Ayat penuntun:
Efesus 1: 18 - 21
Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui
tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah
kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana,
kekasihnya mengkhianati dia lari kepelukan lelaki lain, karena emosinya dia
melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas
terkenal menjadi seorang narapidana, dia dipenjara selama 3 tahun.
Setelah
dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain, karena
statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan
menjadi bahan ejekan dan penghinaan.
Dalam keadaan sakit hati, Moore
memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar di bagian selatan kota
ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya, para orang dewasa dirumah
tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang kerumah, didalam rumah
hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.
Dia
pergi kerumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati,
masuk kedalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia
memberikan kunci rumah kepadaku.”
Anak
kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku nanti malam baru sampai
ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?”
Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun,
dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa
kepada tujuannya, langsung menyetujui.
Yang membuat dia sangat
terheran-heran adalah anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain
piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira,
walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat
seperti anak buta ini.
Setelah selesai bermain piano anak
ini melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan didalam dunia anak buta ini,
seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya
tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan
persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan
tulus.
“Paman, apakah matahari seperti
ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di
telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari
bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.”
“Paman, apa warna keemasan itu?”
dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu
membawanya ketempat terik matahari, “Emas
adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat,
sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan.”
Anak
buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan,
sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.”
Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk
barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh
imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat
serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih
tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.
Akhirnya, Moore teringat tujuan
kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman
dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di
hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang
tua Kay,
“Tuan dan nyonya yang terhormat,
maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat,
dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya
sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati
saya.”
Tiga tahun kemudian, Moore
menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai
seorang dokter.
Enam tahun kemudian, dia dan
rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia
ini, kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke
seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya,
duduk disebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan musik indah menyirami
jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.
Refleksi:
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.
Cinta
dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan,
sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan
bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti
Moore yang telah membantu banyak orang, ketika
mengalami
putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.
Cahaya Harapan bagi bagi kita adalah
Yesus Kristus. Dialah yang akan sanggup membukakan setiap hati yang telah
tertutup kebencian dan kepahitan. Cinta Kasih Allah lebih kuat dari maut,
demikian sebuah ayat dalam kitab Mazmur Daud. Ya benar, Cinta Kasih Allah itu telah datang
dalam wujud manusia dan diam di antara kita agar Dia menjadi bagian kita untuk
kita bisa saling berbagi dalam hidup ini. Banyak orang telah buta oleh
ketamakan dan kerakusan hidup, banyak orang
telah buta oleh kejahatan dan kebencian
tetapi kita yang di dalam Yesus dicerahkanNya dalam kasihNya agar kita dapat
benar-benar celik dan melihat. Sebab melihat jika tanpa bisa memaknai dengan
benar, jika tanpa pandangan yang benar maka itu tidak benar-benar melihat.
Kristuslah Penglihatan kita dalam segala hal agar kita bisa berbagi kasih
dengan sesama.

No comments:
Post a Comment