Friday, January 25, 2019

PERKEMBANGAN NILAI KETUHANAN PADA ANAK


          Manusia dilahirkan selain membawa gambar Allah sang penciptanya, namun perlu di ingat bahwa oleh karena dosa kita memiliki keterbatasan fisik maupun psikis. Keterbatasan itu nanti akan diperbaharui menuju kesempurnaannya pada saat kita menerima Roh kudus dalam iman percaya kepada Yesus. Jadi ada dua macam anak manusia yang lahir, ada anak yang lahir hanya sebagai benih manusia, dan ada yang lahir juga sudah dalam benih Allah, yaitu mereka yang lahir dari keluarga orang beriman dalam Yesus dan yang diserahkan kepada Tuhan pada masa kanak-kanak mereka. Mereka telah memiliki benih Allah yaitu Roh kudus sejak mereka lahir hanya saja perlu dibina dalam bimbingan rohani sejak kecil. Pembahasan di bawah ini diambil dari teori-teori para ilmuwan umum atau sekuler dan pengkajian utamanya adalah bagaimana pandangan Alkitab tentang nilai ketuhanan pada anak.
          Fisik atau tubuh jasmani anak baru akan berfungsi sempurna jika dipelihara dengan baik sejak masa kanak-kanak. Demikian pula dengan kemampuan mental kejiwaan mereka akan baik jika sejak kanak-kanak terpelihara baik dalam Tuhan. Rohaniah anak-anak pun demikian adanya, akan baik jika terpelihara baik sejak masa kanak-kanak. Yang perlu ditekankan di sini adalah sejak mereka kecil kita sudah menanamkan iman bahwa di dalam mereka ada Roh kudus Allah yang akan selalu ada bersama dengan mereka menjadi Guru Rohani mereka secara pribadi dan mendalam. Dialah yang bertugas menjadi penghibur, pemberitahu kebenaran, dan pemberi kekuatan, dengan kata lain Dialah pemelihara tubuh rohani mereka bahkan jiwa dan jasmani mereka. Ada Pemelihara Agung di dalam mereka.

Pendapat beberapa pakar dan ilmuwan kejiwaan tentang pandangan ketuhanan pada anak.
          Menurut pendapat Khonstam tahap perkembangan kejiwaan pada manusia terbagi dalam lima periode:
1.        Periode pertama/vital atau masa sensitif (usia 0-3 tahun).
2.        Periode kedua/estetis atau masa mencoba (usia 3-6 tahun)
3.        Periode ketiga/intelektual sekolah atau masa belajar awal (umur 6-12 tahun)
4.        Periode keempat/Adolescence atau masa remaja dan pemuda (usia 12-21 tahun)
5.        Periode kelima/tingkat kematangan utuh atau masa dewasa (usia 21 tahun ke atas)
          Elizabeth B Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode yaitu:
1.        0-2 tahun sebagai masa vital.
2.        2-6 tahun sebagai masa kanak-kanak
3.        6-12 tahun masa sekolah
Tinjauan:
          Setiap tahap usia atau periode pada anak memiliki masa kesulitan dan kemudahan tersendiri bagi dirinya untuk mengenal Tuhan. Hal itu berlaku pula pada para pengajar di sekolah, gereja, dan terutama pengajar mereka di rumah yaitu orang tua. Namun kita semua percaya bahwa semuda apapun seorang anak dalam usia maupun kemampuan mental dan intelektualnya, dia sudah memiliki Roh kudus yang akan membimbingnya kearah Tuhan dengan benar sesuai dengan apa yang dia terima dari kita dan dia alami. Karena itu sangatlah penting untuk menanamkan pada anak agar dia memiliki kepercayaan kepada Tuhan dalam hubungan pribadi. Jika kita sudah menguasai cukup akan karakter dasar dari anak yang ada di hadapan kita maka kita dapat beroleh hikmat yang tepat untuk mengajarkan tentang Tuhan kepadanya sesuai dengan kebutuhannya. Ingatlah bahwa Yesus pernah melewati masa anak-anak dan itu bukan semata karena Dia adalah Manusia Allah yang sempurna melainkan Dia pun melewati tahap pembelajaran tentang Allah dari lingkunganNya dan secara pribadi. Yesus amat peduli dengan anak-anak dan itu tampak pada beberapa kisah dalam alkitab di mana Ia mengajak anak-anak untuk tidak dihalangi datang kepadaNya sebab mereka adalah orang-orang yang empunya kerajaan Allah.
          Ada dua pendapat yang selalu bertentangan hingga saat ini dalam dunia psikologi bahwa antara pendapat yang percaya bahwa manusia sejak lahir telah memiliki jiwa ketuhanan dan yang kedua mengemukakan bahwa manusia sejak lahir sama sekali belum memilki keterikatan atau pengetahuan tentang Tuhan.
Tinjauan:
         Sebagai orang percaya saya tentu mengimani di dalam Yesus bahwasanya setiap manusia berasal dari roh Allah yang menghidupkannya. Itulah yang membuat kita memiliki keterikatan dengan Dia sang pencipta kita. Karena otomatis yang diciptakan memiliki garis hubungan yang erat secara emosional dan kepribadian dengan yang menciptakan. Namun oleh karena dosa maka rohani kita pasif dan mati dalam arti tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai sumber awal keterhubungan dengan Allah. Hingga oleh karena itulah Alktab berkali-kali menulis bahwa tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Allah dan tidak seorangpun yang mencari Allah, meskipun setiap manusia dalam batiniah rohaninya memiliki keterikatan dengan Allah. Roh kudus oleh iman percaya kepada Yesus lah yang akan membuat kita kembali menikmati kebangkitan rohani, keaktifan kembali rohaniah kita yang menjadi sumber awal untuk hubungan dengan Allah kembali. Sebagaimana lewat Yesus Kristus, Dialah yang telah lebih dahulu mencari kita hingga kita akhirnya dapat kembali mengenal Dia dan berhubungan dengan Dia.
           William Stem dalam paham konvergensinya yang amat populer mengemukakan bahwa perkembangan individu baik secara dasar yaitu berupa bakat, keturunan, dan  lingkungan memiliki peranan penting pada jiwa keagamaan anak. Maksudnya adalah William Stem berpendapat seorang anak akan percaya kepada Tuhan jika dia memiliki bakat atau daya pikir yang baik, keluarga yang sudah percaya kepada Tuhan, dan lingkungan yang sudah percaya kepada Tuhan. Otomatis anak tersebut akan memiliki jiwa yang berketuhanan.
Tinjauan:
          Secara manusia atau sudut pandang lahiriah hal itu tentu benar adanya. Namun jika kita masuk pada pandangan Alkitab bahwa tidak ada seorang pun yang mencari Allah atau bisa menemukan Allah yang Benar, maka pandangan itu mutlak salah. Sebab dalam keterbatasan dosa dan kematian rohaninya manusia tidak akan mampu untuk kembali mendapati Allah dalam hidupnya. Justru setelah diperkenalkan dalam Yesus lah maka manusia bisa kembali hidup jiwa kerohaniannya hingga dia bisa mengenal Allah yang benar. Kajian William Stem bisa dikatakan benar jika tuhan atau allah/ilah yang dia maksud adalah objek dunia, atau hasil dari pemikiran manusia. Sebab dalam sifat ketergantungan pada yang lebih berkuasa maka manusia yang sudah terlepas dari Allah selalu mencari kuasa yang dapat dia andalkan atau percayai, hal ini bukan berarti mencari Tuhan sesuai konteksnya Allah yaitu dalam kebenaran tapi mencari Tuhan dalam konteksnya manusia yaitu di dalam dosa. Hingga akhirnya yang mereka temukan adalah tuhan atau ilah yang palsu yang dari dunia ini dan dari pemikiran mereka sendiri. Kini Allah yang Sesungguhnya itu datang dan memperkenalkan diriNya dalam wujud pribadi Yesus Kristus. Dalam Dia barulah manusia percaya pada Allah yang benar  yang telah lebih dahulu menyatakan diriNya dan mencari kita untuk dapat kita percaya kembali.
Pandangan beberapa ilmuwan yang lain:
1.         Thomas Van Aquino mengemukakan bahwa sumber dari Ketuhanan pada manusia adalah jiwanya sendiri sejak lahir di mana karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
2.         Frederick Hegel mengemukakan bahwa agama adalah suatu pengetahuan yang benar dan hakiki pada manusia yang bersifat abadi.
3.        Frederick Schleimacher mengungkapkan bahwa jiwa ketuhanan pada manusia berasal dari pengkajian dan kesadaran dirinya tentang manusia sebagai mahluk yang lemah dan butuh Tuhan sebagai oknum yang lebih berkuasa untuk dijadikan andalan.
4.        Rudolf Otto meneliti bahwa jiwa ketuhanan pada manusia itu tumbuh dari rasa kagum yang besar yang secara hakiki sudah ada dalam diri manusia, di mana rasa kagum tersebut tidak dapat di isi oleh pribadi yang lain selain Tuhan.
5.        Sigmund Freud menyatakan bahwa unsur ketuhanan yang ada pada manusia didorong oleh libido seksual di mana manusia butuh oknum yang mereka yakini dapat melindungi mereka dalam proses perkembangbiakan dan kesucian di dalamnya.
6.        William Mac Dogall berpendapat bahwa insting manusia yang utuhlah yang menjadi dasar dan sumber dia menjadi mahluk yang bertuhan.
Tinjauan:
Diurutkan sesuai urutan nomor para tokoh ilmuwan di atas.
1.        Mazmur 33:20 berbunyi : “Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan. Dialah penolong kita dan perisai kita.”
Ada banyak ungkapan tentang jiwa manusia yang mengasihi dan merindukan Tuhan dalam kumpulan mazmur Daud. Namun ini berbicara tentang jiwa yang telah terikat dengan Tuhannya. Jiwa yang sudah beriman kepada Tuhannya oleh karena pekerjaan dan dorongan Roh. Jiwa manusia tanpa pembaharuan Roh tidak akan sanggup mencari dan menemukan Tuhan yang benar. Kecuali jiwa yang sudah dibaharui dalam dan oleh Roh Allah. Hanya dalam Kristuslah kini kita dapat memiliki jiwa yang sudah diperbaharui dan menikmati Allah. Sangat penting bagi anak-anak untuk sejak dini dilatih dalam jiwa yang selalu haus dan rindu akan Tuhannya.
2.        Ungkapan Frederick Heggel di atas amat menarik, sebab dari sudut pandang alkitab memang benar bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Sama halnya makna dan hakekatnya dengan ungkapan heggel bahwa agama adalah pengetahuan yang benar dan hakiki yang ada pada manusia. Bahkan tinjauannya mendapati bahwa agama adalah suatu yang bersifat kekal dalam diri manusia. Jika agama itu adalah Pribadi dan bukan wujud dari organisasi atau kumpulan jemaat secara dunia, maka ungkapan bahwa Agama itu kekal tentu benar. Sebab Allah itulah Agama dalam diri kita secara pribadi. Agama yang bermakna pada keyakinan pribadi dan bukan bermakna pada suatu kumpulan jemaah yang beribadah. Sebab Kristus datang ke dunia bukan untuk menciptakan agama sebagaimana konsep dunia tapi menciptakan hubungan pribadi yang hakiki dan kekal dengan Allah dengan Dia sebagai sarana dan pengantara satu-satunya. Jika kita masuk pada keyakinan Agama yang bukan seperti pandangan dunia terhadap agama, maka secara pribadi saya mengimani dan dibukakan olehNya bahwa Dialah Agama yang hakiki dan kekal bagi manusia yang tidak terbatas pada nama kelompok atau organisasi kepercayaan. Kristus adalah Wujud dari Agama yang dinyatakan Allah kepada dunia. Agar di dalam Dia orang boleh kembali belajar bagaimana harus beragama dengan benar. Sebab oleh keberdosaannya manusia tidak dapat beragama dan berkeyakinan dengan benar, baik secara pribadi dengan Allah maupun secara pribadi dengan sesama. Baru Allah memperkenalkan DiriNya lewat Kristus sebagai Wujud Ilahi Allah yang menunjukkan apa itu Agama dan Keyakinan. Kristus sempurna dalam hal menjalankan KeyakinanNya kepada Allah sebagai Manusia dan sukses pula menjalankan penyataan dari Agama dan Keyakian dari Allah bagi manusia. Dialah pengantara yang sejati. Barulah dalam Dia kita belajar mengimani dan menikmati Agama dalam Kebenaran di mana Dialah yang menjadi Keyakinan kita kepada Allah dan Keyakinan dari Allah lewat kita yang akan dinyatakan kepada sesama. Inilah kehakikian dan kekekalan dari suatu konsep Agama yang sudah dipulihkan dan dibenarkan di dalam Kristus.
Jika kita telah menanamkan konsep Kristus sebagai agama yang hakiki dalam diri anak sejak dini maka kita sukses menjadikan dia sebagai pribadi yang kuat dalam perkembangan keimanannya nanti di dalam Kristus. Jika dia secara pribadi secara berkelanjutan menikmati itu maka dia tidak akan menjadi pribadi gampangan yang terombang-ambing oleh berbagai angin pengajaran dan fenomena rohani, tapi berpegang teguh pada ketuhanannya kepada Kristus secara pribadi. Dia tidak akan berpandangan sempit dalam hal pandangannya terhadap gereja secara organisasi melainkan memiliki Kristus sebagai Gereja dalam dirinya dan dia menjadi bait Allah yang benar.
3.        Kesadaran manusia akan kelemahan dirinya tidak hanya sebatas tentang kuasa dalam hal melawan bencana alam, sembuh dari sakit penyakit, dan kelepasan dari pengaruh jahat. Tapi dalam Kristus kita mendapati bahwa manusia yang berdosa telah memiliki kemerosotan dan kelemahan diri dalam segala aspek baik tubuh, jiwa, dan rohnya. Tubuh yang rentan penyakit dan marabahaya alam sekitar, jiwa yang tidak stabil dalam keterbatasan mental menghadapi situasi, dan keadaan roh yang pasif. Kita semua terbatas dan sesungguhnya tidak mengenal betul apa itu Kasih, Kebenaran, Kesabaran, Kelemahlembutan, Ketakutan dalam kebenaran, Keberanian, dan Iman. Kita tidak memiliki kehakikian semua itu sebagaimana yang Alllah miliki dalam ketidakterbatasanNya.
Kristus adalah Wujud kesempurnaaan Allah yang datang dan telah menunjukkan kepada kita seperti apa itu kesatuan dan keesaan semua hal itu di dalam diriNya. Sempurna dalam keilahian dan tanpa cacat cela. Jika kita semakin mendalami Kristus maka kita akan semakin menemukan kesempurnaanNya yang akan semakin menyadarkan kita akan keberadaan dari milik kita yang fana dan terbatas. Itu untuk membawa kita semakin bergantung dan lekat dengan Dia dan tidak lagi berbangga atas kemampuan sendiri. Ditinjau dari sudut pandang yang salah maka pendapat Schlemacher mutlak salah jika kepercayaan dan kesadaran diri manusia tentang Allah dimulai dari keinginannya sendiri sebab tidak ada manusia yang benar-benar mencari Allah dan mendapati Dia. Dia yang datang dan mencari kita, pertama lewat hukum tertulis dan para nabi, baru terakhir lewat kesempurnaan Hukum yang digenapiNya di dalam Kristus. Tapi jika kita mengambil sisi positif dari pendapat Schlemacher di atas maka di dalam Kristus kita memang akan masuk dan setiap saat masuk dalam momen di mana kita disadarkan Allah bahwa kita mahluk yang lemah dan terbatas dalam kecemarannya dan butuh Dia untuk dijadikan andalan dan kemuliaan hidup. Bukan lagi oleh milik kita tapi oleh milik Dia. Milik kita yang rela diserahkan di dalam Dia hingga dimurnikan di dalam Dia. Dalam segala hal baik Kasih, kebaikan, keyakinan atau iman dan lain-lain itu dimiliki setiap orang dalam kecemaran dosa. Sumbernya adalah buah dosa, buah pengetahuan baik dan jahat. Jika kita mau menikmati Kebenaran dan Keutuhannya maka kita harus masuk di dalam pemurnian dan penggenapan Kristus yang ada di dalam kita oleh Roh Kudus.
Anak yang sejak dini telah dididik dan dilatih dalam kebergantunagn yang benar dalam Kristus akan membuat dia memiliki konsep yang benar tentang Allah dan dirinya sebagai manusia ciptaan yang sedang membina hubungan dengan sang Pencipta. Dia tidak akan menjadi pribadi yang hanya menilai Allah sebatas iman kemahakuasaan lahiriah melainkan akan menikmati dan meyakini Allah dalam segala kemahakuasaanNya yang utuh dalam pribadi Kristus. Dia akan tahu dan memahami bahwa iman ditunjukkan bukan hanya pada hal-hal yang bersifat percaya pertolongan mujizat kesembuhan,dan percaya pada kejadian fantastis di hadapan manusia tapi iman yang benar itu utuh sebagaimana yang sudah ditunjukkan Yesus dalam hal keseluruhan hidupNya. Saat Dia mau mengampuni, saat Dia mau mengasihi,  berbagi dalam saling menguatkan dan mendoakan, saat Dia mau melawan godaan inblis, dan saat Dia mau rela menyerahkan diriNya dan kehendakNya kepada Bapa itulah Iman yang utuh. Iman itu Pribadi, datang dalam Pribadi Kristus dan menjadi bagian dari mereka yang menerimaNya. Dalam Dialah kita disebut orang-orang beriman.
“Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawasan hukum taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang Iman itu sudah datang, Karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.” (Galatia 3:23-25).
4.        Selaras dengan alkitab salah satunya dalam Ayub 37:5 yang berbunyi; “Allah mengguntur dengan suaraNya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita.” Dorongan manusia percaya kepada Allah salah satunya karena ada rasa kagum tertinggi dalam diri manusia yang hanya dapat ditujukan kepada Tuhan. Hal itu dikemukakan oleh Rudolf Otto. Namun yang perlu kita ketahui bersama oleh karena dosa maka semua rasa dalam manusia termasuk rasa kagumnya  menjadi cemar. Manusia mencari oknum ilah mana yang pantas mereka kagumi sesuai kebutuhan dan keinginan mereka sendiri. Hingga mereka tidak bisa kembali mengenal Allah yang benar. Hingga akhirnya yang mengagumkan itu datang yaitu Yesus Kristus, agar di dalam Dia manusia bisa melihat dan kembali mengenal kekaguman yang sesungguhnya yang datang dari Allah. Seluruh keutuhan hidup Yesus Kristus menunjukkan kekaguman yang dicari-cari oleh manusia. Tapi sayangnya keinginan manusia dalam menilai kekaguman Allah itu berbeda dengan apa yang hendak ditunjukkan oleh Allah. Itulah sebabnya Dia ditolak. Manusia tidak bisa melihat kekaguman Allah yang sejati dalam penundukkan dan ketaatan Yesus. Mereka tidak bisa melihat kekaguman Allah lewat pengampunan Yesus, mereka tidak bisa melihat kekaguman Allah lewat kasih Yesus, mereka gagal mendapati kekaguman Allah lewat keutuhan pribadi Yesus, padahal itulah yang harus manusia kagumi dari Allah. Manusia hanya bisa menilai kekaguman Tuhan dari perbuatan yang bersifat mujizat, pertolongan lahiriah, tanda-tanda heran secara lahiriah, dan kekuatan yang nampak dari kuasaNya yang bersifat supernatural. Padahal semua itu adalah bagian dari kekaguman Alah yang mengagumkan. kekaguman dan mujizat sejati itu adalah keutuhan pribadinya dalam sifat-sifatNya yang luhur.
Kita yang sudah menerima Yesus dan mau semakin mendalami Dia dalam kerendahan dan penyerahan diri pasti akan menemukan keutuhanNya dalam kekaguman yang harus kita kagumi dan nikmati dalam iman. Sebab kekaguman Allah dan kekaguman manusia maknanya berbeda jauh. Tapi dalam Yesus kita akan semakin menemukan makna Allah yang merubah segala paradigma terbatas yang ada di dalam kita. Semua oleh pekerjaanNya yang nyata di dalam kita oleh Roh kudus. Sangat penting untuk sejak dini menekankan kepada anak bahwa Allah yang mengumkan itu sudah nyata dalam pribadi Yesus dan KekagumanNya tidak hanya diukur dari perbuatan mujizat tapi dari sifat-sifat dan sikap hidupNya yang benar dan penuh kasih. Kita dapat mendorong anak-anak untuk memiliki kekaguman Allah dalam hidupnya sebagai kekaguman dirinya juga di hadapan Allah dan dunia. Ini merujuk pada sikap dan sifatnya yang sejak anak-anak mau menjadi teladan dalam hidupnya. Jika dia menempatkan Yesus sebagai dasar kekaguman dirinya maka secara bertahap anak akan semakin hari semakin menikmati dan menyatakan hidup dalam kekaguman Allah.
5.        Sejak jatuh dalam dosa manusia memiliki perasaan takut dan bersalah. Sebenarnya perasaan bersalah itu ada dalam setiap perbuatan manusia, tapi nampak terasa nyata jika dia berada dalam kondisi yang telah merugikan atau berbuat salah kepada orang lain. Hubungan seks yang tadinya sakral dalam kebenaran kini oleh karena dosa membuat manusia memandangnya sebagai suatu perbuatan yang menjijikan atau tidak senonoh. Hingga manusia butuh perlindungan yang diyakininya dapat menjadi kesucian bagi setiap perbuatannya. Manusia merasa perlu perlindungan diri dalam perkembangbiakannya.
Dalam tradisi kepercayaan bangsa-bangsa kuno seperti peradaban Mesir, India, China dan Indonesia sendiri kita dapat menemukan situs-situs bersejarah yang menggambarkan hubungan seksual dalam maknanya yang sakral. Di mana itu digambarkan sebagai perbuatan yang direstui para dewa dan tuhan. Manusia mencari Tuhan lewat keinginannya untuk berkembang biak dengan subur dalam kesucian. Namun mereka gagal mendapati Allah yang benar yang di dalamNya kita disucikan dalam kebenaranNya. Hingga Pribadi kesucian Allah yang menyucikan manusia itu datang yaitu Yesus Kristus. Dalam Dia barulah kita menikmati kesucian hidup yang akan membersihkan kita dalam menjalani hidup ini dan dalam segala hubungan. Dia adalah Allah yang benar, sumber kesuburan hidup dan kesucian hidup. Dalam Dialah baru manusia bisa terlepas dari rasa bersalah dan menikmati kebenaran Allah dalam hubungan yang diperkenan olehNya.
Sangat penting untuk mengajarkan secara dini pada anak-anak bahwa Yesuslah sumber berkat kesuburan dalam pertumbuhan hidupnya secara jasmani dan rohani. Serta mengajarkan dia bahwa Yesus adalah sumber penyucian dan kelepasan dari rasa takut dan bersalah. Ini bukan untuk membuat anak malah tambah nakal tapi dalam hikmat Allah kita akan sanggup memperkenalkan dia pada kebenaran Allah yang bekerja untuk membuat dia berlaku benar. Dalam kebenaran Allahlah baru kita bisa menikmati penyuburan dan penyucian Allah.
6.        Segenap Insting manusia mengarah kepada Allah itu adalah kebenaran hakiki sebab kita diciptakan olehNya dengan roh yang dari milik Dia. Semua yang kita miliki adalah cerminan dari Dia, serupa dan segambar dengan Dia. Namun karena dosalah maka gambar Allah di dalam kita menjadi rusak dan cemar, meski hakekatnya Keutuhan Pribadi Allah tidak dapat dicemarkan apapun. Hanyalah cerminanNya di dalam kitalah yang tercemar dan rusak. Oleh karena itulah insting kita yang semula dipakai untuk berhubungan dengan Allah dan untuk menyatakan Allah kini justru menjadi alat dosa. Insting manusia menjadi lebih peka dan rentan dengan dosa. Hingga yang suci InstingNya dan benar dalam kepekaanNya itu sudah datang, Dialah Yesus. Mau lihat insting manusia yang benar maka lihatlah hidup dan sikap Yesus Kristus. Bagaimana Dia meresponi Allah dan meresponi manusia dalam kebenaran, itulah insting yang benar yang tidak terjamah oleh dosa tapi murni dalam pengenalan akan Allah. Insting yang sudah terlatih di dalam pengenalan pada Allah akan mengarahkan kita untuk memperbaiki gambar dan cermin Allah di dalam diri kita. Itulah kekayaan ilahi yang kita dapati di dalam Yesus.
Sangat nikmat jika anak-anak sudah menyadari sejak kecil bahwa mereka harus berlatih mengarahkan instingnya pada Yesus dan menikmati kebenaran Allah di dalamnya. Itu dimaksudkan agar sejak kecil mereka sudah terlatih menjadi cermin Pribadi Allah dari dalam diri yang bangkit secara alami oleh pekerjaan Roh kudus. Itu bukan hanya usaha sendiri, dan mereka tidak sendiri sebab mereka memiliki Roh kudus di dalam dirinya. Dalam insting yang sudah disucikan Allah dan diarahkan kepada Allah maka itulah di mana kita disebut orang-orang yang percaya kepada Tuhan, orang-orang berTuhan seperti pernyataan William mac dogall di atas.
Teori Faculty
          Teori ini dikemukakan oleh G.M Straton, Zakiah Drajat, dan W.E Thomas. Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor tunggal tapi terdiri dari beberapa unsur. Jadi menurut teori ini manusia yang bertuhan tidak didorong hanya oleh satu unsur saja tapi oleh beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut adalah:
a.        Cipta atau reason
Merupakan fungsi intelek jiwa manusia. Perasaan intelek ini dalam agama merupakan suatu kenyataan yang dapat dilihat terlebih-lebih dalam agama modern di mana peranan dan fungsi reason ini sangat menentukan.
b.        Rasa atau emotion
Merupakan fungsi perasaan emosional kejiwaan pada manusia di mana pengalaman beragam seseorang dipengaruhi secara emosi.
c.        Karsa atau will

Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Will atau kehendak berfungsi mendorong timbulnya pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...