
Dalam uraian kali ini dibahas mengenai pengertian orang Yahudi tentang Yesus dan bagaimana
korelasinya dengan Kekristenan dewasa ini, apakah sama dengan bangsa Yahudi
yang sebenarnya sedang menolak Yesus atau tidak. Setelah membahas “pendaulatan”
Yesus atau penghapusan asal ke-Yahudian-Nya oleh orang-orang Kristen,
dibicarakan pula bagaimana orang Yahudi dulu menggambarkan Yesus (Yesus dalam
Talmud) dan bagaimana pandangan orang Yahudi modern (Klausner, Buber), demikian
juga tentang perpecahan tetap(?) antara gereja dan sinagoge, dalam hal
pemahaman tentang diri Yesus.
“Yesus
bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi.” Ucapan Julius Wellhausen2
ini, menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya
sangat sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwa orang
Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini
menyatakan mungkin secara mengejutkan - betapa sering orang Kristen kira,
bahwa mereka memiliki Yesus bagi diri mereka sendiri, seakanakan mereka sudah
memahami dan mengetahui seluruh pribadiNya. Mereka lupa bahwa “keselamatan
datang dari bangsa Yahudi” sebagaimana terungkap dalam percakapan Yesus di
sumur dengan perempuan Samaria itu (Yoh 4:22).
“Kaum
Kristen telah mencabut Yesus dari tanah Israel. Mereka telah 'menghapus asal
Yahudi-Nya', lalu me-'Yunani'-kan-Nya, meng-'Eropa'-kan-Nya, men-'Jerman'-kan
Dia.”3 Bahkan dapat dikatakan bahwa terkadang Ia digambarkan sebagai
anti orang Yahudi. Namun bila membaca Kitab-kitab Injil, jelas terlihat bahwa pesan Yesus ditujukan
terutama, malah mungkin secara khusus, kepada bangsa Yahudi. Lapangan keija
Yesus terbatas terutama di Galilea dan Yerusalem. Hanya beberapa kali
diceritakan mengenai hubungan-Nya dengan orang yang bukan Yahudi dan tentang
kunjungan-Nya ke suatu daerah di luar Israel. Dan pada kesempatan itu Ia
berkata, bahwa Ia diutus hanya kepada dombadomba yang hilang dari umat Israel
(Mat 15:24). Namun Kitab-kitab Injil dan Perjanjian Baru pun sekaligus
menunjukkan ada kenyataan bahwa, di samping orang-orang Yahudi yang percaya
kepada Dia dan mengakui Dia sebagai “Kristus, Anak Allah yang hidup” seperti
pengakuan Petrus dalam Matius 16:16, atau seperti Tomas, yang menyebut Dia
“Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28), ada banyak yang tidak percaya kepada-Nya.
Dengan sangat mengharukan Paulus menulis kepada jemaat di Roma, betapa is
berdukacita dan bersedih hati, karena masih banyak orang Israel yang belum
percaya kepada Yesus (Rm 9:2).
Dalam kurun waktu
Perjanjian Baru perjalanan kehidupan orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi
maupun Kristen bangsa lain) dan kaum Yahudi belum terpisah sepenuhnya. Gereja
dan sinagoge masih saling berhubungan. Namun dari penyelidikan Perjanjian Baru
yang terakhir dapat dipastikan bahwa perpecahan yang historis antara gereja dan
sinagoge yang terjadi kemudian, agaknya tercermin dalam gambaran yang diberikan
dari sikap Yesus sendiri terhadap bangsa Yahudi.
Selanjutnya tafsiran
tertentu dari Perjanjian Baru, misalnya tafsiran yang diberikan atas berbagai
nas Injil Yohanes atau nas seperti “Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami
dan atas anakanak kami” (Mat 27:25), merupakan penyebab utama dari suatu
jurang pemisah, suatu perpecahan antara orang-orang Kristen dan Yahudi. Jejak
berdarah dari penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi membekas dalam sejarah
“Kristen”.
Yang tetap menjadi
misteri adalah bagaimana bisa terjadi sehingga lambang salib itu menjadi
lambang kehancuran bagi orang lain. Bahkan nama “Yesus Kristus” langsung
dihubungkan dengan penganiayaan dan pemusnahan orang-orang Yahudi, sebagaimana
dinyatakan oleh seorang Yahudi Amerika. Suatu penjelasan, tentu bukan dengan
maksud untuk dimaafkan, bahwa hal itu bisa terjadi harus dicari dalam teologi
atau ideologi tentang gereja.
Menurut orang Kristen,
bangsa Israel “dibutakan” sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam suratnya
kepada jemaat di Korintus, pada waktu mereka membaca hukum Allah pikiran mereka
terselubung, sehingga mereka tidak mengerti apa yang patut diketahui oleh
bangsa Israel (2 Kor 3:14-16). Banyak kali di gereja-gereja dan
katedral-katedral gambaran ini diperlihatkan secara jelas bagi setiap orang
Kristen sebagai bahan pelajaran. Di gereja Dom di Strasburg, begitu pula di
banyak gereja lain, gereja yang menang dan Jaya digambarkan berdampingan dengan
sinagoge yang terselubung.
Pada “jendela
penderitaan” di dalam katedral di Chartres (sekitar tahun 1215-1240) tergambar
Iblis yang melepaskan panah ke mata oknum yang melambangkan sinagoge. Itu
berarti bahwa kebutaan abadi terjadi, menggantikan selubung yang sebenarnya
masih dapat diangkat!
Selama berabad-abad orang
Yahudi dilihat sebagai “musuh salib” dan diperlakukan setimpal: disiksa apabila
tidak mau bertobat.
Orang-orang Kristen dari
abad-abad pertama dan juga sesudah itu mengharapkan dari bangsa yang dipilih
sebagai pewaris perjanjian Allah, bahwa sewajarnyalah mereka yang pertama-tama
bisa melihat penggenapan perjanjian itu di dalam diri Yesus. Yang sulit
diterima oleh orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi maupun Kristen bangsa
lain) adalah penolakan untuk mengakui Yesus sebagai Mesias oleh bagian terbesar
dari bangsa Israel. Sebab dengan demikian sudah tentu kepercayaan Kristen dan
hakhak yang terkandung di dalamnya dipertanyakan.
Pada tahun 1095 Paus
Urbanus ii menyerukan untuk mengadakan perang, yang kemudian dikenal sebagai
Perang Salib pertama. Tujuannya adalah membebaskan Tanah Suci, Palestina, dari
kaum Islam. Umat Islam dilihat juga sebagai “musuh salib”. Tentu saja dapat
dipastikan, bahwa sementara para pejuang salib menuju ke Tanah Suci, mereka
membunuh sebanyak mungkin “musuh-musuh salib” lainnya, yakni orang-orang Yahudi
yang mereka jumpai di perjalanan. Antara lain di daerah sungai Rhein mereka
membunuh orang-orang Yahudi yang dijuluki pembantaipembantai Kristus bahkan
lebih dari itu, pembantai-pembantai Allah. Daerah Rhein pada waktu itu adalah
salah satu kubu Yahudi tertua di Eropa.
Konon diceritakan bahwa suasana lingkungan hidup bersama bagi orang Yahudi dan
Kristen sama sekali diracuni oleh perasaan benci terhadap orang Yahudi yang
diamanatkan dan dipraktekkan melalui ajaran dan ketaatan agama. Menurut
kebiasaan yang hidup dalam Gereja Katolik Roma, pada Jumat Agung orang dibayar
(!) untuk menjewer seorang Yahudi yang berada dalam gereja sebagai balasan atas
penghinaan di Golgota. Pada permulaan abad ini masih merupakan kebiasaan di
beberapa desa di daerah Elzas untuk membakar sebuah boneka jerami yang
melambangkan orang Yahudi di tengah tanah lapang.
Selama
berabad-abad gereja merasa terpanggil untuk membawa orang Yahudi pada
pertobatan. Orang telah berharap, berdoa dan berusaha agar “selubung” itu
disingkapkan.
Dalam
sehelai surat penggembalaan dari Sinode Gereja Hervormd di Nederland tahun 1941
masih dinyatakan bahwa “seorang Yahudi adalah seorang dari bangsa Israel yang
menolak Yesus Kristus”. Hal itu adalah pertanda bagi kita dari permusuhan
manusia terhadap berita Injil ... Orang Yahudi tetap tinggal orang Yahudi
dalam arti yang terutama memberatkan dirinya sendiri, orang Yahudi tidak dapat
lepas dari dirinya sendiri selama ia tidak datang kepada Kristus ... Umat Yesus
Kristus merasa terikat pada doa permohonan bagi kaum Yahudi. Dan mereka
memanggil berdasarkan perjanjian yang lama yang masih tetap berlaku, agar orang
Yahudi datang kembali kepada Mesiasnya.
Kaum
Yahudi dan Yesus
Ada
baiknya jika orang Kristen menyadari bahwa agama Kristen bukan suatu masalah
“eksistensial” bagi orang-orang Yahudi seperti yang mungkin ia pikirkan. Apa
yang terjadi dengan Yesus di bawah kuasa Pontius Pilatus sama sekali tidak
mempengaruhi kesadaran agama orang Yahudi dalam abad-abad pertama. Perhatian
para rabi terhadap agama Kristen, yang pada waktu itu masih baru, tidak begitu
besar sebagaimana sexing diperkirakan. Malahan pada abad keempat orang-orang
Yahudi merasa lebih terancam oleh kepercayaan kafir daripada agama Kristen.
Pandang-an ini kemudian mulai berubah yang dipengaruhi oleh perkembangan
politik agama negara Byzantium (Romawi Timur) yang berkuasa. Negara Kristen
Byzantium, yang menguasai dunia pada waktu itu, dilihat oleh orang-orang Yahudi
sebagai negara dunia keempat, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Daniel dan yang menurut
penilaian mereka akan menjurus pada penyembahan berhala.
Yesus
dalam Talmud
Menurut David Flusser, sampai pada akhir abad kedua
karangan-karangan rabi tidak menyebut hal-hal yang menentang pribadi Yesus.
Hanya pengusiran setan-setan dalam nama Yesus yang tidak dapat mereka terima.”
Mulai akhir abad kedua muncul polemik-polemik dalam kesusastraan para rabi,
yang menentang pokok-pokok pengakuan iman Kristen tertentu, seperti pengakuan
bahwa Allah mempunyai seorang Putra. Flusser cenderung untuk menarik kesimpulan
bahwa baik Yesus maupun orang Kristen Yahudi ditentang bukan karena kepercayaan
mereka. Pertent.t.ngan dengan orang-orang Kristen Yahudi berpangkal terutama pada
segi sosial dan nasionalnya.” Juga keadaan politik pada waktu itu menyebabkan
penggambaran negatif tentang diri Yesus. Unsur “reaktif' ini perlu
diperhatikan. Demikianlah timbul apa yang disebut “injil dari ghetto”. Dalam
iklim politik yang permusuhan demikian muncullah tokoh rabi Bin Pandera, yang
dilihat sebagai pendiri agama Kristen yang merayu untuk beralih pada penyembahan
berhala.”
Toledoth Yeshuh adalah kumpulan cerita
tentang kehidupan Yesus, yang dikisahkan oleh orang-orang Yahudi dalam bentuk lelucon
sebagai ejekan terhadap Kitab-kitab Injil kanonik yang ada. Ceritanya mulai
sebagai berikut: Dalam zaman Bait Allah yang kedua, pada masa pemerintahan
Kaisar Tiberius dan Raja Herodes ii, raja Yerusalem yang hidup tanpa Tuhan,
hiduplah seorang lakilaki dari keturunan Daud yang bernama Yusuf bin Pandera
dan yang mempunyai istri yang bernama Maria. Di sebelah rumahnya tinggal
seorang yang tidak mengenal Tuhan, yang bernama Yohanan. Maria cantik dan
Yohanan ini ingin memilikinya dan ingin tidur bersamanya. Selanjutnya
diceritakan bahwa Maria menjadi ibu dari seorang anak haram, yang jadi tukang
sihir, abdi berhala dan penipu, yang berusaha untuk mendapat pengakuan sebagai
anak Allah. Yeshuh, si pelaku mujizat itu digantung dan dibuang ke tempat sampah.
Alasan yang
melatarbelakangi penyusunan berita “injil dari ghetto” semacam itu adalah guna
mencegah kemungkinan untuk berbalik pada kepercayaan kepada Kristus.
Cara kerja demikian
menunjukkan persamaan yang kuat dengan pola-pola pembelaan agama Kristen pada
Abad Pertengahan. Pada zaman itu muncullah penulisan biografi polemis tentang
Nabi Muhammad, juga dengan tujuan yang jelas sekali, yakni mencegah orang
Kristen menjadi Islam.' Gambaran demikian tentu tidak mempunyai nilai historis,
karena tidak menceritakan sesuatu mengenai Yesus yang asli dan historis,
melainkan menunjukkan terutama bagaimana reaksi orang pada saat tertentu
terhadap diri Yesus sebagaimana Ia digambarkan oleh orang-orang Kristen pada
waktu itu.
No comments:
Post a Comment