Wednesday, January 30, 2019

Pengikut Yesus Kian Bertambah, Sampai Nangis, Artis Ovi Sovianti Ceritakan Alasan Dirinya Pindah Agama

Pengikut Yesus Kian Bertambah, Sampai Nangis, Artis Ovi Sovianti Ceritakan Alasan Dirinya Pindah Agama

Ovi Sovianti tidak langsung mengikuti jejak suaminya untuk menjadi seorang Nasrani.

Ada beberapa pengalaman spiritual melalui mimpi yang dialami oleh mantan personel Duo Serigala itu.

"Jadi mungkin kalau aku ceritain nggak masuk logika. Jadi kayak aku datang di mimpi dan aku ngerasain suka cita (bertemu Tuhan) dan harus lebih Puji Tuhan, lebih memperdalam lagi, gitu," kata Ovi Sovianti, saat ditemui di kawasan Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, Selasa (29/1/2018).

Tak sekali, Ovi Sovianti beberapa kali bermimpi serupa. Ia kemudian menceritakan pengalaman tersebut kepada sang suami, Franky Ilham Roring.

Mendengar cerita tersebut, Franky tidak langsung mengajak Ovi untuk memeluk Nasrani, melainkan mengajak Ovi untuk memikirkan masak-masak untuk pindah agama.

"Sebenarnya awalnya nggak (mendukung), karena dia beberapa kali tanya 'Kamu nggak niat untuk tarik aku dari awal pacaran' saya bilang nggak. Saya bukan tipe orang yang, ayo sama gue terus ikut (pindah keyakinan)," tutur Franky.

Franky baru mengajak Ovi Sovianti ke gereka setelah tiga hari berturut-turur bermimpi bertemu dengan Yesus. Bahkan, perempuan 22 tahun itu menangis karena kejadian tersebut.

"Dalam tiga malam itu dia mimpi. Sampai akhirnya, dia mimpi terakhir dan nangis. Baru akhirnya dia mulai ngomong secara personal (mau pindah agama)," terang Franky.

Ovi Sovianti pun membenarkan apa yang disampaikan oleh sang suami. Dia menangis setelah bermimpi tiga hari berturut-turut bertemu dengan Tuhan Yesus.

"Ovi yang sering bikin nangis, mimpi," tutur Ovi.

"Dia bertemu yang namanya di Nasrani dibilang Yesus. Jadi datang secara personal dari mimpi dan akhirnya dia memutuskan untuk, ayo kita ke gereja," jelas Franky.

Friday, January 25, 2019

Tinjauan umum mengenai timbulnya jiwa keagamaan pada anak.


          Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis, walaupun demikian ia sudah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat paten. Di bawah ini adalah prinsip pertumbuhan anak yang menjadi faktor keberlangsungannya jiwa ketuhanan pada anak.
a.        Prinsip biologis
Di mana secara fisik jasmaniah seorang anak pernah melewati masa-masa dia menjadi mahluk yang lemah yang bergantung pada orang dewasa baik secara jasmani maupun mental. Dengan kata lain bahwa ia tidak bisa berdiri sendiri.
b.        Prinsip tanpa daya
Prinsip bawaan ini berbeda dengan prinsip di atas. Ini adalah kesadaran diri manusia di mana dia tahu bahwa dia tidak bisa sendiri dan butuh sesamanya serta alam dan Tuhan sebagai oknum yang menciptakan dia dan lebih berkuasa dari dia. Prinsip ini bawaan sejak lahir dan tidak terbatasi oleh bertambahnya umur sebagaimana dengan prinsip biologis di atas.
c.        Prinsip eksplorasi
Di mana lewat perkembangan potensinya yang sudah dibawa sejak lahir maka seiring dengan pengalaman hidupnya dan pengetahuan yang berkembang dalam dirinya membuat dia menyadari keberadaan Tuhan dan semakin menyelidiki hidupnya.
d.        Prinsip ketergantungan
Ini prinsip yang umum dipakai di mana menurut W.E Thomas manusia sejak anak-anak telah memiliki 4 keinginan yaitu : Keinginan perlindungan atau security, keinginan pengalaman baru atau experience, keinginan untuk mendapatkan tanggapan atau response, dan keinginan untuk dikenal atau recognition.
e.        Prinsip hakiki
Di mana menurut Woodworth seorang bayi yang dilahirkan sudah memiliki insting ketuhanan yang secara lahiriah belum terlihat jelas akibat kemampuan kejiwaan yang belum sempurna.
Tahap perkembangan nilai-nilai agama pada anak.
Menurut penelitian Ernest Harms, perkembangan agama pada anak-anak melalui tiga tingkatan.

1.        The fairy tale stage (tahap dongeng).
Tahap ini dimulai pada usia 3-6 tahun. Pada usia ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Di mana anak memenuhi penghayatannya tentang Tuhan dengan tingkat intelektualnya yang diliputi oleh dongeng.
2.        The realistic stage (tahap kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke masa usia adolesense atau masa remaja. Pada masa ini ide ketuhanan pada anak sudah memasuki tahap realistis yang dia alami dalam hidupnya dan dirinya. Mereka sudah dapat mempergunakan dorongan emosional hingga mereka dapat melahirkan konsep tentang Tuhan yang formalis. Pada masa ini mereka sudah memiliki ketertarikan yang bersifat intelektual dan gairah terhadap ketuhanan.
3.        The individual stage (tingkat individu).
Tingkat ini adalah tahap di mana anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi dalam masa pertumbuhannya. Tahap ini berawal sejak mereka lulus sekolah hingga berusia 20 tahun. Mereka telah menjadi manusia yang memilki idealis dalam ketuhanannya. Ada tiga golongan yang dibagikan Ernest Harms pada tahap ini, yaitu:
a.        Golongan yang ketuhanannya bersifat konvensional dan konservatif di mana sebagain kecil dari pemahaman mereka masih bersifat fantasi.
b.        Golongan murni di mana mereka lebih menyukai ketuhanan secara personal dan perorangan tanpa memaksakan kehendak serta mengkaji semua pandangan secara pribadi.
c.        Golongan yang bersifat humanistic di mana mereka tidak terikat pada suatu agama tertentu dan lebih mengembangkan jiwa kemanusiaannya dalam kepercayaannya kepada Tuhan.
Menurut iman bawaan perkembangan ketuhanan pada anak-anak dibagi menjadi empat bagian.
1.        Fase dalam kandungan
Fase ini adalah fase di mana sejak anak itu mulai ada dalam kandungan di mana secara rohani dia sudah memiliki roh yang menjadi sumber keterikatannya dengan Tuhan sang pencipta.

2.        Fase bayi
Fase ini masih banyak menimbulkan perdebatan para ahli dan penelitian, namun karena pemegang paham ini telah berani menunjukkan bahwa seorang anak dalam kandungan sudah memiliki insting ketuhanan oleh karena rohnya maka fase saat dia bayi pun tentu seorang anak sudah memiliki jiwa ketuhanan yang masih terbatas sesuai umur fisiknya.
3.        Fase anak-anak
Anak mulai mengenal Tuhan lewat perilaku orang dewasa di sekitar dia. Dia mulai memiliki kesadaran beragama sebatas dengan daya piker anak-anak. Dia sudah mulai bisa memahami beberapa hal dasar tentang ajaran agama, dan belajar melaksanakannya. Namun dalam beberapa kasus anak hanya mampu sebatas meniru dalam pelaksanaan ajaran tersebut.
4.        Fase anak remaja
Tahap di mana anak mulai menunjukkan perkembangan yang realistis tentang hubungannya dengan Tuhannya.

Sementara itu menurut Zakiyyah Drajat, perkembangan perasaan anak kepada Tuhan dibedakan menjadi dua bagian dalam umur 1-11 tahun, yaitu:
1.        Usia sebelum 7 tahun
a.        Perasaan anak kepada Tuhan yaitu negatif dalam arti Takut, menentang, dan ada yang ragu.
b.        Pada usia ini anak berusaha menerima pemikiran tentang Tuhan yang besar dan mulia sesuai dengan gambaran dalam emosinya.
c.        Ada anak-anak yang menganggap Tuhan itu mahluk yang tersembunyi dan tidak bisa dilihat.
d.        Kepercayaan anak pada Tuhan mengenai tempat dan bentukNya itu didorong sesuai dengan perasaan takutnya kepada Tuhan dan perasaan amannya kepada Tuhan.
2.        Usia 7 tahun ke atas
a.        Perasaan anak kepada Tuhan yaitu positif, cinta dan hormat.
b.        Hubungan dengan Tuhan dipenuhi oleh rasa percaya dan rasa aman.
c.        Dalam konteks Tuhan yang tidak terlihat, anak-anak pada usia ini mulai tidak takut dan gelisah.
d.        Anak dapat menerima pemikiran tentang Tuhan dalam rangka untuk menenangkan jiwa dari pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan yang kadang tidak dapat dijawab oleh orang dewasa.
e.        Pada tahap ini anak-anak tidak suka menyadari keberadaan Tuhan jika dia sedang ingin berbuat jahat atau kesalahan. Dia lebih suka membawa Tuhan hanya sebatas Bapak atau Pribadi yang mahakuasa di kala dia sedang susah atau baik.
f.         Kepercayaan anak pada Tuhan di tahap ini bukanlah suatau keyakinan beragam melainkan karena dia butuh seorang pelindung.
g.        Sampai kira-kira usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhan itu bersifat individual yaitu hubungan emosionalnya dengan sesuatu yang tidak ia lihat dan yang hanya ia bayangkan dengan imajinasinya sendiri.
h.        Doa seorang anak pada tahap ini sebatas meminta ampun dan berterimakasih. Dia hanya akan berdoa tentang materi yang dia inginkan jika dianjurkan oleh orang dewasa sebelumnya.
i.         Anak di usia ini sangat tertarik dengan kegiatan keagamaan yang ceria dan riang gembira.
j.         Anak di usia ini akan banyak tergantung teman dalam arti dia akan hadir beribadah jika ada teman-temannya turut hadir.
Sifat-sifat agama pada anak.
          Tinjauan di bawah ini adalah tinjauan umum yang saya kembangkan sesuai kekayaan pemahaman saya pribadi dari apa yang saya lihat, temui, dan alami. Sifat agama pada anak tumbuh mengikuti pola ideas consep on outhrority. Maksudnya ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka meskipun sudah memiliki bawaan dari dalam diri sejak lahir. Berdasarkan hal itu maka sifat-sifat keagamaan yang timbul pada anak-anak terbagi atas:
1.        Unreflective (tidak mendalam)
Anak dalam tipe ini sudah puas dengan apa yang dia terima tentang Tuhan sehingga dia merasa tidak perlu mengkaji lebih jauh lagi. Ini dikarenakan daya tangkap yang lemah atau juga keingintahuan yang tidak kuat.
2.        Egosentris
Anak dengan sifat keegoan yang kuat akan memiliki sifat ketuhanan yang amat kuat dalam hal dia membela pendapatnya tentang Tuhan padahal dia sendiri belum sepenuhnya benar dan masih bimbang dengan apa yang dia pegang. Sifat ketuhanan seperti ini amat berbahaya sebab amat mudah menyalahkan pendapat lain yang belum tentu benar-benar salah atau benar-benar berseberangan dengannya. Mereka cenderung akan menganggap orang lain yang berbeda pendapat sebagai oknum yang dimusuhi dan sering kali itu tanpa mereka sadari.

3.        Anthromorphis
Sifat keagamaan seperti ini meyimpulkan bahwa Tuhan sebagamaimana halnya manusia. Anak cenderung ingin mengimani dan melihat Tuhan secara nyata dalam bentuk fisik. Mereka amat mengagungkan sosok yang menjadi pembimbing mereka tentang Tuhan sebagai sosok yang wajar dijadikan teladan ketimbang Tuhan itu sendiri.
4.        Perbalis dan ritualis
Sifat keagamaan ini muncul sebatas kerajinan seorang anak mengikuti ritual agama. Di mana mereka hanya melatih diri dan terlatih terhadap agamanya lebih sebatas lahiriah. Menghafal ayat, mendengar lagu dan cerita agama, ikut kegiatan agama, dll tanpa menghiraukan atau terpikat dengan esensi dan isi dari agamanya. Hingga mereka tidak betul-betul memahami dan mencintai Tuhannya.
5.        Imitatif
Sifat ini adalah sifat peniru. Di mana seorang anak hanya menjadi pelaku peniru dalam ketuhanan dan keberagamaan. Mirip dengan yang di atas namun sifat ini tidaklah memiliki kecintaan yang sungguh pada ritualitas agamanya. Dia bisa meniru semua ritual agama yang dia lihat, sebab sejak kecil dia terbiasa meniru dalam menunjukkan ketuhanannya. Kemungkinan besar anak-anak ini dididik dalam keluarga yang tidak memiliki patokan agama yang kuat.
6.        Rasa heran
Sifat keagamaan ini sangat tipis perbedaannya dengan sifat kegamaan yang murni. Mereka tampak sangat mencintai agama ataupun Tuhannya dikarenakan terdorong oleh rasa kagum akan kuasa dan kebesaran yang sifatnya jasmaniah. Mereka fasih dalam berbicara tentang Tuhan tapi jika ditelaah itu sebenarnya hanya sebatas pada kekagumannya terhadap kemahakuasaan oknum yang diyakininya. Namun sebenarnya secara pribadi di dalam bati mereka belum betul-betul memahami dan menikmati ketuhanannya.

Semua sifat keagamaan di atas dialami juga oleh orang-orang dewasa dalam skala kedewasaan secara usia yang sudah berbeda tipe dan sifatnya dari anak-anak meskipun hakekatnya sama. Semua tipe ketuhanan itu akan benar dan murni jika dibawa di dalam Kristus. Di dalam Dialah kita akan masuk pada proses pembenaran dan pemurnian setiap hari lewat kehidupan pergaulan dengan Dia dalam segala hal.

PERKEMBANGAN NILAI KETUHANAN PADA ANAK


          Manusia dilahirkan selain membawa gambar Allah sang penciptanya, namun perlu di ingat bahwa oleh karena dosa kita memiliki keterbatasan fisik maupun psikis. Keterbatasan itu nanti akan diperbaharui menuju kesempurnaannya pada saat kita menerima Roh kudus dalam iman percaya kepada Yesus. Jadi ada dua macam anak manusia yang lahir, ada anak yang lahir hanya sebagai benih manusia, dan ada yang lahir juga sudah dalam benih Allah, yaitu mereka yang lahir dari keluarga orang beriman dalam Yesus dan yang diserahkan kepada Tuhan pada masa kanak-kanak mereka. Mereka telah memiliki benih Allah yaitu Roh kudus sejak mereka lahir hanya saja perlu dibina dalam bimbingan rohani sejak kecil. Pembahasan di bawah ini diambil dari teori-teori para ilmuwan umum atau sekuler dan pengkajian utamanya adalah bagaimana pandangan Alkitab tentang nilai ketuhanan pada anak.
          Fisik atau tubuh jasmani anak baru akan berfungsi sempurna jika dipelihara dengan baik sejak masa kanak-kanak. Demikian pula dengan kemampuan mental kejiwaan mereka akan baik jika sejak kanak-kanak terpelihara baik dalam Tuhan. Rohaniah anak-anak pun demikian adanya, akan baik jika terpelihara baik sejak masa kanak-kanak. Yang perlu ditekankan di sini adalah sejak mereka kecil kita sudah menanamkan iman bahwa di dalam mereka ada Roh kudus Allah yang akan selalu ada bersama dengan mereka menjadi Guru Rohani mereka secara pribadi dan mendalam. Dialah yang bertugas menjadi penghibur, pemberitahu kebenaran, dan pemberi kekuatan, dengan kata lain Dialah pemelihara tubuh rohani mereka bahkan jiwa dan jasmani mereka. Ada Pemelihara Agung di dalam mereka.

Pendapat beberapa pakar dan ilmuwan kejiwaan tentang pandangan ketuhanan pada anak.
          Menurut pendapat Khonstam tahap perkembangan kejiwaan pada manusia terbagi dalam lima periode:
1.        Periode pertama/vital atau masa sensitif (usia 0-3 tahun).
2.        Periode kedua/estetis atau masa mencoba (usia 3-6 tahun)
3.        Periode ketiga/intelektual sekolah atau masa belajar awal (umur 6-12 tahun)
4.        Periode keempat/Adolescence atau masa remaja dan pemuda (usia 12-21 tahun)
5.        Periode kelima/tingkat kematangan utuh atau masa dewasa (usia 21 tahun ke atas)
          Elizabeth B Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode yaitu:
1.        0-2 tahun sebagai masa vital.
2.        2-6 tahun sebagai masa kanak-kanak
3.        6-12 tahun masa sekolah
Tinjauan:
          Setiap tahap usia atau periode pada anak memiliki masa kesulitan dan kemudahan tersendiri bagi dirinya untuk mengenal Tuhan. Hal itu berlaku pula pada para pengajar di sekolah, gereja, dan terutama pengajar mereka di rumah yaitu orang tua. Namun kita semua percaya bahwa semuda apapun seorang anak dalam usia maupun kemampuan mental dan intelektualnya, dia sudah memiliki Roh kudus yang akan membimbingnya kearah Tuhan dengan benar sesuai dengan apa yang dia terima dari kita dan dia alami. Karena itu sangatlah penting untuk menanamkan pada anak agar dia memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam hubungan pribadi. Jika kita sudah menguasai cukup akan karakter dasar dari anak yang ada di hadapan kita maka kita dapat beroleh hikmat yang tepat untuk mengajarkan tentang Tuhan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya. Ingatlah bahwa Yesus pernah melewati masa anak-anak dan itu bukan semata karena Dia adalah Manusia Allah yang sempurna melainkan Dia pun melewati tahap pembelajaran tentang Allah dari lingkunganNya dan secara pribadi. Yesus amat peduli dengan anak-anak dan itu tampak pada beberapa kisah dalam alkitab di mana Ia mengajak anak-anak untuk tidak dihalangi datang kepadaNya sebab mereka adalah orang-orang yang empunya kerajaan Allah.
          Ada dua pendapat yang selalu bertentangan hingga saat ini dalam dunia psikologi bahwa antara pendapat yang percaya bahwa manusia sejak lahir telah memiliki jiwa ketuhanan dan yang kedua mengemukakan bahwa manusia sejak lahir sama sekali belum memilki keterikatan atau pengetahuan tentang Tuhan.
Tinjauan:
         Sebagai orang percaya saya tentu mengimani di dalam Yesus bahwasanya setiap manusia berasal dari roh Allah yang menghidupkannya. Itulah yang membuat kita memiliki keterikatan dengan Dia sang pencipta kita. Karena otomatis yang diciptakan memiliki garis hubungan yang erat secara emosional dan kepribadian dengan yang menciptakan. Namun oleh karena dosa maka rohani kita pasif dan mati dalam arti tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai sumber awal keterhubungan dengan Allah. Hingga oleh karena itulah Alktab berkali-kali menulis bahwa tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah dan tidak seorangpun yang mencari Allah, meskipun setiap manusia dalam batiniah rohaninya memiliki keterikatan dengan Allah. Roh kudus oleh iman percaya kepada Yesus lah yang akan membuat kita kembali menikmati kebangkitan rohani, keaktifan kembali rohaniah kita yang menjadi sumber awal untuk hubungan dengan Allah kembali. Sebagaimana lewat Yesus Kristus, Dialah yang telah lebih dahulu mencari kita hingga kita akhirnya dapat kembali mengenal Dia dan berhubungan dengan Dia.
           William Stem dalam paham konvergensinya yang amat populer mengemukakan bahwa perkembangan individu baik secara dasar yaitu berupa bakat, keturunan, dan  lingkungan memiliki peranan penting pada jiwa keagamaan anak. Maksudnya adalah William Stem berpendapat seorang anak akan percaya kepada Tuhan jika dia memiliki bakat atau daya pikir yang baik, keluarga yang sudah percaya kepada Tuhan, dan lingkungan yang sudah percaya kepada Tuhan. Otomatis anak tersebut akan memiliki jiwa yang berketuhanan.
Tinjauan:
          Secara manusia atau sudut pandang lahiriah hal itu tentu benar adanya. Namun jika kita masuk pada pandangan Alkitab bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah atau bisa menemukan Allah yang Benar, maka pandangan itu mutlak salah. Sebab dalam keterbatasan dosa dan kematian rohaninya manusia tidak akan mampu untuk kembali mendapati Allah dalam hidupnya. Justru setelah diperkenalkan dalam Yesus lah maka manusia bisa kembali hidup jiwa kerohaniannya hingga dia bisa mengenal Allah yang benar. Kajian William Stem bisa dikatakan benar jika tuhan atau allah/ilah yang dia maksud adalah objek dunia, atau hasil dari pemikiran manusia. Sebab dalam sifat ketergantungan pada yang lebih berkuasa maka manusia yang sudah terlepas dari Allah selalu mencari kuasa yang dapat dia andalkan atau percayai, hal ini bukan berarti mencari Tuhan sesuai konteksnya Allah yaitu dalam kebenaran tapi mencari Tuhan dalam konteksnya manusia yaitu di dalam dosa. Hingga akhirnya yang mereka temukan adalah tuhan atau ilah yang palsu yang dari dunia ini dan dari pemikiran mereka sendiri. Kini Allah yang Sesungguhnya itu datang dan memperkenalkan diriNya dalam wujud pribadi Yesus Kristus. Dalam Dia barulah manusia percaya pada Allah yang benar  yang telah lebih dahulu menyatakan diriNya dan mencari kita untuk dapat kita percaya kembali.
Pandangan beberapa ilmuwan yang lain:
1.         Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa sumber dari Ketuhanan pada manusia adalah jiwanya sendiri sejak lahir di mana karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
2.         Frederick Hegel mengemukakan bahwa agama adalah suatu pengetahuan yang benar dan hakiki pada manusia yang bersifat abadi.
3.        Frederick Schleimacher mengungkapkan bahwa jiwa ketuhanan pada manusia berasal dari pengkajian dan kesadaran dirinya tentang manusia sebagai mahluk yang lemah dan butuh Tuhan sebagai oknum yang lebih berkuasa untuk dijadikan andalan.
4.        Rudolf Otto meneliti bahwa jiwa ketuhanan pada manusia itu tumbuh dari rasa kagum yang besar yang secara hakiki sudah ada dalam diri manusia, di mana rasa kagum tersebut tidak dapat di isi oleh pribadi yang lain selain Tuhan.
5.        Sigmund Freud menyatakan bahwa unsur ketuhanan yang ada pada manusia didorong oleh libido seksual di mana manusia butuh oknum yang mereka yakini dapat melindungi mereka dalam proses perkembangbiakan dan kesucian di dalamnya.
6.        William Mac Dogall berpendapat bahwa insting manusia yang utuhlah yang menjadi dasar dan sumber dia menjadi mahluk yang bertuhan.
Tinjauan:
Diurutkan sesuai urutan nomor para tokoh ilmuwan di atas.
1.        Mazmur 33:20 berbunyi : “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita.”
Ada banyak ungkapan tentang jiwa manusia yang mengasihi dan merindukan Tuhan dalam kumpulan mazmur Daud. Namun ini berbicara tentang jiwa yang telah terikat dengan Tuhannya. Jiwa yang sudah beriman kepada Tuhannya oleh karena pekerjaan dan dorongan Roh. Jiwa manusia tanpa pembaharuan Roh tidak akan sanggup mencari dan menemukan Tuhan yang benar. Kecuali jiwa yang sudah dibaharui dalam dan oleh Roh Allah. Hanya dalam Kristuslah kini kita dapat memiliki jiwa yang sudah diperbaharui dan menikmati Allah. Sangat penting bagi anak-anak untuk sejak dini dilatih dalam jiwa yang selalu haus dan rindu akan Tuhannya.
2.        Ungkapan Frederick Heggel di atas amat menarik, sebab dari sudut pandang alkitab memang benar bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Sama halnya makna dan hakekatnya dengan ungkapan heggel bahwa agama adalah pengetahuan yang benar dan hakiki yang ada pada manusia. Bahkan tinjauannya mendapati bahwa agama adalah suatu yang bersifat kekal dalam diri manusia. Jika agama itu adalah Pribadi dan bukan wujud dari organisasi atau kumpulan jemaat secara dunia, maka ungkapan bahwa Agama itu kekal tentu benar. Sebab Allah itulah Agama dalam diri kita secara pribadi. Agama yang bermakna pada keyakinan pribadi dan bukan bermakna pada suatu kumpulan jemaah yang beribadah. Sebab Kristus datang ke dunia bukan untuk menciptakan agama sebagaimana konsep dunia tapi menciptakan hubungan pribadi yang hakiki dan kekal dengan Allah dengan Dia sebagai sarana dan pengantara satu-satunya. Jika kita masuk pada keyakinan Agama yang bukan seperti pandangan dunia terhadap agama, maka secara pribadi saya mengimani dan dibukakan olehNya bahwa Dialah Agama yang hakiki dan kekal bagi manusia yang tidak terbatas pada nama kelompok atau organisasi kepercayaan. Kristus adalah Wujud dari Agama yang dinyatakan Allah kepada dunia. Agar di dalam Dia orang boleh kembali belajar bagaimana harus beragama dengan benar. Sebab oleh keberdosaannya manusia tidak dapat beragama dan berkeyakinan dengan benar, baik secara pribadi dengan Allah maupun secara pribadi dengan sesama. Baru Allah memperkenalkan DiriNya lewat Kristus sebagai Wujud Ilahi Allah yang menunjukkan apa itu Agama dan Keyakinan. Kristus sempurna dalam hal menjalankan KeyakinanNya kepada Allah sebagai Manusia dan sukses pula menjalankan penyataan dari Agama dan Keyakian dari Allah bagi manusia. Dialah pengantara yang sejati. Barulah dalam Dia kita belajar mengimani dan menikmati Agama dalam Kebenaran di mana Dialah yang menjadi Keyakinan kita kepada Allah dan Keyakinan dari Allah lewat kita yang akan dinyatakan kepada sesama. Inilah kehakikian dan kekekalan dari suatu konsep Agama yang sudah dipulihkan dan dibenarkan di dalam Kristus.
Jika kita telah menanamkan konsep Kristus sebagai agama yang hakiki dalam diri anak sejak dini maka kita sukses menjadikan dia sebagai pribadi yang kuat dalam perkembangan keimanannya nanti di dalam Kristus. Jika dia secara pribadi secara berkelanjutan menikmati itu maka dia tidak akan menjadi pribadi gampangan yang terombang-ambing oleh berbagai angin pengajaran dan fenomena rohani, tapi berpegang teguh pada ketuhanannya kepada Kristus secara pribadi. Dia tidak akan berpandangan sempit dalam hal pandangannya terhadap gereja secara organisasi melainkan memiliki Kristus sebagai Gereja dalam dirinya dan dia menjadi bait Allah yang benar.
3.        Kesadaran manusia akan kelemahan dirinya tidak hanya sebatas tentang kuasa dalam hal melawan bencana alam, sembuh dari sakit penyakit, dan kelepasan dari pengaruh jahat. Tapi dalam Kristus kita mendapati bahwa manusia yang berdosa telah memiliki kemerosotan dan kelemahan diri dalam segala aspek baik tubuh, jiwa, dan rohnya. Tubuh yang rentan penyakit dan marabahaya alam sekitar, jiwa yang tidak stabil dalam keterbatasan mental menghadapi situasi, dan keadaan roh yang pasif. Kita semua terbatas dan sesungguhnya tidak mengenal betul apa itu Kasih, Kebenaran, Kesabaran, Kelemahlembutan, Ketakutan dalam kebenaran, Keberanian, dan Iman. Kita tidak memiliki kehakikian semua itu sebagaimana yang Alllah miliki dalam ketidakterbatasanNya.
Kristus adalah Wujud kesempurnaaan Allah yang datang dan telah menunjukkan kepada kita seperti apa itu kesatuan dan keesaan semua hal itu di dalam diriNya. Sempurna dalam keilahian dan tanpa cacat cela. Jika kita semakin mendalami Kristus maka kita akan semakin menemukan kesempurnaanNya yang akan semakin menyadarkan kita akan keberadaan dari milik kita yang fana dan terbatas. Itu untuk membawa kita semakin bergantung dan lekat dengan Dia dan tidak lagi berbangga atas kemampuan sendiri. Ditinjau dari sudut pandang yang salah maka pendapat Schlemacher mutlak salah jika kepercayaan dan kesadaran diri manusia tentang Allah dimulai dari keinginannya sendiri sebab tidak ada manusia yang benar-benar mencari Allah dan mendapati Dia. Dia yang datang dan mencari kita, pertama lewat hukum tertulis dan para nabi, baru terakhir lewat kesempurnaan Hukum yang digenapiNya di dalam Kristus. Tapi jika kita mengambil sisi positif dari pendapat Schlemacher di atas maka di dalam Kristus kita memang akan masuk dan setiap saat masuk dalam momen di mana kita disadarkan Allah bahwa kita mahluk yang lemah dan terbatas dalam kecemarannya dan butuh Dia untuk dijadikan andalan dan kemuliaan hidup. Bukan lagi oleh milik kita tapi oleh milik Dia. Milik kita yang rela diserahkan di dalam Dia hingga dimurnikan di dalam Dia. Dalam segala hal baik Kasih, kebaikan, keyakinan atau iman dan lain-lain itu dimiliki setiap orang dalam kecemaran dosa. Sumbernya adalah buah dosa, buah pengetahuan baik dan jahat. Jika kita mau menikmati Kebenaran dan Keutuhannya maka kita harus masuk di dalam pemurnian dan penggenapan Kristus yang ada di dalam kita oleh Roh Kudus.
Anak yang sejak dini telah dididik dan dilatih dalam kebergantunagn yang benar dalam Kristus akan membuat dia memiliki konsep yang benar tentang Allah dan dirinya sebagai manusia ciptaan yang sedang membina hubungan dengan sang Pencipta. Dia tidak akan menjadi pribadi yang hanya menilai Allah sebatas iman kemahakuasaan lahiriah melainkan akan menikmati dan meyakini Allah dalam segala kemahakuasaanNya yang utuh dalam pribadi Kristus. Dia akan tahu dan memahami bahwa iman ditunjukkan bukan hanya pada hal-hal yang bersifat percaya pertolongan mujizat kesembuhan,dan percaya pada kejadian fantastis di hadapan manusia tapi iman yang benar itu utuh sebagaimana yang sudah ditunjukkan Yesus dalam hal keseluruhan hidupNya. Saat Dia mau mengampuni, saat Dia mau mengasihi,  berbagi dalam saling menguatkan dan mendoakan, saat Dia mau melawan godaan inblis, dan saat Dia mau rela menyerahkan diriNya dan kehendakNya kepada Bapa itulah Iman yang utuh. Iman itu Pribadi, datang dalam Pribadi Kristus dan menjadi bagian dari mereka yang menerimaNya. Dalam Dialah kita disebut orang-orang beriman.
“Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawasan hukum taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang Iman itu sudah datang, Karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Galatia 3:23-25).
4.        Selaras dengan alkitab salah satunya dalam Ayub 37:5 yang berbunyi; “Allah mengguntur dengan suaraNya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita.” Dorongan manusia percaya kepada Allah salah satunya karena ada rasa kagum tertinggi dalam diri manusia yang hanya dapat ditujukan kepada Tuhan. Hal itu dikemukakan oleh Rudolf Otto. Namun yang perlu kita ketahui bersama oleh karena dosa maka semua rasa dalam manusia termasuk rasa kagumnya  menjadi cemar. Manusia mencari oknum ilah mana yang pantas mereka kagumi sesuai kebutuhan dan keinginan mereka sendiri. Hingga mereka tidak bisa kembali mengenal Allah yang benar. Hingga akhirnya yang mengagumkan itu datang yaitu Yesus Kristus, agar di dalam Dia manusia bisa melihat dan kembali mengenal kekaguman yang sesungguhnya yang datang dari Allah. Seluruh keutuhan hidup Yesus Kristus menunjukkan kekaguman yang dicari-cari oleh manusia. Tapi sayangnya keinginan manusia dalam menilai kekaguman Allah itu berbeda dengan apa yang hendak ditunjukkan oleh Allah. Itulah sebabnya Dia ditolak. Manusia tidak bisa melihat kekaguman Allah yang sejati dalam penundukkan dan ketaatan Yesus. Mereka tidak bisa melihat kekaguman Allah lewat pengampunan Yesus, mereka tidak bisa melihat kekaguman Allah lewat kasih Yesus, mereka gagal mendapati kekaguman Allah lewat keutuhan pribadi Yesus, padahal itulah yang harus manusia kagumi dari Allah. Manusia hanya bisa menilai kekaguman Tuhan dari perbuatan yang bersifat mujizat, pertolongan lahiriah, tanda-tanda heran secara lahiriah, dan kekuatan yang nampak dari kuasaNya yang bersifat supernatural. Padahal semua itu adalah bagian dari kekaguman Alah yang mengagumkan. kekaguman dan mujizat sejati itu adalah keutuhan pribadinya dalam sifat-sifatNya yang luhur.
Kita yang sudah menerima Yesus dan mau semakin mendalami Dia dalam kerendahan dan penyerahan diri pasti akan menemukan keutuhanNya dalam kekaguman yang harus kita kagumi dan nikmati dalam iman. Sebab kekaguman Allah dan kekaguman manusia maknanya berbeda jauh. Tapi dalam Yesus kita akan semakin menemukan makna Allah yang merubah segala paradigma terbatas yang ada di dalam kita. Semua oleh pekerjaanNya yang nyata di dalam kita oleh Roh kudus. Sangat penting untuk sejak dini menekankan kepada anak bahwa Allah yang mengumkan itu sudah nyata dalam pribadi Yesus dan KekagumanNya tidak hanya diukur dari perbuatan mujizat tapi dari sifat-sifat dan sikap hidupNya yang benar dan penuh kasih. Kita dapat mendorong anak-anak untuk memiliki kekaguman Allah dalam hidupnya sebagai kekaguman dirinya juga di hadapan Allah dan dunia. Ini merujuk pada sikap dan sifatnya yang sejak anak-anak mau menjadi teladan dalam hidupnya. Jika dia menempatkan Yesus sebagai dasar kekaguman dirinya maka secara bertahap anak akan semakin hari semakin menikmati dan menyatakan hidup dalam kekaguman Allah.
5.        Sejak jatuh dalam dosa manusia memiliki perasaan takut dan bersalah. Sebenarnya perasaan bersalah itu ada dalam setiap perbuatan manusia, tapi nampak terasa nyata jika dia berada dalam kondisi yang telah merugikan atau berbuat salah kepada orang lain. Hubungan seks yang tadinya sakral dalam kebenaran kini oleh karena dosa membuat manusia memandangnya sebagai suatu perbuatan yang menjijikan atau tidak senonoh. Hingga manusia butuh perlindungan yang diyakininya dapat menjadi kesucian bagi setiap perbuatannya. Manusia merasa perlu perlindungan diri dalam perkembangbiakannya.
Dalam tradisi kepercayaan bangsa-bangsa kuno seperti peradaban Mesir, India, China dan Indonesia sendiri kita dapat menemukan situs-situs bersejarah yang menggambarkan hubungan seksual dalam maknanya yang sakral. Di mana itu digambarkan sebagai perbuatan yang direstui para dewa dan tuhan. Manusia mencari Tuhan lewat keinginannya untuk berkembang biak dengan subur dalam kesucian. Namun mereka gagal mendapati Allah yang benar yang di dalamNya kita disucikan dalam kebenaranNya. Hingga Pribadi kesucian Allah yang menyucikan manusia itu datang yaitu Yesus Kristus. Dalam Dia barulah kita menikmati kesucian hidup yang akan membersihkan kita dalam menjalani hidup ini dan dalam segala hubungan. Dia adalah Allah yang benar, sumber kesuburan hidup dan kesucian hidup. Dalam Dialah baru manusia bisa terlepas dari rasa bersalah dan menikmati kebenaran Allah dalam hubungan yang diperkenan olehNya.
Sangat penting untuk mengajarkan secara dini pada anak-anak bahwa Yesuslah sumber berkat kesuburan dalam pertumbuhan hidupnya secara jasmani dan rohani. Serta mengajarkan dia bahwa Yesus adalah sumber penyucian dan kelepasan dari rasa takut dan bersalah. Ini bukan untuk membuat anak malah tambah nakal tapi dalam hikmat Allah kita akan sanggup memperkenalkan dia pada kebenaran Allah yang bekerja untuk membuat dia berlaku benar. Dalam kebenaran Allahlah baru kita bisa menikmati penyuburan dan penyucian Allah.
6.        Segenap Insting manusia mengarah kepada Allah itu adalah kebenaran hakiki sebab kita diciptakan olehNya dengan roh yang dari milik Dia. Semua yang kita miliki adalah cerminan dari Dia, serupa dan segambar dengan Dia. Namun karena dosalah maka gambar Allah di dalam kita menjadi rusak dan cemar, meski hakekatnya Keutuhan Pribadi Allah tidak dapat dicemarkan apapun. Hanyalah cerminanNya di dalam kitalah yang tercemar dan rusak. Oleh karena itulah insting kita yang semula dipakai untuk berhubungan dengan Allah dan untuk menyatakan Allah kini justru menjadi alat dosa. Insting manusia menjadi lebih peka dan rentan dengan dosa. Hingga yang suci InstingNya dan benar dalam kepekaanNya itu sudah datang, Dialah Yesus. Mau lihat insting manusia yang benar maka lihatlah hidup dan sikap Yesus Kristus. Bagaimana Dia meresponi Allah dan meresponi manusia dalam kebenaran, itulah insting yang benar yang tidak terjamah oleh dosa tapi murni dalam pengenalan akan Allah. Insting yang sudah terlatih di dalam pengenalan pada Allah akan mengarahkan kita untuk memperbaiki gambar dan cermin Allah di dalam diri kita. Itulah kekayaan ilahi yang kita dapati di dalam Yesus.
Sangat nikmat jika anak-anak sudah menyadari sejak kecil bahwa mereka harus berlatih mengarahkan instingnya pada Yesus dan menikmati kebenaran Allah di dalamnya. Itu dimaksudkan agar sejak kecil mereka sudah terlatih menjadi cermin Pribadi Allah dari dalam diri yang bangkit secara alami oleh pekerjaan Roh kudus. Itu bukan hanya usaha sendiri, dan mereka tidak sendiri sebab mereka memiliki Roh kudus di dalam dirinya. Dalam insting yang sudah disucikan Allah dan diarahkan kepada Allah maka itulah di mana kita disebut orang-orang yang percaya kepada Tuhan, orang-orang berTuhan seperti pernyataan William mac dogall di atas.
Teori Faculty
          Teori ini dikemukakan oleh G.M Straton, Zakiah Drajat, dan W.E Thomas. Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor tunggal tapi terdiri dari beberapa unsur. Jadi menurut teori ini manusia yang bertuhan tidak didorong hanya oleh satu unsur saja tapi oleh beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut adalah:
a.        Cipta atau reason
Merupakan fungsi intelek jiwa manusia. Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat terlebih-lebih dalam agama modern di mana peranan dan fungsi reason ini sangat menentukan.
b.        Rasa atau emotion
Merupakan fungsi perasaan emosional kejiwaan pada manusia di mana pengalaman beragam seseorang dipengaruhi secara emosi.
c.        Karsa atau will

Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Will atau kehendak berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan.

KARAKTER DAN SIFAT-SIFAT ANAK SECARA UMUM



Kita akan meninjau anak-anak dari sifat mereka yang berpengaruh dalam membentuk karakter mereka. Ada banyak tinjauan di bawah ini tentang sifat-sifat anak tersebut namun bersifat umum adanya. Umum yang dimaksudkan di sini ialah siat-sifat yang diutarakan nanti belum mencakup kondisi kejiwaan seorang anak yang secara khusus mengalami pengalaman-pengalaman ekstrim semasa kecil atau yang mengalami gangguan mental dan keterbelakangan mental. Tinjauan di bawah ini saya sertakan dengan tindakan yang sekiranya tepat untuk menangani anak-anak sesuai dengan sifat dan karakter mereka masing-masing. Tentu saja dasar tindakan yang tepat adalah pendidikan di dalam Kristus.

1.                    Anak sanguinis
          Anak dengan sifat ini cenderung ekspresif dalam bicara, dan terlalu cerewet dalam pandangan kita orang dewasa. Pada masa kanak-kanak mereka yang memiliki sifat sanguinis sering meniru perkataan orang dewasa bahkan yang buruk sekalipun seperti makian, umpatan, dan obrolan jorok. Keingintahuan mereka besar terhadap setiap perbincangan dan mereka sangat senang jika dapat menarik perhatian orang lewat kata-kata mereka. Sangat disayangkan jika ada banyak orang dewasa secara tidak sadar atau sengaja bermain-main telah melatih anak-anak tersebut untuk berkata-kata buruk yang tidak sepantasnya diungkapkan seorang anak. Saya sering melihat di mana ada orang-orang dewasa yang justru senang dan terhibur dengan sikap anak yang demikian tanpa memikirkan resiko bagi perkembangan emosional dan mental anak tersebut. Yang menyenangkan dari anak sanguinis adalah sifat mereka yang santai dan tidak mudah sakit hati. Mereka cenderung langsung melepaskan semua perasaan mereka lewat kata-kata dan tidak menyimpan kesusahan. Mereka adalah pendengar yang baik bagi teman-temannya dan suka bercerita. Mereka berpembawaan santai dan tidak banyak berpikir untuk mengambil tindakan. Anak-anak ini tidak mau keterikatan atau kekangan, mereka cenderung suka akan kebebasan. Beberapa dari mereka merasa kursi pendidikan sekolah menjadi suatu penjara kejenuhan  sebab mereka amat supel dan suka bermain. Anak sanguinis terkenal pula gampang berteman dan punya teman banyak. Dia tidak mudah menaruh curiga pada orang lain dan tidak suka berprasangka buruk.

2.                    Anak melankolis
          Ini mungkin menjadi tipe anak yang paling banyak digemari oleh orang dewasa. Kebanyakan anak melankolis memilki bakat di bidang seni, misalnya menulis, melukis, menyanyi, bermain musik, dan masih banyak lagi. Umumnya dari mereka menghabiskan banyak waktu untuk menikmati hobi tersebut, hingga mereka suka menyendiri untuk menekuninya. Namun anak melankolis cenderung mudah sakit hati, pemalu, dan suka menyimpan perasaannya yang susah dan sedih. Anak melankolis gampang beriba hati dan di fase kanak-kanak usia di bawah 10 tahun mereka terlihat lebih mudah menangis dan terharu dibanding anak-anak yang lain. Meskipun pada beberapa anak melankolis lainnya hal itu tidak nampak. Anak melankolis memiliki bakat dan kepandaian tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Mereka adalah juara-juara di sekolah, cenderung  jenius, dan berminat dengan berbagai pengetahuan. Mereka adalah anak-anak yang gemar membaca, suka belajar, dan suka akan kerapihan. Tidak sulit mengajarkan kebersihan dan etika kepada mereka. Mereka cenderung penurut bahkan untuk hal yang sebenarnya mereka belum mampu melakukan. Pada masa kanak-kanak tentu saja orang dewasa akan sangat senang dengan anak berperilaku melankolis sebab tidak banyak merepotkan orang tua atau lingkungan, bahkan bisa menjadi kebanggaan jika dia berprestasi di sekolah. Banyak orang dewasa senang dan menilai anak-anak dengan sifat ini adalah contoh anak yang baik dan tidak nakal. Namun ada sisi di mana jika dia tidak dalam pembimbingan yang benar dan perhatian yang tepat maka mereka bisa saja menjadi bencana saat menanjak dewasa. Anak melankolis adalah tipe penyayang namun terkadang terlihat tidak peduli ketika dia terfokus pada hobi dan kegemarannya. Mereka memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, dalam hal ini sulit bergaul karena pendiam dan suka menyendiri. Anak-anak ini juga adalah anak-anak yang rentan terhadap perasaan dendam.

3.                    Anak koleris
          Anak koleris adalah anak yang “bossy”, atau suka berlagak bos, pemberani dan suka mengatur. Mereka merasa semua adalah milik mereka dan cenderung merampas milik temannya. Mereka adalah anak-anak yang tidak mau memahami perasaan orang lain kecuali perasaannya sendiri. Mungkin mirip ungkapan “hatiku adalah rajaku”. Mungkin ini akan mengundang banyak kebencian terhadap lingkungannya bahkan keluarganya sendiri. Saya sendiri sering jengkel dengan anak yang berperilaku seperti ini. Beberapa dari mereka bahkan agresif bertindak keras jika mengingini sesuatu dan tidak terpenuhi. Ambisi adalah hal yang utama bagi mereka. Untuk kadar usia anak-anak tentu saja ambisi mereka tidak begitu membahayakan, tapi bayangkan jika mereka dewasa dan terbawa terus dengan ambisi. Semua orang tentu punya ambisi namun pembawaan anak-anak koleris terhadap ambisi berbeda. Mereka ingin menghalalkan segala cara demi tercapai apa yang diinginkan. Mereka adalah anak-anak dengan keyakinan diri yang kuat dan kemauan yang keras. Sayangnya mereka cenderung menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginan mereka meskipun itu menyakiti orang lain atau berbahaya. Mereka pemberi semangat bagi teman-temannya dan tidak peduli apa kata orang. Hal ini membuat mereka tampak keras kepala dan susah di atur.

4.                    Anak Plegmatis

          Anak plegmatis adalah ciri anak yang kalem dan cukup pendiam. Mereka suka humor dan canda tawa,dan yang terutama adalah mereka tidak suka bertengkar atau masuk campur dalam sebuah keributan. Anak tipe ini cenderung netral jika teman-temannya berada dalam dua blok yang saling bermusuhan. Mereka tidak sulit untuk memohon maaf jika bersalah, hal yang sangat jauh berbeda dengan anak koleris. Anak plegmatis banyak di sukai teman-temannya karena sifatnya tersebut, mereka berpembawaan santai dan tidak mudah kuatir. Mereka tidak banyak bicara, mudah rukun, dan senang menjadi pengamat situasi. Kendati demikian mereka punya kekurangan dalam hal kurang antusias dan sering tidak fokus pada suatu tujuan atau pembelajaran. Mereka suka lari dari tanggung jawab karena sifatnya yang selalu ingin santai dan tidak punya ambisi atau kekuatiran. Mereka terlalu sering menjadi penonton di sekolah dan tidak mau terlibat banyak kegiatan. Mereka sering mengabaikan perintah orang tua dan tidak serius menanggapinya. Menunda-nunda pekerjaan dan mudah menyerah jika menghadapi suatu masalah adalah ciri utama mereka.

Monday, January 21, 2019

HIDUP DALAM PENGAJARANNYA


“Karena itu buanglah segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.”
1 Petrus 2 : 1 – 3

     Pada abad 15-16, bangsa-bangsa di Eropa berlomba-lomba menjelajah dunia dan menemukan daratan-daratan lain di seberang samudera. Mereka bertemu dengan begitu banyak aneka bangsa dan suku manusia di berbagai benua. Mereka amat terheran-heran dengan apa yang mereka temui.

Mereka melihat berbagai etnis, bentuk fisik, warna kulit, bentuk wajah, dan berbagai budaya yang baru mereka kenal. Kisah petualangan mereka itu mereka catat dalam jurnal harian dan buku-buku mereka. Terkenal beberapa catatan dari Ferdinand Magelan, Marcopolo, ataupun Christopher Colombus. Dari sinilah timbul keinginan kuat pada bangsa-bangsa Eropa untuk mempelajari lebih dalam dan terperinci tentang manusia dan budayanya. Mereka mulai mengenal Etnografi (ilmu tentang etnis suku bangsa), dan Antropologi (ilmu tentang manusia).
     Pada abad 19 perhatian bangsa-bangsa Eropa terhadap Etnografi dan Antropologi menjadi amat dalam. para pelajar dan akademisi amat tertarik hingga akhirnya ilmu tersebut menjadi bahan pembelajaran sekolah. Hal itu berlaku meluas di berbagai negara luar Eropa dan mendunia termasuk di Indonesia. Ya, manusia semakin hari akan semakin haus dengan ilmu dan pengetahuan karena Alkitab pun menulis pada hari-hari terakhir pengetahuan akan bertambah.
     Manusia akan menyelidiki hidup ini dan dunia dan semesta untuk memenuhi hasrat keingintahuannya dan keinginannya untuk berkembang maju. Mereka berusaha mendapatkan banyak solusi yang lebih baik untuk menikmati hidup ini. Yesus berkata bahwa tanda-tanda dunia manusia fasih dan peka memahaminya tapi untuk Anak Allah yang datang sebagai Tanda dari Allah atau sebagai Mesias, manusia sulit mendalami dan menerima. Itu dikatakan Yesus pada para ahli Taurat dan kaum Farisi yang terpelajar seputar permintaan mereka pada Yesus untuk meminta tanda dari langit sebagai pengesahan Allah atas kemesiasan Yesus.
     Padahal telah banyak tanda Yesus lakukan dan telah banyak pernyataan Allah yang tampak lewat Yesus salah satunya adalah saat Yesus dibaptis dan muncul Merpati serta terdengar suara; “Inilah AnakKu yang kukasihi, kepadaNyalah aku berkenan.” Manusia memang bebal untuk hal rohaniah dan amat tertarik dengan hal duniawi dan lahiriah semata.
     Syukurlah di dalam Yesus kita diajari Allah untuk peka dengan Dia. Jika kita menikmati kepekaan dan pengajaran Allah dalam Kristus maka soal pengetahuan dunia itu akan kita peroleh dengan luas dan benar. Sebab kita memiliki hikmat yang mengkaji segala sesuatu, yang benar-benar kaya. Dikatakan kaya sebab kekayaan sesungguhnya adalah sesuatu yang berkembang dan tidak pernah habis, bukanlah seperti harta jasmaniah yang sifatnya bisa habis dan usang.
     Kristuslah kekayaan dalam diri kita bagi hidup kita, agar oleh Dia kita dapat menikmati hidup ini dalam kekayaan yang sesungguhnya. Kekayaan tanpa memberikan perubahan akhlak dan kualitas rohani hidup maka itu bukanlah kekayaan. Kekayaan yang benar itu hidup dan menghidupi kita dalam rohani dan jasmani, yang berkembang dan mengubah diri kita menjadi lebih baik dan benar. Kekayaan itu adalah Kristus, yang memperkaya segala sesuatu yang ada di dalam Dia.
     Di dalam Yesus kita menikmati hidup dalam pengajaran hidupNya Allah. Di mana kita haus akan Dia dalam segala sesuatu. Kita menikmati pengajaran Allah secara utuh dalam hidup. Apapun yang kita hadapi dan alami itu menjadi sarana Allah untuk mengajari kita dan sarana kita untuk menikmati pengajaran Allah. Jadi pengajaranNya bukan sebatas pada pendengaran Firman lewat khotbah dalam ibadah tetapi utuh dinikmati dalam realita hidup kita.
     Ketika kita masuk dalam pengajaran Allah maka hidup ini adalah pengajaran dan pendidikan ilahi. Kita menikmati Dia hadir dalam apapun yang kita tekuni dan pelajari. Hingga olehNya kita tidak hanya menerima ilmu dunia tetapi mendapati Allah dalam segala hal. Kita sanggup mengkaji segala sesuatu dengan benar dan menjadi berkat bagi diri kita dan sesama oleh karenanya. Pengetahuan sebatas wawasan dunia itu fana dan satu saat akan lenyap tetapi Pengetahuan Kebenaran Allah yaitu Kristus akan menghidupkan kita hingga kekal bersama Dia.
“Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”, kata Yesus. Jalan bagi kita untuk kita beroleh pengetahuan yang memberi jalan atau solusi, kebenaran bagi kita untuk kita memperoleh pengetahuan yang membenarkan, dan Hidup bagi kita untuk kita memperoleh pengetahuan yang menghidupkan. Itu semua satu di dalam Yesus.
Mari kita bersama menjadi umatNya yang haus akan Dia dalam segala hal. Kita bukan hanya manusia yang hidup sebagai makhluk sosial dunia tetapi utuhnya dan intinya kita adalah makhluk mulia dari Allah dan anak Allah yang hidup menyatakan kerajaan Allah di tengah dunia ini.
     “Ya Tuhan Yesus ajarlah kami dalam segala hal, dalam penghiburanMu, dalam perlindunganMu, dalam berkatMu, dalam segala yang Engkau miliki. Bawalah kami untuk semakin mengenal Engkau lewat segala realita yang kami alami, inilah berkat yang terindah dan utama bagi kami yaitu semakin mengenal Engkau dan dekat dengan Engkau.
Engkau mau mengenali kami secara pribadi dan mengenali kami apa adanya kami karena itulah hingga kami pun beroleh jalan untuk bisa mengenal Engkau sebagaimana yang Engkau inginkan atas kami. Dalam apapun yang kami inginkan dan kami minta serta kami butuhkan biarlah kami mencari Engkau lewat itu, yaitu kami ingin semakin mengenal Engkau secara pribadi.”
     Sungguh luar biasa permintaan ini bukan? Mungkin saudara ada yang merasa jarang berdoa seperti itu, ataupun ada yang sering mendoakan hal itu namun tidak dalam pengertian dan keinginan sungguh untuk mencari dan menerima. Sekarang mari kita bersama sebagai anak-anak Allah masuk pada ranah yang lebih dalam dengan Yesus untuk semakin mengenal Dia sebagaimana Paulus berkata bahwa yang dia kehendaki adalah mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dengan Yesus dan menjadi serupa dengan Yesus. Amin.


DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...