Saturday, January 12, 2019

RENUNGAN AWAL TAHUN


Nats: Yesaya 45:20-25
     Kita memasuki tahun baru, tahun 2019. Kita telah menjalani tahun 2018 dengan beragam pengalaman. Ada suka dan ada duka; ada kemudahan, ada kesulitan; ada yang merangkul, ada yang menyisihkan, ada tawa, ada air mata. Bagaimanapun semua pengalaman yang kita telah lalui itu, sebagai orang yang beriman kepada TUHAN dalam Yesus Kristus, pada hari ini kita tetap harus mengucap syukur. Kita bisa mengucap syukur dalam semuanya itu hanya jika kita dalam kerendahan hati merenungkannya di hadapan Tuhan. Firman-Nya menghibur dan menguatkan: Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).
     Saudara-saudara yang kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus! Pada hari ini Tuhan menyapa kita dengan firmanNya di saat kita mrerenung-kan dan mengucap syukur atas semua pengalaman yang telah kita jalani, dan yang akan kita jalani ke depan yang akan dianugerahkan Tuhan. Thema renungan kita menjalani tahun 2017 ini adalah: KEADILAN DAN KEKUATAN HANYA ADA DI DALAM TUHAN. Thema ini dipilih sesuai dengan pergumulan hidup manusia saat ini di seluruh dunia, khususnya masyarakat kita di negeri tercinta Indonesia. Dari tempat-tempat yang dekat di sekitar kita dan dari berbagai tempat yang jauh di ujung bumi saat ini, terdengar suara yang menyerukan: ‘Dimanakah berada keadilan?’ Banyak pribadi, keluarga dan masyarakat harus dan merindukan kekuatan dan keadilan, dan gema suara teriakannya terdengar di setiap waktu. Dalam situasi yang demikian, Firman hari ini menuntun kita untuk berjuang sehingga dapat mengalami dan menikmati kekuatan dan keadilan Tuhan. Karena untuk itulah dipanggil dan dikuduskan oleh Tuhan, sebagaimana firman-Nya yang berkata: Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar
dari Dia (1 Petrus 2:9). Adapun perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar itu, dalam Alkitab Perjanjian Lama disebut perbuatan-perbuatan ‘keadilan’ dan dalam Alkitab Perjanjian Baru disebut perbuatan-perbuatan ‘kasih’.
     Saudara-saudara, umat Tuhan yang telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia kepada hidup yang benar! Saya kira, semua kita merasa kagum dengan kemajuan luar biasa yang dicapai oleh manusia dewasa ini dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan-kemajuan itu telah membuat kehidupan kita tertolong dalam banyak hal, seperti peralatan pertanian, pengobatan, terlebih dalam hal transportasi dan komunikasi. Kita membayangkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu akan membuat kehidupan manusia di seluruh dunia lebih sejahtera, lebih damai dan bersukacita. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ada sedikit orang hidup dalam kekayaan dan kemegahan, namun banyak orang lainnya hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Ada sedikit orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, tetapi sangat banyak orang yang tersisih, tertindas, dan menderita oleh mereka. Mengapa hal demikian yang terjadi? Dengan sederhana dapat diterangkan, bahwa manusia tidak mengguna-kan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih itu untuk saling menolong. Tetapi semua itu telah dipergunakan untuk bersaing merebut dan menguasai sumber-sumber daya kehidupan yang terbatas itu. Manusia berlomba memper-oleh kuasa dan kekuatan (dengan berbagai alat dan cara) untuk dapat memper-oleh harta duniawi bagi dirinya dan/atau bagi kelompoknya. Aneka ragam per-kumpulan atau konglomerasi dibentuk, dengan tujuan mendapat kekuatan mem-perebutkan sesuatu. Tanah, air, hutan mau dikuasai oleh penguasa-penguasa dan pengusaha-pengusaha tertentu, dan menyisihkan banyak orang dari sumber-sumber kehidupan itu. Penguasaan tidak hanya terjadi kepada sumber-sumber daya alam yang ada; tetapi juga keinginan untuk menguasai sesama manusia. Sehingga kita mengalami banyak konflik, permusuhan, dan peperangan, entah itu terbuka atau terselubung. Kejahatan semakin beragam dan semakin meluas. Disamping ancaman kemiskinan dan penderitaan fisik-lahiriah, kita juga mengalami penderitaan dalam kehidupan jiwa dan rohani, terlebih dalam relasi dengan sesama, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Hubungan kita dengan sesama, dalam keluarga dan masyarakat, tidak lagi menikmati kedamaian dan kasih. Mereka yang merasa beruntung terus diseret kepada kecongkakan; dan mereka yang merasa gagal terseret kepada kebingungan, ketakutan, dan keputus-asaan. Hidup kita risau dan gelisah.
     Saudara-saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus! Firman Tuhan hari ini menyebutkan, semua dijelaskan tadi adalah perilaku kehidupan manusia penyembah berhala, sehingga tidak lagi mengenal keadilan dan kasih. Kemajuan imu pengetahuan dan teknologi beserta semua produknya tidak lagi dipergunakan sebagai alat untuk saling menolong, tetapi menjadi tujuan dan nilai yang dikejar dan disembah. Inilah yang disebut penyembahan berhala. Penyembahan berhala adalah penyembahan kepada kuasa-kuasa dunia, baik yang tidak kelihatan maupun yang kelihatan. Yang tidak kelihatan dapat berupa pedukunan, santet, dan kuasa-kuasa kegelapan lainnya. Dalam bentuk yang kelihatan dapat berupa penyembahan kepada penguasa-penguasa; dapat berupa penyembahan kepada benda-benda ciptaan teknologi manusia, dari kayu, batu, logam, emas, bahkan ide-ide atau gagasan-gagasan manusia. Tujuan dari semua penyembahan berhala adalah memperoleh kebutuhan fisik lahiriah, jabatan duniawi, dan kemegahan lainnya. Penyembah berhala tidak segan-segan untuk menindas sesamanya demi memperoleh harta dan kemegahan duania ini.
     Saudara-saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus, Apa yang kita alami sekarang ini bukanlah persoalan yang baru. Keadaan seperti ini telah terjadi di sepanjang sejarah manusia berdosa, masyarakat dan bangsa-bangsa. Hal seperti itulah yang terjadi ketika umat Israel diperbudak di Mesir dalam penyembahan berhala. Firaun memperbudak orang Israel demi memperoleh kekuasaan, kemewahan dan kemegahan dirinya dan kaumnya. Orang Israel dipaksa dan diperbudak untuk hidup mengabdikan segenap waktu dan tenaga hanya untuk memperoleh roti dan daging. Baik Firaun dan bangsa Mesir maupun bangsa Israel, semua telah terbelenggu penyembahan berhala. Tidak ada waktu istirahat. Tidak dapat menikmati persekutuan persaudaraan. Tidak ada damai. Tidak ada sukacita. Dari penyembahan berhala itulah mereka dipanggil untuk hidup menyembah Tuhan dan untuk dapat mengalami dan menikmati keadilan-Nya. Tuhan menyata-kan keadilan-Nya: Ia menuntun dan memberi kebutuhan jasmani mereka. Tetapi Tuhan juga memberi yang lebih utama, yaitu kehidupan rohani mereka: waktu istirahat (sabat) untuk dapat bersekutu dengan Tuhan dan dengan sesama, dalam damai dan sukacita, mene-rima dan berbagi atas anugerah pemberian Tuhan
kepada masing-masing.  Itulah juga yang terjadi pada masa nabi Yesaya. Ketika bangs itu beralih kepada penyembahan berhala, mengandalkan kekuatan para raja dan alat-alat perang untuk memperoleh kebutuhan dan kemegahan hidup harta duniawi, maka mereka tidak peduli lagi terhadap orang-orang lemah. Mereka justru menindas dan memeras orang-orang lemah.
     Nabi Yesaya mengungkapkan hal itu dalam Yesaya 10:1-2 Celakalah mereka yang menentukan ketetapan-ketetapan yang tidak adil, dan mereka yang mengeluarkan keputusan-keputusan kelaliman, untuk menghalang-halangi orang-orang lemah mendapat keadilan dan untuk merebut hak orang-orang sengsara di antara umat-Ku, supaya mereka dapat merampas milik janda-janda, dan dapat menjarah anak-anak yatim! Nabi Yeremia (1-2) juga mengadukan hal yang sama kepada Tuhan: Engkau memang benar, ya TUHAN, bilamana aku berbantah dengan Engkau! Tetapi aku mau berbicara dengan Engkau tentang keadilan: Mengapakah mujur hidup orang-orang fasik, sentosa semua orang yang berlaku tidak setia? Engkau membuat mereka tumbuh, dan mereka pun juga berakar, mereka tumbuh subur dan menghasilkan buah juga. Memang selalu Engkau di mulut mereka, tetapi jauh dari hati mereka. Persoalan ini tidak hanya dikemukakan oleh para nabi. Kaum awam, para penyair, juga mengeluhkan hal yang sama, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur 73:3-11, Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan, dan mereka tidak kena tulah. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: "Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi.” Di tengah keadaan yang demikian, Tuhan menyatakan hukum dan keadilan-Nya kepada mereka yang lemah dan tertindas. Tuhan menghukum bangsa itu dan menyerahkannya kepada pembuangan. Namun, dalam pembuangan itu, Tuhan juga menyatakan kekuatan dan keadilanNya dalam FirmanNya: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Allah yang adil dan Juruselamat! Dengan perbuatanperbuatan yang besar dari Tuhan sendiri IA membawa umat-Nya pulang kembali ke Yerusalem. Karena yang mengerjakan pemulihan itu adalah Tuhan sendiri, maka mereka tidak boleh menjadikan kuasa-kuasa lain untuk disembah. Dan karena yang mengerjakan keadilan itu adalah Tuhan sendiri, maka mereka juga tidak dapat mengucilkan atau merendahkan orang lain. Semua orang dapat mengambil bagian dalam perbuatan Tuhan itu. Maka semua orang yang percaya dan mengambil bagian dalam perbuatan itu berikrar dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: “Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam TUHAN”.
Perbuatan besar yang adil itulah juga yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus, dalam kedatanganNya di dunia, kematian dan kebangkitanNya. Yesus Kristus datang menjadi sesama manusia, mati dan bangkit, menebus manusia dari cara hidup yang sia-sia, hidup dalam penyembahan berhala, kepada hidup yang baru, yang berkeadilan (Yoh 3:16). Ia menebus kita dari cara hidup yang memikirkan hanya perkara di bumi (= penyembahan berhala) kepada hidup yang memikirkan perkara yang di atas (Kol 3:2), yaitu keadilan, kasih, damai sejahtera, sukacita dan pengharapan. Ia memanggil kita untuk tidak kuatir dan mencari perkara makanan, pakaian, kemewahan dan kemilauan duniawi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern ini, sebab hal-hal itu dicari oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Tetapi kamu, carilah kerjaan Allah, dan semua itu akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:31-33). Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).
     Saudara-saudara yang kami kasihi! Firman hari ini menyatakan dengan terang kepada kita bahwa hidup dalam penyembahan berhala, hidup mengagungkan dan menyembah perkara-perkara duniawi, akan berlanjut dan berakhir dalam kebinasaan. Karena penguasa-penguasa di dunia ini tidak melakukan keadilan. Persaingan, penindasan pemiskinan, dan beragam kejahatan lainnya, itulah buah-buah dari penyembahan berhala. Beragam ‘Persatuan’, ‘Perkumpulan’, dan/atau ‘Konglomerasi’ dibentuk, namun yang dihasilkan terutama bukanlah kesatuan/persatuan, melainkan konflik dan kompetisi untuk memperoleh sebanyak mungkin hal-hal duniawi bagi dirinya. Berbeda dari penyembahan berhala, penyembahan kepada Tuhan Jesus Kristus akan berlanjut dan bermuara pada hidup yang disertai dan diberkati oleh Tuhan, hari demi hari sampai kepada akhir jaman. Persekutuan penyembah Tuhan Yesus Kristus tidak dinamai ‘Persatuan/Perkumpulan’ atau ‘Konglomerasi. Persekutuan umatNya, yaitu Gereja, dinamai ‘Tubuh Kristus’. Yang dimaksud dengan satu ‘TUBUH” ialah, persekutuan semua anggota yang menerima dan saling membagi dari sumber hidup yang sama, yaitu dari Tuhan Yesus Kristus. Dari pada-Nyalah kita mengenal dan akan menjalankannya apa dan bagai-mana keadilan. Keadilan kita alami dan kita nikmati bukan dengan memperjuang-kan kepentingan kita sendiri atau dengan menuntut orang lain melakukan keadilan kepada kita. Keadilan kita alami dan nikmati adalah ketika kita merendahkan diri menyembah kepada Tuhan yang adalah sumber kehidupan kita, dan saling membagi dari berkat yang diberikan dan diterima dari Tuhan, kepada pekerjaan-Nya melalui persembahan, di tengah persekutuan jemaat dan persekutuan masyarakat.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...