Wednesday, May 15, 2019

Dikuduskan oleh Allah

”Dan Aku menguduskan diriKu bagi mereka,supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.”
Yohanes 17:19

     Penggalan ayat itu adalah bagian dari doa Yesus bagi murid-muridNya dan semua kita yang percaya kepadaNya.di ayat sebelumnya yaitu ayat 17 berbunyi permintaan Yesus yaitu agar kita dikuduskan Allah dalam kebenaran,yaitu FirmanNya yang adalah kebenaranNya.Yohanes pasal 1 sudah menjelaskan bahwa Firman itu sudah datang dan kebenaran itu sudah datang.Firman dan kebenaran itu adalah Kristus.Dia ada dalam kita yang di kuduskanNya,menjadi kudus agar layak menjadi milik kepunyaan Allah.Tidak ada satupun manusia yang bisa menjadi milik Allah jikalau tidak kudus,dan tidak ada satupun manusia yang bisa menjadi kudus dengan usaha sendiri setaat apapun itu.Karena itu Yesus datang hingga oleh kekudusanNya kita dikuduskan dalam kasih karunia dan pembenaran.Bukan oleh kita,tapi oleh Dia.
     Itulah sebabnya Paulus berkali-kali menyebut dirinya dan umat Kristen sebagai orang-orang kudus dalam surat-suratnya,(Roma 1:1,1 Korintus 1:2,Kolose 3:12).Kita adalah orang-orang kudus yang dikuduskan Allah,kita bukan menguduskan diri tapi dikuduskan oleh Allah dalam Kristus hingga kita beroleh kelayakkan menjadi anak-anakNya dan diterimaNya,(1 Korintus 6:11,Ibrani 2:11).Amat disayangkan banyak dari kita yang masih belum yakin dengan kekudusannya hingga memandang kekudusan dari sudut pandang manusia dan bukan dari pihak Allah.Mereka berpegang bahwa kekudusan adalah usaha manusia dan bukanlah pemberian dalam kasih karunia Allah hingga meski sudah di dalam kekudusan mereka terus menuduh dirinya dalam kebodohan makna duniawi.Kita sesungguhnya umat yang kudus,imamat yang rajani di dalam Kristus.Kita berbuat baik karena kita berada dalam kekudusan.kita bukan berbuat baik untuk menguduskan diri atau mengejar kekudusan tapi karena kita justru sudah dikuduskan Allah.Kristuslah kekudusan kita dan pengudusan kita,bukan diri kita sendiri ataupun usaha kita semata.
     Banyak orang menilai kekudusan sebatas sikap yang lekat agamawi,baik dalam hal puasa atau ibadah. Padahal kekudusan berintikan pada tinggalnya kita di dalam Kristus sebagai kekudusan kita di hadapan Allah.Dalam hal ini maka keutuhan hidup kita dalam apapun yang kita kerjakan menjadi ibadah yang kudus di hadapan Allah.Tak ada manusia yang sempurna luput dari kesalahan. Ketika berbuat salah manusia cenderung menilai bahwa dia sudah tidak kudus atau berkurang kudus. Padahal di luar Kristus pun tidak usah tunggu harus nyata berbuat dosa sebenarnya kita sudah cemar. Sebab dosa bukan pada perbuatan tapi inti keinginan, sifat, dan kehendak yang ada di dalam semua orang. Jika kita berbuat salah tapi menyerahkannya di dalam Kristus yang membersihkan segala kecemaran dan melepaskan dari segala yang jahat maka itu adalah bukti kekudusan kita oleh karena Dia. Masalah tetap ada, sikap kita sering terpengaruh situasi, tapi itu bukanlah senjata hebat dari iblis untuk menipu kita hingga kita merasa jauh dari kekudusan. Justru di saat itulah kita membutuhkan kekudusan, dan menyatakan bahwa kita memiliki kekudusan yang selalu menguduskan kita. Pengudusan yang benar dari Allah tidaklah sama dengan pengudusan yang selalu dimaknai secara dunia. Makna dunia cenderung menempatkan pemahaman bahwa pengudusan jika berbuat salah berarti melegalkan kesalahan dan bebas berbuat salah. Kasihan sekali banyak orang Kristen turut berpikiran seperti ini. Dituduh oleh tuntutan hukum dosanya sendiri. Padahal pengudusan Allah adalah pengajaranNya, penuntunanNya, dan penguasaanNya yang akan membebaskan kita dari kesalahan itu. Pengudusan Allah adalah pengudusan yang benar, yang utuh dalam kebenaran.
     Oleh Kristus kita semakin masuk dalam kekudusan Allah dari hari ke hari.Masalah, cobaan, godaan,tantangan, jatuh bangunnya perjalanan hidup kita itu semua menjadi jalan Allah bagi kita agar kita tetap tinggal dan makin mengenal Dia dalam kekudusanNya. Sebaliknya iblis berusaha menjadikan segala realita hidup kita untuk kita tertipu dan masuk dalam kecemarannya yang sebenarnya sudah tidak memiliki kuasa lagi untuk menarik kita. Di mana kita akan tinggal saat hadapi badai hidup ini? Dalam kekudusan Allah yang tidak menuduh kita atau di dalam kecemaran iblis yang sifatnya penuh tuduhan? Allah sifatNya bukan menuduh,tapi menyatakan dan memberitahu kesalahan.Bukan untuk menekan kita tapi untuk menunjukkan situasi diri kita agar kita sadar dan melekat kepadaNya hingga belajar dari hari ke hari menikmati Dia sebagai Pengajar dalam hidup kita.

     Roh kudus yang tinggal di dalam kita dan menjadi jaminan bagi kita adalah kekudusan kita sebagai anak-anak Allah.Roh Kudus yang tinggal di dalam kita dan dikaruniakan kepada kita,menjadi kekudusan kita agar kita bisa berhubungan langsung dengan Bapa yang kudus itu,baik saat kita kuat atau lemah dan saat kita merasa kudus atau tidak kudus karena jatuh dalam dosa.Oleh Roh kudus itulah kita bisa selalu berhubungan dengan Bapa dalam segala hal dan situasi yang kita alami.Oleh Dia kita bisa terus mengenal Allah dalam kekudusanNya.Ada banyak usaha spiritual dari berbagai orang untuk bisa kudus dan berkenan bagi Allah,ada yang berpuasa,beramal,berdoa amat lama,sampai bertapa.Sia-sia adanya semua usaha itu jika tanpa Kristus.Bahkan alkitab menulis segenap usaha penyangkalan diri itu adalah bentuk hawa nafsu,(Kolose 2:23).Kekudusan hanya ada di dalam Yesus dan diterima secara cuma-cuma di dalam Yesus,sebab tak ada satupun manusia dengan usaha apapun yang bisa mendapatkan kekudusan hidup,tidak ada yang benar seorangpun tidak (Roma 3:10).Kristuslah jalan,kebenaran,dan hidup kita.Dialah kekudusan kita.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...