Gelar-gelar
kristologis dari Afrika
Dalam
tahun 1967 pakar teologi yang berasal dari Kenya, John Mbiti, mengatakan bahwa
tidak ada kristologi yang bersifat Afrika.
Dalam
tahun 1974, pada suatu konsultasi antar teolog Afrika di Accra, Ghana, Dr. E.W.
Fashole-Luke mengemukakan tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan para teolog
Afrika sedang bergumul dengan gagasan-gagasan kristologi. Menurut dia, aspek
dari teologi Kristen Afrika ini hendaknya diberikan prioritas utama.
Sepuluh
tahun sesudah pernyataan John Mbiti, Kofi AppiahKubi dari Ghana menyimpulkan,
bahwa belum banyak literatur mengenai kristologi Afrika. Di tahun 1979 Gabriel
Setiloane menyatakan, bahwa tugas yang harus diemban oleh teologi Afrika ialah
mengadakan penelitian intensif tentang kristologi. Yakni: Siapakah Yesus itu?
Apakah arti Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Sejak “himbauan” pertama
itu telah dibuat berbagai rancangan kristologis, yang ingin mengemukakan “Hoheitstitel”
atau “gelar kemuliaan” Yesus menurut kristologi Afrika. Mengenai hal itu dapat
dikatakan, bahwa ada terkandung sifat eksperimental terkandung di dalamnya.
Beberapa gelar di antaranya adalah sebagai berikut:
Kristus
sebagai “Pemenang”
Berdasarkan
penelitian terhadap khotbah-khotbah di Gereja Tuhan (Aladura) di Nigeria, John
Mbiti bercerita, bahwa orang-orang dari gereja tersebut menaruh perhatian
besar terhadap peristiwa-peristiwa penting dari kehidupan Yesus, seperti
kelahiranNya, baptisan, kematian dan kebangkitan-Nya dan kebangkitan dan
mereka yang tercakup dalam tubuh Kristus. Pertama-tama Ia dilihat sebagai
pemenang. Ia melawan dan mengalahkan kuasa Iblis, penyakit, kebencian,
ketakutan, bahkan kematian itu sendiri.
Jika
ditanya mengapa orang Kristen Afrika sangat tertarik kepada Kristus sebagai
pemenang, maka jawabnya ialah bahwa orang Kristen Afrika sangat peka terhadap
berbagai kuasa yang bekerja dalam hidupnya seperti: roh-roh jahat, kekuatan
gaib, sihir, ketakutan, penyakit, kuasa kejahatan dan yang terutama dan
semuanya, kematian.
John
Mbiti menjelaskan bahwa keakraban gereja ini dengan saat-saat tersebut dapat
dihubungkan dengan antropologi Afrika. Allah menciptakan anak dan memberikannya
kepada suatu persekutuan. Sekarang tugas persekutuan itu adalah memasukkan anak
itu ke dalam masyarakat. Untuk itu manusia harus mengalami rites de
passages. Ada empat tahapan: kelahiran; penerimaan sebagai orang dewasa;
pernikahan dan kematian; peralihan ke dunia para leluhur. Menurut Mbiti, kaum
Kristen Afrika sangat tertarik pada kelahiran, baptisan dan kematian Yesus,
karena peristiwa-peristiwa itu menunjukkan bahwa Yesus manusia sempurna yang
telah mengalami rites de passages yang adalah kewajiban yang mutlak. Itu
sebabnya orang Afrika sangat menaruh minat pada silsilah-Nya yang terdapat
dalam Matius 1:117 dan Lukas 3:23-38.
Yesus
memenuhi semua syarat untuk menjadi anggota penuh, yang tergabung seutuhnya
dengan masyarakat. Dia manusia sempurna, lengkap, utuh, dewasa dan bertanggung
jawab. Oleh karena Ia manusia sempurna, Ia harus mati untuk membuktikan secara
lengkap, bahwa Ia sama dengan manusia lain. Salib bukanlah tanda aib dan
penghinaan, tetapi lambang dari kesempurnaan, selama itu berhubungan dengan
kehidupan Yesus. John Mbiti berpendapat bahwa penjelasan tentang kematian Yesus
seperti ini tidak menghilangkan ciri khas pengorbanan-Nya dan tidak melenyapkan
konsekuensi soteriologis. Ciri-ciri itu “justru lahir dari salib, lebih
daripada menyebabkannya.” Yesus mati sebagai manusia biasa. Perbedaan
“kristiani” ditentukan oleh kebangkitan-Nya yang adalah keyakinan mendasar dari
kepercayaan kaum Kristen. Apa yang terjadi sebelum Paskah adalah pengalaman
bagi banyak orang secara bersama. Apa yang terjadi sesudah Paskah adalah
keistimewaan Injil.
Kristus
sebagai “Kepala Suku”
Salah satu gelar yang
diusulkan di Afrika bagi Kristus adalah gelar chief, yang dapat
diartikan sebagai 'kepala suku' atau 'raja'. Paul de Fueter mengatakan, “Kami
memberitakan tentang Kristus yang sesungguhnya disebut 'chief, yaitu Raja
Afrika. Dia berkuasa, Dia yang datang dan oleh kehadiran-Nya segala sesuatu
dilupakan, dan pada-Nya semua orang selamat. Gelar ini diusulkan oleh para
penginjil. Namun ada pendapat bahwa pilihan itu tidak layak, karena manusia
yang menjadi 'chief adalah orang-orang yang sering jauh dari rakyat dan tidak
dapat didekati oleh mereka.” J.S. Pobee bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa
adalah berbahaya jika dinyatakan ada persamaan antara Kristus dan “chief',
sebab teologi seperti itu adalah teologi kemuliaan, yang tidak mengenal teologi
salib. Kewibawaan dan kuasa dalam teologi ini berasal dari sesuatu yang
berlainan dengan jalan penderitaan.
Kristus
sebagai “Leluhur”
Gelar lain yang dikenal
ialah Yesus sebagai leluhur yang besar, atau leluhur yang terbesar (Nana dalam
bahasa Anka). Menurut J.S. Pobee Yesus adalah Nana seperti leluhur lain yang
termasyhur. Ia adalah hakim yang tidak terlupakan, Ia mengungguli leluhur yang
lain, karena Dia yang terdekat dengan Allah. Di dalam pernyataan bahwa Yesus
adalah “Nana”, terkandung arti bahwa norma-norma-Nya berlaku dalam orientasi
pribadi, dalam struktur-struktur masyarakat, dalam perkembangan ekonomi dan
hubungan politik. Pernyataan itu berarti keadilan pribadi dan sosial. Orang
Afrika yang menyatakan bahwa Yesus adalah “Nana”, harus menghubungkan pesan itu
dengan keadilan manusiawi dan keadilan sosial di Afrika dan bagian dunia lainnya.
Teolog Katolik Roma
berkebangsaan Afrika, Charles Nyamiti, memberikan pemecahan dogmatis lebih
lanjut atas pemikiran ini. Ia mencoba membuktikan, bahwa Allah Bapa secara
analogis adalah leluhur dari Logos dan Logos adalah keturunan Bapa. Allah
adalah Bapa kita dan Leluhur kita melalui Kristus. Oleh penjelmaan dan
penyelamatan-Nya Kristus menjadi Leluhur kita. Kedudukan-Nya sebagai Leluhur
kita serupa dengan hubungan antara individu Afrika yang mati dengan
saudara-saudara-Nya, baik laki-laki maupun perempuan. Yang dimaksudkan Nyamiti
dengan jenis kedudukan sebagai leluhur ialah sejenis hubungan keluarga antara
saudara-saudara yang telah meninggal dengan saudarasaudara perempuan dan
laki-laki yang hidup, karena jenis ini yang paling cocok untuk menggambarkan
secara analogis hubungan Kristus dengan kita. Kristus adalah saudara leluhur
kita. Nyamiti membandingkan hubungan antara saudara-bersaudara Afrika dengan
hubungan Kristus dengan umat manusia.
Kedudukan sebagai manusia
ilahi memberikan Dia kemampuan bertindak sebagai saudara dan perantara bagi
setiap insan, terlepas dari apakah Ia keturunan Adam atau tidak. Nyamiti
menyatakan bahwa kedudukan Kristus sebagai anak terhadap Bapa berbeda sama
sekali dengan kedudukan kita sebagai anak terhadap Bapa yang sama. Perantaraan
Kristus yang membawa keselamatan berhubungan erat dengan kesatuan
hypostatis-Nya atau sifat-Nya sebagai Manusia ilahi.
Kristus sebagai leluhur
adalah contoh bagi tingkah laku seseorang. Tetapi Ia jauh lebih sempurna. Dia
adalah sumber batiniah dan prinsip vital dari kehidupan Kristen. Kristus memberikan
kepada saudara-saudara-Nya bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi di atas
segalanya kebutuhan rohani, namun pemberian yang terbesar adalah diri-Nya
sendiri demi keselamatan abadi. Sebagai manusia ilahi Ia adalah saudara leluhur
dari semua insan. Charles Nyamiti menyatakan selanjutnya, bahwa kebangkitan sempurna dari Kristus seutuhnya masih akan
terjadi. Kedudukan-Nya sebagai leluhur belum terwujud secara lengkap. Tindakan
penyelamatan-Nya akan digenapi oleh kedatangan Yesus Kristus (parusia), bilamana
kosmos menerima pahala penuh dari kebangkitan-Nya. Ini membuktikan, demikian
kata Nyamiti, betapa akrabnya hubungan antara penjelmaan Kristus, status-Nya
sebagai Leluhur dan penyelamatan.
Kristus
sebagai “Dukun”
Terutama
dalam gereja-gereja independen pelaksanaan penyembuhan melalui kepercayaan
mengambil peranan yang penting. Jawaban yang lazim diberikan atas pertanyaan
mengapa orang menjadi anggota dari gereja independen,
ialah, “Aku lama sekali menderita sakit. Aku sudah mencoba berbagai cara penyembuhan
tanpa hasil. Aku mendapat petunjuk untuk menemui nabi tertentu. Itu saya
lakukan dan sekarang aku sembuh. Puji Tuhan!” Praktek-praktek penyembuhan
melalui kepercayaan begitu besar pengaruhnya, sehingga dapat dipahami jika
-Kristus lebih dimengerti sebagai penyembuh, dukun atau pelindung terhadap
kuasa-kuasa jahat. Kalau demikian kristologi Afrika yang asli seharusnya
didasarkan pada dan disiapkan oleh penyembuh tradisional.”
Gereja-gereja
mandiri yang bersifat kenabian, lebih menonjolkan paradigma Kristus sebagai nganga
yang menyembuhkan, daripada gereja manapun di Afrika. Nabi yang
menyembuhkan itu memerankan pertolongan pembebasan dan penyembuhan sebagaimans diberikan oleh Kristus. Ia
berbicara tentang Kristus, Sang Penyembuh sepanjang ibadah, yang mendahului
kegiatan-kegiatan penyembuhan. Menurut Daneel, di dalam Kristus di satu pihak
tradisi “nganga” menemukan pusat kegiatannya, tetapi di pihak lain secara
radikal berubah mendapat bentuk Kristen. Dengan cara nganga meletakkan
tangannya, melalui perintah-perintah-Nya, dengan membagikan air suci dan
melakukan tanda-tanda lain yang melambangkan kuasa penyembuhan Allah, melalui
pengusiran rohroh jahat secara dramatis, maka Kristus dinyatakan kepada dunia
Afrika, sebagai Tokoh yang berbicara, memberi perlindungan, menyembuhkan dan
melenyapkan kekuatiran.
Dalam
sebuah karangan yang sangat memikat, dengan menggunakan laporan-laporan
mengenai Kultus-Bwiti dari Gabon dan Kultus Mbona di Malawi sebagai bahan pembantu, Schoffeleers
menulis tentang Kristus sebagai nganga yang is anggap sebagai contoh
utama bagi suatu kristologi Afrika.
Yang sangat seru dari
pemikiran t ntuk menggunakan nganga sebagai contoh dari citra Kristus,
ialah bahwa justru nganga atau dukun itu oleh zending dan misi secara
bersamaan dilihat sebagai lawan utama Kristus. Alasan ini menyebabkan keseganan
dari beberapa pihak di kalangan orang Afrika, untuk menggunakan contoh itu.
Mungkin hal itu dapat disamakan dengan keberatan yang timbul terhadap pemakaian
gelar “chief”. sebagaimana dikemukakan terdahulu.
Dalam kesimpulannya
Schoffeleers menyatakan bahwa baik pejabat-pejabat gerejawi maupun Kristus
sendiri dapat disebut nganga, namun sebaliknya juga para nganga sudah
mulai bersifat Kristen atau kristologis. Di satu pihak ada dorongan untuk
menciptakan bentuk-bentuk baru bagi kehidupan masyarakat: nganga berubah
seakan-akan menjadi Kristus; di pihak lain ada dorongan untuk menyesuaikan
bentuk tradisional dengan keadaan Kristus berubah menjadi nganga.
No comments:
Post a Comment