Kristus
Spanyol
/christredeemer-10139156-567c92283df78ccc15684502.jpg)
Di Cuzco, ibu kota lama
bangsa Inka, ada sebuah gereja dari zaman kolonial. Pada pintunya tertulis: “Datanglah
kepada Maria semua yang letih lesu dan ia akan memberi ketenangan kepadamu.”
Kutipan seperti itu menurut John Mackay, menggambarkan secara khusus betapa
besar peranan Maria dalam ketaatan agama rakyat Amerika Latin dan Spanyol.
Betapa Kristus tersaingi oleh ibu-Nya datang ke Amerika, katanya. “Dari
Betlehem dan Kalvari Dia melalui Afrika dan Spanyol menempuh perjalanan yang
panjang ke pampas (padang rumput) dan cordilleras (pegunungan).
Akan tetapi apakah benar Dia yang datang atau suatu tokoh agama yang memakai
nama-Nya dan beberapa ciri khasnya? Saya rasa ketika Kristus pergi ke Barat Ia
ditangkap di Spanyol, sedangkan orang lain yang memakai nama-Nya ikut berlayar
bersama bangsa Spanyol yang ber-Perang Salib. Seorang Kristus yang tidak lahir
di Betlehem, tetapi di Afrika Utara.25 Kristus inilah yang
“dinaturalisasikan” di koloni Iberia, sedangkan anak dan Tuhan Maria tidak
lebih daripada orang asing dan seorang penonton di negeri ini, sejak zaman
Columbus sampai sekarang.”
Apa yang merupakan ciri
khas dari Kristus dalam pandangan orang Spanyol, menurut Mackay? Dalam hal ini
ia menunjuk pada kepekaan orang Spanyol terhadap tragedi dan perasaan yang
sangat emosional terhadap kehidupan abadi, hal yang berulangkali timbul dalam
kepercayaan rakyat Spanyol. Sehubungan dengan itu Mackay menunjuk kepada ahli
filsafat Spanyol Miguel de Unamuno (18641936). Karya tulisnya El-Christo de
Velazques (pada 1920) terdiri dari empat bagian. Patung Kristus terkenal,
ciptaan Velazques, rupanya mempengaruhi Unamuno, sebagaimana patung ciptaan
Grunewald dengan tangan Yohanes Pembaptis yang menunjuk kepada Dia yang di
Salib itu, mempengaruhi pemikiran Karl Barth.
Unamuno mengomentari
ciptaan Velazques, Kristus yang di Salib atau Kristus yang Telentang yang
terdapat di kota Palencia (Iglesia de la Cruz). Katanya, “Kristus ini, abadi
seperti kematian, tidak bangkit lagi. Betapa tidak. Bagi Dia hanya tersedia
kematian Kristus Spanyol ini tidak pernah hidup, hitam sebagai selubung bumi,
tergelimpang horisontal Artinya, di dalam kepercayaan orang Spanyol Kristus
adalah pusat kultus kematian. Kristus yang mati ini menjadi korban. Yang
mencolok sekali di sini ialah bahwa segi-segi istimewa dalam kehidupan-Nya
sebagai manusia, tidak penting dan agaknya kurang menarik perhatian.”
Dalam pandangan Spanyol,
Kristus dianggap sebagai makhluk supra-alami, yang kemanusiaan-Nya tidak
mempunyai daya tank etis bagi kita. Kristus yang asketis ini, mati sebagai
korban dari kebencian manusia dan juga untuk members kehidupan kekal kepada
mereka yang percaya. Artinya, Ia memberikan kelangsungan keberadaan jasmaniah.
Dengan “menghayati penderitaan-Nya” terjadilah suatu kelegaan dalam jiwa orang
berdoa, hal mana juga terjadi pada orang yang menonton adu banteng, suatu
kreasi serupa, ungkapan jiwa Spanyol, demikian menurut Mackay. Orang Spanyol
melihat dan merasakan kematian dalam kenyataannya yang menakutkan dalam nasib
korban itu. Seluruh pengalaman yang menggemparkan itu mempertebal kepekaan
terhadap kenyataan dan kengerian kematian itu, sebab is merangsang kegairahan
akan kehidupan. Namun kehidupan bukan dalam arti kata keinginan untuk
dilahirkan kembali, tetapi untuk mencapai kehidupan yang abadi. Ia ikut serta
dalam komuni bukan untuk memperbaiki hidupnya. Dalam Ekaristi Kristus dipakai
untuk kepentingan pribadi. Sakramen ini membuat kehidupan bertambah ta.npa
mengubahnya.
Kristus yang
“diserahkan”, Kristus Spanyol ini, adalah Kristus yang terutama dikenal sebagai
anak dalam pelukan ibu-Nya sebagai tubuh yang mati, sekujur mayat dalam
pangkuan ibu-Nya. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini, perlu kiranya diingat
patung karya Michelangelo yang terkenal, yaitu Pieta di Roma. Thu itu
menangani sifat kanak-kanak Yesus yang tak berdaya dan nasibNya yang
menyedihkan itu. Dengan tidak mengalami kematian, ibu yang perawan itu menjadi
ratu kehidupan. Kristus dan Maria ini dibawa ke Amerika. “Ia datang sebagai
penguasa kematian dan kehidupan yang akan datang. Maria datang sebagai wanita
yang memerintah atas kehidupan yang sekarang,” demikian kata J. Mackay.”
Dari sekian banyak
gambaran Kristus di Amerika Latin, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa
Kristus seperti disebut di atas itulah yang dibawa ke benua ini. Para
misionaris Spanyol menggambarkan Kristus sebagai korban yang tragis, memar,
legam dan pucat pasi; yakni gambar-gambar Kristus yang penuh darah;
Kristus-Kristus dengan wajah menyeringai bergumul dengan maut; Kristus-Kristus
yang telentang dan menyerah.
Menurut John Mackay,
justru Kristus yang berasal dari tradisi Spanyol populer inilah (“Kristus
Spanyol”) yang “dinaturalisasikan” di Amerika Latin. Yang mungkin sangat
menonjol di sini ialah, bahwa riwayat hidup-Nya tidak dibawakan. Adapun peranan
Yesus selama di dunia dilihat semata-mata dalam dua peranan dramatis saja,
yaitu: 1. Sebagai anak dalam pelukan ibu-Nya; 2. Sebagai korban berdarah, penuh
penderitaan.
Gambaran ini menyangkut
Kristus yang lahir dan mati, tetapi tidak pernah hidup. Yang mengherankan
ialah, bahwa kurun waktu yang berarti dan menentukan dalam kehidupan Yesus,
yakni sesudah masa kanak-kanak-Nya, ketika Ia tanpa beban mental serta
memerlukan perlindungan sampai pada keputusan yang diambil-Nya dengan “penuh
keberanian” untuk mati, sambil menanggung penderitaan yang tak terhingga,
dihilangkan saja, kata Mackay.
Sifat kemanusiaan Kristus
hampir tidak dihiraukan, pun di Amerika Latin, demikian Mackay. Sebabnya adalah
karena mereka tidak mengenal Yesus selain Dia yang mereka pakai sebagai alasan
untuk mengadakan “hari-hari raya”. Ia diingat sebagai anak dan sebagai korban
yang menderita. Ia dijadikan “pelindung suci” pada perayaan hari kelahiran-Nya,
yang dirayakan secara besar-besaran dan kemudian pada peringatan Minggu-minggu
Sengsara yang ditandai suasana suram. Yesus Kristus berfungsi sebagai suatu katharsis,
semacam kelegaan emosional untuk melepaskan ketegangan, tetapi secara etis
Dia tidak mempunyai arti. Bangsa Amerika Selatan memberi perhatian khusus pada
arti Yesus bagi kematian dan hidup abadi, sehingga mereka tidak dapat melihat
Dia sebagai orang yang telah mengajar bagaimana kita harus hidup; yang telah
berkata: Ikutlah Aku!
Pandangan mengenai
Kristus yang bangkit sudah sama kaburnya dengan pandangan mengenai tokoh
historis itu. Kristus telah kehilangan prestise sebagai penyelamat dalam
perkaraperkara kehidupan! Ia hidup seolah-olah dalam pengasingan, sedangkan
Sang Perawan, para orang suci, didekati setiap hari untuk kebutuhan hidup. Sang
Perawan adalah dewi sejati agama rakyat itu.
Bagaimana ()rang Amerika
Latin memandang Yesus, dapat dinilai dari patung-patung-Nya yang dibuat dan
bagaimana mereka memperingati penderitaan-Nya. Sama seperti di Spanyol, di
Amerika Latin diselenggarakan prosesi-prosesi selama Minggu Sengsara. Konon
diceritakan tentang adegan-adegan yang mengerikan, penuh penyiksaan dith, yang
dilakukan secara kolektif. Orang memikul kayu-kayu salib yang berat.
Penderitaan Kristus dijadikan suatu kultus kematian dan penguburan diri
sendiri. Masa itu merupakan minggu yang sepi yang tidak diakhiri dengan
perayaan Paskah. Pengakuan kepercayaan agama Katolik rakyat Brasilia masa kini
membuktikan bahwa kepercayaan kepada Kristus tidak dialami sebagai suatu
panggilan, bukan juga sebagai kepercayaan yang mengubah hati dan pikiran, yang
memberi harapan dan kebahagiaan. Kepercayaan pada kultus dilihat sebagai suatu ulangan
mistik dari kehidupan diri sendiri, yang terganggu dan menyedihkan, demikian
Luis Alberto de Boni.
No comments:
Post a Comment