Wednesday, June 5, 2019

APA ITU KRISTOLOGI FEMINIS DAN DIMENSI KRISTOLOGI? BAGAIMANA TANGGAPAN PARA TEOLOG DARI ZAMAN KE ZAMAN?

Kristologi Feminis
     Kristologi Feminis adalah Kristologi yang memakai pendekatan feminis, yakni dari kacamata ketidakadilan, penindasan dan penderitaan. Kristologi ini dibagi menjadi dua; di Barat disebut Kristologi ekofeminis dan di Timur disebut Kristologi feminis Kosmis. Allah umat Kristen yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki karena dalam diri Yesus yang laki-laki kemudian digeser menjadi Kristus yang menyimbulkan keduanya. Kata logos yang tadinya dalam Injil Yohanes 4:1-42 adalah maskulin yang menjadikan kecenderungan patriarkal, maka dipahami sebagai sofia dalam perspektif feminis. Hal ini diperoleh dari kehidupan Yesus yang sangat menghargai kaum perempuan, dalam karya-karyanya, bahkan ketika Dia bangkit, perempuanlah yang pertama kali melihat kuburnya yang kosong. Simbol sofia digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Yesus sebagi hikmat Allah dalam I Korintus 1:24. Kristologi feminis-kosmis mengajak umat Kristen untuk mendengarkan korban ketidakadilan dan menginternalisasikan jeritan itu menuju praksis solidaritas.

Dimensi Kristologi
     Ketuhanan Yesus (Keilahian Kristus) "Yesus adalah Tuhan", hal ini diyakini umat Kristen dan Katolik. Ini problem terbesar bagi orang Kristen ketika diperhadapkan dengan orang-orang beragama lain. Inilah yang membedakan umat lain, sebab tidak sama dengan tokoh-tokoh panutan agama lain seperti Krisna, Muhammad, Sang Budha, Konfusius atau Lao Tse. Namun Yesus Kristus diyakini umat Kristen sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Keilahian Kristus adalah hakekat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Lord Jesus" diartikan Tuhan Yesus.

Pendamaian Kristus
     Pendamaian Kristus berarti Kristus sebagai pendamai antara Allah dengan manusia. Pendamaian ini diperlukan karena hubungan manusia dan Allah sudah putus disebabkan dosa-dosa manusia. Antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa terdapat jarak yang memisahkan. Jadi Kristus diutus untuk datang ke dunia, sehingga hubungan itu bisa dipulihkan. Makna Kristus sebagai Sang Pendamai dilalui dengan peristiwa penyalibannya di bukit Golgota. Dari peristiwa inilah Kristologi terkait pendamaian yang dilakukan Kristus di kayu salib dibicarakan.

Kristus Sang Pembebas
     Kristus Sang Pembebas adalah makna yang selalu hadir terkait dengan penderitaan yang ingin dientaskan oleh Kristus. Mulai dari istilah Mesias dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru, selalu dikaitkan sebagai pembebas. Kematian Kristus di kayu Salib adalah wujud tindakan Allah untuk menebus dosa manusia terkait akibat dosa yaitu maut.

Tokoh-tokoh Kristologi
     Para pemikir yang menghuni pada 'ruang' pemikiran Kristologi ini sangat banyak, terbentang dari Bapa-bapa Gereja abad kedua, Abad ke empat, reformasi bahkan hingga sekarang.

Anselmus dari Cantebury
     Anselmus adalah teolog dan filsuf yang hidup pada Abad Pertengahan. Berasal dati Italia, terkenal dengan pemikiran Skolastisismenya. Karya yang paling terkenal berjudul Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi Manusia). Di dalam konteks sosiologis feodalisme, Anselmus menelaah mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati untuk menyelamatkan manusia, dan mempertanyakan apakah tidak ada cara lain untuk meyelamatkan. Menurut Anselmus, Yesus Kristus wafat untuk melakukan silih (ganti) atas dosa; tanpa penyilihan itu tatanan alam semesta akan kacau balau untuk selamanya. Dengan jalan itu, baik keadilan, anugerah maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan. Anselmus memulai teologinya dari keyakinannya bahwa seseorang bisa berteologi hanya setelah dia beriman  fides quarens intellectum. Iman ini mencakup sikap iman fides qua creditur maupun isi iman fides quae creditur. Dengan demikian, obyek teologi sebenarnya adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi Allah dan manusia berlangsung melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus merupakan realitas dinamik yang terus berlangsung di seluruh sejarah Gereja.

Thomas Aquinas (1225-1274)
     Thomas Aquinas adalah tokoh Skolastik yang terbesar di abad pertengahan dari Italia. Ia adalah seorang Katolik yang saleh, mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Katolik dan mengajar Filsafat dan Teologi di Paris. Pemikirannya tentang kodrat manusia adalah, bahwa manusia menjadi tidak sempurna ketika jatuh dalam dosa, dan diselamatkan Allah melalui rahmat adikodrati yang ditawarkan Gereja.

Martin Luther (1483-1546)
     Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi Protestan, yang membawa pembaharuan sehingga Gereja Lutheran terbentuk. Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus.


Yohanes Kalvin (1509-1564)
     Yohanes Kalvin adalah seorang pemimpin reformasi Protestan di Swiss. Dia dilahirkan di kota Noyon, Perancis. Dia ahli hukum dan teologi, dia banyak membantu gereja di Jenewa ketika reformasi, dia djuga dikenal dalam sumbangannya terhadap pembaharuan Mazmur Jenewa. Seperti halnya Luther, dia mengajarkan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman atau Sola Fide. Keselamatan didapat dari Allah sebagai karunia di dalam Kristus.
     Terkait dengan dalilnya dalam Trinitas, yaitu Bahwa Allah Bapa sebagai asal perbuatan, Putera sebagai asal dari hikmat, maksud dan kehendak dan Roh Kudus sebagai kekuatan dan dorongan untuk berbuat.. Tidak satu pun dari ketiga oknum ini bekerja sendirian.
     Tabiat Kristus; Keallahan-Nya dan kemanusian-Nya sangat dipertahankan oleh Kalvin, Kristus adalah perantara bagi manusia. Kristus adalah benar-banar Allah.
Dalam diri Kristus, seolah-olah Allah memperkecil Diri-Nya untuk dapat mendapatkan daya mengerti manusia yang picik itu
Tujuan tertinggi kemanusiaan Kristus ialah:
Tuhan Yesus telah mengenakan diri Adam, telah memakai nama-Nya untuk sebagai gantinya taat kepada Bapa, untuk menyerahkan daging tubuh kita selaku korban bagi pemenuhan penghakiman Allah yan gadil dan dalam dagin gitu melunaskan hukuman, yang seyogyanya kita yang menerimanya. Pendeknya, andaikata Ia Allah saja, tak mungkin Ia dapat mati, dan andaikata Ia hanya manusia, tak dapat Ia mengalahkan maut. Itulah sebabnya Ia telah mempersatukan tabiat [insani] dan Ilahi dalam diri-Nya, untuk menyerahkan tabiat insani yang tak berdaya itu kepada maut dan untuk dengan tabiat Ilahi-Nya bergumul daengan maut dan memperoleh kemenangan bagi kita, untuk menebus dosa manusia
     Perbedaannya dengan Luther adalah penghargaan terhadap kemanusiaan Yesus, bahwa kehadiran-Nya dalam Perjamuan Kudus melalui transubstansiasi dianggapnya merendahkan kemanusiaan Kristus.
Karl Rahner (1904-1984)
     Karl Rahner dilahirkan di keluarga Katolik Bavaria - Jerman Barat, terdidik dalam ketaatan. Pada Perang Dunia II tidak dikenal, namun tahun 1960 pada Konsili Vatikan II menjadi pusat perhatian dalam teologi modern. Teologinya dianggap sebagai aliran neo-skolastisisme yang dipengaruhi Aquinas. Karl Rahner dalam berkristologi ingin menekankan pada "sesuatu" yang berasal dari dialektis (perjumpaan) antara simbol dan penyimbolan, terkhusus pada simbol Yesus. Simbol menurut Rahner adalah "sesuatu yang menjadi perantara sesuatu lain dari dirinya sendiri, petunjuk penting bahwa Yesus adalah benar-benar dari Allah untuk dunia. Kristologi Thomas Aquinas yang berpusat pada inkarnasi Allah pada diri Yesus. Karl Rahner menyebutnya, Yesus sebagai "Tuhanku dan Allahku". Melalui teori simbol (Yunani : σύμβολο) bahwa melalui yang ada saat ini, maka ia merasa bisa mendapati yang lain. Melalui kemanusiaan Kristus yang terbatas, Allah yang tak terbatas bisa didapat.  Bagi Rahner, Kedatangan Kristus bukan karena semata-mata harus mengampuni dosa manusia, melainkan karena rahmat.  Seandainya Adam tidak berdosa, Rahner mengandaikan Kristus tetap akan datang kedunia, meninggal, dan bangkit kembali.  Rahner tidak menolak kenyataan atau daya tarik dosa dan kejahatan, ia juga tidak menyangkal bahwa inkarnasi, salib, dan kebangkitan kembali berkaitan dengan pengampunan dosa.  Tetapi itu semua bukanlah pokok persoalannya; Kristus tidak bisa dilihat hanya sebagai obat bagi dosa-dosa manusia.  Dosa, seperti yang dilihat oleh Rahner, tidak bisa menjadi motor penggerak cerita tentang keterlibatan Allah dengan dunia.
     Kristologi Rahner sebenarnya bertolak dari Konsili Khalsedon.  Kristologi yang dirumuskan pada akhir masa perjuangan politik, gereja sehingga dapat diterima sebagian besar perserta Konsili, di mana dalam Kristus ada kemanusiaan dan keilahian secara bersamaan.  Kristus dan rahmat menjadi pemikiran mendasar dari Karl Rahner, Allah bisa dilihat dari kemanusiaan Kristus dan bermula dari kemanusiaan masing-masing orang.  Di sinilah perbedaan kristologinya Karl Barth.  Menurut Barth, Allah tidak bisa dikenal dari sekadar membicarakan manusia.
Karl Barth (1886-1968)
     Karl Barth adalah teolog dari Swiss pada era reformasi di abad ke-20, dia membawa pembaharuan yang besar dari teologi abad 19.  Dia belajar teologi di Jerman.  Teologinya disebut dialektis, sebab berawal dari Allah yang ada di Sorga dan suci, dia mengirimkan Kristus yang begitu dekat di dunia yang hina, sehingga pertemuan dua hal yang bertentangan ini disebut dialektis.
     Kristologi Barth dimulai dari pre-eksistensi Kristus, Kristus menjadi sentral teologinya.  Tuhan Allah menyatakan anugerahnya dalam Kristus sekaligus mengikatkan diri-Nya pada Kristus.  Pemulihan manusia ditentukan pada pemilihan Tuhan Allah terhdap Kristus, Allah memilih Kristus sekaligus Tuhan Allah memilih manusia sebagai sekutu-Nya.
Gustavo Gutierrez
     Gustavo Gutiérrez Merino, O.P. (lahir di Lima, Peru, 8 Juni 1928; umur 82 tahun) adalah seorang teolog Peru dan imam Dominikan, Amerika Latin.  Dalam bukunya yang sangat terkenal Teologi Pembebasan terjemahan dari judul asli Liberation of Theology tahun 1971, dia meyatakan bahwa penindasan oleh kapitalisme harus dilawan.  Bagi dia, Amerika Latin lebih membutuhkan pembebasan dibanding pembangunan.  Kristus harus dimaknasi sebagai pembebas dari segala penindasan dan ketidakadilah yang sedang berlangsung.  Sebelum Gutierrez juga telah ada seorang martir yang menerbitkan buku yang isinya sangat kotroversi, yaitu Imam Kolumbia Camillo Torres yang menyatakan bahwa "setiap orang Katolik yang tidak revolusioner hidup dalam dosa dan layak dihukum mati".Banyak buku-buku yang diterbitkan pada zaman Gutierrez ini bertema tentang pembebasan.
Kristologi pembebasan memiliki landasan yang kuat berakar pada pemahaman bahwa Kristus adalah Sang pembebas.  Pembebasan tersebut dilihat sebagai wujud kesatuan dengan Yesus Kristus sebagai Pembebas, wujud penyembahan kepada Allah yang mendengarkan jeritan umat-Nya dan menghendaki keadilan.
Teologi Guiterrez bisa dilihat dalam salah satu kutipan berikut ini:  

Berlaku adil berarti menjadi setia pada perjanjian. Kesetiaan berarti kekudusan. Keadilah dalam Kitab Suci adalah pengertian yang membawa bersama relasi dengan kaum miskin dan relasi dengan Allah. Hanya dalam jalan ini dicapai kekudusan. Setia pada perjanjian berarti mempraktekkan keadilan yang berlaku dalam tindakan Allah yang membebaskan kaum tertindas  ”.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...