Sebenarnya penyerahan Kristus memiliki dua arti yang berbeda
motivasi dan maknanya tergantung pada sikap hati dan tujuan utama dari mereka
para pelaku yang memberitakan Dia atau menyerahkan Dia. Secara lahiriah kita
seolah tidak bisa membedakan antara yang menyerahkan dengan benar dalam
strategi penginjilan yang lintas budaya dan mana yang menyerahakn dengan maksud
tertentu yang bukan untuk kemuliaanNya. Beberapa ayat Alkitab di bawa ini akan
saya kaji untuk menyimpulkan seperti apa criteria penyerahan Yesus yang benar
dan sesuai kehendak Allah agar kita dapat jelas melihat cirri-ciri Penginjilan
sejati yang memuliakan Dia.
1.
Kristus sebagai Harta yang diserahkan Allah bagi kita untuk kita kelola dan serahkan/berbagi
dalam penginjilan
Dalam Lukas 19 :
12-27 berkisah tentang perumpamaan kerajaan Sorga yang diumpamakan oleh Yesus
sebagai harta yang dipercayakan oleh seorang Tuan kepada para hambanya. Harta
itu berupa uang talenta dan dipercayakan untuk dikelola (diserahkan) agar dapat
berbuah dan beroleh hasil. Sebagian besar tafsiran kotbah dan renungan
menafsirkan harta itu sebagi talenta dalam arti kemampuan atau keahlian
seseorang, namun saya menemukan hal yang lebih utama dan hakiki dari sekedar
hal itu. Sebab jika kita mengacu pada Firman di mana Allah tidak melihat kuat
dan gagah (kemampuan) kita dalam hal pemakaianNya atas kita maka terlalu kecil
jika kita hanya sampai sebatas menyimpulkan dan memaknai ini sebagai talenta
dalam arti lahiriah semata. Sebab dalam iman yang sudah diperbaharui oleh
Kristus maka segala sesuatu sesuai dengan pikiran Kristus maka akan menjadikan
Kristus sebagai titik tolak, tongkat pengukurnya. Dan jika Kristus sebagai
titik tolak atau ukuran segala sesuatu maka kita kan menyadari dan mendapati
bahwa adakah talenta dan kemampuan yang sejati pada manusia? Tidak ada selain
di dalam Kristus. Maka dari itu Yesus Kristus sendiri telah memberi diri atas
kita bukan hanya secara jasmaniah tetapi oleh RohNya Dia tinggal di dalam kita
dan menjadi Harta serta Talenta dan sumber segala kemampuan bagi kita untuk
mempersembahkan diri ini dan mengelola segala aspek diri kita sebagai harta
yang sesungguhnya untuk Dia. Bagaimana Dia yang ada di dalam kita leluasa
bekerja dalam penyerahan diri kita dan berbuah berlipat ganda. Inilah yang
dimaksud menyerahkan Dia atau memberitakan Dia, memberikan Dia bagi segala
bangsa.dia rela diserahkan dan memang tugas kita untuk menyerahkan Dia, bukan
dengan cara seperti Yudas dalam pengkhianatan tetapi dalam pengabdian.
Mendedikasikan Dia bagi dunia lewat hidup kita. Ini tidak akan tercapai dengan
benar jika seseorang belum masuk pada pendalaman dan penerimaan pribadi Kristus
dalam batin secara utuh, atau kita simpulkan juga dengan ungkapan perjumpaan
pribadi dengan Dia.
2. Menyerahkan Kristus dengan cara yang
salah dan benar
“Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan
perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah
mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan
dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran
mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2 Korintus
: 18 – 19).
Ayat di atas jelas menunjukkan hubungan
dan keterkaitan antara mempercayakan dan pelayanan penginjilan. Sebab yang
dipercayakanNya kepada kita adalah Pelayanan penginjilan yang adalah berita dan
karunia pendamaian Allah lewat karya Yesus Kristus sang pendamai. Ayat di atas
berlaku bagi semua pelayan Injil dan para pelayan Injil adalah setiap mereka
yang percaya kepada Kristus. Hanya saja dewasa ini banyak kita temui
“penyerahan” yang salah dari para pekerja Injil. Jika tidak mau mendalam dalam
Kristus dan tidak mau sepenuhnya bergantung kepada Kristus dan untuk Kristus
maka pasti Kristus akan diserahkan dengan cara yang salah dan motivasi yang
salah, itu pasti.
Memang jika kita masuk pada pikiran
Kristus atau Teologi Kristosentris (Kristologi sejati) maka kita akan mendapati
dan harus mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang seutuhnya murni dan jujur
dalam pemberitaan Injil tanpa sedikitpun maksud tertentu. Sebab ukurannya
adalah Yesus Kristus dan tolak ukurnya adalah Kristus di mana Dialah pribadi
Manusia yang seutuhnya murni dalam pemberitaan Allah. Makanya ketika menyadari
itu kita harus masuk pada pengakuan diri di hadapan Dia dan pengakuan atas Dia
di dalam keberadaan diri kita. Ini penting dialami agar Kristus itu yang akan
semakin memurnikan diri kita hingga kita semakin dilayakkan untuk menyerahkan
Dia dengan benar.
3. Penyerahan yang timbal balik di
dalam keutuhan pribadi Yesus Kristus
“Ia yang tidak menyayangkan anakNya
sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia
tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Roma 8:32
“ Aku mengatakan hal ini secara manusia
karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan
anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa
kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan
anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa pengudusan.”
Roma 6:19
Kedua ayat di atas sebenarnya adalah
bagian dari rangkaian pasal-pasal awal dalam buku surat Paulus kepada jemaat di
Roma yang mana pasal-pasal tersebut erat menyampaikan tentang penyerahan dari
kedua belah pihak yaitu Allah dan Manusia. Dalam hal ini Allah sebagai pihak
yang utama dan pertama kali menyerahkan DiriNya lewat AnakNya Yesus Kristus
bagi kita. Ini adalah wujud penyerahan Allah bagi manusia. Yesus Kristus dalam
hal ini telah menjadi Pribadi penghubung antara dua pihak yang dahulu terpisah
yaitu Allah dan manusia. Sebagai Allah dalam wujud manusiaNya, Yesus Kristus
telah menyerahkan DiriNya untuk menjadi pendamai bagi manusia. Sebagai manusia dalam
wujud Ilahi yang sempurna maka Yesus Kristus telah menjadi manusia yang utuh
menyerahkan diri kepada Allah karena tidak ada manusia manapun yang sanggup
mewakili kemurnian dan penyerahan diri yang setara dengan tuntutan Allah dalam
hukum-hukumNya. Maka di sini kita mendapati kesinambungan hidup dan pribadi
serta penyerahan diri antara Allah dan manusia di dalam Pribadi Yesus Kristus.
Inilah Kristologi, ilmu yang bukan berdasarkan sebatas pengkajian pengetahuan
kepala semata tetapi bersumber langsung dari Iman dan pikiran Kristus.
Jika kita tinggal di dalam Dia dan semakin
terbuka untuk dibaharui di dalam Dia secara pribadi, maka kita akan menemui
Kebenaran dan Keutuhan Kemuliaan Kristus di dalam diri kita. Inilah Kristologi
yang sesungguhnya, hikmat dan kuasaNya tidak didasarkan secara lahiriah dan
dari pikiran usaha manusia semata tetapi murni bergerak dan bersumber dari
Kristus yang ada di dalam kita. Perbedaannya dengan Kristologi pengetahuan
semata adalah Kristologi sejati selalu berawal dari Dia, oleh Dia, dan untuk
Dia.
“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan
memimpin kamu ke dalam seluruh Kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari
diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya, itulah yang akan
dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia
akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya
dari padaKu. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab
itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari
padaku”.
Yohanes 16:13-15.
4. Tidak ada penyerahan
diri yang sejati dan benar tanpa Kristus di dalamnya
“Dan sekalipun Aku
membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku
untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai Kasih, sedikitpun tidak ada
faedahnya bagiku.”
1 Korintus 13:3
Jika kita memakai
ukuran moral manusia atau apa yang manusia miliki dalam keterbatasan dan
keberdosaanya maka kita seolah bisa menemukan kasih dalam diri setiap orang.
Tetapi “kasih” berbeda jauh dengan Kasih. “Iman” berbeda jauh dengan Iman. “Semangat”
berbeda jauh dengan Semangat. Yang dimaksudkan di sini adalah apa yang dimiliki
oleh manusia adalah cemar di hadapan Allah sebaik apapun itu tetapi apa yang
dimiliki Allah itu yang sejati dan semua kesejatian dan kebenaran itu telah ada
dan sempurna di dalam Yesus Kristus. Kita telah menerima Dia di dalam kita
tentu harus mengakui ini jika kita benar-benar percaya kepadaNya. Ayat di atas
adalah bukti dari Kristologi yang amat dalam yang telah meluas dalam pribadi
Paulus. Dia hingga mendapati bahwa perbuatan penyerahan diri sebaik apapun
milik manusia jika tanpa Kasih atau penyerahan Kristus maka itu sia-sia.
Mengapa kasih saya terjemahkan sebagai penyerahan Kristus karena Kasih yang
sesungguhnya itu adalah Yesus Kristus. Kristologiu sejati yang bersumber dari
Kristus di dalam kita akan selalu menemukan dan menyatakan iman bahwa Dialah
yang ada dalam segala sesuatu. Kasih di sini adalah Kristus, bukan semata hanya
sebagai objek perbuatan hasil dari subjek tetapi sebagai subjek itu sendiri
yang menghasilkan perbuatan. Pikiran terbatas lahiriah masih akan menyikapi
setiap ungkapan perbuatan kebenaran dalam Alkitab adalah suatu objek tetapi
dalam kedalaman Kristus kita akan menemukan Dia dalam segala Kebenaran yang
berawal juga dari Dia.
“Dan sekalipun Aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada
padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak
mempunyai Kasih (KRISTUS), sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”
5. Hidup dalam penyerahan Kristus
Mana yang lebih mudah bagi manusia?
Berbuat baik atau menyerahkan diri? Untuk berbuat baik bahkan orang di luar
Kristus pun sanggup melakukannya. Tetapi untuk penyerahan diri total kepada
Allah itu hanya bisa dijalani dengan ikhlas jika kita sudah diperbaharui oleh
Kristus dari hari ke hari. Berbuat tanpa penyerahan diri dalam Kristus sebagai
dasarnya dan pahamnya maka perbuatan itu cemar dan berbeban. Tetapi jika kita
menikmati penyerahan Kristus dalam diri kita maka perbuatan kita terasa bebas
olehNya sebab didasarkan pada penyerahanNya di dalam kita. Penyerahan Kristus
sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Allah menyerahkan diriNya pada manusia itu
ada di dalam Dia dan manusia bisa menyerahkan diri kepada Allah itu juga
terwujud dalam Kristus. Jika kita ingin menikmati penyerahan Allah dalam hdiup
kita maka tinggalah di dalam Kristus. Jika kita ingin mewujudkan penyerahan
diri kepada Allah maka tinggalah juga di dalam Kristus. Kedua aspek itu hanya
bisa terpenuhi di dalam Dia dan dalam keluasan pekerjaanNya atas kita. Dalam
hal itu maka perlu kerjasama dengan kita, dan bagian kita hanyalah menyerahkan
diri kepadaNya. Selebihnya jika kita sudah benar dalam penyerahan diri maka
Dialah yang bekerja di dalam kita untuk pekerjaan keselamatan itu di mana
perbuatan adalah bagian di dalamnya. Selama seorang Kristen belum mencapai
tahap ini dia akan masih sulit dalam menikmati kebebasan hidup dalam kebenaran
Allah. Perbuatan baik dan taat dilakukannya dalam tekanan dan beban hukum.
Inilah penting sekali kita memberi diri dan meminta untuk semakin menyatu
dengan Kristus yang ada di dalam kita. Itulah permintaan Kristen sejati dalam
segala doanya.
“Namun aku hidup, tetapi
bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman
dalam Anak Allah yang telah mengasihi diriNya untuk Aku. Aku tidka menolak
kasih karunia Allah (Penyerahan Kristus-di mana menyatu antara penyerahan Allah
dan manusia), sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat (perbuatan baik
lahiriah), maka sia-sialah Kematian Kristus (dampak dari penyerahan
diri-kematian daging/hukum dosa).”
Galatia 2:21
(Berry Mangowal S.Pd.K, M.Th)
No comments:
Post a Comment