Saturday, May 4, 2019

Tingkat Usia anak dan perkembangannya dalam perspekyif Pendidikan Kristen

          Sebelum saya memberikan contoh sistem pengajaran atau pendidikan yang tepat bagi anak-anak sesuai umur mereka, ada baiknya kita kembali meninjau secara lebih detail tentang tingkat usia anak dan keadaan emosional mereka sesuai tingkat usia tersebut. Adapun tinjauan di bawah ini adalah pembagian tahap usia anak yang dikemukakan oleh R.C Miller seorang theolog yang berpengaruh dalam pendidikan Kristen bagi anak-anak.
1.        Usia 0-15 tahun
a.        Perkembangan jasmani/fisik.
          Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai anak matang secara seksual, kira-kira 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Pertumbuhan selama masa awal kanak-kanak termasuk lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa bayi. Namun boleh dibilang semua anggota-anggota tubuh walaupun masih dalam ukuran kecil sudah ada dan mulai berfungsi. Sedangkan pada masa akhir  kanak-kanak merupakan pertumbuhan yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun sebelum anak secara seksual menjadi matang pada saat mana pertumbuhan berkembang pesat.
b.        Perkembangan kognitif (belajar secara pribadi lewat pengalaman).
          Pada stadium sensomotorik yaitu pada usia 0-18 atau 24 bulan, anak menunjukkan daya intelegensianya yang nampak pada aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Pada usia ini yang berlangsung adalah kegiatan bergaul dengan dunia lingkungan, dengan memakai panca inderanya untuk menangkap segala sesuatu yang bergerak di sekitarnya.
          Pada stadium pra operasional yaitu pada usia 2-7 tahun,anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis. Anak sudah mulai meniru dan dapat dikatakan kalau tahap ini adalah tahap permulaan pemikiran kognitif walaupun belum sistematis dan kurang logis.
          Pada stadium operasional konkrit yaitu pada usia 7-11 tahun, anak mempunyai kapasitas mental untuk mengatur dan menghubungkan pengalaman dalam suatu kesimpulan, memahami pembagian ruang, waktu, membuat kategorisasi, menilai, mengerti hukum sebab-akibat, dan sebagainya. Pada masa ini anak sangat menggemari aturan main yang mengatur kegiatan bersama. Aktivitas logis tertentu dilakukan hanya dalam situasi yang kongkrit.
          Pada tahap operasional formal yaitu pada usia 11-15 tahun, anak memasuki taraf kematangan intelektual di mana ia mampu berpikir jauh melampaui dunia real dan keyakinan sendiri, yakni memasuki dunia abstrak. Inilah awal berpikir hipoteris-dedukatif, yang merupakan cara berpikir ilmiah. Anak mampu memakai pendekatan sistematis untuk memecahkan problema dengan tidak hanya sekedar meniru dari orang lain di sekitarnya.
c.        Perkembangan psikososial.
§  Pada tahap kepercayaan dasar lawan kecurigaan dasar (usia 0-2 tahun), anak masih sangat tergantung dengan pribadi yang mengasuhnya. Dengan kontak terhadap pengasuh utamanya maka bangkitlah rasa kepercayaan anak terhadap orang lain.
§  Pada tahap otonomi lawan rasa malu dan ragu (usia 2-4 tahun), anak mulai mengenal wilayah kekuasaan orang tua terhadap dirinya dan wilayah kepemilikan dia terhadap orang tua. Anak masih ragu-ragu menempatkan diri dalam batasan-batasan wilayah antara dia dengan orang tua.
§  Pada tahap inisiatif lawan rasa bersalah (usia 4-6 tahun), anak dengan kesanggupan inderawi, motorik, dan kognitif yang sudah mulai berkembang telah merasa diri cukup kuat untuk mengusahakan sesuatu, menyelediki, dan mencoba banyak hal termasuk hal-hal yang sebenarnya belum mampu atau belum pantas dia lakukan. Di tahap inilah kepercayaan diri anak dibentuk dengan kuat. Tahap di mana anak rentan dengan masukan-masukan dari luar, apakah itu membangun atau tidak.
§  Pada tahap kerajinan lawan rasa rendah diri (usia 6-11 tahun), anak akan mengembangkan rasa kerajinan, daya konstruksi, dan semangat untuk mendapat pengakuan dari orang lain.
d.        Perkembangan pengambilan keputusan moral.
1.        Tahap pra konvensional (usia 4-10 tahun).
§  Tingkat 1/Orientasi hukuman dan ketakutan.
Tahap ini anak mengetahui hal itu sebuah kebaikan jika tidak menimbulkan kesakitan atau ketakutan.
§  Tingkat 2/Orientasi hukuman dan kepatuhan.
Tahap ini anak menilai perbuatan itu baik jika memuaskan hati. Nilai-nilai hidup dinilai secara fisik dan pragmatis.
2.        Tahap konvensional (usia 10-13 tahun).
§  Tingkat 3/Orientasi relativis instrumental.
Tahap ini anak mengenal perbuatan baik adalah perbuatan yang menyenangkan dan yang dapat diterima oleh orang lain.
§  Tingkat 4/Orientasi hukum dan keadilan.
Anak mengenal perbuatan baik sebagai kewajiban diri sendiri, menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada sebagai yang bernilai dalam dirinya sendiri.
e.        Perkembangan iman.
1.        Tahap kepercayaan elementer awal, (usia 0-3 tahun).
Tahap ini belum ada ciri-ciri iman secara nyata atau jelas lewat ungkapan jasmaniah. Namun tahap ini adalah basis dari perkembangan rasa percaya, berani, harapan, dan kasih untuk menunjang perkembangan emosionalnya di tahap-tahap selanjutnya.
2.        Tahap kepercayaan intuitif-proyektif, (usia 3-7 ahun).
Pada tahap ini anak berada dalam dunia fantasi dan imitasi dari cerita-cerita yang disampaikan oleh orang-orang dewasa yang dekat dengannya.


3.        Tahap kepercayaan mistis-harafiah, (usia 8-11 tahun).
Pada tahap ini anak memasuki taraf di mana ia mengambil alih cerita-cerita, kepercayaan serta tradisi dari persekutuan di mana ia menjadi anggotanya, sebagai bagian dari dirinya.

          R.C Miller mengungkapkan bahwa semua lini sama pentingnya dalam memegang peran untuk mendidik anak menjadi pribadi Kristen yang benar. Meskipun setiap lini memiliki ruang lingkup dan kapasitas masing-masing. Lini tersebut adalah rumah, gereja, sekolah, dan masyarakat. Di rumah pengajarnya adalah orang tua, di gereja pengajarnya adalah guru sekolah minggu dan gembala, di sekolah pengajarnya adalah guru-guru, dan di masyarakat pengajarnya adalah masyarakat itu sendiri. Pandangan ini tampaknya begitu sulit terjadi mengingat ada banyak lingkungan masyarakat dan keluarga yang tidak sepenuhnya Kristen ataupun hidup sebagai Kristen yang benar. Saya menyakini bahwa sejak kanak-kanak seorang anak Kristen telah memiliki Roh Kudus dan Roh Kudus itulah yang harus selalu dinyatakan kepada mereka agar mereka selalu mengingat dan menikmati bahwa dalam diri mereka pribadi ada Pengajar yang Sejati yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...