Thursday, June 27, 2019

SEPERTI APA SEBENARNYA MENOLAK KRISTUS? DAN APA SAJA ALASAN ORANG MENOLAK DIA?

Penolakan Kristus masih terjadi hingga kini dalam Kekeristenan sendiri (orang Israel secara rohani).
    Menolak Yesus sebenarnya bukan sebatas dan sedangkal seperti yang kita bandingkan dan lihat dari keadaan dan respon bangsa Yahudi terhadap Yesus Kristus namun penolakan terhadap Kristus ini ditinjau lebih jauh ke dalam hingga kita menemukan siapa sebenarnya yang menolak Dia dan mengapa demikian. Sebab dewasa ini sebenarnya terlalu banyak pihak yang masih menolak Dia dalam arti belum benar-benar mau dan rela menerima Yesus Kristus sebagai Pribadi yang hendak menguasai dirinya. Dalam hal ini sangat erat kaitannya pula dengan penyerahan diri sebagaimana yang sudah dibahas pada bab sebelumnya. Ini yang saya temui dan alami ketika saya memberitakan Yesus Kristus secara utuh, secara Pribadi, Dia sebagai Pribadi yang sempurna dan utuh semua ada dan bersumber dari Dia. Di sini saya menemukan bahwa masih terlalu banyak orang yang bahkan sudah melayani Yesus pun tetapi masih belum sepenuhnya mau dan sadar untuk mengakui Yesus Kristus sebagai segala-galanya dalam hidupnya. Tidakkah ini ironi? Mari kita bahas bersama.

1. Menolak Kristus karena jabatan
     Pada Matius 27:11-26 tertera bagaimana sikap Pilatus terhadap Yesus dan perkara yang dihadapkan kepadanya. Dia harus memilih antara desakan massa yang hendak menyalibkan Yesus yang sebenarnya Pilatus pun tahu bahwa Yesus tidak bersalah atau dia harus membebaskan Yesus dengan konsekuensi terjadi kerusuhan besar dan bahkan perang bisa pecah kembali terhadap kekaisaran Roma di Israel. Pilatus telah mendapat peringatan sebelumnya dari kekaisaran pusat di Roma agar tidak boleh ada kerusuhan atau perlawanan lagi di Israel. Jika itu sampai terjadi maka dia akan kehilangan jabatannya, ditarik kembali ke ibukota Roma atau bahkan dihukum mati karena gagal dalam tugas. Demi keamanan jabatannya dia akhirnya mengambil langkah “tengah” cuci tangan namun ini sama halnya dengan turut membiarkan kebenaran dihakimi. Dalam beberapa tahun kemudian setelah pergantian gubernur yang baru untuk wilayah Yudea beliau malah dicopot dari jabatannya sebagai wali negeri di Yerusalem.
     Ada juga yang enggan mengakui Yesus Kristus secara pribadi karena merasa akan semkin terkucil dan adanya tekanan oleh pihak yang lebih tinggi tempat mereka bergantung, Yohanes 12:42. Namun saya menemukan bahwa ini bisa juga berlaku secara pribadi pada setiap individu dalam arti semua orang punya aspek dan keadaan yang sama dalam hal takut terkucil atau dalam tekanan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya dalam hal mengapa tidak bisa mengakui Kristus dalam dirinya. Ada orang-orang yang akan merasa terkucilkan jika dia mengakui Kristus dan harus meninggalkan segala kemauan dan gaya hidupnya, ini bukan sekedar kehilangan teman atau relasi tetapi lebih kepada keadaan pribadi orang tersebut yang merasa tidak akan terpuaskan hasrat hidupnya jika harus menerima dan mengakui Kristus semakin dalam. Dalam tahap ini tidak peduli apakah seseorang itu pelayan Tuhan yang setenar dan sehebat apapun itu bukan jaminan bahwa dia telah dalam zona kesatuan dengan pribadi Kristus dalam arti telah masuk pada pengakuan batin akan Kristus secara total. Sebab pemakaian Allah dan karunia Allah tidak sama halnya dengan penyatuan dan penundukan diri dalam pengakuan akan Dia. Pemakaian ataupun talenta karunia seseorang dalam pelayanan tidak menjadi ukuran sejauh mana pemberian dirinya dan pengakuannya kepada Kristus. “sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah,” Yohanes 12:43.
     Ada juga tidak mengakui Kristus karena beratnya tekanan diri sendiri yang butuh dipuaskan lewat kebebasan karakternya. Banyak orang ingin memberi diri dengan caranya sendiri yang sesuai keinginan hatinya. Inilah diperlukan sikap yang mau rela memberi diri mau mengenal Dia semakin dalam dan menyatu dengan kehendakNya. Ketika kita sanggup menundukkan diri sesuai kehendaknya yang hendak mengambil alih diri kita seutuhnya agar dosa tidak berkuasa lagi atas kita maka kita akan temui bahwa semua yang kita kehendaki akan dimurnikan dan menikmati suasana baru dalam pengiringan akan Dia, bukan lagi beban hukum tetapi di bawah hukum yang memerdekakan sebab Kristus telah bekerja sebagai Pribadi di dalam kita.
    Sebetulnya  masih merupakan hal yang dangkal di mana orang menolak Yesus Kristus untuk semakin bertahta dan diakui dalam dirinya karena jabatan atau kedudukan sosial. Saya banyak kali menemui di mana ketika pemberitaan tentang Kristus yang kita sampaikan jika itu sudah bersifat menyatakan KepribadianNya yang harus diakui total maka para pendengar yang merasa ego dan gengsi dengan jabatan dan hanya lebih menilai pemberita dari status atau strata sosial mereka cenderung akan meolak kebenaran Kristus. Secara lahiriah mereka mengakui Dia tetapi untuk lebih diakui dalam batin dan Roh mereka sebetulnya masih erat membantah Kristus.

2. Menolak Kristus karena kepintaran
    Golongan lain yang menolak Kristus secara rohani adalah kalangan cendekiawan yang bahkan golongan teologis sendiri yang jika mereka masih menaruh seluruh iman mereka untuk diukur secara logika maka mereka cendrung akan selalu menilai segala sesuatu harus berdasar ukuran teoritis dan metodologi seusia standar pengetahuan mereka. Ini akan sulit mereka pahami sebab Kristus tidak bisa diukur sebatas akal dan kemampuan bernalar manusia.
“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”
Efesus 3:18-20
Dari penggalan ayat di atas kita mendapati betapa luas Keilahian pribadi Kristus yang secara logika manusia tidak akan dapat ditelaah. Namun itu akan kita ketahui secara utuh berangsur-angsur saat kita mulai rela masuk dalam kepenuhan Kristus, yaitu di mana kita semakin menyatu dengan pribadiNya yang ada di dalam kita. Memiliki pikiran Kristus yang sanggup menelaah segala sesuatu karena hanya dengan itulah kita bisa meneirma dan semakin mengenal Kristus yang luas itu. Kita akan semakin mengenal diri kita sendiri dan akhirnya secara alami kita akan tahu seperti apa itu manusia pada umumnya sebab Roh yang menilai segala sesuatu termasuk Allah sendiri itu ada dan telah luas bekerja di dalam kita secara dan sebagai pribadi. Sebab jika Dia masih bekerja di dalam kita sebagai karunia maka kita masih akan mengenal Dia secara karunia , jika Dia masih bekerja di dalam kita secara hukum, maka kita akan mengenal Dia secara hukum pula. Namun ada saatnya jika kita selalu rela meminta akan pemenuhnNya atas diri kita secara pribadi maka kita akan mengenal Dia kini sebagai Pribadi dan Dia bekerja di dalam kita sebagai Pribadi. Di dalam Pribadi ada tercakup semua, baik karunia, berkat, hukum, iman, kasih, perbuatan dan sebagainya sebab Pribadi itu adalah Kristus di mana di dalam Dia segala sesuatu ada dan bermula.

3. Menolak Kristus karena sifat atau karakter
     Sifat dan karakter manusia pula dapat menjadi alasan kuat di mana manusia sulit menerima dan mengakui Keakuan Kristus dalam dirinya. Keakuan Kristus di sini maksudnya kepenuhan atau keutuhan pribadi dari Kristus. Sebenarnya setiap manusia sulit untuk menerima Allah dalam keberdosaan dan keterbatasan manusiawinya. Ada sisi besar di mana Kasih karunia Allah berperan penting dalam penerimaan awal manusia terhadap Kristus. Namun untuk selanjutnya di mana Kristus harus semakin utuh di dalam kita dibutuhkan penyerahan dan kerelaan diri untuk selalu meminta dan memberi diri kepadaNya.
     Setiap karakter sifat manusia yang kompleks dalam 4 dan 12 garis besar karakter manusia sebenarnya memiliki kesulitan masing-masing dalam mengakui Kristus. Saya melihat orang dengan kolaris sebagai sifat dominan akan sulit mengakui Kekuatan Kristus dalam dirinya sebab dia sendiri merasa kekuatan dirinya dan semangat serta tekad motivasi dirinya sendiri cukup kuat. Bahkan keadaan dirinya ini dibawa menjadi “doktrin iman” dalam dirinya dan kerap menjadi tolak ukur dalam menilai kehidupan rohani sesama. Padahal tidak ada manusia yang benar-benar kuat kecuali Kristus dan Kristus adalah Kekuatan kita sesungguhnya. Kristus akan benar menjadi kekuatan kita jika kita sudah mencapai titik pengakuan atas Dia bahwa kita sesungguhnya lemah dan tidak ada kekuatan apapun hingga hanya Dia yang menjadi kekuatan kita seutuhnya. Tekad, keyakinan, atau niat kuat dalam diri manusia itu bukanlah Iman sebagaimana standar kebenaran Allah tetapi itu adalah bagian dari sifat manusia yang amat kuat terasa dalam diri seorang kolaris. Iman tidak hanya diukur dari keyakinan kuat akan sesuatu untuk terjadi, tidak hanya diukur dari keyakinan akan mujizat, tekad kuat dan semangat diri tetapi Iman sebagaimana Kristus telah utuhkan dan nyatakan dalam diriNya adalah dinilai dalam segala aspek. Iman dilihat dari bagaimana sikap dan kasih kita pada sesama. Bagaimana penerimaan kita terhadap diri ini dan sesama. Bagaimana hidup kita yang semakin rela dipersembahkan menyatu dengan Kristus. Mengapa saya selalu menggunakan kata rela sebab dalam kemyataan yang saya dapati terlalu banyak orang Kristen yang sudah begtu aktif baik dalam ibadah ataupun pelayanan tetapi ketika Kristus diberitakan untuk diakui secara Pribadi sampai kedalaman batin mereka tampak menolak dan geram serta berat menerima. Inilah mengapa saya akhirnya menyadari bahwa amat dibtuhkan kerelaan diri untuk semakin masuk mengakui Kristus. Penyangkalan Kristus tidak hanya dinilai sedangkal pada langkah awal di mana orang yang tidak mau percaya Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat maka itu sajalah yang disebut menyangkal tetapi jika kita tidak mau dan masih berat untuk memberi diri mengakui Dia secara utuh dalam segala aspek hidup kita sampai pada kedalaman batin maka itu adalah penyangkalan Kristus.

4. menolak Kristus karena merasa berat kehilangan diri (dosa)
     Semakin meninjau dan meneiliti kedalaman batin dan diri kita manusia maka ditemui bahwa banyak orang sebenarnya dalam berbagi aspek alasan mengapa dia enggan mengakui Kristus itu disebabkan karena tidak mau kehilangan dirinya, kenyamanan dirinya, gaya hidupnya. Ini bukan sebatas bicara tentang keadaan diri yang berdosa secara lahiriah jelas tetapi ini berbicara tentang karakter setiap kita yang sebenarnya perlu dibersihkan, ditinggalkan, dan dibaharui. Kita tidak akan kehilangan ciri khas diri kita namun bedanya jika sudah masuk dalam pembaharuan dan pengakuan kepada Kristus adalah cirri karakter diri kita telah disertai pribadi Kristus, ada pemurnian pekerjaan Allah di dalamNya. Bagaimana Kristus semakin menguasi diri kita sebagaimana ayat yang mengatakan Dia harus semakin bertamabh dan kita semakin berkurang. Ini bukan berbiacara sebatas memuliakan Dia dalam pujian mulut, pujian ibadah liturgi, ucapan syukur, ataupun pekerjaan dan perbuatan baik tetapi memasuki area  Dia yang bertambah dan dipuji dalam diri kita, batin dan roh kita. Hati perasaan dan akal pikiran kita telah diisi keutuhan pribadiNya yang akan mengantar kita semakin menikmati pengakuan akan Dia. Inilah  awal kebebasan yang sesungguhnya yang Yesus Kristus berikan pada kita di mana ketika Dia yang diakui di dalam kita maka kita tidak akan lagi membantah Dia.  Tidak usah kita kuatir dengan menghadapi dunia dalam mengabarkan Kristus karena Kristus di dalam kita sudah tidak terbantahkan oleh kita atau sifat kita yang lekat dengan dosa. Jika kita sendiri sudah tidak bisa membantah Dia lagi maka dunia tidak akan bisa membantah Kristus yang kita sampaikan sebab meski mulut mereka membantah dan hati mereka menebal dengan amarah tersinggung dan sebagainya bantahan mereka hanyalah secercah ungkapan lahiriah dari pernyataan batin mereka yang tahu bahwa itu benar. Lihatlah bagaimanan para farisi dan mereka semua yang memusuhi Yesus Kristus dahulu, mereka membantah Dia dan berusaha menghentikan Dia dalam pemberitaanNya yang bersifat Rohani Batiniah namun mereka jelas tahu bahwa yang Dia sampaikan adalah kebenaran.

5. Membantah Yesus Kristus karena keberadaan dosa dalam diri
“Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.”
Roma 7:22-23
     Dari penjabaran ayat di atas dan beberapa ayat dalam Roma 7 tentang hukum dosa atau pribadi/sifat/kodrat dosa dalam diri manusia maka inilah inti dan akar dari semua keengganan manusia untuk mengakui keutuhan Kristus dalam dirinya. Sebab sejak jatuh dalam dosa, dosa telah menjadi bagian erat dan melekat dalam diri manusia, dalam jiwa perasaan dan pikrannya serta dalam tubuh kehendak daging dan niatnya. Inilah yang membuat mengapa dikatakan setiap keinginan manusia adalah salah dan bertolak belakang dengan Allah. Inti yang membuat manusia tidak mau mengakui Kristus adalah pribadi dosa yang ada dalam dirinya. Hukum atau pribadi dosa ini adalah hakekat atau pribadi atau benih iblis yang ditanamkan dalam diri manusia dan melekat erat dengan manusia seolah-olah menjadi bagian dari manusia padahal sebenarnya itu bukan milik kita dan bagiannya kita. Hanya karena pemberian diri manusialah hingga itu masuk ke dalam diri manusia. Hanya kuasa Yesus yang sanggup melepaskan kita dan memenangkan kita dari hukum dosa itu.

    Semakin kita tinggal di dalam Yesus dan mengenal Kristus serta mengakuiNya maka kita akan mendapati Kristus yang semakin bertambah dan kita semakin berkurang adalah sesuungguhnya priabdi dosa yang lekat dengan kita itulah yang semakin dibersihkan, dihancurkan dan dilenyapkan. Inilah apa yang dikatakan perjuangan kita melawan dan mengalahkan diri kita sendiri yaitu menaklukan dosa yang bekerja di dalam kita. Sejak saya masuk pada pendalaman pribadi Kristus di dalam diri saya dan semakin mengakui Dia secara pribadi dan sebagai pribadi dalam diri saya maka saya mendapati bahwa nikmat adanya keadaan di mana kita semakin menundukkan diri dan segala kemauannya kepada Kristus. Bagi dosa ini adalah penjajahan tetapi bagi Roh ini adalah kebebasan sejati yang Tuhan berikan bagi manusia yang percaya dan mengakui Dia.

YESUS DALAM BANGSA YAHUDI, PANDANGAN TENTANG KRISTUS BAGI BANGSA YAHUDI

Dalam uraian kali ini dibahas mengenai pengertian orang Yahudi tentang Yesus dan bagaimana korelasinya dengan Kekristenan dewasa ini, apakah sama dengan bangsa Yahudi yang sebenarnya sedang menolak Yesus atau tidak. Setelah membahas “pendaulatan” Yesus atau penghapusan asal ke-Yahudian-Nya oleh orang-orang Kristen, dibicarakan pula bagaimana orang Yahudi dulu menggambarkan Yesus (Yesus dalam Talmud) dan bagaimana pandangan orang Yahudi modern (Klausner, Buber), demikian juga tentang per­pecahan tetap(?) antara gereja dan sinagoge, dalam hal pemahaman tentang diri Yesus.
“Yesus bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi.” Ucapan Julius Wellhausen2 ini, menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekali­pun tidak dapat dikatakan bahwa orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan ­mungkin secara mengejutkan - betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka memiliki Yesus bagi diri mereka sendiri, seakan­akan mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi­Nya. Mereka lupa bahwa “keselamatan datang dari bangsa Yahudi” sebagaimana terungkap dalam percakapan Yesus di sumur dengan perempuan Samaria itu (Yoh 4:22).
“Kaum Kristen telah mencabut Yesus dari tanah Israel. Mereka telah 'menghapus asal Yahudi-Nya', lalu me-'Yunani'-kan-Nya, meng-'Eropa'-kan-Nya, men-'Jerman'-kan Dia.”3 Bahkan dapat dikatakan bahwa terkadang Ia digambarkan sebagai anti orang Yahudi. Namun bila membaca Kitab-kitab Injil, jelas terlihat bahwa pesan Yesus ditujukan terutama, malah mungkin secara khusus, kepada bangsa Yahudi. Lapangan keija Yesus terbatas terutama di Galilea dan Yerusalem. Hanya beberapa kali diceritakan mengenai hubungan-Nya dengan orang yang bukan Yahudi dan tentang kunjungan-Nya ke suatu daerah di luar Israel. Dan pada kesempatan itu Ia berkata, bahwa Ia diutus hanya kepada domba­domba yang hilang dari umat Israel (Mat 15:24). Namun Kitab-­kitab Injil dan Perjanjian Baru pun sekaligus menunjukkan ada kenyataan bahwa, di samping orang-orang Yahudi yang percaya kepada Dia dan mengakui Dia sebagai “Kristus, Anak Allah yang hidup” seperti pengakuan Petrus dalam Matius 16:16, atau seperti Tomas, yang menyebut Dia “Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28), ada banyak yang tidak percaya kepada-Nya. Dengan sangat mengharukan Paulus menulis kepada jemaat di Roma, betapa is berdukacita dan bersedih hati, karena masih banyak orang Israel yang belum percaya kepada Yesus (Rm 9:2).
Dalam kurun waktu Perjanjian Baru perjalanan kehidupan orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi maupun Kristen bangsa lain) dan kaum Yahudi belum terpisah sepenuhnya. Gereja dan sinagoge masih saling berhubungan. Namun dari penyelidikan Perjanjian Baru yang terakhir dapat dipastikan bahwa perpecahan yang historis antara gereja dan sinagoge yang terjadi kemudian, agaknya tercermin dalam gambaran yang diberikan dari sikap Yesus sendiri terhadap bangsa Yahudi.
Selanjutnya tafsiran tertentu dari Perjanjian Baru, misalnya tafsiran yang diberikan atas berbagai nas Injil Yohanes atau nas seperti “Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak­anak kami” (Mat 27:25), merupakan penyebab utama dari suatu jurang pemisah, suatu perpecahan antara orang-orang Kristen dan Yahudi. Jejak berdarah dari penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi membekas dalam sejarah “Kristen”.
Yang tetap menjadi misteri adalah bagaimana bisa terjadi sehingga lambang salib itu menjadi lambang kehancuran bagi orang lain. Bahkan nama “Yesus Kristus” langsung dihubungkan dengan penganiayaan dan pemusnahan orang-orang Yahudi, sebagaimana dinyatakan oleh seorang Yahudi Amerika. Suatu penjelasan, tentu bukan dengan maksud untuk dimaafkan, bahwa hal itu bisa terjadi harus dicari dalam teologi atau ideologi tentang gereja.
Menurut orang Kristen, bangsa Israel “dibutakan” sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, pada waktu mereka membaca hukum Allah pikiran mereka terselubung, sehingga mereka tidak mengerti apa yang patut diketahui oleh bangsa Israel (2 Kor 3:14-16). Banyak kali di gereja-­gereja dan katedral-katedral gambaran ini diperlihatkan secara jelas bagi setiap orang Kristen sebagai bahan pelajaran. Di gereja Dom di Strasburg, begitu pula di banyak gereja lain, gereja yang menang dan Jaya digambarkan berdampingan dengan sinagoge yang terselubung.
Pada “jendela penderitaan” di dalam katedral di Chartres (sekitar tahun 1215-1240) tergambar Iblis yang melepaskan panah ke mata oknum yang melambangkan sinagoge. Itu berarti bahwa kebutaan abadi terjadi, menggantikan selubung yang sebenarnya masih dapat diangkat!
Selama berabad-abad orang Yahudi dilihat sebagai “musuh salib” dan diperlakukan setimpal: disiksa apabila tidak mau bertobat.
Orang-orang Kristen dari abad-abad pertama dan juga sesudah itu mengharapkan dari bangsa yang dipilih sebagai pewaris perjanjian Allah, bahwa sewajarnyalah mereka yang pertama-tama bisa melihat penggenapan perjanjian itu di dalam diri Yesus. Yang sulit diterima oleh orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi maupun Kristen bangsa lain) adalah penolakan untuk mengakui Yesus sebagai Mesias oleh bagian terbesar dari bangsa Israel. Sebab dengan demikian sudah tentu kepercayaan Kristen dan hak­hak yang terkandung di dalamnya dipertanyakan.
Pada tahun 1095 Paus Urbanus ii menyerukan untuk mengadakan perang, yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib pertama. Tujuannya adalah membebaskan Tanah Suci, Palestina, dari kaum Islam. Umat Islam dilihat juga sebagai “musuh salib”. Tentu saja dapat dipastikan, bahwa sementara para pejuang salib menuju ke Tanah Suci, mereka membunuh sebanyak mungkin “musuh-musuh salib” lainnya, yakni orang-orang Yahudi yang mereka jumpai di perjalanan. Antara lain di daerah sungai Rhein mereka membunuh orang-orang Yahudi yang dijuluki pembantai­pembantai Kristus bahkan lebih dari itu, pembantai-pembantai Allah. Daerah Rhein pada waktu itu adalah salah satu kubu Yahudi tertua di Eropa. Konon diceritakan bahwa suasana lingkungan hidup bersama bagi orang Yahudi dan Kristen sama sekali diracuni oleh perasaan benci terhadap orang Yahudi yang diamanatkan dan dipraktekkan melalui ajaran dan ketaatan agama. Menurut kebiasaan yang hidup dalam Gereja Katolik Roma, pada Jumat Agung orang dibayar (!) untuk menjewer seorang Yahudi yang berada dalam gereja sebagai balasan atas penghinaan di Golgota. Pada permulaan abad ini masih merupakan kebiasaan di beberapa desa di daerah Elzas untuk membakar sebuah boneka jerami yang melambangkan orang Yahudi di tengah tanah lapang.
Selama berabad-abad gereja merasa terpanggil untuk membawa orang Yahudi pada pertobatan. Orang telah berharap, berdoa dan berusaha agar “selubung” itu disingkapkan.

Dalam sehelai surat penggembalaan dari Sinode Gereja Hervormd di Nederland tahun 1941 masih dinyatakan bahwa “seorang Yahudi adalah seorang dari bangsa Israel yang menolak Yesus Kristus”. Hal itu adalah pertanda bagi kita dari permusuhan manusia terhadap berita Injil ... Orang Yahudi tetap tinggal orang Yahudi dalam arti yang terutama memberatkan dirinya sendiri, orang Yahudi tidak dapat lepas dari dirinya sendiri selama ia tidak datang kepada Kristus ... Umat Yesus Kristus merasa terikat pada doa permohonan bagi kaum Yahudi. Dan mereka memanggil berdasarkan perjanjian yang lama yang masih tetap berlaku, agar orang Yahudi datang kembali kepada Mesiasnya.

Kaum Yahudi dan Yesus
Ada baiknya jika orang Kristen menyadari bahwa agama Kristen bukan suatu masalah “eksistensial” bagi orang-orang Yahudi seperti yang mungkin ia pikirkan. Apa yang terjadi dengan Yesus di bawah kuasa Pontius Pilatus sama sekali tidak mempe­ngaruhi kesadaran agama orang Yahudi dalam abad-abad pertama. Perhatian para rabi terhadap agama Kristen, yang pada waktu itu masih baru, tidak begitu besar sebagaimana sexing diperkirakan. Malahan pada abad keempat orang-orang Yahudi merasa lebih terancam oleh kepercayaan kafir daripada agama Kristen. Pandang-an ini kemudian mulai berubah yang dipengaruhi oleh perkem­bangan politik agama negara Byzantium (Romawi Timur) yang berkuasa. Negara Kristen Byzantium, yang menguasai dunia pada waktu itu, dilihat oleh orang-orang Yahudi sebagai negara dunia keempat, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Daniel dan yang menurut penilaian mereka akan menjurus pada penyembahan berhala.

Yesus dalam Talmud
Menurut David Flusser, sampai pada akhir abad kedua karangan-karangan rabi tidak menyebut hal-hal yang menentang pribadi Yesus. Hanya pengusiran setan-setan dalam nama Yesus yang tidak dapat mereka terima.” Mulai akhir abad kedua muncul polemik-polemik dalam kesusastraan para rabi, yang menentang pokok-pokok pengakuan iman Kristen tertentu, seperti pengakuan bahwa Allah mempunyai seorang Putra. Flusser cenderung untuk menarik kesimpulan bahwa baik Yesus maupun orang Kristen Yahudi ditentang bukan karena kepercayaan mereka. Pertent.t.ngan dengan orang-orang Kristen Yahudi berpangkal terutama pada segi sosial dan nasionalnya.” Juga keadaan politik pada waktu itu menyebabkan penggambaran negatif tentang diri Yesus. Unsur “reaktif' ini perlu diperhatikan. Demikianlah timbul apa yang disebut “injil dari ghetto”. Dalam iklim politik yang permusuhan demikian muncullah tokoh rabi Bin Pandera, yang dilihat sebagai pendiri agama Kristen yang merayu untuk beralih pada penyem­bahan berhala.”
Toledoth Yeshuh adalah kumpulan cerita tentang kehidupan Yesus, yang dikisahkan oleh orang-orang Yahudi dalam bentuk lelucon sebagai ejekan terhadap Kitab-kitab Injil kanonik yang ada. Ceritanya mulai sebagai berikut: Dalam zaman Bait Allah yang kedua, pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius dan Raja Herodes ii, raja Yerusalem yang hidup tanpa Tuhan, hiduplah seorang laki­laki dari keturunan Daud yang bernama Yusuf bin Pandera dan yang mempunyai istri yang bernama Maria. Di sebelah rumahnya tinggal seorang yang tidak mengenal Tuhan, yang bernama Yohanan. Maria cantik dan Yohanan ini ingin memilikinya dan ingin tidur bersamanya. Selanjutnya diceritakan bahwa Maria menjadi ibu dari seorang anak haram, yang jadi tukang sihir, abdi berhala dan penipu, yang berusaha untuk mendapat pengakuan sebagai anak Allah. Yeshuh, si pelaku mujizat itu digantung dan dibuang ke tempat sampah.
Alasan yang melatarbelakangi penyusunan berita “injil dari ghetto” semacam itu adalah guna mencegah kemungkinan untuk berbalik pada kepercayaan kepada Kristus.

Cara kerja demikian menunjukkan persamaan yang kuat dengan pola-pola pembelaan agama Kristen pada Abad Perte­ngahan. Pada zaman itu muncullah penulisan biografi polemis tentang Nabi Muhammad, juga dengan tujuan yang jelas sekali, yakni mencegah orang Kristen menjadi Islam.' Gambaran demikian tentu tidak mempunyai nilai historis, karena tidak menceritakan sesuatu mengenai Yesus yang asli dan historis, melainkan menunjukkan terutama bagaimana reaksi orang pada saat tertentu terhadap diri Yesus sebagaimana Ia digambarkan oleh orang-orang Kristen pada waktu itu.

SEPERTI APA KRISTUS DISERAHKAN BAGI KITA? APA MAKNA PENYERAHAN SEJATI DALAM KRISTUS?


Sebenarnya penyerahan Kristus memiliki dua arti yang berbeda motivasi dan maknanya tergantung pada sikap hati dan tujuan utama dari mereka para pelaku yang memberitakan Dia atau menyerahkan Dia. Secara lahiriah kita seolah tidak bisa membedakan antara yang menyerahkan dengan benar dalam strategi penginjilan yang lintas budaya dan mana yang menyerahakn dengan maksud tertentu yang bukan untuk kemuliaanNya. Beberapa ayat Alkitab di bawa ini akan saya kaji untuk menyimpulkan seperti apa criteria penyerahan Yesus yang benar dan sesuai kehendak Allah agar kita dapat jelas melihat cirri-ciri Penginjilan sejati yang memuliakan Dia.

1. Kristus sebagai Harta yang diserahkan Allah bagi kita untuk kita kelola dan serahkan/berbagi dalam penginjilan
     Dalam Lukas 19 : 12-27 berkisah tentang perumpamaan kerajaan Sorga yang diumpamakan oleh Yesus sebagai harta yang dipercayakan oleh seorang Tuan kepada para hambanya. Harta itu berupa uang talenta dan dipercayakan untuk dikelola (diserahkan) agar dapat berbuah dan beroleh hasil. Sebagian besar tafsiran kotbah dan renungan menafsirkan harta itu sebagi talenta dalam arti kemampuan atau keahlian seseorang, namun saya menemukan hal yang lebih utama dan hakiki dari sekedar hal itu. Sebab jika kita mengacu pada Firman di mana Allah tidak melihat kuat dan gagah (kemampuan) kita dalam hal pemakaianNya atas kita maka terlalu kecil jika kita hanya sampai sebatas menyimpulkan dan memaknai ini sebagai talenta dalam arti lahiriah semata. Sebab dalam iman yang sudah diperbaharui oleh Kristus maka segala sesuatu sesuai dengan pikiran Kristus maka akan menjadikan Kristus sebagai titik tolak, tongkat pengukurnya. Dan jika Kristus sebagai titik tolak atau ukuran segala sesuatu maka kita kan menyadari dan mendapati bahwa adakah talenta dan kemampuan yang sejati pada manusia? Tidak ada selain di dalam Kristus. Maka dari itu Yesus Kristus sendiri telah memberi diri atas kita bukan hanya secara jasmaniah tetapi oleh RohNya Dia tinggal di dalam kita dan menjadi Harta serta Talenta dan sumber segala kemampuan bagi kita untuk mempersembahkan diri ini dan mengelola segala aspek diri kita sebagai harta yang sesungguhnya untuk Dia. Bagaimana Dia yang ada di dalam kita leluasa bekerja dalam penyerahan diri kita dan berbuah berlipat ganda. Inilah yang dimaksud menyerahkan Dia atau memberitakan Dia, memberikan Dia bagi segala bangsa.dia rela diserahkan dan memang tugas kita untuk menyerahkan Dia, bukan dengan cara seperti Yudas dalam pengkhianatan tetapi dalam pengabdian. Mendedikasikan Dia bagi dunia lewat hidup kita. Ini tidak akan tercapai dengan benar jika seseorang belum masuk pada pendalaman dan penerimaan pribadi Kristus dalam batin secara utuh, atau kita simpulkan juga dengan ungkapan perjumpaan pribadi dengan Dia.
2. Menyerahkan Kristus dengan cara yang salah dan benar
     “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2 Korintus : 18 – 19).
     Ayat di atas jelas menunjukkan hubungan dan keterkaitan antara mempercayakan dan pelayanan penginjilan. Sebab yang dipercayakanNya kepada kita adalah Pelayanan penginjilan yang adalah berita dan karunia pendamaian Allah lewat karya Yesus Kristus sang pendamai. Ayat di atas berlaku bagi semua pelayan Injil dan para pelayan Injil adalah setiap mereka yang percaya kepada Kristus. Hanya saja dewasa ini banyak kita temui “penyerahan” yang salah dari para pekerja Injil. Jika tidak mau mendalam dalam Kristus dan tidak mau sepenuhnya bergantung kepada Kristus dan untuk Kristus maka pasti Kristus akan diserahkan dengan cara yang salah dan motivasi yang salah, itu pasti.
     Memang jika kita masuk pada pikiran Kristus atau Teologi Kristosentris (Kristologi sejati) maka kita akan mendapati dan harus mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang seutuhnya murni dan jujur dalam pemberitaan Injil tanpa sedikitpun maksud tertentu. Sebab ukurannya adalah Yesus Kristus dan tolak ukurnya adalah Kristus di mana Dialah pribadi Manusia yang seutuhnya murni dalam pemberitaan Allah. Makanya ketika menyadari itu kita harus masuk pada pengakuan diri di hadapan Dia dan pengakuan atas Dia di dalam keberadaan diri kita. Ini penting dialami agar Kristus itu yang akan semakin memurnikan diri kita hingga kita semakin dilayakkan untuk menyerahkan Dia dengan benar.

3. Penyerahan yang timbal balik di dalam keutuhan pribadi Yesus Kristus
     “Ia yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Roma 8:32
     “ Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa pengudusan.”
Roma 6:19
     Kedua ayat di atas sebenarnya adalah bagian dari rangkaian pasal-pasal awal dalam buku surat Paulus kepada jemaat di Roma yang mana pasal-pasal tersebut erat menyampaikan tentang penyerahan dari kedua belah pihak yaitu Allah dan Manusia. Dalam hal ini Allah sebagai pihak yang utama dan pertama kali menyerahkan DiriNya lewat AnakNya Yesus Kristus bagi kita. Ini adalah wujud penyerahan Allah bagi manusia. Yesus Kristus dalam hal ini telah menjadi Pribadi penghubung antara dua pihak yang dahulu terpisah yaitu Allah dan manusia. Sebagai Allah dalam wujud manusiaNya, Yesus Kristus telah menyerahkan DiriNya untuk menjadi pendamai bagi manusia. Sebagai manusia dalam wujud Ilahi yang sempurna maka Yesus Kristus telah menjadi manusia yang utuh menyerahkan diri kepada Allah karena tidak ada manusia manapun yang sanggup mewakili kemurnian dan penyerahan diri yang setara dengan tuntutan Allah dalam hukum-hukumNya. Maka di sini kita mendapati kesinambungan hidup dan pribadi serta penyerahan diri antara Allah dan manusia di dalam Pribadi Yesus Kristus. Inilah Kristologi, ilmu yang bukan berdasarkan sebatas pengkajian pengetahuan kepala semata tetapi bersumber langsung dari Iman dan pikiran Kristus.
     Jika kita tinggal di dalam Dia dan semakin terbuka untuk dibaharui di dalam Dia secara pribadi, maka kita akan menemui Kebenaran dan Keutuhan Kemuliaan Kristus di dalam diri kita. Inilah Kristologi yang sesungguhnya, hikmat dan kuasaNya tidak didasarkan secara lahiriah dan dari pikiran usaha manusia semata tetapi murni bergerak dan bersumber dari Kristus yang ada di dalam kita. Perbedaannya dengan Kristologi pengetahuan semata adalah Kristologi sejati selalu berawal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh Kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya, itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaku”.
Yohanes 16:13-15.

4. Tidak ada penyerahan diri yang sejati dan benar tanpa Kristus di dalamnya
     “Dan sekalipun Aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai Kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”
1 Korintus 13:3
     Jika kita memakai ukuran moral manusia atau apa yang manusia miliki dalam keterbatasan dan keberdosaanya maka kita seolah bisa menemukan kasih dalam diri setiap orang. Tetapi “kasih” berbeda jauh dengan Kasih. “Iman” berbeda jauh dengan Iman. “Semangat” berbeda jauh dengan Semangat. Yang dimaksudkan di sini adalah apa yang dimiliki oleh manusia adalah cemar di hadapan Allah sebaik apapun itu tetapi apa yang dimiliki Allah itu yang sejati dan semua kesejatian dan kebenaran itu telah ada dan sempurna di dalam Yesus Kristus. Kita telah menerima Dia di dalam kita tentu harus mengakui ini jika kita benar-benar percaya kepadaNya. Ayat di atas adalah bukti dari Kristologi yang amat dalam yang telah meluas dalam pribadi Paulus. Dia hingga mendapati bahwa perbuatan penyerahan diri sebaik apapun milik manusia jika tanpa Kasih atau penyerahan Kristus maka itu sia-sia. Mengapa kasih saya terjemahkan sebagai penyerahan Kristus karena Kasih yang sesungguhnya itu adalah Yesus Kristus. Kristologiu sejati yang bersumber dari Kristus di dalam kita akan selalu menemukan dan menyatakan iman bahwa Dialah yang ada dalam segala sesuatu. Kasih di sini adalah Kristus, bukan semata hanya sebagai objek perbuatan hasil dari subjek tetapi sebagai subjek itu sendiri yang menghasilkan perbuatan. Pikiran terbatas lahiriah masih akan menyikapi setiap ungkapan perbuatan kebenaran dalam Alkitab adalah suatu objek tetapi dalam kedalaman Kristus kita akan menemukan Dia dalam segala Kebenaran yang berawal juga dari Dia.
“Dan sekalipun Aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai Kasih (KRISTUS), sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

5. Hidup dalam penyerahan Kristus
     Mana yang lebih mudah bagi manusia? Berbuat baik atau menyerahkan diri? Untuk berbuat baik bahkan orang di luar Kristus pun sanggup melakukannya. Tetapi untuk penyerahan diri total kepada Allah itu hanya bisa dijalani dengan ikhlas jika kita sudah diperbaharui oleh Kristus dari hari ke hari. Berbuat tanpa penyerahan diri dalam Kristus sebagai dasarnya dan pahamnya maka perbuatan itu cemar dan berbeban. Tetapi jika kita menikmati penyerahan Kristus dalam diri kita maka perbuatan kita terasa bebas olehNya sebab didasarkan pada penyerahanNya di dalam kita. Penyerahan Kristus sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Allah menyerahkan diriNya pada manusia itu ada di dalam Dia dan manusia bisa menyerahkan diri kepada Allah itu juga terwujud dalam Kristus. Jika kita ingin menikmati penyerahan Allah dalam hdiup kita maka tinggalah di dalam Kristus. Jika kita ingin mewujudkan penyerahan diri kepada Allah maka tinggalah juga di dalam Kristus. Kedua aspek itu hanya bisa terpenuhi di dalam Dia dan dalam keluasan pekerjaanNya atas kita. Dalam hal itu maka perlu kerjasama dengan kita, dan bagian kita hanyalah menyerahkan diri kepadaNya. Selebihnya jika kita sudah benar dalam penyerahan diri maka Dialah yang bekerja di dalam kita untuk pekerjaan keselamatan itu di mana perbuatan adalah bagian di dalamnya. Selama seorang Kristen belum mencapai tahap ini dia akan masih sulit dalam menikmati kebebasan hidup dalam kebenaran Allah. Perbuatan baik dan taat dilakukannya dalam tekanan dan beban hukum. Inilah penting sekali kita memberi diri dan meminta untuk semakin menyatu dengan Kristus yang ada di dalam kita. Itulah permintaan Kristen sejati dalam segala doanya.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi diriNya untuk Aku. Aku tidka menolak kasih karunia Allah (Penyerahan Kristus-di mana menyatu antara penyerahan Allah dan manusia), sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat (perbuatan baik lahiriah), maka sia-sialah Kematian Kristus (dampak dari penyerahan diri-kematian daging/hukum dosa).”

Galatia 2:21
(Berry Mangowal S.Pd.K, M.Th)

Wednesday, June 5, 2019

APAKAH GEREJA EROPA SUKSES MENYERAHKAN (MEMBERITAKAN) YESUS ATAU MALAH MENGKHIANATI YESUS?

Menyerahkan atau mengkhianati?

Dari  atas garis-garis besar tentang gambar-gambar Yesus yang berubah-ubah di Eropa, dengan pembatasan seper­lunya, dapat dilihat dengan jelas bahwa dalam gambar-gambar Yesus yang berubah-ubah ini, sebagaimana dapat disimak dari bidang seni rupa, tercermin berbagai pandangan teologis dan aksen dari kurun waktu dan daerah yang berbeda-beda. Namun per­tanyaan yang timbul di sini seperti dalam sambungannya nanti, ialah: adakah yang dipentingkan dalam penggambaran Yesus ini aspek-aspek karya dan makna-Nya secara bertanggung jawab, atau apakah Ia kadang-kadang malahan lebih seiring digambarkan salah, cacat, bahkan dikhianati?
Yang menggugah hati ialah bagaimana Perjanjian Baru menguraikan tugas rasuli dengan menggunakan kata “menye­rahkan” (paradidomi). Kata ini mempunyai arti ganda dalam bahasa Yunani. Itu dapat berarti penyerahan dalam pengertian penyampaian, yaitu penyerahan (turun-temurun) suatu tradisi, tetapi dapat pula berarti pengkhianatan. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menggunakan kata itu dengan kedua pengertian termaksud, dalam hubungan yang sama: “Sebab aku serahkan kepada Saudara-saudara apa yang diserahkan Tuhan kepadaku, yaitu bahwa Tuhan Yesus pada malam waktu Ia diserahkan (dikhianati), mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: 'Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Akur Jelaslah di sini bahwa seorang rasul adalah atau dapat menjadi oknum yang menyerahkan (sesuatu), juga dalam arti pengkhianatan seperti apa yang dicerita­kan tentang Yudas.
Apakah para rasul dan gereja-gereja sesudah itu, yaitu para penginjil dan para misionaris, telah dengan setia menyampaikan dan memberitakan apa yang telah mereka lihat dan dengar, atau mengkhianati Yesus dan Injil-Nya? (bnd. 1 Yoh 1:1-3). Hal itu perlu dipersoalkan dalam hubungan dengan “penyerahan” Yesus di Eropa selama berabad-abad. Apakah penyerahan itu diartikan pengkhianatan, bilamana Kristus diperkenalkan seakan-akan Ia penguasa yang memberi kekuasaan kepada gereja dan pemerintah? Apakah masuknya Konstantinus Agung ke dalam gereja Kristen bukan suatu cara untuk mengintegrasikan kerajaan Romawi? Gambaran orang Byzantium dari Kristus sebagai Pantokrator sendiri bisa dilihat sebagai ungkapan dari kata-kata Matins 28:18, “KepadaKu diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Akan tetapi bukankah tafsiran yang ada sesudah Konstantinus mengubah pengakuan bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Jesos Khristos Kurios) itu, menjadi gagasan yang membuat Kristus seorang Kaisar, yang rupanya mengakui keabsahan kekuasaan seorang kaisar Kristen? Apakah kaisar menjadi lambang kemenangan Kristus' di bawah pengaruh tafsiran Eusebius dan terjadikah sejak abad keempat apa yang Heering sebut “kejatuhan agama Kristen ke dalam dosa”?' Bukankah dengan demikian sudah tercipta suatu perbedaan besar antara Yesus yang dikenal dari Kitab-kitab Injil, yaitu yang memberitakan Injil kepada orang miskin dan Yesus dari kemenangan Konstantinus ini? Siapa yang menang, Yesus Kristus atau kaisar itu? Bukankah yang dilupakan ialah bahwa dalam pengakuan yang asli, yaitu “Yesus Kristus Tuhan”, yang dipen­tingkan adalah Tuhan (Kurios) yang telah menjadi hamba (doulos) dan dengan demikian diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi dan akan menyertai murid-murid-Nya sampai kesudahan alam?
Oleh Choan Seng Song ditunjukkan bagaimana pax romana diganti dengan pax christiana dan bagaimana Yesus disampaikan bukan sebagai sahabat semua orang, terutama orang miskin dan yang tertindas, melainkan sebagai kaisar dan penguasa, hakim, filsuf, penguasa semesta alam dan yang memerintah segala-galanya. Demikianlah - kembali hal itu dapat dilihat dalam karya-karya kesenian - menjadi jelas bagaimana kandang yang hina diubah menjadi istana dan perawan yang suci itu dan Yusuf yang baik budi menjadi kerabat istana.
Apakah “Kristus zaman kolonial” yang “diserahkan” oleh orang Eropa dalam abad ke-15 kepada benua Afrika, Amerika dan Asia tidak sering setaraf dengan “kejatuhan ke dalam dosa” tadi?
Bukankah orang terlalu sering pergi ke sana dalam nama Yesus Kristus bukan untuk melayani, tetapi untuk berkuasa? Bukankah itu yang terutama dilakukan orang Spanyol dan Portugis, kemudi­an diikuti oleh bangsa Eropa lain?
Dalam sebuah lukisan Vicente Manansala dari Filipina tergambar peristiwa penanaman salib pertama di Filipina. Pelukis itu memperlihatkan dengan jelas bagaimana hubungan antara “misi” dan “imperialisme”. Seorang imam memberkati suatu salib yang besar, yang baru solo ditanam oleh buruh pribumi, sementara prajurit Spanyol memerintah mereka dengan menggunakan senjata tombak. Bukankah pada waktu itu dan juga sesudah itu, mereka dan banyak orang lain memutarbalikkan Injil Yesus Kristus dan gambaran-Nya? Salib yang adalah tanda hukuman mati orang yang tidak bersalah, disalahgunakan dan berfungsi sebagai pedang untuk melawan orang Yahudi (yang memuncak dalam aksi pembantaian “Holocaust” oleh rezim Hitler), melawan kaum Muslim (Perang Salib), melawan orang Indian dan orang kulit hitam (perbudakan).
Leonardo da Vinci membuat lukisan dari Perjamuan Malam Terakhir, yang kemudian menjadi sangat terkenal. Apabila ada yang bertanya, “Yang mana Yudas dalam lukisan itu?”, tidak mudah akan terjawab pertanyaan itu, kecuali kalau sudah terlebih dahulu diberikan petunjuk-petunjuk tertentu. Lain halnya dengan lukisan-lukisan terdahulu dari peristiwa tersebut, yang dibuat oleh pelukis-pelukis lain. Pertanyaan tadi akan mudah terjawab, karena dengan jelas sekali Yudas digambarkan duduk terpisah dari yang lain. Tidak demikian halnya dengan lukisan Leonardo. Ia telah mengungkapkan peristiwa itu pada saat Yesus Kristus mengatakan, “Seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu semua murid berkata, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Mat 26:22). Ternyata semua rasul, “yang pada hakikatnya memang yang menyerah­kan” (!), menganggap dirinya “pengkhianat” yang potensial. Dari mulanya penyerahan dan pengkhianatan berkaitan erat.
Sebenarnya masih merupakan suatu keajaiban bahwa Yesus Kristus tetap diberitakan (“diserahkan”), walaupun Ia sudah banyak kali dikhianati. Namun apakah pernah ada penyerahan tanpa pengkhianatan?
Dalam hal menelusuri bagaimana Yesus disampaikan (“diserahkan”), diberitakan, diterjemahkan atau juga dikhianati di luar Eropa, teristimewa sejak orang (yang dimaksud orang Eropal menjelajahi bumi pada abad ke-15, maka ada dua hal yang perlu dipermasalahkan. Pertama bagaimana Yesus digambarkan dan disampaikan pembawa-pembawa Injil ke bagian-bagian dunia lain itu, dan yang kedua, bagaimana Yesus disambut, dimengerti atau juga ditemukan oleh mereka yang menerima Injil itu.
Siapa yang mempersoalkan bagaimana Yesus disampaikan ke dalam berbagai kebudayaan, bagaimana Ia melintasi bermacam­macam perbatasan, pertama-tama harus menyadari satu fakta bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Hal yang penting dan mendasar bagi orang Kristen masa kini, dari kebudayaan manapun ia berasal, ialah bagaimana ia dapat memahami Yesus dalam konteks keyahudian-Nya itu. Banyak sumbangan pikiran berharga dari orang Yahudi kini mencoba untuk “memulangkan” Yesus (Heim­hohlung Jesu) (Bab I), yang ditinjau dari banyak segi, sudah terasing dari latar belakang asli-Nya, yakni Yahudi.
Dalam dunia Islam Yesus bukan orang asing dan sangatlah penting jika disadari bahwa nama-Nya - juga di luar jangkauan pengaruh agama Kristen - di sebagian besar dunia Islam dikenal melalui gambaran “Kristus dari kaum Muslim ini” (Bab II).
Sejak abad ke-15 orang mulai menjelajahi bumi, maka Afrika (beberapa bagian baru untuk pertama kalinya) dan yang kemudian dinamakan Amerika Latin seakan-akan “dikunjungi” Kristus. Yesus yang bagaimana disampaikan kepada “dunia baru”, yaitu dunia orang Indian, dan bagaimana Ia disambut. Bagaimana “Kristus Spanyol” dibandingkan dengan “Yesus sebagai Pembebas” (Bab ini)? Dalam kurun waktu yang sama orang Eropa menerobos “kontinen hitam”. Perdagangan budak dimulai dan orang Afrika berkulit hitam dikapalkan ke “dunia baru”. Apakah Yesus “berkulit hitam” (Bab IV)? Bagaimana Ia dimengerti dalam konteks Afrika (Bab V)? Bagaimana Yesus yang “diserahkan” dari Eropa dibandingkan dengan Kwaku (di Suriname)? Suatu pertanyaan yang menarik, karena banyak orang “Kristen Afrika” itu kini tinggal di Belanda dan dikenal sebagai orang Suriname      (Bab VI). Bagaimana rupa Yesus berwajah Asia (Bab VII) yang sebenarnya juga negeri asal-Nya sendiri? Hal itu juga dipersoalkan dalam hubungan bagaimana Yesus dihubungkan dengan agama-agama yang terbesar di Asia, seperti Agama Hindu, Buddha dan Tao.
Bagaimana Yesus menempuh Jalan Raya India (Bab VIII), mengutip judul buku penginjil terkenal E. Stanley Jones. Bagaimana hubungan Yesus dengan dunia Tao (Bab IX)?
Jelaslah bahwa tiap bab merupakan pokok bahasan tersendiri yang sangat luas. Dengan cara bagaimanapun tidak mungkin tercapai kesempurnaan. Namun diharapkan bahwa bahan yang dikemukakan dari ketiga benua, yakni Amerika Latin, Afrika dan Asia, cukup untuk sedikit banyak dapat menjawab pertanyaan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15) (Bab X). Di Kaisarea Filipi Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “Menurut kata orang, Anak Manusia itu siapa?” Bermacam-macam jawaban diberikan, bervariasi dari Yohanes Pembaptis, Elia sampai Yeremia atau salah seorang nabi. Lalu Yesus bertanya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:13-16).”
Dari cerita yang sama menjadi jelas bahwa Petrus, yang karena pengakuannya itu dinyatakan bahagia, merasa kecewa atas pemberitahuan Yesus, bahwa Ia harus menderita - Enyahlah Iblis (Mat 16:23). Petrus kemudian menyangkal-Nya tiga kali (Mat. 26:69-75). Siapakah Yesus? Albert Schweitzer mengakhiri hasil penelitian yang sangat mendetail tentang sejarah penelaahan kehidupan Yesus dengan menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: “Sebagai orang yang tak dikenal dan tak ternama Ia datang kepada kita, sama seperti ketika Ia berdiri di tepi danau dan berbicara kepada orang-orang yang tidak tahu siapa Dia. Iapun kini berkata sama, “Ikutlah Aku!” Dan memberikan kepada kita tugas yang hendak Ia genapi dalam zaman kita ini. Ia memerintah. Dan kepada mereka yang patuh kepada-Nya, baik yang bijaksana maupun yang kurang bijaksana, Ia akan menyatakan diri di dalam perdamaian, pekerjaan, pergumulan dan penderitaan yang mereka boleh alami dalam persekutuan dengan Dia dan sebagai rahasia yang tak terkatakan mereka akan mengetahui siapa Dia.”

APA ITU KRISTOLOGI FEMINIS DAN DIMENSI KRISTOLOGI? BAGAIMANA TANGGAPAN PARA TEOLOG DARI ZAMAN KE ZAMAN?

Kristologi Feminis
     Kristologi Feminis adalah Kristologi yang memakai pendekatan feminis, yakni dari kacamata ketidakadilan, penindasan dan penderitaan. Kristologi ini dibagi menjadi dua; di Barat disebut Kristologi ekofeminis dan di Timur disebut Kristologi feminis Kosmis. Allah umat Kristen yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki karena dalam diri Yesus yang laki-laki kemudian digeser menjadi Kristus yang menyimbulkan keduanya. Kata logos yang tadinya dalam Injil Yohanes 4:1-42 adalah maskulin yang menjadikan kecenderungan patriarkal, maka dipahami sebagai sofia dalam perspektif feminis. Hal ini diperoleh dari kehidupan Yesus yang sangat menghargai kaum perempuan, dalam karya-karyanya, bahkan ketika Dia bangkit, perempuanlah yang pertama kali melihat kuburnya yang kosong. Simbol sofia digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Yesus sebagi hikmat Allah dalam I Korintus 1:24. Kristologi feminis-kosmis mengajak umat Kristen untuk mendengarkan korban ketidakadilan dan menginternalisasikan jeritan itu menuju praksis solidaritas.

Dimensi Kristologi
     Ketuhanan Yesus (Keilahian Kristus) "Yesus adalah Tuhan", hal ini diyakini umat Kristen dan Katolik. Ini problem terbesar bagi orang Kristen ketika diperhadapkan dengan orang-orang beragama lain. Inilah yang membedakan umat lain, sebab tidak sama dengan tokoh-tokoh panutan agama lain seperti Krisna, Muhammad, Sang Budha, Konfusius atau Lao Tse. Namun Yesus Kristus diyakini umat Kristen sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Keilahian Kristus adalah hakekat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Lord Jesus" diartikan Tuhan Yesus.

Pendamaian Kristus
     Pendamaian Kristus berarti Kristus sebagai pendamai antara Allah dengan manusia. Pendamaian ini diperlukan karena hubungan manusia dan Allah sudah putus disebabkan dosa-dosa manusia. Antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa terdapat jarak yang memisahkan. Jadi Kristus diutus untuk datang ke dunia, sehingga hubungan itu bisa dipulihkan. Makna Kristus sebagai Sang Pendamai dilalui dengan peristiwa penyalibannya di bukit Golgota. Dari peristiwa inilah Kristologi terkait pendamaian yang dilakukan Kristus di kayu salib dibicarakan.

Kristus Sang Pembebas
     Kristus Sang Pembebas adalah makna yang selalu hadir terkait dengan penderitaan yang ingin dientaskan oleh Kristus. Mulai dari istilah Mesias dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru, selalu dikaitkan sebagai pembebas. Kematian Kristus di kayu Salib adalah wujud tindakan Allah untuk menebus dosa manusia terkait akibat dosa yaitu maut.

Tokoh-tokoh Kristologi
     Para pemikir yang menghuni pada 'ruang' pemikiran Kristologi ini sangat banyak, terbentang dari Bapa-bapa Gereja abad kedua, Abad ke empat, reformasi bahkan hingga sekarang.

Anselmus dari Cantebury
     Anselmus adalah teolog dan filsuf yang hidup pada Abad Pertengahan. Berasal dati Italia, terkenal dengan pemikiran Skolastisismenya. Karya yang paling terkenal berjudul Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi Manusia). Di dalam konteks sosiologis feodalisme, Anselmus menelaah mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati untuk menyelamatkan manusia, dan mempertanyakan apakah tidak ada cara lain untuk meyelamatkan. Menurut Anselmus, Yesus Kristus wafat untuk melakukan silih (ganti) atas dosa; tanpa penyilihan itu tatanan alam semesta akan kacau balau untuk selamanya. Dengan jalan itu, baik keadilan, anugerah maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan. Anselmus memulai teologinya dari keyakinannya bahwa seseorang bisa berteologi hanya setelah dia beriman  fides quarens intellectum. Iman ini mencakup sikap iman fides qua creditur maupun isi iman fides quae creditur. Dengan demikian, obyek teologi sebenarnya adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi Allah dan manusia berlangsung melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus merupakan realitas dinamik yang terus berlangsung di seluruh sejarah Gereja.

Thomas Aquinas (1225-1274)
     Thomas Aquinas adalah tokoh Skolastik yang terbesar di abad pertengahan dari Italia. Ia adalah seorang Katolik yang saleh, mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Katolik dan mengajar Filsafat dan Teologi di Paris. Pemikirannya tentang kodrat manusia adalah, bahwa manusia menjadi tidak sempurna ketika jatuh dalam dosa, dan diselamatkan Allah melalui rahmat adikodrati yang ditawarkan Gereja.

Martin Luther (1483-1546)
     Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi Protestan, yang membawa pembaharuan sehingga Gereja Lutheran terbentuk. Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus.


Yohanes Kalvin (1509-1564)
     Yohanes Kalvin adalah seorang pemimpin reformasi Protestan di Swiss. Dia dilahirkan di kota Noyon, Perancis. Dia ahli hukum dan teologi, dia banyak membantu gereja di Jenewa ketika reformasi, dia djuga dikenal dalam sumbangannya terhadap pembaharuan Mazmur Jenewa. Seperti halnya Luther, dia mengajarkan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman atau Sola Fide. Keselamatan didapat dari Allah sebagai karunia di dalam Kristus.
     Terkait dengan dalilnya dalam Trinitas, yaitu Bahwa Allah Bapa sebagai asal perbuatan, Putera sebagai asal dari hikmat, maksud dan kehendak dan Roh Kudus sebagai kekuatan dan dorongan untuk berbuat.. Tidak satu pun dari ketiga oknum ini bekerja sendirian.
     Tabiat Kristus; Keallahan-Nya dan kemanusian-Nya sangat dipertahankan oleh Kalvin, Kristus adalah perantara bagi manusia. Kristus adalah benar-banar Allah.
Dalam diri Kristus, seolah-olah Allah memperkecil Diri-Nya untuk dapat mendapatkan daya mengerti manusia yang picik itu
Tujuan tertinggi kemanusiaan Kristus ialah:
Tuhan Yesus telah mengenakan diri Adam, telah memakai nama-Nya untuk sebagai gantinya taat kepada Bapa, untuk menyerahkan daging tubuh kita selaku korban bagi pemenuhan penghakiman Allah yan gadil dan dalam dagin gitu melunaskan hukuman, yang seyogyanya kita yang menerimanya. Pendeknya, andaikata Ia Allah saja, tak mungkin Ia dapat mati, dan andaikata Ia hanya manusia, tak dapat Ia mengalahkan maut. Itulah sebabnya Ia telah mempersatukan tabiat [insani] dan Ilahi dalam diri-Nya, untuk menyerahkan tabiat insani yang tak berdaya itu kepada maut dan untuk dengan tabiat Ilahi-Nya bergumul daengan maut dan memperoleh kemenangan bagi kita, untuk menebus dosa manusia
     Perbedaannya dengan Luther adalah penghargaan terhadap kemanusiaan Yesus, bahwa kehadiran-Nya dalam Perjamuan Kudus melalui transubstansiasi dianggapnya merendahkan kemanusiaan Kristus.
Karl Rahner (1904-1984)
     Karl Rahner dilahirkan di keluarga Katolik Bavaria - Jerman Barat, terdidik dalam ketaatan. Pada Perang Dunia II tidak dikenal, namun tahun 1960 pada Konsili Vatikan II menjadi pusat perhatian dalam teologi modern. Teologinya dianggap sebagai aliran neo-skolastisisme yang dipengaruhi Aquinas. Karl Rahner dalam berkristologi ingin menekankan pada "sesuatu" yang berasal dari dialektis (perjumpaan) antara simbol dan penyimbolan, terkhusus pada simbol Yesus. Simbol menurut Rahner adalah "sesuatu yang menjadi perantara sesuatu lain dari dirinya sendiri, petunjuk penting bahwa Yesus adalah benar-benar dari Allah untuk dunia. Kristologi Thomas Aquinas yang berpusat pada inkarnasi Allah pada diri Yesus. Karl Rahner menyebutnya, Yesus sebagai "Tuhanku dan Allahku". Melalui teori simbol (Yunani : ĻƒĻĪ¼Ī²ĪæĪ»Īæ) bahwa melalui yang ada saat ini, maka ia merasa bisa mendapati yang lain. Melalui kemanusiaan Kristus yang terbatas, Allah yang tak terbatas bisa didapat.  Bagi Rahner, Kedatangan Kristus bukan karena semata-mata harus mengampuni dosa manusia, melainkan karena rahmat.  Seandainya Adam tidak berdosa, Rahner mengandaikan Kristus tetap akan datang kedunia, meninggal, dan bangkit kembali.  Rahner tidak menolak kenyataan atau daya tarik dosa dan kejahatan, ia juga tidak menyangkal bahwa inkarnasi, salib, dan kebangkitan kembali berkaitan dengan pengampunan dosa.  Tetapi itu semua bukanlah pokok persoalannya; Kristus tidak bisa dilihat hanya sebagai obat bagi dosa-dosa manusia.  Dosa, seperti yang dilihat oleh Rahner, tidak bisa menjadi motor penggerak cerita tentang keterlibatan Allah dengan dunia.
     Kristologi Rahner sebenarnya bertolak dari Konsili Khalsedon.  Kristologi yang dirumuskan pada akhir masa perjuangan politik, gereja sehingga dapat diterima sebagian besar perserta Konsili, di mana dalam Kristus ada kemanusiaan dan keilahian secara bersamaan.  Kristus dan rahmat menjadi pemikiran mendasar dari Karl Rahner, Allah bisa dilihat dari kemanusiaan Kristus dan bermula dari kemanusiaan masing-masing orang.  Di sinilah perbedaan kristologinya Karl Barth.  Menurut Barth, Allah tidak bisa dikenal dari sekadar membicarakan manusia.
Karl Barth (1886-1968)
     Karl Barth adalah teolog dari Swiss pada era reformasi di abad ke-20, dia membawa pembaharuan yang besar dari teologi abad 19.  Dia belajar teologi di Jerman.  Teologinya disebut dialektis, sebab berawal dari Allah yang ada di Sorga dan suci, dia mengirimkan Kristus yang begitu dekat di dunia yang hina, sehingga pertemuan dua hal yang bertentangan ini disebut dialektis.
     Kristologi Barth dimulai dari pre-eksistensi Kristus, Kristus menjadi sentral teologinya.  Tuhan Allah menyatakan anugerahnya dalam Kristus sekaligus mengikatkan diri-Nya pada Kristus.  Pemulihan manusia ditentukan pada pemilihan Tuhan Allah terhdap Kristus, Allah memilih Kristus sekaligus Tuhan Allah memilih manusia sebagai sekutu-Nya.
Gustavo Gutierrez
     Gustavo GutiĆ©rrez Merino, O.P. (lahir di Lima, Peru, 8 Juni 1928; umur 82 tahun) adalah seorang teolog Peru dan imam Dominikan, Amerika Latin.  Dalam bukunya yang sangat terkenal Teologi Pembebasan terjemahan dari judul asli Liberation of Theology tahun 1971, dia meyatakan bahwa penindasan oleh kapitalisme harus dilawan.  Bagi dia, Amerika Latin lebih membutuhkan pembebasan dibanding pembangunan.  Kristus harus dimaknasi sebagai pembebas dari segala penindasan dan ketidakadilah yang sedang berlangsung.  Sebelum Gutierrez juga telah ada seorang martir yang menerbitkan buku yang isinya sangat kotroversi, yaitu Imam Kolumbia Camillo Torres yang menyatakan bahwa "setiap orang Katolik yang tidak revolusioner hidup dalam dosa dan layak dihukum mati".Banyak buku-buku yang diterbitkan pada zaman Gutierrez ini bertema tentang pembebasan.
Kristologi pembebasan memiliki landasan yang kuat berakar pada pemahaman bahwa Kristus adalah Sang pembebas.  Pembebasan tersebut dilihat sebagai wujud kesatuan dengan Yesus Kristus sebagai Pembebas, wujud penyembahan kepada Allah yang mendengarkan jeritan umat-Nya dan menghendaki keadilan.
Teologi Guiterrez bisa dilihat dalam salah satu kutipan berikut ini:  

Berlaku adil berarti menjadi setia pada perjanjian. Kesetiaan berarti kekudusan. Keadilah dalam Kitab Suci adalah pengertian yang membawa bersama relasi dengan kaum miskin dan relasi dengan Allah. Hanya dalam jalan ini dicapai kekudusan. Setia pada perjanjian berarti mempraktekkan keadilan yang berlaku dalam tindakan Allah yang membebaskan kaum tertindas  ”.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...