
Yesus
dalam apa yang disebut “Gereja-gereja Mandiri”
Gereja-gereja yang lahir
dari pekerjaan zending sering menolak adat-istiadat Afrika. Oleh karena itu di
beberapa bagian di Afrika lahirlah apa yang disebut “Gereja-gereja independen”
atau “Gerejagereja mandiri”. Nama ini sebenarnya tidak dipakai oleh orangorang
Afrika sendiri. Yang dimaksudkan dengan independen atau mandiri ialah keinginan
mereka untuk melepaskan diri dari apa yang disebut Gereja-gereja Zending.
Menurut perkiraan orang, ada kurang lebih 7.000 Gereja mandiri di Afrika saat
ini.
Di Afrika Selatan saja
sudah ada 3.000. Diperkirakan kurang lebih 25% dari seluruh kaum Kristen Afrika
adalah anggotanya. Jumlah pengikut dari gereja-gereja mandiri masing-masing
berkisar antara beberapa orang saja dan ribuan, ya bahkan jutaan orang. Salah satu
gereja mandiri yang terbesar adalah Gereja Kimbangu di Zaire. Simon Kimbangu,
orang Afrika dari “Kongo Belgia”, mempunyai latar belakang Baptis. Pada tahun
1921 ia merasa suara Kristus memanggilnya. Setelah ia tampil di depan umum
selama beberapa bulan, is dipenjara oleh penguasa Belgic. Ia tetap dipenjara
selama tiga puluh tahun (!) sampai ia meninggal pada tahun 1951.
Sekarang “Gereja Yesus
Kristus di dunia yang didirikan Nabi Simon Kimbangu” salah satu gereja yang
terbesar di Zaire. Jumlah anggotanya diperkirakan 5 juta. Kini anaknya Joseph
Diangienda memimpin gereja itu. Pada tahun 1969 gereja itu menjadi anggota
Dewan Gereja-gereja se-Dunia.
Gereja-gereja mandiri
dapat dikelompokkan dengan berbagaibagai ragam. Yang paling dikenal adalah
pembagian atas gereja gaya Etiopia dan gereja gaya “rohani atau kenabian”. Yang
dimaksudkan dengan nama pertama ialah sifat yang khas Afrika, untuk
menitikberatkan asal-usul agama Kristen Afrika, sebelum dipengaruhi oleh
zending. Dalam hubungan ini orang suka mengutip bagian Kitab Suci di mana
negeri Etiopia disebut, misalnya: “Orang-orang akan mengulurkan tangan kepada
Etiopia” (Mzm 68:32). Cara hidup berjemaat dan ajaran gereja-gereja gaya
Etiopia tidak berbeda jauh dari Gereja-gereja Zending. Yang dipentingkan di sini
adalah kepemimpinan bangsa Afrika. Dalam gereja-gereja gaya “rohani”
dititikberatkan pada “roh”, yaitu sifat kenabian. Mereka adalah persekutuan
orang-orang percaya, seperti jemaat-jemaat Kristus pertama dan mereka mempunyai
suatu pusat, yang mereka sebut Sion, yang adalah perwujudan sebagian dari
Kerajaan Allah di dunia.”
“Aku
orang Afrika”
Oleh karena agama Kristen
dibawa ke Afrika dalam berbagai tahap, maka bukan hanya satu gambar dari
Kristus dikenal di sana. “Kristus orang-orang Portugis” lain dengan Kristus,
yang - katakanlah - terdampar bersama Aedesius dan Frumentius di Etiopia.
Pandangan Kristen Afrika
masa kini terhadap Yesus Kristus, sekarang telah merdeka dan berlawanan dengan
Kristus “kulit putih” yang dibawa kepadanya. Ini adalah kemajaun iman di mana
Kristus diterima sebagai keutuhan Pribadi yang menyatu dengan keadaan sosial
dan budaya bangsa. Di sini nyata kekhasan respons orang Afrika terhadap Yesus
Kristus. Perhatikan baik-baik penggalan sajak tentang penerimaan Yesus dan
pembauran Yesus dengan bangsa Afrika di bawah ini yang dibuat oleh para
penginjil di sana dalam pewahyuan Roh.
Mereka memanggil aku orang Afrika:
Memang aku orang Afrika;
Putra yang gagah dari negeri Afrika,
Hitam seperti ayahku,
dan kakekku sebelum ayahku;
Seperti ibuku, saudara dan saudariku
Baik yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal dunia ini.
Mereka bertanya apa yang aku yakini - apa
kepercayaanku
Sebagian malah mengira aku tak punya agama.
Melainkan hidup seperti binatang liar di padang
rumput.
“Bagaimana dengan Allah,
Sang Pencipta
Yang Dinyatakan kepada umat manusia melalui orang
Yahudi
di masa lampau:
YEHOVAH: ARTINYA AKU ADALAH
Yang ada di masa lampau dan kekal selamanya?
Apakah engkau mengakui Dia?”
Nenek moyangku dan nenek moyang mereka,
dan generasi-generasi sebelum mereka mengenal Dia
Mereka berlutut menyembah Dia
Namun demikian Dia Esa dan satu-satunya Allah
Mereka menyebut Dia
UVELINGAKI:
Yang Pertama
yang datang sebelum yang lainnya ada
UNKULUNKULU:
Yang Maha Besar, Besar Sekali
Begitu besar,
sehingga tidak ada ruangan yang dapat memuat Dia
MODIMO:
Karena Ia tinggal jauh di surga
Mereka juga mengenal Dia sebagai MODIRI
Karena Ia telah menciptakan semuanya
Dan LESA
Roh, yang tanpa itu nafas manusia tak mungkin ada.
“Katakan selanjutnya, engkau orang Afrika:
Bagaimana kepercayaanmu terhadap Yesus Kristus,
yang lahir di Betlehem:
Anak Manusia, Anak Allah
Percayakah engkau kepada-Nya?”
Menurut Gabriel
Setiloane, tugas teologi Afrika adalah menggumuli secara serius masalah
kristologi, yakni “Siapakah Yesus itu?” Bagaimana Ia dapat menjadi penjelmaan
manusiawi yang tertinggi dari ke-Allah-an, Mesias dari kaum Yahudi, Kristus
dari kaum Kristen helenis? Apa artinya Mesias atau Kristus dalam konteks
Afrika? Menurut Setiloane, suatu kristologi Afrika yang berlaku sah dapat
ditemukan dalam hu.)ungan dengan Bangaka Afrika dan
pribadi-pribadi yang kemasuk an ilahi. Istilah Bangaka menunjuk kepada
dukun Afrika tradisimal, sering diberi nama ejekan “dukun sihir” atau jujuman.
Hasting berpendapat,
bahwa sekalipun ada usaha keras untuk menjurus pada konteks Afrika, namun
anehnya para teolog Afrika seperti Mbiti, Nyamiti, Idowu, Fashole-Luke,
Tshibangu dan Agosson, dalam bahasa dan metodik tetap dipengaruhi oleh Eropa
dan pusat-pusat akademis di mana mereka beNar.” Berlawanan dengan itu is
menunjuk kepada teologi gereja-gereja mandiri. Yang terakhir ini, menurut
keyakinan M.L. Daneel, mengembangkan suatu kristologi yang sangat berarti.
“Pengalaman mereka mengenai Kristus dalam kehidupan gerejawi yang kaya upacara
dan persepsi mereka akan kehadiran-Nya, adalah kunci untuk memahami
kristologi. Sekalipun sering masih samar-samar dan kurang tepat dilafalkan,
namun kristologi itu diandaikan asli.”24 Gerejagereja mandiri
memiliki suatu “teologi lisan”, artinya “bukan rumusan, melainkan gambaran;
bukan keterangan, melainkan cerita; bukan kitab, melainkan manusia; bukan pokok-pokok
dogmatik, melainkan nyanyian yang merupakan pusat perhatian”.
“Kemandirian” ini telah
nyata dalam gereja sebelum abad ke-19,
yang didirikan seorang gadis yang bernama Vita Kempa. Dalam gereja itu Kristus
“hitam” menjadi pusat; Ia membela orang-orang Afrika yang tertindas. Dalam
tahun 1706 Vita Kempa dibakar di Kongo.
Orang
mengatakan bahwa Nabi Shembe adalah penyataan din dari Yehovah di antara orang
Zulu, sama seperti Yesus di antara orang Yahudi. Shembe ini, di samping
dinyatakan sebagai mesias orang Zulu, juga dilihat sebagai orang yang akan
menghidupkan kejayaan Kerajaan Zulu semula. Anaknya yang juga penggantinya,
Galilee Shembe, memang menetapkan Kristus sebagai pusat gereja, namun dalam
liturgi dan lagu-lagu gereja Shembe-lah dan bukan Kristus yang menjadi tokoh
utama.
Tentu
pertanyaan yang timbul dalam hubungan ini ialah, apakah dalam gereja-gereja
mandiri masa kini tidak ada di antara pendiri atau pemimpin gereja yang
merampas kedudukan Yesus. Itu diperkirakan terjadi pada tokoh-tokoh seperti
Shembe. Kini pada umumnya disimpulkan bahwa yang disebut mesias-mesias hitam
itu tidak mengurangi kedudukan Kristus dari Alkitab, tetapi melukiskan
kehidupan-Nya dengan cara tertentu.27 Maka adalah lebih tepat jika
misalnya Simon Kimbangu, dibandingkan dengan Simon dari Kirene, yang membantu
Kristus memikul salib menuju ke tempat penyaliban. Atau perlu melihat Shembe
berperan sebagai topeng dari mesias hitam, agar mesias itu dapat dikenal oleh
orang-orang Zulu.
No comments:
Post a Comment