Saturday, May 18, 2019

PAHALA BAGI ORANG BENAR

Mazmur 58:7-12
 
     Ada kisah tentang seorang pria sebut saja pak Lukas. Dia beserta keluarganya terpaksa harus pindah ke tempat lain karena perang. Dia adalah seorang pria yang baik dan beribadah. Tinggal di daerah yang baru dan termasuk tandus tentu amat menyusahkan baginya dan keluarga. Namun hal yang paling membuat dia dan sekeluarga merasa tidak nyaman adalah tetangga mereka yang terkenal amat bengis dan tidak bersahabat. Tetangga itu sudah sering menjadi biang kerok dari berbagai keributan dan kekerasan terhadap warga yang lain. Di suatu sore usai mendengarkan cerita warga tentang kiprah buruk tetangganya itu, pak Lukas berujar;”jika dia berani macam-macam,akan saya balas dia”. Hal itu tentu saja membuat seisi rumah amat kuatir.
     Di suatu sore setelah berkali-kali alami tingkah dari tetangganya yang bengis itu, pak Lukas mendapat “durian runtuh” namun kali ini bukan berarti suatu hadiah tapi suatu musibah. Tetangganya datang membawa seonggok mayat babi yang tambun. Babi itu didorong dengan gerobak masuk ke halaman pak Lukas. “Ini babimu hah? taruh di mana hah? Dia masuk ke pekarangan rumah saya dan merusak tanaman saya. Saya tembak dia.” Pak Lukas merah padam menahan geramnya dan menerima babinya kembali dalam keadaan mati. Tetangganya itu pergi tanpa ada rasa menyesal sedikitpun. Tersirat betapa bangganya dia dapat menghukum orang sesuka hatinya.
     Beberapa minggu kemudian sapi tetangganya itu kedapatan masuk ke kebun jagung pak Lukas yang siap dipanen. Tergolong sapi yang tahu menikmati hidup, hewan itu kesana kemari merusak dan memakan jagung-jagung itu. Anak pak Lukas datang berlari dan mengambil senapan. Namun pak Lukas sigap melarang anaknya sembari berkata;”Jangan,kita tangkap sapi itu dan kembalikan dalam keadaan baik-baik. Anaknya amat geram dan tidak habis pikir mengapa ayahnya bertindak demikian. Bukankah babi mereka pernah ditembak oleh tetangganya itu? Saatnya membalas sekarang bukan?
     Ketika pak Lukas membawa sapi itu ke rumah tetangganya, si bengis itu amat tertegun dan tidak tahu harus berkata apa. Dia dengan rasa bersalah campur segan menerima kembali sapinya dalam keadaan baik tanpa luka. Sejak saat itu tetangganya menunjukkan perubahan yang luar biasa,dia mulai bergaul baik dengan pak Lukas dan warga lainnya. Dia menjadi jemaat yang aktif di gereja bersama pak Lukas dan mengenal akan arti sebuah kasih. Sewaktu ditanya oleh keluarganya apa yang dimaksud pak Lukas dengan ucapan “saya akan balas dia”, dia berkata bahwa dia menerapkan firman dalam amsal 25:21-22.
“Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu.”

Amat mudah bagi bara api Allah untuk membakar habis kebengisan dan kebencian tetangganya. Hal itu terbukti oleh perubahan sikap tetangganya tersebut. Semoga kisah ini memberi hikmah dan hikmat bagi kita semua. Amin.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...