Tuesday, July 9, 2019

SEPERTI APA PENGGAMBARAN KRISTUS MENURUT METODE PENGINJILAN BANGSA SPANYOL DI AMERIKA LATIN?

Kristus Spanyol
Di Cuzco, ibu kota lama bangsa Inka, ada sebuah gereja dari zaman kolonial. Pada pintunya tertulis: “Datanglah kepada Maria semua yang letih lesu dan ia akan memberi ketenangan kepada­mu.” Kutipan seperti itu menurut John Mackay, menggambarkan secara khusus betapa besar peranan Maria dalam ketaatan agama rakyat Amerika Latin dan Spanyol. Betapa Kristus tersaingi oleh ibu-Nya datang ke Amerika, katanya. “Dari Betlehem dan Kalvari Dia melalui Afrika dan Spanyol menempuh perjalanan yang panjang ke pampas (padang rumput) dan cordilleras (pegunungan). Akan tetapi apakah benar Dia yang datang atau suatu tokoh agama yang memakai nama-Nya dan beberapa ciri khasnya? Saya rasa ketika Kristus pergi ke Barat Ia ditangkap di Spanyol, sedangkan orang lain yang memakai nama-Nya ikut berlayar bersama bangsa Spanyol yang ber-Perang Salib. Seorang Kristus yang tidak lahir di Betlehem, tetapi di Afrika Utara.25 Kristus inilah yang “dinaturalisasikan” di koloni Iberia, sedangkan anak dan Tuhan Maria tidak lebih daripada orang asing dan seorang penonton di negeri ini, sejak zaman Columbus sampai sekarang.”
Apa yang merupakan ciri khas dari Kristus dalam pandangan orang Spanyol, menurut Mackay? Dalam hal ini ia menunjuk pada kepekaan orang Spanyol terhadap tragedi dan perasaan yang sangat emosional terhadap kehidupan abadi, hal yang berulangkali timbul dalam kepercayaan rakyat Spanyol. Sehubungan dengan itu Mackay menunjuk kepada ahli filsafat Spanyol Miguel de Unamuno (1864­1936). Karya tulisnya El-Christo de Velazques (pada 1920) terdiri dari empat bagian. Patung Kristus terkenal, ciptaan Velazques, rupanya mempengaruhi Unamuno, sebagaimana patung ciptaan Grunewald dengan tangan Yohanes Pembaptis yang menunjuk kepada Dia yang di Salib itu, mempengaruhi pemikiran Karl Barth.
Unamuno mengomentari ciptaan Velazques, Kristus yang di Salib atau Kristus yang Telentang yang terdapat di kota Palencia (Iglesia de la Cruz). Katanya, “Kristus ini, abadi seperti kematian, tidak bangkit lagi. Betapa tidak. Bagi Dia hanya tersedia kematian Kristus Spanyol ini tidak pernah hidup, hitam sebagai selubung bumi, tergelimpang horisontal Artinya, di dalam kepercayaan orang Spanyol Kristus adalah pusat kultus kematian. Kristus yang mati ini menjadi korban. Yang mencolok sekali di sini ialah bahwa segi-segi istimewa dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, tidak penting dan agaknya kurang menarik perhatian.”
Dalam pandangan Spanyol, Kristus dianggap sebagai makhluk supra-alami, yang kemanusiaan-Nya tidak mempunyai daya tank etis bagi kita. Kristus yang asketis ini, mati sebagai korban dari kebencian manusia dan juga untuk members kehidupan kekal kepada mereka yang percaya. Artinya, Ia memberikan kelangsung­an keberadaan jasmaniah. Dengan “menghayati penderitaan-Nya” terjadilah suatu kelegaan dalam jiwa orang berdoa, hal mana juga terjadi pada orang yang menonton adu banteng, suatu kreasi serupa, ungkapan jiwa Spanyol, demikian menurut Mackay. Orang Spanyol melihat dan merasakan kematian dalam kenyataannya yang menakutkan dalam nasib korban itu. Seluruh pengalaman yang menggemparkan itu mempertebal kepekaan terhadap kenyataan dan kengerian kematian itu, sebab is merangsang kegairahan akan kehidupan. Namun kehidupan bukan dalam arti kata keinginan untuk dilahirkan kembali, tetapi untuk mencapai kehidupan yang abadi. Ia ikut serta dalam komuni bukan untuk memperbaiki hidupnya. Dalam Ekaristi Kristus dipakai untuk kepentingan pribadi. Sakramen ini membuat kehidupan bertambah ta.npa mengubahnya.
Kristus yang “diserahkan”, Kristus Spanyol ini, adalah Kristus yang terutama dikenal sebagai anak dalam pelukan ibu-Nya sebagai tubuh yang mati, sekujur mayat dalam pangkuan ibu-Nya. Dalam kaitan dengan yang terakhir ini, perlu kiranya diingat patung karya Michelangelo yang terkenal, yaitu Pieta di Roma. Thu itu menangani sifat kanak-kanak Yesus yang tak berdaya dan nasib­Nya yang menyedihkan itu. Dengan tidak mengalami kematian, ibu yang perawan itu menjadi ratu kehidupan. Kristus dan Maria ini dibawa ke Amerika. “Ia datang sebagai penguasa kematian dan kehidupan yang akan datang. Maria datang sebagai wanita yang memerintah atas kehidupan yang sekarang,” demikian kata J. Mackay.”
Dari sekian banyak gambaran Kristus di Amerika Latin, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa Kristus seperti disebut di atas itulah yang dibawa ke benua ini. Para misionaris Spanyol menggambarkan Kristus sebagai korban yang tragis, memar, legam dan pucat pasi; yakni gambar-gambar Kristus yang penuh darah; Kristus-Kristus dengan wajah menyeringai bergumul dengan maut; Kristus-Kristus yang telentang dan menyerah.
Menurut John Mackay, justru Kristus yang berasal dari tradisi Spanyol populer inilah (“Kristus Spanyol”) yang “dinaturali­sasikan” di Amerika Latin. Yang mungkin sangat menonjol di sini ialah, bahwa riwayat hidup-Nya tidak dibawakan. Adapun peranan Yesus selama di dunia dilihat semata-mata dalam dua peranan dramatis saja, yaitu: 1. Sebagai anak dalam pelukan ibu-Nya; 2. Sebagai korban berdarah, penuh penderitaan.
Gambaran ini menyangkut Kristus yang lahir dan mati, tetapi tidak pernah hidup. Yang mengherankan ialah, bahwa kurun waktu yang berarti dan menentukan dalam kehidupan Yesus, yakni sesudah masa kanak-kanak-Nya, ketika Ia tanpa beban mental serta memerlukan perlindungan sampai pada keputusan yang diambil-Nya dengan “penuh keberanian” untuk mati, sambil menanggung penderitaan yang tak terhingga, dihilangkan saja, kata Mackay.
Sifat kemanusiaan Kristus hampir tidak dihiraukan, pun di Amerika Latin, demikian Mackay. Sebabnya adalah karena mereka tidak mengenal Yesus selain Dia yang mereka pakai sebagai alasan untuk mengadakan “hari-hari raya”. Ia diingat sebagai anak dan sebagai korban yang menderita. Ia dijadikan “pelindung suci” pada perayaan hari kelahiran-Nya, yang dirayakan secara besar-besaran dan kemudian pada peringatan Minggu-minggu Sengsara yang ditandai suasana suram. Yesus Kristus berfungsi sebagai suatu katharsis, semacam kelegaan emosional untuk melepaskan ketegangan, tetapi secara etis Dia tidak mempunyai arti. Bangsa Amerika Selatan memberi perhatian khusus pada arti Yesus bagi kematian dan hidup abadi, sehingga mereka tidak dapat melihat Dia sebagai orang yang telah mengajar bagaimana kita harus hidup; yang telah berkata: Ikutlah Aku!
Pandangan mengenai Kristus yang bangkit sudah sama kaburnya dengan pandangan mengenai tokoh historis itu. Kristus telah kehilangan prestise sebagai penyelamat dalam perkara­perkara kehidupan! Ia hidup seolah-olah dalam pengasingan, sedangkan Sang Perawan, para orang suci, didekati setiap hari untuk kebutuhan hidup. Sang Perawan adalah dewi sejati agama rakyat itu.

Bagaimana ()rang Amerika Latin memandang Yesus, dapat dinilai dari patung-patung-Nya yang dibuat dan bagaimana mereka memperingati penderitaan-Nya. Sama seperti di Spanyol, di Amerika Latin diselenggarakan prosesi-prosesi selama Minggu Sengsara. Konon diceritakan tentang adegan-adegan yang mengeri­kan, penuh penyiksaan dith, yang dilakukan secara kolektif. Orang memikul kayu-kayu salib yang berat. Penderitaan Kristus dijadikan suatu kultus kematian dan penguburan diri sendiri. Masa itu merupakan minggu yang sepi yang tidak diakhiri dengan perayaan Paskah. Pengakuan kepercayaan agama Katolik rakyat Brasilia masa kini membuktikan bahwa kepercayaan kepada Kristus tidak dialami sebagai suatu panggilan, bukan juga sebagai kepercayaan yang mengubah hati dan pikiran, yang memberi harapan dan kebahagiaan. Kepercayaan pada kultus dilihat sebagai suatu ulangan mistik dari kehidupan diri sendiri, yang terganggu dan menyedihkan, demikian Luis Alberto de Boni.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...