
Kedatangan Yesus Kristus di Afrika
Yesus sudah berada di
Afrika sebelum ada agama Kristen. Bukankah Keluarga Suci itu mengungsi ke Mesir
dan menurut cerita yang diturunkan, mereka tinggal selama enam bulan di sana.
Sampai sekarang di Mesir orang dapat menunjukkan tempat mereka pernah tinggal.
Orang Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8, yang dibaptis oleh penginjil Filipus,
kemungkinan seorang bangsa Afrika yang berasal dari KeiAjaan Meroa. Asal-mula
berdirinya gereja di Mesir dianggap basil karya Markus, yang digantikan oleh
pemimpin tertinggi Gereja Kopti. Oleh usaha dua saudara kandung, Frumentius dan
Aedesius dari Tyrus di Libanon, yang kapalnya karam di Laut Merah, agama
Kristen masuk Etiopia. Atas prakarsa Frumentius gereja ini bergabung dengan
Gereja Kopti di Mesir. Dalam abad ke-6 agama Kristen menyebar ke Nubia.
Dengan berdirinya dan
tersebarnya agama Islam pada permulaan abad ke-7 terjadi pula kemunduran dalam
agama Kristen. Sampai tahap tertentu agama Islam merintangi pengembangan agama
Kristen. Campur tangan bangsa Eropa sewaktu Perang Salib, ketika orang Nubia
bersekutu dengan orang Kristen “Barat”, mengakibatkan kekacauan yang tidak
teratasi dalam agama Kristen Nubia. Akibatnya agama itu akhirnya menjadi korban
dari agresi pihak Islam.”
Di Afrika Utara bagian
Barat, daerah di mana sekali waktu terdapat gereja-gereja yang didirikan oleh
Tertulianus, Cyprianus dan Augustinus, kemunduran gereja telah terjadi sebelum
penyebaran agama Islam. Pada waktu Afrika Utara melepaskan warna “latinnya”, ia
boleh dikatakan juga melepaskan Kekristenannya. Artinya, sejak saat itu tidak
ada gereja pribumi lagi di situ. Namun pihak orang-orang Afrika kini
mengemukakan, bahwa tokoh seperti Cyprianus adalah sangat aktual pada diskusi
teologis yang kini teijadi di Afrika.
Agama Kristen
diperkenalkan kembali kepada Afrika, ketika lalu lintas perdagangan dimulai.
Orang Portugis mulai merintisnya. Pada umumnya ekspedisi misi pada tahun 1490
dianggap sebagai angkatan pertama para misionaris yang berhasil di Kongo. Pada
tahun 1491 raja dan ratu dibaptis, mereka diberi nama dari raja dan ratu
Portugal, yakni Joan dan Eleonara. Anak mereka, Muemba Nzinga mulai saat itu
diberi nama baptis Don Alfonso dan mulai tahun 1507 ia menja& raja Kristen
terkemuka di Kongo (meninggal 1534).
Telah dikemukakan lebih
dahulu bahwa karena perdagangan budak, penyebaran agama Kristen akhirnya
dihalang-halangi sampai abad ke-19. Ketika perbudakan dihapus, orang-orang Arab
meneruskannya, terutama perbudakan untuk keperluan rumah tangga. Budak-budak
itu dipekerjakan di rumah tangga-rumah tangga atau di balai-balai istri yang
terdapat di Mesir, Arab dan Persia. Jumlah budak per tahun diperkirakan sampai
empat juta.
Laporan-laporan David
Livingstone (meninggal 1874) tentang perjalanan-perjalanannya, menyebabkan
perdagangan budak dicemooh di seluruh dunia. Ia ingin merintis jalan bagi
“agama Kristen dan perdagangan”, karena menurut dia, hanya hubungan dagang
secara teratur dan pengembangan pertanian dapat mengakhiri perdagangan
manusia.
Ketika zending (Barat)
kembali memusatkan perhatian pada Afrika, kaum Protestan lebih dulu mulai
bekerja daripada kaum Katolik. Dalam tahun 1792 kaum Baptislah yang lebih
dahulu mulai bekerja di Afrika di antara kaum Protestan. Kaum Katolik menyusul
kemudian. Sejak tahun 1868 peranan penting dimainkan “Imam-imam Putih” di bawah
pimpinan Kardinal Lavigerie.
Penyebaran agama Kristen
secara massal di sebelah selatan Sahara baru dimulai pada abad ke-19, yang
secara khusus disebut abad zending. Sampai saat ini penyebaran itu dilanjutkan,
sehingga diperkirakan bahwa pada akhir abad ini, gereja-gereja Afrika akan
melebihi gereja-gereja di Eropa dalam jumlah angka.
Para penyebar Injil yang
pergi ke Afrika menetap baik di pesisir maupun di pedalaman. Mereka membentuk
kelompokkelompok kecil sekeliling mereka. Kelompok-kelompok itu sering terdiri
dari budak-budak yang dibebaskan oleh mereka dan yang menjadi orang-orang
pertama yang bertobat. Ada pendapat bahwa kita harus membedakan penginjil dari
periode awal sebelum tahun 1884 - jadi mereka seperti Livingstone - dari
penginjil setelah tahun 1885. Pada tahun itu berlangsung Kongres Berlin, di
mana Afrika dibagi-bagikan antara negara-negara Eropa, yakni di-”scramble” atau
diperebutkan.
Penginjil-penginjil yang
pertama datang pada umumnya orang terpeNar, belajar menguasai bahasa dan
kebiasaan dari negerinegeri yang bersangkutan. Sedangkan penginjil-penginjil
dalam tahap kemudian kebanyakan tinggal jauh dari orang-orang Afrika, hidup
menurut cara Barat dengan menggunakan bahan dan barang impor, tinggal di suatu
halaman tertutup (compound), sering harus dibantu oleh seorang
peneijemah dan selalu dapat minta bantuan dan perlindungan dari
penguasa-penguasa kolonia1.
Peranan para penginjil
dan para misionaris yang belakangan datang, sering dirasa asing sekali oleh
orang-orang Afrika. Hal itu disebabkan oleh banyaknya di antara penginjil
tersebut memberitakan Injil tetapi tidak mengindahkan kebudayaan serta latar
belakang keagamaan orang-orang Afrika itu sendiri. Bagaimana caranya hal itu
berlangsung, diungkapkan dan dicemooh dalam literatur Afrika modern. Satu
contoh dikemukakan di sini, sekalipun tujuannya bukan untuk menimbulkan kesan
bahwa contoh itu berlaku untuk semua penginjil dan misionaris. Penulis bangsa
Kamerun, Beti Mongo, menggambarkan dalam karyanya Kristus yang Miskin dari
Bomba, apa yang dialami seorang misionaris pada perjalanan safari selama
empat belas hari. Agaknya hal itu diceritakan oleh seorang “pembantu laki-laki
dari misionaris itu, yang beragama Katolik yang setia”. Tokoh sentral dalam
cerita itu adalah Pater Drummond, yang sudah tinggal dan bekerja di Kamerun
kurang lebih 20 tahun. Lama kelamaan ternyata misionaris itu menemui jalan
buntu dalam pekerjaannya dan ia mulai meragukan tujuan misinya. Akhirnya ia
kembali ke Perancis. Dan orang bertanya:
“Untuk apa ia kembali
lagi kepada kita?” Hampir tidak ada kasih sedikitpun antara dia dan kami,
karena kami merasa dia lain daripada kami, karena dia bukan salah satu dari
kami.”
No comments:
Post a Comment