Manusia
dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis, walaupun demikian ia sudah
memiliki kemampuan bawaan yang bersifat paten. Di bawah ini adalah prinsip
pertumbuhan anak yang menjadi faktor keberlangsungannya jiwa ketuhanan pada
anak.
a.
Prinsip
biologis
Di mana secara fisik jasmaniah seorang
anak pernah melewati masa-masa dia menjadi mahluk yang lemah yang bergantung
pada orang dewasa baik secara jasmani maupun mental. Dengan kata lain bahwa ia
tidak bisa berdiri sendiri.
b.
Prinsip
tanpa daya
Prinsip bawaan ini berbeda dengan
prinsip di atas. Ini adalah kesadaran diri manusia di mana dia tahu bahwa dia
tidak bisa sendiri dan butuh sesamanya serta alam dan Tuhan sebagai oknum yang
menciptakan dia dan lebih berkuasa dari dia. Prinsip ini bawaan sejak lahir dan
tidak terbatasi oleh bertambahnya umur sebagaimana dengan prinsip biologis di
atas.
c.
Prinsip
eksplorasi
Di mana lewat perkembangan potensinya
yang sudah dibawa sejak lahir maka seiring dengan pengalaman hidupnya dan
pengetahuan yang berkembang dalam dirinya membuat dia menyadari keberadaan
Tuhan dan semakin menyelidiki hidupnya.
d.
Prinsip
ketergantungan
Ini prinsip yang umum dipakai di mana
menurut W.E Thomas manusia sejak anak-anak telah memiliki 4 keinginan yaitu :
Keinginan perlindungan atau security, keinginan pengalaman baru atau
experience, keinginan untuk mendapatkan tanggapan atau response, dan keinginan
untuk dikenal atau recognition.
e.
Prinsip
hakiki
Di mana menurut Woodworth seorang bayi
yang dilahirkan sudah memiliki insting ketuhanan yang secara lahiriah belum
terlihat jelas akibat kemampuan kejiwaan yang belum sempurna.
Tahap perkembangan
nilai-nilai agama pada anak.
Menurut penelitian Ernest Harms,
perkembangan agama pada anak-anak melalui tiga tingkatan.
1.
The
fairy tale stage (tahap dongeng).
Tahap ini dimulai pada usia 3-6 tahun.
Pada usia ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan
emosi. Di mana anak memenuhi penghayatannya tentang Tuhan dengan tingkat
intelektualnya yang diliputi oleh dongeng.
2.
The
realistic stage (tahap kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk
sekolah dasar hingga ke masa usia adolesense atau masa remaja. Pada masa ini
ide ketuhanan pada anak sudah memasuki tahap realistis yang dia alami dalam
hidupnya dan dirinya. Mereka sudah dapat mempergunakan dorongan emosional
hingga mereka dapat melahirkan konsep tentang Tuhan yang formalis. Pada masa
ini mereka sudah memiliki ketertarikan yang bersifat intelektual dan gairah
terhadap ketuhanan.
3.
The
individual stage (tingkat individu).
Tingkat ini adalah tahap di mana anak
telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi dalam masa pertumbuhannya.
Tahap ini berawal sejak mereka lulus sekolah hingga berusia 20 tahun. Mereka
telah menjadi manusia yang memilki idealis dalam ketuhanannya. Ada tiga golongan
yang dibagikan Ernest Harms pada tahap ini, yaitu:
a.
Golongan
yang ketuhanannya bersifat konvensional dan konservatif di mana sebagain kecil
dari pemahaman mereka masih bersifat fantasi.
b.
Golongan
murni di mana mereka lebih menyukai ketuhanan secara personal dan perorangan
tanpa memaksakan kehendak serta mengkaji semua pandangan secara pribadi.
c.
Golongan
yang bersifat humanistic di mana mereka tidak terikat pada suatu agama tertentu
dan lebih mengembangkan jiwa kemanusiaannya dalam kepercayaannya kepada Tuhan.
Menurut iman bawaan perkembangan
ketuhanan pada anak-anak dibagi menjadi empat bagian.
1.
Fase
dalam kandungan
Fase ini adalah fase di mana sejak
anak itu mulai ada dalam kandungan di mana secara rohani dia sudah memiliki roh
yang menjadi sumber keterikatannya dengan Tuhan sang pencipta.
2.
Fase
bayi
Fase ini masih banyak menimbulkan
perdebatan para ahli dan penelitian, namun karena pemegang paham ini telah
berani menunjukkan bahwa seorang anak dalam kandungan sudah memiliki insting
ketuhanan oleh karena rohnya maka fase saat dia bayi pun tentu seorang anak
sudah memiliki jiwa ketuhanan yang masih terbatas sesuai umur fisiknya.
3.
Fase
anak-anak
Anak mulai mengenal Tuhan lewat
perilaku orang dewasa di sekitar dia. Dia mulai memiliki kesadaran beragama
sebatas dengan daya piker anak-anak. Dia sudah mulai bisa memahami beberapa hal
dasar tentang ajaran agama, dan belajar melaksanakannya. Namun dalam beberapa
kasus anak hanya mampu sebatas meniru dalam pelaksanaan ajaran tersebut.
4.
Fase
anak remaja
Tahap di mana anak mulai menunjukkan
perkembangan yang realistis tentang hubungannya dengan Tuhannya.
Sementara itu menurut Zakiyyah Drajat,
perkembangan perasaan anak kepada Tuhan dibedakan menjadi dua bagian dalam umur
1-11 tahun, yaitu:
1.
Usia
sebelum 7 tahun
a.
Perasaan
anak kepada Tuhan yaitu negatif dalam arti Takut, menentang, dan ada yang ragu.
b.
Pada
usia ini anak berusaha menerima pemikiran tentang Tuhan yang besar dan mulia
sesuai dengan gambaran dalam emosinya.
c.
Ada
anak-anak yang menganggap Tuhan itu mahluk yang tersembunyi dan tidak bisa
dilihat.
d.
Kepercayaan
anak pada Tuhan mengenai tempat dan bentukNya itu didorong sesuai dengan
perasaan takutnya kepada Tuhan dan perasaan amannya kepada Tuhan.
2.
Usia
7 tahun ke atas
a.
Perasaan
anak kepada Tuhan yaitu positif, cinta dan hormat.
b.
Hubungan
dengan Tuhan dipenuhi oleh rasa percaya dan rasa aman.
c.
Dalam
konteks Tuhan yang tidak terlihat, anak-anak pada usia ini mulai tidak takut
dan gelisah.
d.
Anak
dapat menerima pemikiran tentang Tuhan dalam rangka untuk menenangkan jiwa dari
pertanyaan-pertanyaan, tantangan-tantangan yang kadang tidak dapat dijawab oleh
orang dewasa.
e.
Pada
tahap ini anak-anak tidak suka menyadari keberadaan Tuhan jika dia sedang ingin
berbuat jahat atau kesalahan. Dia lebih suka membawa Tuhan hanya sebatas Bapak
atau Pribadi yang mahakuasa di kala dia sedang susah atau baik.
f.
Kepercayaan
anak pada Tuhan di tahap ini bukanlah suatau keyakinan beragam melainkan karena
dia butuh seorang pelindung.
g.
Sampai
kira-kira usia 8 tahun, hubungan anak dengan Tuhan itu bersifat individual
yaitu hubungan emosionalnya dengan sesuatu yang tidak ia lihat dan yang hanya
ia bayangkan dengan imajinasinya sendiri.
h.
Doa
seorang anak pada tahap ini sebatas meminta ampun dan berterimakasih. Dia hanya
akan berdoa tentang materi yang dia inginkan jika dianjurkan oleh orang dewasa
sebelumnya.
i.
Anak
di usia ini sangat tertarik dengan kegiatan keagamaan yang ceria dan riang
gembira.
j.
Anak
di usia ini akan banyak tergantung teman dalam arti dia akan hadir beribadah
jika ada teman-temannya turut hadir.
Sifat-sifat agama pada
anak.
Tinjauan di
bawah ini adalah tinjauan umum yang saya kembangkan sesuai kekayaan pemahaman
saya pribadi dari apa yang saya lihat, temui, dan alami. Sifat agama pada anak
tumbuh mengikuti pola ideas consep on outhrority. Maksudnya ide keagamaan pada
anak hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka meskipun
sudah memiliki bawaan dari dalam diri sejak lahir. Berdasarkan hal itu maka
sifat-sifat keagamaan yang timbul pada anak-anak terbagi atas:
1.
Unreflective
(tidak mendalam)
Anak dalam tipe ini sudah puas dengan
apa yang dia terima tentang Tuhan sehingga dia merasa tidak perlu mengkaji
lebih jauh lagi. Ini dikarenakan daya tangkap yang lemah atau juga
keingintahuan yang tidak kuat.
2.
Egosentris
Anak dengan sifat keegoan yang kuat
akan memiliki sifat ketuhanan yang amat kuat dalam hal dia membela pendapatnya
tentang Tuhan padahal dia sendiri belum sepenuhnya benar dan masih bimbang
dengan apa yang dia pegang. Sifat ketuhanan seperti ini amat berbahaya sebab
amat mudah menyalahkan pendapat lain yang belum tentu benar-benar salah atau
benar-benar berseberangan dengannya. Mereka cenderung akan menganggap orang
lain yang berbeda pendapat sebagai oknum yang dimusuhi dan sering kali itu
tanpa mereka sadari.
3.
Anthromorphis
Sifat keagamaan seperti ini meyimpulkan
bahwa Tuhan sebagamaimana halnya manusia. Anak cenderung ingin mengimani dan
melihat Tuhan secara nyata dalam bentuk fisik. Mereka amat mengagungkan sosok
yang menjadi pembimbing mereka tentang Tuhan sebagai sosok yang wajar dijadikan
teladan ketimbang Tuhan itu sendiri.
4.
Perbalis
dan ritualis
Sifat keagamaan ini muncul sebatas
kerajinan seorang anak mengikuti ritual agama. Di mana mereka hanya melatih
diri dan terlatih terhadap agamanya lebih sebatas lahiriah. Menghafal ayat,
mendengar lagu dan cerita agama, ikut kegiatan agama, dll tanpa menghiraukan
atau terpikat dengan esensi dan isi dari agamanya. Hingga mereka tidak
betul-betul memahami dan mencintai Tuhannya.
5.
Imitatif
Sifat ini adalah sifat peniru. Di mana
seorang anak hanya menjadi pelaku peniru dalam ketuhanan dan keberagamaan.
Mirip dengan yang di atas namun sifat ini tidaklah memiliki kecintaan yang
sungguh pada ritualitas agamanya. Dia bisa meniru semua ritual agama yang dia
lihat, sebab sejak kecil dia terbiasa meniru dalam menunjukkan ketuhanannya.
Kemungkinan besar anak-anak ini dididik dalam keluarga yang tidak memiliki
patokan agama yang kuat.
6.
Rasa
heran
Sifat keagamaan ini sangat tipis
perbedaannya dengan sifat kegamaan yang murni. Mereka tampak sangat mencintai
agama ataupun Tuhannya dikarenakan terdorong oleh rasa kagum akan kuasa dan
kebesaran yang sifatnya jasmaniah. Mereka fasih dalam berbicara tentang Tuhan
tapi jika ditelaah itu sebenarnya hanya sebatas pada kekagumannya terhadap
kemahakuasaan oknum yang diyakininya. Namun sebenarnya secara pribadi di dalam
bati mereka belum betul-betul memahami dan menikmati ketuhanannya.
Semua sifat keagamaan di atas dialami
juga oleh orang-orang dewasa dalam skala kedewasaan secara usia yang sudah
berbeda tipe dan sifatnya dari anak-anak meskipun hakekatnya sama. Semua tipe
ketuhanan itu akan benar dan murni jika dibawa di dalam Kristus. Di dalam
Dialah kita akan masuk pada proses pembenaran dan pemurnian setiap hari lewat
kehidupan pergaulan dengan Dia dalam segala hal.

No comments:
Post a Comment