Sunday, November 26, 2017

Menyikapi Terorisme


“Janganlah sekali-kali bersukacita atas aku orang-orang yang memusuhi aku tanpa sebab, atau mengedip-ngedipkan mata orang-orang yang membenci aku tanpa alasan. Karena mereka tidak mebicarakan damai, dan terhadap orang-orang yang rukun di negeri mereka merancangkan penipuan.”
Mazmur 35: 19-20

        
Petikan ayat di atas adalah doa dan keluh-kesah Daud kepada Tuhan yang digubahnya dalam sebuah nyanyian Mazmur. Kita tahu bersama Daud adalah raja Israel yang memiliki begitu banyak musuh baik di luar dan di dalam negerinya dan kerajaannya sendiri oleh karena kedekatannya dengan Allahnya. Saudara tidak sedang diajak untuk meratapi hidup atau untuk memusuhi mereka yang memusuhi saudara lewat pembacaan ayat di atas. Melainkan ayat itu adalah pengantar untuk renungan singkat kita kali ini berhubungan dengan realita kejadian di dunia secara global dan dikaitkan dengan keadaan di sekitar kita untuk kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran hidup bagi kita dalam Kristus.
Kita tentu tahu bersama dengan gerakan terorisme ISIS, Islamic State in Irac and Suriah yang mengklaim mereka sebagai perwujudan gerakan dakwah yang paling benar dan membunuh semua pihak yang bertentangan dan yang tidak mendukung mereka. Belakangan ini ISIS menjadi kian kuat setelah Al Bahdadi menjadi pemimpin mereka. Dunia internasional turut bergerak memerangi kekejaman mereka. Bahkan negara-negara lain di timur tengah seperti Mesir, Libya, Turki dan beberapa lainnya turut ambil bagian dalam perang terhadap ISIS karena telah terancam dengan keberadaan gerakan militer radikal tersebut.
     Di dalam negeri kita sendiri sempat heboh dengan berita tentang 16 WNI yang terbang ke Turki dan menyeberang ke Suriah untuk bergabung dengan pihak ISIS. Pihak pemerintah baik lewat densus 88, TNI, dna BNPT, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme memang sudah dan selalu aktif bekerja demi pencegahan dan pemberantasan aksi ekstrim dan diskriminasi kelompok teroris yang mengatasanamakan agama tersebut. Semua ini dilakukan demi keamanan dan demi keutuhan negara yang bertoleransi dan bermartabat.
     Namun sadarkah saudara jika “terorisme” bukan hanya mereka yang secara nyata mengangkat senjata, berideologi dan berpahaman ekstrim dan fanatisme buta?  Jauh di luar negeri kita, kita disuguhi dengan berita-berita tindak-tanduk terorisme. Bahkan di dalam negeri kita, kejadian dan gerakan serupa itu pun telah ada.
      Terorisme menurut kamus bahasa Indonesia adalah aksi yang mengancam dan sengaja membahayakan sesama, mengganggu dan membuat kehidupan seseorang tidak nyaman. Sementara teroris adalah pelaku yang melakukan aksi teror atau terorisme.
     Sering dalam kehidupan kita, kita bertemu dan mengalami tiba-tiba saja ada orang yang sirik dengan kita atau memusuhi kita tanpa alasan, mereka membenci kita dan bahkan menilai apapun yang kita kerjakan dan usahakan selalu buruk. Pernahkah saudara mengalaminya? Atau saudara sedang mengalaminya sekarang? Hal yang menyedihkan adalah tatkala aksi saling sirik dan menjelekan sesama terjadi dalam jemaat dan sesama pelayan Tuhan.
     Saling menjelekkan gereja, menganggap gerejanya paling benar dan menyepelekan gereja lain, kerap terjadi dan menganggu hubungan antar jemaat dan sesama hamba Tuhan. Ketika melihat rekan seiman yang lain sedang merintis usaha pelayanan yang baru, ada yang tampil menjelekan bahkan ada yang sampai mau berusaha menghalangi kemajuan sesama. Janganlah tanpa kita sadari kita seolah menjadi “terorisme” bagi sesama pelayan, apalagi dalam pekerjaan Tuhan.
     Saya teringat ungkapan seorang rekan saya dulu di mana dia pernah bilang bahwa kita di sini sepertinya mulai terbiasa untuk senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang dan maju. Padahal falsafah hidup Dr. Gerungan Sam Ratulangi yang menjadi falsafah hidup kita juga adalah “manusia hidup untuk menghidupkan manusia yang lain” yang artinya harus saling menopang, menolong, mendukung, dan bersama-sama, bukan menjadi “teroris” bagi sesama.
     Ingatlah Yesus Kristus yang adalah penggenapan dari falsafah itu, Dia adalah Allah dan sekaligus sebagai Manusia yang telah menunjukkan hidup yang menghidupkan orang lain itu seperti apa. Dia rela berkorban dan berbagi dengan sesama bahkan di hadapan musuh sekalipun yang memusuhi Dia tanpa alasan yang jelas melainkan karena iri.
     Kita ada di tengah jaman ketika dunia memang semakin dingin di dalam kasih. Alkitab sendiri mencatatnya, sebagaimana ungkapan Yesus dalam kotbah mengenai akhir jaman. Di mana pada masa-masa terakhir kasih akan semakin dingin. Namun itu bukan berarti kita harus mengekor dengan gaya dunia, melainkan menjadi kepala atas diri kita dan atas dunia dengan cara tetap tinggal di dalam Kasih, tidak menjadi dingin dan beku oleh keadaan dunia sekitar kita.
     Lihatlah Yesus bagaimana Dia menang atas teroris-teroris di sekelilingnya, demikian pula kita menang atas segala tindak iblis yang hendak meneror kita dengan sarana apapun yang dipakainya. Hingga oelh kita orang-orang di sekitar kita turut diberkati dengan pencerahanNya. Amin!
     

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...