“Aku berdoa, supaya kamu
bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami betapa lebarnya dan
panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”
Efesus 3 : 18
Ketika kita mengatakan dan mendengar
kalimat bahwa Allah tidak terbatas maka kita umumnya akan menikmatinya dan
memahaminya sebatas pada hal-hal yang bersifat kuasa mujisat. Ketidakterbatasan
dari Allah itu utuh dalam segala sifatNya dan pribadiNya. Itu semua utuh dan
nyata di dalam Yesus Kristus.
Kita
mendalami Dia yang tidak terbatas dalam kasihNya atas kita. Paulus berkata
betapa luasnya kasih Kristus, dan memang tidak akan bisa diukur dengan dunia
melainkan dengan Kristus itu sendiri. Dan Kristus yang ada di dalam kita memang
tidak terbatas. Semakin kita meluaskan Dia bekerja di dalam kita maka Dia
semakin tidak terbatas di dalam kita, hal-hal yang bersifat di luar diri kita
atau hidup kita itu akan mengikuti dengan sendirinya. Yang utama adalah kita
secara pribadi semakin dikuasai olehNya dalam kebenaran.
Semakin kita memberi diri dalam Kasih
Kristus yang tidak terbatas itu lewat doa dan penyerahan maka apapun yang kita
butuhkan di luar itu akan mengikuti dan tunduk dengan sendirinya sebab kita
telah semakin tunduk dalam Kristus. Penundukan di dalam Kristus itu adalah
pembebasan sementara penundukan diri pada dunia itu memberi perbudakan dan
beban.
Manusia yang terbatas adalah manusia yang berikatkan diri
pada segala keterbatasan dunia. Dia mendasari segala sesuatu pada harta dan
kemuliaan yang fana. Sehingga ucapan syukurnya sebatas pada keadaan diri,
keadaan hidup, dan berkat lahiriah. Tetapi jika kita mau memberi diri untuk
menikmati Yesus maka ucapan syukur kita adalah Yesus dalam segala hal. Ini baru disebut syukuri apa yang ada,
sebab yang ada bagi kita dan pada kita adalah Yesus Kristus yang tidak terbatas
itu.
Jika Yesus yang
menjadi dasar ucapan syukur kita maka kita akan menikmati Syukur dalam segala
hal, bukan lagi pemaksaan diri yang membebani tapi keringanan diri yang
membebaskan. Hanya Yesus yang sanggup mengerjakan itu di dalam batin kita. Kita
menikmati bahwa hidup ini adalah anugerah sebab ya, hidup ini memang jadi
anugerah besar oleh karena Kristus. Tanpa Dia maka hidup ini adalah duka
bencana dalam kondisi apapun.
Lihatlah sekeliling kita, adakah kita
melihat saudara sesama kita yang hidup dalam duka? Jika kita mendalami sampai
kedalam batin oleh penelaahan Roh Kudus maka kita akan mendapati bahwa semua
manusia sesungguhnya ada di dalam duka oleh karena dosa. Mereka berhubungan
dalam kedukaan walaupun tampak ada sukacita dan tawa. Namun kita tahu bahwa
kita bersyukur karena kita punya Yesus di dalam batin kita yang olehNya kita
menikmati sukacita dalam segala hal.
Jika kekurangan sukacita, masuklah di
dalam Dia dalam hal ini meminta kepadaNya. Kita tidak lagi meminta dalam beban
dan duka tetapi meminta dalam keringanan syukur dan sukacita. Kristus adalah
Allah yang memberkati kita dalam kasihNya. Lihatlah dunia yang terbatas,
hubungan yang mendasarkan pada harta, kedudukan, dan kepentingan yang terbatas
akan berakhir oleh keterbatasan itu. Tetapi hubungan yang mendasarkan kepada
Kristus akan berjalan selalu di dalam Kekekalan Kristus.
Kekekalan Kristus berarti kita menikmati adanya sumber yang
menyempurnakan kita dalam segala keterbatasan diri kita. Inilah sebabnya kita
disebut disempurnakan dan memiliki Dia yang sempurna dan tidak terbatas.
Allah yang tidak
bisa dibatasi oleh apapun itu terwujud
utuh dan nyata lewat Yesus Kristus. Bagaimana Dia datang dan hadir dalam dunia,
bergaul dengan manusia dan mengalahkan hidup ini, mengalahkan dosa dan maut dan
bahkan mengosongkan diriNya dan mengambil rupa sebagai hamba untuk menyatakan
kasihNya yang tidak terbatas, hingga kita tahu bersama bahwa Kasih itu adalah
PribadiNya sendiri.
Inilah Allah yang
tidak terbatas. Lihatlah Dia yang menyembuhkan orang pada hari sabat, Dia tidak
bisa dibatasi oleh hukum apapun sebab Dialah Tuhan atas hari sabat, Dialah
Tuhan atas segala hukum, karena hukum dosa dan maut pun telah ditaklukkanNya.
Dia menggenapi hukum yang tidak bisa tergenapi yaitu hukum Taurat makanya Dia
disebut Imam Besar Agung.
Lihatlah
Yesus yang dalam tubuh manusia yang terbatas sebab dosa namun Dia menyatakan
ketidakterbatasan Allah, ini adalah kemenangan. Kemenangan yang tidak hanya
hadir saat Dia bangkit dari maut melainkan telah hadir dalam PribadiNya lewat
keutuhan hidupNya, kematianNya, KebangkitanNya dan PengangkatanNya ke Surga. Di
dalam Dialah kita menang dan mengalahkan keterbatasan hidup.
Mengalahkan
keterbatasan hidup tidak dilihat dari memiliki banyak kepintaran, banyak
semangat, banyak motivasi, banyak harta, banyak dukungan, ataupun banyak
kekuasaan namun dilihat dari adakah Kristus yang tidak terbatas itu hadir di
dalam segala yang kita tunjukkan. Sebab tanpa Kristus maka meskipun apa
yang manusia miliki itu tampak begitu hebat dan berkuasa dalam segala
kekuasaannya namun itulah yang membuat manusia akhirnya terbebani dengan takut
kehilangan, bertambahnya tanggung jawab, dll. Hingga akhirnya bukan justru
membuat kebahagiaan namun memberi beban.
Manusia yang
terikat dengan dunia akhirnya dibatasi oleh dunia meskipun tampak seolah banyak
kekayaan dan kekuasaan. Tidak ada yang salah dengan kelimpahan lahiriah ataupun
kemampuan yang kita miliki, yang salah adalah jika tanpa hadirnya Kristus dalam
diri kita dan dalam semua yang kita miliki tersebut. Sebab jika Kristus yang
tidak terbatas itu yang jadi utama dalam segala hal maka semakin kita memilki
banyak hal justru kita semakin menimati kebahagiaanNya dan kebebasan batin. Kita tidak dikuasai dunia melainkan
menguasai dunia sebab kita telah menguasai diri kita di dalam Kristus.
Tanpa penguasaan
Kristus atas kita maka yang dialami adalah semakin banyak kekuasaan di dunia
maka semakin dikuasai oleh dunia. Tetapi Kristus bagi kita adalah Pribadi yang
semakin menguasai dunia dari dalam diri kita.
David
A Hunter seorang pakar Antropologi menjelaskan bahwa ilmu Antropologi lahir
dari keingintahuan manusia yang tidak terbatas tentang umat manusia. Adakah
ilmu dunia ini yang bisa menjelaskan apa yang tidak terbatas? Tentu saja tidak.
Tetapi kita memiliki Yesus, memilki pikiran Kristus yang mendalami segala
sesuatu dari dalam diri kita terutama. Sebab apalah artinya kita banyak
pengetahuan dan wawasan ilmu tanpa mengetahui dan memahami diri kita dengan
benar?
Oleh Yesuslah maka kita bisa mendalami dan
memahami diri kita dengan benar, maka dengan sendirinya kita akan bisa memahami
sesama dan hidup ini. Keingintahuan
manusia yang besar akan hidup ini hanya akan terpenuhi dan terjawab di dalam
Yesu dan oleh Yesus. Yesus Kristuslah jawaban Allah atas dunia dan oleh
Dialah kita manusia diwakiliNya di hadapan Allah untuk menjawab setiap tuntutan
hukum Allah yang tidak bisa kita genapi melainkan Dia menggenapinya bagi kita
agar olehNya kita dibenarkan.
Manusia umumnya menilai kesempurnaan dari
moral, karakter, ataupun sikap hidup. Namun itu hanya bagian dari Kesempurnaan,
sebab Kesempurnaan itu adalah Yesus Kristus. Di mana ada Yesus di situ ada
kesempurnaan, dalam arti ada di situ Pekerjaan Penyempurnaan. Kita menerima Dia
sebagai kesempurnaan dan penyempurnaan diri kita dan hidup kita. Tanpa adanya
Dia maka inilah keterbatasan yang sesunggguhnya.
Kita adalah manusia yang sempurna dalam
arti manusia yang memilki kesempurnaan yaitu Yesus di dalam kita. Oleh karena
melihat Kesempurnaan Yesuslah maka Allah menerima kita apa adanya kita sebab
kita berkenan menerima KesempurnaaNya bagi kita agar kita disempurnakanNya
selalu. Kiranya Roh Kudus yang secara pribadi akan mendalami kita hingga kita
olehNya semakin mendalami Allah dalam hidup dan menjadi manusia berkat bagi
Tuhan, diri sendiri dan sesama.
Pada ayat berikutnya dikatakan bahwa ;
“Dan kita dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampauai segala pengetahuan.
Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah
yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau
pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kta.”
(Efesus
3 : 19 – 20).

No comments:
Post a Comment