Saturday, May 18, 2019

PAHALA BAGI ORANG BENAR

Mazmur 58:7-12
 
     Ada kisah tentang seorang pria sebut saja pak Lukas. Dia beserta keluarganya terpaksa harus pindah ke tempat lain karena perang. Dia adalah seorang pria yang baik dan beribadah. Tinggal di daerah yang baru dan termasuk tandus tentu amat menyusahkan baginya dan keluarga. Namun hal yang paling membuat dia dan sekeluarga merasa tidak nyaman adalah tetangga mereka yang terkenal amat bengis dan tidak bersahabat. Tetangga itu sudah sering menjadi biang kerok dari berbagai keributan dan kekerasan terhadap warga yang lain. Di suatu sore usai mendengarkan cerita warga tentang kiprah buruk tetangganya itu, pak Lukas berujar;”jika dia berani macam-macam,akan saya balas dia”. Hal itu tentu saja membuat seisi rumah amat kuatir.
     Di suatu sore setelah berkali-kali alami tingkah dari tetangganya yang bengis itu, pak Lukas mendapat “durian runtuh” namun kali ini bukan berarti suatu hadiah tapi suatu musibah. Tetangganya datang membawa seonggok mayat babi yang tambun. Babi itu didorong dengan gerobak masuk ke halaman pak Lukas. “Ini babimu hah? taruh di mana hah? Dia masuk ke pekarangan rumah saya dan merusak tanaman saya. Saya tembak dia.” Pak Lukas merah padam menahan geramnya dan menerima babinya kembali dalam keadaan mati. Tetangganya itu pergi tanpa ada rasa menyesal sedikitpun. Tersirat betapa bangganya dia dapat menghukum orang sesuka hatinya.
     Beberapa minggu kemudian sapi tetangganya itu kedapatan masuk ke kebun jagung pak Lukas yang siap dipanen. Tergolong sapi yang tahu menikmati hidup, hewan itu kesana kemari merusak dan memakan jagung-jagung itu. Anak pak Lukas datang berlari dan mengambil senapan. Namun pak Lukas sigap melarang anaknya sembari berkata;”Jangan,kita tangkap sapi itu dan kembalikan dalam keadaan baik-baik. Anaknya amat geram dan tidak habis pikir mengapa ayahnya bertindak demikian. Bukankah babi mereka pernah ditembak oleh tetangganya itu? Saatnya membalas sekarang bukan?
     Ketika pak Lukas membawa sapi itu ke rumah tetangganya, si bengis itu amat tertegun dan tidak tahu harus berkata apa. Dia dengan rasa bersalah campur segan menerima kembali sapinya dalam keadaan baik tanpa luka. Sejak saat itu tetangganya menunjukkan perubahan yang luar biasa,dia mulai bergaul baik dengan pak Lukas dan warga lainnya. Dia menjadi jemaat yang aktif di gereja bersama pak Lukas dan mengenal akan arti sebuah kasih. Sewaktu ditanya oleh keluarganya apa yang dimaksud pak Lukas dengan ucapan “saya akan balas dia”, dia berkata bahwa dia menerapkan firman dalam amsal 25:21-22.
“Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu.”

Amat mudah bagi bara api Allah untuk membakar habis kebengisan dan kebencian tetangganya. Hal itu terbukti oleh perubahan sikap tetangganya tersebut. Semoga kisah ini memberi hikmah dan hikmat bagi kita semua. Amin.

Animisme dan Dinamisme dalam Kebudayaan Indonesia


Kebudayaan Nasional Indonesia
Kebudayaan atau budaya menurut Bapak Antropologi Indonesia, Koenjtaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.# Pengertian tersebut merujuk pada gagasan J. J Honigmann (1973) tentang wujud kebudayaan atau disebut juga gejala kebudayaan. Honigmann membagi kebudayan kedalam tiga wujud, yakni kebudayaan dalam wujud ide, pola tindakan dan artefak atau benda-benda.
Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict (1934) melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari/learning behavior. Kebudayaan juga dapat dipahami sebagai suatu sistem ide/gagasan yang dimiliki suatu masyarakat lewat proses belajar dan dijadikan acuan tingkah laku dalam kehidupan sosial bagi masyarakat tersebut (Koentjaraningrat, 1996). Sedangkan sistem budaya sendiri dapat dikatakan sebagai seperangkat pengetahuan yang meliputi pandangan hidup, keyakinan, nilai, norma, aturan, hukum yang diacu untuk menata, menilai, dan menginterpretasikan benda dan peristiwa dalam berbagai aspek kehidupannya. Nilai-nilai yang menjadi salah satu unsur sistem budaya, merupakan konsepsi abstrak yang dianggap baik dan amat bernilai dalam hidup, yang kemudian menjadi pedoman tertinggi bagi kelakuan dalam suatu masyarakat.
Animisme dalam Kebudayaan Indonesia
 Animisme berasal dari kata anima, dari bahasa latin animus dan bahasa yunani anepos, dalam bahasa sansekerta disebut prana, dalam bahas ibrani ruah. Arti secara umum adalah napas atau jiwa. Animisme adalah ajaran/doktrin tentang realitas jiwa.1 Keyakinan ini banyak dianut oleh bangsa-bangsa yang belum bersentuhan dengan agama wahyu. Paham animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia, atau bahkan membantu mereka dalam kehidupan ini.
 Animisme dapat diartikan sebagai kepercayaan manusia pada roh leluhur. Dalam keyakinan masyarakat yang menganut paham animisme mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang maha tinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbauatan manusia. Kemudian pemujaan semacam ini lalu berkembang menjadi penyembahan roh-roh. Roh oarng yang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai makluk kuat yang menentukan, segala kehendak serta kemauan yang harus dilayani. Dan mereka juga beranggapan roh tersebut juga dapat merasuk kedalam benda-benda tertentu. Roh yang masuk kesebuah benda akan menyebabkan kesaktian atau kesakralan benda tersebut. Maka dari itu masyarakat tadi menyembah pada roh-roh tersebut supaya selamat dari bahaya.
 Masyarakat percaya bahwa roh itu bukan hanya menempati makluk hidup tetapi juga benda-benda mati, sehingga roh itu terdapat dalam batu-batuan, pohon-pohon besar, tombak, kepal manusia yang dimumi. Karena adanya kepercayaan pad roh dan hantu, timbullah paemujaan pada tempat/benda yang dianggapa dihuni roh. Dan yang dipuja agar membaas kebaikan, ada pula yang dipuja agar roh itu tidak mengganggu. Agar terhindar dari kemarahan roh/hantu biasanya diadakan ritual yang dipimpin oleh para pendeta. Adakalanya mereka membujuk roh-roh dengan mengadakan penguburan hewan/manusia yang dikubur hidup-hidup atau diambil kepalanya dan dilempar kedalam gunung manakala sebuah gunung meletus. Mereka beranggapan bahwa jika ada bencana alam berarti roh-roh alam sedang marah.


Dinamisme dalam Kebudayaan Indonesia.

 Dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos, sedangkan dalam bahasa Inggris berarti dynamic dan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan arti kekuatan, daya, atau kekuasaan. Definisi dari dinamisme memiliki arti tentang kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini memiliki kekuatan ghaib. Dalam Ensiklopedi umum, dijumpai defenisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif yang ada pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga dengan nama preanimisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai daya dan kekuatan. Maksud dari arti tadi adalah kesaktian dan kekuatan yang berada dalam zat suatu benda dan diyakini mampu memberikan manfaat atau marabahaya. Kesaktian itu bisa berasal dari api, batu-batuan, air, pepohonan, binatang, atau bahkan manusia sendiri. Dinamisme lahir dari rasa kebergantungan manusia terhadap daya dan kekuatan lain yang berada di luar dirinya. Setiap manusia akan selalu merasa butuh dan harap kepada zat lain yang dianggapnya mampu memberikan pertolongan dengan kekuatan yang dimilikinya. Manusia tersebut mencari zat lain yang akan ia sembah yang dengannya ia merasa tenang jika ia selalu berada di samping zat itu.
Kebudayaan Nasional Indonesia yang sekarang masih dipertahankan oleh masyarakat Indonesia tidak semata-mata muncul apalagi kebudayaan yang dianggap memiliki unsur mistisme didalamnya. Warisan masa lalu juga mempunyai peran dalam perkembangan kebudayaan yang memiliki unsur mistisme, hal-hal mistis ini diceritakan secara turun temurun oleh nenek moyang karena adanya suatu kepercayaan bahwa hal mistis itu benar-benar terjadi dan merupakan hal yang dipercayai hingga generasi-generasi berikutnya.
Dinamisme, Animisme, Politeisme, Monoteisme dan Henoteisme
Dinamisme adalah kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Tujuan beragama pada dinamisme adalah untuk mengumpulkan kekuatan gaib atau mana (dalam bahasa ilmiah) sebanyak mungkin.
Animisme adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang beryawa maupun tidak bernyawa mempunyai roh. Tujuan beragama dalam Animisme adalah mengadakan hubungan baiik dengan roh-roh yang ditakuti dan dihormati itu dengan senantiasa berusaha menyenangkan hati mereka.
Politeisme adalah kepercayaan kepada dewa-dewa. Tujuan beragama dalam politeisme bukan hanya memberi sesajen atau persembahan kepada dewa-dewa itu, tetapi juga menyembah dan berdoa kepada mereka untuk menjauhkan amarahnya dari masyarakat yang bersangkutan.
Henoteisme adalah paham tuhan nasional. Paham yang serupa terdapat dalam perkembangan keagamaan masyarakat yahudi.
Monotheisme adalah faham yang meyakini Tuhan itu tunggal dan personal, yang sangat ketat menjaga jarak dengan ciptaanNya.
Pengertian Animisme dan Dinamisme

a.Animisme
Setiap benda baik hidup maupun mati mempunyai roh atau jiwa. Roh
itu mempunyai kekuatan gaib yang disebut mana. Roh atau jiwa itu pada
manusia disebut nyawa. Nyawa itu dapat berpindah-pindah dan mempunyai
kekuatan gaib. Oleh karena itu, nyawa dapat hidup di luar badan manusia.
Nyawa dapat meninggalkan badan manusia pada waktu tidur dan dapat
berjalan kemana-mana (itulah merupakan mimpi). Akan tetapi apabila
manusia itu mati, maka roh tersebut meninggalkan badan untuk selamalamanya.
Roh yang meninggalkan badan manusia untuk selama-lamanya itu
disebut arwah. Menurut kepercayaan, arwah tersebut hidup terus di negeri
arwah serupa dengan hidup manusia. Mereka dianggap pula dapat berdiam
di dalam kubur, sehingga mereka ditakuti. Bagi arwah orang-orang terkemuka
seperti kepala suku, kyai, pendeta, dukun, dan sebagainya itu dianggap
suci. Oleh karena itu, mereka dihormati; demikian pula nenek
moyang kita. Dengan demikian timbullah kepercayaan yang memuja arwah
dari nenek moyang yang disebut Animisme.
Karena arwah itu tinggal di dunia arwah (kahyangan) yang letaknya di
atas gunung, maka tempat pemujaan arwah pada zaman Megalitikum, juga
dibangun di atas gunung/bukit. Demikian pula pada zaman pengaruh
Hindu/Buddha, candi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang atau
dewa dibangun diatas gunung/bukit. Sebab menurut kepercayaan Hindu
bahwa tempat yang tinggi adalah tempat bersemayamnya para dewa,
sehingga gambaran gunung di Indonesia (Jawa khususnya) merupakan
gambaran gunung Mahameru di India. Pengaruh ini masih berlanjut juga
pada masa kerajaan Islam, di mana para raja jika meninggal di makamkan
di tempat-tempat yang tinggi, seperti raja-raja Yogyakarta di Imogiri dan
raja-raja Surakarta di Mengadek. Hubungannya dengan arwah tersebut tidak

diputuskan melainkan justru dipelihara sebaik-baiknya dengan mengadakan
upacara-upacara selamatan tertentu. Oleh karena itu, agar hubungannya
dengan arwah nenek moyang terpelihara dengan baik, maka dibuatlah
patung-patung nenek moyang untuk pemujaan.


b.Dinamisme
Istilah dinamisme berasal dari kata dinamo artinya kekuatan. Dinamisme
adalah paham/kepercayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik benda
hidup atau mati bahkan juga benda-benda ciptaan (seperti tombak dan keris)
mempunyai kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci. Benda suci itu mempunyai
sifat yang luar biasa (karena kebaikan atau keburukannya) sehingga
dapat memancarkan pengaruh baik atau buruk kepada manusia dan dunia
sekitarnya. Dengan demikian, di dalam masyarakat terdapat orang, binatang,
tumbuh-tumbuhan, benda-benda, dan sebagainya yang dianggap mempunyai
pengaruh baik dan buruk dan ada pula yang tidak.
Benda-benda yang berisi mana disebut fetisyen yang berarti benda sihir.
Benda-benda yang dinggap suci ini, misalnya pusaka, lambang kerajaan,
tombak, keris, gamelan, dan sebagainya akan membawa pengaruh baik
bagi masyarakat; misalnya suburnya tanah, hilangnya wabah penyakit, menolak
malapetaka, dan sebagainya. Antara fetisyen dan jimat tidak terdapat
perbedaan yang tegas. Keduanya dapat berpengaruh baik dan buruk tergantung
kepada siapa pengaruh itu hendak ditujukan. Perbedaannya, jika
jimat pada umumnya dipergunakan/dipakai di badan dan bentuknya lebih
kecil dari pada fetisyen. Contohnya, fetisyen panji Kiai Tunggul Wulung
dan Tobak Kiai Plered dari Keraton Yogyakarta.

Macam-macam ciri Ketuhanan Agama suku di Indonesia



Animisme
Kepercayaan animisme (dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.
Diperkirakan bahwa di provinsi Kalimantan Barat masih terdapat 7,5 juta orang Dayak yang tergolong pemeluk animisme.
Selain dari pada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan animisme juga mempercayai bahwa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam tubuh hewan, misalnya suku Nias mempercayai bahwa seekor tikus yang keluar masuk dari rumah merupakan roh dari wanita yang telah mati beranak. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh bebuyutan pada masa hidupnya.
Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti yang terdapat pada agama Hindu dan Buddha, di mana dalam reinkarnasi, jiwa tidak pindah langsung ke tubuh hewan lain yang hidup, melainkan melalui proses kelahiran kembali kedunia dalam bentuk kehidupan baru. Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep karma yang berbeda dengan kepercayaan animisme ini.
Animisme: Agama Orang Suku yang Buta Aksara
Animisme adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan agama suku atau agama yang dianut oleh komunitas buta aksara. Kepercayaan ini juga sering disebut sebagai agama tradisional atau agama aborigin. Kerap kali orang-orang salah kaprah menganggapnya sebagai agama primitif karena sebenarnya agama tersebut cukup kompleks.
Ada sekitar 100 juta penganut agama suku dari ribuan suku yang tersebar di berbagai benua dan pulau yang berbeda. Agama suku kebanyakan dianut oleh suku Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan, suku Afrika bagian tropis, pulau Irian, dan Oseania; selain itu, agama suku juga dianut oleh suku aborigin yang primitif di Australia, Selandia Baru, India, dan Jepang.
Terdapat beberapa perbedaan mencolok antara agama dan kebudayaan suku-suku ini, namun lewat pembelajaran menyeluruh tentang suku-suku tersebut kita dapat menarik tema-tema besar yang memiliki kemiripan. Para antropolog sekuler dan misionaris telah menyiapkan data bagi mereka yang mencari informasi tentang suku-suku tersebut. Masih banyak informasi yang keliru karena mereka tidak memahami bahasa suku dan kurang memaksimalkan waktu untuk membuktikan dan menemukan rahasia terdalam agama-agama suku. Walaupun telah melakukan penelitian yang cukup lama, beberapa temuan masih sering tidak mencapai kata sepakat serta menimbulkan kontroversi. Penelitian semakin sulit dilakukan karena banyak suku yang hampir punah atau telah berintegrasi dengan peradaban. Namun demikian, masih banyak generalisasi yang sah yang dapat kita buat tentang animisme.
Banyak dasar-dasar animisme dapat ditemukan pada pemeluk agama-agama yang sudah "berkembang" seperti Muslim, Buddhis, dan orang-orang Kristen KTP. Kita menyebutnya takhayul, contohnya "nasib buruk jika kucing hitam melintas di depan kita". Tabu-tabu seperti ini lumrah muncul dalam kepercayaan animisme. Berikut definisi yang diberikan oleh Houghton.
Berasal dari kata "anima" (nafas). Animisme dapat dikenal dengan istilah yang lebih sederhana dan populer "penyembahan roh", berbeda dengan penyembahan kepada Allah atau dewa-dewa.
Dampaknya terhadap pemikiran agama primitif menunjukkan seberapa jauh animisme mendasari agama natural, berkebalikan dengan agama pewahyuan. Yang disebut sebagai animisme termasuk "Nekrolatri", yaitu kegiatan penyembahan jiwa manusia dan hewan, terutama yang sudah meninggal; Penyembahan Roh, yaitu tidak membatasi umat menyembah kepada obyek atau tubuh tertentu; dan Naturisme, yaitu penyembahan terhadap entitas spiritual yang dipercaya dapat mengatur fenomena alam. Paham seperti ini tidak hanya terdapat dalam agama suku yang liar dan buas sebelum mereka berhubungan dengan peradaban, namun paham tersebut juga menjadi dasar filsafat orang-orang Hindu, Buddhis, Shinto, Konfusianis, dan Islam, dan juga menjadi landasan cerita-cerita takhayul orang-orang Kristen di Eropa, selain juga mitologi dari Mesir, Babilonia, Siria, Yunani, Roma, dan Skandinavia.
Banyak kegiatan dan konsep agama-agama yang sama di antara berbagai kepercayaan animisme. Sebagian besar memiliki kegiatan-kegiatan komunal rutin seperti ritual, acara tradisi (terkait dengan kelahiran, kedewasaan, pernikahan, kematian, dll.), pesta adat, sihir, mitos dan legenda, pemujaan terhadap kesuburan, fetisisme, imam/shaman/dukun, mana (kekuatan supernatural yang gaib), roh-roh, ramalan dan korban persembahan, tabu-tabu, totemisme, dan pemujaan orang mati.
Nekrolatri (penyembahan orang mati)
Bagi agama suku, memerhatikan jiwa orang mati sangatlah penting. Upacara dilaksanakan sebagai bentuk rasa hormat terhadap nenek moyang. Selain itu, bisa jadi mereka takut akan jiwa orang lain yang telah meninggal. Masyarakat suku sering berpendapat bahwa nenek moyang yang telah tiada masih menjadi bagian dari klan mereka sehingga mereka merasa wajib menyenangkan nenek moyangnya dengan melaksanakan beragam ritual. Mereka biasanya takut terkena celaka yang disebabkan oleh amarah orang mati kepada mereka. Mereka menganggap ini sungguh-sungguh dapat terjadi terutama bagi mereka yang meninggal dengan cara yang tidak wajar. Jiwa akan datang dan memburu yang hidup, kecuali jiwa tersebut dibantu dalam perjalanannya ke tempat orang mati dengan melaksanakan upacara-upacara yang sesuai.
Penyembahan Roh
Agama suku tidak hanya memedulikan jiwa orang mati, tetapi juga keberadaan setan dan roh yang berpribadi. Mereka juga percaya di alam ini terdapat kekuatan roh nirpribadi yang disebut "mana" oleh orang-orang Polinesia.
Sebagian besar agama suku memercayai banyak sekali roh-roh jahat yang mendiami tanah, udara, air, api, pohon, gunung, serta hewan. Seluruh kehidupan diatur oleh tabu-tabu dan ritual-ritual yang dirancang khusus untuk menentramkan para roh.
Penyembahan Roh -- Shamanisme
Sering kali "shaman" atau imam/dukun berfungsi sebagai perantara yang mahir dan serba tahu tentang mantra dan jumlah korban persembahan. Acapkali, mereka dipanggil untuk menyembuhkan sakit penyakit, tapi seorang shaman juga memunyai beberapa fungsi lain. Dalam banyak suku lainnya biasa ditemui individu-individu lain untuk melakukan ritual tersebut sendiri.
Penyembahan Roh -- Sihir
Dalam banyak kasus, roh tidak dilihat sebagai sosok berpribadi, namun dilihat sebagai kekuatan alam nirpersonal seperti yang dikatakan di atas. Banyak suku yang mengembangkan kepercayaan dan kegiatan sihir mereka agar dapat memanfaatkan kekuatan alam demi kepentingan pribadi mereka. Sihir peniruan digunakan untuk mencelakai musuh dengan menyerang representasinya (misalnya boneka voodoo). Sihir penularan adalah praktik-praktik sihir yang bergantung pada hubungan yang terdapat antara seseorang dengan benda-benda yang berhubungan dengannya seperti potongan rambut, potongan kuku, atau kotoran manusia.
Sihir juga dapat digunakan untuk kepentingan individu tertentu. Darah dari hewan pemangsa diminum untuk mendapatkan kekuatan hewan tersebut. Kepercayaan ini berkembang lebih jauh lagi dalam tindakan kanibalisme: memakan musuhnya untuk memperoleh kekuatannya.
Penyembahan Roh -- Fetisisme
Konsep "mana" sangat membantu kita memahami kegunaan dari mantra, jimat, dan fetis-fetis lainnya. Mereka biasanya tidak dianggap dihuni oleh roh yang berpribadi, namun oleh energi atau kekuatan spiritual. Tentu saja mantra dan jimat tidak hanya dipakai oleh para penganut animisme saja. Banyak orang Barat, demikian pula orang Islam, dan penganut agama lain yang beradab, percaya dengan bermacam-macam jimat. Dalam budaya suku, hal inilah yang menempati posisi sebagai ilmu pengetahuan.
Naturisme
Naturisme adalah personifikasi dan penyembahan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang, api, gunung berapi, badai, dan hewan. Bentuk penyembahan seperti ini sudah lazim dalam agama orang-orang kuno, seperti halnya matahari yang diagungkan dalam agama Mesir kuno. Gagasan-gagasan naturistis ternyata juga muncul dalam agama-agama yang lebih "tinggi", seperti sapi suci oleh orang-orang Hindu di India atau gunung suci orang-orang Shinto Jepang. Memang tidak mudah untuk membuat perbedaan yang jelas antara kegiatan sihir yang disebut di atas dan naturisme. Namun demikian, dalam banyak kejadian, alamlah yang disembah. Biasanya, naturisme berkembang menjadi penyembahan berhala dan politeisme (penyembahan terhadap banyak dewa).
Banyak praktik naturistis berkaitan erat dengan kesuburan, baik dalam pertanian maupun reproduksi manusia. Penyembahan, ritual-ritual, dan korban-korban persembahan dimaksudkan untuk menjamin kesuburan. Tampaknya, korban manusia adalah bentuk ekstrem dari ritual ini, seperti yang muncul dalam ritual agama orang-orang Maya yang ditemukan di Meksiko sebelum masa penjajahan atau pada orang-orang Naga yang buas di bagian timur laut India dan Burma.
Naturisme -- Totemisme
Mungkin totemisme termasuk salah satu aspek naturisme. Totemisme adalah istilah yang berasal dari sebuah kata Indian yang berarti "saudara-lelaki-perempuan", yang melambangkan kesatuan klan dengan beberapa tanaman atau hewan suci. Warga suku melihat bahwa ini adalah aspek keterkaitan antara kehidupan manusia dan alamnya. Oleh karena itu, hewan atau tumbuhan totem dianggap suci bagi suku mereka dan tidak boleh dimakan kecuali dalam upacara-upacara khusus.
Kesimpulan

William Paton merinci empat karakteristik agama dan budaya animisme. Pertama, seluruh kehidupan diliputi ketakutan. Ketakutan mengatur sebagian besar tindakan-tindakan orang-orang suku. Kedua, hilangnya kasih dan penghiburan dari agamanya. Seorang penganut animisme mungkin dapat memunyai konsep Allah Pencipta, namun Dia dirasa sangat jauh dari kehidupan manusia sehingga mereka tidak perlu memedulikan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada pengharapan dalam agama mereka. Ketiga, tidak ada hal yang absolut dalam moralitas. Dosa tidak dilihat sebagai dosa, namun hanya pelanggaran terhadap budaya, adat, dan kekuatan alam. Keempat, kurangnya hubungan dengan Allah menyebabkan sikap pandang yang fatalistik karena seluruh kejadian dalam kehidupan ini telah ditentukan sebelumnya dan diatur oleh alam dan setan. Penilaian kekristenan terhadap kepercayaan animisme harus dimulai dengan penjelasan Rasul Paulus dalam Roma 1:21-25 tentang bagaimana keturunan Nuh yang pernah percaya kepada Tuhan terdegradasi ke dalam praktik animisme. Houghton mengutip kesimpulan dari seorang anonim yang tepat: "Inti dari kafirisme bukanlah suatu penyangkalan terhadap Allah ... namun sebuah pengabaian terhadap Dia dan beralih kepada penyembahan kekuatan alam serta kekuatan setan yang misterius melalui sihir dan korban dan upacara magis."

Agama suku dari sudut pandang Kristen


1.    Pengertian Agama
Kata “Agama” secara etimologi terbentuk dari kata a – gam – a (a = tidak, gam = kacau, dan akhiran “a” yang membentuk sifat eternal. Sehingga, a – gam – a artinya tidak kacau yang bersifat abadi. Jadi, kata “Agama” secara etimologi adalah sesuatu yang tetap yang bersifat abadi. Pengertian ini menunjukkan bahwa berbicara tentang “Agama” maka pembicaraan itu mengarah kepada sesuatu keadaan yang memiliki nilai kekekalan. Hal ini berarti bahwa pada satu sisi Agama membawa penganutnya kepada kehidupan yang kekal tetapi juga pada sisi yang lain mengarah kepada sikap penganutnya yang tidak berubah/tetap.
Agama dalam perspektif yang lain diartikan sebagai “Sistem kepercayaan, sikap dan praktek agamawi yang dilakukan oleh manusia kepada satu pribadi yang dapat memberikan berkat. Sistem kepercayaan ini dapat dilihat dari perspektif “Samawi dan Wadi’i" sehingga ada istilah Agama Samawi dan Agama Wadi’i. Agama Samawi bersumber dari Allah yang dihasilkan oleh pewahyuan. Agama Samawi yang kita kenal adalah “Yahudi, Kristen, dan Islam”. Sedangkan Agama Wadi’i bersumber dari manusia yang dihasilkan oleh budaya, pandangan hidup/falsafah, pengalaman magi seseorang atau kelompok masyarakat tertentu.

2.    Pengertian Suku/Ethnis/ras
Suku/ethnis/ras diartikan sebagai kumpulan orang-orang yang mendiami daerah tertentu yang memiliki berbagai macam kesamaan karena berasal dari satu keturunan nenek moyang.
Contoh:
-         Suku Batak Toba (Orang-orang mendiami daerah di sekitar Danau Toba)
-         Suku Batak Karo (Orang-orang yang mendiami daerah/tanah Karo).
-         Suku Nias (Orang-orang yang mendiami daerah/Pulau Nias).
-         Suku Jawa (Orang-orang yang mendiami daerah/Pulau JAwa)
-         Dll.
Orang-orang yang mendiami daerah-daerah tersebut mungkin mereka berasal dari satu keturunan/nenek moyang, hidup bersama selama beberapa waktu lamanya dan memiliki kesamaan/gaya hidup yang disebut dengan adat-istiadat. Adat istiadat ini muncul dari pengalaman hidup seseorang atau kelompok orang dan diikuti terus menerus.
Dari dua pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan “Agama Suku” adalah sistem kepercayaan, sikap dan praktek agamawi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu kepada pribadi/sesuatu yang dapat memberikan perlindungan. Sumbernya adalah pengalaman hidup dari orang atau kelompok masyarakat tertentu. Sehingga dapat dikatakan bahwa Agama suku adalah agama yang dihasilkan oleh pengalaman magi manusia (Agama Wadi’i).
B.     Agama dalam Perspektif Alkitab
Dalam PL tidak ditemukan bahwa Allah menyuruh umat-Nya membentuk satu aliran atau sistem kepercayaan. Hal yang pasti yang difirmankan Allah adalah Tuhan itu Esa karena itu kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul. 6:4-5). Selanjutnya Allah memerintahkan kepada segenap bangsa Israel untuk mengajarkannya terus menerus kepada generasi berikut menjadi gaya hidup yang menyembah kepada Allah. Itulah sebabnya muncullah berbagai gaya pengajaran (liturgi, waktu-waktu berdoa, tempat berdoa) dengan maksud untuk mudah memahaminya. Namun, yang dimaksudkan Allah adalah totalitas hidup bukan suatu sistem yang dibuat oleh manusia.
Hal itu diawali dengan, Ia memanggil Abraham keluar dari sistem penyembahannya kepada berhala (Yos. 24:2) dipisahkan untuk pergi ke tempat yang sudah dikuduskan baginya yaitu di Kanaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa yang Allah kehendaki adalah bukan sistem penyembahan/kepercayaan (Agama) tetapi totalitas hidup kita yang harus dipersembahkan kepada Allah, (Roma 12:1-2).

C.     Praktek Agama Suku dan Akibatnya
1.    Praktek Agama Suku
Hal yang umum dilakukan oleh Agama suku antara lain:

a.    Ibadah/Penyembahan
Ibadah/penyembahan Agama Suku dilakukan untuk memuji dewa; dalam Alkitab disebut dengan allah lain.

b.    Kurban
Penyembahan Agama suku juga disertai dengan kurban berupa darah binatang bahkan darah manusia, tergantung pada bentuk ibadahnya. Kalau ibadah yang dilakukan untuk meredam kemarahan para dewa biasanya meminta korban manusia.

Pertanyaan: siapa yang dimaksudkan dengan dewa dalam penyembahan Agama Suku”. Alkitab menjelaskan; hanya ada 2 (dua) oknum yang menerima penyemba-han yaitu 1) Allah Tritunggal, dan 2) Iblis. Sejak semula iblis ingin agar manusia menyembahnya bahkan iblis pernah meminta Yesus menyembahnya, (Mat. 4:9). Jadi, apa bedanya dewa dan iblis.
Catatan: iblis adalah pendusta dan bapa segala yang dusta, (Yoh. 8:44). Iblis berusaha mengalihkan penyembahan yang seharusnya kepada Allah (Mat.4:10) kepada sesuatu yang lain. Alkitab berkata bahwa hanya kepada Allah saja engkau harus menyembah.

2.    Akibatnya
Akibat dari penyembahan kepada allah lain:
Allah menuntut pertanggungjawaban manusia tentang apa yang dilakukannya, (Roma 14:12).

Persahabatan dengan dunia ini adalah permusuhan dengan Allah, (Yak. 4:4).
Allah akan membalaskan kesalahan bapa kepada anaknya bahkan sampai kepada keturunan 3 dan 4 kepada orang-orang yang membenci-Nya, Kel.20:5).

Hidup dalam kutukan Allah, (Ul. 28:15-46).

D.    Penyelesaian terhadap Masalah Penyembahan Agama Suku
Ketika orang terlibat dalam penyembahan/kepercayaan Agama Suku hal penting yang harus dilakukan adalah:
1.    Berdamai dengan Allah; percaya kepada Yesus dan mengaku dosanya, (I Yoh. 1:9), meninggalkan kepercayaan itu dan menerima Yesus sebagai Tuhan, (Yoh. 1:12).
2.    Darah Yesus mampu menyucikan dari segala bentuk kutuk keturunan, (I Pet. 1:18-19).

3.    Menyerahakan hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus, (Roma 8:5-11).

Sikap Agama Suku Terhadap Masyarakat dan Agama Lain



Melindungi diri dari pengaruh lingkungan yang asing tidak berarti menolak pengaruh tersebut. Agama suku bersifat menerima dan menyesuaikan, sebaliknya masyarakat dapat mengambil unsur-unsur agama suku.

Beberapa sikap agama suku:
      Kontradiktif
àagama suku menolak (menyendiri) agama lain karena agama lain itu tidak benar, tidak tepat, tidak baik, dan tidak bisa diterima di lingkungan komunitas agama suku itu.
àmempertahankan diri.
      Submisif
àagama suku menerima, tunduk, mengalah terhadap agama lain, mau berada dibawah dominasi kekuasaan pihak agama lain.
àmereka merasa lebih aman memeluk agama sendiri daripada menundukkan agama lain/ mereka menganut agama lain.
      Kompromis
àagama suku menerima, menghargai status, keberadaan, orang, dan kualitas agama lain.
àagama lain boleh hidup, tetapi agama sendiri juga harus boleh hidup.
àbisa menjadi satu, bisa juga terpisah dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
-          Menerima ajaran-ajaran/ dogma dari agama baru
-          Upacara-upacara keagamaan (agama baru dan agama sendiri).
      Adaptif/ Akomodatif
àmenyesuaikan diri
àmendorong kearah usaha untuk akulturasi/ inkulturasi/ kontekstualisasi.
SinkretismeàSinkretisasi=ditakuti orang


Sikap Kompromis dan Adaptif/ Akomodatif merupakan sikap yang paling berlaku di Indonesia. Hasilnya adalah penyempurnaan paham dan praktek keagamaan yang dianut dan juga yang ada lainnya.


Suku baduiàmembatasi diri terhadap masyarakat (eksklusif).

AGAMA SUKU, Apa Itu Agama Suku?


      Agama adalah ajaran kepercayaan kepada Tuhan.
Suku adalah sebuah realitas/ kenyataan dari kelompok masyarakat tertentu di daerah tertentu yang ditandai oleh adanya kebiasaan-kebiasaan dan praktek hidup yang hanya ada pada kelompok masyarakat itu sendiri (contoh: adat, budaya, kebiasaan).
          Agama suku adalah agama yang diberlakukan oleh sekelompok masyarakat tertentu dengan kebiasaan dan praktek hidup yang hanya ada pada kelompok masyarakat itu sendiri.
Agama Suku bersifat eksklusif karena hanya diperaktekkan di dalam suku tertentu.
        Di dalam praktek agama Kristen di gereja, ada banyak unsur agama suku yang baik secara sadar maupun tidak sadar dilakukan.
         Primitif: belum menerima kebudayaan, masih dengan pola hidup yang sederhana, asosial, dan gaptek.

Sifat-sifat Agama Suku
Agama suku berbeda satu sama lainàagama suku A berbeda dengan agama suku B, namun memiliki sifat/ cirri-ciri khusus yang sama.
         Eksklusifisme
Penampilan, terminology, simbol, tata cara peribadatan hanya ada pada kelompok suku itu sendiri dan tidak dapat ditemukan di agama suku lain.
Contoh: Nama dewa, tempat keramat, simbol yang digunakan.
        Primitif=sederhana=simpel=kuno
Ada pada masa lalu dan dikenal pada masa lalu namun masih ada dan dilaksanakan hingga sekarang.
Contoh: pakaian, upacara ( upacara tolak bala, upacara memotong rambut bayi)
         Statis=baku=tidak berkembang
Apa yang sudah ada, itu saja yang dilaksanakan tanpa ada inovasi ataupun renovasi
       Non Triupalistik
Agama yang merasa tidak memiliki kekuatan/hak lebih dari agama lain untuk menyebarkan agamanya. Jadi, dia tidak berusaha untuk menyebarkan agamanya.
Non Proseulit=tidak memaksa ataupun menyebarkan agamanya kepada agama lain
àmenjadikan orang menjadi beragama Yahudi
àAgama suku menyatu dengan adat dan paham kesukuannya.
         Komunal=kolektif
Melibatkan seluruh anggota suku sehingga setiap anggota suku adalah anggota persekutuan agama suku, karena tidak ada orang yang dapat bekerja dan beragama sendiri, mereka selalu melakukannya secara bersama-sama.
        Tidak punya tokoh spiritual ataupun pendiri, hanya ada pemimpin-pemimpin, misalnya pemimpin sosial.
       Agama suku terbentuk begitu saja dan tidak sistematis, hanya dengan peraturan lisan turun temurun.

Ciri-ciri dan Unsur dalam Agama Suku
       Spiritisme = Kepercayaan terhadap adanya roh-roh atau arwah
àmenunjuk kepada roh-roh yang sudah lama meninggal atau kepada leluhur, roh yang baru meninggal.
àmereka percaya bahwa roh dapat mendatangi manusia serta dapat memberikan keuntungan dan kerugian.
àterhadap roh jahat: orang melakukan ritual agar rohnya tidak mencelakakan orang.
àritual: untuk melindungi diri dan mengusir roh atau berbaikan dengan roh dengan mempersembahkan sesuatu.
àpercaya terhadap wangsit dari roh nenek moyang.
      Politeisme =  paham kepercayaan pada adanya banyak dewa atau ilah.
Contoh: dewa matahari, dewi kesuburan, dewa angin, dll.
àmereka membuat upacara, misalnya upacara agar jangan ada hujan, upacara tolak bala, upacara alam
àdewa = tokoh ilah
àdewa bukanlah yang tertinggi, di atasan dewa ada Sang Hyang Widi
àdewa dianggap memiliki kekuatan dan dapat murka jika tidak diberi persembahan.
        Animisme = kepercayaan terhadap benda-benda suci, kepercayaan terhadap paham adanya roh/ jiwa/kekuatan pada benda yang tersembunyi atau gaib,padahal benda itu tidak akan dapat bergerak jika tidak digerakkan oleh manusia. Misalnya gunung yang meletus ataupun bergerak serta keris yang dianggap keramat. Keris tidak akan dapat bergerak sendiri, keris itu harus dibawa dan dibantu oleh orang-orang tertentu juga.
àmempercayai benda kramat=dapat menyebabkan hal yang buruk
àkekuatan gaib harus dilakukan sebaik-baiknya.
Misalnya: keris harus dimandikan pada hari Jumat Kliwon, jika tidak maka keris itu akan marah.
àterlalu menghormati hal gaib akan membuat kita menjadi budaknya.
           Dinamisme = kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki roh.
         Totenisme = kepercayaan terhadap patung hewan ataupun patung orang yang dianggap hal itu sebagai leluhur/ nenek moyangnya.
Misalnya: patung gajahàdewa ganesha
Totem = dianggap melindungi.
Totem ada yang milik perorangan dan ada juga yang milik bersama-sama atau umumàcontohnya adalah tongkat dengan kepala ular.
          Fertisisme = paham tentang benda-benda tertentu yang dibungkus bersama-sama kemudian dipercayai dapat membuat diri sukses dan nyaman.
Contoh: air bekas baptis dianggap suci dan mampu menyembuhkan, minyak urapan, wanita yang menyentuh jubah Yesus dengan iman, maka ia menjadi sembuh.
          Magisme = paham tentang kekuatan yang tidak kelihatan.
Contoh: sihir, santet, pelet, susuk, penglaris.
àMagisme ada disetiap praktek agama suku.
        Totalisme = paham akan adanya kesatuan makhluk, benda, alam, air, panas, awan.
àManusia adalah satu dengan yang lain, saling bergantung dan mendukung satu sama lain antara manusia, alam, hewan dan tumbuhan adalah setara.
          Partisipasi = keikutsertaan seseorang dalam kehidupan orang yang lain dalam waktu yang sama meski dalam jarak yang jauh namun memiliki hubungan yang erat.
Contoh: seorang ibu mampu merasakan sakit anaknya ketika anaknya sedang sakit ataupun adanya hubungan kontak batin antara anak kembar, jika yang satu sakit maka yang satunya lagi akan ikut sakit juga.
          Mitos/ Mitologi = paham tentang kejadian/ bagaimana sesuatu itu dapat terjadi.
Contoh: terjadinya manusia
àMitos berkaitan dengan suku.
Contoh: asal muasal terjadinya suku, manusia, pelangi, gunung
àfungsi mitos: memberi pengajaran
àmitos menggambarkan pola pikir manusia pada saat itu yang masih primitif.
         Ritus = ibadah = upacara keagamaan= untuk menandaiproses-proses dalam kehidupan manusia Contoh: upacara tujuh bulanan, upacara lahiran, perkawinan, kematian, dll.
àfungsi: slametan, menyembuhkan orang sakit, tolak bala, memperoleh keuntungan.
          Penyembahan kepada leluhur
Contohnya: berdoa di kuburan, bawa sesajen.

Ajaran-ajaran Utama Agama Suku
1.    Magisme
2.    Spiritisme
3.    Shamanisme/ perdukunan

      Spiritismeà berkaitan dengan paham tentang manusia.
      Manusia terdiri dari tubuh/ materi+roh/ jiwa. Hal ini erat hubungannya dengan spiritisme.
      Arwah/ roh/jiwa adalah sosok yang ada pada manusia, tidak kelihatan, bisa keluar dari tubuh.
      Roh membuat manusia dapat beraktifitas, sementara daging/ tubuh hanyalah wadah untuk roh itu.
      Jika manusia masih hidup, rohnya bisa saja keluar/ melayang-layang, yakni ketika sedang tidur. Buktinyaàmimpi=pengalaman roh seperti kehidupannya sehari-hari.
      Yang paling jelas roh itu keluar adalah pada saat orang itu meninggal dunia.
      Di dalam agama suku tidak ada istilah surga, yang ada hanya istilah dunia roh=tempat tinggal para roh.
      Alam semesta (pengganti konsep surga dan neraka dalam agama suku) terdiri dari:
-       Alam bawah= alam kejahatan/ alam makhluk jahat/tempat bagi dewa yang jahat/ hewan-hewan.
-       Alam tengah= alam tempat hidup manusia yang juga merupakan tempat bagi makhluk alam bawah dan alam atas.
-       Alam atas= alam roh/ dewa-dewi
      Dalam agama suku, rumah tinggi diibaratkan sebagai alam semesta, atapnya sebagai alam atas, dan kolongnya sebagai alam bawah.
      Konsep ketuhanan dalam agama sukuàtidak ada Tuhan yang berpribadi dalam agama suku.
      Sumaran=tentang nafsuàtidak berdiri sendiri.
Nafsu dapat membuat manusia menjadi baik dan dapat juga menjadi jahat.

Nafsu mempengaruhi kehidupan manusia.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...