Kita
akan meninjau anak-anak dari sifat mereka yang berpengaruh dalam membentuk
karakter mereka. Ada banyak tinjauan di bawah ini tentang sifat-sifat anak
tersebut namun bersifat umum adanya. Umum yang dimaksudkan di sini ialah
siat-sifat yang diutarakan nanti belum mencakup kondisi kejiwaan seorang anak
yang secara khusus mengalami pengalaman-pengalaman ekstrim semasa kecil atau
yang mengalami gangguan mental dan keterbelakangan mental. Tinjauan di bawah
ini saya sertakan dengan tindakan yang sekiranya tepat untuk menangani
anak-anak sesuai dengan sifat dan karakter mereka masing-masing. Tentu saja dasar
tindakan yang tepat adalah pendidikan di dalam Kristus.
1.
Anak
sanguinis
Anak dengan sifat ini cenderung
ekspresif dalam bicara, dan terlalu cerewet dalam pandangan kita orang dewasa. Pada
masa kanak-kanak mereka yang memiliki sifat sanguinis sering meniru perkataan
orang dewasa bahkan yang buruk sekalipun seperti makian, umpatan, dan obrolan
jorok. Keingintahuan mereka besar terhadap setiap perbincangan dan mereka
sangat senang jika dapat menarik perhatian orang lewat kata-kata mereka. Sangat
disayangkan jika ada banyak orang dewasa secara tidak sadar atau sengaja
bermain-main telah melatih anak-anak tersebut untuk berkata-kata buruk yang
tidak sepantasnya diungkapkan seorang anak. Saya sering melihat di mana ada
orang-orang dewasa yang justru senang dan terhibur dengan sikap anak yang
demikian tanpa memikirkan resiko bagi perkembangan emosional dan mental anak
tersebut. Yang menyenangkan dari anak sanguinis adalah sifat mereka yang santai
dan tidak mudah sakit hati. Mereka cenderung langsung melepaskan semua perasaan
mereka lewat kata-kata dan tidak menyimpan kesusahan. Mereka adalah pendengar
yang baik bagi teman-temannya dan suka bercerita. Mereka berpembawaan santai
dan tidak banyak berpikir untuk mengambil tindakan. Anak-anak ini tidak mau
keterikatan atau kekangan, mereka cenderung suka akan kebebasan. Beberapa dari
mereka merasa kursi pendidikan sekolah menjadi suatu penjara kejenuhan sebab mereka amat supel dan suka bermain. Anak
sanguinis terkenal pula gampang berteman dan punya teman banyak. Dia tidak
mudah menaruh curiga pada orang lain dan tidak suka berprasangka buruk.
2.
Anak
melankolis
Ini mungkin menjadi tipe anak yang
paling banyak digemari oleh orang dewasa. Kebanyakan anak melankolis memilki
bakat di bidang seni, misalnya menulis, melukis, menyanyi, bermain musik, dan
masih banyak lagi. Umumnya dari mereka menghabiskan banyak waktu untuk
menikmati hobi tersebut, hingga mereka suka menyendiri untuk menekuninya. Namun
anak melankolis cenderung mudah sakit hati, pemalu, dan suka menyimpan
perasaannya yang susah dan sedih. Anak melankolis gampang beriba hati dan di
fase kanak-kanak usia di bawah 10 tahun mereka terlihat lebih mudah menangis
dan terharu dibanding anak-anak yang lain. Meskipun pada beberapa anak
melankolis lainnya hal itu tidak nampak. Anak melankolis memiliki bakat dan
kepandaian tersendiri yang tidak dimiliki oleh anak-anak yang lain. Mereka
adalah juara-juara di sekolah, cenderung jenius, dan berminat dengan berbagai
pengetahuan. Mereka adalah anak-anak yang gemar membaca, suka belajar, dan suka
akan kerapihan. Tidak sulit mengajarkan kebersihan dan etika kepada mereka.
Mereka cenderung penurut bahkan untuk hal yang sebenarnya mereka belum mampu
melakukan. Pada masa kanak-kanak tentu saja orang dewasa akan sangat senang
dengan anak berperilaku melankolis sebab tidak banyak merepotkan orang tua atau
lingkungan, bahkan bisa menjadi kebanggaan jika dia berprestasi di sekolah. Banyak
orang dewasa senang dan menilai anak-anak dengan sifat ini adalah contoh anak
yang baik dan tidak nakal. Namun ada sisi di mana jika dia tidak dalam
pembimbingan yang benar dan perhatian yang tepat maka mereka bisa saja menjadi
bencana saat menanjak dewasa. Anak melankolis adalah tipe penyayang namun
terkadang terlihat tidak peduli ketika dia terfokus pada hobi dan kegemarannya.
Mereka memiliki kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, dalam
hal ini sulit bergaul karena pendiam dan suka menyendiri. Anak-anak ini juga
adalah anak-anak yang rentan terhadap perasaan dendam.
3.
Anak
koleris
Anak koleris adalah anak yang
“bossy”, atau suka berlagak bos, pemberani dan suka mengatur. Mereka merasa
semua adalah milik mereka dan cenderung merampas milik temannya. Mereka adalah
anak-anak yang tidak mau memahami perasaan orang lain kecuali perasaannya
sendiri. Mungkin mirip ungkapan “hatiku adalah rajaku”. Mungkin ini akan
mengundang banyak kebencian terhadap lingkungannya bahkan keluarganya sendiri.
Saya sendiri sering jengkel dengan anak yang berperilaku seperti ini. Beberapa
dari mereka bahkan agresif bertindak keras jika mengingini sesuatu dan tidak
terpenuhi. Ambisi adalah hal yang utama bagi mereka. Untuk kadar usia anak-anak
tentu saja ambisi mereka tidak begitu membahayakan, tapi bayangkan jika mereka
dewasa dan terbawa terus dengan ambisi. Semua orang tentu punya ambisi namun
pembawaan anak-anak koleris terhadap ambisi berbeda. Mereka ingin menghalalkan
segala cara demi tercapai apa yang diinginkan. Mereka adalah anak-anak dengan
keyakinan diri yang kuat dan kemauan yang keras. Sayangnya mereka cenderung
menghalalkan segala cara demi tercapainya keinginan mereka meskipun itu
menyakiti orang lain atau berbahaya. Mereka pemberi semangat bagi
teman-temannya dan tidak peduli apa kata orang. Hal ini membuat mereka tampak
keras kepala dan susah di atur.
4.
Anak
Plegmatis
Anak plegmatis adalah ciri anak yang
kalem dan cukup pendiam. Mereka suka humor dan canda tawa,dan yang terutama
adalah mereka tidak suka bertengkar atau masuk campur dalam sebuah keributan.
Anak tipe ini cenderung netral jika teman-temannya berada dalam dua blok yang
saling bermusuhan. Mereka tidak sulit untuk memohon maaf jika bersalah, hal
yang sangat jauh berbeda dengan anak koleris. Anak plegmatis banyak di sukai
teman-temannya karena sifatnya tersebut, mereka berpembawaan santai dan tidak
mudah kuatir. Mereka tidak banyak bicara, mudah rukun, dan senang menjadi
pengamat situasi. Kendati demikian mereka punya kekurangan dalam hal kurang
antusias dan sering tidak fokus pada suatu tujuan atau pembelajaran. Mereka
suka lari dari tanggung jawab karena sifatnya yang selalu ingin santai dan
tidak punya ambisi atau kekuatiran. Mereka terlalu sering menjadi penonton di
sekolah dan tidak mau terlibat banyak kegiatan. Mereka sering mengabaikan
perintah orang tua dan tidak serius menanggapinya. Menunda-nunda pekerjaan dan
mudah menyerah jika menghadapi suatu masalah adalah ciri utama mereka.

No comments:
Post a Comment