”Dan Aku menguduskan diriKu bagi
mereka,supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17:19
Penggalan ayat itu adalah bagian dari doa
Yesus bagi murid-muridNya dan semua kita yang percaya kepadaNya.di ayat
sebelumnya yaitu ayat 17 berbunyi permintaan Yesus yaitu agar kita dikuduskan
Allah dalam kebenaran,yaitu FirmanNya yang adalah kebenaranNya.Yohanes pasal 1
sudah menjelaskan bahwa Firman itu sudah datang dan kebenaran itu sudah
datang.Firman dan kebenaran itu adalah Kristus.Dia ada dalam kita yang di
kuduskanNya,menjadi kudus agar layak menjadi milik kepunyaan Allah.Tidak ada
satupun manusia yang bisa menjadi milik Allah jikalau tidak kudus,dan tidak ada
satupun manusia yang bisa menjadi kudus dengan usaha sendiri setaat apapun
itu.Karena itu Yesus datang hingga oleh kekudusanNya kita dikuduskan dalam
kasih karunia dan pembenaran.Bukan oleh kita,tapi oleh Dia.
Itulah sebabnya Paulus berkali-kali
menyebut dirinya dan umat Kristen sebagai orang-orang kudus dalam
surat-suratnya,(Roma 1:1,1 Korintus 1:2,Kolose 3:12).Kita adalah orang-orang
kudus yang dikuduskan Allah,kita bukan menguduskan diri tapi dikuduskan oleh
Allah dalam Kristus hingga kita beroleh kelayakkan menjadi anak-anakNya dan
diterimaNya,(1 Korintus 6:11,Ibrani 2:11).Amat disayangkan banyak dari kita
yang masih belum yakin dengan kekudusannya hingga memandang kekudusan dari
sudut pandang manusia dan bukan dari pihak Allah.Mereka berpegang bahwa
kekudusan adalah usaha manusia dan bukanlah pemberian dalam kasih karunia Allah
hingga meski sudah di dalam kekudusan mereka terus menuduh dirinya dalam
kebodohan makna duniawi.Kita sesungguhnya umat yang kudus,imamat yang rajani di
dalam Kristus.Kita berbuat baik karena kita berada dalam kekudusan.kita bukan
berbuat baik untuk menguduskan diri atau mengejar kekudusan tapi karena kita
justru sudah dikuduskan Allah.Kristuslah kekudusan kita dan pengudusan
kita,bukan diri kita sendiri ataupun usaha kita semata.
Banyak orang menilai kekudusan sebatas
sikap yang lekat agamawi,baik dalam hal puasa atau ibadah. Padahal kekudusan
berintikan pada tinggalnya kita di dalam Kristus sebagai kekudusan kita di
hadapan Allah.Dalam hal ini maka keutuhan hidup kita dalam apapun yang kita
kerjakan menjadi ibadah yang kudus di hadapan Allah.Tak ada manusia yang
sempurna luput dari kesalahan. Ketika berbuat salah manusia cenderung menilai
bahwa dia sudah tidak kudus atau berkurang kudus. Padahal di luar Kristus pun
tidak usah tunggu harus nyata berbuat dosa sebenarnya kita sudah cemar. Sebab
dosa bukan pada perbuatan tapi inti keinginan, sifat, dan kehendak yang ada di
dalam semua orang. Jika kita berbuat salah tapi menyerahkannya di dalam Kristus
yang membersihkan segala kecemaran dan melepaskan dari segala yang jahat maka
itu adalah bukti kekudusan kita oleh karena Dia. Masalah tetap ada, sikap kita
sering terpengaruh situasi, tapi itu bukanlah senjata hebat dari iblis untuk
menipu kita hingga kita merasa jauh dari kekudusan. Justru di saat itulah kita
membutuhkan kekudusan, dan menyatakan bahwa kita memiliki kekudusan yang selalu
menguduskan kita. Pengudusan yang benar dari Allah tidaklah sama dengan
pengudusan yang selalu dimaknai secara dunia. Makna dunia cenderung menempatkan
pemahaman bahwa pengudusan jika berbuat salah berarti melegalkan kesalahan dan
bebas berbuat salah. Kasihan sekali banyak orang Kristen turut berpikiran
seperti ini. Dituduh oleh tuntutan hukum dosanya sendiri. Padahal pengudusan
Allah adalah pengajaranNya, penuntunanNya, dan penguasaanNya yang akan
membebaskan kita dari kesalahan itu. Pengudusan Allah adalah pengudusan yang
benar, yang utuh dalam kebenaran.
Oleh Kristus kita semakin masuk dalam
kekudusan Allah dari hari ke hari.Masalah, cobaan, godaan,tantangan, jatuh
bangunnya perjalanan hidup kita itu semua menjadi jalan Allah bagi kita agar
kita tetap tinggal dan makin mengenal Dia dalam kekudusanNya. Sebaliknya iblis
berusaha menjadikan segala realita hidup kita untuk kita tertipu dan masuk
dalam kecemarannya yang sebenarnya sudah tidak memiliki kuasa lagi untuk
menarik kita. Di mana kita akan tinggal saat hadapi badai hidup ini? Dalam
kekudusan Allah yang tidak menuduh kita atau di dalam kecemaran iblis yang
sifatnya penuh tuduhan? Allah sifatNya bukan menuduh,tapi menyatakan dan
memberitahu kesalahan.Bukan untuk menekan kita tapi untuk menunjukkan situasi
diri kita agar kita sadar dan melekat kepadaNya hingga belajar dari hari ke
hari menikmati Dia sebagai Pengajar dalam hidup kita.
Roh kudus yang tinggal di dalam kita dan
menjadi jaminan bagi kita adalah kekudusan kita sebagai anak-anak Allah.Roh
Kudus yang tinggal di dalam kita dan dikaruniakan kepada kita,menjadi kekudusan
kita agar kita bisa berhubungan langsung dengan Bapa yang kudus itu,baik saat
kita kuat atau lemah dan saat kita merasa kudus atau tidak kudus karena jatuh
dalam dosa.Oleh Roh kudus itulah kita bisa selalu berhubungan dengan Bapa dalam
segala hal dan situasi yang kita alami.Oleh Dia kita bisa terus mengenal Allah
dalam kekudusanNya.Ada banyak usaha spiritual dari berbagai orang untuk bisa
kudus dan berkenan bagi Allah,ada yang berpuasa,beramal,berdoa amat lama,sampai
bertapa.Sia-sia adanya semua usaha itu jika tanpa Kristus.Bahkan alkitab
menulis segenap usaha penyangkalan diri itu adalah bentuk hawa nafsu,(Kolose
2:23).Kekudusan hanya ada di dalam Yesus dan diterima secara cuma-cuma di dalam
Yesus,sebab tak ada satupun manusia dengan usaha apapun yang bisa mendapatkan
kekudusan hidup,tidak ada yang benar seorangpun tidak (Roma 3:10).Kristuslah
jalan,kebenaran,dan hidup kita.Dialah kekudusan kita.
No comments:
Post a Comment