Monday, August 12, 2019

YESUS KRISTUS BAGI GEREJA DI AFRIKA


Yesus dalam apa yang disebut “Gereja-gereja Mandiri”
Gereja-gereja yang lahir dari pekerjaan zending sering menolak adat-istiadat Afrika. Oleh karena itu di beberapa bagian di Afrika lahirlah apa yang disebut “Gereja-gereja independen” atau “Gereja­gereja mandiri”. Nama ini sebenarnya tidak dipakai oleh orang­orang Afrika sendiri. Yang dimaksudkan dengan independen atau mandiri ialah keinginan mereka untuk melepaskan diri dari apa yang disebut Gereja-gereja Zending. Menurut perkiraan orang, ada kurang lebih 7.000 Gereja mandiri di Afrika saat ini.
Di Afrika Selatan saja sudah ada 3.000. Diperkirakan kurang lebih 25% dari seluruh kaum Kristen Afrika adalah anggotanya. Jumlah pengikut dari gereja-gereja mandiri masing-masing berkisar antara beberapa orang saja dan ribuan, ya bahkan jutaan orang. Salah satu gereja mandiri yang terbesar adalah Gereja Kimbangu di Zaire. Simon Kimbangu, orang Afrika dari “Kongo Belgia”, mempunyai latar belakang Baptis. Pada tahun 1921 ia merasa suara Kristus memanggilnya. Setelah ia tampil di depan umum selama beberapa bulan, is dipenjara oleh penguasa Belgic. Ia tetap dipenjara selama tiga puluh tahun (!) sampai ia meninggal pada tahun 1951.
Sekarang “Gereja Yesus Kristus di dunia yang didirikan Nabi Simon Kimbangu” salah satu gereja yang terbesar di Zaire. Jumlah anggotanya diperkirakan 5 juta. Kini anaknya Joseph Diangienda memimpin gereja itu. Pada tahun 1969 gereja itu menjadi anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia.
Gereja-gereja mandiri dapat dikelompokkan dengan berbagai­bagai ragam. Yang paling dikenal adalah pembagian atas gereja gaya Etiopia dan gereja gaya “rohani atau kenabian”. Yang dimaksudkan dengan nama pertama ialah sifat yang khas Afrika, untuk menitikberatkan asal-usul agama Kristen Afrika, sebelum dipengaruhi oleh zending. Dalam hubungan ini orang suka mengutip bagian Kitab Suci di mana negeri Etiopia disebut, misalnya: “Orang-orang akan mengulurkan tangan kepada Etiopia” (Mzm 68:32). Cara hidup berjemaat dan ajaran gereja-gereja gaya Etiopia tidak berbeda jauh dari Gereja-gereja Zending. Yang dipentingkan di sini adalah kepemimpinan bangsa Afrika. Dalam gereja-gereja gaya “rohani” dititikberatkan pada “roh”, yaitu sifat kenabian. Mereka adalah persekutuan orang-orang percaya, seperti jemaat-jemaat Kristus pertama dan mereka mempunyai suatu pusat, yang mereka sebut Sion, yang adalah perwujudan sebagian dari Kerajaan Allah di dunia.”

“Aku orang Afrika”
Oleh karena agama Kristen dibawa ke Afrika dalam berbagai tahap, maka bukan hanya satu gambar dari Kristus dikenal di sana. “Kristus orang-orang Portugis” lain dengan Kristus, yang - katakanlah - terdampar bersama Aedesius dan Frumentius di Etiopia.
Pandangan Kristen Afrika masa kini terhadap Yesus Kristus, sekarang telah merdeka dan berlawanan dengan Kristus “kulit putih” yang dibawa kepadanya. Ini adalah kemajaun iman di mana Kristus diterima sebagai keutuhan Pribadi yang menyatu dengan keadaan sosial dan budaya bangsa. Di sini nyata kekhasan respons orang Afrika terhadap Yesus Kristus. Perhatikan baik-baik penggalan sajak tentang penerimaan Yesus dan pembauran Yesus dengan bangsa Afrika di bawah ini yang dibuat oleh para penginjil di sana dalam pewahyuan Roh.
Mereka memanggil aku orang Afrika:
Memang aku orang Afrika;
Putra yang gagah dari negeri Afrika,
Hitam seperti ayahku,
dan kakekku sebelum ayahku;
Seperti ibuku, saudara dan saudariku
Baik yang masih hidup
maupun yang sudah meninggal dunia ini.
Mereka bertanya apa yang aku yakini - apa kepercayaanku
Sebagian malah mengira aku tak punya agama.
Melainkan hidup seperti binatang liar di padang rumput.
“Bagaimana dengan Allah,
Sang Pencipta
Yang Dinyatakan kepada umat manusia melalui orang Yahudi
di masa lampau:
YEHOVAH: ARTINYA AKU ADALAH
Yang ada di masa lampau dan kekal selamanya?
Apakah engkau mengakui Dia?”
Nenek moyangku dan nenek moyang mereka,
dan generasi-generasi sebelum mereka mengenal Dia
Mereka berlutut menyembah Dia
Namun demikian Dia Esa dan satu-satunya Allah
Mereka menyebut Dia
UVELINGAKI:
Yang Pertama
yang datang sebelum yang lainnya ada
UNKULUNKULU:
Yang Maha Besar, Besar Sekali
Begitu besar,
sehingga tidak ada ruangan yang dapat memuat Dia
MODIMO:
Karena Ia tinggal jauh di surga
Mereka juga mengenal Dia sebagai MODIRI
Karena Ia telah menciptakan semuanya
Dan  LESA
Roh, yang tanpa itu nafas manusia tak mungkin ada.
“Katakan selanjutnya, engkau orang Afrika:
Bagaimana kepercayaanmu terhadap Yesus Kristus,
yang lahir di Betlehem:
Anak Manusia, Anak Allah
Percayakah engkau kepada-Nya?”

Menurut Gabriel Setiloane, tugas teologi Afrika adalah menggumuli secara serius masalah kristologi, yakni “Siapakah Yesus itu?” Bagaimana Ia dapat menjadi penjelmaan manusiawi yang tertinggi dari ke-Allah-an, Mesias dari kaum Yahudi, Kristus dari kaum Kristen helenis? Apa artinya Mesias atau Kristus dalam konteks Afrika? Menurut Setiloane, suatu kristologi Afrika yang berlaku sah dapat ditemukan dalam hu.)ungan dengan Bangaka Afrika dan pribadi-pribadi yang kemasuk an ilahi. Istilah Bangaka menunjuk kepada dukun Afrika tradisimal, sering diberi nama ejekan “dukun sihir” atau jujuman.
Hasting berpendapat, bahwa sekalipun ada usaha keras untuk menjurus pada konteks Afrika, namun anehnya para teolog Afrika seperti Mbiti, Nyamiti, Idowu, Fashole-Luke, Tshibangu dan Agosson, dalam bahasa dan metodik tetap dipengaruhi oleh Eropa dan pusat-pusat akademis di mana mereka beNar.” Berlawanan dengan itu is menunjuk kepada teologi gereja-gereja mandiri. Yang terakhir ini, menurut keyakinan M.L. Daneel, mengembangkan suatu kristologi yang sangat berarti. “Pengalaman mereka me­ngenai Kristus dalam kehidupan gerejawi yang kaya upacara dan persepsi mereka akan kehadiran-Nya, adalah kunci untuk memaha­mi kristologi. Sekalipun sering masih samar-samar dan kurang tepat dilafalkan, namun kristologi itu diandaikan asli.”24 Gereja­gereja mandiri memiliki suatu “teologi lisan”, artinya “bukan rumusan, melainkan gambaran; bukan keterangan, melainkan cerita; bukan kitab, melainkan manusia; bukan pokok-pokok dogmatik, melainkan nyanyian yang merupakan pusat perhatian”.
“Kemandirian” ini telah nyata dalam gereja sebelum abad ke-19, yang didirikan seorang gadis yang bernama Vita Kempa. Dalam gereja itu Kristus “hitam” menjadi pusat; Ia membela orang-orang Afrika yang tertindas. Dalam tahun 1706 Vita Kempa dibakar di Kongo.
Orang mengatakan bahwa Nabi Shembe adalah penyataan din dari Yehovah di antara orang Zulu, sama seperti Yesus di antara orang Yahudi. Shembe ini, di samping dinyatakan sebagai mesias orang Zulu, juga dilihat sebagai orang yang akan menghidupkan kejayaan Kerajaan Zulu semula. Anaknya yang juga penggantinya, Galilee Shembe, memang menetapkan Kristus sebagai pusat gereja, namun dalam liturgi dan lagu-lagu gereja Shembe-lah dan bukan Kristus yang menjadi tokoh utama.

Tentu pertanyaan yang timbul dalam hubungan ini ialah, apakah dalam gereja-gereja mandiri masa kini tidak ada di antara pendiri atau pemimpin gereja yang merampas kedudukan Yesus. Itu diperkirakan terjadi pada tokoh-tokoh seperti Shembe. Kini pada umumnya disimpulkan bahwa yang disebut mesias-mesias hitam itu tidak mengurangi kedudukan Kristus dari Alkitab, tetapi melukiskan kehidupan-Nya dengan cara tertentu.27 Maka adalah lebih tepat jika misalnya Simon Kimbangu, dibandingkan dengan Simon dari Kirene, yang membantu Kristus memikul salib menuju ke tempat penyaliban. Atau perlu melihat Shembe berperan sebagai topeng dari mesias hitam, agar mesias itu dapat dikenal oleh orang-orang Zulu.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...