Monday, August 12, 2019

GELAR-GELAR KRISTUS BAGI BANGSA AFRIKA



Gelar-gelar kristologis dari Afrika
Dalam tahun 1967 pakar teologi yang berasal dari Kenya, John Mbiti, mengatakan bahwa tidak ada kristologi yang bersifat Afrika.
Dalam tahun 1974, pada suatu konsultasi antar teolog Afrika di Accra, Ghana, Dr. E.W. Fashole-Luke mengemukakan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan para teolog Afrika sedang ber­gumul dengan gagasan-gagasan kristologi. Menurut dia, aspek dari teologi Kristen Afrika ini hendaknya diberikan prioritas utama.
Sepuluh tahun sesudah pernyataan John Mbiti, Kofi Appiah­Kubi dari Ghana menyimpulkan, bahwa belum banyak literatur mengenai kristologi Afrika. Di tahun 1979 Gabriel Setiloane menyatakan, bahwa tugas yang harus diemban oleh teologi Afrika ialah mengadakan penelitian intensif tentang kristologi. Yakni: Siapakah Yesus itu? Apakah arti Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Sejak “himbauan” pertama itu telah dibuat berbagai rancangan kristologis, yang ingin mengemukakan “Hoheitstitel” atau “gelar kemuliaan” Yesus menurut kristologi Afrika. Mengenai hal itu dapat dikatakan, bahwa ada terkandung sifat eksperimental terkandung di dalamnya. Beberapa gelar di antaranya adalah sebagai berikut:

Kristus sebagai “Pemenang”
Berdasarkan penelitian terhadap khotbah-khotbah di Gereja Tuhan (Aladura) di Nigeria, John Mbiti bercerita, bahwa orang­-orang dari gereja tersebut menaruh perhatian besar terhadap peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan Yesus, seperti kelahiran­Nya, baptisan, kematian dan kebangkitan-Nya dan kebangkitan dan mereka yang tercakup dalam tubuh Kristus. Pertama-tama Ia dilihat sebagai pemenang. Ia melawan dan mengalahkan kuasa Iblis, penyakit, kebencian, ketakutan, bahkan kematian itu sendiri.
Jika ditanya mengapa orang Kristen Afrika sangat tertarik kepada Kristus sebagai pemenang, maka jawabnya ialah bahwa orang Kristen Afrika sangat peka terhadap berbagai kuasa yang bekerja dalam hidupnya seperti: roh-roh jahat, kekuatan gaib, sihir, ketakutan, penyakit, kuasa kejahatan dan yang terutama dan semuanya, kematian.
John Mbiti menjelaskan bahwa keakraban gereja ini dengan saat-saat tersebut dapat dihubungkan dengan antropologi Afrika. Allah menciptakan anak dan memberikannya kepada suatu persekutuan. Sekarang tugas persekutuan itu adalah memasukkan anak itu ke dalam masyarakat. Untuk itu manusia harus meng­alami rites de passages. Ada empat tahapan: kelahiran; penerimaan sebagai orang dewasa; pernikahan dan kematian; peralihan ke dunia para leluhur. Menurut Mbiti, kaum Kristen Afrika sangat tertarik pada kelahiran, baptisan dan kematian Yesus, karena peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus manusia sempurna yang telah mengalami rites de passages yang adalah kewajiban yang mutlak. Itu sebabnya orang Afrika sangat menaruh minat pada silsilah-Nya yang terdapat dalam Matius 1:1­17 dan Lukas 3:23-38.
Yesus memenuhi semua syarat untuk menjadi anggota penuh, yang tergabung seutuhnya dengan masyarakat. Dia manusia sempurna, lengkap, utuh, dewasa dan bertanggung jawab. Oleh karena Ia manusia sempurna, Ia harus mati untuk membuktikan secara lengkap, bahwa Ia sama dengan manusia lain. Salib bukanlah tanda aib dan penghinaan, tetapi lambang dari kesem­purnaan, selama itu berhubungan dengan kehidupan Yesus. John Mbiti berpendapat bahwa penjelasan tentang kematian Yesus seperti ini tidak menghilangkan ciri khas pengorbanan-Nya dan tidak melenyapkan konsekuensi soteriologis. Ciri-ciri itu “justru lahir dari salib, lebih daripada menyebabkannya.” Yesus mati sebagai manusia biasa. Perbedaan “kristiani” ditentukan oleh kebangkitan-Nya yang adalah keyakinan mendasar dari keper­cayaan kaum Kristen. Apa yang terjadi sebelum Paskah adalah pengalaman bagi banyak orang secara bersama. Apa yang terjadi sesudah Paskah adalah keistimewaan Injil.

Kristus sebagai “Kepala Suku”
Salah satu gelar yang diusulkan di Afrika bagi Kristus adalah gelar chief, yang dapat diartikan sebagai 'kepala suku' atau 'raja'. Paul de Fueter mengatakan, “Kami memberitakan tentang Kristus yang sesungguhnya disebut 'chief, yaitu Raja Afrika. Dia berkuasa, Dia yang datang dan oleh kehadiran-Nya segala sesuatu dilupakan, dan pada-Nya semua orang selamat. Gelar ini diusulkan oleh para penginjil. Namun ada pendapat bahwa pilihan itu tidak layak, karena manusia yang menjadi 'chief adalah orang-orang yang sering jauh dari rakyat dan tidak dapat didekati oleh mereka.” J.S. Pobee bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa adalah berbahaya jika dinyatakan ada persamaan antara Kristus dan “chief', sebab teologi seperti itu adalah teologi kemuliaan, yang tidak mengenal teologi salib. Kewibawaan dan kuasa dalam teologi ini berasal dari sesuatu yang berlainan dengan jalan penderitaan.

Kristus sebagai “Leluhur”
Gelar lain yang dikenal ialah Yesus sebagai leluhur yang besar, atau leluhur yang terbesar (Nana dalam bahasa Anka). Menurut J.S. Pobee Yesus adalah Nana seperti leluhur lain yang ter­masyhur. Ia adalah hakim yang tidak terlupakan, Ia mengungguli leluhur yang lain, karena Dia yang terdekat dengan Allah. Di dalam pernyataan bahwa Yesus adalah “Nana”, terkandung arti bahwa norma-norma-Nya berlaku dalam orientasi pribadi, dalam struktur-struktur masyarakat, dalam perkembangan ekonomi dan hubungan politik. Pernyataan itu berarti keadilan pribadi dan sosial. Orang Afrika yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Nana”, harus menghubungkan pesan itu dengan keadilan manusiawi dan keadilan sosial di Afrika dan bagian dunia lain­nya.
Teolog Katolik Roma berkebangsaan Afrika, Charles Nyamiti, memberikan pemecahan dogmatis lebih lanjut atas pemikiran ini. Ia mencoba membuktikan, bahwa Allah Bapa secara analogis adalah leluhur dari Logos dan Logos adalah keturunan Bapa. Allah adalah Bapa kita dan Leluhur kita melalui Kristus. Oleh penjel­maan dan penyelamatan-Nya Kristus menjadi Leluhur kita. Kedudukan-Nya sebagai Leluhur kita serupa dengan hubungan antara individu Afrika yang mati dengan saudara-saudara-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang dimaksudkan Nyamiti dengan jenis kedudukan sebagai leluhur ialah sejenis hubungan keluarga antara saudara-saudara yang telah meninggal dengan saudara­saudara perempuan dan laki-laki yang hidup, karena jenis ini yang paling cocok untuk menggambarkan secara analogis hubungan Kristus dengan kita. Kristus adalah saudara leluhur kita. Nyamiti membandingkan hubungan antara saudara-bersaudara Afrika dengan hubungan Kristus dengan umat manusia.
Kedudukan sebagai manusia ilahi memberikan Dia kemampuan bertindak sebagai saudara dan perantara bagi setiap insan, terlepas dari apakah Ia keturunan Adam atau tidak. Nyamiti menyatakan bahwa kedudukan Kristus sebagai anak terhadap Bapa berbeda sama sekali dengan kedudukan kita sebagai anak terhadap Bapa yang sama. Perantaraan Kristus yang membawa keselamatan berhubungan erat dengan kesatuan hypostatis-Nya atau sifat-Nya sebagai Manusia ilahi.
Kristus sebagai leluhur adalah contoh bagi tingkah laku seseorang. Tetapi Ia jauh lebih sempurna. Dia adalah sumber batiniah dan prinsip vital dari kehidupan Kristen. Kristus mem­berikan kepada saudara-saudara-Nya bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi di atas segalanya kebutuhan rohani, namun pemberian yang terbesar adalah diri-Nya sendiri demi keselamatan abadi. Sebagai manusia ilahi Ia adalah saudara leluhur dari semua insan. Charles Nyamiti menyatakan selanjutnya, bahwa kebangkitan sempurna dari Kristus seutuhnya masih akan terjadi. Keduduk­an-Nya sebagai leluhur belum terwujud secara lengkap. Tindakan penyelamatan-Nya akan digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus (parusia), bilamana kosmos menerima pahala penuh dari kebang­kitan-Nya. Ini membuktikan, demikian kata Nyamiti, betapa akrabnya hubungan antara penjelmaan Kristus, status-Nya sebagai Leluhur dan penyelamatan.

Kristus sebagai “Dukun”
Terutama dalam gereja-gereja independen pelaksanaan penyembuhan melalui kepercayaan mengambil peranan yang penting. Jawaban yang lazim diberikan atas pertanyaan mengapa orang menjadi anggota dari gereja independen, ialah, “Aku lama sekali menderita sakit. Aku sudah mencoba berbagai cara penyem­buhan tanpa hasil. Aku mendapat petunjuk untuk menemui nabi tertentu. Itu saya lakukan dan sekarang aku sembuh. Puji Tuhan!” Praktek-praktek penyembuhan melalui kepercayaan begitu besar pengaruhnya, sehingga dapat dipahami jika -Kristus lebih dimengerti sebagai penyembuh, dukun atau pelindung terhadap kuasa-kuasa jahat. Kalau demikian kristologi Afrika yang asli seharusnya didasarkan pada dan disiapkan oleh penyembuh tradisional.”
Gereja-gereja mandiri yang bersifat kenabian, lebih menon­jolkan paradigma Kristus sebagai nganga yang menyembuhkan, daripada gereja manapun di Afrika. Nabi yang menyembuhkan itu memerankan pertolongan pembebasan dan penyembuhan sebagai­mans diberikan oleh Kristus. Ia berbicara tentang Kristus, Sang Penyembuh sepanjang ibadah, yang mendahului kegiatan-kegiatan penyembuhan. Menurut Daneel, di dalam Kristus di satu pihak tradisi “nganga” menemukan pusat kegiatannya, tetapi di pihak lain secara radikal berubah mendapat bentuk Kristen. Dengan cara nganga meletakkan tangannya, melalui perintah-perintah-Nya, dengan membagikan air suci dan melakukan tanda-tanda lain yang melambangkan kuasa penyembuhan Allah, melalui pengusiran roh­roh jahat secara dramatis, maka Kristus dinyatakan kepada dunia Afrika, sebagai Tokoh yang berbicara, memberi perlindungan, menyembuhkan dan melenyapkan kekuatiran.
Dalam sebuah karangan yang sangat memikat, dengan menggunakan laporan-laporan mengenai Kultus-Bwiti dari Gabon dan Kultus Mbona di Malawi sebagai bahan pembantu, Schoffeleers menulis tentang Kristus sebagai nganga yang is anggap sebagai contoh utama bagi suatu kristologi Afrika.
Yang sangat seru dari pemikiran t ntuk menggunakan nganga sebagai contoh dari citra Kristus, ialah bahwa justru nganga atau dukun itu oleh zending dan misi secara bersamaan dilihat sebagai lawan utama Kristus. Alasan ini menyebabkan keseganan dari beberapa pihak di kalangan orang Afrika, untuk menggunakan contoh itu. Mungkin hal itu dapat disamakan dengan keberatan yang timbul terhadap pemakaian gelar “chief”. sebagaimana dikemukakan terdahulu.

Dalam kesimpulannya Schoffeleers menyatakan bahwa baik pejabat-pejabat gerejawi maupun Kristus sendiri dapat disebut nganga, namun sebaliknya juga para nganga sudah mulai bersifat Kristen atau kristologis. Di satu pihak ada dorongan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru bagi kehidupan masyarakat: nganga berubah seakan-akan menjadi Kristus; di pihak lain ada dorongan untuk menyesuaikan bentuk tradisional dengan keadaan Kristus berubah menjadi nganga.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...