Wednesday, June 5, 2019

SEJARAH SINGKAT KRISTOLOGI


A. Kristologi dalam Ilmu Teologi
     Dalam pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi Sistematika. Dogmatika Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui kedatangan    Kristus  Kata   'Kristologi'     berasal   dari     bahasa Yunani,    Χριστός= kristos = Kristus   dan
λόγος =logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus digeluti karena masih relevan dengan masalah-masalah di setiap zaman.[2] Kristologi dan ajaran Trinitas tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika Selain itu, aspek penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi.
     Pembicaraan tentang Kristus merupakan ajaran Kristen yang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan. Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus masih berlangsung sampai saat ini (setidaknya pada beberapa kalangan). Adanya perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) yang berbeda-beda. utamanya tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes di masa lampau.Sampai saat ini masih ada perdebatan tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan Keilahian Kristus terus terjadi. Setidaknya bisa diketahui dari uraian seorang tokoh dalam Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an yang menegaskan kembali bahwa Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia. Di Indonesia, dapat dibandingkan pendapat dari dua orang teolog, Joas Adiprasetya dalam bukunya Berdamai dengan Salib yang menggugat Ionaes Rahmat dalam buku Soteriologi Salib.
Kristus sebagai Mesias
Empat Penginil, oleh Pieter Soutman, Abad ke-17.
     Melalui pendekatan biblis atau Hermeneutika Alkitab, ditemui sebutan bahwa Yesus adalah Mesias. Hal ini diperoleh dari Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru (Bahasa Yunani; Kristus) yang pada Perjanjian Lama disebut Mesias (Bahasa Ibrani.

Mesias dalam Perjanjian Lama
     Mesias dalam Perjanjian Lama berarti keluarga Daud, raja yang selalu berjaya digantikan Mesias dalam Perjanjian Baru menjadi raja yang dibangkitkan dari kematian. Raja kerajaan yang gilang gemilang pada masa akhir dan menjadi pemimpin religius, bukan pemimpin politik.
     Kata "Kristus" memiliki arti yang sama dengan Mesias yang artinya adalah "Yang Diurapi". Di dalam ajaran Kristen, kelahiran Yesus sudah dinubuatkan semenjak zaman nabi-nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama: Natan, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hagai dan Zakharia. Mesias di dalam Perjanjian Lama dinanti oleh orang Israel untuk memulihkan bangsa Israel dari berbagai masalah, terutama politik. Jadi hadirnya Mesias adalah sebagai "solusi" dalam masa krisis; Masa Israel ditawan oleh bangsa-bangsa lain.
Mesias dalam Perjanjian Baru
     Dari berbagai istilah tentang Kristus pada orang-orang pada masa Awal Masehi sudah beragam. Informasi lain, Yesus disebut sebagai Mesias dari Israel, Mesias adalah Kristus disebutkan Paulus sebanyak 270 kali dan variasi nama Yesus Kristus atau Kristus Yesus sebanyak 109 kali. Nama itu menunjuk pada : Allah, Tuhan atau kata ganti yang menjurus pada Allah.
Ia bertanya pada mereka, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Petrus menjawab, "Engkau adalah Mesias (bahasa Inggris: You are The Christ.)
Demikian juga kata Marta dalam Injil Yohanes:
Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang datang ke dalam dunia

     Injil Yohanes dilihat sangat khusus dalam pandangan Kristologi, bahwa Firman atau λόγος, Allah sendiri menjadi manusia, dalam wujud Kristus. Di sini dijelaskan bahwa Kristus yang adalah Yesus itu adalah Allah sendiri, Ketuhanan Yesus merupakan pusat Teologi Perjanjian Baru, menurut Miller, "Yesus adalah Allah".

B. Kristologi dari Zaman ke Zaman
     Abad Pertama Masehi (Kristologi menurut Perjanjian Baru)
Kristologi yang ditemukan dari Injil berpusat pada sejarah kehidupan Yesus dalam tindakan-tindakannya. Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru: . Jawaban-jawaban tentang siapa Yesus, adalah sebagai berikut:
*       Paulus : Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.
*       Markus : Yesus adalah Mesias.
*       Matius : Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru.
*       Lukas : Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang.
*       Yohanes - Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma sebagai manusia.
     Yesus pada zaman-Nya dikenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang Yahudi yang melampaui Hukum Taurat.[3] Dari ajaran-ajarannya itulah, orang-orang (Kristen) dari zaman Perjanjian Baru hingga saat ini mempercayai-Nya sebagai Tuhan.[3]

Kristologi Abad 2 – 11
     Pada abad kedua, Kristologi belum terlalu diperdebatkan, namun sudah terdapat pertanyaan-pertanyaan ontologis tentang Ketuhanan Yesus. Masyarakat waktu itu ingin sekali mengetahui siapa Yesus sebenarnya, dalam kaitannya dengan Allah. Kemudian secara hakekat, terdapat tokoh bernama Arius yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah, dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakikat) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut Yesus "Anak Allah" sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas disatukan dengan yang jasmani dan terbatas.

Kristologi-Logos
     Kristologi-Logos ini terdapat dalam Injil Yohanes 1:1-4 bahwa fungsi logos ada dua: kosmomologis yaitu sebagai penciptaan dan revelatoris-soteriologis yang artinya Penyelamat melalui Pewahyuan. Santo Ignatius dari Antiokhia menyebutkan Yesus "Sang Logos" yang mana Logos (sabda) itu tidak lagi berdiam diri, melainkan menyatakan diri untuk menyelamatkan. Jadi bagi Ignatius, Sabda adalah keseluruhan tujuan komunikasi, revelatoris-soteriologis, bukan fungsi kosmologis. Ajaran Kristologis-Logos ini ada dua, yaitu yang klasik dan yang modern.
Arianisme
     Arianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Arius pada tahun 300. Distermenganggapnya sebagai kecenderungan manusia untuk mempersempit misteri Allah. Arius menganggap Yesus sebagai ciptaan saja, walaupun paling agung, hal ini dipengaruhi dengan gambaran Allah pada dirinya, lalu dia menyimpulkan "Yesus bukan Allah".

Nestorianisme
     Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400. Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi. Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tapi toh tinggal tetap dua. Akal budi manusia ingin mempertahankan gambaran Allah yang "murni", surgawi dan rohani. Maka Allah Putra dipisahkan dari Yesus yang pernah berkeliling di dunia ini.

Monofisitisme
     Monofisitisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Yesus hanya satu kodrat, yaitu ilahi. Monofisit berasal dari Bahasa Yunani, νόμος yaitu satu, dan φύσης berarti kodrat, jadi Kristus hanya memiliki satu kodrat, hal ini bertentangan dengan Nestorianisme. Yesus yang berjalan-jalan di bumi sebenarnya adalah Allah, kemanusiaan Yesus dianggap hanya semu saja.
     Kristologi pada Abad 4 dan 5 Masehi di mana Konsili Nikaia (Nicea), Efesus dan Khalsedon adalah doktrin Kristus yand dirumuskan pada tiga konsili itu. Konsili Nicea, Efesus dan Khalsedon adalah upaya untuk membela iman mereka dari berbagai pengajaran di atas.
C. Konsili-Konsili
Konsili Pertama Nicea
     Konsili Nicea (325) Dalam Konsili Nicea, para uskup dari Gereja Timur memutuskan bahwa sebutan Allah digunakan bukanlah untuk kehormatan saja. Dalam Syahadat Nicea yang masih didaraskan dan dinyanyikan gereja dewasa ini, Yesus diakui sebagai "Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar; dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." "Jika syahadat ini tidak benar, kita tidak akan diselamatkan oleh Yesus," demikian kata mereka. Konsili Nicea memelihara Gereja dari bidaah Arianisme. Yesus dari Nazaret, Sang Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi ini. Konsili Kontantinopel pada tahun 381 juga berpikir demikian, para uskup dari Timur berpikir bahwa umat Kristen diselamatkan oleh Allah yang mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia. Jika ada sesuatu yang tidak diambil dalam penjelmaan, maka sesuatu itu tidak ditebus. Maka, Yesus benar-benar seutuhnya manusia menjadi kebenaran yang menyelamatkan. Maka Konsili ini meneguhkan pandangannya dalam Syahadat Nicea Konstantinopel
     Namun di lain pihak ada beberapa pandangan yang dianggap menekankan keilahian Yesus dan kurang menekankan bahwa Ia benar-benar manusia.
Sebab Ia makan, bukan untuk keperluan tubuh, yang kesegaran dan keutuhannya dijaga oleh suatu daya kekuatan suci, tetapi untuk keperluan agar mereka yang ada bersama-Nya tidak mempunyai pikiran yang lain tentang diri-Nya. “

Tuhan kita merasakan beratnya tekanan penderitaan tetapi tidak merasakan sakitnya; paku-paku menembus daging-Nya seperti suatu benda melewati udara tanpa rasa sakit
     Konsili Efesus Konsili Efesus tahun 431 memelihara gereja dari bidaah Nestorianisme. Konsili Efesus mewartakan bahwa - betapapun besarnya kodrat Ilahi dan kodrat insani - hanya ada satu pribadi saja dalam Yesus Kristus, di dalam manusia Yesus setiap orang menemukan Allah. Untuk mengungkapkan misteri Kristus ini dengan setegas-tegasnya, maka Konsili Efesus memberikan gelar Theotokos kepada Maria, artinya "Bunda Allah"’.

     Konsili Khalsedon Konsili Khalsedon tahun 451 memelihara gereja dari bidaah monofisitisme. Jika Nestorianisme mengatakan satu pribadi Yesus hanya Ilahi saja, maka Konsili Khalsedon mengggarisbawahi kemanusiaan Yesus dengan menegaskan bahwa dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya (lihat: Persatuan hipostasis). Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, nampak pula Allah yang sungguh-sungguh. Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan. Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi. Jadi, Yesus adalah simbol Allah, kata Roger Haight.
     Dari ketiga pernyataan Magisterium Gereja mengenai kristologis, maka misteri Allah menjadi terbuka, tidak dipersempit oleh akal budi, orang Kristen menemukan inti sari misteri Allah yang sebenarnya. Hati manusiawi Yesus itu hati Allah.

Abad Pertengahan
     Selama Abad pertengahan hingga masa Reformasi Protestan, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berkembang, ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh orang-orang Yunani. Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun karena pengaruh (yang menurutnya) dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah perubahan besar. Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi ajarannya. Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma. Luther mengklaim bahwa keadilan Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus. Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.

D. Kristologi di era modern
     Teologi umumnya mengikuti perkembangan, tidak komprehensif namun framentaris, kontekstual, multikultural, dapat diterima oleh budaya setempat. Teologi Kristen yang berpusat pada kristologi juga demikian, perjumpaan dengan Kristus selalu dialami dalam konteks tertentu, mengindahkan kenyataan hidup umat (Kristen) yang dilayani yang berada dalam pluralisme konteks.
     Kristologi dalam perjumpaan dengan umat beragama lain dapat membantu umat Kristen membaca Kristus dengan lebih luas, Kristus dalam Filipi 2:7-8 menyatakan Kristus sebagai manusia, bahkan hamba. Ini komentar dari umat Buddha di Srilanka. Dari Umat Islam, Yesus dianggap Nabi, mengikuti Yesus berarti mengikuti nabi dan hidup profetis, menjadi saksi Allah dalam berbela rasa terhadap penderitaan mansuia. Kristus bukan milik ekslusif Gereja lagi, namun terbuka bagi kehidupan universal.

     Isu-isu pada zaman modern yang seharusnya dapat dijawab oleh Kristologi sangat beragam, pluralisme, kemiskinan, perang, penderitaan, bencana alam dsb. John Hick mengutip pandangan Knitter tentang keunikan Yesus dalam lima hal; 1. Agama lain mungkin juga menjadi bagian dari karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia, namun tidak senyata-nyata seperti Kristus, agama lain lebih pada kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas. 2. Dalam dialog antar iman: Kristus sebagai wahyu sangatlah kuat, bahkan terus membuka ruang untuk didiskusikan. 3. Allah sungguh-sungguh berkarya dalam Kristus 4. Kristus Memedulikan keadilan sosial, dan di sini kasih Kristus dilihat secara hubungan mutualis karena kasih-Nya dibutuhkan dalam situasi ini, yaitu sebagai [Teologi Pembebasan|pembebas]. Dalam pandangan Yesus sebagai Anak Allah adalah Juruselamat secara universal. 5. Tuhan sebagai muara akhir yang transenden dan misteri, hal ini melengkapi kriteria Tuhan yang tidak bisa dijangkau manusia. Kristologi sangat bersifat soteriologis kontekstual yang membangun suatu komunitas manusiawi antar iman. Kristologi juga ditemukan dalam Christo-Praxis dan Christo-doxi yang terus menerus dan kontekstual. Di sini Kristologi dihadapkan pada mamon yaitu kekuatan materialisme yang membawa kehidupan berpusat pada harta benda

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...