Thursday, June 27, 2019

SEPERTI APA KRISTUS DISERAHKAN BAGI KITA? APA MAKNA PENYERAHAN SEJATI DALAM KRISTUS?


Sebenarnya penyerahan Kristus memiliki dua arti yang berbeda motivasi dan maknanya tergantung pada sikap hati dan tujuan utama dari mereka para pelaku yang memberitakan Dia atau menyerahkan Dia. Secara lahiriah kita seolah tidak bisa membedakan antara yang menyerahkan dengan benar dalam strategi penginjilan yang lintas budaya dan mana yang menyerahakn dengan maksud tertentu yang bukan untuk kemuliaanNya. Beberapa ayat Alkitab di bawa ini akan saya kaji untuk menyimpulkan seperti apa criteria penyerahan Yesus yang benar dan sesuai kehendak Allah agar kita dapat jelas melihat cirri-ciri Penginjilan sejati yang memuliakan Dia.

1. Kristus sebagai Harta yang diserahkan Allah bagi kita untuk kita kelola dan serahkan/berbagi dalam penginjilan
     Dalam Lukas 19 : 12-27 berkisah tentang perumpamaan kerajaan Sorga yang diumpamakan oleh Yesus sebagai harta yang dipercayakan oleh seorang Tuan kepada para hambanya. Harta itu berupa uang talenta dan dipercayakan untuk dikelola (diserahkan) agar dapat berbuah dan beroleh hasil. Sebagian besar tafsiran kotbah dan renungan menafsirkan harta itu sebagi talenta dalam arti kemampuan atau keahlian seseorang, namun saya menemukan hal yang lebih utama dan hakiki dari sekedar hal itu. Sebab jika kita mengacu pada Firman di mana Allah tidak melihat kuat dan gagah (kemampuan) kita dalam hal pemakaianNya atas kita maka terlalu kecil jika kita hanya sampai sebatas menyimpulkan dan memaknai ini sebagai talenta dalam arti lahiriah semata. Sebab dalam iman yang sudah diperbaharui oleh Kristus maka segala sesuatu sesuai dengan pikiran Kristus maka akan menjadikan Kristus sebagai titik tolak, tongkat pengukurnya. Dan jika Kristus sebagai titik tolak atau ukuran segala sesuatu maka kita kan menyadari dan mendapati bahwa adakah talenta dan kemampuan yang sejati pada manusia? Tidak ada selain di dalam Kristus. Maka dari itu Yesus Kristus sendiri telah memberi diri atas kita bukan hanya secara jasmaniah tetapi oleh RohNya Dia tinggal di dalam kita dan menjadi Harta serta Talenta dan sumber segala kemampuan bagi kita untuk mempersembahkan diri ini dan mengelola segala aspek diri kita sebagai harta yang sesungguhnya untuk Dia. Bagaimana Dia yang ada di dalam kita leluasa bekerja dalam penyerahan diri kita dan berbuah berlipat ganda. Inilah yang dimaksud menyerahkan Dia atau memberitakan Dia, memberikan Dia bagi segala bangsa.dia rela diserahkan dan memang tugas kita untuk menyerahkan Dia, bukan dengan cara seperti Yudas dalam pengkhianatan tetapi dalam pengabdian. Mendedikasikan Dia bagi dunia lewat hidup kita. Ini tidak akan tercapai dengan benar jika seseorang belum masuk pada pendalaman dan penerimaan pribadi Kristus dalam batin secara utuh, atau kita simpulkan juga dengan ungkapan perjumpaan pribadi dengan Dia.
2. Menyerahkan Kristus dengan cara yang salah dan benar
     “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2 Korintus : 18 – 19).
     Ayat di atas jelas menunjukkan hubungan dan keterkaitan antara mempercayakan dan pelayanan penginjilan. Sebab yang dipercayakanNya kepada kita adalah Pelayanan penginjilan yang adalah berita dan karunia pendamaian Allah lewat karya Yesus Kristus sang pendamai. Ayat di atas berlaku bagi semua pelayan Injil dan para pelayan Injil adalah setiap mereka yang percaya kepada Kristus. Hanya saja dewasa ini banyak kita temui “penyerahan” yang salah dari para pekerja Injil. Jika tidak mau mendalam dalam Kristus dan tidak mau sepenuhnya bergantung kepada Kristus dan untuk Kristus maka pasti Kristus akan diserahkan dengan cara yang salah dan motivasi yang salah, itu pasti.
     Memang jika kita masuk pada pikiran Kristus atau Teologi Kristosentris (Kristologi sejati) maka kita akan mendapati dan harus mengakui bahwa tidak ada seorangpun yang seutuhnya murni dan jujur dalam pemberitaan Injil tanpa sedikitpun maksud tertentu. Sebab ukurannya adalah Yesus Kristus dan tolak ukurnya adalah Kristus di mana Dialah pribadi Manusia yang seutuhnya murni dalam pemberitaan Allah. Makanya ketika menyadari itu kita harus masuk pada pengakuan diri di hadapan Dia dan pengakuan atas Dia di dalam keberadaan diri kita. Ini penting dialami agar Kristus itu yang akan semakin memurnikan diri kita hingga kita semakin dilayakkan untuk menyerahkan Dia dengan benar.

3. Penyerahan yang timbal balik di dalam keutuhan pribadi Yesus Kristus
     “Ia yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Roma 8:32
     “ Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa pengudusan.”
Roma 6:19
     Kedua ayat di atas sebenarnya adalah bagian dari rangkaian pasal-pasal awal dalam buku surat Paulus kepada jemaat di Roma yang mana pasal-pasal tersebut erat menyampaikan tentang penyerahan dari kedua belah pihak yaitu Allah dan Manusia. Dalam hal ini Allah sebagai pihak yang utama dan pertama kali menyerahkan DiriNya lewat AnakNya Yesus Kristus bagi kita. Ini adalah wujud penyerahan Allah bagi manusia. Yesus Kristus dalam hal ini telah menjadi Pribadi penghubung antara dua pihak yang dahulu terpisah yaitu Allah dan manusia. Sebagai Allah dalam wujud manusiaNya, Yesus Kristus telah menyerahkan DiriNya untuk menjadi pendamai bagi manusia. Sebagai manusia dalam wujud Ilahi yang sempurna maka Yesus Kristus telah menjadi manusia yang utuh menyerahkan diri kepada Allah karena tidak ada manusia manapun yang sanggup mewakili kemurnian dan penyerahan diri yang setara dengan tuntutan Allah dalam hukum-hukumNya. Maka di sini kita mendapati kesinambungan hidup dan pribadi serta penyerahan diri antara Allah dan manusia di dalam Pribadi Yesus Kristus. Inilah Kristologi, ilmu yang bukan berdasarkan sebatas pengkajian pengetahuan kepala semata tetapi bersumber langsung dari Iman dan pikiran Kristus.
     Jika kita tinggal di dalam Dia dan semakin terbuka untuk dibaharui di dalam Dia secara pribadi, maka kita akan menemui Kebenaran dan Keutuhan Kemuliaan Kristus di dalam diri kita. Inilah Kristologi yang sesungguhnya, hikmat dan kuasaNya tidak didasarkan secara lahiriah dan dari pikiran usaha manusia semata tetapi murni bergerak dan bersumber dari Kristus yang ada di dalam kita. Perbedaannya dengan Kristologi pengetahuan semata adalah Kristologi sejati selalu berawal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.

“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh Kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya, itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaku”.
Yohanes 16:13-15.

4. Tidak ada penyerahan diri yang sejati dan benar tanpa Kristus di dalamnya
     “Dan sekalipun Aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai Kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”
1 Korintus 13:3
     Jika kita memakai ukuran moral manusia atau apa yang manusia miliki dalam keterbatasan dan keberdosaanya maka kita seolah bisa menemukan kasih dalam diri setiap orang. Tetapi “kasih” berbeda jauh dengan Kasih. “Iman” berbeda jauh dengan Iman. “Semangat” berbeda jauh dengan Semangat. Yang dimaksudkan di sini adalah apa yang dimiliki oleh manusia adalah cemar di hadapan Allah sebaik apapun itu tetapi apa yang dimiliki Allah itu yang sejati dan semua kesejatian dan kebenaran itu telah ada dan sempurna di dalam Yesus Kristus. Kita telah menerima Dia di dalam kita tentu harus mengakui ini jika kita benar-benar percaya kepadaNya. Ayat di atas adalah bukti dari Kristologi yang amat dalam yang telah meluas dalam pribadi Paulus. Dia hingga mendapati bahwa perbuatan penyerahan diri sebaik apapun milik manusia jika tanpa Kasih atau penyerahan Kristus maka itu sia-sia. Mengapa kasih saya terjemahkan sebagai penyerahan Kristus karena Kasih yang sesungguhnya itu adalah Yesus Kristus. Kristologiu sejati yang bersumber dari Kristus di dalam kita akan selalu menemukan dan menyatakan iman bahwa Dialah yang ada dalam segala sesuatu. Kasih di sini adalah Kristus, bukan semata hanya sebagai objek perbuatan hasil dari subjek tetapi sebagai subjek itu sendiri yang menghasilkan perbuatan. Pikiran terbatas lahiriah masih akan menyikapi setiap ungkapan perbuatan kebenaran dalam Alkitab adalah suatu objek tetapi dalam kedalaman Kristus kita akan menemukan Dia dalam segala Kebenaran yang berawal juga dari Dia.
“Dan sekalipun Aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai Kasih (KRISTUS), sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.”

5. Hidup dalam penyerahan Kristus
     Mana yang lebih mudah bagi manusia? Berbuat baik atau menyerahkan diri? Untuk berbuat baik bahkan orang di luar Kristus pun sanggup melakukannya. Tetapi untuk penyerahan diri total kepada Allah itu hanya bisa dijalani dengan ikhlas jika kita sudah diperbaharui oleh Kristus dari hari ke hari. Berbuat tanpa penyerahan diri dalam Kristus sebagai dasarnya dan pahamnya maka perbuatan itu cemar dan berbeban. Tetapi jika kita menikmati penyerahan Kristus dalam diri kita maka perbuatan kita terasa bebas olehNya sebab didasarkan pada penyerahanNya di dalam kita. Penyerahan Kristus sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Allah menyerahkan diriNya pada manusia itu ada di dalam Dia dan manusia bisa menyerahkan diri kepada Allah itu juga terwujud dalam Kristus. Jika kita ingin menikmati penyerahan Allah dalam hdiup kita maka tinggalah di dalam Kristus. Jika kita ingin mewujudkan penyerahan diri kepada Allah maka tinggalah juga di dalam Kristus. Kedua aspek itu hanya bisa terpenuhi di dalam Dia dan dalam keluasan pekerjaanNya atas kita. Dalam hal itu maka perlu kerjasama dengan kita, dan bagian kita hanyalah menyerahkan diri kepadaNya. Selebihnya jika kita sudah benar dalam penyerahan diri maka Dialah yang bekerja di dalam kita untuk pekerjaan keselamatan itu di mana perbuatan adalah bagian di dalamnya. Selama seorang Kristen belum mencapai tahap ini dia akan masih sulit dalam menikmati kebebasan hidup dalam kebenaran Allah. Perbuatan baik dan taat dilakukannya dalam tekanan dan beban hukum. Inilah penting sekali kita memberi diri dan meminta untuk semakin menyatu dengan Kristus yang ada di dalam kita. Itulah permintaan Kristen sejati dalam segala doanya.
“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi diriNya untuk Aku. Aku tidka menolak kasih karunia Allah (Penyerahan Kristus-di mana menyatu antara penyerahan Allah dan manusia), sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat (perbuatan baik lahiriah), maka sia-sialah Kematian Kristus (dampak dari penyerahan diri-kematian daging/hukum dosa).”

Galatia 2:21
(Berry Mangowal S.Pd.K, M.Th)

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...