“Tetapi
kemuliaan, kehormatan, dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang
berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga Yunani. Sebab Allah tidak
memandang bulu.”
Roma
2: 10-11
Profesor
Koentjaraningrat menyimpulkan bahwa Antropologi adalah ilmu yang berguna untuk
mempelajari umat manusia pada umumnya dengan melihatnya dari aneka warna kulit,
bentuk fisik, serta kebudayaan yang mereka hasilkan. Manusia memang mahluk yang
kompleks, ada beraneka warna kulit dan perbedaan fisik. Ada beraneka bangsa dan
suku dengan berbagai cara hidup dan cara pandang mereka yang berbeda. Namun dalam keanekaragaman itu terdapat
kesatuan di mana manusia adalah makhluk sosial yang saling berhubungan dan
membutuhkan.
Ada yang menempatkan kemuliaannya pada jabatannya, ada yang
menempatkan kemuliaan pada kegagahan fisik, kekayaan, kekuatan, kemampuan,
kepintaran, bahkan sikap hidup. Namun pada apapun kita letakkan kemuliaan hidup
ini jika tanpa Kristus maka kita akan tahu itu semua akan binasa dan fana.
Apakah Mulia jika sesuatu ada habisnya dan bersifat fana? pasti jawabannya
tidak. Sebab Mulia itu berarti kekal.
Yang Mulia dalam
kekekalan dan Kekal dalam kemuliaan adalah Yesus Kristus. Dia telah menunjukkan
Kemuliaan yang sesungguhnya dari keutuhan hidupNya. Kemuliaan yang tidak dapat
diukur dan dinilai secara lahiriah melainkan nyata oleh iman dan mata rohani
kita. Sebab kemuliaan yang sejati ada dan berawal di dalam batin kita oelh
karena Kristus, bukan lewat hal-hal yang nampak luar.
Berbagai bangsa mencari cara dan jalan untuk kemuliaan diri masing-masing,
manusia yang kehilangan kemuliaan mencarinya pada dunia yang fana. Hingga yang
didapati adalah ketidakpuasan dan pertikaian. Manusia yang menikmati hidup
tanpa kemuliaan Allah akan sarat dengan beban dan dosa.
Namun kini kita sudah tinggal dalam Yesus
yang menjadi kemuliaan bagi kita dalam segala hal. Jika Yesus yang mulia di
dalam kita, jika Yesus yang menjadi kemuliaan kita dalam segala hal yang kita
miliki maka tidak ada yang dapat merampasNya dari kita. Inilah manusia yang
mulia. Manusia yang hidup memuliakan Allah dan dimuliakan Allah, hal itu satu
dalam Yesus.
Kita tidak akan terpengaruh dan takut
dengan berbagai kecemaran dunia dan seolah-olah mengekslusifkan diri atau
menjauhi sesama yang menurut kita kotor dan akan mengotori kita, melainkan kita
akan menikmati hidup dalam hubungan dengan semua tanpa terkotori oleh dosa,
sebab kemuliaan Allah hadir dan kita nikmati di dalam diri. Allah tidak
memandang bulu, hal ini bukan hanya berarti Dia tidak memandang warna kulit,
ras, suku, bentuk fisik, dan hal lahiriah lainnya tetapi Dia juga tidak
memandang kita dari kemampuan dan keahlian kita ataupun segala keadaan diri
kita. Dia memandang keutuhan diri kita dari dalam hati kita bukan untuk
membedakan kita tetapi untuk menerima kita dan memperbaiki hidup kita. Inilah
kasih Allah dalam Yesus bagi kita.
Paulus memanggil Timotius dengan sebutan
manusia Allah. Ini berlaku atas semua kita yang menjadi anak-anak Allah dalam
Yesus. Sebab kita dulunya manusia lama, manusia dosa, kini menjadi lahir baru
dan manusia baru, Manusia Allah di dalam Kristus. Manusia yang mau menyatakan
Allah dan menikmati Pribadi Allah di dalam dirinya.
Inilah kesejatian dan kemuliaan hidup
sebagai manusia ciptaan yang mulia. Jika oleh dosa manusia jatuh dalam kehinaan
kini oleh karena Kristus maka manusia itu dapat kembali bangkit dalam
kemuliaan.
Manusia yang
sesungguhnya adalah makhluk mulia yang berkorelasi atau berhubungan dengan
Allah. Tanpa adanya Allah dalam diri kita maka kita sesungguhnya kehilangan
kesejatian manusia itu. Kita hanya manusia dalam arti
makhluk biologis, suatu organisme tercerdas di muka bumi yang hanya bergerak
dengan naluri perasaan hati dan kepintaran pikiran akal budi, hanya sebatas
berjiwa dan bertubuh sementara roh kita mati, dalam hal inilah apa yang disebut
kematian rohani.
Tetapi dalam Yesus kita menikmati Hidup
baru, Roh kudus hadir di dalam kita dan membangkitkan roh kita hingga kita
menikmati hidup dalam roh yang menguasai hati perasaan kita dan akal pikiran
kita. Jiwa kita dikuasai olehNya dan bukan oleh dosa lagi. Inilah nikmat dari
apa yang selalu disebut dengan keselamatan jiwa. Mari di dalam Kristus kita
yang adalah manusia ciptaanNya menikmati keadilanNya yang tidak pandang bulu,
hingga oleh KemuliaanNya itu kita pun tidak pandang bulu. Kita memandang sesama
di dalam pandangan Kristus yang mau menerima semua untuk menaklukan semua
dengan kasih sehingga semua bisa diselamatkan.

No comments:
Post a Comment