Manusia dilahirkan selain membawa
gambar Allah sang penciptanya, namun perlu di ingat bahwa oleh karena dosa kita
memiliki keterbatasan fisik maupun psikis. Keterbatasan itu nanti akan
diperbaharui menuju kesempurnaannya pada saat kita menerima Roh kudus dalam
iman percaya kepada Yesus. Jadi ada dua macam anak manusia yang lahir, ada anak
yang lahir hanya sebagai benih manusia, dan ada yang lahir juga sudah dalam
benih Allah, yaitu mereka yang lahir dari keluarga orang beriman dalam Yesus
dan yang diserahkan kepada Tuhan pada masa kanak-kanak mereka. Mereka telah
memiliki benih Allah yaitu Roh kudus sejak mereka lahir hanya saja perlu dibina
dalam bimbingan rohani sejak kecil. Pembahasan di bawah ini diambil dari
teori-teori para ilmuwan umum atau sekuler dan pengkajian utamanya adalah
bagaimana pandangan Alkitab tentang nilai ketuhanan pada anak.
Fisik atau tubuh jasmani anak baru
akan berfungsi sempurna jika dipelihara dengan baik sejak masa kanak-kanak.
Demikian pula dengan kemampuan mental kejiwaan mereka akan baik jika sejak
kanak-kanak terpelihara baik dalam Tuhan. Rohaniah anak-anak pun demikian
adanya, akan baik jika terpelihara baik sejak masa kanak-kanak. Yang perlu
ditekankan di sini adalah sejak mereka kecil kita sudah menanamkan iman bahwa
di dalam mereka ada Roh kudus Allah yang akan selalu ada bersama dengan mereka
menjadi Guru Rohani mereka secara pribadi dan mendalam. Dialah yang bertugas
menjadi penghibur, pemberitahu kebenaran, dan pemberi kekuatan, dengan kata
lain Dialah pemelihara tubuh rohani mereka bahkan jiwa dan jasmani mereka. Ada
Pemelihara Agung di dalam mereka.
Pendapat beberapa pakar dan ilmuwan
kejiwaan tentang pandangan ketuhanan pada anak.
Menurut pendapat Khonstam tahap perkembangan
kejiwaan pada manusia terbagi dalam lima periode:
1.
Periode
pertama/vital atau masa sensitif (usia 0-3 tahun).
2.
Periode
kedua/estetis atau masa mencoba (usia 3-6 tahun)
3.
Periode
ketiga/intelektual sekolah atau masa belajar awal (umur 6-12 tahun)
4.
Periode
keempat/Adolescence atau masa remaja dan pemuda (usia 12-21 tahun)
5.
Periode
kelima/tingkat kematangan utuh atau masa dewasa (usia 21 tahun ke atas)
Elizabeth B
Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode yaitu:
1.
0-2
tahun sebagai masa vital.
2.
2-6
tahun sebagai masa kanak-kanak
3.
6-12
tahun masa sekolah
Tinjauan:
Setiap tahap
usia atau periode pada anak memiliki masa kesulitan dan kemudahan tersendiri bagi
dirinya untuk mengenal Tuhan. Hal itu berlaku pula pada para pengajar di
sekolah, gereja, dan terutama pengajar mereka di rumah yaitu orang tua. Namun
kita semua percaya bahwa semuda apapun seorang anak dalam usia maupun kemampuan
mental dan intelektualnya, dia sudah memiliki Roh kudus yang akan membimbingnya
kearah Tuhan dengan benar sesuai dengan apa yang dia terima dari kita dan dia
alami. Karena itu sangatlah penting untuk menanamkan pada anak agar dia
memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam hubungan pribadi. Jika kita sudah
menguasai cukup akan karakter dasar dari anak yang ada di hadapan kita maka
kita dapat beroleh hikmat yang tepat untuk mengajarkan tentang Tuhan kepadanya
sesuai dengan kebutuhannya. Ingatlah bahwa Yesus pernah melewati masa anak-anak
dan itu bukan semata karena Dia adalah Manusia Allah yang sempurna melainkan
Dia pun melewati tahap pembelajaran tentang Allah dari lingkunganNya dan secara
pribadi. Yesus amat peduli dengan anak-anak dan itu tampak pada beberapa kisah
dalam alkitab di mana Ia mengajak anak-anak untuk tidak dihalangi datang
kepadaNya sebab mereka adalah orang-orang yang empunya kerajaan Allah.
Ada dua
pendapat yang selalu bertentangan hingga saat ini dalam dunia psikologi bahwa
antara pendapat yang percaya bahwa manusia sejak lahir telah memiliki jiwa
ketuhanan dan yang kedua mengemukakan bahwa manusia sejak lahir sama sekali
belum memilki keterikatan atau pengetahuan tentang Tuhan.
Tinjauan:
Sebagai orang
percaya saya tentu mengimani di dalam Yesus bahwasanya setiap manusia berasal
dari roh Allah yang menghidupkannya. Itulah yang membuat kita memiliki keterikatan
dengan Dia sang pencipta kita. Karena otomatis yang diciptakan memiliki garis
hubungan yang erat secara emosional dan kepribadian dengan yang menciptakan.
Namun oleh karena dosa maka rohani kita pasif dan mati dalam arti tidak
berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai sumber awal keterhubungan dengan
Allah. Hingga oleh karena itulah Alktab berkali-kali menulis bahwa tidak ada
seorangpun yang benar di hadapan Allah dan tidak seorangpun yang mencari Allah,
meskipun setiap manusia dalam batiniah rohaninya memiliki keterikatan dengan
Allah. Roh kudus oleh iman percaya kepada Yesus lah yang akan membuat kita
kembali menikmati kebangkitan rohani, keaktifan kembali rohaniah kita yang
menjadi sumber awal untuk hubungan dengan Allah kembali. Sebagaimana lewat
Yesus Kristus, Dialah yang telah lebih dahulu mencari kita hingga kita akhirnya
dapat kembali mengenal Dia dan berhubungan dengan Dia.
William Stem
dalam paham konvergensinya yang amat populer mengemukakan bahwa perkembangan individu
baik secara dasar yaitu berupa bakat, keturunan, dan lingkungan memiliki peranan penting pada jiwa
keagamaan anak. Maksudnya adalah William Stem berpendapat seorang anak akan
percaya kepada Tuhan jika dia memiliki bakat atau daya pikir yang baik, keluarga
yang sudah percaya kepada Tuhan, dan lingkungan yang sudah percaya kepada
Tuhan. Otomatis anak tersebut akan memiliki jiwa yang berketuhanan.
Tinjauan:
Secara
manusia atau sudut pandang lahiriah hal itu tentu benar adanya. Namun jika kita
masuk pada pandangan Alkitab bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah
atau bisa menemukan Allah yang Benar, maka pandangan itu mutlak salah. Sebab
dalam keterbatasan dosa dan kematian rohaninya manusia tidak akan mampu untuk
kembali mendapati Allah dalam hidupnya. Justru setelah diperkenalkan dalam
Yesus lah maka manusia bisa kembali hidup jiwa kerohaniannya hingga dia bisa
mengenal Allah yang benar. Kajian William Stem bisa dikatakan benar jika tuhan
atau allah/ilah yang dia maksud adalah objek dunia, atau hasil dari pemikiran
manusia. Sebab dalam sifat ketergantungan pada yang lebih berkuasa maka manusia
yang sudah terlepas dari Allah selalu mencari kuasa yang dapat dia andalkan
atau percayai, hal ini bukan berarti mencari Tuhan sesuai konteksnya Allah
yaitu dalam kebenaran tapi mencari Tuhan dalam konteksnya manusia yaitu di
dalam dosa. Hingga akhirnya yang mereka temukan adalah tuhan atau ilah yang palsu
yang dari dunia ini dan dari pemikiran mereka sendiri. Kini Allah yang
Sesungguhnya itu datang dan memperkenalkan diriNya dalam wujud pribadi Yesus
Kristus. Dalam Dia barulah manusia percaya pada Allah yang benar yang telah lebih dahulu menyatakan diriNya dan
mencari kita untuk dapat kita percaya kembali.
Pandangan beberapa ilmuwan yang lain:
1.
Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa sumber
dari Ketuhanan pada manusia adalah jiwanya sendiri sejak lahir di mana karena
manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
2.
Frederick Hegel mengemukakan bahwa agama
adalah suatu pengetahuan yang benar dan hakiki pada manusia yang bersifat abadi.
3.
Frederick
Schleimacher mengungkapkan bahwa jiwa ketuhanan pada manusia berasal dari
pengkajian dan kesadaran dirinya tentang manusia sebagai mahluk yang lemah dan
butuh Tuhan sebagai oknum yang lebih berkuasa untuk dijadikan andalan.
4.
Rudolf
Otto meneliti bahwa jiwa ketuhanan pada manusia itu tumbuh dari rasa kagum yang
besar yang secara hakiki sudah ada dalam diri manusia, di mana rasa kagum
tersebut tidak dapat di isi oleh pribadi yang lain selain Tuhan.
5.
Sigmund
Freud menyatakan bahwa unsur ketuhanan yang ada pada manusia didorong oleh
libido seksual di mana manusia butuh oknum yang mereka yakini dapat melindungi
mereka dalam proses perkembangbiakan dan kesucian di dalamnya.
6.
William
Mac Dogall berpendapat bahwa insting manusia yang utuhlah yang menjadi dasar
dan sumber dia menjadi mahluk yang bertuhan.
Tinjauan:
Diurutkan sesuai urutan nomor para tokoh ilmuwan di atas.
1.
Mazmur
33:20 berbunyi : “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan
perisai kita.”
Ada banyak ungkapan tentang jiwa
manusia yang mengasihi dan merindukan Tuhan dalam kumpulan mazmur Daud. Namun
ini berbicara tentang jiwa yang telah terikat dengan Tuhannya. Jiwa yang sudah
beriman kepada Tuhannya oleh karena pekerjaan dan dorongan Roh. Jiwa manusia
tanpa pembaharuan Roh tidak akan sanggup mencari dan menemukan Tuhan yang
benar. Kecuali jiwa yang sudah dibaharui dalam dan oleh Roh Allah. Hanya dalam
Kristuslah kini kita dapat memiliki jiwa yang sudah diperbaharui dan menikmati
Allah. Sangat penting bagi anak-anak untuk sejak dini dilatih dalam jiwa yang
selalu haus dan rindu akan Tuhannya.
2.
Ungkapan
Frederick Heggel di atas amat menarik, sebab dari sudut pandang alkitab memang
benar bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Sama halnya makna
dan hakekatnya dengan ungkapan heggel bahwa agama adalah pengetahuan yang benar
dan hakiki yang ada pada manusia. Bahkan tinjauannya mendapati bahwa agama
adalah suatu yang bersifat kekal dalam diri manusia. Jika agama itu adalah
Pribadi dan bukan wujud dari organisasi atau kumpulan jemaat secara dunia, maka
ungkapan bahwa Agama itu kekal tentu benar. Sebab Allah itulah Agama dalam diri
kita secara pribadi. Agama yang bermakna pada keyakinan pribadi dan bukan
bermakna pada suatu kumpulan jemaah yang beribadah. Sebab Kristus datang ke
dunia bukan untuk menciptakan agama sebagaimana konsep dunia tapi menciptakan
hubungan pribadi yang hakiki dan kekal dengan Allah dengan Dia sebagai sarana
dan pengantara satu-satunya. Jika kita masuk pada keyakinan Agama yang bukan
seperti pandangan dunia terhadap agama, maka secara pribadi saya mengimani dan
dibukakan olehNya bahwa Dialah Agama yang hakiki dan kekal bagi manusia yang
tidak terbatas pada nama kelompok atau organisasi kepercayaan. Kristus adalah
Wujud dari Agama yang dinyatakan Allah kepada dunia. Agar di dalam Dia orang
boleh kembali belajar bagaimana harus beragama dengan benar. Sebab oleh
keberdosaannya manusia tidak dapat beragama dan berkeyakinan dengan benar, baik
secara pribadi dengan Allah maupun secara pribadi dengan sesama. Baru Allah
memperkenalkan DiriNya lewat Kristus sebagai Wujud Ilahi Allah yang menunjukkan
apa itu Agama dan Keyakinan. Kristus sempurna dalam hal menjalankan KeyakinanNya
kepada Allah sebagai Manusia dan sukses pula menjalankan penyataan dari Agama
dan Keyakian dari Allah bagi manusia. Dialah pengantara yang sejati. Barulah
dalam Dia kita belajar mengimani dan menikmati Agama dalam Kebenaran di mana
Dialah yang menjadi Keyakinan kita kepada Allah dan Keyakinan dari Allah lewat
kita yang akan dinyatakan kepada sesama. Inilah kehakikian dan kekekalan dari
suatu konsep Agama yang sudah dipulihkan dan dibenarkan di dalam Kristus.
Jika kita telah menanamkan konsep
Kristus sebagai agama yang hakiki dalam diri anak sejak dini maka kita sukses
menjadikan dia sebagai pribadi yang kuat dalam perkembangan keimanannya nanti
di dalam Kristus. Jika dia secara pribadi secara berkelanjutan menikmati itu
maka dia tidak akan menjadi pribadi gampangan yang terombang-ambing oleh
berbagai angin pengajaran dan fenomena rohani, tapi berpegang teguh pada
ketuhanannya kepada Kristus secara pribadi. Dia tidak akan berpandangan sempit
dalam hal pandangannya terhadap gereja secara organisasi melainkan memiliki
Kristus sebagai Gereja dalam dirinya dan dia menjadi bait Allah yang benar.
3.
Kesadaran
manusia akan kelemahan dirinya tidak hanya sebatas tentang kuasa dalam hal
melawan bencana alam, sembuh dari sakit penyakit, dan kelepasan dari pengaruh
jahat. Tapi dalam Kristus kita mendapati bahwa manusia yang berdosa telah
memiliki kemerosotan dan kelemahan diri dalam segala aspek baik tubuh, jiwa,
dan rohnya. Tubuh yang rentan penyakit dan marabahaya alam sekitar, jiwa yang
tidak stabil dalam keterbatasan mental menghadapi situasi, dan keadaan roh yang
pasif. Kita semua terbatas dan sesungguhnya tidak mengenal betul apa itu Kasih,
Kebenaran, Kesabaran, Kelemahlembutan, Ketakutan dalam kebenaran, Keberanian,
dan Iman. Kita tidak memiliki kehakikian semua itu sebagaimana yang Alllah miliki
dalam ketidakterbatasanNya.
Kristus adalah Wujud kesempurnaaan
Allah yang datang dan telah menunjukkan kepada kita seperti apa itu kesatuan
dan keesaan semua hal itu di dalam diriNya. Sempurna dalam keilahian dan tanpa
cacat cela. Jika kita semakin mendalami Kristus maka kita akan semakin
menemukan kesempurnaanNya yang akan semakin menyadarkan kita akan keberadaan
dari milik kita yang fana dan terbatas. Itu untuk membawa kita semakin
bergantung dan lekat dengan Dia dan tidak lagi berbangga atas kemampuan
sendiri. Ditinjau dari sudut pandang yang salah maka pendapat Schlemacher
mutlak salah jika kepercayaan dan kesadaran diri manusia tentang Allah dimulai
dari keinginannya sendiri sebab tidak ada manusia yang benar-benar mencari
Allah dan mendapati Dia. Dia yang datang dan mencari kita, pertama lewat hukum
tertulis dan para nabi, baru terakhir lewat kesempurnaan Hukum yang digenapiNya
di dalam Kristus. Tapi jika kita mengambil sisi positif dari pendapat
Schlemacher di atas maka di dalam Kristus kita memang akan masuk dan setiap
saat masuk dalam momen di mana kita disadarkan Allah bahwa kita mahluk yang
lemah dan terbatas dalam kecemarannya dan butuh Dia untuk dijadikan andalan dan
kemuliaan hidup. Bukan lagi oleh milik kita tapi oleh milik Dia. Milik kita yang
rela diserahkan di dalam Dia hingga dimurnikan di dalam Dia. Dalam segala hal
baik Kasih, kebaikan, keyakinan atau iman dan lain-lain itu dimiliki setiap
orang dalam kecemaran dosa. Sumbernya adalah buah dosa, buah pengetahuan baik
dan jahat. Jika kita mau menikmati Kebenaran dan Keutuhannya maka kita harus
masuk di dalam pemurnian dan penggenapan Kristus yang ada di dalam kita oleh
Roh Kudus.
Anak yang sejak dini telah dididik dan
dilatih dalam kebergantunagn yang benar dalam Kristus akan membuat dia memiliki
konsep yang benar tentang Allah dan dirinya sebagai manusia ciptaan yang sedang
membina hubungan dengan sang Pencipta. Dia tidak akan menjadi pribadi yang
hanya menilai Allah sebatas iman kemahakuasaan lahiriah melainkan akan
menikmati dan meyakini Allah dalam segala kemahakuasaanNya yang utuh dalam
pribadi Kristus. Dia akan tahu dan memahami bahwa iman ditunjukkan bukan hanya
pada hal-hal yang bersifat percaya pertolongan mujizat kesembuhan,dan percaya
pada kejadian fantastis di hadapan manusia tapi iman yang benar itu utuh
sebagaimana yang sudah ditunjukkan Yesus dalam hal keseluruhan hidupNya. Saat
Dia mau mengampuni, saat Dia mau mengasihi,
berbagi dalam saling menguatkan dan mendoakan, saat Dia mau melawan
godaan inblis, dan saat Dia mau rela menyerahkan diriNya dan kehendakNya kepada
Bapa itulah Iman yang utuh. Iman itu Pribadi, datang dalam Pribadi Kristus dan
menjadi bagian dari mereka yang menerimaNya. Dalam Dialah kita disebut
orang-orang beriman.
“Sebelum iman itu datang kita berada
di bawah pengawasan hukum taurat, dan dikurung sampai iman itu telah
dinyatakan. Jadi hukum taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang,
supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang Iman itu sudah datang, Karena itu
kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Galatia 3:23-25).
4.
Selaras
dengan alkitab salah satunya dalam Ayub 37:5 yang berbunyi; “Allah mengguntur
dengan suaraNya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang
tidak tercapai oleh pengetahuan kita.” Dorongan manusia percaya kepada Allah
salah satunya karena ada rasa kagum tertinggi dalam diri manusia yang hanya
dapat ditujukan kepada Tuhan. Hal itu dikemukakan oleh Rudolf Otto. Namun yang
perlu kita ketahui bersama oleh karena dosa maka semua rasa dalam manusia termasuk
rasa kagumnya menjadi cemar. Manusia
mencari oknum ilah mana yang pantas mereka kagumi sesuai kebutuhan dan
keinginan mereka sendiri. Hingga mereka tidak bisa kembali mengenal Allah yang
benar. Hingga akhirnya yang mengagumkan itu datang yaitu Yesus Kristus, agar di
dalam Dia manusia bisa melihat dan kembali mengenal kekaguman yang sesungguhnya
yang datang dari Allah. Seluruh keutuhan hidup Yesus Kristus menunjukkan
kekaguman yang dicari-cari oleh manusia. Tapi sayangnya keinginan manusia dalam
menilai kekaguman Allah itu berbeda dengan apa yang hendak ditunjukkan oleh
Allah. Itulah sebabnya Dia ditolak. Manusia tidak bisa melihat kekaguman Allah
yang sejati dalam penundukkan dan ketaatan Yesus. Mereka tidak bisa melihat kekaguman
Allah lewat pengampunan Yesus, mereka tidak bisa melihat kekaguman Allah lewat
kasih Yesus, mereka gagal mendapati kekaguman Allah lewat keutuhan pribadi
Yesus, padahal itulah yang harus manusia kagumi dari Allah. Manusia hanya bisa
menilai kekaguman Tuhan dari perbuatan yang bersifat mujizat, pertolongan
lahiriah, tanda-tanda heran secara lahiriah, dan kekuatan yang nampak dari kuasaNya
yang bersifat supernatural. Padahal semua itu adalah bagian dari kekaguman Alah
yang mengagumkan. kekaguman dan mujizat sejati itu adalah keutuhan pribadinya dalam
sifat-sifatNya yang luhur.
Kita yang sudah menerima Yesus dan mau
semakin mendalami Dia dalam kerendahan dan penyerahan diri pasti akan menemukan
keutuhanNya dalam kekaguman yang harus kita kagumi dan nikmati dalam iman. Sebab
kekaguman Allah dan kekaguman manusia maknanya berbeda jauh. Tapi dalam Yesus
kita akan semakin menemukan makna Allah yang merubah segala paradigma terbatas yang
ada di dalam kita. Semua oleh pekerjaanNya yang nyata di dalam kita oleh Roh
kudus. Sangat penting untuk sejak dini menekankan kepada anak bahwa Allah yang
mengumkan itu sudah nyata dalam pribadi Yesus dan KekagumanNya tidak hanya
diukur dari perbuatan mujizat tapi dari sifat-sifat dan sikap hidupNya yang
benar dan penuh kasih. Kita dapat mendorong anak-anak untuk memiliki kekaguman
Allah dalam hidupnya sebagai kekaguman dirinya juga di hadapan Allah dan dunia.
Ini merujuk pada sikap dan sifatnya yang sejak anak-anak mau menjadi teladan
dalam hidupnya. Jika dia menempatkan Yesus sebagai dasar kekaguman dirinya maka
secara bertahap anak akan semakin hari semakin menikmati dan menyatakan hidup
dalam kekaguman Allah.
5.
Sejak
jatuh dalam dosa manusia memiliki perasaan takut dan bersalah. Sebenarnya
perasaan bersalah itu ada dalam setiap perbuatan manusia, tapi nampak terasa
nyata jika dia berada dalam kondisi yang telah merugikan atau berbuat salah
kepada orang lain. Hubungan seks yang tadinya sakral dalam kebenaran kini oleh
karena dosa membuat manusia memandangnya sebagai suatu perbuatan yang
menjijikan atau tidak senonoh. Hingga manusia butuh perlindungan yang
diyakininya dapat menjadi kesucian bagi setiap perbuatannya. Manusia merasa
perlu perlindungan diri dalam perkembangbiakannya.
Dalam tradisi kepercayaan
bangsa-bangsa kuno seperti peradaban Mesir, India, China dan Indonesia sendiri
kita dapat menemukan situs-situs bersejarah yang menggambarkan hubungan seksual
dalam maknanya yang sakral. Di mana itu digambarkan sebagai perbuatan yang
direstui para dewa dan tuhan. Manusia mencari Tuhan lewat keinginannya untuk berkembang
biak dengan subur dalam kesucian. Namun mereka gagal mendapati Allah yang benar
yang di dalamNya kita disucikan dalam kebenaranNya. Hingga Pribadi kesucian
Allah yang menyucikan manusia itu datang yaitu Yesus Kristus. Dalam Dia barulah
kita menikmati kesucian hidup yang akan membersihkan kita dalam menjalani hidup
ini dan dalam segala hubungan. Dia adalah Allah yang benar, sumber kesuburan
hidup dan kesucian hidup. Dalam Dialah baru manusia bisa terlepas dari rasa
bersalah dan menikmati kebenaran Allah dalam hubungan yang diperkenan olehNya.
Sangat penting untuk mengajarkan
secara dini pada anak-anak bahwa Yesuslah sumber berkat kesuburan dalam
pertumbuhan hidupnya secara jasmani dan rohani. Serta mengajarkan dia bahwa
Yesus adalah sumber penyucian dan kelepasan dari rasa takut dan bersalah. Ini
bukan untuk membuat anak malah tambah nakal tapi dalam hikmat Allah kita akan
sanggup memperkenalkan dia pada kebenaran Allah yang bekerja untuk membuat dia
berlaku benar. Dalam kebenaran Allahlah baru kita bisa menikmati penyuburan dan
penyucian Allah.
6.
Segenap
Insting manusia mengarah kepada Allah itu adalah kebenaran hakiki sebab kita
diciptakan olehNya dengan roh yang dari milik Dia. Semua yang kita miliki
adalah cerminan dari Dia, serupa dan segambar dengan Dia. Namun karena dosalah
maka gambar Allah di dalam kita menjadi rusak dan cemar, meski hakekatnya
Keutuhan Pribadi Allah tidak dapat dicemarkan apapun. Hanyalah cerminanNya di
dalam kitalah yang tercemar dan rusak. Oleh karena itulah insting kita yang semula
dipakai untuk berhubungan dengan Allah dan untuk menyatakan Allah kini justru
menjadi alat dosa. Insting manusia menjadi lebih peka dan rentan dengan dosa. Hingga
yang suci InstingNya dan benar dalam kepekaanNya itu sudah datang, Dialah
Yesus. Mau lihat insting manusia yang benar maka lihatlah hidup dan sikap Yesus
Kristus. Bagaimana Dia meresponi Allah dan meresponi manusia dalam kebenaran,
itulah insting yang benar yang tidak terjamah oleh dosa tapi murni dalam
pengenalan akan Allah. Insting yang sudah terlatih di dalam pengenalan pada
Allah akan mengarahkan kita untuk memperbaiki gambar dan cermin Allah di dalam
diri kita. Itulah kekayaan ilahi yang kita dapati di dalam Yesus.
Sangat nikmat jika anak-anak sudah
menyadari sejak kecil bahwa mereka harus berlatih mengarahkan instingnya pada
Yesus dan menikmati kebenaran Allah di dalamnya. Itu dimaksudkan agar sejak
kecil mereka sudah terlatih menjadi cermin Pribadi Allah dari dalam diri yang
bangkit secara alami oleh pekerjaan Roh kudus. Itu bukan hanya usaha sendiri,
dan mereka tidak sendiri sebab mereka memiliki Roh kudus di dalam dirinya. Dalam
insting yang sudah disucikan Allah dan diarahkan kepada Allah maka itulah di
mana kita disebut orang-orang yang percaya kepada Tuhan, orang-orang berTuhan
seperti pernyataan William mac dogall di atas.
Teori Faculty
Teori ini
dikemukakan oleh G.M Straton, Zakiah Drajat, dan W.E Thomas. Teori ini
berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor
tunggal tapi terdiri dari beberapa unsur. Jadi menurut teori ini manusia yang
bertuhan tidak didorong hanya oleh satu unsur saja tapi oleh beberapa unsur.
Unsur-unsur tersebut adalah:
a.
Cipta
atau reason
Merupakan fungsi intelek jiwa manusia.
Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat
terlebih-lebih dalam agama modern di mana peranan dan fungsi reason ini sangat
menentukan.
b.
Rasa
atau emotion
Merupakan fungsi perasaan emosional
kejiwaan pada manusia di mana pengalaman beragam seseorang dipengaruhi secara
emosi.
c.
Karsa
atau will
Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa
manusia. Will atau kehendak berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin
serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan.