
A. Arti Kristologi
Kristologi berasal dari bahasa Yunani yang
memiliki dua kata yaitu Kristos dan Logos. Kristos berarti Kristus dan Logos
berarti Ilmu. Secara hurufiah Kristologi berarti ilmu tentang Kristus, atau
ilmu yang mempelajari tentang Kristus. Dengan demikian dapat dijabarkan bahwa
Kristologi adalah suatu disiplin ilmu tentang Kristus sebagai Pribadi Allah dan
manusia yang menajdi utuh dan satu di dalam Dia yang dipelajari dalam ruang
lingkup yang jelas yaitu seputar kehidupan dan teladanNya.
Dalam pengkajian saya dewasa ini dengan
semakin besar dan leluasanya kuasa Roh Kudus bekerja untuk menanamkan keimanan
kepada Kristus bagi orang percaya maka Kristologi seyogyanya bukan lagi sebatas
pada suatu paham atau ilmu teologis tetapi merupakan suatu prinsip iman dan
prinsip hidup hakiki kekeristenan bagi setiap pribadi yang mengaku percaya
kepada Kristus. Sangat disayangkan ketika saya pernah mendapati ada seorang
hamba Tuhan atau pendeta yang mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu
Kristosentris (berpusat kepada Kristus), padahal jelas dan nyata bahwa kita
yang percaya dan tinggal di dalam Kristus haruslah berpusat dan berdasar di
dalam Kristus. Segala sesuatu berawal dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Inilah
Kristosentris, sebuah kenyataan iman yang tidak bisa dilepaskan dari pendalaman
Kristologi secara pribadi, bahwa semakin kita mengenal Dia, saling mengenal
dengan Dia maka semakin kita akan berpusat den salalu mengandalkan Dia dalam
segala hal. Inilah awal kemerdekaan sejati orang percaya, hidup yang melekat
erat masuk berpribadi dengan Kristus. Sebagaimana tertulis kita tinggal di
dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Lewat Kristus kita akan semakin
menyadari bahwa Dia adalah wujud nyata Manusia Allah. Allah yang datang mau
tinggal di dalam manusia, dan Manusia Ilahi yang mau hadir tinggal sepenuhnya dalam
Allah. Di dalam Dialah kita dapat menjadi baitNya Allah, didiami oleh Allah dan
kita berdiam di dalam Allah. Suatu kesinambungan yang sempurna yang bermula
dari Kristus dan diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita yang percaya
kepadaNya.
Perlu kita ketahui bersama bahwa konsep
ilmu dunia dan ilmuNya Allah tentu berbeda jauh. Ilmu dunia bersifat baku dan
dijabarkan secara logika semata dan pendalamannya bersifat edukatif di
lingkungan sekolah/pendidikan sementara Ilmu dalam konsep Allah sifatnya luas,
berkembang dan membawa hidup. Pendalamannya bersifat edukatif spiritual di
lingkungan apapun di mana kita berada dan tidak tergantung media atau guru
melainkan Roh Kudus sendiri yang hadir sebagai penuntun di dalam kita.
Dimaksudkan di sini adalah jika selama ini Kristologi dalam pendidikan teologi
selalu diartikan sebatas ilmu atau salah satu bidang studi saja maka ini amat
keliru. Kristologi adalah ilmu Allah atau Firman Allah yang datang dalam wujud
Pribadi agar kegenapanNya dan kesempurnaanNya nyata secara jasmani dan rohani
bagi manusia. Firman Allah itu adalah Ilmu sejati yang dalam hal ini kata
“ilmu” tidak sama halnya dengan ilmu sebatas pemahaman dunia melainkan Firman
itu sendiri sebagai ilmu milik Allah yang berusaha ditelaah oleh manusia dan
bangsa-bangsa lewat berbagi ilmu mereka masing-masing sejak dahulu namun
dibukakan kepada kita lewat pribadi Yesus Kristus. Ilmu atau Fimran yang hidup
yang nyata dan hadir.
Jika ilmu adalah usaha pencarian manusia
akan Allah (pribadi yang mahakuasa sumber segalanya) maka sesungguhnya Ilmu itu
telah datang dalam wujud Pribadi yaitu Yesus Kristus agar barangsiapa yang
tinggal di dalam Dia, mendalami Dia maka tidka binasa melainkan beroleh hidup
kekal. Manusia duniawi mencari hidup sejahtera dna kekal dari berbagai macam
ilmu dengan berbagai macam cara hingga sesuai kata Alkitab bahwa mereka membuat
derita bagi diri sendiri dengan segala upayannya untuk kebahagiaan namun
ternyata Ilmu itu yang adalah Firman itu sudah datang dan nyata di dalam Pribadi
Yesus Kristus. Tidak ada yang tersembunyi dalam Dia melainkan semua dibukakan
di dalam Dia sebagaimana ungkapan Paulus
bahwa rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad yang dicari oleh berbagai
suku bangsa telah diperkenan Allah untuk dibukakan kepada kita lewat Kristus.
Dari penjabaran di atas maka dapat
disimpulkan bahwa dalam pengkajian saya, Kristologi adalah Firman Allah yang
hadir dalam Pribadi manusia lewat Yesu Kristus yang menjadi penghubung dan
penyatu hubungan akrab antara Allah dengan manusia. Suatu kesinambungan dan
kesatuan hidup di mana Allah tinggal dalam manusia dan manusia tinggal di dalam
Allah dan Yesus Kristus adalah yang awal dan yang sulung dari kehadiran Allah
dalam pribadi manusia. Dengan demikian oleh kehadiran Allah di dalam orang
percaya lewat RohNya, Roh Allah atau Roh Kudus maka kita dapat semakin mengenal
dan mendalami Dia secara pribadi untuk Dia semakin besar di dalam kita dan kita
semakin berkurang di dalam Dia. Artinya Kristologi membawa manusia pada
pelepasan diri manusia terhadap Allah yang menagmbil alih itu sepenuhnya untuk
diberikan kembali kepada manusia agar dapat dinikmati dengan benar dalam
kebebasan dan pembebasaNya yang sesungguhnya. Inilah awal dari keterlepasan
dari perbudakan dosa sebagaimana pengalaman Paulus dalam ungkapannya; “hai maut
di manakah sengatmu?”
B. Arti kepenuhan Kristus
Kepenuhan Kristus adalah suatu keadaan diri
dan hidup kita di mana telah masuk pada tahap pengakuan sepenuhnya atas
Ketuhanan dan keberkuasaan Kristus atas skita secara pribadi. Kita menyadari
penuh dan merasakan kehadiranNya di dalam kita yang mengambil alih diri kita
dari kehendak bebas kita kepada kehendakNya yang justru membebaskan kita dengan
benar dan utuh. Kepenuhan Kristus ini membawa manusia pada pengakuan seutuhnya
akan Pribadi Ketuhanan Yesus Kristus secara pribadi atas kita hingga membuat
kita semakin hari semakin mengakui Dia dalam segala hal dan setiap sendi hidup
kita tidak lepas dariNya. Di mana kita merasakan betul PribadiNya di dalam kita
oleh Roh Kristus atau Roh Kudus.
Kepenuhan Kristus ini erat kaitannya
dengan kedewasaan Kristen atau orang percaya. Mari kita simak ayat berikut ini:
“sampai kita semua
mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,
kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
Sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang
menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita
bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala.” Efesus 4: 13-15
Kedewasaan Kristen tercapai jika kita masuk
pada kepenuhan Kristus. Ini membutuhkan kerelaan diri kita untuk memberi diri
kepadaNya dan terus meminta dengan ketekunan akan penyataanNya secara Pribadi
atas kita dan di dalam kita. Ini akan membongkar semua sendi hidup kita dan
diri kita untuk menyatakan jati diri kita sesungguhnya di hadapan Dia agar kita
semakin menerima Dia dan mengakui Dia. Ini berdampak pada semua sendi hidup
orang percaya yang mengalaminya di mana dia akan benar-benar merasakan bahwa
Kristus nyata dalam hidupnya secara rohani. Setiap hari pikiran Kristus ada
mengalir dalamnya bahkan kita dibawa semakin hari akan semakin masuk pada
penyatuan dengan Dia oleh Roh Kudus, sebagaimana FirmanNya bahwa Dia di dalam
kita dan kita di dalam Dia seperti Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.
Awal kebebasan sesungguhnya sebagai orang
percaya mulai dinikmati secsara utuh jika kita masuk pada pengalaman rohani
dipenuhi dalam Kristus. Hikmat, karunia, mujizat dan lainnya akan mengalir
dalam diri kita dengan sendirinya. Namun perlu kita pahami dan imani bahwa
dalam kedewasaan Kristus segala sesuatu tidak lagi diukur jasmaniah tetapi
intinya secaraRohaniah seperti ungkapan Paulus bahwa kalau dulu mereka pernah
menilai Kristus secara lahiriah maka sekarang setalah dia dibukakan oleh
kepenuhan Kristus maka dia menilai Kristus secara Rohani dan melihat segala
sesuatu secara Rohani dan tidak secara jasmaniah yang membutakan.
C. Ciri-ciri kepenuhan Kristus/ Kristologi
sejati
1. pembaharuan pola pandang
tentang Kristus.
Pembaharuan ini dimaksudkan sebagai
peningkatan ataupun pendalaman tentang pengenalan akan Pribadi Kristus yang
bertambah dan memasuki dimensi yang baru di mana kita semakin mengenal Dia
secara pribadi. Hal ini berdampak pada perubahan dalam pola pandang hidup kita
dalam menilai dan melihat segala sesuatu. Tidak lagi secara lahiriah tetapi
secara rohaniah. Tidak lagi menilai sebatas mata jasmaniah atau pikiran dan
perasaan tetapi menilai berdasarkan Kristus yang ada di dalam kita.
2. Selalu berpusat kepada
Kristus (Kristosentris).
Hidup orang percaya memang selayaknya
tidak boleh terpisah dari Yesus Kristus. Malahan kita memang harus berpusat dan
berakar di dalam Kristus. Ciri dan bukti jika seseorang mengalami kepenuhan Kristus
dalam dirinya maka dengan sendirinya oleh gerakan Roh Kudus yang sudah leluasa
di dalam dia membuat dia selalu berpusat kepada Kristus. Setiap ungkapan dan
imannya selalu menyatakan dan memuliakan Kristus.
3. Firman atau berita
Allah yang disampaikan selalu memuliakan dan berdasar kepada Kristus.
Setiap memberitakan Firman baik dalam
ibadah maupun secara konseling atau berbagi pengalaman, orang yang telah
mengalami kepenuhan Kristus selalu menyatakan Kristus dan memuliakan Kristus
sebagai inti dari segala sesuatu yang dia bagikan. Selalu membawa orang kepada
pribadi Kristus dan bukan kepada pengajaran atau organisasi manapun. Keutamaan
Kristus jelas nyata dan tidak memihak apapun atau manapun selain Kristus.
4. Hikmat yang dimiliki
adalah secara alami pekerjaan Kristus.
Jika kita dipenuhi di dalam Kristus maka
Hikmat atau Firman yang bekerja di dalam kita itu bukan lagi lebih karena upaya
kita menganalisa dan mengatasnamakan Roh Kudus sebagai penafsir dari kemampuan
manusia kita tetapi sekarang sejak dipenuhi Kristus kita menikmati FirmanNya
secara alami menbgalir dan berbicara kepada kita secara pribadi setiap saat, ya
setiap saat. Apa ada manusia yang sanggup dan betah setiap saat memikirkan
Kristus? Tidak ada kecuali Roh Kristus atau Roh Kudus itu sendiri yang telah
berkuasa penuh dalam diri orang tersebut. Hikmat yang muncul berasal dari dasar
pengenalannya atas pribadi Kristus yang utuh menyatakan diriNya secara pribadi
oleh pemberian diri kita yang sungguh. Hikmat itu tidak diperoleh dari
mendengarkan kotbah atau pengajaran yang lain, tidak diajarkan manusia, tidak
diperoleh dari penelitian dan pengkajian atau penafsiran manapun usaha manusia
tetapi murni berasal dari penyataan pribadi Kristus yang sudah berdasar di
dalam kita yang telah mengalami itu. Setiap firman dan hikmat yang keluar
selalu menyatakan, memuliakan dan membawa orang kepada Yesus Kristus, bukan
yang lain.
5. Melihat kehadiran
Kristus dalam segala hal
Ini menyatakan keberadaan Kristus yang
terasa dalam iman dan Roh begitu lekat dan tinggal di dalam kita. Segala
sesuatu yang kita temui dan alami disikapi oleh Dia yang ada di dalam kita,
inilah sebetulnya fase yang Allah sangat inginkan pada orang percaya. Ini bukan
berarti bahwa pada fase ini kita tidak lagi memiliki kekurangan atau kelemahan
tetapi sebagaimana pengalaman Paulus dan hamba Tuhan lainnya termasuk Kristus
sendiri meskipun dalam tubuh badaniah termasuk pikiran dan perasaan yang ada
saatnya lemah tetapi justru di situlah kita kuat dan dikuatkan olehNya.
6. Pandangan luas dan
dalam.
Pandangan iman kita dan pandangan hidup
kita menjadi luasa dan dalam terhadap Kristus dan terhadap hidup ini karena
semua didasarkan kepada Kristus. Jika kita menilai, kita tidak lagi menilai
dari satu sisi, tetapi kita menilai luas jika berbiacara umum dan menilai dalam
sekali secara pribadi jika kita menilai khusus sementara dasar dan titik tolak
penilaian kita adalah Kristus. Di sinilah letak perbedaan antara penilaian dan
pengajaran yang masih berbau duniawi dengan pengajaran dan penilaian yang murni
dari Allah. Penilaian yang berdasar kepada kristus akan menyatakan semua, jika
menilai umum dan luas akan mendapati setiap manusia tidak ada yang luput dari
dosa hingga mau tidak mau harus tunduk pada Keutuhan Kristus dan mengakui
keberadaan diri hingga mengakui Kristus. Tidak hanya mengukur setiap masalah
atau kedaan secara jasmaniah kasat mata tetapi menilai secara rohani yang tidak
tampak mata. Jika menilai khusus dia akan melihat sampai jauh ke dalam batin,
akan menilai diri sendiri terlebih dahulu sehingga dengan sendirinya segala
sesuatu yang ada di luar menjadi terang. Jika kita sadar betul akan diri kita
sendiri sampai kedalaman batin maka kita akan sadar betul dengan keadaan orang
lain sebab batiniah, pikiran dan perasaan setiap manusia itu intinya sama hanya
pekerjaannya yang berbeda sesuai karakter dan kondisi hidup keadaan setiap
orang. Hal ini pula akan semakin membawa kita pada pengakuan akan Kristus.
Setiap hari mengakui Dia dan makin satu dengan Dia.
7. Semakin erat dengan
Kristus.
Tidak bisa tidak, jika kita mengalami
Kepenuhan Kristus maka yang terjadi adalah semakin hari semakin dekat, erat,
dan lekat dengan Dia. Ini tahap di mana tidak lagi ada penyangkalan iman. Jika
orang percaya masuk hingga fase pengiringan akan Tuhan seperti ini maka tidak
mungkin beralih keyakinan atau meninggalkan Kristus sebagaimana kita lihat yang
sering terjadi di mana orang yang kita kenali begitu rohani tetapi bisa beralih
keyakinannya dari Kristus kepada yang lain. Sebab sesungguhnya Kepenuhan
Kristus tidak dinilai secara kasat mata jasmaniah, dari mujizat, pelayanan,
kepintaran, bahkan perbuatan baik dan moral sekalipun. Kepenuhan Kristus
dinilai dari apakah murni Kristus saja yang dia beritakan dan bagikan dalam
hidupnya atau tidak. Apakah dia membawa orang kepada Kristus sebagai pribadi
seutuhnya atau hanya membawa orang kepada Kristus hanya sebagai mujizat dan
karunia berkat. Apakah dia merasakan dan memikirkan Kristus setiap saat atau
tidak. Apakah dia berbuahkan Kristus atau tidak, dan buah Kristus itupun bukan
seperti halnya perbuatan baik lahiriah semata tetapi esensi Kristus yang
dirasakan dan menjadi dasar dalam setiap perbuatan dan reaksi yang keluar. Kita
tidak lagi berjalan berusaha menuruti firman dengan susah payah tetapi Firman
itulah yang telah menjadi hidup di dalam kita dan menyatu dengan kita untuk
kita nikmati. Dalam hal ini Firman benar-benar tidak menjadi beban tetapi
menjadi kebebasan dan nikmat hidup.
No comments:
Post a Comment