Mazmur
58:7-12
Ada kisah tentang seorang pria sebut saja
pak Lukas. Dia beserta keluarganya terpaksa harus pindah ke tempat lain karena
perang. Dia adalah seorang pria yang baik dan beribadah. Tinggal di daerah yang
baru dan termasuk tandus tentu amat menyusahkan baginya dan keluarga. Namun hal
yang paling membuat dia dan sekeluarga merasa tidak nyaman adalah tetangga
mereka yang terkenal amat bengis dan tidak bersahabat. Tetangga itu sudah
sering menjadi biang kerok dari berbagai keributan dan kekerasan terhadap warga
yang lain. Di suatu sore usai mendengarkan cerita warga tentang kiprah buruk
tetangganya itu, pak Lukas berujar;”jika dia berani macam-macam,akan saya balas
dia”. Hal itu tentu saja membuat seisi rumah amat kuatir.
Di suatu sore setelah berkali-kali alami
tingkah dari tetangganya yang bengis itu, pak Lukas mendapat “durian runtuh”
namun kali ini bukan berarti suatu hadiah tapi suatu musibah. Tetangganya
datang membawa seonggok mayat babi yang tambun. Babi itu didorong dengan
gerobak masuk ke halaman pak Lukas. “Ini babimu hah? taruh di mana hah? Dia
masuk ke pekarangan rumah saya dan merusak tanaman saya. Saya tembak dia.” Pak
Lukas merah padam menahan geramnya dan menerima babinya kembali dalam keadaan
mati. Tetangganya itu pergi tanpa ada rasa menyesal sedikitpun. Tersirat betapa
bangganya dia dapat menghukum orang sesuka hatinya.
Beberapa minggu kemudian sapi tetangganya
itu kedapatan masuk ke kebun jagung pak Lukas yang siap dipanen. Tergolong sapi
yang tahu menikmati hidup, hewan itu kesana kemari merusak dan memakan
jagung-jagung itu. Anak pak Lukas datang berlari dan mengambil senapan. Namun
pak Lukas sigap melarang anaknya sembari berkata;”Jangan,kita tangkap sapi itu
dan kembalikan dalam keadaan baik-baik. Anaknya amat geram dan tidak habis pikir
mengapa ayahnya bertindak demikian. Bukankah babi mereka pernah ditembak oleh
tetangganya itu? Saatnya membalas sekarang bukan?
Ketika pak Lukas membawa sapi itu ke rumah
tetangganya, si bengis itu amat tertegun dan tidak tahu harus berkata apa. Dia
dengan rasa bersalah campur segan menerima kembali sapinya dalam keadaan baik
tanpa luka. Sejak saat itu tetangganya menunjukkan perubahan yang luar
biasa,dia mulai bergaul baik dengan pak Lukas dan warga lainnya. Dia menjadi
jemaat yang aktif di gereja bersama pak Lukas dan mengenal akan arti sebuah
kasih. Sewaktu ditanya oleh keluarganya apa yang dimaksud pak Lukas dengan
ucapan “saya akan balas dia”, dia berkata bahwa dia menerapkan firman dalam
amsal 25:21-22.
“Jikalau
seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia
minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan
akan membalas itu kepadamu.”
Amat
mudah bagi bara api Allah untuk membakar habis kebengisan dan kebencian
tetangganya. Hal itu terbukti oleh perubahan sikap tetangganya tersebut. Semoga
kisah ini memberi hikmah dan hikmat bagi kita semua. Amin.
No comments:
Post a Comment