“Janganlah
sekali-kali bersukacita atas aku orang-orang yang memusuhi aku tanpa sebab,
atau mengedip-ngedipkan mata orang-orang yang membenci aku tanpa alasan. Karena
mereka tidak mebicarakan damai, dan terhadap orang-orang yang rukun di negeri
mereka merancangkan penipuan.”
Mazmur 35:
19-20
Petikan ayat di atas adalah doa dan keluh-kesah Daud kepada Tuhan yang digubahnya dalam sebuah nyanyian Mazmur. Kita tahu bersama Daud adalah raja Israel yang memiliki begitu banyak musuh baik di luar dan di dalam negerinya dan kerajaannya sendiri oleh karena kedekatannya dengan Allahnya. Saudara tidak sedang diajak untuk meratapi hidup atau untuk memusuhi mereka yang memusuhi saudara lewat pembacaan ayat di atas. Melainkan ayat itu adalah pengantar untuk renungan singkat kita kali ini berhubungan dengan realita kejadian di dunia secara global dan dikaitkan dengan keadaan di sekitar kita untuk kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran hidup bagi kita dalam Kristus.
Kita tentu tahu bersama dengan gerakan terorisme ISIS, Islamic
State in Irac and Suriah yang mengklaim mereka sebagai perwujudan gerakan
dakwah yang paling benar dan membunuh semua pihak yang bertentangan dan yang
tidak mendukung mereka. Belakangan ini ISIS menjadi kian kuat setelah Al
Bahdadi menjadi pemimpin mereka. Dunia internasional turut bergerak memerangi
kekejaman mereka. Bahkan negara-negara lain di timur tengah seperti Mesir,
Libya, Turki dan beberapa lainnya turut ambil bagian dalam perang terhadap ISIS
karena telah terancam dengan keberadaan gerakan militer radikal tersebut.
Namun sadarkah saudara jika “terorisme” bukan hanya
mereka yang secara nyata mengangkat senjata, berideologi dan berpahaman ekstrim
dan fanatisme buta? Jauh di luar negeri
kita, kita disuguhi dengan berita-berita tindak-tanduk terorisme. Bahkan di dalam
negeri kita, kejadian dan gerakan serupa itu pun telah ada.
Terorisme menurut
kamus bahasa Indonesia adalah aksi yang mengancam dan sengaja membahayakan
sesama, mengganggu dan membuat kehidupan seseorang tidak nyaman. Sementara
teroris adalah pelaku yang melakukan aksi teror atau terorisme.
Sering dalam
kehidupan kita, kita bertemu dan mengalami tiba-tiba saja ada orang yang sirik
dengan kita atau memusuhi kita tanpa alasan, mereka membenci kita dan bahkan
menilai apapun yang kita kerjakan dan usahakan selalu buruk. Pernahkah saudara
mengalaminya? Atau saudara sedang mengalaminya sekarang? Hal yang menyedihkan
adalah tatkala aksi saling sirik dan menjelekan sesama terjadi dalam jemaat dan
sesama pelayan Tuhan.
Saling menjelekkan
gereja, menganggap gerejanya paling benar dan menyepelekan gereja lain, kerap
terjadi dan menganggu hubungan antar jemaat dan sesama hamba Tuhan. Ketika
melihat rekan seiman yang lain sedang merintis usaha pelayanan yang baru, ada
yang tampil menjelekan bahkan ada yang sampai mau berusaha menghalangi kemajuan sesama.
Janganlah tanpa kita sadari kita seolah menjadi “terorisme” bagi sesama
pelayan, apalagi dalam pekerjaan Tuhan.
Saya teringat
ungkapan seorang rekan saya dulu di mana dia pernah bilang bahwa kita di sini
sepertinya mulai terbiasa untuk senang melihat orang susah dan susah melihat
orang senang dan maju. Padahal falsafah hidup Dr. Gerungan Sam Ratulangi yang
menjadi falsafah hidup kita juga adalah “manusia hidup untuk menghidupkan
manusia yang lain” yang artinya harus saling menopang, menolong, mendukung, dan
bersama-sama, bukan menjadi “teroris” bagi sesama.
Ingatlah Yesus
Kristus yang adalah penggenapan dari falsafah itu, Dia adalah Allah dan
sekaligus sebagai Manusia yang telah menunjukkan hidup yang menghidupkan orang
lain itu seperti apa. Dia rela berkorban dan berbagi dengan sesama bahkan di
hadapan musuh sekalipun yang memusuhi Dia tanpa alasan yang jelas melainkan
karena iri.
Kita ada di tengah
jaman ketika dunia memang semakin dingin di dalam kasih. Alkitab sendiri
mencatatnya, sebagaimana ungkapan Yesus dalam kotbah mengenai akhir jaman. Di
mana pada masa-masa terakhir kasih akan semakin dingin. Namun itu bukan berarti
kita harus mengekor dengan gaya dunia, melainkan menjadi kepala atas diri kita
dan atas dunia dengan cara tetap tinggal di dalam Kasih, tidak menjadi dingin
dan beku oleh keadaan dunia sekitar kita.

No comments:
Post a Comment