
1. Kristus sebagai Pemenang dan
pembebas dari perbudakan
“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan
yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang
menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “Ya, Abba, ya Bapa!” Roh
itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Roma 8: 15-16
“Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan
kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia,
yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan Karena makhluk itu sendiri
juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam
kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Roma 8: 20-21.
“Dan kamu akan mengetahui Kebenaran, dan
kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
Yohanes 8:32
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu,
kamu pun benar-benar merdeka.” Yohanes
8: 36
“Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan
menjadi hamba kebenaran. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa
dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu
kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” Roma 6: 18,
22.
Jika kita menilai perbudakan hanya sebatas
lahiriah maka kita akan menemui seolah hanya bangsa hitam atau bangsa Afrika
dan Asia yang mengalami perbudakan. Tetapi jika kita menilai dalam pandangan
Kristus yang jauh melihat batin iah setiap manusia maka kita akan mendapati
bahwa perbudakan dialami oleh setiap orang percaya di dalam diri mereka
masing-masing. Dan awal perbudakan itu berasal dari pribadi dosa atau hukum
dosa yang ada di dalam manusia. Itulah yang harus dipatahkan agar manusia
terbebas dari perbudakan yang sesungguhnya. Amat disayangkana saya banyak
menemui dewasa ini banyak orang yang justru ingin tetap lekat erat dengan dosa.
Mereka tanpa sadar membela kuasa dosa yang bekerja secara halus di dalam
pribadinya. Ketika Kristus hendak diberitakan dengan amat dalam untuk diakui
dari dalam batin, manusia bahkan yang sudah melayani sekian lama sulit untuk
rela menerima. Bahkan ada yang berusaha menghambat Kristus dalam pengajaran
yang disampaikan namun syukur kepada Tuhan sebagaimana pengalaman Paulus
demikian pula pengalaman saya dalam kekayaan dan kemuliaan Kristus yang
dinayakan kepada saya. Saya mendapati semakin Kristus dihambat, maka justru itu
semakin memperkuat dan memperkaya Dia yang ada di dalam saya untuk leluasa
bekerja dalam segala hal, bahkan dalam segala hambatan. Lihatlah orang Farisi
yang berusaha menghambat Yesus atau menjajah kebebasan Injil Allah yang hendak
diberitakan, mereka berusaha menghambat dan mengekang Yesus karena mereka
merasa tidak nyaman dan membela hukum dosa yang telah mereka pelihara sekian
lama menjadi jati diri mereka.
Jati diri manusia jika tanpa Kristus sesungguhnya
adalah jati diri dosa. Mengapa manusia merasa amat lekat dengan dosa sebab dosa
itu hukumnya telah menjadi bagian dalam diri dan sistem hukum hidup manusia,
baik perasaan, akal budi pikiran maupun jasmaniahnya. Seolah dosa itu adalah
diri manusia sendiri. Tapi kita yang sudah di dalam Kristus sebagaimana ayat di
atas telah menyatakan bahwa kita merdeka dari perbudakan, setiap orang dijajah
oleh segala keinginan dan perbuatan mereka sendiri, dan hanya satu yang tidak
pernah terjajah oleh apapun dan menang untuk kita, Dialah Yesus yang harus kita
akui dan ketika kita menemukan Dia dan keutuhanNya maka di sanalah kita
terbebas dan merdeka.
2. Kristus sebagai kepala suku
“Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di
bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai kepala dari
segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang
memenuhi segala sesuatu.” Efesus 1:22
“karena suami adalah kepala Isteri sama
seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” Efesus
5: 23
“ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah
yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang
lebih utama dalam segala sesuatu.” Kolose 1:18
Kristus adalah juga Pribadi Kepala atau
Pemimpin yang hadir bagi kita. Pemimpin di sini bukan lebih berbicara hanya
kepada status memimpin secara umum, jika demikian itu sama halnya dengan
pemahaman dan keadaan pemimpin dunia. Pemimpin di sini atau kepemimpinan
Kristus dilihat dari KehadiranNya secara pribadi dan menguasai kita secara
pribadi dari dalam diri kita. Inilah kepemimpinan Kkristus atas diri kita, di
mana kuasa kepemimpinan dosa atas kita dihancurkan digantikan dengan Kristus
yang memimpin dan memiliki kita seutuhnya. Ini sifatnya amat dalam luas.
Banyak orang yang sudah di dalam Yesus
tapi tidak mau melangkah untuk masuk pada dipimpin oleh Yesus Kristus yang
berawal dari pemberian diri seutuhnya dan pemulihan atau perombakan diri
menjadi pribadi yang baru yang semakin menyatu dengan Kristus. Lihat ayat di
atas bagaimana segala sesuatu telah diletakkan di bawah Kristus dan jemaat
memiliki Dia sebagai kepala dan Dia memenuhi jemaat. Di mana setiap pribadi
orang percaya mau rela mengalami kepenuhan akan Dia. Sebab kepenuhan akan Dia
itu mengerjakan penyaliban diri kita untuk kita bebas. Kepala jemaat, dalam hal
ini berkorelasi dengan istilah “Kepala suku” sebagai yang sulung dan utama dari
segala sesuatu dan satu unutk jemaat yang menjadi satu pula di dalam Dia
sebagaimana selaras dengan doa Yesus dalam kitab Yohanes.
3. Kristus sebagai leluhur
“ia adalah gambar Allah yang tidak
kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di
dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di
bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun
kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia
dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu
ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah kepala tubuh, yaitu
jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati,
sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan
Allah berkenan dima di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala
sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan
pendamaian oleh darah salib Kristus.” Kolose 1: 15-20
Kristus sebagai Leluhur, yang awal dan
akhir, yang mana semua bermual dari Dia dan berakhir kepada Dia. Allah yang
memulai segala sesuatu dan mengakhiri segala sesuatu itu terwujud nyata dalam
Pribadi Yesus Kristus di mana Dia menyatakan bahwa Dia sudah ada sebelum
segalanya dan Dia menyatakan suatu ucapan Ilahi “sudah selesai” saat di kayu
salib. Itu adalah bukti nyata bagimana Keilahian Allah di dalam Kristus yang
mengawali karya Allah dan mengakhirinya dengan baik. Jika kita sudah mengawali
dengan Kristus maka kita akan mengakhiri dan berakhir bersama Kristus. Jika
kita tidak mengawali dengan Kristus dan tidak mau dimurnikan untuk sepenuhnya
mengakui Dia dalam diri dan hidup kita maka kita tentu tidak akan berakhir
dengan Dia dalam Kekekalan tetapi berakhir dengan dunia dalam kebinasaan.
4. Kristus sebagai Dukun (Pemberi
Kesembuhan dan petunjuk)
“Sebab seorang anak telah lahir untuk
kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di
atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat ajaib, Allah yang
perkasa, Raja damai.” Yesaya 9:6
“Tetapi dia tertikam oleh karena
pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
Baru-baru ini saat saya menyusun tesis,
saya melihat sebuah berita tentang gubernur Jakarta Basuki Tjahya Poernama atau
Ahok disantet oleh seorang dukun namun dukun penyantet malah tewas. Ini menjadi
berita yang cukup heboh di dunia maya. Namun yang muncul belakangan ada
beberapa opini dan polemic di masyarakat yang mengira Ahok memiliki dukun pula.
Saya yakin ia, jika Ahok benar orang percaya dan pengikut Kristus sejati maka
dia benar punya “Dukun”. Anda paham maksud saya? Dukun di atas segala dukun.
Ini bukan bicara dalam makna dunia yang berdosa dan cemar oleh dosa tetapi
dalam ungkapan dari iman yang telah diperbaharui oleh pikiran Kristus.
Sejak
dosa masuk dalam dunia dan secara utama dosa sebenarnya masuk dalam diri
manusia dan merusak segala dalam diri manusia baik rasa karsa jiwanya, perasaan
dan pikirannya maka sesuai Alkitab katakana manusia senantiasa menghasilkan
dosa. Ini bukan bicara sebatas perbuatan baik buruk lahiriah. Cara manusia
merasa, menilai, dan berpikiran dalam budi bahasanya dan tingkah lakunya
menjadi bersumber dari segala keterbatasan dan kecemaran dosa. Sebagai contoh dalam budi bahasa dan maknanya, karena
makna manusia akan kata dukun telah tercemar dengan pikiran dosa dan symbol
keadaan dunia maka kata dukun selalu diidentikan dengan dunia hitam dan gelap.
Padahal penyelamat sejati yang sesungguhnya itu, yang hidup dan matiNya adalah
karya kesembuhan yang juga tidak hanya secara jasmani saja tetapi secara Rohani
juga itu telah datang dan menyatakan Dia Penyembuh, Penasehat, Pembela, Dukun
di atas segala dukun yang dunia kenal dan puja.
Saya banyak mengalami di mana bertemu dan
sharing berdiskusi dengan rekan-rekan sepelayanan yang lebih tua dan pengalaman
secara usia. Salah satu pengalaman dari sekian banyak pengalaman itu dapat saya
contohkan di sini bagaimana pentingnya sebuah makna dibaharui dalam Kristus. Seorang
hamba Tuhan bertanya kepada saya apakah saya sudah memiliki pendamping atau
calon pendamping. Saya menjawab bahwa yang utama bukan pendamping tapi
penghibur. Ketika dia mendengar ini konotasi dan pemahamannya langsung buruk,
dengan berujar kalau penghibur cari di pub dan bar sana. Saya kaget dan merasa
lucu, hingga saya meluruskan apa yang dimaksud penghibur itu. Bukankah Roh
Kudus di dalam kita itu Penghibur, Roh Kristus, Roh Penghibur yang senantiasa
menghibur kita dalam segala hal? Apakah dia benar-benar membaca ayat itu
tentang kehadiran Penghibur bagi dia dan saya? Sekali lagi apakah dia
BENAR-BENAR MEMBACA tentang Penghibur bagi kita? Atau pikiran dan hati
manusiawi itulah yang masih banyak tertuju di dosa dan cemarnya makna dunia?
Inilah salah satu contoh akibat dari belum mengalami pikiran Kristus. Jika kita
BENAR-BENAR MEMBACA dalam hal ini diimani oleh Kristus yang sudah kita akui
dalam diri kita maka kita akan sadar betul siapa Penghibur itu. Karena
sebagaimana pengalama Yesus dulu, Dia juga mengalami ternyata murid-muridNya
yang sudah ada dengan Dia sekian lama masih belum mengenal siapa Dia
sesungguhnya. Inilah betapa pentingnya kita msuk pada diri yang mau
semakin meminta Dia dan mengakui Dia
sebagaimana ungkapanNya carilah, mintalah dan ketoklah pintu maka semua itu,
rahasia Allah dalam Kristus berkenan dibukakan kepada kita. Rahasia yang
berabad-abad lamanya yang dicari dunia, namun berkenan dibukakan kepada kita
oleh rahmat Allah dalam Kristus. Markus 4: 11, 22, Roma 16: 25, 1 Korintus 2:
7, 1 Korintus 4:1, Efesus 1:9, Efesus 3:4, 9, Kolose 1: 26-27, Kolose 2: 2,
Kolose 4: 3.
No comments:
Post a Comment