Wednesday, June 5, 2019

ARTI KRISTOLOGI DAN CIRI-CIRI KEPENUHAN KRISTUS (Berry Mangowal SpdK)

A. Arti Kristologi
     Kristologi berasal dari bahasa Yunani yang memiliki dua kata yaitu Kristos dan Logos. Kristos berarti Kristus dan Logos berarti Ilmu. Secara hurufiah Kristologi berarti ilmu tentang Kristus, atau ilmu yang mempelajari tentang Kristus. Dengan demikian dapat dijabarkan bahwa Kristologi adalah suatu disiplin ilmu tentang Kristus sebagai Pribadi Allah dan manusia yang menajdi utuh dan satu di dalam Dia yang dipelajari dalam ruang lingkup yang jelas yaitu seputar kehidupan dan teladanNya.
     Dalam pengkajian saya dewasa ini dengan semakin besar dan leluasanya kuasa Roh Kudus bekerja untuk menanamkan keimanan kepada Kristus bagi orang percaya maka Kristologi seyogyanya bukan lagi sebatas pada suatu paham atau ilmu teologis tetapi merupakan suatu prinsip iman dan prinsip hidup hakiki kekeristenan bagi setiap pribadi yang mengaku percaya kepada Kristus. Sangat disayangkan ketika saya pernah mendapati ada seorang hamba Tuhan atau pendeta yang mengatakan bahwa kita tidak boleh terlalu Kristosentris (berpusat kepada Kristus), padahal jelas dan nyata bahwa kita yang percaya dan tinggal di dalam Kristus haruslah berpusat dan berdasar di dalam Kristus. Segala sesuatu berawal dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia. Inilah Kristosentris, sebuah kenyataan iman yang tidak bisa dilepaskan dari pendalaman Kristologi secara pribadi, bahwa semakin kita mengenal Dia, saling mengenal dengan Dia maka semakin kita akan berpusat den salalu mengandalkan Dia dalam segala hal. Inilah awal kemerdekaan sejati orang percaya, hidup yang melekat erat masuk berpribadi dengan Kristus. Sebagaimana tertulis kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Lewat Kristus kita akan semakin menyadari bahwa Dia adalah wujud nyata Manusia Allah. Allah yang datang mau tinggal di dalam manusia, dan Manusia Ilahi yang mau hadir tinggal sepenuhnya dalam Allah. Di dalam Dialah kita dapat menjadi baitNya Allah, didiami oleh Allah dan kita berdiam di dalam Allah. Suatu kesinambungan yang sempurna yang bermula dari Kristus dan diberikan oleh Yesus Kristus kepada kita yang percaya kepadaNya.
     Perlu kita ketahui bersama bahwa konsep ilmu dunia dan ilmuNya Allah tentu berbeda jauh. Ilmu dunia bersifat baku dan dijabarkan secara logika semata dan pendalamannya bersifat edukatif di lingkungan sekolah/pendidikan sementara Ilmu dalam konsep Allah sifatnya luas, berkembang dan membawa hidup. Pendalamannya bersifat edukatif spiritual di lingkungan apapun di mana kita berada dan tidak tergantung media atau guru melainkan Roh Kudus sendiri yang hadir sebagai penuntun di dalam kita. Dimaksudkan di sini adalah jika selama ini Kristologi dalam pendidikan teologi selalu diartikan sebatas ilmu atau salah satu bidang studi saja maka ini amat keliru. Kristologi adalah ilmu Allah atau Firman Allah yang datang dalam wujud Pribadi agar kegenapanNya dan kesempurnaanNya nyata secara jasmani dan rohani bagi manusia. Firman Allah itu adalah Ilmu sejati yang dalam hal ini kata “ilmu” tidak sama halnya dengan ilmu sebatas pemahaman dunia melainkan Firman itu sendiri sebagai ilmu milik Allah yang berusaha ditelaah oleh manusia dan bangsa-bangsa lewat berbagi ilmu mereka masing-masing sejak dahulu namun dibukakan kepada kita lewat pribadi Yesus Kristus. Ilmu atau Fimran yang hidup yang nyata dan hadir.
     Jika ilmu adalah usaha pencarian manusia akan Allah (pribadi yang mahakuasa sumber segalanya) maka sesungguhnya Ilmu itu telah datang dalam wujud Pribadi yaitu Yesus Kristus agar barangsiapa yang tinggal di dalam Dia, mendalami Dia maka tidka binasa melainkan beroleh hidup kekal. Manusia duniawi mencari hidup sejahtera dna kekal dari berbagai macam ilmu dengan berbagai macam cara hingga sesuai kata Alkitab bahwa mereka membuat derita bagi diri sendiri dengan segala upayannya untuk kebahagiaan namun ternyata Ilmu itu yang adalah Firman itu sudah datang dan nyata di dalam Pribadi Yesus Kristus. Tidak ada yang tersembunyi dalam Dia melainkan semua dibukakan di dalam Dia  sebagaimana ungkapan Paulus bahwa rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad yang dicari oleh berbagai suku bangsa telah diperkenan Allah untuk dibukakan kepada kita lewat Kristus.
     Dari penjabaran di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam pengkajian saya, Kristologi adalah Firman Allah yang hadir dalam Pribadi manusia lewat Yesu Kristus yang menjadi penghubung dan penyatu hubungan akrab antara Allah dengan manusia. Suatu kesinambungan dan kesatuan hidup di mana Allah tinggal dalam manusia dan manusia tinggal di dalam Allah dan Yesus Kristus adalah yang awal dan yang sulung dari kehadiran Allah dalam pribadi manusia. Dengan demikian oleh kehadiran Allah di dalam orang percaya lewat RohNya, Roh Allah atau Roh Kudus maka kita dapat semakin mengenal dan mendalami Dia secara pribadi untuk Dia semakin besar di dalam kita dan kita semakin berkurang di dalam Dia. Artinya Kristologi membawa manusia pada pelepasan diri manusia terhadap Allah yang menagmbil alih itu sepenuhnya untuk diberikan kembali kepada manusia agar dapat dinikmati dengan benar dalam kebebasan dan pembebasaNya yang sesungguhnya. Inilah awal dari keterlepasan dari perbudakan dosa sebagaimana pengalaman Paulus dalam ungkapannya; “hai maut di manakah sengatmu?”


B. Arti kepenuhan Kristus
    Kepenuhan Kristus adalah suatu keadaan diri dan hidup kita di mana telah masuk pada tahap pengakuan sepenuhnya atas Ketuhanan dan keberkuasaan Kristus atas skita secara pribadi. Kita menyadari penuh dan merasakan kehadiranNya di dalam kita yang mengambil alih diri kita dari kehendak bebas kita kepada kehendakNya yang justru membebaskan kita dengan benar dan utuh. Kepenuhan Kristus ini membawa manusia pada pengakuan seutuhnya akan Pribadi Ketuhanan Yesus Kristus secara pribadi atas kita hingga membuat kita semakin hari semakin mengakui Dia dalam segala hal dan setiap sendi hidup kita tidak lepas dariNya. Di mana kita merasakan betul PribadiNya di dalam kita oleh Roh Kristus atau Roh Kudus.
      Kepenuhan Kristus ini erat kaitannya dengan kedewasaan Kristen atau orang percaya. Mari kita simak ayat berikut ini:
“sampai kita semua mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala.”  Efesus 4: 13-15
    Kedewasaan Kristen tercapai jika kita masuk pada kepenuhan Kristus. Ini membutuhkan kerelaan diri kita untuk memberi diri kepadaNya dan terus meminta dengan ketekunan akan penyataanNya secara Pribadi atas kita dan di dalam kita. Ini akan membongkar semua sendi hidup kita dan diri kita untuk menyatakan jati diri kita sesungguhnya di hadapan Dia agar kita semakin menerima Dia dan mengakui Dia. Ini berdampak pada semua sendi hidup orang percaya yang mengalaminya di mana dia akan benar-benar merasakan bahwa Kristus nyata dalam hidupnya secara rohani. Setiap hari pikiran Kristus ada mengalir dalamnya bahkan kita dibawa semakin hari akan semakin masuk pada penyatuan dengan Dia oleh Roh Kudus, sebagaimana FirmanNya bahwa Dia di dalam kita dan kita di dalam Dia seperti Dia di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia.
     Awal kebebasan sesungguhnya sebagai orang percaya mulai dinikmati secsara utuh jika kita masuk pada pengalaman rohani dipenuhi dalam Kristus. Hikmat, karunia, mujizat dan lainnya akan mengalir dalam diri kita dengan sendirinya. Namun perlu kita pahami dan imani bahwa dalam kedewasaan Kristus segala sesuatu tidak lagi diukur jasmaniah tetapi intinya secaraRohaniah seperti ungkapan Paulus bahwa kalau dulu mereka pernah menilai Kristus secara lahiriah maka sekarang setalah dia dibukakan oleh kepenuhan Kristus maka dia menilai Kristus secara Rohani dan melihat segala sesuatu secara Rohani dan tidak secara jasmaniah yang membutakan.

C. Ciri-ciri kepenuhan Kristus/ Kristologi sejati
1. pembaharuan pola pandang tentang Kristus.
     Pembaharuan ini dimaksudkan sebagai peningkatan ataupun pendalaman tentang pengenalan akan Pribadi Kristus yang bertambah dan memasuki dimensi yang baru di mana kita semakin mengenal Dia secara pribadi. Hal ini berdampak pada perubahan dalam pola pandang hidup kita dalam menilai dan melihat segala sesuatu. Tidak lagi secara lahiriah tetapi secara rohaniah. Tidak lagi menilai sebatas mata jasmaniah atau pikiran dan perasaan tetapi menilai berdasarkan Kristus yang ada di dalam kita.
2. Selalu berpusat kepada Kristus (Kristosentris).
     Hidup orang percaya memang selayaknya tidak boleh terpisah dari Yesus Kristus. Malahan kita memang harus berpusat dan berakar di dalam Kristus. Ciri dan bukti jika seseorang mengalami kepenuhan Kristus dalam dirinya maka dengan sendirinya oleh gerakan Roh Kudus yang sudah leluasa di dalam dia membuat dia selalu berpusat kepada Kristus. Setiap ungkapan dan imannya selalu menyatakan dan memuliakan Kristus.
3. Firman atau berita Allah yang disampaikan selalu memuliakan dan berdasar kepada Kristus.
     Setiap memberitakan Firman baik dalam ibadah maupun secara konseling atau berbagi pengalaman, orang yang telah mengalami kepenuhan Kristus selalu menyatakan Kristus dan memuliakan Kristus sebagai inti dari segala sesuatu yang dia bagikan. Selalu membawa orang kepada pribadi Kristus dan bukan kepada pengajaran atau organisasi manapun. Keutamaan Kristus jelas nyata dan tidak memihak apapun atau manapun selain Kristus.
4. Hikmat yang dimiliki adalah secara alami pekerjaan Kristus.
     Jika kita dipenuhi di dalam Kristus maka Hikmat atau Firman yang bekerja di dalam kita itu bukan lagi lebih karena upaya kita menganalisa dan mengatasnamakan Roh Kudus sebagai penafsir dari kemampuan manusia kita tetapi sekarang sejak dipenuhi Kristus kita menikmati FirmanNya secara alami menbgalir dan berbicara kepada kita secara pribadi setiap saat, ya setiap saat. Apa ada manusia yang sanggup dan betah setiap saat memikirkan Kristus? Tidak ada kecuali Roh Kristus atau Roh Kudus itu sendiri yang telah berkuasa penuh dalam diri orang tersebut. Hikmat yang muncul berasal dari dasar pengenalannya atas pribadi Kristus yang utuh menyatakan diriNya secara pribadi oleh pemberian diri kita yang sungguh. Hikmat itu tidak diperoleh dari mendengarkan kotbah atau pengajaran yang lain, tidak diajarkan manusia, tidak diperoleh dari penelitian dan pengkajian atau penafsiran manapun usaha manusia tetapi murni berasal dari penyataan pribadi Kristus yang sudah berdasar di dalam kita yang telah mengalami itu. Setiap firman dan hikmat yang keluar selalu menyatakan, memuliakan dan membawa orang kepada Yesus Kristus, bukan yang lain.
5. Melihat kehadiran Kristus dalam segala hal
     Ini menyatakan keberadaan Kristus yang terasa dalam iman dan Roh begitu lekat dan tinggal di dalam kita. Segala sesuatu yang kita temui dan alami disikapi oleh Dia yang ada di dalam kita, inilah sebetulnya fase yang Allah sangat inginkan pada orang percaya. Ini bukan berarti bahwa pada fase ini kita tidak lagi memiliki kekurangan atau kelemahan tetapi sebagaimana pengalaman Paulus dan hamba Tuhan lainnya termasuk Kristus sendiri meskipun dalam tubuh badaniah termasuk pikiran dan perasaan yang ada saatnya lemah tetapi justru di situlah kita kuat dan dikuatkan olehNya.
6. Pandangan luas dan dalam.
     Pandangan iman kita dan pandangan hidup kita menjadi luasa dan dalam terhadap Kristus dan terhadap hidup ini karena semua didasarkan kepada Kristus. Jika kita menilai, kita tidak lagi menilai dari satu sisi, tetapi kita menilai luas jika berbiacara umum dan menilai dalam sekali secara pribadi jika kita menilai khusus sementara dasar dan titik tolak penilaian kita adalah Kristus. Di sinilah letak perbedaan antara penilaian dan pengajaran yang masih berbau duniawi dengan pengajaran dan penilaian yang murni dari Allah. Penilaian yang berdasar kepada kristus akan menyatakan semua, jika menilai umum dan luas akan mendapati setiap manusia tidak ada yang luput dari dosa hingga mau tidak mau harus tunduk pada Keutuhan Kristus dan mengakui keberadaan diri hingga mengakui Kristus. Tidak hanya mengukur setiap masalah atau kedaan secara jasmaniah kasat mata tetapi menilai secara rohani yang tidak tampak mata. Jika menilai khusus dia akan melihat sampai jauh ke dalam batin, akan menilai diri sendiri terlebih dahulu sehingga dengan sendirinya segala sesuatu yang ada di luar menjadi terang. Jika kita sadar betul akan diri kita sendiri sampai kedalaman batin maka kita akan sadar betul dengan keadaan orang lain sebab batiniah, pikiran dan perasaan setiap manusia itu intinya sama hanya pekerjaannya yang berbeda sesuai karakter dan kondisi hidup keadaan setiap orang. Hal ini pula akan semakin membawa kita pada pengakuan akan Kristus. Setiap hari mengakui Dia dan makin satu dengan Dia.

7. Semakin erat dengan Kristus.

     Tidak bisa tidak, jika kita mengalami Kepenuhan Kristus maka yang terjadi adalah semakin hari semakin dekat, erat, dan lekat dengan Dia. Ini tahap di mana tidak lagi ada penyangkalan iman. Jika orang percaya masuk hingga fase pengiringan akan Tuhan seperti ini maka tidak mungkin beralih keyakinan atau meninggalkan Kristus sebagaimana kita lihat yang sering terjadi di mana orang yang kita kenali begitu rohani tetapi bisa beralih keyakinannya dari Kristus kepada yang lain. Sebab sesungguhnya Kepenuhan Kristus tidak dinilai secara kasat mata jasmaniah, dari mujizat, pelayanan, kepintaran, bahkan perbuatan baik dan moral sekalipun. Kepenuhan Kristus dinilai dari apakah murni Kristus saja yang dia beritakan dan bagikan dalam hidupnya atau tidak. Apakah dia membawa orang kepada Kristus sebagai pribadi seutuhnya atau hanya membawa orang kepada Kristus hanya sebagai mujizat dan karunia berkat. Apakah dia merasakan dan memikirkan Kristus setiap saat atau tidak. Apakah dia berbuahkan Kristus atau tidak, dan buah Kristus itupun bukan seperti halnya perbuatan baik lahiriah semata tetapi esensi Kristus yang dirasakan dan menjadi dasar dalam setiap perbuatan dan reaksi yang keluar. Kita tidak lagi berjalan berusaha menuruti firman dengan susah payah tetapi Firman itulah yang telah menjadi hidup di dalam kita dan menyatu dengan kita untuk kita nikmati. Dalam hal ini Firman benar-benar tidak menjadi beban tetapi menjadi kebebasan dan nikmat hidup.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...