Monday, August 12, 2019

RENUNGAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI, YESUS BAGI PERBUDAKAN BANGSA HITAM 2

Keterangan foto tidak tersedia.

Kedatangan Yesus Kristus di Afrika
Yesus sudah berada di Afrika sebelum ada agama Kristen. Bukankah Keluarga Suci itu mengungsi ke Mesir dan menurut cerita yang diturunkan, mereka tinggal selama enam bulan di sana. Sampai sekarang di Mesir orang dapat menunjukkan tempat mereka pernah tinggal. Orang Etiopia dalam Kisah Para Rasul 8, yang dibaptis oleh penginjil Filipus, kemungkinan seorang bangsa Afrika yang berasal dari KeiAjaan Meroa. Asal-mula berdirinya gereja di Mesir dianggap basil karya Markus, yang digantikan oleh pemimpin tertinggi Gereja Kopti. Oleh usaha dua saudara kandung, Frumentius dan Aedesius dari Tyrus di Libanon, yang kapalnya karam di Laut Merah, agama Kristen masuk Etiopia. Atas prakarsa Frumentius gereja ini bergabung dengan Gereja Kopti di Mesir. Dalam abad ke-6 agama Kristen menyebar ke Nubia.
Dengan berdirinya dan tersebarnya agama Islam pada per­mulaan abad ke-7 terjadi pula kemunduran dalam agama Kristen. Sampai tahap tertentu agama Islam merintangi pengembangan agama Kristen. Campur tangan bangsa Eropa sewaktu Perang Salib, ketika orang Nubia bersekutu dengan orang Kristen “Barat”, mengakibatkan kekacauan yang tidak teratasi dalam agama Kristen Nubia. Akibatnya agama itu akhirnya menjadi korban dari agresi pihak Islam.”
Di Afrika Utara bagian Barat, daerah di mana sekali waktu terdapat gereja-gereja yang didirikan oleh Tertulianus, Cyprianus dan Augustinus, kemunduran gereja telah terjadi sebelum penyebaran agama Islam. Pada waktu Afrika Utara melepaskan warna “latinnya”, ia boleh dikatakan juga melepaskan Kekristenan­nya. Artinya, sejak saat itu tidak ada gereja pribumi lagi di situ. Namun pihak orang-orang Afrika kini mengemukakan, bahwa tokoh seperti Cyprianus adalah sangat aktual pada diskusi teologis yang kini teijadi di Afrika.
Agama Kristen diperkenalkan kembali kepada Afrika, ketika lalu lintas perdagangan dimulai. Orang Portugis mulai merintisnya. Pada umumnya ekspedisi misi pada tahun 1490 dianggap sebagai angkatan pertama para misionaris yang berhasil di Kongo. Pada tahun 1491 raja dan ratu dibaptis, mereka diberi nama dari raja dan ratu Portugal, yakni Joan dan Eleonara. Anak mereka, Muemba Nzinga mulai saat itu diberi nama baptis Don Alfonso dan mulai tahun 1507 ia menja& raja Kristen terkemuka di Kongo (meninggal 1534).
Telah dikemukakan lebih dahulu bahwa karena perdagangan budak, penyebaran agama Kristen akhirnya dihalang-halangi sampai abad ke-19. Ketika perbudakan dihapus, orang-orang Arab meneruskannya, terutama perbudakan untuk keperluan rumah tangga. Budak-budak itu dipekerjakan di rumah tangga-rumah tangga atau di balai-balai istri yang terdapat di Mesir, Arab dan Persia. Jumlah budak per tahun diperkirakan sampai empat juta.
Laporan-laporan David Livingstone (meninggal 1874) tentang perjalanan-perjalanannya, menyebabkan perdagangan budak dicemooh di seluruh dunia. Ia ingin merintis jalan bagi “agama Kristen dan perdagangan”, karena menurut dia, hanya hubungan dagang secara teratur dan pengembangan pertanian dapat menga­khiri perdagangan manusia.
Ketika zending (Barat) kembali memusatkan perhatian pada Afrika, kaum Protestan lebih dulu mulai bekerja daripada kaum Katolik. Dalam tahun 1792 kaum Baptislah yang lebih dahulu mulai bekerja di Afrika di antara kaum Protestan. Kaum Katolik menyusul kemudian. Sejak tahun 1868 peranan penting dimainkan “Imam-imam Putih” di bawah pimpinan Kardinal Lavigerie.
Penyebaran agama Kristen secara massal di sebelah selatan Sahara baru dimulai pada abad ke-19, yang secara khusus disebut abad zending. Sampai saat ini penyebaran itu dilanjutkan, sehingga diperkirakan bahwa pada akhir abad ini, gereja-gereja Afrika akan melebihi gereja-gereja di Eropa dalam jumlah angka.
Para penyebar Injil yang pergi ke Afrika menetap baik di pesisir maupun di pedalaman. Mereka membentuk kelompok­kelompok kecil sekeliling mereka. Kelompok-kelompok itu sering terdiri dari budak-budak yang dibebaskan oleh mereka dan yang menjadi orang-orang pertama yang bertobat. Ada pendapat bahwa kita harus membedakan penginjil dari periode awal sebelum tahun 1884 - jadi mereka seperti Livingstone - dari penginjil setelah tahun 1885. Pada tahun itu berlangsung Kongres Berlin, di mana Afrika dibagi-bagikan antara negara-negara Eropa, yakni di-”scramble” atau diperebutkan.
Penginjil-penginjil yang pertama datang pada umumnya orang terpeNar, belajar menguasai bahasa dan kebiasaan dari negeri­negeri yang bersangkutan. Sedangkan penginjil-penginjil dalam tahap kemudian kebanyakan tinggal jauh dari orang-orang Afrika, hidup menurut cara Barat dengan menggunakan bahan dan barang impor, tinggal di suatu halaman tertutup (compound), sering harus dibantu oleh seorang peneijemah dan selalu dapat minta bantuan dan perlindungan dari penguasa-penguasa kolonia1.
Peranan para penginjil dan para misionaris yang belakangan datang, sering dirasa asing sekali oleh orang-orang Afrika. Hal itu disebabkan oleh banyaknya di antara penginjil tersebut mem­beritakan Injil tetapi tidak mengindahkan kebudayaan serta latar belakang keagamaan orang-orang Afrika itu sendiri. Bagaimana caranya hal itu berlangsung, diungkapkan dan dicemooh dalam literatur Afrika modern. Satu contoh dikemukakan di sini, sekalipun tujuannya bukan untuk menimbulkan kesan bahwa contoh itu berlaku untuk semua penginjil dan misionaris. Penulis bangsa Kamerun, Beti Mongo, menggambarkan dalam karyanya Kristus yang Miskin dari Bomba, apa yang dialami seorang misionaris pada perjalanan safari selama empat belas hari. Agaknya hal itu diceritakan oleh seorang “pembantu laki-laki dari misionaris itu, yang beragama Katolik yang setia”. Tokoh sentral dalam cerita itu adalah Pater Drummond, yang sudah tinggal dan bekerja di Kamerun kurang lebih 20 tahun. Lama kelamaan ternyata misionaris itu menemui jalan buntu dalam pekerjaannya dan ia mulai meragukan tujuan misinya. Akhirnya ia kembali ke Perancis. Dan orang bertanya:

“Untuk apa ia kembali lagi kepada kita?” Hampir tidak ada kasih sedikitpun antara dia dan kami, karena kami merasa dia lain daripada kami, karena dia bukan salah satu dari kami.”

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...