Friday, July 19, 2019

Kristus dan ironi antara penindasan dan penaklukkan atas sesama manusia 2


Kristus sebagai penakluk
     Mari kita belajar dari Kristus sang penakluk sejati tentang apa itu sesungguhnya penakluk dan penaklukkan. Ayat-ayat di bawah ini akan menyingkapkan hal tersebut dan menunjukkan keutamaan Kristus dalam segala sesuatu lewat Pribadi Penakluk.
     “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita, sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahkluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada di dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Roma 8: 37-39
    Apapun kasih itu jika itu berasal dari dunia itu akan terpisahkan tetapi jika itu berasal dari Allah itu kekal dan menyatukan tidak terpisahkan. Allah yang mau mengasihi dan mengikat diriNya dengan manusia itu nyata dalam pribadi Kristus. Dan manusia yang mengikatkan dirinya dan manu mengasihi Allah itu terwujud nyata pula dalam Kristus inilah Kristus yang nyata dalam kita. Segala sesuatu bermula dari Dia sebagai dasar kita semenjak kita mau menerima Dia. Sayangnya jika belum masuk pada penerimaan keutuhan Kristus banyak orang yang sedang melayani pekerjaan Allah atau beraktifitas dalam kerohanian namun tidak sadar kalau sedang menolak Dia sebab belum mendasarkan dan mengakui segala sesuatu dari Dia dan oleh Dia. Semua akan terbuka ketika kita masuk pada fase selanjutnya dalam pengiringan akan Dia. Yang dibutuhkan di sini adalah kepekaaan diri kita untuk meminta yang utama kepadaNya dalam doa permohonan kita serta kerelaan diri kita untuk memberi diri kepadaNya. Hal ini akan semakin terbuka jika kita masuk pada pembahasan selanjutnya.
    
     “lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “jangan engkau menangis! Sesungguhnya, Singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Wahyu 5:5
     Dalam ayat di atas kita menemukan penyataan  akan Kristus sebagai Singa dari Yehuda, Dia yang telah menang dari sekian banyak pendahulu. Pemenang di sini di mana Kristus mewakili dua, yaitu Dia sebagai Allah yang menang untuk manusia dan sebagai Manusia yang menang untuk Allah atau di hadapan Allah. Hanya Dia satu-satunya yang menang yang sanggup dan layak membuka gulungan kitab yang termeterai. Di dalam Dia dan oleh Dialah maka kita pun akan menikmati hidup yang termeterai dalam gulungan kitab kehidupanNya Allah. Dialah Kristus, Allah yang memeteraikan diriNya bagi manusia, mendedikasikan diriNya atau mempersembahkan DiriNya bagi manusia dan sebaliknya pula Dialah manusia yang seutuhnya benar dan mendedikasikan DiriNya untuk Allah. Makanya dalam segala hal Allah sangat meninggikan Dia dan sebagaimana Allah meninggikan Dia maka Dia harus dan layak ditinggikan oleh segenap umat manusia sebagai sumber kemenangan dan keselamatan. Inilah Kristologi sejati, kesatuan yang tersingkap jelas antara Allah dan manusia di dalam pribadi Yesus Kristus.     

     “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” 1 Korintus 15: 57
      Satu-satunya Allah yang sanggup mengalahkan dosa dan maut itu terwujudnyatakan di dalam pribadi Yesus Kristus agar di dalam Dia manusia yang percaya dapat beroleh kemenangan dan kelepasan yang sama. Sebab apapun setiap usaha manusia sebenarnya berujung pada keinginan untuk mencari kepuasan diri karena sejatinya manusia sejak jatuh dalam dosa kehilangan akan kemuliaan dan kepuasan hidup untuk menikmati hidupnya. Inilah Kehadiran Kristus bagi kita dimaksudkan agar kita mau menerima Dia semakin hari semakin luas di dalam diri kita dan menanggalkan segenap keinginan dan pribadi kita di dalam Dia. Agar keinginan dan kehendak Dia masuk dalam setiap sendi aspek hidup kita. Inilah kebebasan dan kemenangan orang percaya, kita tidak lagi berjalan sesuai kehendak kita dan meminta penyertaanNya untuk apa yang kita mau tetapi kita berjalan sesuai kehendak Dia dan meminta penyertaanNya untuk apa yang Dia mau di dalam kita. Jika manusia berjalan sesuai kehendak sendiri maka sebaik apapun itu, itu adalah penjajahan dan perbudakan sebab tanpa Allah diri manusia itu lekat dengan hukum dosa.
     Sewaktu saya masuk pada penyangkalan diri secara utuh dalam hal ini saya katakana utuh sebab ada satu titik di mana saya mengalami pengalaman rohani luar biasa. Saat di mana saya setelah sekian lama berdoa demikian: “ Ya Tuhan, ajar saya dalam segala hal untuk semakin mengenal Engkau, dan nyatakanlah PribadiMu yang ada di dalam saya”, maka akhirnya saya mengalami di mana Dia menyatakan diriNya bahwa benar-benar Dia ada di dalam kita secara pribadi lewat Roh KudusNya, saya tekankan di sini Roh Kudus itu Pribadi Allah dan ada di dalam kita makanya kiat di sebut anak-anak Allah. Pada saat itu saya diperhadapkan kenyataan untuk menerima bahwa hidup saya bukan milik saya tetapi milik Dia yang ada di dalam saya. Saya harus menerima kenyataan bahwa saya milik Dia tidak berhak lagi menentukan sendiri sejengkal pun jalan hidup saya dan keinginan saya. Satu hal yang saya pergumulkan sejak dahulu adalah tentang pelayanan dan pekerjaan. Saya tidak mau terjun dalam dunia pelayanan dalam hal ini secara umum terjemahkan sebagai pelayanan rohani atau jadi pendeta dan rohaniawan lainnya secara full. Namun di sisi lain saya memang lebih suka hendak memiliki pekerjaan yang dunia kategorikan sebaga pekerjaan sekuler yang dianggap tidak ada kaitannya sedikitpun dengan hal rohani.
     Hingga pada akhirnya saya berhasil melepaskan diri saya dari segala beban ketidakinginan untuk tunduk dan menyerahkannya kepada Dia yang ada di dalam saya, yang juga menguatkan saya untuk melakukan itu. Dan apa yang saya temui adalah luar biasa bebas, ketika saya memberi apa yang seolah hak saya, seolah hak di sini dalam arti diri saya secara utuh dalam segala keinginannya, ketikak saya serahkan itu dan tunduk kepada Dia maka Dia memenuhi saya secara utuh dalam setiap sendi kehendak saya hingga akhirnya Kristus kembali memberikan apa yang saya anggap hak saya itu kepada saya namun dalam keadaan diri saya yang sudah berbeda. “Karena engkau sudah memberi dirimu dan segala aspek kehendak di dalamnya maka Aku memberikannya kembali sebab yang di ubah bukan pada kehendak atau keinginan kita tetapi motivasi dan dasar dari mana kehendak itu muncul.” Yang dirombak di sini adalah dosa, sesungguhnya hukum atau pribadi dosa itu yang dirombak dan dihancurkan oleh Allah di dalam kita, Cuma karena diri manusia kita sudah lekat dan senyawa dengan dosa maka kita merasa diri inilah yang diambil atau dirombak. Tetapi sesungguhnya dosa di dalam diri kita, bukan sekedar perbuatannya, itu terlalu kecil tetapi akar hidupnya, hukumnya atau pribadinya, kuasanya yang dihancurkan hingga kita dapat menikmati kembali diri kita seturut kehendak Allah dan tanpa beban lagi dalam pengiringan akan Dia.
     “Berry, jika kamu pun bekerja sesuai keinginanmu dan tanpa adanya  Aku di sana, apakah kamu akan benar menikmatinya?” saya berkata tidak Tuhan. “Berry, jika kamupun melayani Aku dan kamu hanya melakukan karena  beban hukum tanpa adanya Aku di sana apakah kamu akan menikmatinya?” jawabku, tidak Tuhan. Ketika saya telah masuk pada penyerahan diri kepadanya maka Dia menunjukkan  suatu realita baru yang lebih bersifat batiniah, perombakan dan perubahan diri dari dalam nyata Dia kerjakan di dalam saya. “AnakKu, karena kamu telah menyerahkan dirimu dan segala kehendak di dalamnya maka apapun yang kamu kehendaki, apapun yang kamu inginkan, terjadilah sesuai rencanamu dan Aku menyertaimu.” Sebab yang diubah bukan kehendak rencana lahiriah kita tetapi dasar dari mana itu berasal. Yang diubah adalah batin kita, hati dan pikiran kita. Jika dahulu masih bersenyawa dengan dosa dan hanya hidup dalam kasih karunia pelayakanNya maka sekarang telah hidup dalam bersenyawa dengan Dia dan dalam kelayakanNya. Ini perbedaan yang amat jauh dalam fase hidup orang percaya. Hanya bisa diukur dan dinilai secara batiniah rohaniah dan tidak bisa diukur sebatas jasmaniah sebagaimana Paulus utarakan dalam 1 Korintus 5: 16-17.
     Terjadi perubahan atau peningkatan yang besar dalam cara pandang, iman, kekuatan dalam Kristus, menilai hidup dan segala sesuatu. Nyata benar bagaimana Kristus yang telah menaklukkan saya tidak bisa lagi ditaklukan oleh siapaun dan apapun juga. Sebab utamanya adalah bermula dari diri kita selama kita mnasih belum seutuhnya takluk atau mau takluk kepada Kristus maka dunia masih mudah menaklukan kita sebab kita masih banyak membawa diri kita saja dna Kristus hanaya labelnya. Tetapi jika kita  membawa Kristus sebagai Pribadi utuh, dunia pasti akan membenci tetapi mereka tidak akan sanggup membantah. Inilah yang saya alami dan nikmati sejak saat pengalaman hebat itu hingga sekarang.

     “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka.” Kolose 2: 15
     Apa sebab kita tidak bisa menilai Kristus sebatas lahiriah saja? Sebab kekayaan dan kemuliaan Allah tidak akan tergambar sepenuhnya secara lahiriah. Ayat di atas contohnya. Secara lahiriah mata jasmaniah, perasaan dan pikiran jiwani manusia akan menilai bahwa Kristuslah yang dilucuti dan dijadikan tontonan di kayu salib tetapi ayat di atas berbicara realita yang berlawanan bahwa sebaliknya pemerintah dunialah yang dilucuti dan menjadi tontonan umum dalam kemenangan Kristus. Manusia duniawi mengukur kemenangan secara jasmaniah semata, uang banyak, jabatan digapai, punya gedung baru, rumah baru, usaha baru maju, sukses dan lain-lain. Sangat menyedihkan juga iman dalam kehidupan rohaniah dinilai juga sebatas lahiriah semata. Iman digambarkan hanya dalam situasi jika mempercayai hal supranatural. Yakin sembuh, menyembuhkan sakit-sakit parah secara medis, meyakini berkat datang, dan lain-lain. Padahal iman bukanlah objek semata, tetapi jika kita masuk dalam Keutuhan Kristus atau Kristologi sejati kita akan menemukan Iman itu berbicara Pribadi dan semua kebenaran ungkapan Alkitab menunjuk dan menuju pada satu pribadi yang sempurna di mana semua kebenaran Alkitab itu sempurna di dalam Dia. Dialah Kristus, segala sesuatu tanpa hakekat Kristus itu bukan iman dan segala sesuatu yang dasarnya hakekat Kristus itu adalah Iman sebab Iman itu adalah Kristus, perhatikan Galatia 3:22-26.
     Amat menyedihkan dan tidak heran jika sekarang banyak pengajaran dan komunitas pelayanan yang akhirnya salah kaprah dalam menerjemahkan iman bagi jemaat. Dalam Galatia 3: 22-25 jelas menyatakan Iman itu adalah Pribadi Kristus. Apapun yyang kita lakukan tanpa Dia, sehebat apapun itu sebaik apapun itu itu bukan Iman, itu motivasi diri manusiawi, manusia alamiah yang akan berakhir dalam dunia. Jika iman Kristus yang kita miliki maka kita tidak akan berpandangan sesempit yang umumnya orang lakukan. Mengasihi sesama itu wujud iman, tidak hanya nanti menyembuhkan sakit ini dan itu. Menerima keberadaan diri dan sesama itu iman, bukan sembarang iman tidak hanya dinilai dari mengahdirkan mujisat supra natural ini dan itu. Iman itu Kristus di dalam kita.

     “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?” 1 Yohanes 5:4-5
     Kemenangan yang mengalahkan Dunia adalah Iman kita dan iman kita adalah Kristus bukan dari diri kita sendiri tetapi dari Allah untuk kita. Kita perlu mempercayai betul FirmanNya yang mengatakan semua dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, (Kolose 1:16). Untuk masuk pada percaya kepada Yesus adalah Anak Allah itupun bukan sebatas percaya kehadiranNya yang lahir  sebgai anak Allah dan anak Manusia sebagaimana Alkitab selalu nyatakan dengan jelas. Tetapi dalam hal ini kita harus menerima dan mengakui keberadaanNya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia di mana di dalam Dia Allah dan Manusia menjadi satu dan dipersatukan. Pribadi yang utuh mewakili Allah dan Manusia agar keduanya dipersatukan kembali di dalam Dia.
“demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah. Dan setiap roh, yang tidak mengaku (menolak, membenci, menghindari, menghalangi) Yesus, tidak berasal dari Alla.Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.”
1 Yohanes 4: 4-5
“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”
2 Yohanes 1: 7
“Maka kata Yesus: apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu.” Yohanes 8: 28
“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.” Yohanes 3: 14-15

Ingat kejadian bangsa Israel yang dipagut ular di padang gurun? Agar terlepas dan sembuh dari bisa ular maka Musa oleh perintah Allah memperlihatkan tongkat ular hingga mereka yang melihat tongkat ular itu selamat dan sembuh. Jika ingin sembuh dari racun dunia, pandang dan tinggikan Yesus Kristu, Anak Allah dan Anak Manusia. Perhatikan kata Anak Manusia yang oleh Alkitab di tulis dengan huruf capital. Jelas sudah bahwa kita tidak hanya bisa lebih mengakui Kristus hanya pada sisi Keilahian Dia atau sisi Ketuhanan Dia tetapi kita perlu mengakui sejajar dengan sisi kemanusiaan Dia yang sempurna. Sebab mengakui Tuhan dalam KetuhananNya itu semua manusia yang bahkan tidak percaya Kristus pun bisa lakukan meski tuhan mereka dalam hal ini berbeda dengan Tuhan kita. Namun mengakui Ketuhanan Allah dalam wujud manusia itu sulit. Hanya kemurahan Roh kudus yang membuat kita mampu beriman kepadaNya. Dan untuk masuk lebih dalam akan Kristus maka pengakuan akan kesempurnaanNya dalam wujud manusia itu akan banyak menemplak dosa di dalam batiniah setiap pribadi, itu akan menghancurkan dan menelanjangi pribadi dosa setiap orang. Ini yang membuat banyak orang marah dan geram akan pengajaran Kristus dalam hal ini Kristologi sejati sebab itu yang saya sudah alami selama memberitakan Dia secara pribadi. Namun  jika hati berani dan rela terbuka kepadaNya maka justru kehadiranNya secara utuh dalam diri kita lewat pengakuan diri kita kepada Dia yang sempurna dan satu-satunya itu akan membuat kita lega dan terbebas dari segala beban dunia. Dunia akan tunduk sebab kita terlebih dahulu telah tunduk kepadaNya. Diawali dari dalam batin, dalam RohNya yang ada dalam kita.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...