Salah satu dari lagu-lagu
kegemaran Gandhi adalah “Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia ...” (When
I survey the wondrous cross on which the Prince of glory died). Konon
diceritakan, bahwa ia sangat terharu oleh gambar Kristus yang disalib, karena
ia memakai cawat yang melilit pinggang dan mirip sekali dengan seorang petani
India yang disalib.
Mahatma Gandhi melihat
Yesus sebagai satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang
tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus,” demikian kata Gandhi,
“tercakup dalam Khotbah di Bukit. Jiwa dari Khotbah di Bukit berpacu hampir
sama seperti Bhagavadgita untuk menawan hatiku. Khotbah itu yang membuat Yesus
Kristus sangat tercinta bagiku. Ketika saya membaca Khotbah di Bukit, terutama
pasal-pasal seperti 'Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu',
saya begitu bahagia, karena merasa pandanganku dikuatkan, justru di mana saya
tidak harapkan. Kitab Bhagavadgita memperdalam kesan itu dan karya tulis
Tolstoy yang beijudul Kerajaan Allah ada di antara kamu memberikannya
bentuk yang tetap. Tokoh Kristus yang lemah lembut, begitu ramah dan penuh
kasih, penuh pengampunan, sehingga Ia mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk
tidak membalas, jika mereka dihina atau dipukul, tetapi harus memberikan pipi
yang lain; suatu contoh yang indah dari manusia sempurna, pikirku.”
Ia mengakui Yesus sebagai
martir, penjelmaan dari pengorbanan sejati dan ia melihat salib sebagai
teladan yang agung bagi dunia. “Walaupun saya tidak berhak untuk menyebut
diriku Kristen dalam arti kata sektaris, toh contoh yang diberikan Yesus dengan
penderitaan-Nya, merupakan faktor yang penting dalam pembentukan dasar
kepercayaanku pada anti-kekerasan (ahimsa). Ia menguasai seluruh
tindak-tandukku, baik yang duniawi atau yang sementara. Hidup dan kematian
Yesus sia-sia, jikalau Ia tidak menkar kita, bahwa jalan hidup kita hendaknya
ditentukan oleh hukum kasih yang abadi.”
Dalam hal itu Gandhi
tidak merasa tertarik kepada Yesus yang historis. Ia tidak peduli, bilamana
kelak ternyata atau dibuktikan bahwa Yesus tidak pernah hidup. “Khotbah di
Bukit akan tetap merupakan kebenaran bagiku.” Ia melihat kelahiran, kematian
dan kehadiran Kristus yang tak henti-hentinya, tidak sebagai kejadian historis,
tetapi sebagai kejadian abadi yang berulangkali terjadi dalam kehidupan moral
setiap insan atau persekutuan yang terkait dengan kasih yang luau berkorban.
“Selama masih ada kerinduan yang tak terobati, selama Kristus belum dilahirkan,
kits harus menunggu kedatangan-Nya... Kita tidak akan memperingati suatu hari
tertentu sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi kita merenungkannya sebagai
suatu peristiwa yang berulangkali dapat terjadi dalam setiap kehidupan ...
Allah tidak hanya memikul salib 1900 tahun lalu, tetapi pada hari ini juga, dan
Ia mati dan bangkit pada hari ini juga, demikian juga dari hari ke hari.”
Gandhi menolak gagasan
pendamaian ilahi dan pengampunan melalui Yesus Kristus. Ia tidak bersedia
menerima dengan akal budinya bahwa secara harfiah Yesus menanggung dosa dunia
oleh karena kematian dan darah-Nya. Hatinya menolak untuk menerima bahwa dalam
kematian Yesus di kayu salib terkandung “suatu kebajikan yang misterius dan
ajaib”. Gandhi berpendapat bahwa gagasan anugerah Allah melalui Kristus, yang
membebaskan manusia dari hukum, merupakan sumber untuk hidup dalam percabulan.
Gagasan untuk memberikan tempat yang tunggal kepada pribadi dan pekerjaan Yesus
Kristus, dalam kemajuan umat manusia secara moral dan spiritual, tidak mungkin.
Ia bersedia memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak guru dan nabi
umat manusia, bahkan sebagai salah satu dari sekian banyak nama dan penjelmaan
Allah. Tetapi kedudukan itu tidak berarti bahwa sifat ilahi-Nya, tindakan
pendamaian-Nya atau perantaraanNya antara Allah dan umat manusia tiada
bandingannya. “Hanya Allah yang mutlak sempurna.” Gandhi percaya bahwa wahyu
bukan hak tunggal suatu bangsa atau suku. “Hanya ada satu Allah, tetapi banyak
jalan menuju kepada Dia.” Kebenaran yang tertinggi tidak memerlukan komunikasi,
karena ia bergerak maju dari tabiatnya sendiri. Dengan tenang ia memancarkan
pengaruhnya, seperti bunga mawar bau harumnya, tanpa perantaraan”. Ia tidak
percaya kepada orang-orang yang menceritakan kepada orang lain tentang iman
mereka, karena iman itu harus dihayati, dengan demikian akan menyebar sendiri.
Pemikiran Gandhi
bersumber terutama pada gagasan kesemestaan Kristen, sebagaimana ia menanggapi
Kristus sebagai lambang hukum abadi anti-kekerasan (ahimsa), yang
diungkapkan dalam Khotbah di Bukit. Oleh karena itu, menurut dia, agama Kristen
pada dasarnya adalah suatu cara hidup bare, bukan suatu agama Di mana hukum
kasih dilaksanakan di situlah agama Kristen berada. Bukan kristologinya, tetapi
etikanya menghantar pada kebenaran. Etika adalah dasar agama Kristen dan itu
sama halnya dengan semua agama.
Bukan orang yang berkata
Tuhan, Tuhan yang adalah orang Kristen (bnd. Mat 7:21), tetapi orang yang
melakukan kehendakNya. Dialah Kristen sejati. Apakah mungkin orang yang belum
mendengar nama Yesus Kristus dapat melakukan kehendak Tuhan? Adalah keyakinan
Gandhi, bahwa ketika gereja mendapat bantuan dari Kaisar Romawi, agama Kristen
berubah menjadi kepercayaan “imperialistis”. Ia berpendapat bahwa orang Kristen
India harus melepaskan diri dari kebudayaan Barat, yang didasarkan pada
kekerasan dan materialisme.
No comments:
Post a Comment