
Sekali waktu aku
Sekali waktu aku berkulit
merah Orang kulit putih datang.
Sekali waktu aku berkulit
hitam Orang kulit putih datang.
Mereka mengusir aku dari
hutan.
Mereka menghalau aku dari
mimpiku.
Lalu aku tidak melihat
bulan-bulan perakku lagi. Demikian juga pohon-pohon yang rindang.
Aku terjerat dalam
sistem-sistem mereka. Aku mulai mengenal nilai-nilai mereka. Bersama banyak
orang aku terjerat. Kami tidak dapat betah.
(Langston Hughes)
Babak ini terdiri dari
tiga bagian. Dalam bagian pertama (iv) dibicarakan dalam hubungan sejarah
dramatis bangsa kulit hitam (perdagangan budak); tentang “Kristus kulit putih”
yang telah diserahkan, dan bagaimana orang yang berhadapan dengan itu mengaku
“mesias kulit hitam” (“teologi hitam”), baik di Amerika Serikat (J. Cone, G.
Wilmore) maupun di Afrika bagian Selatan (Canaan Banana). Dalam bagian kedua
(v) pembahasan lebih dikhususkan pada benua Afrika saja, baik mengenai latar
belakang religius Afrika itu sendiri maupun tahapan-tahapan di mana Yesus masuk
Afrika (zaman Pedanjian Baru, “Orang Moro” atau “Sidasida dari Etiopia”;
Gereja-gereja “kuno” di Nubia dan Etiopia; Kristus yang disampaikan oleh
zending dan mini Barat). Di sini diselidiki bagaimana Yesus ditanggapi dalam
apa yang disebut gereja-gereja independen dan bagaimana para teolog Afrika
mencoba merancang kristologi-kristologi Afrika sendiri. Dalam bagian ketiga
(vi) pembahasan dititik-beratkan pada Kristus, sebagaimana is disampaikan oleh
Kaum Hernhut ke Suriname, dan bagaimana orang-orang Kreol Suriname “menerima”
Kristus ini (Kwakoe dan Kristus).
Kristus
kulit putih dan Mesias kulit hitam
Anak cucu dari
budak-budak kulit hitam, yang dulu diangkut dari Afrika ke benua Amerika itu,
dalam puluhan tahun terakhir ini menyadari bahwa Yesus yang diberitakan kepada
mereka dijadikan “orang kulit putih”, yang menjadi semakin putih. Hal itu mereka
tentang untuk membela sifat “kulit hitamnya” Yesus. Hal yang pertama tidak
hanya diartikan secara harfiah, malahan juga lebih secara kiasan. Gayraud
Wilmore menyatakan betapa semakin putih dan pucat Kristus digambarkan oleh
dunia seni lukis Barat. Menurut dia, maksudnya ialah mengubah Kristus dari
keturunan Semit menjadi orang Arya. Rambut-Nya yang hitam diubah menjadi rambut
pirang, mata-Nya yang hitam menjadi biru Usaha untuk menjadikan Kristus orang
Arya dimulai pada waktu orang-orang Eropa mulai berhubungan erat dengan ras-ras
lain.”
Di Amerika Serikat pada
tahun enampuluhan mulai berkembang apa yang disebut Teologi Hitam. Yang
dititikberatkan teologi ini ialah, melepaskan diri dari “teologi kulit putih”,
yang telah menciptakan seorang Allah sesuai gambar seorang bangsa Barat yang
berkulit putih. Gambar Allah ini menjadi landasan, demikian pengamatan mereka,
dari ideologi Kristen dunia Barat dan penindasan yang telah dialami orang-orang
kulit hitam dan bangsa minoritas lain yang bukan kulit putih.
Berlawanan dengan agama
Kristen yang telah menjadikan Tuhan sama dengan kebudayaan penjajahan bangsa
kulit putih, maka Teologi Hitam mengaku Tuhan yang setia kawan dengan setiap
insan yang tertindas dari ras dan bangsa apapun, dan yang berada di tengah penderitaan,
penghinaan dan kematian mereka. Para teolog kulit hitam berbicara tentang
Mesias kulit hitam, Allah yang ditindas dan dibunuh ini, yang bangkit untuk
memberi kehidupan dan harapan kepada semua yang tertindas. Mesias kulit hitam
ini, yang adalah orang yang tertindas dari Allah, kelihatan pada wajah-wajah
orang miskin dan tertindas, yang berkulit hitam.
Kematian dan
kebangkitan-Nya dalam kebangkitan mereka, menuju hidup dan kuasa baru, adalah
arti dari Injil pembebasan. Yesus Kristus dapat dilepaskan dari sifat Amerika
tanpa menghapus arty sebenarnya dari diri-Nya sebagai Anak Allah yang telah
menjelma. Mereka melihat Mesias yang tertindas dan dibunuh dalam simbol-simbol
yang aktual, yang berlainan dengan orangorang yang berkulit putih dari dunia
Barat.
Teolog berkulit hitam,
James Cone, orang yang pertama memperkenalkan dan menyebarluaskan apa yang
disebut “Teologi Hitam”, menulis: Kristus Amerika itu tidak memiliki ciri-ciri
rasial, Ia berkulit langsat, berambut ikal warna coklat dan kadangkadang sungguh
ajaib - memiliki mata biru. Orang-orang kulit putih berkeberatan jika ia
berbibir tebal, sama seperti orang Farisi berkeberatan, jika mereka melihat Dia
di suatu “pesta” bersama orang-orang pemungut cukai. Namun apakah orang kulit
putih setuju atau tidak, Kristus berkulit hitam “Nak', dengan raut muka yang
menjijikkan bagi masyarakat kulit putih. Memperkirakan, bahwa Kristus memilih
kulit hitam, bukanlah suatu gagasan teologi emosional, ... membayangkan Kristus
tidak berkulit hitam dalam abad ke-20, secara teologis sama mustahilnya dengan
bila Ia dibayangkan bukan orang Yahudi di abad pertama.
James Cone mempertanyakan
kembali apa artinya keputusan Konsili Nicea pada tahun 325, yang menyatakan
bahwa Kristus adalah sehakikat - homoousios - dengan Bapa dan keputusan
Konsili Chalcedon pada tahun 451, yang menyatakan bahwa kedua kodrat yang ilahi
dan manusiawi, tidak terbagi dan terpisah dan tidak tercampur dan tidak
berubah. Apa artinya bagi mereka yang melihat Yesus bukan sebagai suatu gagasan
dalam pemikiran, tetapi Yesus yang mereka kenal sebagai Juruselamat dan Sahabat.”
Oleh karena itu, demikian katanya, ia kembali mendengarkan suara denyut jantung
dari kehidupan yang hitam, sebagaimana ia bergema dalam nyanyian dan
pemberitaan Firman orang kulit hitam.
Pokok ini diuraikan oleh
Cone dalam bukunya The Spirituals and Blues. Menurut dia, lagu Negro
Spirituals itu bersifat cerita mengenai daya upaya historis orang kulit hitam
untuk memperoleh kebebasan duniawi, dan bukan suatu proyeksi orang Afrika yang tidak
mempunyai harapan dan yang telah melupakan “tanah air” mereka, atas dunia lain.
Dalam lagu-lagu “Spirituals” itu Yesus dilihat sebagai raja yang membebaskan
umat manusia dari penderitaan yang tidak adil. Ia penghibur dalam waktu-waktu
susah, “bunga bakung yang di lembah” dan bintang terang di waktu menjelang
pagi. “Spirituals” itu tidak mengungkapkan spekulasi teologis (sebetulnya mana
ada nyanyian yang demikian? Yesus bukanlah pokok-pokok permasalahan
teologis. Ia dilihat dalam kenyataan pengalaman kaum kulit hitam. Spirituals
itu berbicara jelas dan tuntas tentang sifat ilahi Yesus. Berbicara mengenai
Bapa dan Anak adalah dua cara untuk berbicara tentang kenyataan kehadiran ilahi
dalam masyarakat budak. Yang menjadi pusat keberadaan mereka adalah lambang
dari penderitaan mereka. Yesus berada di tengahnya, sehingga Ia adalah Sahabat
dan Teman sependeritaan dalam perbudakan, “Spirituals” itu tidak hanya
berbicara tentang apa yang telah dilakukan oleh Yesus dan sedang dilakukan bagi
orang kulit hitam dalam perbudakan. Ia dianggap sebagai orang yang memegang
kunci penghakiman. Yesus adalah Allah sendiri, yang menerobos ke dalam masa
lampau historis umat manusia dan mengubahnya sesuai dengan pengharapan ilahi.”
Cone menegaskan bahwa
Yesus Kristus harus diakui berdasarkan keberadaan-Nya kini, dalam masa lampau
dan dalam waktu yang akan datang. “Kita baru dapat memahami riwayat hidup Yesus
di masa lampau dan anti keselamatan-Nya (soteriologis), jika hidup-Nya di masa
lampau dikaitkan secara logis dan teratur (dialektis) dengan kehadiran-Nya di
masa kini dan kedatangan-Nya di masa yang akan datang.” Dalam menganalisa hidup
Yesus di masa lampau, kita tidak dapat menyangkal nilai soteriologis-Nya di
masa kini sebagai Tuhan dari pergumulan kita sekarang. Pandangan terhadap masa
depan Kristus, yang menerobos kehidupan mereka sebagai budak, mengubah
pandangan mereka terhadap masa depan mereka sendiri. Para teolog kulit hitam
harus dapat membuktikan, bahwa sifat hitam Yesus bukan hanya bakat psikologis
dari orang kulit hitam, tetapi berasal dari penelitian yang dapat dipercaya,
dari sumber-sumber yang menyoroti riwayat hidup Yesus di masa lampau, masa kini
dan masa depan. Kalau kita tidak berhasil dalam hal ini, demikian Cone berkata,
maka kita akan kena tuduhan, bahwa “Kristus yang hitam” adalah suatu
pemutar-balikan ideologic dari Perjanjian Baru untuk tujuan-tujuan politis.
Kristus hitam, karena Dia
orang Yahudi. Pernyataan mengenai “Yesus berkulit hitam” dapat dipahami, jika
arti Keyahudian-Nya di masa lampau, dikaitkan secara dialektis dengan sifat
hitam-Nya sekarang. Keyahudian Yesus menempatkan Dia dalam konteks keluaran
(exodus), dan kedatangan-Nya di Palestina dihubungkan dengan pembebasan
orang-orang Israel oleh Allah, ke luar dari Mesir (Yes 42:6,7).
Salib Yesus adalah
perubahan radikal oleh Allah dari keadaan manusia, ketika yang terpilih untuk
menggantikan Israel sebagai Hamba yang Menderita dan dengan demikian
mengungkapkan kesediaan Allah untuk menderita, agar umat manusia dibebaskan
secara sempurna. Salib adalah penderitaan Allah secara pribadi, menggantikan
Israel ... Kebangkitan berarti, bahwa identifikasi Allah dengan orang miskin
dalam Yesus tidak terbatas pada kepribadian Yahudi-Nya, tetapi berlaku bagi
semua orang yang berjuang demi pembebasan umat manusia di dunia ini.
Cone menyatakan, is
menyadari bahwa sifat hitam sebagai sifat kristologis dalam masa depan, yang
sangat mungkin tidak dapat dibenarkan, bahkan untuk sekarang juga tidak berlaku
dalam setiap konteks. Menurut dia, demikian juga halnya dengan beberapa gelar
dari Peijanjian Baru seperti “Anak Allah” dan “Anak Daud” dan gambaran lain
tentang Kristus sepanjang sejarah Kristen. Kewajaran dari suatu gelar
ditentukan berdasarkan pertimbangan, apa sifat gelar itu pada suatu ketika,
secara khas menunjuk pada kehendak Allah, untuk membebaskan seluruh umat
manusia dari penindasan yang tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu,
ungkapan bahwa Kristus adalah hitam bukan hanya menerangkan tentang warna
kulit-Nya, tetapi lebih dari itu adalah pernyataan transenden, bahwa Allah
tidak pernah meninggalkan orang-orang yang tertindas. Ia berada di antara
mereka di Mesir yang diperintah Firaun, Ia pun berada di Amerika, Afrika dan
Amerika Latin dan akan ada pada akhir zaman untuk menggenapi kebebasan umat manusia
secara sempurna.
Menurut Cone, tidak ada
kebenaran dalam Kristus yang tidak terlepas dari orang yang tertindas, dari
sejarah dan kebudayaan mereka. Kristus adalah suatu peristiwa pembebasan, suatu
“kejadian” (happening) dalam hidup mereka yang tertindas dan yang
berjuang untuk kebebasan politik.
“Mesias
yang hitam” di Afrika
Teologi hitam tidak hanya
terdapat di Amerika Serikat, tetapi juga di Afrika sendiri. Teologi tersebut
terutama terdapat dalam bagian-bagian Afrika, yang pernah atau yang masih
dilanda rasisme kulit putih atau penjajahan kulit putih. Tentu yang dimaksudkan
di sini ialah, apa yang terjadi di Afrika Selatan dan yang dulu disebut
Rhodesia.
Dalam hubungan dengan
negara yang terakhir ini, yang kini bernama Zimbabwe, Pendeta Canaan Banana,
sekarang Presiden Zimbabwe, pernah menulis Injil menurut Ghetto. Menurut
dia, sudah terlalu lama Injil dipersembahkan kepada khalayak ramai sebagai
suatu khayalan tentang hidup akhirat (pie in the sky). Akan tetapi Tuhan
mau menjumpai kita dalam kekuatan kita, bukan kelemahan kita. Ia menghendaki
pertama-tams dari mereka yang kecewa, agar mereka sadar kembali, bahwa Allah
yang kita sembah tidak mati atau lemah, tetapi hidup secara aktif dan
menciptakan kembali manusia dan lingkungannya.
Ia menuangkan pengakuannya dalam kata-kata sebagai
berikut:
Injil Yesus Kristus
berkuasa untuk
menyembuhkan.
Luka-luka berdarah
disebabkan oleh
penyakit-penyakit moral,
sosial, ekonomi
dan politik masa kini.
Injil Yesus Kristus
menentukan harga diri
setiap manusia.
Ia mencemooh mitos
tentang rasisme ilahi
yang sedang merajalela
Ia mengamanatkan
persaudaraan
di antara seluruh umat
manusia
sebagai harapan
satu-satunya dari dunia.
Ia memberikan contoh lain dari pengakuan iman rakyat:
Aku percaya kepada Allah
yang tidak buta warna...
Aku percaya kepada Yesus
Kristus
Lahir dari seorang
perempuan biasa,
yang diejek, dicederai
dan diadili,
yang bangkit pada hari
yang ketiga
dan memukul kembali.
Ia menyerbu sidang-sidang
dewan pertimbangan agung,
tempat Ia menggulingkan
pemerintah yang
dengan tangan besi
mempertahankan ketidakadilan.
Mulai sekarang Ia akan
melanjutkan peradilan
terhadap kebencian dan
keangkuhan orang.
Aku percaya kepada roh
pendamaian
Tubuh yang mempersatukan
orang-orang miskin.
Persekutuan massa yang
menderita.
Kuasa yang mengalahkan
kebengisan
yang ada dalam diri
manusia.
Kebangkitan dari
perikemanusiaan,
keadilan serta persamaan
dan kemenangan terakhir
persaudaraan.”
Ia memberikan suatu versi sajak dari doa “Bapa Kami”:
Bapa kami yang ada dalam
ghetto
Namamu dihina
Perbudakanmu terdapat di
mana-mana
Kehendakmu dicela
sebagai imbalan di dunia
akhirat (pie in the sky)
Ajarlah kami meminta.
Bagian kami dalam harta
emas.
Ampunilah sifat penurut
kami
Seperti kami mohon bagian
kami dalam keadilan.
jangan membawa kami ke
dalam persekongkolan.
Bebaskanlah kami dari
kegelisahan kami
karena kamilah pemilik
kedaulatan-mu
Kuasa dan pembebasan
Untuk selama-lamanya.
Amin.
No comments:
Post a Comment