Monday, August 12, 2019

RENUNGAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI, YESUS BAGI PERBUDAKAN BANGSA HITAM 1


Sekali waktu aku
Sekali waktu aku berkulit merah Orang kulit putih datang.
Sekali waktu aku berkulit hitam Orang kulit putih datang.
Mereka mengusir aku dari hutan.
Mereka menghalau aku dari mimpiku.
Lalu aku tidak melihat bulan-bulan perakku lagi. Demikian juga pohon-pohon yang rindang.
Aku terjerat dalam sistem-sistem mereka. Aku mulai mengenal nilai-nilai mereka. Bersama banyak orang aku terjerat. Kami tidak dapat betah.
(Langston Hughes)

Babak ini terdiri dari tiga bagian. Dalam bagian pertama (iv) dibicarakan dalam hubungan sejarah dramatis bangsa kulit hitam (perdagangan budak); tentang “Kristus kulit putih” yang telah diserahkan, dan bagaimana orang yang berhadapan dengan itu mengaku “mesias kulit hitam” (“teologi hitam”), baik di Amerika Serikat (J. Cone, G. Wilmore) maupun di Afrika bagian Selatan (Canaan Banana). Dalam bagian kedua (v) pembahasan lebih dikhususkan pada benua Afrika saja, baik mengenai latar belakang religius Afrika itu sendiri maupun tahapan-tahapan di mana Yesus masuk Afrika (zaman Pedanjian Baru, “Orang Moro” atau “Sida­sida dari Etiopia”; Gereja-gereja “kuno” di Nubia dan Etiopia; Kristus yang disampaikan oleh zending dan mini Barat). Di sini diselidiki bagaimana Yesus ditanggapi dalam apa yang disebut gereja-gereja independen dan bagaimana para teolog Afrika mencoba merancang kristologi-kristologi Afrika sendiri. Dalam bagian ketiga (vi) pembahasan dititik-beratkan pada Kristus, sebagaimana is disampaikan oleh Kaum Hernhut ke Suriname, dan bagaimana orang-orang Kreol Suriname “menerima” Kristus ini (Kwakoe dan Kristus).

Kristus kulit putih dan Mesias kulit hitam
Anak cucu dari budak-budak kulit hitam, yang dulu diangkut dari Afrika ke benua Amerika itu, dalam puluhan tahun terakhir ini menyadari bahwa Yesus yang diberitakan kepada mereka dijadikan “orang kulit putih”, yang menjadi semakin putih. Hal itu mereka tentang untuk membela sifat “kulit hitamnya” Yesus. Hal yang pertama tidak hanya diartikan secara harfiah, malahan juga lebih secara kiasan. Gayraud Wilmore menyatakan betapa semakin putih dan pucat Kristus digambarkan oleh dunia seni lukis Barat. Menurut dia, maksudnya ialah mengubah Kristus dari keturunan Semit menjadi orang Arya. Rambut-Nya yang hitam diubah menjadi rambut pirang, mata-Nya yang hitam menjadi biru Usaha untuk menjadikan Kristus orang Arya dimulai pada waktu orang-orang Eropa mulai berhubungan erat dengan ras-ras lain.”
Di Amerika Serikat pada tahun enampuluhan mulai berkem­bang apa yang disebut Teologi Hitam. Yang dititikberatkan teologi ini ialah, melepaskan diri dari “teologi kulit putih”, yang telah menciptakan seorang Allah sesuai gambar seorang bangsa Barat yang berkulit putih. Gambar Allah ini menjadi landasan, demikian pengamatan mereka, dari ideologi Kristen dunia Barat dan penindasan yang telah dialami orang-orang kulit hitam dan bangsa minoritas lain yang bukan kulit putih.
Berlawanan dengan agama Kristen yang telah menjadikan Tuhan sama dengan kebudayaan penjajahan bangsa kulit putih, maka Teologi Hitam mengaku Tuhan yang setia kawan dengan setiap insan yang tertindas dari ras dan bangsa apapun, dan yang berada di tengah penderitaan, penghinaan dan kematian mereka. Para teolog kulit hitam berbicara tentang Mesias kulit hitam, Allah yang ditindas dan dibunuh ini, yang bangkit untuk memberi kehidupan dan harapan kepada semua yang tertindas. Mesias kulit hitam ini, yang adalah orang yang tertindas dari Allah, kelihatan pada wajah-wajah orang miskin dan tertindas, yang berkulit hitam.
Kematian dan kebangkitan-Nya dalam kebangkitan mereka, menuju hidup dan kuasa baru, adalah arti dari Injil pembebasan. Yesus Kristus dapat dilepaskan dari sifat Amerika tanpa meng­hapus arty sebenarnya dari diri-Nya sebagai Anak Allah yang telah menjelma. Mereka melihat Mesias yang tertindas dan dibunuh dalam simbol-simbol yang aktual, yang berlainan dengan orang­orang yang berkulit putih dari dunia Barat.
Teolog berkulit hitam, James Cone, orang yang pertama memperkenalkan dan menyebarluaskan apa yang disebut “Teologi Hitam”, menulis: Kristus Amerika itu tidak memiliki ciri-ciri rasial, Ia berkulit langsat, berambut ikal warna coklat dan kadang­kadang sungguh ajaib - memiliki mata biru. Orang-orang kulit putih berkeberatan jika ia berbibir tebal, sama seperti orang Farisi berkeberatan, jika mereka melihat Dia di suatu “pesta” bersama orang-orang pemungut cukai. Namun apakah orang kulit putih setuju atau tidak, Kristus berkulit hitam “Nak', dengan raut muka yang menjijikkan bagi masyarakat kulit putih. Memperkirakan, bahwa Kristus memilih kulit hitam, bukanlah suatu gagasan teologi emosional, ... membayangkan Kristus tidak berkulit hitam dalam abad ke-20, secara teologis sama mustahilnya dengan bila Ia dibayangkan bukan orang Yahudi di abad pertama.
James Cone mempertanyakan kembali apa artinya keputusan Konsili Nicea pada tahun 325, yang menyatakan bahwa Kristus adalah sehakikat - homoousios - dengan Bapa dan keputusan Konsili Chalcedon pada tahun 451, yang menyatakan bahwa kedua kodrat yang ilahi dan manusiawi, tidak terbagi dan terpisah dan tidak tercampur dan tidak berubah. Apa artinya bagi mereka yang melihat Yesus bukan sebagai suatu gagasan dalam pemikiran, tetapi Yesus yang mereka kenal sebagai Juruselamat dan Saha­bat.” Oleh karena itu, demikian katanya, ia kembali mendengarkan suara denyut jantung dari kehidupan yang hitam, sebagaimana ia bergema dalam nyanyian dan pemberitaan Firman orang kulit hitam.
Pokok ini diuraikan oleh Cone dalam bukunya The Spirituals and Blues. Menurut dia, lagu Negro Spirituals itu bersifat cerita mengenai daya upaya historis orang kulit hitam untuk memperoleh kebebasan duniawi, dan bukan suatu proyeksi orang Afrika yang tidak mempunyai harapan dan yang telah melupakan “tanah air” mereka, atas dunia lain. Dalam lagu-lagu “Spirituals” itu Yesus dilihat sebagai raja yang membebaskan umat manusia dari penderitaan yang tidak adil. Ia penghibur dalam waktu-waktu susah, “bunga bakung yang di lembah” dan bintang terang di waktu menjelang pagi. “Spirituals” itu tidak mengungkapkan spekulasi teologis (sebetulnya mana ada nyanyian yang demikian? Yesus bukanlah pokok-pokok permasalahan teologis. Ia dilihat dalam kenyataan pengalaman kaum kulit hitam. Spirituals itu berbicara jelas dan tuntas tentang sifat ilahi Yesus. Berbicara mengenai Bapa dan Anak adalah dua cara untuk berbicara tentang kenyataan kehadiran ilahi dalam masyarakat budak. Yang menjadi pusat keberadaan mereka adalah lambang dari penderitaan mereka. Yesus berada di tengahnya, sehingga Ia adalah Sahabat dan Teman sependeritaan dalam perbudakan, “Spirituals” itu tidak hanya berbicara tentang apa yang telah dilakukan oleh Yesus dan sedang dilakukan bagi orang kulit hitam dalam perbudakan. Ia dianggap sebagai orang yang memegang kunci penghakiman. Yesus adalah Allah sendiri, yang menerobos ke dalam masa lampau historis umat manusia dan mengubahnya sesuai dengan pengharapan ilahi.”
Cone menegaskan bahwa Yesus Kristus harus diakui ber­dasarkan keberadaan-Nya kini, dalam masa lampau dan dalam waktu yang akan datang. “Kita baru dapat memahami riwayat hidup Yesus di masa lampau dan anti keselamatan-Nya (soterio­logis), jika hidup-Nya di masa lampau dikaitkan secara logis dan teratur (dialektis) dengan kehadiran-Nya di masa kini dan kedatangan-Nya di masa yang akan datang.” Dalam menganalisa hidup Yesus di masa lampau, kita tidak dapat menyangkal nilai soteriologis-Nya di masa kini sebagai Tuhan dari pergumulan kita sekarang. Pandangan terhadap masa depan Kristus, yang menero­bos kehidupan mereka sebagai budak, mengubah pandangan mereka terhadap masa depan mereka sendiri. Para teolog kulit hitam harus dapat membuktikan, bahwa sifat hitam Yesus bukan hanya bakat psikologis dari orang kulit hitam, tetapi berasal dari penelitian yang dapat dipercaya, dari sumber-sumber yang menyoroti riwayat hidup Yesus di masa lampau, masa kini dan masa depan. Kalau kita tidak berhasil dalam hal ini, demikian Cone berkata, maka kita akan kena tuduhan, bahwa “Kristus yang hitam” adalah suatu pemutar-balikan ideologic dari Perjanjian Baru untuk tujuan-tujuan politis.
Kristus hitam, karena Dia orang Yahudi. Pernyataan mengenai “Yesus berkulit hitam” dapat dipahami, jika arti Keyahudian-Nya di masa lampau, dikaitkan secara dialektis dengan sifat hitam-Nya sekarang. Keyahudian Yesus menempatkan Dia dalam konteks keluaran (exodus), dan kedatangan-Nya di Palestina dihubungkan dengan pembebasan orang-orang Israel oleh Allah, ke luar dari Mesir (Yes 42:6,7).
Salib Yesus adalah perubahan radikal oleh Allah dari keadaan manusia, ketika yang terpilih untuk menggantikan Israel sebagai Hamba yang Menderita dan dengan demikian mengungkapkan kesediaan Allah untuk menderita, agar umat manusia dibebaskan secara sempurna. Salib adalah penderitaan Allah secara pribadi, menggantikan Israel ... Kebangkitan berarti, bahwa identifikasi Allah dengan orang miskin dalam Yesus tidak terbatas pada kepribadian Yahudi-Nya, tetapi berlaku bagi semua orang yang berjuang demi pembebasan umat manusia di dunia ini.
Cone menyatakan, is menyadari bahwa sifat hitam sebagai sifat kristologis dalam masa depan, yang sangat mungkin tidak dapat dibenarkan, bahkan untuk sekarang juga tidak berlaku dalam setiap konteks. Menurut dia, demikian juga halnya dengan beberapa gelar dari Peijanjian Baru seperti “Anak Allah” dan “Anak Daud” dan gambaran lain tentang Kristus sepanjang sejarah Kristen. Kewajaran dari suatu gelar ditentukan berdasarkan pertimbangan, apa sifat gelar itu pada suatu ketika, secara khas menunjuk pada kehendak Allah, untuk membebaskan seluruh umat manusia dari penindasan yang tidak berperikemanusiaan. Oleh karena itu, ungkapan bahwa Kristus adalah hitam bukan hanya menerangkan tentang warna kulit-Nya, tetapi lebih dari itu adalah pernyataan transenden, bahwa Allah tidak pernah mening­galkan orang-orang yang tertindas. Ia berada di antara mereka di Mesir yang diperintah Firaun, Ia pun berada di Amerika, Afrika dan Amerika Latin dan akan ada pada akhir zaman untuk menggenapi kebebasan umat manusia secara sempurna.

Menurut Cone, tidak ada kebenaran dalam Kristus yang tidak terlepas dari orang yang tertindas, dari sejarah dan kebudayaan mereka. Kristus adalah suatu peristiwa pembebasan, suatu “kejadian” (happening) dalam hidup mereka yang tertindas dan yang berjuang untuk kebebasan politik.

“Mesias yang hitam” di Afrika
Teologi hitam tidak hanya terdapat di Amerika Serikat, tetapi juga di Afrika sendiri. Teologi tersebut terutama terdapat dalam bagian-bagian Afrika, yang pernah atau yang masih dilanda rasisme kulit putih atau penjajahan kulit putih. Tentu yang dimaksudkan di sini ialah, apa yang terjadi di Afrika Selatan dan yang dulu disebut Rhodesia.
Dalam hubungan dengan negara yang terakhir ini, yang kini bernama Zimbabwe, Pendeta Canaan Banana, sekarang Presiden Zimbabwe, pernah menulis Injil menurut Ghetto. Menurut dia, sudah terlalu lama Injil dipersembahkan kepada khalayak ramai sebagai suatu khayalan tentang hidup akhirat (pie in the sky). Akan tetapi Tuhan mau menjumpai kita dalam kekuatan kita, bukan kelemahan kita. Ia menghendaki pertama-tams dari mereka yang kecewa, agar mereka sadar kembali, bahwa Allah yang kita sembah tidak mati atau lemah, tetapi hidup secara aktif dan menciptakan kembali manusia dan lingkungannya.
Ia menuangkan pengakuannya dalam kata-kata sebagai berikut:
Injil Yesus Kristus
berkuasa untuk menyembuhkan.
Luka-luka berdarah disebabkan oleh
penyakit-penyakit moral, sosial, ekonomi
dan politik masa kini.
Injil Yesus Kristus
menentukan harga diri setiap manusia.
Ia mencemooh mitos tentang rasisme ilahi
yang sedang merajalela
Ia mengamanatkan persaudaraan
di antara seluruh umat manusia
sebagai harapan satu-satunya dari dunia.

Ia memberikan contoh lain dari pengakuan iman rakyat:
Aku percaya kepada Allah yang tidak buta warna...
Aku percaya kepada Yesus Kristus
Lahir dari seorang perempuan biasa,
yang diejek, dicederai dan diadili,
yang bangkit pada hari yang ketiga
dan memukul kembali.
Ia menyerbu sidang-sidang dewan pertimbangan agung,
tempat Ia menggulingkan pemerintah yang
dengan tangan besi mempertahankan ketidakadilan.
Mulai sekarang Ia akan melanjutkan peradilan
terhadap kebencian dan keangkuhan orang.
Aku percaya kepada roh pendamaian
Tubuh yang mempersatukan orang-orang miskin.
Persekutuan massa yang menderita.
Kuasa yang mengalahkan kebengisan
yang ada dalam diri manusia.
Kebangkitan dari perikemanusiaan,
keadilan serta persamaan
dan kemenangan terakhir persaudaraan.”

Ia memberikan suatu versi sajak dari doa “Bapa Kami”:
Bapa kami yang ada dalam ghetto
Namamu dihina
Perbudakanmu terdapat di mana-mana
Kehendakmu dicela
sebagai imbalan di dunia akhirat (pie in the sky)
Ajarlah kami meminta.
Bagian kami dalam harta emas.
Ampunilah sifat penurut kami
Seperti kami mohon bagian kami dalam keadilan.
jangan membawa kami ke dalam persekongkolan.
Bebaskanlah kami dari kegelisahan kami
karena kamilah pemilik kedaulatan-mu
Kuasa dan pembebasan
Untuk selama-lamanya.

Amin.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...