Tuesday, September 10, 2019

TINJAUAN ALKITABIAH ATAS GELAR-GELAR KRISTUS DARI BANGSA AFRIKA (Berry Mangowal S. Pd. K)


1. Kristus sebagai Pemenang dan pembebas dari perbudakan
     “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya, Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Roma 8: 15-16
     “Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan Karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 20-21.
     “Dan kamu akan mengetahui Kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”  Yohanes 8:32
     “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”  Yohanes 8: 36
     “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 18, 22.
     Jika kita menilai perbudakan hanya sebatas lahiriah maka kita akan menemui seolah hanya bangsa hitam atau bangsa Afrika dan Asia yang mengalami perbudakan. Tetapi jika kita menilai dalam pandangan Kristus yang jauh melihat batin iah setiap manusia maka kita akan mendapati bahwa perbudakan dialami oleh setiap orang percaya di dalam diri mereka masing-masing. Dan awal perbudakan itu berasal dari pribadi dosa atau hukum dosa yang ada di dalam manusia. Itulah yang harus dipatahkan agar manusia terbebas dari perbudakan yang sesungguhnya. Amat disayangkana saya banyak menemui dewasa ini banyak orang yang justru ingin tetap lekat erat dengan dosa. Mereka tanpa sadar membela kuasa dosa yang bekerja secara halus di dalam pribadinya. Ketika Kristus hendak diberitakan dengan amat dalam untuk diakui dari dalam batin, manusia bahkan yang sudah melayani sekian lama sulit untuk rela menerima. Bahkan ada yang berusaha menghambat Kristus dalam pengajaran yang disampaikan namun syukur kepada Tuhan sebagaimana pengalaman Paulus demikian pula pengalaman saya dalam kekayaan dan kemuliaan Kristus yang dinayakan kepada saya. Saya mendapati semakin Kristus dihambat, maka justru itu semakin memperkuat dan memperkaya Dia yang ada di dalam saya untuk leluasa bekerja dalam segala hal, bahkan dalam segala hambatan. Lihatlah orang Farisi yang berusaha menghambat Yesus atau menjajah kebebasan Injil Allah yang hendak diberitakan, mereka berusaha menghambat dan mengekang Yesus karena mereka merasa tidak nyaman dan membela hukum dosa yang telah mereka pelihara sekian lama menjadi jati diri mereka.
     Jati diri manusia jika tanpa Kristus sesungguhnya adalah jati diri dosa. Mengapa manusia merasa amat lekat dengan dosa sebab dosa itu hukumnya telah menjadi bagian dalam diri dan sistem hukum hidup manusia, baik perasaan, akal budi pikiran maupun jasmaniahnya. Seolah dosa itu adalah diri manusia sendiri. Tapi kita yang sudah di dalam Kristus sebagaimana ayat di atas telah menyatakan bahwa kita merdeka dari perbudakan, setiap orang dijajah oleh segala keinginan dan perbuatan mereka sendiri, dan hanya satu yang tidak pernah terjajah oleh apapun dan menang untuk kita, Dialah Yesus yang harus kita akui dan ketika kita menemukan Dia dan keutuhanNya maka di sanalah kita terbebas dan merdeka.

2. Kristus sebagai kepala suku
     “Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi segala sesuatu.” Efesus 1:22
     “karena suami adalah kepala Isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Efesus 5: 23
    “ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Kolose 1:18
     Kristus adalah juga Pribadi Kepala atau Pemimpin yang hadir bagi kita. Pemimpin di sini bukan lebih berbicara hanya kepada status memimpin secara umum, jika demikian itu sama halnya dengan pemahaman dan keadaan pemimpin dunia. Pemimpin di sini atau kepemimpinan Kristus dilihat dari KehadiranNya secara pribadi dan menguasai kita secara pribadi dari dalam diri kita. Inilah kepemimpinan Kkristus atas diri kita, di mana kuasa kepemimpinan dosa atas kita dihancurkan digantikan dengan Kristus yang memimpin dan memiliki kita seutuhnya. Ini sifatnya amat dalam luas.
     Banyak orang yang sudah di dalam Yesus tapi tidak mau melangkah untuk masuk pada dipimpin oleh Yesus Kristus yang berawal dari pemberian diri seutuhnya dan pemulihan atau perombakan diri menjadi pribadi yang baru yang semakin menyatu dengan Kristus. Lihat ayat di atas bagaimana segala sesuatu telah diletakkan di bawah Kristus dan jemaat memiliki Dia sebagai kepala dan Dia memenuhi jemaat. Di mana setiap pribadi orang percaya mau rela mengalami kepenuhan akan Dia. Sebab kepenuhan akan Dia itu mengerjakan penyaliban diri kita untuk kita bebas. Kepala jemaat, dalam hal ini berkorelasi dengan istilah “Kepala suku” sebagai yang sulung dan utama dari segala sesuatu dan satu unutk jemaat yang menjadi satu pula di dalam Dia sebagaimana selaras dengan doa Yesus dalam kitab Yohanes.

3. Kristus sebagai leluhur
     “ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan dima di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” Kolose 1: 15-20
     Kristus sebagai Leluhur, yang awal dan akhir, yang mana semua bermual dari Dia dan berakhir kepada Dia. Allah yang memulai segala sesuatu dan mengakhiri segala sesuatu itu terwujud nyata dalam Pribadi Yesus Kristus di mana Dia menyatakan bahwa Dia sudah ada sebelum segalanya dan Dia menyatakan suatu ucapan Ilahi “sudah selesai” saat di kayu salib. Itu adalah bukti nyata bagimana Keilahian Allah di dalam Kristus yang mengawali karya Allah dan mengakhirinya dengan baik. Jika kita sudah mengawali dengan Kristus maka kita akan mengakhiri dan berakhir bersama Kristus. Jika kita tidak mengawali dengan Kristus dan tidak mau dimurnikan untuk sepenuhnya mengakui Dia dalam diri dan hidup kita maka kita tentu tidak akan berakhir dengan Dia dalam Kekekalan tetapi berakhir dengan dunia dalam kebinasaan.

4. Kristus sebagai Dukun (Pemberi Kesembuhan dan petunjuk)
     “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat ajaib, Allah yang perkasa, Raja damai.” Yesaya 9:6
     “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
     Baru-baru ini saat saya menyusun tesis, saya melihat sebuah berita tentang gubernur Jakarta Basuki Tjahya Poernama atau Ahok disantet oleh seorang dukun namun dukun penyantet malah tewas. Ini menjadi berita yang cukup heboh di dunia maya. Namun yang muncul belakangan ada beberapa opini dan polemic di masyarakat yang mengira Ahok memiliki dukun pula. Saya yakin ia, jika Ahok benar orang percaya dan pengikut Kristus sejati maka dia benar punya “Dukun”. Anda paham maksud saya? Dukun di atas segala dukun. Ini bukan bicara dalam makna dunia yang berdosa dan cemar oleh dosa tetapi dalam ungkapan dari iman yang telah diperbaharui oleh pikiran Kristus.
     Sejak dosa masuk dalam dunia dan secara utama dosa sebenarnya masuk dalam diri manusia dan merusak segala dalam diri manusia baik rasa karsa jiwanya, perasaan dan pikirannya maka sesuai Alkitab katakana manusia senantiasa menghasilkan dosa. Ini bukan bicara sebatas perbuatan baik buruk lahiriah. Cara manusia merasa, menilai, dan berpikiran dalam budi bahasanya dan tingkah lakunya menjadi bersumber dari segala keterbatasan dan kecemaran dosa. Sebagai  contoh dalam budi bahasa dan maknanya, karena makna manusia akan kata dukun telah tercemar dengan pikiran dosa dan symbol keadaan dunia maka kata dukun selalu diidentikan dengan dunia hitam dan gelap. Padahal penyelamat sejati yang sesungguhnya itu, yang hidup dan matiNya adalah karya kesembuhan yang juga tidak hanya secara jasmani saja tetapi secara Rohani juga itu telah datang dan menyatakan Dia Penyembuh, Penasehat, Pembela, Dukun di atas segala dukun yang dunia kenal dan puja.

     Saya banyak mengalami di mana bertemu dan sharing berdiskusi dengan rekan-rekan sepelayanan yang lebih tua dan pengalaman secara usia. Salah satu pengalaman dari sekian banyak pengalaman itu dapat saya contohkan di sini bagaimana pentingnya sebuah makna dibaharui dalam Kristus. Seorang hamba Tuhan bertanya kepada saya apakah saya sudah memiliki pendamping atau calon pendamping. Saya menjawab bahwa yang utama bukan pendamping tapi penghibur. Ketika dia mendengar ini konotasi dan pemahamannya langsung buruk, dengan berujar kalau penghibur cari di pub dan bar sana. Saya kaget dan merasa lucu, hingga saya meluruskan apa yang dimaksud penghibur itu. Bukankah Roh Kudus di dalam kita itu Penghibur, Roh Kristus, Roh Penghibur yang senantiasa menghibur kita dalam segala hal? Apakah dia benar-benar membaca ayat itu tentang kehadiran Penghibur bagi dia dan saya? Sekali lagi apakah dia BENAR-BENAR MEMBACA tentang Penghibur bagi kita? Atau pikiran dan hati manusiawi itulah yang masih banyak tertuju di dosa dan cemarnya makna dunia? Inilah salah satu contoh akibat dari belum mengalami pikiran Kristus. Jika kita BENAR-BENAR MEMBACA dalam hal ini diimani oleh Kristus yang sudah kita akui dalam diri kita maka kita akan sadar betul siapa Penghibur itu. Karena sebagaimana pengalama Yesus dulu, Dia juga mengalami ternyata murid-muridNya yang sudah ada dengan Dia sekian lama masih belum mengenal siapa Dia sesungguhnya. Inilah betapa pentingnya kita msuk pada diri yang mau semakin  meminta Dia dan mengakui Dia sebagaimana ungkapanNya carilah, mintalah dan ketoklah pintu maka semua itu, rahasia Allah dalam Kristus berkenan dibukakan kepada kita. Rahasia yang berabad-abad lamanya yang dicari dunia, namun berkenan dibukakan kepada kita oleh rahmat Allah dalam Kristus. Markus 4: 11, 22, Roma 16: 25, 1 Korintus 2: 7, 1 Korintus 4:1, Efesus 1:9, Efesus 3:4, 9, Kolose 1: 26-27, Kolose 2: 2, Kolose 4: 3. 

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...