kembali dan membawa keledai itu. Mereka meletakkan jas mereka di atas punggung binatang itu, lalu Yesus menaikinya. Semakin dekat Ia menghampiri kota semakin banyak orang mengikuti-Nya, sehingga menjadi suatu massa yang sangat besar, terdiri dari orang-orang dari tempat-tempat kumuh, buruh, mahasiswa, sopir, orang-orang yang ingin tahu dan mata-mata. Rakyat melambai-lambaikan saputangan, dahan­dahan, yang mereka patahkan dari pohon-pohon dan dengan apa solo yang mereka dapat gunakan, sambil bersorak-sorai penuh semangat: “Hidup pemimpin kita! Hidup Dia yang datang membebaskan kita dari penindas-penindas dalam nama Tuhan, Bapak rakyat! Hidup pembebas kita!”...
Karena telah terjadi banyak insiden di katedral, make pemuka-pemuka agama mengadakan kampanye melalui pers, radio dan tv, untuk mendesak penguasa sipil dan militer menangkap Yesus. Namun di negeri itu banyak berbeda pendapat mengenai hal itu. Ada yang berkata, “Dialah sesungguhnya sang Pembebas!” Ada pula yang berkata, “Dia adalah unsur subversif dan penghasut profesional!” Beberapa kelompok yang ekstrim kanan ingin menangkap Dia dan menyuruh satu detasemen polisi ke tempat-Nya. Namun para polisi kembali kepada komandannya dengan tangan kosong. Ketika ditanya, “Mengapa kalian tidak memborgol Dia, lalu membawa-Nya kemari?”, mereka jawab, “Kami belum pernah mendengar orang lain berbicara seperti Dia.”
Lalu atasan mereka berkata, “Kamu telah diperdayakan oleh orang subversif itu. Pernahkah kamu lihat ada seorang anggota dari golongan atas atau dari hierarki gereja yang percaya kepada Dia? Tetapi rakyat :rang lugu percaya segala sesuatu”... Setelah Yesus menerangl:an secara panjang lebar tentang pembebasan, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “'Callan semua tahu bukan, bahwa da'am beberapa hari akan diadakan pemilihan dan Putra rakyat akan dibunuh!”
Maka kembali para penguasa bertemu dan berunding bersama para penasihat dari CIA, lalu mereka memutuskan untuk “melikwidasikan” Yesus, sebagaimana hal itu disebut dengan istilah bahasa mereka sendiri. Kemudian disepakati bersama untuk tidak melakukan hal itu selama pemilihan berlangsung, agar rakyat yang percaya kepada-Nya tidak menjadi resah ...”
Ada dua teolog di Amerika Latin yang dengan sangat terbuka menggumuli “kristologi”, yang namanya perlu disebut di sini. Yang pertama adalah Leonardo Boff yang berasal dari Brasil. Pada tahun 1972 is menulis tentang Kristologi Amerika Latin dengan judul Yesus Kristus Sang Pembebas, suatu kristologi yang sangat tajam untuk masa kini.3 Karya tulis lain tentang Yesus Kristus yang menjadi sangat terkenal adalah buku yang ditulis Jon Sobrino; Kristologi dari Amerika Latin?
Bilamana kristologi itu dipelajari secara sepintas lalu, mungkin akan timbul pertanyaan apa sebenarnya yang menunjukkan ciri khas Amerika Latin pada gambaan-gambaran tentang Kristus itu.
Bukankah para penulis itu sangat mendukung penelitian teologis dari Eropa di bidang kristologi, dan menimba ilmu daripadanya? Keistimewaan dari para teolog Pembebasan Amerika Latin itu ialah, bahwa dalam mempermasalahkan tentang Yesus, mereka tidak dipengaruhi oleh pandangan teoretis, historis-eksegetis, tetapi oleh pandangan praktis. Yang penting bagi mereka ialah bagaimana mengkaji dimensi politis dari tindakan-tindakan Yesus dan kepercayaan kepada-Nya. Semangat pembebasan yang menerobos Amerika Latin menjadi kunci hermeneutis dalam mengkaji Yesus kembali.
Menurut Boff, merenungkan dan menghayati kepercayaan kita kepada Yesus Kristus dalam konteks sosio-historis yang ditandai dengan penguasaan dan penindasan, berarti menyembah Yesus Kristus dan memproklamasikan Dia sebagai Pembebas. Yang terutama perlu dipertanyakan di sini, menurut Boff, ialah siapa atau kepentingan apakah yang dilayani oleh “ajaran” tertentu tentang Kristus. “Kristologi” tentang Yesus sebagai Pembebas berhadapan dengan ajaran yang mendukung seluruh proses kolonisasi dan dominasi: “Tokoh-tokoh Kristus yang menderita dan mati dari tradisi Amerika Latin adalah tokoh-tokoh Kristus yang menjelaskan 'ketidakmampuan yang telah membatin' dari mereka yang tertindas. Perawan Suci yang tertusuk oleh pedang penderita­an menggambarkan penaklukan dan dominasi terhadap kaum wanita”. Kristologi Pembebasan memihak kepada orang yang tertindas.39 Yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa bertentang­an dengan “ajaran tentang Kristus” yang dibawa dari Spanyol dan umumnya dianut, yang hanya mementingkan peristiwa kelahiran dan kematian Yesus, gagasan ini menonjolkan Yesus yang historis. Artinya, yang dititikberatkan di sini ialah seluruh kehidupan Yesus dengan segala kegiatan dan perbuatan-Nya. Perkembangan ini terjadi karena dirasakan ada suatu persamaan struktural antara situasi semasa Yesus hidup dengan situasi orang yang hidup di Amerika Latin masa kini. Yang dimaksudkan Boff dan kawan­kawan di sini ialah situasi sosio-politik Amerika Latin. Kristologi Pembebasan Amerika Latin - menurut Boff - mengutamakan “Yesus yang historis” di atas “Kristus yang diimani”.
Namun gagasan tentang Yesus yang historis itu diberi anti dan penghayatan yang berbeda dengan yang dipahami di Eropa. Dalam mempelajari Yesus yang historis itu di Eropa (Geschichte der Leben Jesu Forschung) orang mempertanyakan kata-kata mana yang merupakan ucapan Yesus sendiri, dan mana yang dibuat dan disuguhkan oleh “jemaat” (teologi jemaat). Hal ini tidak diper­masalahkan dalam Teologi Pembebasan.' Perbedaannya menurut Jon Sobrino, adalah bahwa kristologi Eropa berkaitan dengan fase pertama dari zaman Pencerahan (yakni bahwa, iman harus dipertanggungjawabkan di depan forum akal budi), sedangkan kristologi Amerika Latin tertuju pada fase kedua: mengubah kenyataan.
Mereka tidak menaruh minat pada “sejarah” seperti yang menjadi pokok penelitian di Eropa. Namun mereka melanjutkan penelitian yang telah dilakukan di Eropa itu. Perbedaan-perbedaan dalam pengakuan juga tidak merupakan hambatan dalam hal ini. Perhatian mereka adalah, dan akan tetap bersifat praktis, refleksi teologis dalam konteks masyarakat Amerika Latin. Cara mem­bicarakan Yesus dan Kristus seperti ini adalah demi melayani pembaruan dalam kehidupan Kristen dan juga hidup kegerejaan. Adalah tidak adil jika kita berpraduga, bahwa mereka ingin melepaskan “kepercayaan” mereka kepada Kristus. Para penulis adalah imam yang berpegang sepenuhnya pada tradisi liturgis gereja mereka. Pembebasan Yesus Kristus bukanlah suatu ajaran yang diproklamasikan, tetapi suatu praksis yang hendak direalisasi­kan. Para teolog Pembebasan boleh dikatakan, dengan sendirinya bertitik tolak dari pengakuan iman tradisional mengenai Yesus Kristus. Namun mereka menafsirkan secara baru pengakuan yang tradisional itu: “Yesus Kristus, Sang Pembebas”.
Teristimewa dalam kristologi Jon Sobrino, segi kehidupan dari Yesus yang historis (berarti dalam seluruh riwayat hidup-Nya) sangat ditonjolkan. Ia mengembangkannya bertolak dari situasi di Amerika Latin, yakni penindasan, ketidakadilan dan pemerasan. Kristologi tersebut mempunyai landasan dalam kehidupan Yesus yang historis dan dalam sejarah bangsa yang menderita.
Satu-satunya jalan untuk mengenal Yesus ialah mengikuti-Nya dalam kenyataan hidup-Nya, dan menghayati apa yang Ia pertaruh­kan dalam masa hidup-Nya, lalu mencoba membangun kerajaan­Nya di tengah kita. Hanya melalui praksis Kristen kita dapat mendekati Yesus.” Mengikut Yesus adalah syarat untuk mengenal Allah (Yer 22:16). Jon Sobrino menyebut dua alasan untuk mulai pada Yesus yang historis itu. Pertama-tama ada suatu persamaan antara situasi di Amerika Latin dan situasi di masa hidup Yesus. Bukan hanya persamaan dalam situasi kemiskinan dan pemerasan, tetapi tema-temanya juga sama. Kedua, yang dipentingkan dalam jemaat­jemaat pertama ialah berpegang pada kesaksian orang-orang yang menyatakan mereka telah melihat Dia yang telah bangkit.
Menurut Boff dan Sobrino, setiap generasi membawa serta kedatangan Kristus yang baru. Dalam kehidupan beriman banyak orang Kristen di Amerika Latin yang melihat dan mengasihi Dia sebagai “Pembebas”. Pasalnya di sini, menurut Sobrino, bukan untuk menjelaskan permasalahan seperti dua kodrat, transsubstan­siasi, kesatuan hypostasis dan hubungan antara sifat ilahi dan sifat manusiawi. Yang merupakan keberatan baginya ialah, bahwa penjelasan teologis dan pengalaman semacam itu tidak mempunyai pengaruh langsung terhadap bidang sosial. Ia sebaliknya ingin menitikberatkan pada pokok-pokok dalam kristologi, yang memban­tu menjelaskan pola pembebasan serta pengertian praktisnya dan bagaimana merealisasikannya: misalnya kegiatan sosial-politik Yesus dan kewa,jiban untuk mengikuti jejak-Nya. Maksud dari pengkajian tentang Yesus adalah meluruskan jalan untuk secara efektif bekerja sama dengan Dia. Kerajaan Sorga menimbulkan kerinduan yang bersifat utopis pada manusia, kerinduan akan pembebasan dari segala sesuatu, dari ketakutan, kesakitan, kelaparan, ketidakadilan dan kematian, bukan hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh alam semesta.
“Kepada Kristus yang diimani,” demikian kata Sobrino, “kepada Tuhan yang dibangkitkan, kita boleh datang secara langsung dengan maksud terarah, baik melalui pengakuan iman, maupun puji-pujian atau melalui doa dan ibadah. Akan tetapi dengan Yesus yang historis, sebagaimana diajarkan Injil, kita terlibat hanya dalam cara hidup (praksis) tertentu, yang dalam bahasa Injil tidak lain daripada mengikut Dia.”
Semakin jelaslah bahwa dua kenyataan itu, yakni situasi historis mereka sendiri dan situasi semasa Yesus hidup, oleh para teolog Pembebasan Amerika Latin dijadikan saling berkaitan. “Jika kematian Yesus dan kematian itu sendiri tidak ditanggapi serius sebagai suatu kenyataan, maka pembicaraan tentang Allah dirasakan idealistis dan asing.” Di Amerika Latin kematian Tuhan dihayati seakan-akan kematian-Nya kematian orang lain, vaitu kematian orang Indian dan para petani. Penghayatan kepercayaan Kristen tidak boleh terbatas pada mistik salib saja, tetapi harus nyata dalam tindakan meneladan Dia, sebagaimana Ia menempuh jalan hidup-Nya.
Tuhan yang Bangkit tidak pernah tanpa bentuk. Kini Yesus tetap bersekutu dengan umat manusia, yang adalah tubuh-Nya. Yesus senantiasa mencari tubuh-Nya (Yoh 10:6: Aku mencari domba yang bukan dari kandang ini). Domba-domba itu adalah orang-orang Indian. Mereka milik Kristus. Oleh karena itu tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa ia mengasihi Yesus dan memuliakan-Nya, jika pada saat yang sama ia memisahkan domba­domba milik Yesus daripada-Nya. Penindasan terhadap orang-orang Indian, tidak memungkinkan bebas masuk jalan menuju Kristus. Seorang Kristus tanpa orang Indian adalah makhluk gnostik, roh tanpa tubuh, seorang Kristus yang diperdayakan. Ia bukan Kristus yang sungguh-sungguh bangkit, yang dalam hidup baru-Nya justru bersekutu dengan orang-orang Indian itu. Karena pemberitaan pembebasan sempurna bagi manusia, muncullah Kristus yang telah bangkit sebagai pemenang atas segala kuasa maut.
Yang paling pokok dalam teologi atau kristologi Pembebasan Amerika Latin adalah pemahaman Yesus sebagai Pembebas. Yang diberi perhatian sebenarnya ialah seluruh kehidupan Yesus, apa yang Ia lakukan dan katakan, ketika Ia tampil di depan umum dalam situasi historis yang kongkret di abad yang pertama. Mengikut Yesus adalah hal yang sangat ditekankan di sini, namun bukan hanya dalam pengertian “rohani” seperti yang dimaksudkan Thomas a Kempis dengan Imitatio Christi. Tidak, tetapi mengikuti jejak Yesus secara kongkret adalah syarat untuk dapat memahami kebenaran-Nya.
Kesemuanya itu dimaksudkan sebagai kebalikan dari citra Yesus yang hanya sebagai anak yang tidak berdaya dalam pelukan ibu-Nya dan korban yang mati di pangkuannya (“Pieta”). Hal ini merupakan pemberontakan terhadap kristologi yang hanya menaruh perhatian pada Jumat Agung, tetapi tidak terhadap Paskah. Suatu kristologi seperti itu hanya menawarkan kepada orang miskin ketabahan dalam penderitaan dengan memperingati Jumat Agung, tetapi tidak dapat memberi harapan akan Kabar Baik tentang kebangkitan untuk menempuh hidup yang baru, yang sekarang sudah mau dimulai.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...