Thursday, June 27, 2019

YESUS DALAM BANGSA YAHUDI, PANDANGAN TENTANG KRISTUS BAGI BANGSA YAHUDI

Dalam uraian kali ini dibahas mengenai pengertian orang Yahudi tentang Yesus dan bagaimana korelasinya dengan Kekristenan dewasa ini, apakah sama dengan bangsa Yahudi yang sebenarnya sedang menolak Yesus atau tidak. Setelah membahas “pendaulatan” Yesus atau penghapusan asal ke-Yahudian-Nya oleh orang-orang Kristen, dibicarakan pula bagaimana orang Yahudi dulu menggambarkan Yesus (Yesus dalam Talmud) dan bagaimana pandangan orang Yahudi modern (Klausner, Buber), demikian juga tentang per­pecahan tetap(?) antara gereja dan sinagoge, dalam hal pemahaman tentang diri Yesus.
“Yesus bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi.” Ucapan Julius Wellhausen2 ini, menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat sederhana dan jelas, sekali­pun tidak dapat dikatakan bahwa orang Kristen selalu menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan ­mungkin secara mengejutkan - betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka memiliki Yesus bagi diri mereka sendiri, seakan­akan mereka sudah memahami dan mengetahui seluruh pribadi­Nya. Mereka lupa bahwa “keselamatan datang dari bangsa Yahudi” sebagaimana terungkap dalam percakapan Yesus di sumur dengan perempuan Samaria itu (Yoh 4:22).
“Kaum Kristen telah mencabut Yesus dari tanah Israel. Mereka telah 'menghapus asal Yahudi-Nya', lalu me-'Yunani'-kan-Nya, meng-'Eropa'-kan-Nya, men-'Jerman'-kan Dia.”3 Bahkan dapat dikatakan bahwa terkadang Ia digambarkan sebagai anti orang Yahudi. Namun bila membaca Kitab-kitab Injil, jelas terlihat bahwa pesan Yesus ditujukan terutama, malah mungkin secara khusus, kepada bangsa Yahudi. Lapangan keija Yesus terbatas terutama di Galilea dan Yerusalem. Hanya beberapa kali diceritakan mengenai hubungan-Nya dengan orang yang bukan Yahudi dan tentang kunjungan-Nya ke suatu daerah di luar Israel. Dan pada kesempatan itu Ia berkata, bahwa Ia diutus hanya kepada domba­domba yang hilang dari umat Israel (Mat 15:24). Namun Kitab-­kitab Injil dan Perjanjian Baru pun sekaligus menunjukkan ada kenyataan bahwa, di samping orang-orang Yahudi yang percaya kepada Dia dan mengakui Dia sebagai “Kristus, Anak Allah yang hidup” seperti pengakuan Petrus dalam Matius 16:16, atau seperti Tomas, yang menyebut Dia “Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28), ada banyak yang tidak percaya kepada-Nya. Dengan sangat mengharukan Paulus menulis kepada jemaat di Roma, betapa is berdukacita dan bersedih hati, karena masih banyak orang Israel yang belum percaya kepada Yesus (Rm 9:2).
Dalam kurun waktu Perjanjian Baru perjalanan kehidupan orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi maupun Kristen bangsa lain) dan kaum Yahudi belum terpisah sepenuhnya. Gereja dan sinagoge masih saling berhubungan. Namun dari penyelidikan Perjanjian Baru yang terakhir dapat dipastikan bahwa perpecahan yang historis antara gereja dan sinagoge yang terjadi kemudian, agaknya tercermin dalam gambaran yang diberikan dari sikap Yesus sendiri terhadap bangsa Yahudi.
Selanjutnya tafsiran tertentu dari Perjanjian Baru, misalnya tafsiran yang diberikan atas berbagai nas Injil Yohanes atau nas seperti “Biarlah darahNya ditanggungkan atas kami dan atas anak­anak kami” (Mat 27:25), merupakan penyebab utama dari suatu jurang pemisah, suatu perpecahan antara orang-orang Kristen dan Yahudi. Jejak berdarah dari penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi membekas dalam sejarah “Kristen”.
Yang tetap menjadi misteri adalah bagaimana bisa terjadi sehingga lambang salib itu menjadi lambang kehancuran bagi orang lain. Bahkan nama “Yesus Kristus” langsung dihubungkan dengan penganiayaan dan pemusnahan orang-orang Yahudi, sebagaimana dinyatakan oleh seorang Yahudi Amerika. Suatu penjelasan, tentu bukan dengan maksud untuk dimaafkan, bahwa hal itu bisa terjadi harus dicari dalam teologi atau ideologi tentang gereja.
Menurut orang Kristen, bangsa Israel “dibutakan” sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, pada waktu mereka membaca hukum Allah pikiran mereka terselubung, sehingga mereka tidak mengerti apa yang patut diketahui oleh bangsa Israel (2 Kor 3:14-16). Banyak kali di gereja-­gereja dan katedral-katedral gambaran ini diperlihatkan secara jelas bagi setiap orang Kristen sebagai bahan pelajaran. Di gereja Dom di Strasburg, begitu pula di banyak gereja lain, gereja yang menang dan Jaya digambarkan berdampingan dengan sinagoge yang terselubung.
Pada “jendela penderitaan” di dalam katedral di Chartres (sekitar tahun 1215-1240) tergambar Iblis yang melepaskan panah ke mata oknum yang melambangkan sinagoge. Itu berarti bahwa kebutaan abadi terjadi, menggantikan selubung yang sebenarnya masih dapat diangkat!
Selama berabad-abad orang Yahudi dilihat sebagai “musuh salib” dan diperlakukan setimpal: disiksa apabila tidak mau bertobat.
Orang-orang Kristen dari abad-abad pertama dan juga sesudah itu mengharapkan dari bangsa yang dipilih sebagai pewaris perjanjian Allah, bahwa sewajarnyalah mereka yang pertama-tama bisa melihat penggenapan perjanjian itu di dalam diri Yesus. Yang sulit diterima oleh orang-orang Kristen (baik Kristen Yahudi maupun Kristen bangsa lain) adalah penolakan untuk mengakui Yesus sebagai Mesias oleh bagian terbesar dari bangsa Israel. Sebab dengan demikian sudah tentu kepercayaan Kristen dan hak­hak yang terkandung di dalamnya dipertanyakan.
Pada tahun 1095 Paus Urbanus ii menyerukan untuk mengadakan perang, yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib pertama. Tujuannya adalah membebaskan Tanah Suci, Palestina, dari kaum Islam. Umat Islam dilihat juga sebagai “musuh salib”. Tentu saja dapat dipastikan, bahwa sementara para pejuang salib menuju ke Tanah Suci, mereka membunuh sebanyak mungkin “musuh-musuh salib” lainnya, yakni orang-orang Yahudi yang mereka jumpai di perjalanan. Antara lain di daerah sungai Rhein mereka membunuh orang-orang Yahudi yang dijuluki pembantai­pembantai Kristus bahkan lebih dari itu, pembantai-pembantai Allah. Daerah Rhein pada waktu itu adalah salah satu kubu Yahudi tertua di Eropa. Konon diceritakan bahwa suasana lingkungan hidup bersama bagi orang Yahudi dan Kristen sama sekali diracuni oleh perasaan benci terhadap orang Yahudi yang diamanatkan dan dipraktekkan melalui ajaran dan ketaatan agama. Menurut kebiasaan yang hidup dalam Gereja Katolik Roma, pada Jumat Agung orang dibayar (!) untuk menjewer seorang Yahudi yang berada dalam gereja sebagai balasan atas penghinaan di Golgota. Pada permulaan abad ini masih merupakan kebiasaan di beberapa desa di daerah Elzas untuk membakar sebuah boneka jerami yang melambangkan orang Yahudi di tengah tanah lapang.
Selama berabad-abad gereja merasa terpanggil untuk membawa orang Yahudi pada pertobatan. Orang telah berharap, berdoa dan berusaha agar “selubung” itu disingkapkan.

Dalam sehelai surat penggembalaan dari Sinode Gereja Hervormd di Nederland tahun 1941 masih dinyatakan bahwa “seorang Yahudi adalah seorang dari bangsa Israel yang menolak Yesus Kristus”. Hal itu adalah pertanda bagi kita dari permusuhan manusia terhadap berita Injil ... Orang Yahudi tetap tinggal orang Yahudi dalam arti yang terutama memberatkan dirinya sendiri, orang Yahudi tidak dapat lepas dari dirinya sendiri selama ia tidak datang kepada Kristus ... Umat Yesus Kristus merasa terikat pada doa permohonan bagi kaum Yahudi. Dan mereka memanggil berdasarkan perjanjian yang lama yang masih tetap berlaku, agar orang Yahudi datang kembali kepada Mesiasnya.

Kaum Yahudi dan Yesus
Ada baiknya jika orang Kristen menyadari bahwa agama Kristen bukan suatu masalah “eksistensial” bagi orang-orang Yahudi seperti yang mungkin ia pikirkan. Apa yang terjadi dengan Yesus di bawah kuasa Pontius Pilatus sama sekali tidak mempe­ngaruhi kesadaran agama orang Yahudi dalam abad-abad pertama. Perhatian para rabi terhadap agama Kristen, yang pada waktu itu masih baru, tidak begitu besar sebagaimana sexing diperkirakan. Malahan pada abad keempat orang-orang Yahudi merasa lebih terancam oleh kepercayaan kafir daripada agama Kristen. Pandang-an ini kemudian mulai berubah yang dipengaruhi oleh perkem­bangan politik agama negara Byzantium (Romawi Timur) yang berkuasa. Negara Kristen Byzantium, yang menguasai dunia pada waktu itu, dilihat oleh orang-orang Yahudi sebagai negara dunia keempat, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Daniel dan yang menurut penilaian mereka akan menjurus pada penyembahan berhala.

Yesus dalam Talmud
Menurut David Flusser, sampai pada akhir abad kedua karangan-karangan rabi tidak menyebut hal-hal yang menentang pribadi Yesus. Hanya pengusiran setan-setan dalam nama Yesus yang tidak dapat mereka terima.” Mulai akhir abad kedua muncul polemik-polemik dalam kesusastraan para rabi, yang menentang pokok-pokok pengakuan iman Kristen tertentu, seperti pengakuan bahwa Allah mempunyai seorang Putra. Flusser cenderung untuk menarik kesimpulan bahwa baik Yesus maupun orang Kristen Yahudi ditentang bukan karena kepercayaan mereka. Pertent.t.ngan dengan orang-orang Kristen Yahudi berpangkal terutama pada segi sosial dan nasionalnya.” Juga keadaan politik pada waktu itu menyebabkan penggambaran negatif tentang diri Yesus. Unsur “reaktif' ini perlu diperhatikan. Demikianlah timbul apa yang disebut “injil dari ghetto”. Dalam iklim politik yang permusuhan demikian muncullah tokoh rabi Bin Pandera, yang dilihat sebagai pendiri agama Kristen yang merayu untuk beralih pada penyem­bahan berhala.”
Toledoth Yeshuh adalah kumpulan cerita tentang kehidupan Yesus, yang dikisahkan oleh orang-orang Yahudi dalam bentuk lelucon sebagai ejekan terhadap Kitab-kitab Injil kanonik yang ada. Ceritanya mulai sebagai berikut: Dalam zaman Bait Allah yang kedua, pada masa pemerintahan Kaisar Tiberius dan Raja Herodes ii, raja Yerusalem yang hidup tanpa Tuhan, hiduplah seorang laki­laki dari keturunan Daud yang bernama Yusuf bin Pandera dan yang mempunyai istri yang bernama Maria. Di sebelah rumahnya tinggal seorang yang tidak mengenal Tuhan, yang bernama Yohanan. Maria cantik dan Yohanan ini ingin memilikinya dan ingin tidur bersamanya. Selanjutnya diceritakan bahwa Maria menjadi ibu dari seorang anak haram, yang jadi tukang sihir, abdi berhala dan penipu, yang berusaha untuk mendapat pengakuan sebagai anak Allah. Yeshuh, si pelaku mujizat itu digantung dan dibuang ke tempat sampah.
Alasan yang melatarbelakangi penyusunan berita “injil dari ghetto” semacam itu adalah guna mencegah kemungkinan untuk berbalik pada kepercayaan kepada Kristus.

Cara kerja demikian menunjukkan persamaan yang kuat dengan pola-pola pembelaan agama Kristen pada Abad Perte­ngahan. Pada zaman itu muncullah penulisan biografi polemis tentang Nabi Muhammad, juga dengan tujuan yang jelas sekali, yakni mencegah orang Kristen menjadi Islam.' Gambaran demikian tentu tidak mempunyai nilai historis, karena tidak menceritakan sesuatu mengenai Yesus yang asli dan historis, melainkan menunjukkan terutama bagaimana reaksi orang pada saat tertentu terhadap diri Yesus sebagaimana Ia digambarkan oleh orang-orang Kristen pada waktu itu.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...