Melindungi
diri dari pengaruh lingkungan yang asing tidak berarti menolak pengaruh
tersebut. Agama suku bersifat menerima dan menyesuaikan, sebaliknya masyarakat
dapat mengambil unsur-unsur agama suku.
Beberapa
sikap agama suku:
Kontradiktif
àagama
suku menolak (menyendiri) agama lain karena agama lain itu tidak benar, tidak
tepat, tidak baik, dan tidak bisa diterima di lingkungan komunitas agama suku
itu.
àmempertahankan
diri.
Submisif
àagama
suku menerima, tunduk, mengalah terhadap agama lain, mau berada dibawah
dominasi kekuasaan pihak agama lain.
àmereka
merasa lebih aman memeluk agama sendiri daripada menundukkan agama lain/ mereka
menganut agama lain.
Kompromis
àagama
suku menerima, menghargai status, keberadaan, orang, dan kualitas agama lain.
àagama
lain boleh hidup, tetapi agama sendiri juga harus boleh hidup.
àbisa
menjadi satu, bisa juga terpisah dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut:
-
Menerima ajaran-ajaran/ dogma dari agama baru
-
Upacara-upacara keagamaan (agama baru dan agama sendiri).
Adaptif/ Akomodatif
àmenyesuaikan
diri
àmendorong
kearah usaha untuk akulturasi/ inkulturasi/ kontekstualisasi.
SinkretismeàSinkretisasi=ditakuti
orang
Sikap
Kompromis dan Adaptif/ Akomodatif merupakan sikap yang paling berlaku di
Indonesia. Hasilnya adalah penyempurnaan paham dan praktek keagamaan yang
dianut dan juga yang ada lainnya.
Suku baduiàmembatasi
diri terhadap masyarakat (eksklusif).

No comments:
Post a Comment