Monday, December 31, 2018

Peringati Natal, Uskup Agung Beri Pesan untuk Pemilu 2019



Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo meminta masyarakat untuk berdemokrasi secara hikmat jelang Pemilihan Umum 2019 mendatang.
Suharyo menuturkan, demokrasi yang berhikmat adalah demokrasi yang tidak menjadi alat untuk merebut kekuasaan.
“Demokrasi yang berhikmat tentu saja bukan demokrasi yang instrumentalisasi agama. Agama diperalat untuk politik itu kan tidak bagus ya,” kata Suharyo dalam koDismissnferensi pers Pesan Natal 2018 di Gereja Katedral, Selasa (25/12/2018).
Selain itu, dalam menyikapi banyaknya intoleransi terhadap perbedaan Suharyo mengajak rakyat Indonesia khususnya umat Nasrani bisa mengingat sejarah bangsa yang penuh akan nilai kebersamaan dalam perbedaan. Hal ini akan menjadi modal pemersatu di tengah maraknya intoleransi di masyarakat.
“Salah satu caranya (menghadapi intoleransi) adalah mengingat sejarah bangsa, maka ada istilah ingatan bersama,” ujar Uskup Ignatius Suhryo
Sementara itu, Suharyo mengingatkan pesta demokrasi mendatang tidak hanya bersifat prosedural melainkan membawa nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Dan siapapun yang menang diharapkan bisa memperjuangkan kebaikan bersama.
“Nilai tertinggi dalam demokrasi adalah kebaikan bersama. Siapa pun yang akan nanti menang, mestinya memperjuangkan kebaikan bersama, kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Suharyo.

Pimpin Misa Malam Natal, Paus Fransiskus prihatin kemiskinan dan materialisme

Paus Fransiskus

Paus Fransiskus menyerukan kepada masyarakat di negara maju agar menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan tidak terlalu materialistis.
Dia juga mengutuk kesenjangan yang makin menganga antara orang-orang kaya dan miskin di dunia.
Paus kemudian mengungkapkan kelahiran Yesus di sebuah kandang seharusnya membuat masyarakat mampu merenungkan makna hidup.
Hal itu dia utarakan saat memimpin kebaktian di Basilika Santo Petrus di Vatikan dalam Misa Malam Natal.
Ini merupakan Natal keenam bagi pria berusia 82 tahun ini sebagai kepala Gereja Katolik Roma.
Dalam khotbahnya, Paus Fransiskus mengatakan memperingati kelahiran Kristus seharusnya dijadikan cara baru dalam menjalani hidup, yaitu "bukan dengan melahap dan menimbun, tetapi dengan berbagi dan memberi".
Paus FransiskusHak atas fotoFRANCO ORIGLIA/GETTY IMAGES
Image caption"Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan semua materi untuk hidup? Dapatkah saya menjalani kehidupan yang lebih sederhana tanpa sesuatu tambahan yang tidak perlu?" Kata Paus Fransiskus.
Dia melanjutkan: "Mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan semua materi untuk hidup? Dapatkah saya menjalani kehidupan yang lebih sederhana tanpa sesuatu tambahan yang tidak perlu?"
"Bagi banyak orang, makna hidup ditemukan dengan memiliki kelebihan materi. Keserakahan yang tak terpuaskan itu menandai semua sejarah manusia."
"Bahkan hari ini, secara paradoks, ada yang bisa makan serba mewah, sementara banyak orang sulit makan roti hanya untuk bertahan hidup."
Paus FransiskusHak atas fotoFRANCO ORIGLIA/GETTY IMAGES
Image captionFransiskus, Paus pertama dari benua Amerika Latin, telah menjadikan masalah kemiskinan sebagai sorotan utamanya dalam tema utama kepausannya.
Pada Hari Natal pada Selasa, Paus akan menyampaikan pesan "Urbi et Orbi" dari balkon St Peter's.
Fransiskus, Paus pertama dari benua Amerika Latin, telah menjadikan masalah kemiskinan sebagai sorotan utamanya dalam tema utama kepausannya.
Selama Misa Hari Natal pada 2016, dia telah memperingatkan bahwa makna Natal yang sebenarnya telah tenggelam dalam materialisme.
Pendahulunya, Paus Benediktus juga menyuarakan persoalan yang sama pada Misa Natal 2011.

Sunday, December 30, 2018

3 Patung Yesus Tertinggi di Indonesia, Nomor 3 Baru Diresmikan Jokowi

3 Patung Yesus Tertinggi di Indonesia, Nomor 3 Baru Diresmikan Jokowi

 Brasil memang punya patung  Christ the Redeemer atau patung Yesus sang Penebus yang populer di dunia. Ratusan bahkan ribuan wisatawan yang berkunjung ke Rio de Janeiro setiap tahunnya demi menyaksikan secara langsung kemegahan patung tersebut. 
Tapi tahukah Anda bahwa Indonesia punya patung Yesus yang lebih tinggi dibanding Christ the Redeemer?Tidak tanggung-tanggung, ada 3 patung Yesus di Indonesia yang masuk ke dalam kategori patung Yesus tertinggi dan terbesar di dunia lho!
1. Monumen Yesus Raja, Talaud Sulut
Yang pertama, ada Monumen Yesus Raja yang terletak di Maluku dan berdiri di atas bangunan tiga lantai. Patung Yesus ini memiliki ketinggian 25 meter termasuk dengan penyangganya.Patung ini dibangun oleh Pemerintah Daerah setempat pada tahun 2004 dan kemudian diresmikan oleh Duta Vatikan untuk Indonesia.Selain digunakan sebagai destinasi wisata rohani, patung Monumen Yesus Raja di Maluku ini juga kerap dipakai untuk kegiatan keagamaan umat Katolik seperti sembahyang dan misa.
2. Patung Yesus Memberkati, Manado Sulut
Berikutnya ada patung Yesus Memberkati yang memiliki tinggi 30 meter dengan penopang 20 meter. Sehingga, secara keseluruhan, patung Yesus Memberkati yang terletak di kompleks Citraland Winangun, Manado ini memiliki tinggi 50 meter.Yang unik, patung Yesus Memberkati ini memiliki posisi yang cukup unik. Jika patung Yesus lainnya tampak berdiri tegap dengan lengan terentang, patung Yesus Memberkati ini memiliki kemiringan lebih dari 20 derajat.
Hal ini menyebabkan patung Yesus di Manado ini terlihat melayang dengan kedua lengan terangkat ke udara.
3. Patung Yesus Buntu Burake, Toraja, Sulawesi Selatan
Kemudian ada Patung Yesus Buntu Burake yang terletak di Toraja dan diklaim sebagai patung Yesus tertinggi kedua di dunia.
Tak heran, Patung Yesus Buntu Burake ini memang berdiri megah nan menjulang di atas bukit setinggi 1.700 mdpl dan memiliki tinggi badan 45 meter. Selain itu, untuk mencapainya, wisatawan pun harus menaiki anak tangga sebanyak 7.777.
Fyi, patung Yesus Buntu Burake ini memang sudah dibuka sejak beberapa waktu lalu namun peresmiannya baru dilakukan pada tanggal 23 Desember 2018 silam oleh Presiden Joko Widodo, lho!Harapannya, patung Yesus Buntu Burake di Toraja ini dapat menjadi ikon sekaligus destinasi wisata baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Nah, sekarang travelers tak perlu jauh-jauh pergi ke Brasil demi melihat patung Yesus tertinggi ini, kan?

Hadiri Perayaan Natal Nasional di Medan, Jokowi Sampaikan Pesan Damai

Presiden Jokowi dalam acara perayaan Natal Nasional 2018 di Medan, Sabtu, 29 Desember 2018. (Foto: VOA/Anugrah)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam perayaan Natal Nasional 2018 yang digelar di Gedung Serbaguna Pemprov Sumatera Utara (Sumut), Medan, Sabtu (29/12). Di depan beberapa menteri kabinet kerja dan 20 ribu jemaat Kristiani dari berbagai daerah, Jokowi menyampaikan pentingnya perdamaian di tengah begitu banyaknya perbedaan di Indonesia. Kendati banyaknya perbedaan bukan berarti menjadi sumber perpecahan, tegasnya.
"Kita melihat memang ada keberagaman dan perbedaan. Tapi ini bukan sumber perpecahan. Tapi ini merupakan potensi besar kekuatan bangsa Indonesia. Tuhan yang Maha Esa menganugerahi kita semua rasa persaudaraan yang tinggi. Dengan cinta kasih dan rasa persatuan yang tinggi sebagai aset terkuat bangsa Indonesia," kata Jokowi di Medan.
Menurutnya, kedamaian dan persatuan di Indonesia harus terus dirawat dengan saling menghormati. Sebab persatuan itu bersumber dari keberagaman bangsa Indonesia. Ada kekuatan yang tidak mudah dikalahkan oleh siapa pun.
"Kedamaian yang harus kita jaga dengan berdoa dan tulus dalam bekerja. Dalam perayaan Natal kita juga perlu bersukacita atas anugerah yang diberikan Tuhan kepada bangsa Indonesia. Kita telah dianugerahi dengan keberagaman yang luar biasa. Perayaan Natal menghadirkan kedamaian sejati. Damai di hati kita semua. Damai di Indonesia," ujar Jokowi.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly mengatakan perayaan Natal Nasional 2018 yang digelar di Medan hendak memberikan pesan tentang Kristus sebagai sumber hikmat adalah pemberian Allah kepada semua umat manusia. Hikmat perpaduan dari kecerdasan, kesederhanaan, kepedulian, kasih sayang, optimisme dan kerendahan hati.
Yasonna yang juga menjadi Ketua Panitia Natal Nasional 2018 menjelaskan dalam perayaan ini menampilkan keberagaman etnis, dan budaya yang ada di Indonesia. Antara lain kehadiran 80 pemusik dari empat wilayah yakni Sumut, Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta; dan dukungan 1.000 personil kor dari berbagai denominasi gereja dan etnis di Sumut.
"Mereka menggunakan pakaian adat dari berbagai suku nusantara. Mungkin ini adalah paduan suara terbesar yang pernah ada dalam sejarah perayaan Natal Nasional sekaligus sebagai simbol persatuan kebhinekaan di Indonesia," jelas Yasonna.
Perayaan Natal Nasional 2018, Sabtu malam (29/12) menampilkan pertunjukan seni musik seperti paduan suara, orkestra, dan seriosa. Lalu, kebaktian, pertunjukan tarian Natal. Sejumlah menteri tampak hadir, antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan, dan Menteri Perdagangan.
Juga Kapolri Jendral Tito Karnavian, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, serta beberapa kepala daerah yang ada di Indonesia juga turut hadir dalam acara itu.

Monday, December 24, 2018

Bertema Nusantara, Pohon Natal Bercorak Batik Hiasi Altar Gereja Immanuel

Bertema Nusantara, Pohon Natal Bercorak Batik Hiasi Altar Gereja Immanuel

Sejumlah gereja di Ibu Kota bersolek menyambut perayaan Natal yang jatuh pada Selasa (25/12/2018) besok. Persiapan itu tampak terlihat di Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel, Jakarta Pusat. Dalam perayaan natal tahun ini, nuansa batik sangat kental terlihat di dalam bangunan gereja.
Bahkan pohon natal dihias dan dibentuk dengan menggunakan berbagai corak kain batik dari berbagai daerah di Indonesia. Pohon natal batik yang berukuran kurang lebih 4 meter berdiri persis di depan altar.Selain itu, seluruh sudut gereja pun tak luput dari ornamen batik dan rangkaian hiasan yang terbuat dari pinus. Kain batik dihias menyerupai pita juga terpasang di dinding-dinding gereja berusia 179 tahun itu.Ketua Pelaksana Harian Majelis Jemaat GPIB Immanuel DKI Jakarta Stefan Kaunang mengatakan, untuk perayaan tahun ini pihak panitia mengangkat tema nuansa nusantara. Seluruh sudut gereja dihias bernuansa batik nusantara, termasuk pohon natal.
"Tahun ini temanya nuansa nusantara. Jadi hiasannya dipenuhi batik dari berbagai daerah, termasuk pohon natalnya juga," kata Stefan kepada Suara.com, Senin (24/12/2018).
Tema nuansa nusantara diambil untuk perayaan natal tahun ini lantaran memiliki makna keberagaman budaya di Indonesia. Tema itu melambangkan kesatuan NKRI yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.
"Kita melihat kesatuan NKRI yang ada makanya dibuat lah itu (pohon natal batik), ini melambangkan Indonesia yang bertoleransi baik antar umat beragama maupun antar suku kita bersaudara," ungkap Stefan.
Para panitia hanya membutuhkan waktu semalaman untuk memasang pohon natal unik untuk melengkapi perayaan natal tahun ini. Tak kurang dari 1.000 jemaat dipastikan akan memenuhi salah satu gereja tertua di Jakarta peninggalan Belanda ini untuk menunaikan ibadah.Pantauan Suara.com di lokasi para panitia tampak masih melakukan persiapan perayaan misa natal. Sejumlah panitia sibuk menyapu dan mengepel lantai, ada pupa yang memastikan letak pohon natal sudah tepat.
Di luar gedung gereja, para petugas kepolisian sudah berjaga. Sejak Sabtu (22/12/2018), posko petugas kepolisian sudah berdiri untuk memulai penjagaan. Tim penjinak bom juga tampak bersiaga di pintu luar gereja.

Misa di Katedral Jakarta, Ada Perarakan Bayi Yesus ke Palungan

Misa di Katedral Jakarta, Ada Perarakan Bayi Yesus ke Palungan


Gereja Katedral Indonesia tengah bersiap untuk menjalankan ibadah misa pada malam Natal , Senin (24/12/2018). Pada misa sesi pertama, akan ada momentum perarakan bayi Yesus ke palungan.
Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwandie menjelaskan bahwa misa malam Natal akan dibagi menjadi tiga sesi yakni pada pukul 17.00 WIB, 20.00 WIB dan 22.00 WIB. Pada sesi pertama nanti jemaah akan disuguhkan oleh perarakan bayi Yesus ke palungan yang terletak di Kandang Natal."Nanti misa pukul 17.00 WIB ada perarakan. Itu meletakkan bayi Yesus di palungan," kata Susyana di Gereja Katedral Jakarta, Jalan Katedral, Jakarta Pusat, Senin (24/12/2018)Untuk ibadah misa pukul 17.00 WIB nanti akan dipimpin oleh Romo Albertus Hani Rudi Hartoko SJ dan Romo Maryana SJ. Adapun paduan suara yang bertugas untuk misa ialah Paduan Suara St Maria Assumptae.
Sedangkan untuk pukul 20.00 WIB dipimpin oleh Romo Markus Yumartana SJ dan Romo Alexius Andang L SJ beserta paduan suara St Andreas dan St Yakobus. Misa untuk pukul 22.00 WIB akan dipimpin oleh Romo Ch Kristiono SJ dan Romo Fristian SJ beserta paduan suara Orang Muda Katedral.
Sedangkan untuk misa pada 25 Desembernya terbagi menjadi empat sesi yakni pukul 07.00 WIB, 09.00 WIB, 11.00 WIB dan 19.00 WIB.
"Pukul 09.00 misa Pontifikal yakni dipimpin langsung oleh Bapak Uskup. Misa Pontifikal itu hanya ada dua kali dalam setahun. Yakni hari besar, Misa di malam natal dan paskah," pungkasnya.
Nanti misa jam 17 ada perarakan. Itu meletakkan Bayi Yesus di palungan. Kami nggak buka menghidari umat yang foto.Hari natal tanggal 25 ada empat kali pukul 07.00, 09.00, 11.00, dan pukul 17.00. Pukul 09.00 misa pontifikal yakni dipimpin langsung oleh bapak uskup. Misa Pontifikal itu hanya ada dua kali dalam setahun. Yakni hari besar, Misa di malam natal dan paskah. Misa ini juga ditutup berkat meriah dari bapak uskup serta juga indulgensi penuh atas yang melakukan sakramen tobat.

Polri Yakin Perayaan Natal di Banten Aman Pasca Tsunami

Polri Yakin Perayaan Natal di Banten Aman Pasca Tsunami

Perayaan Natal di daerah yang terdampak Tsunami tetap menjadi prioritas pengamana pihak kepolisian . Salah satu daerah Tsunami yang dilakukan pengamanan saat ibadah Natal yakni di Gereja , Pandeglang, Banten.
Karopenmas Div Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan sejumlah gereja di Banten telah dijagai oleh personil kepolisian.
"Untuk perayaan Natal tetap dilakukan pengamanan sebagaian besar di Serang, Cilegon, sama Pandeglang. Yang terpapar tsunami itu yang ada di wilayah pantai," ujarnya, Senin (24/12/2018).Beberapa pos pengaman akan didiriakan di tempat berlangsungnya ibadah Natal. Pos penjagaan tersebut nantinya tediri dari TNI dan Satuan Polisi Pamung Praja (Satpol PP).
"Kalau untuk pengamanan Natal khususnya di gereja-gereja maupun tempat yang akan dijadikan umat kristiani ada pos pam, kita sudah memiliki pola pengamanan gereja yang dilakukan kegiatan tim dari gegana Brimob melaksanakan sterilisasi," kata dia.
Selain melakukan penyisiran, jemaat yang akan melakukan ibadah juga lebih dulu menjalani proses pemeriksaan. Hal itu untuk mengantisipasi adanya warga yang menbawa barang mencurigakan.
"Artinya kita akan melakukan (pemeriksaan melalui) detektor untuk mengecek seluruh barang bawaan yang akan masuk ke gereja untuk beribadah. Kita buka sterilisasi aman masuk," kata dia.
Namun pihaknya tidak menyebutkan dengan pasti berapa personil yan diturunkan untuk pengaman Natal di lokasi terjadinya Tsunami. Pihaknya hanya dapat memastikan kegiatan ibadah akan berjalan lancar."iya, kita bekerja secara maksimal. Kita juga ricek dari awal dalam rangka mengatisisipasi Kamtibmas," jelasnya.
Sebelumnya, ‎pada Sabtu (22/12/2018) malam daerah Banten dan Lampung diterjang tsunami Selat Sunda akibat erupsi anak gunung krakatau.
‎Data sementara yang berhasil dihimpun Posko BNPB hingga (24/12/2018) pukul 07.00 WIB, tercatat 281 orang meninggal dunia, 1.016 orang luka-luka, 57 orang hilang dan 11.687 orang mengungsi.
Sedangkan kerusakan fisik meliputi 611 unit rumah rusak, 69 unit hotel-vila rusak, 60 warung-toko rusak, dan 420 perahu-kapal rusak.

Saturday, December 22, 2018

NATAL DI JAZIRAH ARAB , GALERI FOTO MUSLIM ARAB TURUT MERAYAKAN NATAL

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab
Kemeriahan menyambut Hari Raya Natal bukan hanya dirasakan negara negara kristen Eropa atau Amerika. Diberbagai belahan dunia tanpa terkecuali Jazirah Arab moment indahnya natal tak kalah meriah. kemeriahan moment natal terlihat di tempat-tempat umum seperti toko, mal, restoran, tempat permainan anak, hingga hotel. Di Dubai bahkan ada festival yang digelar untuk menyambut Natal.Tahukah anda dimana pohon natal termahal didunia berada? di New york, London, Tokyo, Paris? bukan, pohon natal termahal ada di dunia Arab, tepatnya di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, negara dengan hampir seluruh penduduk mayoritas muslim tersebut.
Pohon natal ini berdiri di lobi hotel Emirates Palace. Dilansir laman Arabian Business, pohon cemara setinggi 13 meter itu dihiasi busur perak dan emas, juga hiasan berbentuk bola dan lampu-lampu putih kecil.

Tak hanya itu, pohon tersebut juga dihiasi kalung, anting dan perhiasan lainnya yang terbungkus di cabang-cabangnya.
Khalifa Khouri, pemilik Galeri Gaya, yang menyediakan perhiasan tersebut, mengatakan bahwa pohon itu menampung 181 berlian, mutiara, zamrud, safir dan batu mulia lainnya.
"Pohon itu sendiri nilainya sekitar US$10.000 (Rp135 juta)," kata Hans Olbertz, General Manager dari Emirates Palace.

"Perhiasan yang dijadikan dekorasi memiliki nilai lebih dari US$11 juta (setara dengan Rp149 miliar)," ujarnya.
Olbertz juga menambahkan bahwa hotel tersebut berencana untuk mendaftarkan pohon mewah tersebut dalam buku Guinness World Record.
Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab

Mengintip Kemeriahan Moment Natal di Dunia Arab


Tuesday, December 18, 2018

Tema Natal PGI 2018


PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) yang setiap tahunnya membuat Tema Natal dan di posting pada websitenya yaitu www.pgi.or.id dan Tema ini merupakan Tema Natal nasional untuk seluruh gereja gereja di Indonesia. Tema Natal PGI pada tahun sebelumnya yaitu 2017 yang diterbitkan pada bulan oktober atau dua bulan sebelum perayaan Natal dilaksanakan.

Mungkin terlalu dini mastimon.com membuat postingan tentang Tema Natal PGI 2018. Mengapa demikian !!! Dua minggu yang lalu gereja saya GBT "Yesus Alfa Omega" Kampung Kanas sudah mengadakan rapat dan membentuk Panitia Natal 2018 dan Panitia Paskah 2019. Rapat kesepakatan Natal 2018 juga sudah dilakukan dan menghasilkan beberapa keputusan.

Panitia Natal inti dan anggota jemaat Gereja harus bekerja keras supaya perayaan Natal dapat berjalan dengan sukses. Salah satu yang menjadi perhatian saat perayaan Natal adalah dekorasi dan pengaturan gambar Banner Natal. Ini yang sering saya lakukan ke Percetakan Banner membuat backround panggung gereja dengan tulisan Tema dan Sub Tema Natal 2018.Untuk mendapatkan Tema Natal 2018 maka saya harus melihat atau mengunjungi website resmi PGI dimana tema Natal baru akan di posting pada bulan oktober 2018. Dengan sahabat mengunjungi blog ini maka sahabat akan mendapatkan Tema Natal PGI yang akan saya update setelah mendapatkannya di bulan oktober. Jadi sahabat sabar dulu untuk mendesain bannernya ya...

Dengan kita mendapatkan Tema Natal dari PGI maka kita dapat menentukan backround atau gambar yang cocok. Selain gambar pendukung setiap kali kita membuat Tema Natal Nasional maka kita juga dapat membuat Sub Tema yang sesuai. Jika mastimon belum mengupdate Tema Natal 2018 maka sahabat bisa mengunjungi website resminya yaitu www.pgi.or.id

Tema Natal PGI 2017
(Sampai saat ini website Resmi PGI belum mengeluarkan Tema Natal 2017, Oleh karena itu kita tunggu sobat, Jika sudah ada akan saya UPDATE pada artikel ini)

Pada tanggal 02 Oktober 2017 melalui website Resmi GKJ (Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa) mengeluarkan Tema Natal PGI-KWI 2017 tetapi sampai saat ini kita ketahui website resmi PGI belum mengeluarkan Tema Natal PGI 2017. Berikut adalah Tema Natal PGI-KWI 2017 melalui website gkj.or.id.Tema Natal PGI-KWI 2017 "Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam Hatimu" Kolose 3:15
Tema Natal PGI 2018
"Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita" (1 Korintus 1:30a)
Selamat mempersiapkan perayaan Natal 2018 semoga Damai Sejahtera dan penyertaan Tuhan Yesus selalu berserta saudara dan saya, Amin.

Renungan Natal Seorang Muslim



Sebentar lagi Natal tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Natal merupakan hari raya yang diperingati oleh umat Kristiani (baik Kristen maupun Katolik) di seluruh dunia. Natal identik dengan pohon cemara, lonceng, lilin, dan yang tak kalah menarik: tokoh sinterklas yang senantiasa berbaju merah menyala. Suasana perayaan Natal campur aduk: antara khidmat, syahdu, hingga riang gembira.
Sebagai bukan pemeluk agama Kristen ataupun Katolik, tentu saja saya awam sekali ihwal makna simbolik di balik hiasan-hiasan hari raya Natal tadi. Yang saya tahu, paling-paling, hanyalah bahwa Natal merupakan peringatan hari lahir Yesus Kristus. Yesus inilah yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai Nabi Isa al-Masih, salah satu Nabi yang sangat dihormati oleh para pemeluk agama Islam.
 Oleh karena itu, saya tak bermaksud membahas makna Natal dalam tulisan ini. Selain saya tak punya kompetensi untuk membahasnya, saya juga khawatir pembahasan saya bisa keliru dan menyinggung perasaan saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya yang memeluk keyakinan Kristiani.
Tulisan ini lebih berisikan pengalaman pribadi saya saja, terutama dalam berinteraksi dengan tetangga-tetangga, kerabat, ataupun sahabat-sahabat saya yang beragama Kristen/Katolik. Sebab tiapkali perayaan Natal menjelang atau tiba, saya secara otomatis berkontemplasi seputar hari raya yang jatuh tiap akhir bulan Desember ini. Dan kontemplasi saya itu biasanya terkait dengan hubungan sosial saya dengan mereka tadi.
Yang pertama-tama saya ingat tiap kali Natal tiba adalah dosen saya sewaktu kuliah di Fisipol UGM, Mas Cornelis Lay. Pria yang secara formal pemeluk Kristen ini tiap kali hari raya Idul Fitri tiba selalu mengajak para mahasiswanya yang beragama bukan Islam untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada para mahasiswa Muslim. Para mahasiswa yang beragama Hindu, Budha, Kristen, dst dia minta berjajar di depan kelas untuk menyalami dan mengucapkan selamat Lebaran kepada para mahasiswa yang beragama Islam.
Demikian pula tiap bulan Ramadhan tiba, Mas Cony (panggilan akrab Cornelis Lay) lazim memperpendek jam kuliah sore hari, karena tenggang rasa kepada para mahasiswa Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa. Kuliah yang mulai jam 14.00 wib, dan seharusnya baru selesai sekitar jam 16.00 wib, biasanya ia "diskon" sehingga cukup sampai jam 15.00 saja.
"Saya tahu kalian yang puasa tentunya sudah mulai lemas," katanya suatu ketika.
Belakangan, kata yunior saya sefakultas, Mas Cony malah acap menggelar acara buka bersama bagi para mahasiswanya di rumahnya, di kawasan Minomartani, Sleman, Yogyakarta.
Ingatan saya yang kedua, tiap kali Natal tiba, jatuh kepada Pak Hartono, pemeluk Kristen Protestan, yang tinggal sekampung dengan rumah orangtua saya di Sragen, Jawa Tengah. Jujur saja, meski Pak Hartono ini kondisi ekonominya pas-pasan dan sehari-hari hanya berprofesi sebagai sopir truk, saya kagum kepadanya. Pak Hartono ini sejak pertama kali tinggal di kampung kami sekitar 20 tahun lalu selalu menunjukkan sikap proaktif yang menyejukkan. Tiap kali umat Islam sekampung kami merayakan Idul Fitri, selalu saja Pak Hartono mengirim kue-kue bagi para jamaah masjid yang sedang melantunkan takbiran semalam suntuk.
Sebagai takmir masjid, saya sendiri sebetulnya tidak tega menerima pemberian Pak Hartono itu. Ini mengingat ia dan keluarganya sendiri hidup sangat bersahaja, bahkan termasuk salah satu tetangga kami yang paling miskin. Namun apa boleh buat, meski dengan sopan saya sudah memintanya tidak perlu mengirim snack untuk jamaah masjid kami yang takbiran, tetap saja dia tiap tahun mengirim bingkisan besar berisi kue-kue untuk jamaah masjid kami.
Kemudian ada kerabat saya sendiri yang juga memeluk agama Katolik. Yang membuat saya sering terharu, justru kerabat kami yang beragama non Islam ini yang paling rajin mengunjungi kami tiap kali Idul Fitri tiba. Selain mengucapkan selamat Idul Fitri, biasanya mereka juga membawa kue-kue atau bingkisan berupa gula dan teh untuk ibu saya yang secara garis keluarga memang lebih sepuh (senior).
Di luar ketiga kisah tadi, masih banyak sahabat-sahabat saya pemeluk Kristiani yang menunjukkan sikap toleransi yang terpuji demikian, yang tak semuanya bisa saya tulis di sini. Itulah kenapa tiap kali Natal tiba, saya pun selalu teringat kepada budi baik mereka. Apalagi agama Islam sendiri, agama yang saya peluk sejak lahir, juga mengajarkan untuk membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih baik. Setidaknya keharuan dan apresiasi saya atas keramahan dan kehangatan mereka, saya harap menjadi semacam kebaikan pula.
Maka, sebagai Muslim, saya kadang merasa malu sendiri dengan sikap saudara-saudara saya seiman yang tega mengganggu kedamaian, kekhusyukan, dan keceriaan perayaan Natal di Tanah Air kita. Bukannya mengucapkan selamat Natal, beberapa orang justru meneror perayaan Natal dengan perilaku tidak terpuji yang dikecam agama Islam sendiri. Sebaliknya, justru tidak sedikit umat Non Muslim yang, secara sadar maupun tidak, telah meneladani perilaku tasamuh (toleran) nabi Muhammad SAW. Termasuk gereja-gereja yang rutin memasang spanduk ucapan selamat Idul Fitri tatkala Lebaran tiba.
Entah, saya tidak tahu, apakah umur saya masih cukup untuk bisa menyaksikan kelak masjid-masjid di Indonesia akan mengucapkan selamat hari raya Natal, Paskah, atau Waisak, atau Galungan... [] Jakarta, 20 Desember 2011.
*Catatan: Ini tulisan lama saya di rubrik NOTE atau CATATAN di Facebook versi lawas. Sengaja saya share ulang untuk menyongsong Natal yang tak lama lagi tiba.
(Sumber: Facebook Jarot Doso)

Sayyid Alwi, Juru Parkir Gereja

Ilustrasi

Sayyid Alwi adalah seorang ulama Besar yang dikagumi dari berbagai kalangan hingga Lintas Agama..
Ada yang mengagumi karena keilmuan Beliau..
Dan ada yg mengagumi karena Akhlaq Beliau.. Dari sosok tegas Beliau terhadap hukum agama.. Namun sangat luas penerapan Beliau..
Dalam urusan Toleransi antar umat beragama.. Habib Alwi bertetangga dengan Non Muslim.. Dalam tembok yang menempel Selama bertahun tahun.. Bahkan Hingga saat ini...
Keduanya saling berhubungan baik dan bertenggang rasa.. Dan hingga suatu ketika..
Dimana Tetangga Non Muslim ini.. mengadakan Pertemuan ibadah dikediamannya tersebut.. Sehingga rumahnya ini berubah suasana Laksana Gereja yang megah...
Kala itu Sayyid Alwi berada dirumah.. dan memang tidak sedang dalam kegiatan Dakwah Beliau..Beliau keluar rumah...
dan melihat ada banyak kendaraan umat Kristiani Memadati jalan sekitar perumahan..
Sontak dengan sigap...
Seorang ulama Besar ini, Tanpa memandang Gengsi dan Perbedaan, Beliau turun kejalan dan membantu mengatur.. Tempat parkir kendaraan mereka, Ditengah teriknya panas Matahari.. Beliau Rapihkan motor motor..
Dan memastikan kondisi sudah rapih..
Agar acara kegiatan Agama Ini dapat berjalan tanpa halangan... Sesekali beliau memastikan.. Bahwa kondisi Parkir telah aman.. Agar tidak terjadi kehilangan...
Sampai disini...Beliau memberikan pelajaran yg besar.. Dan mengharumkan Nama islam dimata non muslim.. Dan menunjukkan...
Inilah Persatuan Indonesia yg sebenarnya..
Detik itu.. Beliau sedang MEMBELA AGAMA..
Dengan akhlaq sayyidina Muhammad SAW..
Dan Membuat umat Lain memandang..
Bahwa islam adalah agama yg indah..
Dan penuh toleransi yg berkasih sayang...
Patutlah kita ambil kesimpulan..
Bahwa Sayyid Alwi tetap pada prinsip..
Bahwa Hidayah adalah HAK ALLAH...
Dan tugas Manusia sebatas Mendoakan..
Dan Berdakwah dengan ADAB & TOLERANSI..

Monday, December 17, 2018

Silsilah Yesus


Baca: Matius 1:1-17

Injil Matius dimulai dengan silsilah Yesus Kristus. Apa yang ingin Matius ungkapkan sebenarnya? Di dalam Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) istilah 'silsilah' hanya ditemukan dalam Kej. 1 dan 5. Ini menandakan bahwa penggunaan istilah 'silsilah' dimaksudkan Matius untuk mengungkapkan asal usul Yesus. Berarti sejak ayat pertama, Injil Matius telah membawa kita ke dalam pertanyaan yang sangat penting bagi setiap manusia yaitu: Siapakah Yesus? Apa peran-Nya dalam rencana Allah dan dalam kehidupan kita? Sebagai anak Daud, Yesus menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa keturunannya akan tetap menduduki takhta Israel dan memerintah kerajaan di seluruh alam semesta (2Sam. 7:12-16; Yes. 9:6-7). Sebagai anak Abraham, Yesus menggenapi janji yang diberikan kepada nenek moyang bangsa Israel. Karena Dia, seluruh umat manusia akan diberkati (Kej. 12:1-3). Penggenapan tentang berkat universal kepada semua bangsa di dalam Yesus memang menjadi fokus utama Injil Matius. Karena berkat universal disebut dalam ayat pertama dan ayat terakhir Injil Matius. Sebagai anak Daud dan anak Abraham Yesus benar-benar telah lahir dan ada dalam sejarah manusia. Ini dibuktikan oleh Matius melalui silsilah Yesus Kristus (2-16).Silsilah Yesus Kristus ini berdasarkan data sejarah dalam Perjanjian Lama dan buku catatan di dalam Bait Allah di Yerusalem. Ini semakin menegaskan bahwa berkat universal itu telah tersedia bagi umat manusia. Renungkan: 17 ayat pertama Injil Matius kembali mengingatkan kita bahwa Yesus adalah fokus utama dalam 􀀿rman Tuhan. Dialah Tuhan dan Juruselamat yang Allah berikan bagi seluruh umat manusia. Marilah di malam Natal ini kita panjatkan puji syukur yang paling agung atas berkat yang telah dilimpahkan bagi kita di dalam Yesus, sekaligus mengevaluasi apakah hidup kita sudah senantiasa terfokus kepada-Nya.

Makna Natal


Baca: Yohanes 1:14-18
Bagi sebagian orang, makna Hari Natal adalah hari libur menjelang akhir tahun. Bagi beberapa orang lain, ini berarti kesempatan bersenang-senang, bahkan berpesta-pora. Bagi yang lain lagi, inilah kesempatan untuk mengeruk keuntungan bisnis sebesar-besarnya dengan menempelkan label Natal pada apa saja yang mereka perdagangkan. Bagi orang lain, Natal adalah kesempatan untuk temu-kangen dengan keluarga dan kerabat, entah itu di sekitaran rumah ataupun di gereja. Jika benar itu yang terjadi di sekitar kita, sungguh menyedihkan, karena itu berarti kedatangan Yesus justru tak terasa dampaknya bagi kita. Sang Firman yang adalah Allah (1), yang sudah ada sebelum Yohanes (15), yang disebut sebagai Anak Tunggal Bapa yang ada di pangkuan Bapa dan menyatakan-Nya (18), telah menjadi manusia dan berdiam di antara kita (14). Untuk apa Ia menjadi manusia? Supaya kita melihat kemuliaan-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa yang penuh kasih karunia dan kemuliaan (14, 16) dan seperti yang kita baca kemarin, supaya kita boleh percaya dan menjadi anak-anak Allah (12-13). Semua ini mestinya membuat kita bersukacita dan sukacita inilah yang mestinya mendasari perayaan Natal. Kita bersukacita, karena Sang Firman telah menjadi manusia, dan karena-Nya kita boleh menjadi anak-anak Allah. Adakah sukacita yang lebih besar dan lebih indah dari itu? Maka jangan biarkan nafsu kesenangan atau keuntungan materi mendominasi perayaan Natal kita. Sebaliknya, rasa takjub dan syukur karena Sang Firman telah menjadi manusia seharusnya mendorong kita untuk melakukan beberapa hal. Pertama, kita memuji dan memuliakan Sang Firman di dalam doa syukur dan ibadah kita, baik secara pribadi, bersama keluarga, maupun komunitas jemaat kita. Kedua, kita diingatkan kembali bahwa sama seperti Yohanes bersaksi tentang Sang Firman, kita juga perlu memberitakan kesaksian kita tentang Dia. Kabar bahwa Allah telah berinkarnasi menjadi manusia perlu kita bagikan kepada orang lain.

Membuka Hati


Baca: Matius 1:18-25
Inilah Natal, yaitu karya Allah di tengah-tengah hidup manusia, bagi dunia. Termasuk juga Yusuf dan Maria, kedua orang biasa yang dipakai Tuhan. Siapa sangka natal yang tiba adalah natal yang penuh pergumulan bagi kedua orang itu. Kedua orang yang sedang bertunangan, tetapi mendapat kesempatan unik dari Tuhan. Kehadiran seorang anak tentu sangat diharapkan oleh pasangan yang telah menikah. Maka bagi Yusuf, kehamilan Maria menjadi sebuah pergumulan berat. Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria -tunangannyamengandung, ia sangat terkejut dan tidak habis pikir. Bagaimana mungkin orang yang dia kasihi telah berbuat aib? Namun karena kebaikan hati dan ketulusannya, Yusuf tidak mau mencemarkan nama istrinya (19). Meski Yusuf sudah menentukan keputusan, tetapi ia digelisahkan oleh keputusannya itu. Namun, sungguh karya Allah benar-benar terjadi atasnya. Malaikat Tuhan menghampiri Yusuf dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya (20-21). Maka Yusuf pun dimampukan untuk melakukan apa yang diinginkan Tuhan (24-25). Seorang yang tulus pun harus belajar menyerahkan segalanya ke dalam tangan pengasihan Tuhan. Seorang

yang tulus pun harus belajar membuka hati untuk dipimpin oleh Tuhan. Memang pergumulan akan terus ada menimpa Yusuf dan Maria pada hari-hari kemudian, tetapi pijakan awal perjalanan mereka bersama Tuhan telah membuka kesempatan agar karya Tuhan terus nyata di tengah-tengah kehidupan mereka. Bagaimana dengan kita? Adakah kita senantiasa menyerahkan segala pemikiran, pertimbangan, dan keputusan kita ke dalam tangan kasih Tuhan? Adakah kita membiarkan rencana dan kehendak-Nya berlaku dalam hidup kita? Bisa saja pergumulan hidup kita tetap ada dan terus ada. Namun, peringatan natal menjadi penting ketika kita mau membuka hati kita dan mendengar tuntunan Tuhan. Natal menjadi berarti saat kita bersedia berjalan dengan Tuhan dan diarahkan oleh FirmanNya.

Langkah Iman


Baca: Matius 1:18-25
Dalam sebuah kesempatan, Paus Yohanes Paulus II berkata "The truth is not always the same as the majority decision" (kebenaran tidak selalu sama dengan suara mayoritas). Tindakan memilih berbeda dari opini masyarakat inilah yang diambil oleh Yusuf dalam menyikapi kehamilan Maria, tunangannya. Dunia serasa runtuh! Maria hamil! Padahal Yusuf dan Maria belum hidup sebagai suami istri (ayat 18). Lalu harus bagaimana? Kalau Yusuf mengumumkan ketidaksetiaan Maria, Maria bisa terkena sanksi dilempari batu hingga mati (Ul. 22:23-24). Di sisi lain ia tidak bisa meneruskan pertunangan karena Maria telah mengkhianati dia. Karena tak ingin mempermalukan Maria, maka Yusuf hanya ingin menceraikan Maria diam-diam (ayat 19). Namun di tengah kegelisan hati Yusuf, Tuhan hadir dan memberikan opsi ketiga yaitu menikahi Maria sebab anak yang ada di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus (ayat 20-23). Bahkan Tuhan secara langsung menginstruksikan agar Yusuf memberi nama Yesus untuk anak yang akan dilahirkan Maria, sebab Dia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Informasi dari malaikat dan kepatuhan pada kehendak Tuhan meneguhkan Yusuf untuk mengambil keputusan yang tepat. Saat Tuhan menyatakan kebenaran, Yusuf percaya kepada Allah dan taat. Meski tidak mudah dan harus bayar harga, Yusuf sadar bahwa kehendak Allah harus digenapi di dalam dan melalui hidupnya. Apakah saat menyambut malam Natal ini, Anda diperhadapkan pada pilihan atau masalah yang sangat sulit seperti yang dihadapi oleh Yusuf? Atau Anda sedang didesak untuk membuat keputusan berdasarkan pilihanpilihan yang kelihatannya bijak dan baik? Temukanlah Firman-Nya bagi hidup Anda sebab Dia adalah Allah Imanuel, Allah yang selalu ada bagi hidup Anda. Izinkanlah Yesus mengajukan opsi-Nya bagi hidup Anda. Putuskanlah untuk menaati Yesus dengan segenap hati

sebagai kado terindah bagi Dia di malam peringatan kelahiran-Nya.

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...