Friday, January 25, 2019

Tinjauan umum mengenai timbulnya jiwa keagamaan pada anak.


          Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis, walaupun demikian ia sudah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat paten. Di bawah ini adalah prinsip pertumbuhan anak yang menjadi faktor keberlangsungannya jiwa ketuhanan pada anak.
a.        Prinsip biologis
Di mana secara fisik jasmaniah seorang anak pernah melewati masa-masa dia menjadi mahluk yang lemah yang bergantung pada orang dewasa baik secara jasmani maupun mental. Dengan kata lain bahwa ia tidak bisa berdiri sendiri.
b.        Prinsip tanpa daya
Prinsip bawaan ini berbeda dengan prinsip di atas. Ini adalah kesadaran diri manusia di mana dia tahu bahwa dia tidak bisa sendiri dan butuh sesamanya serta alam dan Tuhan sebagai oknum yang menciptakan dia dan lebih berkuasa dari dia. Prinsip ini bawaan sejak lahir dan tidak terbatasi oleh bertambahnya umur sebagaimana dengan prinsip biologis di atas.
c.        Prinsip eksplorasi
Di mana lewat perkembangan potensinya yang sudah dibawa sejak lahir maka seiring dengan pengalaman hidupnya dan pengetahuan yang berkembang dalam dirinya membuat dia menyadari keberadaan Tuhan dan semakin menyelidiki hidupnya.
d.        Prinsip ketergantungan
Ini prinsip yang umum dipakai di mana menurut W.E Thomas manusia sejak anak-anak telah memiliki 4 keinginan yaitu : Keinginan perlindungan atau security, keinginan pengalaman baru atau experience, keinginan untuk mendapatkan tanggapan atau response, dan keinginan untuk dikenal atau recognition.
e.        Prinsip hakiki
Di mana menurut Woodworth seorang bayi yang dilahirkan sudah memiliki insting ketuhanan yang secara lahiriah belum terlihat jelas akibat kemampuan kejiwaan yang belum sempurna.
Tahap perkembangan nilai-nilai agama pada anak.
Menurut penelitian Ernest Harms, perkembangan agama pada anak-anak melalui tiga tingkatan.

1.        The fairy tale stage (tahap dongeng).
Tahap ini dimulai pada usia 3-6 tahun. Pada usia ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Di mana anak memenuhi penghayatannya tentang Tuhan dengan tingkat intelektualnya yang diliputi oleh dongeng.
2.        The realistic stage (tahap kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga ke masa usia adolesense atau masa remaja. Pada masa ini ide ketuhanan pada anak sudah memasuki tahap realistis yang dia alami dalam hidupnya dan dirinya. Mereka sudah dapat mempergunakan dorongan emosional hingga mereka dapat melahirkan konsep tentang Tuhan yang formalis. Pada masa ini mereka sudah memiliki ketertarikan yang bersifat intelektual dan gairah terhadap ketuhanan.
3.        The individual stage (tingkat individu).
Tingkat ini adalah tahap di mana anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi dalam masa pertumbuhannya. Tahap ini berawal sejak mereka lulus sekolah hingga berusia 20 tahun. Mereka telah menjadi manusia yang memilki idealis dalam ketuhanannya. Ada tiga golongan yang dibagikan Ernest Harms pada tahap ini, yaitu:
a.        Golongan yang ketuhanannya bersifat konvensional dan konservatif di mana sebagain kecil dari pemahaman mereka masih bersifat fantasi.
b.        Golongan murni di mana mereka lebih menyukai ketuhanan secara personal dan perorangan tanpa memaksakan kehendak serta mengkaji semua pandangan secara pribadi.
c.        Golongan yang bersifat humanistic di mana mereka tidak terikat pada suatu agama tertentu dan lebih mengembangkan jiwa kemanusiaannya dalam kepercayaannya kepada Tuhan.
Menurut iman bawaan perkembangan ketuhanan pada anak-anak dibagi menjadi empat bagian.
1.        Fase dalam kandungan
Fase ini adalah fase di mana sejak anak itu mulai ada dalam kandungan di mana secara rohani dia sudah memiliki roh yang menjadi sumber keterikatannya dengan Tuhan sang pencipta.

2.        Fase bayi
Fase ini masih banyak menimbulkan perdebatan para ahli dan penelitian, namun karena pemegang paham ini telah berani menunjukkan bahwa seorang anak dalam kandungan sudah memiliki insting ketuhanan oleh karena rohnya maka fase saat dia bayi pun tentu seorang anak sudah memiliki jiwa ketuhanan yang masih terbatas sesuai umur fisiknya.
3.        Fase anak-anak
Anak mulai mengenal Tuhan lewat perilaku orang dewasa di sekitar dia. Dia mulai memiliki kesadaran beragama sebatas dengan daya piker anak-anak. Dia sudah mulai bisa memahami beberapa hal dasar tentang ajaran agama, dan belajar melaksanakannya. Namun dalam beberapa kasus anak hanya mampu sebatas meniru dalam pelaksanaan ajaran tersebut.
4.        Fase anak remaja
Tahap di mana anak mulai menunjukkan perkembangan yang realistis tentang hubungannya dengan Tuhannya.

Sementara itu menurut Zakiyyah Drajat, perkembangan perasaan anak kepada Tuhan dibedakan menjadi dua bagian dalam umur 1-11 tahun, yaitu:
1.        Usia sebelum 7 tahun
a.        Perasaan anak kepada Tuhan yaitu negatif dalam arti Takut, menentang, dan ada yang ragu.
b.        Pada usia ini anak berusaha menerima pemikiran tentang Tuhan yang besar dan mulia sesuai dengan gambaran dalam emosinya.
c.        Ada anak-anak yang menganggap Tuhan itu mahluk yang tersembunyi dan tidak bisa dilihat.
d.        Kepercayaan anak pada Tuhan mengenai tempat dan bentukNya itu didorong sesuai dengan perasaan takutnya kepada Tuhan dan perasaan amannya kepada Tuhan.
2.        Usia 7 tahun ke atas
a.        Perasaan anak kepada Tuhan yaitu positif, cinta dan hormat.
b.        Hubungan dengan Tuhan dipenuhi oleh rasa percaya dan rasa aman.
c.        Dalam konteks Tuhan yang tidak terlihat, anak-anak pada usia ini mulai tidak takut dan gelisah.
d.        Anak dapat menerima pemikiran tentang Tuhan dalam rangka untuk menenangkan jiwa dari pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan yang kadang tidak dapat dijawab oleh orang dewasa.
e.        Pada tahap ini anak-anak tidak suka menyadari keberadaan Tuhan jika dia sedang ingin berbuat jahat atau kesalahan. Dia lebih suka membawa Tuhan hanya sebatas Bapak atau Pribadi yang mahakuasa di kala dia sedang susah atau baik.
f.         Kepercayaan anak pada Tuhan di tahap ini bukanlah suatau keyakinan beragam melainkan karena dia butuh seorang pelindung.
g.        Sampai kira-kira usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhan itu bersifat individual yaitu hubungan emosionalnya dengan sesuatu yang tidak ia lihat dan yang hanya ia bayangkan dengan imajinasinya sendiri.
h.        Doa seorang anak pada tahap ini sebatas meminta ampun dan berterimakasih. Dia hanya akan berdoa tentang materi yang dia inginkan jika dianjurkan oleh orang dewasa sebelumnya.
i.         Anak di usia ini sangat tertarik dengan kegiatan keagamaan yang ceria dan riang gembira.
j.         Anak di usia ini akan banyak tergantung teman dalam arti dia akan hadir beribadah jika ada teman-temannya turut hadir.
Sifat-sifat agama pada anak.
          Tinjauan di bawah ini adalah tinjauan umum yang saya kembangkan sesuai kekayaan pemahaman saya pribadi dari apa yang saya lihat, temui, dan alami. Sifat agama pada anak tumbuh mengikuti pola ideas consep on outhrority. Maksudnya ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka meskipun sudah memiliki bawaan dari dalam diri sejak lahir. Berdasarkan hal itu maka sifat-sifat keagamaan yang timbul pada anak-anak terbagi atas:
1.        Unreflective (tidak mendalam)
Anak dalam tipe ini sudah puas dengan apa yang dia terima tentang Tuhan sehingga dia merasa tidak perlu mengkaji lebih jauh lagi. Ini dikarenakan daya tangkap yang lemah atau juga keingintahuan yang tidak kuat.
2.        Egosentris
Anak dengan sifat keegoan yang kuat akan memiliki sifat ketuhanan yang amat kuat dalam hal dia membela pendapatnya tentang Tuhan padahal dia sendiri belum sepenuhnya benar dan masih bimbang dengan apa yang dia pegang. Sifat ketuhanan seperti ini amat berbahaya sebab amat mudah menyalahkan pendapat lain yang belum tentu benar-benar salah atau benar-benar berseberangan dengannya. Mereka cenderung akan menganggap orang lain yang berbeda pendapat sebagai oknum yang dimusuhi dan sering kali itu tanpa mereka sadari.

3.        Anthromorphis
Sifat keagamaan seperti ini meyimpulkan bahwa Tuhan sebagamaimana halnya manusia. Anak cenderung ingin mengimani dan melihat Tuhan secara nyata dalam bentuk fisik. Mereka amat mengagungkan sosok yang menjadi pembimbing mereka tentang Tuhan sebagai sosok yang wajar dijadikan teladan ketimbang Tuhan itu sendiri.
4.        Perbalis dan ritualis
Sifat keagamaan ini muncul sebatas kerajinan seorang anak mengikuti ritual agama. Di mana mereka hanya melatih diri dan terlatih terhadap agamanya lebih sebatas lahiriah. Menghafal ayat, mendengar lagu dan cerita agama, ikut kegiatan agama, dll tanpa menghiraukan atau terpikat dengan esensi dan isi dari agamanya. Hingga mereka tidak betul-betul memahami dan mencintai Tuhannya.
5.        Imitatif
Sifat ini adalah sifat peniru. Di mana seorang anak hanya menjadi pelaku peniru dalam ketuhanan dan keberagamaan. Mirip dengan yang di atas namun sifat ini tidaklah memiliki kecintaan yang sungguh pada ritualitas agamanya. Dia bisa meniru semua ritual agama yang dia lihat, sebab sejak kecil dia terbiasa meniru dalam menunjukkan ketuhanannya. Kemungkinan besar anak-anak ini dididik dalam keluarga yang tidak memiliki patokan agama yang kuat.
6.        Rasa heran
Sifat keagamaan ini sangat tipis perbedaannya dengan sifat kegamaan yang murni. Mereka tampak sangat mencintai agama ataupun Tuhannya dikarenakan terdorong oleh rasa kagum akan kuasa dan kebesaran yang sifatnya jasmaniah. Mereka fasih dalam berbicara tentang Tuhan tapi jika ditelaah itu sebenarnya hanya sebatas pada kekagumannya terhadap kemahakuasaan oknum yang diyakininya. Namun sebenarnya secara pribadi di dalam bati mereka belum betul-betul memahami dan menikmati ketuhanannya.

Semua sifat keagamaan di atas dialami juga oleh orang-orang dewasa dalam skala kedewasaan secara usia yang sudah berbeda tipe dan sifatnya dari anak-anak meskipun hakekatnya sama. Semua tipe ketuhanan itu akan benar dan murni jika dibawa di dalam Kristus. Di dalam Dialah kita akan masuk pada proses pembenaran dan pemurnian setiap hari lewat kehidupan pergaulan dengan Dia dalam segala hal.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...