Tuesday, September 10, 2019

PANDANGAN GANDHI TENTANG KRISTUS


Salah satu dari lagu-lagu kegemaran Gandhi adalah “Meman­dang salib Rajaku yang mati untuk dunia ...” (When I survey the wondrous cross on which the Prince of glory died). Konon diceritakan, bahwa ia sangat terharu oleh gambar Kristus yang disalib, karena ia memakai cawat yang melilit pinggang dan mirip sekali dengan seorang petani India yang disalib.
Mahatma Gandhi melihat Yesus sebagai satyagrahi (dia yang berpegang pada kebenaran yang tertinggi). “Yang saya tangkap dari pesan Yesus,” demikian kata Gandhi, “tercakup dalam Khotbah di Bukit. Jiwa dari Khotbah di Bukit berpacu hampir sama seperti Bhagavadgita untuk menawan hatiku. Khotbah itu yang membuat Yesus Kristus sangat tercinta bagiku. Ketika saya membaca Khotbah di Bukit, terutama pasal-pasal seperti 'Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu', saya begitu bahagia, karena merasa pandanganku dikuatkan, justru di mana saya tidak harapkan. Kitab Bhagavadgita memperdalam kesan itu dan karya tulis Tolstoy yang beijudul Kerajaan Allah ada di antara kamu memberikannya bentuk yang tetap. Tokoh Kristus yang lemah lembut, begitu ramah dan penuh kasih, penuh pengampunan, sehingga Ia mengajar pengikut-pengikut-Nya untuk tidak mem­balas, jika mereka dihina atau dipukul, tetapi harus memberikan pipi yang lain; suatu contoh yang indah dari manusia sempurna, pikirku.”
Ia mengakui Yesus sebagai martir, penjelmaan dari pengor­banan sejati dan ia melihat salib sebagai teladan yang agung bagi dunia. “Walaupun saya tidak berhak untuk menyebut diriku Kristen dalam arti kata sektaris, toh contoh yang diberikan Yesus dengan penderitaan-Nya, merupakan faktor yang penting dalam pembentukan dasar kepercayaanku pada anti-kekerasan (ahimsa). Ia menguasai seluruh tindak-tandukku, baik yang duniawi atau yang sementara. Hidup dan kematian Yesus sia-sia, jikalau Ia tidak menkar kita, bahwa jalan hidup kita hendaknya ditentukan oleh hukum kasih yang abadi.”
Dalam hal itu Gandhi tidak merasa tertarik kepada Yesus yang historis. Ia tidak peduli, bilamana kelak ternyata atau dibuktikan bahwa Yesus tidak pernah hidup. “Khotbah di Bukit akan tetap merupakan kebenaran bagiku.” Ia melihat kelahiran, kematian dan kehadiran Kristus yang tak henti-hentinya, tidak sebagai kejadian historis, tetapi sebagai kejadian abadi yang berulangkali terjadi dalam kehidupan moral setiap insan atau persekutuan yang terkait dengan kasih yang luau berkorban. “Selama masih ada kerinduan yang tak terobati, selama Kristus belum dilahirkan, kits harus menunggu kedatangan-Nya... Kita tidak akan memperingati suatu hari tertentu sebagai hari kelahiran Kristus, tetapi kita merenung­kannya sebagai suatu peristiwa yang berulangkali dapat terjadi dalam setiap kehidupan ... Allah tidak hanya memikul salib 1900 tahun lalu, tetapi pada hari ini juga, dan Ia mati dan bangkit pada hari ini juga, demikian juga dari hari ke hari.”
Gandhi menolak gagasan pendamaian ilahi dan pengampunan melalui Yesus Kristus. Ia tidak bersedia menerima dengan akal budinya bahwa secara harfiah Yesus menanggung dosa dunia oleh karena kematian dan darah-Nya. Hatinya menolak untuk mene­rima bahwa dalam kematian Yesus di kayu salib terkandung “suatu kebajikan yang misterius dan ajaib”. Gandhi berpendapat bahwa gagasan anugerah Allah melalui Kristus, yang membebas­kan manusia dari hukum, merupakan sumber untuk hidup dalam percabulan. Gagasan untuk memberikan tempat yang tunggal kepada pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus, dalam kemajuan umat manusia secara moral dan spiritual, tidak mungkin. Ia bersedia memandang Yesus sebagai salah satu dari sekian banyak guru dan nabi umat manusia, bahkan sebagai salah satu dari sekian banyak nama dan penjelmaan Allah. Tetapi kedudukan itu tidak berarti bahwa sifat ilahi-Nya, tindakan pendamaian-Nya atau perantaraan­Nya antara Allah dan umat manusia tiada bandingannya. “Hanya Allah yang mutlak sempurna.” Gandhi percaya bahwa wahyu bukan hak tunggal suatu bangsa atau suku. “Hanya ada satu Allah, tetapi banyak jalan menuju kepada Dia.” Kebenaran yang tertinggi tidak memerlukan komunikasi, karena ia bergerak maju dari tabiatnya sendiri. Dengan tenang ia memancarkan pengaruh­nya, seperti bunga mawar bau harumnya, tanpa perantaraan”. Ia tidak percaya kepada orang-orang yang menceritakan kepada orang lain tentang iman mereka, karena iman itu harus dihayati, dengan demikian akan menyebar sendiri.
Pemikiran Gandhi bersumber terutama pada gagasan kesemes­taan Kristen, sebagaimana ia menanggapi Kristus sebagai lambang hukum abadi anti-kekerasan (ahimsa), yang diungkapkan dalam Khotbah di Bukit. Oleh karena itu, menurut dia, agama Kristen pada dasarnya adalah suatu cara hidup bare, bukan suatu agama Di mana hukum kasih dilaksanakan di situlah agama Kristen berada. Bukan kristologinya, tetapi etikanya menghantar pada kebenaran. Etika adalah dasar agama Kristen dan itu sama halnya dengan semua agama.

Bukan orang yang berkata Tuhan, Tuhan yang adalah orang Kristen (bnd. Mat 7:21), tetapi orang yang melakukan kehendak­Nya. Dialah Kristen sejati. Apakah mungkin orang yang belum mendengar nama Yesus Kristus dapat melakukan kehendak Tuhan? Adalah keyakinan Gandhi, bahwa ketika gereja mendapat bantuan dari Kaisar Romawi, agama Kristen berubah menjadi kepercayaan “imperialistis”. Ia berpendapat bahwa orang Kristen India harus melepaskan diri dari kebudayaan Barat, yang didasar­kan pada kekerasan dan materialisme.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...