Nats: Yesaya
45:20-25
Kita memasuki tahun baru, tahun
2019. Kita telah menjalani tahun 2018 dengan beragam pengalaman. Ada suka dan
ada duka; ada kemudahan, ada kesulitan; ada yang merangkul, ada yang
menyisihkan, ada tawa, ada air mata. Bagaimanapun semua pengalaman yang kita telah
lalui itu, sebagai orang yang beriman kepada TUHAN dalam Yesus Kristus, pada
hari ini kita tetap harus mengucap syukur. Kita bisa mengucap syukur dalam
semuanya itu hanya jika kita dalam kerendahan hati merenungkannya di hadapan
Tuhan. Firman-Nya menghibur dan menguatkan: Janganlah hendaknya kamu kuatir
tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada
Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).
Saudara-saudara yang
kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus! Pada hari ini Tuhan menyapa kita dengan
firmanNya di saat kita mrerenung-kan dan mengucap syukur atas semua pengalaman
yang telah kita jalani, dan yang akan kita jalani ke depan yang akan
dianugerahkan Tuhan. Thema renungan kita menjalani tahun 2017 ini adalah:
KEADILAN DAN KEKUATAN HANYA ADA DI DALAM TUHAN. Thema ini dipilih sesuai dengan
pergumulan hidup manusia saat ini di seluruh dunia, khususnya masyarakat kita
di negeri tercinta Indonesia. Dari tempat-tempat yang dekat di sekitar kita dan
dari berbagai tempat yang jauh di ujung bumi saat ini, terdengar suara yang menyerukan:
‘Dimanakah berada keadilan?’ Banyak pribadi, keluarga dan masyarakat harus dan
merindukan kekuatan dan keadilan, dan gema suara teriakannya terdengar di
setiap waktu. Dalam situasi yang demikian, Firman hari ini menuntun kita untuk
berjuang sehingga dapat mengalami dan menikmati kekuatan dan keadilan Tuhan.
Karena untuk itulah dipanggil dan dikuduskan oleh Tuhan, sebagaimana firman-Nya
yang berkata: Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang
kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan
perbuatan-perbuatan yang besar
dari Dia (1 Petrus 2:9). Adapun perbuatan-perbuatan Tuhan yang
besar itu, dalam Alkitab Perjanjian Lama disebut perbuatan-perbuatan ‘keadilan’
dan dalam Alkitab Perjanjian Baru disebut perbuatan-perbuatan ‘kasih’.
Saudara-saudara, umat
Tuhan yang telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia kepada hidup yang benar! Saya
kira, semua kita merasa kagum dengan kemajuan luar biasa yang dicapai oleh
manusia dewasa ini dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan-kemajuan
itu telah membuat kehidupan kita tertolong dalam banyak hal, seperti peralatan
pertanian, pengobatan, terlebih dalam hal transportasi dan komunikasi. Kita
membayangkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu akan membuat
kehidupan manusia di seluruh dunia lebih sejahtera, lebih damai dan bersukacita.
Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ada sedikit orang hidup dalam kekayaan
dan kemegahan, namun banyak orang lainnya hidup dalam kemiskinan dan
penderitaan. Ada sedikit orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi
sangat banyak orang yang tersisih, tertindas, dan menderita oleh mereka. Mengapa hal demikian
yang terjadi? Dengan sederhana dapat diterangkan, bahwa manusia tidak
mengguna-kan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih itu untuk saling
menolong. Tetapi semua itu telah dipergunakan untuk bersaing merebut dan
menguasai sumber-sumber daya kehidupan yang terbatas itu. Manusia berlomba
memper-oleh kuasa dan kekuatan (dengan berbagai alat dan cara) untuk dapat
memper-oleh harta duniawi bagi dirinya dan/atau bagi kelompoknya. Aneka ragam
per-kumpulan atau konglomerasi dibentuk, dengan tujuan mendapat kekuatan
mem-perebutkan sesuatu. Tanah, air, hutan mau dikuasai oleh penguasa-penguasa
dan pengusaha-pengusaha tertentu, dan menyisihkan banyak orang dari
sumber-sumber kehidupan itu. Penguasaan tidak hanya terjadi kepada
sumber-sumber daya alam yang ada; tetapi juga keinginan untuk menguasai sesama
manusia. Sehingga kita mengalami banyak konflik, permusuhan, dan peperangan,
entah itu terbuka atau terselubung. Kejahatan semakin beragam dan semakin
meluas. Disamping ancaman kemiskinan dan penderitaan fisik-lahiriah, kita juga
mengalami penderitaan dalam kehidupan jiwa dan rohani, terlebih dalam relasi
dengan sesama, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Hubungan kita
dengan sesama, dalam keluarga dan masyarakat, tidak lagi menikmati kedamaian
dan kasih. Mereka yang merasa beruntung terus diseret kepada kecongkakan; dan
mereka yang merasa gagal terseret kepada kebingungan, ketakutan, dan
keputus-asaan. Hidup kita risau dan gelisah.
Saudara-saudara yang
kekasih dalam Yesus Kristus! Firman Tuhan hari ini menyebutkan, semua
dijelaskan tadi adalah perilaku kehidupan manusia penyembah berhala, sehingga
tidak lagi mengenal keadilan dan kasih. Kemajuan imu pengetahuan dan teknologi
beserta semua produknya tidak lagi dipergunakan sebagai alat untuk saling
menolong, tetapi menjadi tujuan dan nilai yang dikejar dan disembah. Inilah
yang disebut penyembahan berhala. Penyembahan berhala adalah penyembahan kepada
kuasa-kuasa dunia, baik yang tidak kelihatan maupun yang kelihatan. Yang tidak
kelihatan dapat berupa pedukunan, santet, dan kuasa-kuasa kegelapan lainnya.
Dalam bentuk yang kelihatan dapat berupa penyembahan kepada penguasa-penguasa;
dapat berupa penyembahan kepada benda-benda ciptaan teknologi manusia, dari
kayu, batu, logam, emas, bahkan ide-ide atau gagasan-gagasan manusia. Tujuan
dari semua penyembahan berhala adalah memperoleh kebutuhan fisik lahiriah,
jabatan duniawi, dan kemegahan lainnya. Penyembah berhala tidak segan-segan
untuk menindas sesamanya demi memperoleh harta dan kemegahan duania ini.
Saudara-saudara yang
kekasih dalam Yesus Kristus, Apa yang kita alami sekarang ini bukanlah
persoalan yang baru. Keadaan seperti ini telah terjadi di sepanjang sejarah manusia
berdosa, masyarakat dan bangsa-bangsa. Hal seperti itulah yang terjadi ketika
umat Israel diperbudak di Mesir dalam penyembahan berhala. Firaun memperbudak
orang Israel demi memperoleh kekuasaan, kemewahan dan kemegahan dirinya dan
kaumnya. Orang Israel dipaksa dan diperbudak untuk hidup mengabdikan segenap
waktu dan tenaga hanya untuk memperoleh roti dan daging. Baik Firaun dan bangsa
Mesir maupun bangsa Israel, semua telah terbelenggu penyembahan berhala. Tidak
ada waktu istirahat. Tidak dapat menikmati persekutuan persaudaraan. Tidak ada
damai. Tidak ada sukacita. Dari penyembahan berhala itulah mereka dipanggil untuk
hidup menyembah Tuhan dan untuk dapat mengalami dan menikmati keadilan-Nya.
Tuhan menyata-kan keadilan-Nya: Ia menuntun dan memberi kebutuhan jasmani
mereka. Tetapi Tuhan juga memberi yang lebih utama, yaitu kehidupan rohani
mereka: waktu istirahat (sabat) untuk dapat bersekutu dengan Tuhan dan dengan
sesama, dalam damai dan sukacita, mene-rima dan berbagi atas anugerah pemberian
Tuhan
kepada masing-masing. Itulah
juga yang terjadi pada masa nabi Yesaya. Ketika bangs itu beralih kepada
penyembahan berhala, mengandalkan kekuatan para raja dan alat-alat perang untuk
memperoleh kebutuhan dan kemegahan hidup harta duniawi, maka mereka tidak
peduli lagi terhadap orang-orang lemah. Mereka justru menindas dan memeras
orang-orang lemah.
Nabi Yesaya mengungkapkan
hal itu dalam Yesaya 10:1-2 Celakalah mereka yang menentukan
ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan
keputusan-keputusan kelaliman, untuk menghalang-halangi orang-orang lemah
mendapat keadilan dan untuk merebut hak orang-orang sengsara di antara umat-Ku,
supaya mereka dapat merampas milik janda-janda, dan dapat menjarah anak-anak
yatim! Nabi Yeremia (1-2) juga mengadukan hal yang sama kepada Tuhan: Engkau
memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau
berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang
fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka
tumbuh, dan mereka pun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah
juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka.
Persoalan ini tidak hanya dikemukakan oleh para nabi. Kaum awam, para penyair,
juga mengeluhkan hal yang sama, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur 73:3-11, Sebab
aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang
fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka;
mereka tidak mengalami kesusahan, dan mereka tidak kena tulah. Sebab itu mereka
berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan
mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan
mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi
hati. Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab
itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang
berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah
pengetahuan pada Yang Mahatinggi.” Di tengah keadaan yang demikian, Tuhan
menyatakan hukum dan keadilan-Nya kepada mereka yang lemah dan tertindas. Tuhan
menghukum bangsa itu dan menyerahkannya kepada pembuangan. Namun, dalam
pembuangan itu, Tuhan juga menyatakan kekuatan dan keadilanNya dalam FirmanNya:
Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya
dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Allah yang adil dan Juruselamat! Dengan
perbuatanperbuatan yang besar dari Tuhan sendiri IA membawa umat-Nya pulang
kembali ke Yerusalem. Karena yang mengerjakan pemulihan itu adalah Tuhan
sendiri, maka mereka tidak boleh menjadikan kuasa-kuasa lain untuk disembah.
Dan karena yang mengerjakan keadilan itu adalah Tuhan sendiri, maka mereka juga
tidak dapat mengucilkan atau merendahkan orang lain. Semua orang dapat
mengambil bagian dalam perbuatan Tuhan itu. Maka semua orang yang percaya dan
mengambil bagian dalam perbuatan itu berikrar dan akan bersumpah setia dalam
segala bahasa, sambil berkata: “Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam
TUHAN”.
Perbuatan besar yang adil itulah juga yang dinyatakan oleh Tuhan
Yesus, dalam kedatanganNya di dunia, kematian dan kebangkitanNya. Yesus Kristus
datang menjadi sesama manusia, mati dan bangkit, menebus manusia dari cara
hidup yang sia-sia, hidup dalam penyembahan berhala, kepada hidup yang baru,
yang berkeadilan (Yoh 3:16). Ia menebus kita dari cara hidup yang memikirkan
hanya perkara di bumi (= penyembahan berhala) kepada hidup yang memikirkan
perkara yang di atas (Kol 3:2), yaitu keadilan, kasih, damai sejahtera,
sukacita dan pengharapan. Ia memanggil kita untuk tidak kuatir dan mencari
perkara makanan, pakaian, kemewahan dan kemilauan duniawi yang dihasilkan oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi modern ini, sebab hal-hal itu dicari oleh
orang-orang yang tidak mengenal Allah. Tetapi kamu, carilah kerjaan Allah, dan
semua itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:31-33). Sebab Kerajaan Allah
bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan
sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).
Saudara-saudara yang
kami kasihi! Firman hari ini menyatakan dengan terang kepada kita bahwa hidup
dalam penyembahan berhala, hidup mengagungkan dan menyembah perkara-perkara
duniawi, akan berlanjut dan berakhir dalam kebinasaan. Karena penguasa-penguasa
di dunia ini tidak melakukan keadilan. Persaingan, penindasan pemiskinan, dan
beragam kejahatan lainnya, itulah buah-buah dari penyembahan berhala. Beragam
‘Persatuan’, ‘Perkumpulan’, dan/atau ‘Konglomerasi’ dibentuk, namun yang dihasilkan
terutama bukanlah kesatuan/persatuan, melainkan konflik dan kompetisi untuk
memperoleh sebanyak mungkin hal-hal duniawi bagi dirinya. Berbeda dari
penyembahan berhala, penyembahan kepada Tuhan Jesus Kristus akan berlanjut dan
bermuara pada hidup yang disertai dan diberkati oleh Tuhan, hari demi hari
sampai kepada akhir jaman. Persekutuan penyembah Tuhan Yesus Kristus tidak
dinamai ‘Persatuan/Perkumpulan’ atau ‘Konglomerasi. Persekutuan umatNya, yaitu
Gereja, dinamai ‘Tubuh Kristus’. Yang dimaksud dengan satu ‘TUBUH” ialah,
persekutuan semua anggota yang menerima dan saling membagi dari sumber hidup
yang sama, yaitu dari Tuhan Yesus Kristus. Dari pada-Nyalah kita mengenal dan
akan menjalankannya apa dan bagai-mana keadilan. Keadilan kita alami dan kita nikmati
bukan dengan memperjuang-kan kepentingan kita sendiri atau dengan menuntut orang
lain melakukan keadilan kepada kita. Keadilan kita alami dan nikmati adalah
ketika kita merendahkan diri menyembah kepada Tuhan yang adalah sumber
kehidupan kita, dan saling membagi dari berkat yang diberikan dan diterima dari
Tuhan, kepada pekerjaan-Nya melalui persembahan, di tengah persekutuan jemaat
dan persekutuan masyarakat.

No comments:
Post a Comment