
Ketika orang terlibat dalam
penyembahan/kepercayaan Agama Suku hal penting yang harus dilakukan adalah:
1.
Berdamai dengan Allah; percaya kepada Yesus dan mengaku dosanya, (I Yoh. 1:9),
meninggalkan kepercayaan itu dan menerima Yesus sebagai Tuhan, (Yoh. 1:12).
2.
Darah Yesus mampu menyucikan dari segala bentuk kutuk keturunan, (I Pet.
1:18-19).
3.
Menyerahakan hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus, (Roma 8:5-11).
Animisme
Kepercayaan animisme
(dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan
kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme
mempercayai bahwa setiap benda di Bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu
besar), mempunyai jiwa yang mesti
dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu
mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.
Diperkirakan
bahwa di provinsi Kalimantan Barat masih terdapat
7,5 juta orang Dayak yang tergolong pemeluk animisme.
Selain dari
pada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas, kepercayaan
animisme juga mempercayai bahwa roh orang yang telah mati bisa masuk ke dalam
tubuh hewan, misalnya suku Nias mempercayai bahwa seekor tikus yang keluar masuk dari rumah merupakan roh dari wanita yang telah mati beranak. Roh-roh orang yang telah mati
juga bisa memasuki tubuh babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi
musuh bebuyutan pada masa hidupnya.
Kepercayaan ini
berbeda dengan kepercayaan reinkarnasi seperti yang terdapat pada agama Hindu dan Buddha, di mana dalam
reinkarnasi, jiwa tidak pindah langsung ke tubuh hewan lain yang hidup,
melainkan melalui proses kelahiran kembali kedunia dalam bentuk kehidupan baru.
Pada agama Hindu dan Buddha juga terdapat konsep karma yang berbeda dengan kepercayaan animisme ini.
Animisme: Agama Orang Suku yang Buta Aksara
Animisme
adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan agama suku atau agama yang
dianut oleh komunitas buta aksara. Kepercayaan ini juga sering disebut sebagai
agama tradisional atau agama aborigin. Kerap kali orang-orang salah kaprah
menganggapnya sebagai agama primitif karena sebenarnya agama tersebut cukup
kompleks.
Ada sekitar 100 juta penganut agama
suku dari ribuan suku yang tersebar di berbagai benua dan pulau yang berbeda.
Agama suku kebanyakan dianut oleh suku Indian di Amerika Utara dan Amerika
Selatan, suku Afrika bagian tropis, pulau Irian, dan Oseania; selain itu, agama
suku juga dianut oleh suku aborigin yang primitif di Australia, Selandia Baru,
India, dan Jepang.
Terdapat beberapa perbedaan mencolok
antara agama dan kebudayaan suku-suku ini, namun lewat pembelajaran menyeluruh
tentang suku-suku tersebut kita dapat menarik tema-tema besar yang memiliki
kemiripan. Para antropolog sekuler dan misionaris telah menyiapkan data bagi
mereka yang mencari informasi tentang suku-suku tersebut. Masih banyak
informasi yang keliru karena mereka tidak memahami bahasa suku dan kurang
memaksimalkan waktu untuk membuktikan dan menemukan rahasia terdalam
agama-agama suku. Walaupun telah melakukan penelitian yang cukup lama, beberapa
temuan masih sering tidak mencapai kata sepakat serta menimbulkan kontroversi.
Penelitian semakin sulit dilakukan karena banyak suku yang hampir punah atau
telah berintegrasi dengan peradaban. Namun demikian, masih banyak generalisasi
yang sah yang dapat kita buat tentang animisme.
Banyak dasar-dasar animisme dapat
ditemukan pada pemeluk agama-agama yang sudah "berkembang" seperti
Muslim, Buddhis, dan orang-orang Kristen KTP. Kita menyebutnya takhayul,
contohnya "nasib buruk jika kucing hitam melintas di depan kita".
Tabu-tabu seperti ini lumrah muncul dalam kepercayaan animisme. Berikut
definisi yang diberikan oleh Houghton.
Berasal dari kata "anima"
(nafas). Animisme dapat dikenal dengan istilah yang lebih sederhana dan populer
"penyembahan roh", berbeda dengan penyembahan kepada Allah atau
dewa-dewa.
Dampaknya terhadap pemikiran agama
primitif menunjukkan seberapa jauh animisme mendasari agama natural,
berkebalikan dengan agama pewahyuan. Yang disebut sebagai animisme termasuk
"Nekrolatri", yaitu kegiatan penyembahan jiwa manusia dan hewan,
terutama yang sudah meninggal; Penyembahan Roh, yaitu tidak membatasi umat
menyembah kepada obyek atau tubuh tertentu; dan Naturisme, yaitu penyembahan
terhadap entitas spiritual yang dipercaya dapat mengatur fenomena alam. Paham
seperti ini tidak hanya terdapat dalam agama suku yang liar dan buas sebelum
mereka berhubungan dengan peradaban, namun paham tersebut juga menjadi dasar
filsafat orang-orang Hindu, Buddhis, Shinto, Konfusianis, dan Islam, dan juga
menjadi landasan cerita-cerita takhayul orang-orang Kristen di Eropa, selain
juga mitologi dari Mesir, Babilonia, Siria, Yunani, Roma, dan Skandinavia.
Banyak kegiatan dan konsep
agama-agama yang sama di antara berbagai kepercayaan animisme. Sebagian besar
memiliki kegiatan-kegiatan komunal rutin seperti ritual, acara tradisi (terkait
dengan kelahiran, kedewasaan, pernikahan, kematian, dll.), pesta adat, sihir,
mitos dan legenda, pemujaan terhadap kesuburan, fetisisme, imam/shaman/dukun,
mana (kekuatan supernatural yang gaib), roh-roh, ramalan dan korban
persembahan, tabu-tabu, totemisme, dan pemujaan orang mati.
Nekrolatri (penyembahan orang mati)
Bagi agama suku, memerhatikan jiwa
orang mati sangatlah penting. Upacara dilaksanakan sebagai bentuk rasa hormat
terhadap nenek moyang. Selain itu, bisa jadi mereka takut akan jiwa orang lain
yang telah meninggal. Masyarakat suku sering berpendapat bahwa nenek moyang
yang telah tiada masih menjadi bagian dari klan mereka sehingga mereka merasa
wajib menyenangkan nenek moyangnya dengan melaksanakan beragam ritual. Mereka
biasanya takut terkena celaka yang disebabkan oleh amarah orang mati kepada mereka.
Mereka menganggap ini sungguh-sungguh dapat terjadi terutama bagi mereka yang
meninggal dengan cara yang tidak wajar. Jiwa akan datang dan memburu yang
hidup, kecuali jiwa tersebut dibantu dalam perjalanannya ke tempat orang mati
dengan melaksanakan upacara-upacara yang sesuai.
Penyembahan Roh
Agama suku tidak hanya memedulikan
jiwa orang mati, tetapi juga keberadaan setan dan roh yang berpribadi. Mereka
juga percaya di alam ini terdapat kekuatan roh nirpribadi yang disebut
"mana" oleh orang-orang Polinesia.
Sebagian besar agama suku memercayai
banyak sekali roh-roh jahat yang mendiami tanah, udara, air, api, pohon,
gunung, serta hewan. Seluruh kehidupan diatur oleh tabu-tabu dan ritual-ritual
yang dirancang khusus untuk menentramkan para roh.
Penyembahan Roh -- Shamanisme
Sering kali "shaman" atau
imam/dukun berfungsi sebagai perantara yang mahir dan serba tahu tentang mantra
dan jumlah korban persembahan. Acapkali, mereka dipanggil untuk menyembuhkan
sakit penyakit, tapi seorang shaman juga memunyai beberapa fungsi lain. Dalam
banyak suku lainnya biasa ditemui individu-individu lain untuk melakukan ritual
tersebut sendiri.
Penyembahan Roh -- Sihir
Dalam banyak kasus, roh tidak
dilihat sebagai sosok berpribadi, namun dilihat sebagai kekuatan alam nirpersonal
seperti yang dikatakan di atas. Banyak suku yang mengembangkan kepercayaan dan
kegiatan sihir mereka agar dapat memanfaatkan kekuatan alam demi kepentingan
pribadi mereka. Sihir peniruan digunakan untuk mencelakai musuh dengan
menyerang representasinya (misalnya boneka voodoo). Sihir penularan adalah
praktik-praktik sihir yang bergantung pada hubungan yang terdapat antara
seseorang dengan benda-benda yang berhubungan dengannya seperti potongan
rambut, potongan kuku, atau kotoran manusia.
Sihir juga dapat digunakan untuk
kepentingan individu tertentu. Darah dari hewan pemangsa diminum untuk
mendapatkan kekuatan hewan tersebut. Kepercayaan ini berkembang lebih jauh lagi
dalam tindakan kanibalisme: memakan musuhnya untuk memperoleh kekuatannya.
Penyembahan Roh -- Fetisisme
Konsep "mana" sangat
membantu kita memahami kegunaan dari mantra, jimat, dan fetis-fetis lainnya.
Mereka biasanya tidak dianggap dihuni oleh roh yang berpribadi, namun oleh
energi atau kekuatan spiritual. Tentu saja mantra dan jimat tidak hanya dipakai
oleh para penganut animisme saja. Banyak orang Barat, demikian pula orang
Islam, dan penganut agama lain yang beradab, percaya dengan bermacam-macam
jimat. Dalam budaya suku, hal inilah yang menempati posisi sebagai ilmu
pengetahuan.
Naturisme
Naturisme adalah personifikasi dan
penyembahan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang, api, gunung
berapi, badai, dan hewan. Bentuk penyembahan seperti ini sudah lazim dalam
agama orang-orang kuno, seperti halnya matahari yang diagungkan dalam agama
Mesir kuno. Gagasan-gagasan naturistis ternyata juga muncul dalam agama-agama
yang lebih "tinggi", seperti sapi suci oleh orang-orang Hindu di
India atau gunung suci orang-orang Shinto Jepang. Memang tidak mudah untuk
membuat perbedaan yang jelas antara kegiatan sihir yang disebut di atas dan
naturisme. Namun demikian, dalam banyak kejadian, alamlah yang disembah.
Biasanya, naturisme berkembang menjadi penyembahan berhala dan politeisme
(penyembahan terhadap banyak dewa).
Banyak praktik naturistis berkaitan
erat dengan kesuburan, baik dalam pertanian maupun reproduksi manusia.
Penyembahan, ritual-ritual, dan korban-korban persembahan dimaksudkan untuk
menjamin kesuburan. Tampaknya, korban manusia adalah bentuk ekstrem dari ritual
ini, seperti yang muncul dalam ritual agama orang-orang Maya yang ditemukan di
Meksiko sebelum masa penjajahan atau pada orang-orang Naga yang buas di bagian
timur laut India dan Burma.
Naturisme -- Totemisme
Mungkin totemisme termasuk salah
satu aspek naturisme. Totemisme adalah istilah yang berasal dari sebuah kata
Indian yang berarti "saudara-lelaki-perempuan", yang melambangkan
kesatuan klan dengan beberapa tanaman atau hewan suci. Warga suku melihat bahwa
ini adalah aspek keterkaitan antara kehidupan manusia dan alamnya. Oleh karena
itu, hewan atau tumbuhan totem dianggap suci bagi suku mereka dan tidak boleh
dimakan kecuali dalam upacara-upacara khusus.
Kesimpulan
William Paton merinci empat
karakteristik agama dan budaya animisme. Pertama, seluruh kehidupan diliputi ketakutan.
Ketakutan mengatur sebagian besar tindakan-tindakan orang-orang suku. Kedua,
hilangnya kasih dan penghiburan dari agamanya. Seorang penganut animisme
mungkin dapat memunyai konsep Allah Pencipta, namun Dia dirasa sangat jauh dari
kehidupan manusia sehingga mereka tidak perlu memedulikan-Nya. Oleh karena itu,
tidak ada pengharapan dalam agama mereka. Ketiga, tidak ada hal yang absolut
dalam moralitas. Dosa tidak dilihat sebagai dosa, namun hanya pelanggaran
terhadap budaya, adat, dan kekuatan alam. Keempat, kurangnya hubungan dengan
Allah menyebabkan sikap pandang yang fatalistik karena seluruh kejadian dalam
kehidupan ini telah ditentukan sebelumnya dan diatur oleh alam dan setan.
Penilaian kekristenan terhadap kepercayaan animisme harus dimulai dengan
penjelasan Rasul Paulus dalam Roma 1:21-25 tentang bagaimana keturunan Nuh yang
pernah percaya kepada Tuhan terdegradasi ke dalam praktik animisme. Houghton
mengutip kesimpulan dari seorang anonim yang tepat: "Inti dari kafirisme
bukanlah suatu penyangkalan terhadap Allah ... namun sebuah pengabaian terhadap
Dia dan beralih kepada penyembahan kekuatan alam serta kekuatan setan yang
misterius melalui sihir dan korban dan upacara magis."
No comments:
Post a Comment